Arok Dedes - Pramoedya Ananta Toer

- Posted in Novel by - Permalink

AROK DEDES Pramoedya Ananta Toer Djvu: otoy http://otoy-ebookgratis.blogspot.com/ Edit & Convert to Txt, Pdf, Jar: inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi

Dari Penerbit AROK DEDES adalah novel-sejarah yang seperti juga tetralogi "Bumi Manusia" ditulis Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru. Kesulitan dana akibat bertubi-tubi diberangus oleh kekuasaan represif rejim Orde Baru menyebabkan "Arok Dedes"

ini baru sekarang dapat kami terbitkan. Masih ada tulisan penting lain ditulis Pramoedya di Buru yang kami harapkan bisa menyusul terbit dalam waktu dekat, yaitu satu-satunya karya dalam bentuk drama/sandiwara berjudul "Mangir". Sebenarnya masih ada satu karya besar lagi yang berbobot setara dengan "Arus Balik" dan "Arok Dedes", tetapi sangat disesalkan karya besar itu sirna, sudah tidak tentu lagi rimbanya ke mana. "Mata Pusaran", demikian judul novel-sejarah yang hilang itu, berkisah tentang awalnya disintegrasi kekuasaan Majapahit oleh konflik intern yang mencetuskan perang paregreg antara Ratu Suhita dengan panglima perempuannya Ni Paksini/Ni Ken Su-praba melawan BhreWirabhumi dari Lumajang. Naskah utuh yang sebenarnya sudah rampung itu pernah dititipkan oleh penulis pada seorang perwira angkatan laut pada saat meninggalkan pulau Buru, tetapi disita oleh penguasa dengan cara dan praktek-praktek kebiasaan Orde Baru: tanpa kejelasan otoritas dan proses penyitaan sehingga tidak memungkinkan mengclaimnya kembali atau bahkan mengusut keberadaannya. Juga tidak ada jaminan sama sekali naskah sitaan itu tersimpan dan terpelihara baik terhadap berbagai kemungkinan kemusnahan. Kekhawatiran ini ternyata beralasan sekali. Seorang ilmuwan Belanda yang rajin mencari literatur di pasar buku tua di pasar Senen Jakarta secara mengherankan sekali menemukan naskah "Mata Pusaran" itu. Apa yang dia temukan masih dalam format ketik-ketikan setengah folio yang sudah difotokopi, namun sangat disayangkan tidak lengkap, tidak utuh. Orang Belanda itu yang menyadari betapa berharganya penemuannya itu telah menyerahkan apa yang tersisa dari "Mata Pusaran" itu kepada redaksi Hasta Mitra. Dalam hubungan itu kami di sini ingin mengimbau semua pihak agar juga melakukan hal yang sama bila kebetulan dapat menemukan naskah tersebut, dalam keadaan utuh atau pun sepotong-sepotong. Pramoedya dengan sangat kecewa mengatakan bahwa usia dan kesehatannya sudah tidak memungkinkan lagi baginya untuk menulis ulang novel tsb. Oleh karena itu, dari lembaran-lembaran tersisa yang mungkin masih dapat dilacak kembali, redaksi - dengan bantuan

pembaca - berniat sedapatnya menghimpun dan merampungkan kembali novel itu agar menjadi naskah utuh untuk dapat dibaca oleh segenap peminat karya-karya Pramoedya. Kembali mengenai buku "Arok Dedes", mungkin menarik untuk dicatat di sini bahwa novel ini ditulis oleh Pramoedya seperempat abad yang lalu dalam status sebagai tahanan di Buru pada saat kekuasaan rejim Suharto sedang sejaya-jayanya. Ciri yang khas dari kepujanggaan Pramoedya adalah bahwa dia dengan caranya sendiri sebagai sastrawan berkomunikasi dan mencoba menjelaskan kepada bangsa Indonesia, terutama generasi mudanya, tentang mengapa nasib Indonesia menjadi belingsat seperti sekarang ini. Untuk itu dia tetap menggunakan media bahasa yang menjadi ciri kekuatannya dengan tetap berkukuh berada di wilayah sastra - lepas dari slogan, propaganda dan jargon politik - meski kisah yang dia bawa sarat muatan politiknya. Dan lahan serta bahan ramuan yang dipakai untuk berkomunikasi adalah panggung sejarah Nusantara kita sendiri. Pramoedya pernah mengatakan bahwa kudeta pertama yang terjadi dalam sejarah Nusantara kita adalah ketika Ken Arok tampil merebut kekuasaan Tumapel. Kisah "Arok Dedes" ini merawi-kan peristiwa kudeta pertama dalam sejarah Nusantara kita itu. Kudeta atau coup d'etat adalah pengertian modern tentang perebutan kekuasaan negara, namun dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara perebutan kekuasaan negara seperti itu sudah pernah terjadi pada awal abad 13. Tetapi kudeta di abad 13 itu berlangsung khas dan unik. Pramoedya yang kenal betul kebu-dayaan Jawa sampai ke tulang sumsum membeberkan bagaimana dengan kelihaian yang canggih Arok berhasil menjadi Akuwu Tumapel menyingkirkan Tunggul Ametung. Dengan dukungan kelompok agama di Jawa - dalam hal ini tokoh pendeta Syiwa - Ken Arok berhasil bertengger di puncak kekuasaan lewat "kudeta a la feodal Jawa", licik munafik, tidak terbuka, lempar batu sembunyi tangan. Tidak terlalu mengherankan bila para pembaca setelah mengikuti kisah "Arok Dedes" Pramoedya - walau tidak disuruh - asosiasi mereka dengan sendirinya

segera pindah dari abad 13 langsung ke abad 20 di tahun 1965-an. Sampai hari ini pun belum selesai orang mengkaji apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1965 itu. Bagaimana bisa terjadi "peralihan kekuasaan" dari Presiden Soekarno ke Suharto? Bagaimana orang yang mengkup kekuasaan justru berhasil melempar tuduhan kup itu kepada pihak-pihak lain sampai yang difitnah menjadi korban kesengsaraan dan penderitaan - bagaimana orang yang memberi informasi tentang bakal terjadinya kup, malah ditangkap dan dipendam lebih tigapuluh tabun dalam penjara? Nalar ilmu mengatakan bahwa sejarah tidak mungkin berulang. Itu betul sekali, akan tetapi dan sejarah itu jugalah akan bisa kita baca berbagai gejala kemiripan masakini dan masa lampau. Cukup banyak terdapat analogi yang dapat memperkaya wa-wasan budaya dan politik kita untuk mengenali diri kita sendiri - membaca hari ini dan masa depan lewat pelajaran hal-ihwal yang diwarisi masa lampau, lewat sejarah yang menjadi asset kaya bagi mereka yang mau belajar dan menarik manfaat dari berbagai pengalaman yang telah terjadi. Kurang-lebih 25 tahun yang lalu dalam keadaan terkucil di pulau pembuangan Buru, lahirlah kisah AROK DEDES Pramoedya ini. Dengan media sastra dan berpaling ke sejarah kita sendiri, Pramoedya berkisah dan menyampaikan pesan kepada bangsa dan generasi mudanya mengenai keberadaan kehidupan dalam era rejim Orde Baru yang sedang dijalani Indonesia. Demikianlah catatan pendek tentang "Arok Dedes" sebelum kami menutup pengantar ini dengan satu catatan yang mungkin menarik untuk tidak dilewatkan. "Arok Dedes" adalah karya Buru Pramoedya AnantaToer terbitan Hasta Mitra yang pertama kali diterbitkan setelah Suharto lengser bulan Mei 1998 tahun lalu. Dalam "era reformasi" dan suasana euforia atas kejatuhan militerisme Orde Baru dan lahirnya "kebebasan pers", patut dicatat di sini bahwa sampai kata pengantar penerbit ini naik ke percetakan, tidak pernah larangan atas buku-buku Pramoedya

oleh Kejaksaan Agung itu dicabut. Pramoedya sebagai penulis dan kami sebagai editor/penerbit, memang tidak terlalu mengandalkan keputusan resmi seperti itu. Pencabutan larangan terbit sebenarnya merupakan suatu langkah untuk kepentingan citra Pemerintah sendiri. Bagi kami, ada atau tidak ada pencabutan larangan buku-buku yang dibreidel, kami akan tetap jalan terus seperti biasa selama syarat-syarat beaya cetak masih mampu kami penuhi. Menerbitkan buku adalah kerja politik untuk menegakkan apa yang menjadi hak paling sah dari setiap individu. Bukankah semua buku-buku Pramoedya - terutama karya-karya Pulau Buru - justru diterbitkan semasa Suharto masih sekuasa-kuasanya? Tidak kami tunggu kebaikan hati para penguasa militer, kejaksaan, kepolisian dan birokrasi sampai mereka menghadiahi kami kebebasan bersuara, kebebasan untuk menerbitkan buku-buku yang kami ingini. Dalam kenyataan bukan kebebasan atau kelonggaran, sebaliknya rejim Suharto tak henti-hentinya memberangus Pramoedya dan Hasta Mitra, tetapi Pramoedya dan Hasta Mitra pun tak henti-hentinya bangkit lagi setiap kali setelah digebuk. Secara ekonomis kami memang ba-bak-belur, tetapi secara politik kami tidak pernah tertaklukkan. Tekad untuk tetap terbit semasa rejim represif Orde Baru adalah bentuk sumbangan Pramoedya dan Hasta Mitra untuk ikut menegakkan demokrasi, karena kami sadar bahwa kebebasan dan hak-hak azasi kami di jaman Orde Baru adalah sesuatu yang harus kami rebut dan tegakkan sendiri, bukan sesuatu yang bisa diharapkan bakal dihadiahi oleh Suharto atau seorang Habibie. Akhirnya ingin kami sampaikan di sini tentang kepergian untuk selama-lamanya seorang rekan dan salah seorang dari tiga pendiri Hasta Mitra pada bulan Juni yang lalu, bung Hasyim Rachman, pada saat Pramoedya sedang bersafari selama tiga bulan di Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Prancis dan Jerman. Bung Hasyim Rachman adalah seorang wartawan yang seperti juga Pramoedya dipenjarakan oleh rejim Suharto selama 14 tahun, sepuluh tahun di antaranya di Pulau Buru. Selepas Buru dia dengan caranya sendiri sejak hampir 20 tahun yang lalu telah ikut mempelopori pertarungan panjang melawan kekerasan rejim Orde Baru. Dia ikut aktif menegakkan demokrasi lewat usaha penerbitan buku, jadi sudah sejak lama

dia bekerja sebelum gerakan era reformasi pemuda/mahasiswa mulai bangkit untuk menumbangkan jen-dral Suharto pada 1998 tahun yang lalu. Apa yang dapat kami lakukan bagi rekan yang sudah pergi lebih dulu, tidak lain adalah ketetapan hati untuk meneruskan segala yang positif yang pernah dia kerjakan - yaitu meneruskan penerbitan buku-buku bermutu - dalam hal ini sekurang-kurangnya menyelenggarakan program penerbitan ulang karya-karya Pramoedya Ananta Toer, terutama buku-buku yang dilarang semasa rejim Orde Baru. Joesoef Isak, ed. Prakata Terjadilah pada tahun 1215 di inggris: raja john dengan segala keagungannya telah mengumumkan maklumat bersejarah Magna Charta. Dunia peradaban menjadi gempar. Jaman Tengah yang mencekik karena kekuasaan mutlak para raja duniawi dan rohani dengan maklumat itu seakan mendapat pelita di tangan untuk keluar dari pengap cekikan. Magna Charta memberikan kebebasan pribadi dan kebebasan politik pada kawula Inggris, pada ummat manusia. Dan berabad lamanya maklumat itu tinggal hanya dongengan indah. Kenyataannya tetap tergantung-gantung di langit biru. Namun bagi ummat manusia yang tercekik itu, dia meniupkan harapan dan kepercayaan, bahwa benar setiap orang adalah sama di hadapan Tuhan dan sesamanya. Adalah tidak benar orang menjadi

berbeda-beda dan bertingkat-tingkat hanya karena kadar kekuasaan duniawi dan rohani. Kenyataan tinggal seperti sediakala. Pada tahun 1215 M. atau 1137 Saka, bukan Magna Charta yang menerangi Bumi Jawa. Inggris tidak mengenal Jawa, Jawa tak mengenal Inggris. Namun Magna Charta yang lebih luas telah berlaku sejak Sri Erlangga naik tahta (1020-1042 M.) di Kahuripan. Pada tahun Raja John mengumumkan maklumatnya yang bersejarah, Magna Charta Erlangga itu telah dilindas oleh keturunannya sendiri yang kelima, Sri Kretajaya, raja Kediri (1185-1222 M.)- Negeri Tumapel, di bawah perlindungan Kediri, diperintah oleh Akuwu Tunggul Ametung, sepenuhnya mengikuti jejak Kretajaya, juga dalam mengimprovisasi perbudakan, yang dua abad lamanya telah dihapuskan sejak Erlangga. Pada tahun 1215 itu juga seorang bocah berumur belasan, di kemudian hari dikenal dengan nama Arok, telah mengorganisasi perlawanan secara tidak sadar terhadap Tunggul Ametung. Dalam lima tahun kemudian, berumur dua puluh, telah menjadi taktikus perang, yang mengubah cara berperang gaya Hindu di Jawa, juga seorang politikus dan negarawan dengan gaya sendiri. Pada tahun 1220 M. atau 1142 Saka, ia memasuki pekuwuan Tumapel sebagai prajurit. Dalam hanya dua bulan ia telah gulingkan Tunggul Ametung dan sendiri marak jadi Akuwu, langsung mengembalikan Magna Charta Erlangga pada kedudukan semula. Pada tahun 1222 M. atau 1144 Saka, hanya dalam dua tahun, ia telah gulingkan raja terkuat di Jawa, Sri Kretajaya, dan dengan demikian mengembalikan Magna Charta Erlangga untuk seluruh Jawa. Cerita "Arok dan Dedes" terjadi dalam jaman leluhur sudah terbiasa memerintah, berpolitik, berintrik, biasa menggulingkan dan membangunkan negara - suatu

kondisi yang mungkin menyebabkan orang Indonesia dewasa ini menganggap terlalu maju untuk jamannya. Kiranya anggapan demikian kurang te-pat.Taktiktaktik Arok sendiri telah dipraktekkan berulang-kali, baik untuk menggulingkannya sendiri oleh anak-tirinya Anusa-pati, Jayakatwang dalam menggulingkan Kretanegara, mau pun oleh turunan Arok keempat, Raden Wijaya, dalam menggulingkan dua musuh sekaligus, Jayakatwang dan balatentara Kubilai Khan pada 1293. Juga dekritnya tentang persaudaraan kepercayaan telah dirumuskan dalam pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389 M.) oleh Mpu Tantular: Bhineka Tunggal Ika. Baik roman sejarah "Arok dan Dedes" mau pun "Dedes dan Arok" tidak lain daripada usaha membangunkan basis sosial-historis bagi sejarah-hidup Arok dan Dedes, yang mulai membukakan peradaban baru di Jawa, makin meninggalkan pengaruh Hindu, untuk data sejarah yang banyak kali terdengar kedongengdongengan. Materi sejarah yang paling kuat adalah yang didapatkan pada sisa Tugu Kemenangan Arok, yang kini dimasukkan dalam komplex Candi Singasari - yang sebenarnya bukan candi dan biasa dinamai Candi Tumapel - dan karya Mpu Tanakung "Lubdaka" yang ditulis pada masa-hidup Ken Arok sendiri. TUMAPEL

Ia takkan dapat lupakan peristiwa itu pertama kali ia sadar dari pingsan. Tubuhnya dibopong diturunkan dari kuda, dibawa masuk ke ruangan besar ini juga. Ia digeletakkan di atas peraduan, dan orang yang menggotongnya itu, Tunggul Ametung, berdiri mengawasinya. Ia tengkurapkan diri di atas peraduan dan menangis. Orang itu tak juga pergi. Dan ia tidak diperkenankan meninggalkan bilik besar ini. Gede Mirah menyediakan untuknya air, tempat membuang kotoran dan makanan. matahari belum terbit. Lampu-lampu suram menerangi bilik besar itu. Begitu matahari muncul masuk ke dalam seorang tua mengenakan tanda-tanda brahmana. Ia tak mau turun dari peraduan. Tetapi Tunggul Ametung membopongnya lagi, mendudukkannya di sebuah bangku yang diberi bertilam permadani. Ia tutup mukanya dengan tangan. Tunggul Ametung duduk di sampingnya. Orang dengan tanda-tanda brahmana itu telah menikahkannya. Hanya Gede Mirah bertindak sebagai saksi. Kemudian Tunggul Ametung meninggalkan bilik bersama brahmana itu. Sejak itu ia tidak diperkenankan keluar dari bilik besar ini. Semua berlangsung secara rahasia. Empat puluh hari telah lewat. Sekarang ini Gede Mirah meriasnya. Ia telah sampai pada riasan terakhir. ia ingin kerja rias ini tiada kan berakhir. Dalam empat puluh hari ia telah bermohon pada Mahadewa agar melepaskannya dari kungkungan ini, mengembalikannya pada ayahnya tercinta di desa. Semua sia-sia. Hari yang ke empat puluh adalah hari selesainya wadad pengantin, ia menggigil membayangkan seorang lelaki sebentar nanti akan membawanya ke peraduan. Dan ayahnya tak juga datang untuk membenarkan perkawinan ini. ia sendiri juga tidak membenarkan. "Perawan terayu di seluruh negeri," bisik Gede Mirah.

"Tanpa riasan sahaya pun tiada orang lain bisa menandingi." Bedak telah menutupi sebagian dari kepucatannya. Sekali lagi airmata merusakkan rias itu. "Jangan menangis. Berterimakasihlah kepada para dewa. Tak ada seorang wanita yang telah ditempatkan pada satu kedudukan oleh Yang Mulia Tunggul Ametung. Tak pernah Yang Mulia melakukan wadad kecuali hanya untukmu. Pernikahan itu takkan dapat dibatalkan. Yang Suci Belakangka adalah juga seorang brahmana sebagai ayahmu. Mantra-mantranya sama mengikat dengan yang diucapkan oleh ayahmu." Dedes masih juga belum membuka mulut dalam empat puluh hari ini. Ia selalu terkenang pada ayahnya. Tanpa pembenaran dan restunya, semua hanya akan menuju pada bencana. Dan sebagai gadis yang terdidik untuk menjadi brahmani, ia tahu Tunggul Ametung hanya seorang penjahat dan pendekar yang diangkat untuk jabatan[Tunggul Ametung bukan nama pribadi, tapi gelar jabatan gendar-meri, artinya penggada kayu] itu oleh Sri Kretajaya untuk menjamin arus upeti ke Kediri. Semua brahmana, termasuk ayahnya, membencinya. Dua puluh tahun sebagai Tunggul Ametung pekerjaan pokoknya adalah melakukan perampasan terhadap semua terbaik milik rakyat Tumapel: kuda terbaik, burung terbaik, perawan tercantik. "Mari, Dara," dan ditariknya perawan itu berdiri dari duduknya. Dedes tetap tak bicara. Bedak dan mangir itu tak dapat menyembunyikan kepucatannya. Dada telanjangnya mulai ditutup dengan sutra terawang tenunan Mesir tipis laksana selaput kabut menyapu gunung kembar. Peniti pada seutas tali emas membikin sutra terawang itu menyangsang pada lehernya, sebagian

menutup rambut. Dan tali emas itu sendiri kemudian dilibatkan tiga kali pada leher untuk kemudian jatuh pada perutnya. Selembar sutra berselang-seling benang emas dan perak terkaitkan pada kondai dengan tusuk kondai, jatuh melalui kuping kiri ke atas pundak. "Mari, Dara," katanya lagi dan dipimpinnya Dedes sang cantik, sang ayu, sang segala pujian itu hendak meninggalkan bilik. Gedung pekuwuan itu dalam segala hal meniru istana Kediri, malahan nampak berusaha hendak mengatasi. Juga tatacara yang berlaku. Sepuluh tahun yang lalu Tumapel masih berupa desa sama dengan desa-desa lain. Kini gedung-gedung bermunculan seperti dari perut bumi. Tumapel berubah menjadi kota dan beratus desa bawahannya berubah jadi kumpulan gubuk dan pondok bobrok. Tunggul Ametung Tumapel melambung naik jadi raja kecil, dengan kekuasaan tanpa batas, hanya takluk pada Kediri. Dua orang pengawal, mendengar gerincing giring-giring, membuka tabir berat dari potongan ranting bambu petung, menghentakkan pangkal tangkai tombak sebagai penghormatan, membungkuk tanpa memandang pada Dedes. Gede Mirah menyerahkannya pada rombongan wanita pengiring yang langsung menyerahkannya pada Yang Suci Belakang-ka, Pandita Negeri Tumapel. Semua menunduk mengikatkan pandang pada lantai. Juga Dedes. Hanya Yang Suci mengangkat muka, memimpin semua meninggalkan keputrian menuju ke pendopo pekuwuan. Iringan itu merupakan permainan warna dalam siraman sinar matahari sore. Di depan sendiri Dedes dalam intan baiduri gemerlapan. Rambutnya dimahkotai dengan pita emas dengan matahari intan bertaburan pada kening. Kulit tubuhnya yang dimangir kuning muncul dari balik terawang sutra Mesir dengan sepasang buahdada seperti hendak bertanding dengan matahari.

Yang Suci Belakangka mengenakan jubah hitam berkalung lempengan emas dengan hiasan dudul bergambar lambang serba Wisynu: cakra dan sangkakala. Kalung jabatan itu diberati dengan patung garuda, juga dari emas. Semua berkilatkilat memuntahkan pantulan api dari dalamnya. Di belakang barisan dara pengiring, berselendang aneka warna dengan buahdada penuh menggagahi pemandangan, dengan gelang dan binggal perak dan suasa mengangakan mulut naga. Iringan itu berjalan selangkah dan selangkah seperti takut bumi jadi rengkah terinjak. Tetap tinggal Yang Suci yang tiada menunduk dengan jubah gemersik pada setiap langkah. Delapan puluh langkah keluar dari keputrian iringan sampai di pendopo istana sang Akuwu. Empat orang prajurit berbareng meniup sangkakala. Dan keluarlah Tunggul Ametung dengan pakaian kebesaran, menandingi pakaian Sri Kretajaya. Ia diapit oleh barisan narapraja, kemudian diiringkan oleh pasukan pengawal, yang mendadak keluar dari samping-menyamping istana, menaikkan tombak dan menghentakkan pangkalnya ke lantai. Sangkakala berhenti berseru-seru. Akuwu Tumapel turun dari pendopo menyambut pengantinnya, menggandengnya.

Dua orang prajurit datang membawa dua ekor kuda dengan hiasan serba perak. Mereka mengangkat sembah kemudian mempersembahkan kuda mereka. Tunggul Ametung menolong Dedes naik ke atas kuda yang seekor. Ia sendiri menaiki yang lain. Dan iringan itu mengikuti di belakang berjalan kaki, meninggalkan pekuwuan, langsung menuju ke alun-alun. Dua orang prajurit itu menuntun kuda pengantin. Juga turun dan kuda Tunggul Ametung sendiri menolong pengantinnya, membimbingnya mendaki tangga panggung. Janur kuning dan daun beringin menyambut kedatangan mereka. Dan rakyat yang menonton di seputar alun-alun itu hening tanpa sorak-sorai. Para narapraja ikut naik ke panggung. Para pengiring berbaris bersua di bawah. Yang Suci Belakangka berdiri di hadapan pengantin, memberi hormat, menyingkir ke samping menghadapi rakyat. Ia angkat tongkat-sucinya. Keadaan semakin hening. Mendadak men-derum genderang dari belakang para penonton. Dengan tangan kanan Yang Suci mengangkat giring-giring emas dan mengge-rincingkannya tiga kali. Berpuluh pandita dari seluruh negeri Tumapel, yang didatangkan dari kota dan desa dan diturunkan dari gunung-gunung Arjuna, Welirang, Kawi dan Hanung [Hanung, sekarang dikenal dengan nama Anjasmara.], berbaris seorang-seorang dengan jubah aneka warna dan destar sesuai dengan warna jubahnya. Di tangan mereka terangkat umbul-umbul kecil. Semua berjumlah empat puluh, empat puluh pandita, empat puluh hari pengantin telah mematuhi wadad perkawinan agung tatacara para raja dari jauh di masa silam yang sudah tak dapat diingat lagi kapan. Di belakangnya lagi sebarisan dara belasan tahun menari dalam irama gamelan. Pemimpinnya membawa bendera sutra merah, besar, pertanda darah perawan pengantin diharapkan. Pakaian mereka kain batik, tanpa selembar pun baju, dengan perhiasan dan mahkota bunga-bungaan. Waktu sebarisan kepala desa menyusul, memikul patung dewa yang sedang duduk di atas punggung garuda seluruhnya terbuat daripada anyaman rontal, penonton

bersorak-sorai, kemudian mengangkat sembah. Hanya para brahmana dan brahmani, yang berada di antara para penonton dan menyembunyikan kepercayaannya selama ini, dalam kediamannya masih dapat mengenal, patung itu sama sekali bukan seorang dewa, hanya seorang raja yang diperdewakan: Erlangga. Sesampai di depan panggung semua barisan berjalan miring menjauh memasuki tengah-tengah alun-alun. Hanya barisan patung di atas garuda itu tetap berhenti di depan panggung. Tunggul Ametung berdiri, menggandeng pengantinnya, dan memimpinnya berlutut, kemudian mengangkat sembah. Para narapraja di belakang pengantin agung juga mengangkat sembah. Yang Suci melihat tangan Dedes gemetar dalam sembahnya. Dan ia lihat airmatanya titik. Kemudian tangan itu jatuh lunglai di atas pangkuan. Belakangka membantunya mengangkat tangan itu dan memperbaiki sembahnya. Berbisik menindas: "Dewa Sang Akuwu sekarang juga dewamu." Tetapi tak dapat lebih lama Yang Suci menunjang sembah Dedes. Ia harus memimpin upacara selesai wadad itu. Sembah pengantin itu jatuh lagi di pangkuan. Belakangka berdiri, mengangkat tongkat sucinya dan giring-giringnya pun gemerincing. Angin pancaroba meniup keras, berpusing di tengah lapangan, membawa debu, membubung tinggi kemudian membuyar, melarut dalam udara sore.

Yang Suci mengucapkan mantra restu, ditutup dengan suara seratus sangkakala. Barisan wanita dari semua biara negeri Tumapel yang diakui muncul dalam pakaian warna-warni, mengambil alih pemikul-an patung rontal, membawanya ke tengah alun-alun, menenggelamkannya dalam luapan api. Kemudian barisan pandita dengan abu patung dalam bokor emas mempersembahkannya pada Tunggul Ametung yang telah duduk kembali. Upacara penutupan brahmacarya telah selesai. Tunggul Ametung berdiri berseru pada rakyatnya: "Demi HyangWisynu, pada hari penutupan brahmacarya ini, kami umumkan pada semua yang mendengar, pengantin kami ini, Dedes, kami angkat jadi Paramesywari, untuk menurunkan anak yang kelak menggantikan kami." Belakangka mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Terdengar sorak bersambutsambutan. Dengan didahului oleh abu patung dalam bokor di atas talam di tangan seorang pandita, Akuwu Tumapel dan pengantinnya menuruni panggung, berjalan kaki menuju ke istananya.

Para narapraja tinggal di pendopo, duduk bersimpuh. Akuwu dan pengantinnya dalam iringan Yang Suci, dan seorang pandita membawa bokor abu Erlangga menuju ke Bilik Agung yang terletak di balik pendopo. Mereka dapatkan Gede Mirah menyambut di dalam. Diterimanya bokor emas itu dari tangan pandita dan menaruhnya di atas meja, kemudian menyembahnya. Dedes berjalan tanpa kemauan. Ia dengar Yang Suci sekali lagi berbisik menindas: "Basuhlah kaki Yang Mulia." Dara itu masih juga tak dapat membendung airmatanya dan menangis tersedan-sedan. Ia memprotes entah pada siapa: seorang brahmani yang harus mencuci kaki seorang sudra yang di-satriakan oleh Kediri. "Yang Mulia Akuwu Tumapel,"Yang Suci mulai memimpin upacara, "kaki Yang Mulia." Tunggul Ametung dalam berdiri itu mengangkat kaki kanan pada Dedes yang telah dipaksa berlutut oleh Yang Suci. Air bunga dalam jambang itu bergerak-gerak kecil. "Bukankah Yang Mulia Akuwu sudah cukup memuliakan kau, Dedes? Paramesywari Tumapel? telah mengangkat naik kau dalam perkawinan kebesaran ini?" tindas Yang Suci. Melihat Dedes tak juga mencuci kaki Tunggul Ametung, ia sandarkan tongkatsucinya pada meja, menangkap tangan lembut Dedes dan memaksanya membasuh kaki kanan suaminya, kemudian yang kiri.

Dedes tak juga bangkit dari berlutut. Kembali Yang Suci juga yang memimpinnya berdiri, membisikkan pada ubun-ubunnya, memberkahinya dengan restu kebahagiaan seru seorang putra calon pemangku Tumapel hendaknya segera dilahirkannya. Upacara selesai dan malam pun jatuh. Pesta untuk rakyat, juga pesta di pekuwuan telah selesai. Tumapel mulai sunyi dalam tengah malam. Dan dingin pancaroba membikin orang lari di bawah selimut masing-masing. Dalam Bilik Agung Dedes berlutut menghadapi peraduan. Airmatanya telah kering. Tapi dalam hadnya masih juga mengucur tiada henti. Gede Mirah dan Rimang tak mampu menghiburnya. Ia tahu pikirannya tidak kacau. Hatinya masih dapat menilai, mantra yang diucapkan oleh Belakangka dalam Sansakerta mengandung banyak kesalahan ucap dan bahasa. Lima tahun yang lalu pun ia berumur sebelas waktu itu ia sudah mampu menyalahkan, apalagi sekarang. Ia tak bisa terima perkawinan semacam ini: seorang brahmani harus membasuh kaki seorang sudra yang disatriakan. Dan ayahnya, seorang brahmana terpelajar, merasa tidak perlu untuk menengok. Empat puluh hari ia telah membisu. Hanya itu yang ia bisa berbuat untuk melawan Tunggul Ametung. Menghadapi peraduan begini, dengan Gede Mirah dan Rimang terus juga mencoba menghiburnya, ia teringat pada suatu cerita pokok tentang perkawinan antara

wanita kasta brahmana dengan seorang pria kasta satria. Ayahnya, Mpu Parwa, yang menceritakan padanya dalam suatu pelajaran tentang tata-tertib triwangsa. Pada suatu kali di tahun 1107 Saka Sri Ratu Srengga javasaba dari Kediri mangkat. Pertentangan terjadi dalam istana siapa yang harus dinobatkan. Raden Dandang Gendis melarikan diri dari istana ke Gunung Wilis. Di sana ia jatuh cinta pada gadis anak brahmana Resi Brahmaraja bernama Amisani. Waktu itu Dedes menerimanya hanya sebagai pelajaran sejarah, dan sekarang ini ia baru mengerti, semua itu peringatan pada dirinya untuk tidak menerima lamaran dan suami seorang dari kasta satria. Ia sesali dirinya sendiri mengapa ia baru sekarang ini mengerti makna cerita itu. Dan bagaimana cerita itu selanjutnya. Resi Brahmaraja tidak menyetujui percintaan itu. Amisani ini, kata sang Resi, hanya gadis desa, tidak layak mendampingi Tuan jadi Paramesywan, duduk di singgasana di kemudian hari. Tapi cinta telah membutakan Dandang Gendis. Ia menjawab: Jika aku disuruh memilih antara Amisani dan mahkota, sekarang juga aku dapat katakan, aku pilih Dewi Amisani. Resi Brahmaraja, yang mengenal betul kehidupan istana, meminta pada Dandang Gendis untuk memikirkannya kembali, jangan sampai hati tertutup oleh nafsu. Anakku, Tuan, aku tahu, dia lebih berbahagia hidup di Gunung Wilis ini daripada di istana. Dandang Gendis tak dapat dibelokkan kemauannya. Perkawinan dilangsungkan. Tiga tahun ia tinggal di padepokan Resi Brahmaraja. Pada suatu hari datang dari Kediri ke Gunung Wilis Mpu Tanakung dan adiknya sendiri, Mahisa Walungan. Mereka datang menjemputnya untuk dinobatkan jadi raja Kediri. Ini terjadi pada

tahun 1110 Saka. Ia tidak lain daripada Sri Kreta-jaya[Kretajaya - gajah yang jaya. Kreta, gajah.] yang memerintah Kediri sekarang. Di istana Amisani, si anak desa, tidak disukai oleh para putri istana. Orang pun memasang racun untuk membunuhnya. Amisani akhirnya mati termakan racun itu .... Dedes terbangun dari renungannya. Ia kini sedang mengulangi kisah hidup Amisani. Ia mengerti di Tumapel tersedia banyak racun untuk melenyapkannya dari muka bumi. Aku tidak harus mati karena racun, ia yakinkan dirinya sendiri, yang lain bisa, Dedes tidak! Ia harus hidup. Ia masih akan bersimpuh pada kaki ayahnya untuk memohon ampunnya karena tak mampu membela diri. Ia harus telan semua upacara penghinaan kaum Wisynu atas dirinya. Ia angkat dagu, dan: "Ayah, sekarang ini sahaya kalah menyerah. Dengarkan sumpah sahaya, sahaya akan keluar sebagai pemenang pada akhir kelaknya." Harum mangir pada kulitnya bersama harum dupa-setanggi memadati ruangan besar Bilik Agung itu. Hatinya sendiri semakin sempit terhimpit. Dara yang terasuh dengan cinta-kasih seorang bapa ini tak punya kekuatan untuk melawan. Ilmu dan pengetahuan, yang dituangkan padanya oleh ayahnya, tidak berdaya menghadapi Sang Akuwu. "Akhir kelaknya sahaya yang menang, Ayah, Agunglah kau, puncak Triwangsa, kaum brahmana. Agunglah Hyang Mahadewa Syiwa!" Dan Tunggul Ametung hanya seorang jantan yang tahu memaksa, merusak, memerintah, membinasakan, merampas. Bahkan membaca ia tak pernah, karena memang tidak bisa. Menulis apa lagi.

Dedes tak tahu harus berbuat apa. Melawan ia tak mampu-Lari ia pun tak mampu. Meraung tidak mungkin. Dua orang wanita itu tiba-tiba bersiap-siap, mengangkat sembah padanya dan meninggalkan Bilik Agung.Tanpa mengangkat pandang tanpa berpaling ia mengerti, Sang Akuwu telah meninggalkan pendopo dan memasuki ruang besar ini. Ia tetap berlutut menghadap ke peraduan. Ia dengar langkah kaki. Juga ia dengar suara terompah: Yang Suci Belakangka. Langkah-langkah itu semakin mendekat, menghampirinya, ia tahu detik-detik ini adalah upacara menaiki peraduan pengantin. Ia menggigil. Dedes tak memberikan sesuatu teaksi waktu tangan Tunggul Ametung dengan hati-hati melepas sutra terawang Mesir dari peniti dan tali, dan menyusupkan pada tangannya. Menurut tata-tertib yang diketahuinya, dengan sutra itu ia harus membasuh muka Tunggul Ametung, badan dan tangan sebagai awal upacara. Tangan Akuwu itu menariknya, dengan lembut memaksanya berdiri dan memimpinnya ke arah jambang air bunga. Tekanan paksa dari Belakangka menyebabkan ia mencelupkan sutra itu ke dalam jambang dan mulai membasuh muka bopeng bekas jerawat besar, kemudian dada dan dua belah tangannya yang berbulu Sutra itu jatuh dari tangannya yang menggigil. Ia tetap menunduk di bawah tembusan pandang Sang Akuwu.

Yang Suci mengambil sutra itu dan menggandengkan tangan Tunggul Ametung pada pengantinnya: "Yang Mulia, bawalah perempuan ini naik ke peraduan. Para dewa membenarkan. Pimpinlah dalam sanggama untuk mendapatkan karunianya, mendapatkan calon pemangku Tumapel," ia bunyikan giring-giringnya, kemudian meninggalkan Bilik Agung. Berdua mereka berdiri di depan peraduan, mengawasi lembaran kapas yang tergelar di atas tilam. Sinar empat damar di setiap pojok bilik itu menerangi seluruh ruangan. Dan bayang-bayang hampir-hampir tiada.Tunggul Ametung menoleh pada dua orang wanita yang duduk bersimpuh di pintu. Mereka mengangkat sembah dan pergi, hilang di balik tabir berat potongan-potongan ranting bambu petung. Tunggul Ametung merabai lembaran kapas itu dan menatap pengantinnya. Dan Dedes mengerti sepenuhnya: kapas itu akan menampung darah perawan yang sebentar lagi harus ia teteskan. Gigilannya semakin menjadi-jadi. Besok sebelum matahari terbit, kapas dengan bercak darah itu akan diambil dengan upacara oleh Gede Mirah. "Mengapa tak juga aku dengar suaramu, Permata?" ia letakkan tangan pada pundak pengantinnya, dan ia rasai gigilan itu. "Mengapa tak juga kau lepas seluruh pakaianmu? Bukankah kapas itu telah menunggu kesediaanmu?" Dara itu tetap membisu. "Apakah perlu kupanggilkan Gede Mirah untuk membantumu?" Dedes menjawab dengan tangis.

Tunggul Ametung menangkap muka istrinya dan diciumnya pada pipi dan lehernya: "Keayuan yang keramat ini para dewa semoga takkan merusakkannya Jangan jadi susut keayuan ini. Dengar, Dedes, aku panggilkan keabadian untuk kecantikanmu demi Wisynu Sang Pemelihara aku patrikan keayuanmu dalam keabadian dalam sebutan Ken. Diam kau, sekarang, dengarkan suamimu." Ken Dedes kehilangan keseimbangan. jatuh berlutut di hadapan peraduan. Mendengar denting binggal yang bersintuhan tidak wajar Gede Mirah masuk lagi ke dalam, mengangkat sembah, dan: "Yang Mulia," ia mempersembahkan kehadirannya. Tanpa menunggu perintah Gede Mirah membuka ikat pinggang emas Ken Dedes, meletakkan dengan rapi pada bagian kaki peraduan, kemudian menarik tali pinggang, dan lolos semua pakaian pengantin itu, telanjang bulat seperti boneka. Gede Mirah mengangkatnya ke atas peraduan, tepat di atas lembaran kapas. Ken Dedes menutup matanya dengan tangan dan menangis tersengal-sengal, laksana boneka emas di atas lembaran perak. Bertahun ia telah mengimpikan saat ini, waktu datang ternyata ia takut dan jijik sekaligus. Dan Gede Mirah memindahkan tangan penutup mata itu ke samping dan memperbaiki rias, mengeringkan airmata, berbisik:

"Bila Hyang Surya besok mengirimkan restunya, tubuh dan jiwa pengantin ini sudah jadi sepenuh wanita." Ia tinggalkan Bilik Agung setelah mengangkat sembah. Tunggul Ametung memperhatikan tubuh istrinya yang indah tertelentang seperti kala dilahirkan. Ia belaikan tangan pengasih pada pipi, leher, dada dan perut pengantinnya, kemudian ia sendiri naik ke atas peraduan dan menenggelamkan Dedes dalam pelukannya. Kutaraja. ibukota Tumapel. tenggelam dalam dingin pancaroba. Di rumah-rumah penjagaan, para kemit masih sibuk memperbincangkan upacara selesai brahmacarya. Seluruh negeri baru tahu dari upacara itu, bahwa Paramesywari Tunggul Ametung adalah anak brahmana Mpu Parwa dari desa Panawijil. Semua orang tahu brahmana itu tidak mendapatkan pengakuan dari Yang Suci Belakangka, maka juga tidak dibenarkan menerima pelajar. Satu-satunya murid yang resmi adalah anak-tunggalnya: Dedes. Barangsiapa pada malam itu belum tidur, dia bertanya-tanya, apa sebabnya perkawinan itu dirahasiakan. Dan mengapa Tunggul Ametung justru hanya mengambil gadis desa. Bukankah di Kutaraja sendiri banyak gadis cantik yang patut dipara-mesywarikan? Peristiwa itu mendesak berita hebat dari hampir dua bulan lalu yang menyebabkan penjagaan istana Tumapel dan seluruh Kutaraja diperketat. Berita itu adalah tentang Borang, seorang pemuda berperawakan kukuh, berani atau nekad, tanpa kegemaran. Ia muncul di tanah lapangan Bantar, setengah hari perjalanan di sebelah barat Kutaraja. Dan orang dengan diam-diam mengagungkan dan

membenarkan Borang, bahkan menganggapnya sebagai titisan Hyang Wisynu sendiri. Bantar adalah sebuah dukuh di kaki Gunung Arjuna, di pinggir jalan negeri yang menghubungkan Tumapel dengan Kediri. Pembangun dukuh adalah Ki Bantar. Beberapa tahun yang lalu ladang Bantar tidak tanah lapang seperti sekarang, karena Ki Bantar setiap musim kemarau menanaminya dengan bawang merah. Seorang narapraja dalam perjalanan ke Kediri telah mengusirnya bersama semua keluarganya. Semua harta milik dan ladangnya dirampas oleh desa. Di lapangan Bantar ini dua bulan yang lalu Borang muncul dalam terang cahaya bulan. Anak buahnya telah mengerahkan seluruh penduduk untuk berkumpul dan melingkarinya. "Akulah Borang," ia memperkenalkan diri. "Mengapa kalian diam saja waktu Ki Bantar dan keluarganya diusir dari sini? Katakan padaku sekarang: siapa yang bersuka hati karena ke-pergiannya?" Penduduk yang menjadi waspada tidak menjawab. Siapa Bo-rang, orang tak tahu. Selama ini banyak perlawanan terhadap Tunggul Ametung, dan hampir semua telah dipatahkan. Boleh jadi Borang punggawa Tumapel, boleh jadi juga sebaliknya. "Mengapa kalian diam saja tidak menjawab? Sekarang tidak, waktu Ki Bantar diusir juga tidak. Apakah kalian kurang menyembah dan berkorban pada Hyang Wisynu, maka kurang keberanian dalam hati kalian?" "Bukankah kami tidak bersalah memuja dan mengkorbaninya, ya, Borang?" seseorang bertanya. "Pemujaan dan korban kalian tiada arti bila kalian tak dapatkan keberanian itu dari Hyang Wisynu."

"Barangkali kau seorang pemuja Hyang Syiwa, Borang. Kalau demikian janganlah disinggung dengan ucapanmu apa yang kami cintai, sembah dan korbani." "Apakah kekurangan Hyang Wisynu maka Ki Bantar sampai terusir dari desa dan kalian diam saja? Apakah dia kurang memuja dan mengkorbani?" "Tidak, Borang, jangan salahkan juga kami. Tumapel terus-menerus menyalahkan kami. Kalau kau pun demikian, apalah gunanya menggiring kami ke tengah tanah lapang ini?" "Kalian memuja Hyang Wisynu hanya karena Akuwu Tumapel juga melakukannya?" Angin pancaroba yang dingin itu meniup tanpa mengindahkan puncak pepohonan yang membangkang. Dan yang berselimut kain biru dalam temaram cahaya bulan itu tiada menjawab. "Kekuasaan Akuwu Tumapel yang diberkahi oleh Hyang Wisynu telah membikin kalian mengidap kemiskinan tidak terkira. Dengan segala yang diambil dari kalian Akuwu Tumapel mendapat biaya untuk bercumbu dengan perawan-perawan kalian sampai lupa pada Hyang Wisynu. Dengan apa yang diambil dari kalian itu juga Sri Baginda Kretajaya di Kediri sana tak lebih baik perbuatannya. Sama sekali tak ada artinya dibandingkan dengan kemuliaan Hyang Wisynu," ia diam untuk memberi kesempatan pada penduduk Bantar untuk mengerti, ia bukan seorang narapraja, juga bukan penyokong Akuwu Tumapel, bahkan menempatkan diri sebagai lawannya. "Nah, jawab sekarang. Adakah kalian setuju Ki Bantar dan keluarganya diusir?"

Seorang bertubuh tinggi-besar juga berselimut gelap, menghampiri Borang, menelakkan tanya: "Siapa kau sesunggahnya?" "Jangan perhatikan siapa aku, dengarkan kata-kataku. Jangan kau kira Borang gentar karena yang datang padaku berperawakan tinggi dan besar. Kau sudah tidak berdaya selama ini. Borang masih berdaya." "Siapa kau?" desak orang itu. "Kalau kau narapraja dari Tumapel, kebetulan, biar semua orang lihat dan tahu siapa Borang. Apa maumu?" Orang-orang dukuh Bantar, laki dan perempuan, mulai mendesak mendekati. "Katakan berdepan-depan pada semua orang ini," si tinggi besar meneruskan, "Kau musuh Tumapel." "Aku bukan musuh Tumapel Aku musuh Akuwu Tunggul Ametung. Apa perlu kuulangi?" "Katakan kau musuh Sri Baginda Kretajaya." "Musuh dari semua yang membenarkan Tunggul Ametung, juga musuh dari ketidaktahuan, kebodohan. Maka itu, dengar, hanya mereka yang tidak mengenal Hyang Mahadewa Syiwa selalu dalam cengkeraman kebodohan dan ketidaktahuan. Hyang Bathara Guru tahu segalanya. Hyang Mahadewa, juga Hyang Bathara Guru, Maha Pencipta."

"Jadi kau memusuhi kami penyembah Wisynu?" "Tidak, Kalian membutuhkan pancaran Hyang Mahadewa untuk dapat mengerti, bahwa tinggal jadi petani pemelihara sawah, ladang dan ternak saja, membikin kalian tidak tahu untuk siapa kalian bekerja. Sewaktu kalian tekun bekerja memelihara apa saja, elang berdatangan menggondol segala yang kalian usahakan. Apakah Hyang Wisynu menitahkan agar kalian memelihara elang itu dengan tekun juga?" "Kau menghujat, Borang." "Aku, Borang, menghujat ketidaktahuan kalian." "Suaramu masih kekanak-kanakan, belum mantap. Berapa umurmu maka berani bicara urusan para dewa?" "Dilahirkan boleh jadi pada waktu kau mendapatkan restu perkawinan." "Masih bocah tahu apa kau tentang urusan dewa?" "Setidak-tidaknya dari Hyang Bathara Guru aku tahu, dua hari lagi kalian akan mendapat perintah untuk mengangkut upeti ke Kediri. Dari Hyang Wisynu aku tahu, kalian akan lakukan itu dengan patuh." "Penghujat!"

Orang-orang yang melingkari mereka berdua diam mendengarkan pertengkaran dalam malam dingin menggigit itu. "Para pandita, malahan Yang Suci sendiri tak pernah terdengar bicara selancang kau." "Maka Borang yang memulai." "Berani mati, kau, bocah kemarin." "Yang lebih muda belum tentu lebih tidak tahu, belum tentu lebih pengecut daripada kau. Dengarkan bisikan Hyang Syiwa." "Bisikan kepadamu?" "Dengarkan kau, si-lebih-tua-daripadaku, bergabung kalian semua yang malam ini di Bantar. Demi Hyang Wisynu, angkut semua upeti ke Kediri. Sampai ke Sanggarana, lihat kalian ke sebelah kiri ...jangan hampiri aku, demi Hyang Durga, hancur kau bila tak mundur lima langkah ... hancur kalian, bukan karena narapraja Tumapel, tapi demi Hyang Durga sendiri." Orang itu mundur tiga langkah dengan ragu-ragu. "Dua langkah lagi.'" orang itu mengikuti perintahnya. "Dan hancur kau dan kalian di Sanggarana sana, bila tidak berhenti di bawah pohon beringin sebelah kiri jalan, dengan tanduk Nan-di, karena kalian tidak boleh terus, kalian harus membelok ke kiri. tunggu di bekas pertapaan Bonardana." Anak buah Borang bertugal mengepung penduduk Bantar tanpa membuka mulut.

"Ayoh, siapa harus menjawab aku? Mengapa kau diam saja?" kata Borang ditujukan pada si tinggi-besar. "Hanya badanmu saja yang tinggi-besar? Kalau kau harus menjawabkan untuk seluruh Bantar, jawablah." Orang itu tidak menjawab. Seorang kakek maju padanya. Dalam cahaya rembang itu nampak ia telah bongkok dan bertongkat: "Tentara Tumapel akan antarkan anak-anak yang memikul." "Kalian penyembah Hyang Wisynu yang kurang baik. Kesetiaan telah kalian persembahkan pada Tunggul Ametung, bukan pada Hyang Wisynu. Yang kalian sembah bukan dewa cinta-ka-sih, bukan Sri Dewi, bukan Hyang Wisynu, tapi gandarwa ketakutan. Dengarkan, kalian, bila seorang brahmana bicara: tentara Tumapel akan tumpas di Sanggarana. Juga setiap orang di antara kalian yang tidak setia pada perintah ini. Juga setiap orang di antara kalian yang lebih takut pada Akuwu Tumapel dan tentaranya Dan kalian takkan dapatkan sesuatu jawaban. Karena apa yang aku katakan ini adalah juga dari para dewa." Angin meniup keras. Borang memperketat selimut tubuhnya. Ia angkat tangan dan mengucap: "Dirgahayu! Pulanglah kalian," ia berjalan meninggalkan kepungan, dan orang-orang meminggir memberi jalan. "Borang!" orang tua bongkok itu menahan dengan pang-gilannya "Pemikul-pemikul ke Kediri tidak hanya dari Bantar, juga dari dukuh lain dari desa-desa lain."

"Semua harus berlaku seperti orang-orang Bantar." "Jangan pergi dulu. brahmana muda. Perlihatkanlah mukamu biar kami mengenal kau. Biar penduduk Bantar menyalakan api unggun." Borang berjalan menghampiri si tua bongkok: "Nyalakan api, kenalilah wajah Borang." Ranting kekayuan di sekeliling lapangan Bantar dikumpulkan cepat beramai-ramai. Api unggun menyala setelah kawul itu menyambar api dari gesekan kayu sadang. Borang berdiri menatap api, mengangkat tangan: "Inilah Borang. Dia tidak lari karena sinar api atau pun matahari." Orang melihat seorang pemuda berumur mendekati dua puluh, berpakaian rapi berwarna coklat tanah: destar, selimut badan, kain bawah. Matanya menyala seperti menyemburkan api menandingi unggun. "Telah kalian kenal wajah Borang. Perhatikan," ia buka selimut badannya dan muncul kalung perak dari lempengan yang ber-taut-tautan dengan gambar dudul hamsa[hamsa, angsa.], garuda dan nandi. Pada tangannya ia membawa trisula pendek dari perunggu. Melihat lambang-lambang para dewa dipersatukan di kalung dan pada tangan, berkilat-kilat memantulkan sinar api unggun, orang pun menjatuhkan diri bersimpuh di tanah dengan puncak hidung menyentuh bumi. Lama, menunggu perkenan untuk mengangkat kembali kepala. Dan perkenan itu tiada juga datang.

Waktu mereka memaksa diri mengangkatnya, Borang telah tiada, juga anak buahnya ..... Malam itu para kemit tidak membicarakannya lagi. Juga tidak membicarakan iringiringan pengangkut upeti dari seratus desa yang hilang di hutan Sanggarana dan tumpasnya tentara pengawal Tumapel. Darah perawan itu telah menetes pada lembaran kapas. Waktu Gede Mirah memasuki Bilik Agung, Akuwu dan Ken Dedes sudah tiada. Kapas itu digulungnya setelah ditaburinya dengan daun bunga, diletakkan di atas talam, dan dengan iringan Rimang dibawa pergi ke Bilik Larangan untuk disimpan. Waktu Hyang Surya terbit,Yang Suci Belakangka di pendopo mengumumkan pada sekalian pembesar pekuwuan, bahwa Ken Dedes adalah seorang perawan suci yang mematuhi ajaran nenek moyang, para dewa dan para guru. Pengumuman itu sebentar kemudian merembesi seluruh pekuwuan dan ibukota Tumapel. Berita dikirimkan juga ke desa-desa dan ke biara-biara di gunung-gunung, sebagai perintah isyarat dari Yang Suci Belakangka kepada para biarawan dan pandita, agar bersama memanjatkan terimakasih dan puja sekaligus agar pengantin yang baru meninggalkan keremajaannya, memasuki kedewasaan penuh itu, dilimpahi karunia lebih banyak, dan semoga seorang calon pemangku Tumapel mulai dikandung dalam rahimnya. Di dapur pekuwuan, seorang penanak nasi berbisik pada temannya: "Tak mungkinkah darah itu berasal dari seratus nyamuk kenyang, misalnya, atau Yang Mulia Paramesywari menggigit jarinya sendiri dan meneteskannya pada kapas itu?"

"Stt. Kepalamu bisa hilang dengan darah nyamukmu," temannya memperingatkan. "Kepercayaanku sudah hilang pada kesucian," Oti berbisik lagi. "Tentu, karena kau sendiri tak pernah suci sejak bayi." "Banyak benar orang merasa puas dengan kesuciannya, hanya karena tak ada yang mengganggunya, seperti Yang Mulia Paramesywari Ken Dedes. Berapakah banyak jumlah dan kau tak bakal tahu orang yang justru tak boleh punya kesucian?" "Hyang Wisynu memuliakan kesucian.Tak perlu kau ikut-ikut dengan orang Syiwa gila itu." "Dan siapa bakal mengganti kesucian yang hilang tanpa mau sendiri? Hyang Wisynu?" Oti membantah. Gadis berumur dua puluh itu datang dari sebuah pulau jauh yang ia tak pernah mau menyebut namanya. Perompak telah menyerang kampungnya waktu ia sedang berdayung seorang diri di muara sungai untuk mengumpulkan telor penyu. Umur be rapa ia waktu itu? Ia tak tahu. Yang teringat olehnya ia dapat menghitungnya dengan dua kali banjir besar di kampungnya. Yang terakhir banjir itu begitu derasnya. Rumah-rumah panggung ditumbangkan. Orang dibantingkan oleh arus pada batang-batang kayu hutan. Dengan surutnya banjir hujan tak turun lagi sampai seratus hari. Kali pada kering hutan di pegunungan mulai menyala terbakar, dan pagi itu ia disergap di atas biduknya oleh serombongan perahu yang merompak kampungnya.

Setelah itu ia dijual sebagai budak, dari pulau satu ke yang lain. Dari sebanyak itu lelaki yang menggunakan dirinya ia tak mendapatkan seorang bayi pun. Para dewa tak membenarkan lahirnya bocah dengan terlalu banyak bapak, pernah seorang wanita senasib sependeritaan mengatakan padanya, juga para leluhur tidak; kalau tidak, anak dengan terlalu banyak bapak akan lahir seperti lipan, dengan kaki seratus. Terakhir kali dijual ialah sewaktu kapal besar itu membawanya ke pelabuhan Gresik. Ia dibeli oleh seorang pedagang ikan kering. Pekerjaannya mempesiangi ikan dan menjemurnya, sampai pada suatu kali ia terbujuk oleh seorang pengangkut garam ke pedalaman. Orang itu setiap bulan dua kali dengan perahunya hilir dan mudik di kali Brantas. Seorang narapraja telah merampasnya dari tangan lelaki itu, karena perahu garam dan ikan asin itu tenggelam, dan orang itu tak mampu mengganti harganya. Dan istana Kediri ia dihadiahkan pada Tunggul Ametung karena mempunyai keahlian istimewa: membuat sambel jeruk yang menimbulkan gairah makan. "Kau perlu pengampunan, Oti, demi Hyang Wisynu," bisik temannya. Dengan Jawa yang kaku dan selalu salah tekanan ia membantah, juga dalam bisikan: "Justru mereka yang memperlakukan aku sekehendak hatinya yang memerlukan pengampunan." "Boleh jadi dahulu kau orang Buddha atau Syiwa." "Semua yang tak kau sukai kau anggap orang Buddha atau Syiwa."

"Semua yang jahat berasal dari orang-orang Syiwa yang memuliakan kama[Kama, nafsu.] tanpa batas itu" "Stt. Lurah dapur datang." "Nyi Lurah, berilah ijin pada kami untuk sekali ini bisa ikut mengagumi Yang Mulia Paramesywari." Wanita tua itu tersenyum senang, dan: "Tak ada yang lebih ayu daripada Ken Dedes. Kalian perlu lihat. Sebentar lagi Yang Mulia Akuwu dan Paramesywari akan keluar dari pura. Semua rakyat pekuwuan akan mengelu-elukan sepanjang jalan. Mengapa tidak?" Oti membuang muka. Ia hanya seorang budak, tak mungkin bisa bercampur dengan orang banyak yang bebas. Apalagi menyaksikan orang-orang besar. Lambat-lambat ia melangkah keluar dari dapur. "Oti!" lurah dapur, Sina, memanggilnya. Dan waktu budak itu berdiri di hadapannya, dengan kepala menunduk, ia meneruskan, "lepas tapasmu, sekali ini mari ikut." "Tanpa tapas penutup kepala, mereka akan tangkap dan aniaya sahaya ini." Lurah Sina memberinya kain penutup kepala: "Berjalan kalian berdua di belakangku. Semua ingin melihat

Yang Mulia Paramesywari." Juga budak yang lain itu, Unggok, melepas tapas penutup kepala sebagai tanda budak, dan menggantinya dengan selendang. Semua pekerja dapur keluar, bermandi sinar matan pagi yang sedang mengusir kabut. Puncak pegunungan di kejauhan pun mulai berjengukan berebut dulu untuk melihat pengantin yang baru keluar dari pura. Dingin pagi telah berkurang. Dan jalan pendek dari batu, penghubung antara pura pekuwuan dengan gerbang belakang gedung itu, telah tertutup oleh penghuni pekuwuan, terjaga oleh pasukan pengawal. Akuwu yang mendekati lima puluh itu berjalan seiring dengan pengantinnya yang berumur enam belas. Mereka berjalan lambat seakan takut membangunkan cengkerik tidur. Di belakangnya mengiringkan beberapa orang abdidalam membawa jam-bang-jambang kuningan berisikan air bunga. Para penonton bersimpuh dan mengangkat sembah. Dari bawah keningnya Oti dapat melihat kesuraman yang meliputi wajah Ken Dedes dan kebahagiaan yang terpancar pada mata Sang Akuwu. Dedes berwajah bulat, berhidung bangir-tipis, pertanda berdarah Hindu mengalir dalam tubuhnya. Tunggul Ametung berwajah bulat, berhidung pesek, berpipi tebal, tak ubahnya dengan petani Tumapel lainnya. Mata mereka sama besar dan bulat. Dedes menunduk sedang Tunggul Ametung mengangkat dagu seperti sedang memimpin perang. Begitu muda dan suci Oti menjatuhkan pandang pada tanah di antara dua kaki Lurah Sina. Barangkali lima atau enam musim lebih muda daripadaku, cantik gilanggemilang, semua bakal berada di bawah perintahnya semua, pria dan wanita. Sungguh seorang dewi di atas bumi.

Kemudian ia lihat kaki Dedes yang berhartal itu melangkah lambat-lambat, kemudian pada buahdada yang menggeletar dari balik sutra terawang itu pada setiap langkah. Ia rasai setiap ayunan kakinya menginjak-injak pada kepala dan tengkuknya. Dia memiliki segala. Dia dewi di atas bumi itu. Dan aku? Diriku sendiri pun tidak, dan selama ini tak pernah jadi milikku sendiri. Di pulaunya tak ada orang pernah didewikan atau didewakan. Orang berperang dan mati, mengaduk hutan dan laut tanpa pernah jadi budak. Orang berladang, menangkap ikan, mencari telor penyu untuk seluruh kampung. Orang bersesaji hanya untuk para leluhur. Di sini semua untuk dua orang itu saja .... Dan semua kebesaran hanya milik para dewa. Ia tahu betul, di kampungnya dewa tak pernah berkuasa.

Kembali ke dapur ia kenakan lagi tapas kelapa penutup kepaia Ia menjadi terdiam. Ia menyesal telah ikut melihat kebesaran yang terlampau besar tergelar di hadapannya: manusia dan perhiasannya. Beberapa tahun yang lalu ia belajar membaca dari temannya yang bukan budak, si Polang. Dari temannya itu juga ia dapat membaca rontal lepas dari Arjuna Wiwaha salinan dari karya Mpu Kanwa. Ia mengherani adanya raksasa dan ia tak dapat membayangkannya. Ia mengherani adanya satria yang mendapatkan kelebihan-kelebihan dari para dewa. Dan betapa banyak dewa, raksasa dan satria dalam pikiran orang Tumapel. Juga di Jawa ini ia banyak dengar orang menyebutkan kebesaran para dewa dan satria, dan dengan diam-diam ia mencoba pahami kehinaan dirinya sendiri sebagai budak. Ah, hanya budak. Jangankan para dewa dan satria, seorang lelaki biasa pun tak ada datang untuk merayunya apalagi mela-marnya. Wanita budak paling baik hanya untuk pria budak. Dan di istana Tumapel ini dia tak ada. Setidak-tidaknya ia belum pernah menemui. Mereka ditempatkan jauh dari Kutaraja. Ia tak tahu di mana. Setidak-tidaknya tak diperkenankan menginjak bumi mulia yang terjamah oleh kaki Sang Akuwu. Ia pernah dengar budak lelaki dipekerjakan di pembakaran batu bata dan di pembelahan batu. Ia merindukan tempat yang tak diketahui namanya itu. Ia merindukan salah seorang di antara mereka yang bakal melamarnya. Ia merindukan seorang bayi, yang dapat digendong dan ditimangnya. Ia akan nyanyikan untuknya lagu-lagu dari kampungnya dulu di muara sungai. Mungkinkah itu? Maukah dan mampukah orang itu menebusnya dari pekuwuan ini, sedang mereka tak mampu menebus dirinya sendiri? Apa saja yang telah dilakukan oleh para dewa itu maka ia sampai kehilangan hak untuk menikmati apa yang patut dinikmati oleh manusia seperti halnya dengan Ken Dedes? Samsara? Tahu apa aku tentang hidupku terdahulu sampai aku harus jadi budak orang lain sekarang ini? "Awas!" budak Unggok memekik. Oti melompat. Budak-budak wanita lain yang memikul belanga tembaga berisi air mendidih itu tergoncang-goncang karena pemikul terdepan terpeleset oleh ceceran kuah. Badan mereka kukuh seperti lelaki, mengkilat karena panas dan keringat. "Tonga, tonga!" budak pemikul itu mendengus. Tak ada orang mengerti maksudnya. Tak ada orang yang mau mengenal bahasanya. Hari ini hati Oti rusuh tiada menentu. Ia tak bisa berdamai dengan nasibnya. Ia mengiri pada Ken Dedes. Ia tak dapat mengerti mengapa semua orang

menganggap perkawinan agung itu sebagai sesuatu yang semestinya. Dan dirinya sendiri? Mengapa harus menjadi budak, sekedar dapat makan dan secabik pakaian agar tetap hidup dan tetap menjadi budak? Direnggang-kannya tali tapas kelapa penutup kepala itu. Ia sengaja hendak membikin lambang kehinaan itu jatuh dan akan pura-pura tidak tahu. Tahun demi tahun, siang dan malam benda coklat itu semakin berat juga menekan hatinya. Waktu tapas itu akhirnya jatuh tepat di bawah kaki Lurah Sina, suatu pukulan rotan telah menghantam pipinya. Jalur merah segera melintang pada mukanya, ia tak mengerang, tidak mengaduh. Ia tahu, itulah yang bakal diterimanya. Tapi ia telah mencoba. Dan benar-benar tanda budak itu harus tetap dikenakannya. "Kau sendiri tahu, bukan aku yang mengizinkan." bentak Lurah Sina. Tanpa bicara ia tutup kembali kepalanya. Lurah Sina duduk lagi di ambin, membantu merajang bawang merah, seakan tiada terjadi sesuatu atas diri siapa pun. Pagi itu Arya Artya duduk termenung di tepian kolam pemandian. Memasuki umurnya yang ke empat puluh ia nampak semakin suram. Pengesahan gelar Arya dari Yang Suci setahun yang lalu belum juga membawa pengaruh baik atas dirinya. Yang Suci tidak pernah membantah kebenaran silsilah, benar ia berdarah Arya, juga mengakui ia seorang brahmana. Semua orang Kutaraja tahu, di puranya sendiri ia mempersembahkan korban. Bahwa ia seorang yang berpengetahuan luas tentang sifat-sifat semua dewa, syakti dan lambang-lambang serta tafsirnya. Bahwa ia menguasai Bharatayuddha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, menguasai Mahabharata dan Ramayana asli, juga Ramayana dari jaman Rakai

Balitung, tiga ratus tahun yang lalu, Sansakerta dan Jawa. Tetap:Yang Suci Belakangka tak juga memberinya ijin untuk mengajar. Tidak seperti brahmana lain, ia memilih tempat di pinggiran ibukota. Bila mengikuti kebiasaan kaum brahmana selama dua ratus tahun belakangan ini, ilmu dan pengetahuan hanya akan tersebar di lereng gunung-gunung sepi. Ia mencoba mematahkan kebiasaan itu. Dan ia tidak berhasil. Bahkan tak ada seorang narapraja pun pernah datang berkunjung, apalagi belajar. Betapa rendahnya harga brahmana di mata Tumapel. Seperti kaum brahmana lain selama dua ratus tahun belakangan ini ia pun menyesali Erlangga, orang yang serba bisa itu, juga bisa membikin terdesaknya kaum brahmana. Dialah pula yang melarang adanya paria, perbudakan. Dia hanya mengakui triwangsa; biara, candi, bahkan pura negara pun kehilangan pamor dengan hilangnya perbudakan, kaum paria hina itu, makhluk serendah hewan di luar triwangsa. Untuk mengambil hati kaum brahmana Sri Baginda Kreta-jaya menghidupkan kembali perbudakan untuk merawat bangunan-bangunan suci Yang Suci Belakangka dengan serta-merta membenarkan. Suatu telah ditemukannya untuk men-ciptakan perbudakan. Akuwu Tumapel menyokong dan meman-faatkannya. Dan dipergunakan budak-budak itu untuk memperkaya diri mereka berdua. "Sekumpulan ular bermuka dua," sebut Arya Artya."Mem-perbudak orang-orang tak berdaya, dan membikin orang tak berdaya untuk dijadikan budak." Duduk di bawah naungan pohon beringin muda di tepi kolam pemandian ini benarbenar ia tak dapat memusatkan pikirannya. Belakangka mempunyai kedudukan terlalu kuat. ia tak mampu untuk dapat mendesaknya. Akuwu Tumapel telah tergenggam dalam cengkeramannya. Ia mencoba mengenangkan kembali

perayaan selesai brahmacarya kemarin. Ken Dedes kini telah jadi milik Tunggul Ametung. Dan Akuwu itu menoleh padanya pun tidak dalam upacara kemarin.

Bukankah telah dinasihatinya Akuwu itu untuk mengambil gadis itu dengan segala cara yang mungkin. Dia telah mengambilnya, dan ia tak juga mendapatkan ucapan terimakasih, apalagi memberikan kedudukan Belakangka pada dirinya. Ia menyesal telah menghadiri upacara kemarin. Tidak hadir pun tidak mungkin pengkokohannya sebagai brahmana bisa dicabut oleh Tunggul Ametung. Ia akan kehilangan bantuan negeri, dan akan terpaksa membuka perguruan di lereng gunung juga seperti brahmana yang selebihnya. Ia tahu, Mpu Parwa dengan diam-diam telah menerima beberapa orang pelajar. Sampai sebegitu jauh ia tak persembahkan itu pada Sang Akuwu. Orang berilmu, berpengetahuan dan berbakat itu tak boleh punah. Jabatan Pandita Negeri untuknya belum lagi berarti dibandingkan dengan hancurnya brahmana itu. Ia hanya dapat persembahkan nasihat untuk mengambil Dedes. Dan untuk jasanya itu ia tidak mendapat apa-apa. Uh, melihat padanya pun Tunggul Ametung tidak. Ia sudah tak punya jalan untuk dapat bercengkerama dengan penguasa Tumapel itu. Orang sebodoh itu, tapi gesit, tangkas dan cerdik seperti tikus pada umumnya. Seluruh ilmu dan pengetahuanku tak dapat menembus ketidaktahuannya.Tapi sekali kau akan terjatuh dalam pengaruhku Ia tak dapat berdamai dengan nasibnya: seorang brahmana yang dipersamakan kedudukan dan kehormatannya dengan seorang kepala desa. Dalam usahanya untuk memusatkan pikiran ia bangkit kemudian berjalan mengelilingi kolam pemandian. Sebentar ia berhenti mengawasi bambu pancuran yang tak henti-hentinya memuntahkan air, tepat seperti pancuran candi Belahan. Ia berjalan lagi, dan kini ingatannya menggapai kembali peristiwa Belahan itu ....

Tiga bulan yang lalu ia ikut dalam rombongan pengiring Sang Akuwu berkunjung ke candi Belahan di lereng utara Gunung Penanggungan. Tunggul Ametung hendak meminta berkah pada Hyang Wisynu, pada arwah Sang Sri Erlangga untuk rencananya mengambil Dedes, agar tidak memungkinkan amarah kaum brahmana. Sebagai brahmana penganut Syiwa ia tak rela mengangkat sembah pada arwah seorang raja, biar pun dikeramatkan sebagai titisan Hyang Wisynu. Seperti kaum brahmana selebihnya ia juga tidak membenarkan adat baru mengangkat arwah raja menjadi dewa yang harus disembah dan dipinta restunya. Tak pernah itu diajarkan dalam kitab-kitab suci purba. Orang-orang Wisynu dimulai dengan Erlangga yang membuka adat memuja arwah leluhur, perbuatan khianat pada para dewa. Semua para dewa yang menentukan, bukan petani-petani bodoh itu. Orang tak menegurnya waktu ia tak ikut mengangkat sembah. Mereka semua tenggelam dalam kekhidmatan, tak memperhatikannya. Waktu rombongan memasuki candi dengan jalan menekuk lutut, tak habis-habisnya ia menyumpah harus berlaku seperti itu terhadap arwah seorang raja tani. Dan abu Sri Erlangga itu ditanam di bawah lantai pemandian. Orang beringsut-ingsut mengelilingi kolam, dengan kepala menekuri air. Kemudian semua menuju ke dinding belakang candi. Entah berapa kali orang mengangkat sembah pada patung pada dinding itu: Erlangga di atas garuda bertubuh manusia, dipahat dari sebuah batu kali besar. Dan di bawah patung itu berdiri dua orang Paramesywarinya: Sri dan Laksmi, dua-duanya putri Sri Teguh Dharmawangsa. Dua-duanya tidak dipahat dari batu, hanya dari tanah liat bakar, merah kecoklatan. Tentu saja, karena Paramesywari adalah Syiwa. Ia tak dapat menghapus gambar Erlangga sebagai Wisynu itu dari ingatannya. Dan patung potret itu tidak berhidung bangir seperti dirinya, bukan hidung warisan Hindu, hanya warisan Sudra terkutuk. Kalau ia harus menyembah, ia akan tujukan pada Sri dan Laksmi, yang nyata berhidung bangir Hindu dan Syiwa pula, bukan Wisynu.

Betapa ia benci pada Erlangga, raja pertama yang mulai tidak mengindahkan ajaran, mengangkat diri dan nenek-moyangnya jadi dewa dengan nama dewadewa Hindu. Seluruh keturunannya mengikutinya, juga Akuwu Tumapel yang bukan keturunan hanya seorang Akuwu! Itu pun ia tak dapat mempengaruhinya. Mereka semua patut jadi isi nerakanya Wairocana. Takkan mendapatkan ampun sebagaimana diperoleh Purnawijaya. Ingatannya kembali melayang pada perayaan kemarin. Sejoli pengantin baru.Yang Suci memimpin seluruh upacara. Dari cara upacara itu dilangsungkan dan mantramantra itu diucapkan ia mengambil kesimpulan: Yang Suci tidak pernah meniupkan dalam kesedaran Tunggul Ametung rahasia hidup yang mempertautkan atman[Atman, diri, mikrokosmos.] dengan brahman[Brahman, semesta yang suci, makrokosmos.]. Kalau tidak mana mungkin rumah Tiwan, hanya karena atapnya lengkung berbentuk tanduk Nandi, kendaraan Hyang Mahadewa Syiwa itu, dibakar, dan Tiwan sendiri dengan anak bininya diikat dengan nagabanda[Nagabanda, tali berbentuk naga, pengikat mayat sebelum dibakar.] dan dipaksa masuk ke dalam api? Arya Artya tak dapat menanggung cemburuan Wangsa Erlangga[Wangsa (dinasti) Erlangga disebut juga Wangsa Isana.] bahkan juga akuwunya terhadap segala yang berbau Syiwa. "Kalau aku tak berhasil mendudukkan cakrawarti Hyang Syiwa di Tumapel, terkutuklah kalian Wangsa Erlangga! Terkutuk! Juga seluruh adipati, bupati dan akuwunya! Terkutuk!"

Ia turun ke pemandian dan mulai berenang-renang dalam air hangat itu, mondarmandir beberapa kali, kembali duduk di atas batu di pinggir kolam dan menggosok badan. Turun lagi ke air kemudian ia berendam. Sampai ia dalam perjalanan menuju ke rumah ia masih juga tak dapat menentukan apa harus ia perbuat selanjutnya. Sekiranya begitu bakal jadinya, ia tak bakal bisikkan Dedes pada kuping Tunggul Ametung. Ia dapat mempersuntingkan untuk diri sendiri. Sampai di rumah untuk ke sekian kalinya ia bertanya pada diri sendiri: Jadi apakah aku ini, yang bernafsu untuk jadi pandita negeri, seorang brahmana pemuja Sang Hyang Mahadewa Syi-wa, yang gagal melaksanakan keinginan untuk jadi pandita akuwu Wisynu? Sudah sedemikian hinakah arya Hindu di bawah Wisynu Jawa ini? Karena tak mendapat kepuasan dari pergulatannya ia jatuhkan diri duduk di atas tikar pandan, menyanyikan sebuah karya Baga-watgita dalam Sansakerta .... Pancaroba yang cemerlang itu menjanjikan panen palawija gilang-gemilang sebagai restu Dewi Sri untuk pernikahan Tunggul Ametung.Yang Suci telah mengukuhkan kenyataan ini dan mempersembahkannya pada Sang Akuwu. Ia sendiri pada pagi itu telah mengeluarkan perintah pada semua petani untuk memuliakan Dewi Sri dengan lebih meriah. Patung dari jerami huma harus didirikan di semua pelataran lumbung desa dan keluarga, dan sesaji di pura desa harus dipenuhi. Tunggul Ametung menjanjikan karunia emas lima puluh saga[ukuran berat untuk emas, ± 1 gram] dan perak seratus lima puluh catak[ukuran berat untuk perak, ± 20 gram.] pada desa dengan panen terbaik untuk memperbaiki pura desanya. Menyusul janji karunia seratus saga emas dan dua ratus catak perak kepada barangsiapa dapat menangkap Borang hidup atau mati. Atau Santing, atau Arih- Arih, atau nama apa pun yang dipergunakannya. Pengumuman itu diserukan di panggung alun-alun. Belum lagi tersebar ke semua desa seorang kepala pasukan telah menjatuhkan diri di hadapan Tunggul Ametung di pendopo. "Ampun Yang Mulia, kerusuhan terjadi di barat Kutaraja Sahaya mohon balabantuan. Mereka terlalu kuat." "Siapa bangkitkan kerusuhan itu? Borang? Santing?" "Bukan, Yang Mulia." "Arih-Arih lagi?" "Tidak jelas,Yang Mulia." "Bukankah yang dipadamkan Kidang Tandingan sebulan lalu bernama Arih-Arih?" "Tepat, Yang Mulia." "Juga yang sekali ini orangnya muda?" "Boleh jadi, Yang Mulia." "Siapkan pasukan kuda, aku sendiri yang bakal tangkap bajingan muda itu." Tunggul Ametung tak pernah marah mendapatkan laporan adanya kerusuhan. Apalagi bila yang memimpin seorang muda. Ia sendiri meningkat ke atas melalui cara yang demikian juga Dan ia mengerti perasaan pemuda-pemuda yang juga

ingin jadi Tunggul Ametung. Soalnya bagaimana cara ia mempertahankan kedudukannya dan bagaimana ia mengadu-domba antara gerombolan pemuda yang satu dengan yang lain. Ia tahu Arih-Arih, Santing dan Borang, barangkali tiga orang pemuda atau seorang dengan tiga nama, mempunyai cara-cara yang ia belum pernah melakukan, bahkan belum pernah mengenal. Tetapi ia senang dengan tantangan itu. Ia akan memberikan kesempatan berkelahi, dan kemenangan hanya untuk dirinya sendiri. ia berpaling pada Belakangka: "Yang Suci, tambahkan pada karunia itu, sebuah patung Hyang Wisynu dari emas dan tamtama dalam pasukan pengawal pekuwuan, barangsiapa bisa menangkap mereka bertiga atau dia dengan tiga nama itu dalam keadaan hidup." "Tetapi Yang Mulia tidak diperkenankan meninggalkan pengantin." "Untuk hadiah bagi Paramesywari." "Hadiah yang dijanjikan itu semua memang akan jatuh ke tangan Yang Mulia sendiri. Jangan lakukan.Yang Mulia. Panjang hari tidak mencukupi. Lagipula belum dibenarkan Yang Mulia meninggalkan pengantin masih sepuluh hari lagi." Tunggul Ametung tertawa meremehkan. Hari ini juga ia akan perlihatkan apa yang ia bisa pada Paramesywari. Resi Talu pengurus Candi Belahan itu bukankah sudah meramalkan diri bakal lebih besar, jauh lebih besar daripada Sri Baginda Kretajaya? Sebelum matan tenggelam ia sudah akan mengutip karunia yang ia janjikan sendiri.

Kuda Tunggul Ametung lari mencongklang diikuti oleh dua buah pasukan. Desa-desa Pangkur, Karangksetra dan Randualas telah dilewati. Bukit-bukit telah dilewati, dan di hadapan mereka membubung puncak Gunung Arjuna. Sampai di pertigaan jalan ke Kediri dan desa Kapundungan Tunggul Ametung berhenti. Jalan itu semakin mendaki, dan ia tahu kudanya telah lelah. Pasukan telah menyusulnya. "Memang desa-desa sebelah barat ini agak sulit diatur," serunya, sengaja untuk didengar juga oleh orang-orang desa. "Lihat, kotor. Lain kali semua desa dengan jalan kotor begini bukan saja hanya malah harus diperingatkan, diperiksa." "Diperiksa, Yang Mulia?" "Diperiksa, mulai sekarang. Kekotoran ini sarang perusuh." "Mulai sekarang belum mungkin, Yang Mulia, tempat kerusuhan justru sudah dekat." "Apa kataku? Sarang perusuh," ia memberi perintah agar sebuah pasukan berjalan di depannya. Pasukan lainnya diperintahkannya berhenti. Pasukan itu mencongklang seirama. Debu berkepulan di udara. Tak urung Tunggul Ametung melecut kendaraannya dan menyusul di belakangnya. Mereka menjurus lurus ke Gunung Arjuna. Kepala pasukan di depan mendadak berhenti di tikungan, berpaling ke belakang dan memekik: "Balik, Yang Mulia! Cepat!" Tepat di bawah lereng terjal Tunggul Ametung berhenti. Ia tertawa dalam hatinya diperingatkan untuk balik. Dari pengalaman ia tahu, pohon di belokan jalan sana itu jatuh karena ditebang. Perusuh sedang pesta-pora di desa selanjutnya. Beberapa kali dahulu ia sendiri telah merobohi jalanan dengan pohon untuk menghalangi pengejaran pasukan kuda Kediri.

Suatu gerak mencurigakan membikin ia memegangi hulu senjatanya. Ia angkat pandangnya ke tebing di samping kanannya. Di atas sebuah batu berdiri seorang berkumis sekepal, ber-destar hitam dan berpenutup dada hitam pula. Pada tangannya ia membawa trisula. Ia tahu benar itu bukan trisula untuk berkelahi, tapi untuk upacara keagamaan orang-orang Syiwa. Cawatnya berwarna coklat dan nampak sudah tua. Terompah tapas dikenakan pada kakinya. "Siapa yang kau cari, Akuwu Tumapel?" tegur orang berkumis sekepal itu. "Siapa kau?" bentak kepala pasukan yang segera datang untuk melindungi Akuwu. "Diam kau, prajurit. Tidakkah kau tahu aku sedang bicara dengan Akuwu Tumapel? Jangan terlalu dekat. Daging kalian bisa buyar di bawah seratus lima puluh mata tombak. Siapa kau cari Akuwu? Aku?" Dari atas kudanya Tunggul Ametung menggerang: "Kau! Borang, Arih-Arih, Santing. Melihat dari kekurang-ajaranmu, kaulah Borang." "Tak aku kenal nama Borang." "Arih-Arih?" "Tidak" "Santing?"

"Kalau seorang berani menghadapi Tunggul Ametung seorang diri begini, dia tak perlu berbohong." "Siapa kau?" "Brahmana dari utara." "Tak ada tempat untuk brahmana di Tumapel." Kepala pasukan itu mengangkat tombak untuk dilemparkan. "Apakah kau anggap prajurit Tumapel saja yang bisa lemparkan tombak? Lihat trisula ini. Sekali aku angkat kilat Sang Mahakala akan sambar kalian dengan seratus limapuluh mata tombak." "Jadi cantrik Arya Artya pun kau belum patut," Tunggul Ametung mengejek orang berkumis sekepal itu. "Di pekuwuan kau bebas bicara seperti itu. Tunggul Ametung. Dalam apitan gunung dan jurang begini aku lebih kuasa daripada kau, dan seribu orang seperti kau." "Siapa kau?" "Ingat-ingat wajahku ini, dan kembali kau segera pada pengantinmu. Apa kau relakan dia jadi janda?" "Tidak percuma pasukan kuda ada di depan dan belakangku." "Apa artinya pasukan kudamu dalam apitan gunung dan jurang? Tak mengerti kau tentang perang? Kembali! Dengarkan nasihatku sebelum murka Hyang Mahadewa jatuh di atas kepalamu."

Orang berkumis sekepal itu membuka kain penutup dada. Muncullah perak bergambar dudul Durga Mahisasuramardini[Durga Sang Pembunuh Yaksa Banteng]. Tunggul Ametung menutup mata dari pantulan tajam itu dengan lengan. Dari adi pun ia sudah tak tahan terhadap ketajaman pandang mata orang itu. Sebagai orang yang berpengalaman dalam adu kekuatan dan adu senjata ia tahu, barangsiapa kalah pandang, dialah pula yang bakal kalah berlawan. Ia turunkan lengannya, memalingkan muka, menarik kendali kuda dan berjalan lambat-lambat meninggalkan tempat itu Kepala pasukan itu memburunya dan memprotes: "Ijinkanlah kami menumpasnya." "Kembali! bukan lawanmu. Bukan lawan kita. Seorang brahmana yang akan menyelesaikannya." Sampai pada pasukan kedua ia gerakkan tangan memberi isyarat untuk pulang. Di pekuwuan ia perintahkan pada Yang Suci untuk memanggil Arya Artya. Dan karena orang yang merasa diri brahmana dari kadar puncak itu tak punya dan tak dapat menunggang kuda, baru di malam hari ia tiba. "Apa yang Bapa ketahui tentang seorang brahmana muda di Tumapel ini?" "Tak ada brahmana muda di Tumapel ini. Semua sudah tercatat dalam ronta! Yang Suci. Yang Mulia.Yang diijinkan mengajar dan yang tidak. Bapa termasuk yang tidak diijinkan."

"Maksudku seorang brahmana muda." "Sekiranya ada, dia akan sowan pada Bapa ini untuk mendapatkan restu. Bila demikian Bapa akan segera menyampaikan pada Yang Suci. Lagi pula, tak mungkin seorang muda bisa jadi brahmana. Untuk dapat menguasai Sansakerta paling tidak dia membutuhkan sepuluh tahun. Tanpa itu bagaimana seorang muda dapat mengenal Atharwaweda dan menjadi brahmana? Berapa umur orang yang mengaku brahmana muda itu. Yang Mulia?" "Dari kumisnya yang setebal kepalan, kiranya tiga puluh." "Dengan umur tiga puluh orang baru bisa menghafal mantra-mantra pentahbisan,"Arya Artya mengangguk. "Belum pernah terdengar ada brahmana berkumis sekepal. Di mana Yang Mulia jumpai dia?" Tunggul Ametung tak menjawab. Pada waktu itu Belakangka datang. Menghormat kedua-duanya dan memulai: "Yang Mulia, mendengar dari para prajurit tentang brahmana muda itu ..." "Tak ada brahmana muda berkumis sekepal, Yang Mulia, percayalah," sumbar Arya Artya. "Serahkan persoalan ini pada sahaya,Yang Mulia. Bukan suatu perkara yang sulit." "Tak ada brahmana seperti itu. Dia hanya penipu. Yang Mulia, sepatutnya dihancurkan badannya dengan garukan kerang."

"Pada dadanya terpasang lembaran perak panjang, selebar satu setengah jengkal, dengan gambar Hyang Durga Mahisasuramar-dini,"Tunggul Ametung mengadu. "Patut disobek-sobek kulitnya diumpankan pada anjing hutan, penipu itu," Arya Artya membenarkan. "Tiadakah Yang Mulia salah lihat?" Belakangka menguji. "Jagad Pramudita! Apakah aku sudah dianggap rabun?" "Di manakah Yang Mulia pernah lihat Hyang Durga seperti itu?" Belakangka mendesak menyisihkan Arya Artya. Tunggul Ametung menyedari, Belakangka sedang menyelidiki kepercayaannya. Dia bisa mengadu pada Yang Tersuci di Kediri, dan nasibnya akan terjerembab. Ia perintahkan dua orang itu pergi. Sebelum meninggalkan jenjang Yang Suci Belakangka berbisik padanya: "Hanya Lohgawe yang harus dituntut tanggungjawabnya. Yang Mulia, biar Belakangka ini mengurusnya." Ken Dedes dari dinding Bilik Agung mendengar semua pembicaraan itu. Untuk pertama kali ia tersenyum, membayangkan brahmana muda dengan Sang Hyang Durga Mahisasuramardini pada dadanya. Cepat-cepat ia tinggalkan Bilik Agung dan turun di Taman Larangan di sebelahnya. Begitu meninggalkan pendopo Yang Suci Belakangka mengirimkan utusan kilat berkuda untuk melaporkan peristiwa genting itu pada Yang Tersuci Tanakung di Kediri.

Sementara itu jatuhnya tapas penutup kepala menyebabkan Oti digiring meninggalkan dapur pekuwuan, meninggalkan Kutaraja, ibukota Tumapel. Ia berjalan dan berjalan memunggungi Gunung Arjuna. Welirang dan Hanung. Menengok ke kiri pandangnya tertatap pada puncak Gunung Semeru. Menengok ke kanan pada puncak Gunung Kawi dan puncak Gunung Ke-lud di belakangnya lagi. Ke mana pun mata memandang - memandang dengan mencuri, karena budak harus selalu menundukkan kepala - hutan, rimba belantara yang memagari. Pada apa pun pendengaran dipusatkan, yang terdengar hanya desing margasatwa, dan dengung bersahut-sahutan mengagungkan kebesaran hidup. Bahkan langkah kakinya sendiri di atas jalanan baru itu tiada didengarnya. Langkah pengawalnya pun tidak. Jalan negeri telah ditinggalkan, membelok ke kanan, memasuki jalanan hutan lebar sedepa hampir seluruhnya telah tertutup oleh rumput aneka jenis, berebut hijau. Hanya bagian yang sering terinjak kaki nampak merana. Setengah hari perjalanan ia telah melewati delapan jembatan besar dan sepuluh jembatan kecil, dua titian. Jalanan itu kemudian terputus oleh kali Kanta. Di tepian sungai, di antara batu-batu gunung, hitam kelabu dalam segala bentuk dan besar, seperti cendawan, tersebar gubuk-gubuk dedaunan. Dari cerita yang pernah didengarnya, itulah perkampungan budak. Dari kejauhan telah terdengar bunyi orang membelah dan memahat batu. Hanya bunyi saja. Belum lagi ia melihat orangnya. Pengawalnya menyuruh ia makan. Dari gendongannya ia keluarkan ketupat dan kalabasa labu kerdil tempat air minum - air gula merah; tulang punggung babi yang berdaging dan seikat kacang panjang mentah. Juga pengawalnya mengambil perbekalan dan mulai makan di tempat yang agak jauh.

Gercik dan desir air yang menerjangi batu terdengar menyanyi memanggilmanggil. Oti ternyata tidak ngeri, juga tidak takut, pada hukuman ini. Ia sebaliknya merasa senang dapat meninggalkan dapur pekuwuan, memasuki alam bebas seperti dulu di kampungnya sendiri dan gercik air itu terdengar Jebih indah daripada deburan laut, daripada suara gamelan. Dan betapa pepohonan raksasa di sekitar itu memberinya kesejukan! Sehabis makan ia digiring menuruni tepian. Ribuan wanita sedang melimbang emas dari pasir kali sumber upeti sebanyak sepuluh ribu saga setiap tahun ke Kediri. Ia tahu pekerjaannya kini adalah mendulang emas. Matanya tidak melihat pada emas itu, tapi pada gemerlap air yang bermain-main dengan matahari. Pengawal itu menyerahkannya pada lurah pendulangan, seorang perempuan tua yang telah kisut, dengan buahdada seperti kantong kempes tergeong-geong hampir sampai pada pusat. Dan hampir seluruh pendulang itu berhenti bekerja untuk menyambut teman baru dengan matanya. Seorang budak dengan bayi dalam selendang sambil meneteki naik ke darat dengan dulangnya, kemudian duduk di tanah, menyanyi sebentar, mengumpulkan dedaunan dan menidurkan anaknya di atasnya, di bawah sebatang pokok kayu. Ia turun lagi dan meneruskan pekerjaannya. Juga anak-anak kecil banyak bermain-main di air menemani ibunya. Yang agak lebih besar ikut juga mendulang, karena bocah anak budak dianggap sebagai budak perempuan. "Ya, mulai besok ikut mendulang. Oti namamu, bukan? Sore ini usahakan olehmu sendiri membikin pondok," kata Lurah Moleng.

"Tak ada alat padaku." "Kau masih muda. Carilah lelaki muda. Dia akan suka membantumu." Oti meninggalkan kali! menuju ke tempat para pembelah batu. Jantungnya berdebaran. Ia akan mencari seorang lelaki muda menurut pilihannya sendiri. Di pekuwuan tiada seorang lelaki sudi didekati oleh budak. Di sini semua budak Dan betapa lama ia mengharapkan seorang lelaki yang menaruh perhatian atas dirinya, menghiburnya, menyayanginya dan merayunya. Memasuki daerah penggarapan batu ia melihat seorang kakek sedang memahat sebuah relief Banaspati. Orang itu tak mengangkat pandang padanya. Matanya yang lemah harus selalu terpusat untuk tidak membikin salah pahat. Oti berhenti sebentar dan memperhatikan kakek itu selalu menggerayangi tempat yang habis dipahatnya. ia berjalan lagi barang sepuluh depa dan melihat seorang setengah baya sedang memahat bagian dalam sikara[bagian atap candi.] kuil. Pahatan itu hanya berupa garis-garis lurus. Ia ragu. Tak adakah yang lebih muda, yang memiliki keperkasaan berkasih sayang? Ia berhenti di hadapannya dan menimbang-nimbang. "Aku hendak membikin pondok. Siapa mau membantu aku?" Orang itu meletakkan baji baja dan penohok, memandanginya dengan mata berapi-api seperti hendak menelan seluruh kehadirannya: "Orang baru?"

"Baru datang." "Sayang. Sebenarnya aku juga suka. Coba pergi ke ujung sana, dia belum punya perempuan. Sana, di bawah pohon jamblang sana. Kalau dia tidak suka, kau boleh kembali padaku." Oti mengucapkan terimakasih dan berjalan cepat ke arah itu. Ia tak perhatikan lagi pemahat dan pembelah batu lainnya. Ia pun tak perhatikan pedih telapak kakinya terkena runcingan gum-pilan batu. Di bawah jamblang ia dapatkan seorang pemuda, berbadan kukuh, hampir telanjang bulat. Hanya selembar cawat kecil menutup kawatnya[garis lipat pada dasar badan manusia, dari bawah kemaluan melalui dubur, naik ke atas.]. Tapas kelapa pada kepala itu menutupi rambutnya. Dan rambut itu sendiri jatuh terurai pada punggungnya yang lebar. Sekaligus ia tertarik pada bahunya yang bidang dan tubuhnya yang tinggi-besar seperti raksasa. ia letakkan tangannya pada bahu pemuda itu dan tidak menegurnya, hanya untuk dapat meraba kulit dan otot-ototnya yang nampak terbuat dari tembaga itu. Dan pemuda itu meneruskan pekerjaannya tanpa memperhatikan rabaannya sedang memahat sebuah cakra di tangan seorang bathara yang belum sempurna wajahnya. Ia tak menoleh. Otot sekuat ini betapa tidak menjadi berkah bagi hidupnya, pikir Oti. Dengan otot semacam ini dunia pun dapat dipanggulnya untuk hidupnya, dibawa pulang ke pondok untuk dinikmati.

"Mau kau menolong aku?" Pemuda itu menoleh, memandanginya. Matanya hanya satu. Ia lemparkan pahat dan penohok. Berdiri. Matanya mengerjap. "Baru datang?" ia lemparkan pandang ke seluruh ladang batu yang membubungkan suara pikuk itu. Ia mengangguk membenarkan sikap semua pemahat dan pembelah batu. Kemudian menatap Oti, yang masih terkejut karena kematasatuannya. "Bikin pondok?" Oti menunduk. "Para dewa pun tak mampu beri aku pengganti mata. Kau pandangi kakimu seperti kakimu berubah jadi biji mata untukku. Dari mana kau?" "Kutaraja." "Apa kesalahanmu?" "Tolong aku dibantu membikin pondok." "Hanya karena mataku satu kau mau punya pondok sendiri?"

Betapa tidak adilnya para dewa orang Tumapel: tubuh seindah itu dan maunya dikurangi satu. "Kau menyesal datang padaku? Pergi!" Oti membuang muka.Tak dapat ia membendung air matanya, menyesali tubuh sesempurna itu dicacatkan oleh dewa-dewanya sendiri. "Mengapa tak pergi? Tak usah punya dan bikin pondok sendiri. Di pondokku masih ada tempat untuk tubuhmu." Ia cari muka Oti. "Mari." Dan tubuh Oti gemetar mendengar suaranya, dan nadanya, dan keteguhannya, dan kekerasan hatinya. Seperti bayang-bayang ia iringkan si matasatu. Ke mana, ia tak tahu. Melewati padang batu yang hiruk mereka berjalan dan berjalan sampai ke tepi hutan. Mereka menuju ke satu-satunya rumah panggung dari kayu. Seorang berpakaian serba indah, dada berbulu, sedang berdiri di bawah geladak rumah. Si matasatu mengangkat sembah setelah menjatuhkan lutut ke tanah. Dan Oti mengikuti perbuatannya. "Mundra, aku lihat akhirnya kau dapatkan juga seorang perempuan. Aku lihat dia kuat, kokoh. Seimbang denganmu. Perempuan itu memang sepadan untukmu. Tunggu!" Ia naik ke atas dan turun lagi membawa dua lembar kain, memberikannya pada Mundra. Yang selembar pada Oti.

"Kau, perempuan, siapa namamu? Oti? Bagus. Berikan Mundra sebanyak anak yang bisa kau berikan. Pergi kalian pulang dengan restuku." Mereka pergi, berjalan beriringan menuju ke tepian kali Kanta. Di bawah sebatang pohon jambu raksasa, di situlah pondok Mundra. Seperti yang lain-lain terbuat dari dedaunan yang dijepit dengan bambu belah, tebal sejengkal. Atapnya dari ilalang. Tinggi tiga depa, lebar empat dan panjang lima depa. "Kau akan senang tinggal di sini. Gusti Putra sudah benarkan kita." "Gusti?"[gelar untuk sudra yang kaya atau berkeahlian] "Ya, dia hanya dari kasta sudra." Mereka masuk, duduk di atas tumpukan daun kering "Siapa Gusti Putra?" "Silpasastrawan Tumapel." "Apa silpasastrawan?" "Yang merancang dan membangun gedung-gedung suci. Kau bisa masak?" Oti merasa tersinggung oleh pertanyaan itu.

"Kalau tidak, aku yang masak sebelum kita turun bekerja. Senang aku, kau datang untuk jadi biniku." "Bini?" ia angkat kepalanya dan dipandanginya si matasatu seorang lelaki yang tiba-tiba saja jadi suaminya. Mundra tersenyum membujuk. Pikirannya melayang ke Kutaraja. Semua mendapat gerincing giring-giring pandita pada pernikahannya, dan percikan air suci. "Pandita," bisiknya. "Untuk budak cukup dengan anggukan seorang pembesar. Kau akan senang tinggal di sini, dengan aku. Lihat," ia memperlihatkan lengannya yang kuat. "Tangan ini menjamin kesetiaan-mu padaku, lebih berharga daripada mataku." "Bagaimana menjaminnya?" "Untuk mematahkan batang leher." "Batang leherku?" "Terserah, bisa kau bisa orang lain. Hidupku sudah cukup sesak. Seorang bini tak perlu semakin menyesakkan. Apa kau? Buddha? Syiwa? Wisynu? Brahma?" Dan Oti tak tahu. "Tahu mantra Sansakerta?" Oti menggeleng. "Bagus." "Apa yang bagus?"

"Sansakerta yang bikin pening orang. Tak ada berkah sesuatu. Kakek dan nenek kita sudah mulai tidak menggunakan lagi. Tak tahu aku mengapa para dewa itu memilih Sansakerta sebagai bahasanya." "Mengapa kau jadi budak?" "Ayahku penjudi, pemain dadu, tertimbun hutang, jadi budak. Aku terseret dalam perbudakan. Di mana orang tuamu?" Oti tak dapat mengikuti pertanyaan-pertanyaan yang begitu cepat dan tercampur dengan keterangan yang tidak kurang cepatnya. Ia masih sibuk mengherani betapa mendadaknya ia mendapatkan seseorang pria, seorang saja, yang ia impikan selama ini dan ternyata dia kekurangan sebuah mata. "Bicaralah." Kekasaran suaminya dirasainya seperti belaian kasih sayang. Di Tumapel semua lelaki jauh lebih halus daripada Mundra, dan semua memincingkan mata terhadapnya. Akhirnya dewa-dewa orang Jawa itu melemparkan seorang suami di pangkuannya. Dan ia belum juga habis heran. Berbaris sekian banyak pria yang selama ini pernah memperlakukannya seperti sebatang pisang, tanpa perlu mengajak bicara. Suatu anggapan, bahwa pria adalah makhluk paling menjijikkan di dunia ini, sekaligus juga menakutkan, untuk waktu lama pernah membunuh impiannya tentang indahnya hubungan lelaki dengan perempuan. Tapi belakangan ini ia sungguh-sungguh merindukan seorang pria, seorang saja. Itu pun tak pernah berwajah. Sekarang di hadapannya seorang suami, berwajah, gagah, tinggi besar, bermata satu. Dan semua impiannya bubar. Ia merasa kosong. Boleh jadi Mundra sendiri seorang dewa, mungkin juga menyimpan banyak kesaktian pada dirinya. "Kau menangis sekarang. Kau sesali mataku yang satu?"

Oti merobohkan diri pada pangkuan Mundra. Dan si matasatu itu membelai rambutnya, pipinya ah, belaian yang diimpikannya tahun-tahun belakangan ini. Waktu tangan kasar itu mengangkat mukanya, dari sebakan mata ia lihat lelaki itu tersenyum. Giginya kuning gading berkilat-kilat seperti terbuat daripada suasa. Dan ia lihat sepasang gigi taring yang tajam dan kuat. "Kalau kau pernah berbenah rumah, mulailah. Aku akan rapikan alat-kerjaku." Ia tegakkan duduk Oti, mencium pada pipinya, kemudian meninggalkan pondok.

AROK matahari SUDAH HAMPIR TENGGELAM WAKTU IA SAMPAI Di kebun buah Dang Hyang Lohgawe. Dihindarinya mahagurunya dan berjalan menepis mencari tempat air. Adalah tidak patut ditemukan dalam keadaan begini kotor. Setelah membenihkan diri ia berganti pakaian dan masuk ke pemondokan temantemannya seperguruan. Tujuh orang itu sedang sibuk menghadapi rontal menghafal paramasastra Sansakerta, ketahuan dari dengung ucapan mereka yang pelahan. "Tiada Bapa menanyakan aku?" ia bertanya. Semua mengangkat kepala. Dang Hyang Lohgawe tidak menanyakan. Mereka menyingkirkan rontalnya dan dengan pandang bertanya menatapnya. "Dari mana saja kau? Mukamu sudah hitam biru begitu. Sudah lama kau tak belajar." "Kau bisa diusir," seseorang memperingatkan, "biarpun ingatanmu mendapatkan pancaran dari Hyang Ganesya[dewa ilmu pengetahuan; berkepala gajah.]." Arok tak pernah belajar paramasastra Sansakerta. Untuknya setiap mata pelajaran terlalu mudah untuk disimpannya dalam ingatannya. Dan malam itu bukan paramasastra yang keluar. Dang Hyang Lohgawe agak lama duduk termenung di atas tikar pandan berwarnawarni. Para pelajar menunduk menanti. Dan waktu ia angkat pandangnya, matanya tertuju padanya: "Sudah lama aku timbang-timbang. Kau seorang muda yang cerdas, giat, gesit, ingatanmu sangat baik, berani, tabah menghadapi segalanya. Aku tidak tahu apakah yang kau perbuat selama ini tumbuh dari hatimu yang suci dan pertimbanganmu yang masak," ia buka sebuah bungkusan dan mengeluarkan dari dalamnya seikatan tebal rontal. "Kau kenal tulisan ini?" "Kenal, ya, Bapa mahaguru." "Bukankah ini tulisan gurumu yang lama?"

"Benar, ya, Bapa mahaguru, Bapa Tantripala." "Tahu kau apa yang ditulisnya di sini?" "Tahu, ya, mahaguru, catatan tentang pribadi sahaya." "Benar. Adakah waktu kau serahkan padaku pada hari pertama kau datang ke sini telah kau baca lebih dahulu?" "Ampun, ya Bapa, adalah bukan menjadi hak sahaya untuk membacanya, maka tak pernah sahaya lakukan." Dang Hyang Lohgawe menghembuskan nafas. Sinar lampu damar itu menyoroti lehernya yang dihiasi dengan keriputan usia. "Kau semestinya mengerti, aku tak boleh ragu-ragu. Apakah yang kau perbuat di luar pengetahuanku selama ini keluar dari hati yang sakit ataukah hati yang dapat menampung karunia para dewa, biarlah malam ini kita selesaikan dengan baik. Setelah ini, kau bebas tanpa ikatan padaku. Kalau benar tulisan Tantripala ini kau seorang pemuda yang bisa merusakkan kehidupan dan aturan, itu pun terserah padamu. Setelah ini aku tidak lagi mengharapkan kedatanganmu, sekalipun kau bebas datang dan pergi. Kau mengerti maksudku?" "Ya, Bapa mahaguru, sahaya telah menimbulkan prihatin Bapa mahaguru Lohgawe sesuatu yang semestinya tidak terjadi, dan tidak perlu terjadi." "Baik. Tentu kau belum pernah melihat laut."

"Belum, ya, Bapa." "Apakah yang lain-lain belum pernah ke Gresik?" Ternyata seorang pun belum pernah meninggalkan Tumapel. "Baik. Mari aku ceritai. Ada sebuah daerah luas di selatan Gresik. Seluas pandang ditebarkan, hanya sawah, sawah dan sawah - sawah hanya untuk musim kering seperti sekarang ini. Dan kau, kau dengarkan saja," Lohgawe memperingatkan padanya. "Coba, seorang di antara kalian sekarang terangkan duduk perkaranya," ia menuding dengan lidi enau. "Ya, Bapa mahaguru," yang tertuding memulai, "Pada mulanya sawah-sawah itu adalah rawa genangan Kali Brantas pada setiap penghujan. Sri Baginda Erlangga telah titahkan untuk membuka sebuah porong sampai ke laut. Tanah galian itu kemudian dibikin menjadi tanggul pada kiri dan kanan. Kemudian porong itu dipergunakan untuk mengurangi beban muara Brantas, menjadi jalanan kapal perang bila pulang mudik." Seorang pelajar yang mendapat tudingan giliran meneruskan: "Panjang porong itu melebihi garis tengah negeri Janggala, diselesaikan selama tiga kali tiga puluh hari." "Dilaksanakan pada tahun Saka Seribu ..." Dang Hyang Lohgawe mendeham. Ia memindahkan perhatian kepadanya tanpa bicara. Dan ia memulai: "Ya, Bapa Mahaguru, sahaya belum pernah melihat Gresik, porong, pengedukan dan penanggulan Brantas pada bagian-bagian yang diperlukan. Semua untuk kesejahteraan kawula dan negeri, mengurangi penyakit dan bencana tahunan, meningkatkan perdagangan dan pertahanan negeri" Dang Hyang Lohgawe untuk kedua kali mendeham. "Katakan apa yang kau ketahui, bukan pendapatmu tentangnya. Ayoh."

"Ya, Bapa, apalah artinya pengetahuan tanpa pendapat?'" "Baik, aku harus percaya kau telah mengetahui semua itu, dan kemudian berpendapat. Aku harus percaya bukan sebaliknya yang terjadi. Berpendapat tanpa berpengetahuan hukuman mati bagi seorang calon brahmana. Dia takkan mungkin jadi brahmana yang bisa dipercaya." "Sahaya, Bapa." "Baik, aku anggap kau banyak tahu, lebih banyak daripada yang kau peroleh daripadaku. Kau telah dapat membaca sendiri rontal tanpa bantuanku lagi. Ingin aku mengetahui sampai di mana dan seberapa pengetahuanmu." ia terdiam, menutup matanya seperti hendak memulai samadhi. Ia membuka mata dan mengangguk tenang, "Baik, apa pendapatmu tentang Sri Baginda Kretajaya?" "Bukankah ada larangan membicarakan nama Sri Baginda?" "Hanya sampai di situ pengetahuanmu?" "Bahwa kita semua, murid dan mahaguru bisa dituduh membikin persekutuan gelap dan jahat." "Apakah gunanya pendapat kalau hanya untuk diketahui sendiri?" tolak Lohgawe. "Di dekat Tunggul Ametung anjing pun takut menggonggong. Barangsiapa takut pada pendapatnya sendiri....," Lohgawe menuding pada pelajar lain. "Ya, Bapa, dia tak perlu belajar untuk tahu dan untuk punya pendapat." "Betul, ya, Bapa, tidak percuma Hyang Ganesya menghias tangan yang satu dengan parasyu[ kapak, lambang Ganesya.] dan tangan lain dengan aksa-mala[tasbih,

lambang Ganesya] ketajaman dan irama hidup. Tanpa keberanian hidup adalah tanpa irama. Hidup tanpa irama adalah samadhi tanpa pusat. Ampuni sahaya, Bapa." "Ya, sekarang katakan pendapatmu." "Pendapat sahaya, dengan tegas sekarang ini, ialah: Bapa Mahaguru Dang Hyang Lohgawe tidak suka pada Sri Baginda Kretajaya, apalagi pada akuwunya di Tumapel. Tunggul Ametung. Bapa percaya pada kami, maka juga percaya, persekutuan gelap dan jahat tiada bakal dituduhkan pada kami semua ini. Bapa Mahaguru Dang Hyang Lohgawe menimbang kami semua sebagai telah dewasa untuk bergabung dalam persekutuan para brahmana, mendudukkan kembali Hyang Mahadewa Syiwa pada cakrawartinya. Ampuni sahaya, ya, Bapa Mahaguru." Lohgawe membelalak. Lidi enau di tangannya jatuh. Ia pura-pura tidak tahu dan meneruskan: "Bapa Mahaguru Dang Hyang Lohgawe telah bersekutu dengan kami semua yang mendengarkan sahaya, suka atau tidak bersekutu melawan Akuwu Tumapel Tunggul Ametung dan Sri Baginda Kretajaya." "Tak pernah aku katakan atau nyatakan itu!" Lohgawe membantah. Dagunya terangkat menantang. "Tidak percuma Bapa Mahaguru pernah ajarkan pada kami tenung sikap tak suka kaum brahmana terhadap wangsa Isana, keturunan Sri Baginda Erlangga." "Dengarkan kata-katanya, hai, kalian," Lohgawe berpaling pada para murid lainnya. "Tidak lain dari aku sendiri yang selalu memuji-muji Sri Baginda Erlangga sebagai raja pembangun terbesar: kali-kali ditanggul dan dikeduk untuk lalulintas dan untuk keselamatan pertanian dan kawula, pelabuhan-pelabuhan terutama Gresik dan Tuban, rumah-rumah suci, bendungan dan jalanan negeri di mana-mana: karunia prasasti dan dharma pada para pembangun... .juga di mana-mana..."

"Tak ada yang bisa bantah Sri Erlangga seorang pembangun besar. Satu yang pada waktunya akan Bapa Mahaguru katakan: hanya satu yang tidak pernah dibangunkannya kedudukan kaum brahmana. Dan yang belum lagi Bapa katakan: Sri Baginda Erlangga melecehkan ajaran, menjungkir-balikkan para dewa Hindu yang kita semua puja, hormati dan takuti, kita semua harapkan karunianya dan takuti murkanya. Diagungkannya Hyang Wisynu sebagai dewa tertinggi dewa kaum petani itu, Dewa Pemelihara itu dan karena Hyang Wisynu saja menitis pada manusia terbaik di seluruh negeri, manusia terbijaksana di jagad pramudita dan dengan demikian ia sendiri dapat nyatakan diri titisan Hyang Wisynu.Ya, Bapa Mahaguru, dengan demikian dia sendiri telah dapat mengangkat diri sebagai seorang dewa dengan segala kebesarannya, dan mengangkat nenek-moyangnya yang disukainya, raja-raja terdahulu, juga sebagai dewa dengan nama-nama Hindu." "Kau .... !" tegah Lohgawe. "Bapa Mahaguru menghormati Sri Erlangga sebagai pembangun agung bagi kemakmuran dan kesejahteraan negeri dan kawula, tapi dirugikannya kaum brahmana. Semua teman sahaya ini masih ingat kecaman Bapa atas diri Sri Erlangga sebagai pen-dangkal ajaran. Bukankah atas perintahnya, Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha dalam Jawa, dan cuma saduran dari Aranyapar-wa atau parwa ketiga dari Mahabharata? Dan karena parwa itu mirip dengan riwayat Sri Baginda sendiri? Bukankah dengan demikian baginda telah mendangkalkan kitab agung itu? Bahkan baginda tidak menyerahkan tugas itu pada pertimbangan kaum brahmana yang lebih berhak! Masih ingatkah Bapa Mahaguru pada ucapan sendiri: 'Hendak menandingi Sansakerta? itu bahasa Jawa bahasa paria: Kemuliaan Mahabharata hilang, kedangkalan menggantikan?'" Lohgawe dan teman-teman sepengajarannya tenggelam dalam pidatonya.

"Tidak, Bapa Mahaguru, orang tak patut melupakannya. Juga sahaya tidak patut membisukan suatu hal: para brahmana siapa saja yang pernah sahaya temui, hanya mengecam-ngecam, menyumpah dan mengutuk. Tak seorang pun pernah berniat menghadap Sri Baginda Kretajaya untuk mempersembahkan pendapatnya. Kaum brahmana itu sendiri yang sebenarnya tak punya keberanian, mereka ketakutan dan justru ketakutan sebelum berbuat, ketakutan untuk berbuat itu yang menyebabkan para brahmana telah kehilangan kedudukannya selama dua ratus tahun ini. Apa sebabnya ketakutan. Bapak Mahaguru? Bukankah itu juga pendapat sendiri? Dan apalah artinya mengetahui, berpendapat, kemudian takut padanya? Lihatlah, ini murid Bapa sudah bicara." Lohgawe menunduk dengan mata tertutup menikmati kefasihan muridnya dan buah daripada pelajaran yang diberikannya. Kata-kata itu turun naik, sarat dan kosong, melesit tinggi dan jauh menukik. "Pada waktu Sang Hyang Mahadewa Bathara Guru memercikkan pengertian pada manusia, pada waktu itu hidup manusia dihidupinya.Ya, Bapa Mahaguru, maka pengertian adalah hidup, hidup adalah dihidupi dan menghidupi." "Cukup," Dang Hyang Lohgawe membuka matanya. "Kau masih sangat, sangat muda. Hatimu berani dan mulutmu lebih berani lagi. Apakah kau, sebagai akibat dari pengetahuan dan pendapatmu sanggup bicara seperti itu juga di hadapan Sri Baginda?" "Dia yang terlalu tinggi di atas singgasana tidak pernah melihat telapak kakinya. Dia tak pernah ingat, pada tubuhnya ada bagian yang bernama telapak kaki. Pendengarannya tidak untuk menangkap suara dewa, juga tidak suara segala yang di bawah telapak kaki. ia hanya dengarkan diri sendiri. Suara murid Bapa ini takkan sampai kepadanya. Untuknya yang paling tepat hanya dijolok."

"Dijolok?" Lohgawe tercengang. "Dan akan berdamai dia dengan telapak kakinya sendiri." Mahaguru itu lambat-lambat berdiri, berjalan hati-hati meng-hampiri muridnya yang masih juga duduk di tempatnya, masih terus menghamburkan kata-katanya. Ia letakkan tangan pada bahu pemuda itu. menutup mulutnya dengan telapak tangan, berkata pelan: "Jangan, jangan teruskan sekarang. Ada waktunya kau ucapkan semua itu di suatu tempat yang lebih baik. Yang kudengar bukan lagi keluar dari mulut seorang calon brahmana. Itu lebih patut diucapkan oleh seorang calon raja, di medan perang, di medan tikai, kemudian di atas singgasana." Semua diam seakan takut bergerak. Damar itu menyala dengan api tak henti menari-nari terkena puputan angin yang menerobosi dinding bambu. "Medan perang, medan tikai dan singgasana," Lohgawe meneruskan. "Tidak sia-sia kuberikan ilmu padamu. Kaulah harapan bagi semua brahmana." Ia buka tangan dari mulut muridnya, melepas destar pemuda itu, mencium ubun-ubunnya. "Dengan api Hyang Bathara Guru dalam dadamu, dengan ketajaman para-syu Hyang Ganesya, dengan keperkasaan Hyang Durga Mahisa-suramardini, kaulah Arok[pembangun.], kaulah pembangun ajaran, pembangun negeri sekaligus. Dengarkan kalian semua, sejak detik ini, dalam kesaksian Hyang Bathara Guru, yang berpadu dalam Brahma, Syiwa dan Wisynu dengan semua syaktinya, aku turunkan pada anak ini nama yang akan membawanya pada kenyataan sebagai bagian dari cakrawarti. Kenyataan itu kini masih membara dalam dirimu. Arok namamu." Semua murid mengangkat sembah.

Malam itu acara ditutup dengan samadhi. Dang Hyang Lohgawe meninggalkan tempat belajar, memasuki malam. Semua murid kini mengepung Arok. Sejenak ia masih belum bisa bicara. Kemudian keluar bisikannya: "Salah seorang di antara kalian berangkat besok pagi-pagi benar ke Kapundungan. Dalam beberapa hari ini Bapa Mahaguru akan masih memerlukan aku. Tak dapat aku pergi meninggalkannya. Sampaikan pada mereka untuk tetap bekerja selama aku tidak ada. Dan hati-hati. Nah, tidurlah!" Ia tinggal seorang diri. Diambilnya bungkusan rontal hadiah dan Lohgawe. Dibukanya bungkus dari kain hitam itu. Tetap ia belum punya selera untuk membacanya. Ia masih juga tak dapat merumuskan perasaan apa sedang menggelombang dalam dadanya. Nama yang diberikan padanya adalah tanda lulus setinggi-tingginya. Untuk mendapat pengakuan dari Dewan untuk menjadi seorang brahmana, ia tinggal meminta pada Lohgawe untuk dihadapkan. Apa kemudian setelah jadi brahmana? Ia terlalu muda untuk itu. Apa yang bisa dicapai seorang brahmana? Akan seperti yang lain-lain, hanya mengecam-ngecam Erlangga sampai Kretajaya dan tidak bisa berbuat apa-apa? Saat lulus yang tak diduga-duga itu seakan membikinnya kehilangan mata arah. Ia angkat rontal itu, tetapi matanya menolak membacanya. Dan masih terdengardengar bisikan pelahan gurunya:

"Sejak ini kau boleh pergi dan datang, boleh meninggalkan aku untuk sementara atau selama-lamanya. Hanya pintaku, tinggallah kau dalam beberapa hari ini bersama denganku." Boleh jadi ia masih hendak mendengarkan pendapatku tentang rontal ini. Dan dengan demikian ia mulai membaca. Tulisan setumpuk itu adalah catatan Tantripala, gurunya yang pertama, tentang dirinya. Isi catatan itu lebih kurang sebagai berikut: Pada suatu sore yang suram dengan gerimis tipis datang ke perguruan Tantripala dua orang bocah, Temu dan Tanca. Guru itu bertanya: "Siapa yang menyuruh kalian belajar kemari'" "Bapa Bango Samparan."[Bango, bangau] Siapa tidak mengenal nama Bango Samparan? Seorang penjudi yang lebih sering ditemukan di tempat perjudian daripada di rumah? Seorang penjudi yang mengirimkan bocah-bocah untuk belajar! Dari pengelihatan sekilas ia segera tertarik pada Temu. Ia seorang yang lincah, cerdas, matanya jernih memancar, hanya tak bisa tenang. Temannya, Tanca, sebaliknya, seorang yang tenang, juga cerdas, hanya tidak lincah, lebih tepat dapat dikatakan lamban. Dalam tiga bulan dua-duanya telah bisa baca tulis dan mulai mempelajari paramasastra Jawa.

Kecerdasan mereka menyebabkan Tantripala ingin tahu tentang orangtua mereka. Bango Samparan dipanggil. Tanca adalah anak petani biasa, yang turun-temurun tinggal di desa Karang-ksetra. Hanya Temu yang tidak jelas siapa orangtuanya.[Dalam beberapa cerita disebutkan orangtuanya bernama Ken Endog. Endog, berarti telor, artinya orangtuanya tidak jelas.] Setahun kemudian Temu meninggalkan Tanca dalam pelajaran, karena Tantripala menganggapnya telah cukup kuat untuk mempelajari Sansakerta. Ternyata anak itu mempunyai semangat tinggi dalam belajar. Ingatan dan kecerdasannya melebihi daripada yang diduganya. Sekali lagi ia panggil Bango Samparan, bagaimana cerita sesungguhnya tentang asal anak itu. Bango Samparan mengulangi ceritanya yang dulu. "Bagaimana anak ini sampai menjadi anak-pungutmu?" Sampai pada bagian itu Arok tersenyum. Ia singkirkan ronta! itu dan melengkapinya dengan ingatannya sendiri .... Dengan serombongan anak-anak desa Randualas mereka melintangi jalanan dengan batang-batang pisang. Sebuah kereta Tumapel dalam pengawalan prajurit berkuda terhenti di depan batang-batang lintangan itu. Rombongan itu ragu-ragu untuk menyerang, walau mereka tahu, kereta tertutup dengan pengawalan demikian selalu membawa upeti emas dan perak ke Kediri. Keragu-raguan mengakibatkan penyerangan itu gagal. Anak-anak itu terpaksa buyar melarikan diri, melalui jalan-jalan yang tak dapat ditempuh oleh kuda.

Juga Temu melarikan diri, ke jurusan barat. Ia mempunyai susunan otot kuat, dan paru-paru lebih kuat lagi. Ia masih dapat membayangkan dengan jelas saat itu. Ia lari memasuki desa Karangksetra. Napasnya sudah hampir putus waktu ia tiba di sebuah ladang. Lima orang bapak-beranak dilihatnya sedang mencangkul. Di belakangnya suara prajuritprajurit itu ramai bersorak menyuruh penduduk membantu menangkapnya. Memasuki desa ini ia pasti tertangkap bila mereka dibantu beramai-ramai. Ia melihat sebatang pacul yang berdiri tak dipergunakan. Cepat ia ambil dan mulai ikut mencangkul. Suara sorak para prajurit itu semakin mendekat. Bapak dan empat orang anaknya memperhatikannya, mengerti apa yang sedang terjadi, danmeneruskan pekerjaan mereka seakan tiada terjadi sesuatu pun. "Ya, kerja saja tenang-tenang," kata bapak itu. ia mencangkul dengan irama ayunan seperti yang lain-lain. Para prajurit pengejar itu memasuki ladang dan memeriksa mereka berenam, bertanya pada bapak itu: "Siapa saja semua ini?" "Anakku semua," jawabnya, kemudian menuding ke jurusan rumah, "dan itu rumahku." Para prajurit pengejar itu meneruskan pemburuannya dan tak kembali lagi. Tak lama kemudian datang seorang anak memikul air. "Kalau dia tidak aku suruh pergi mengambil air," kata bapak itu,"tak mungkin kau ikut mencangkul. Semestinya di sini juga kau tadi tertangkap." "Terimakasih, Bapak." Sejak itu ia diambil anak pungut oleh Ki Bango Samparan Ia mulai membaca lagi. Keterangan ayah pungutnya terasa agak berbeda daripada yang dialaminya sendiri. Dalam catatan Tantripala itu tidak didapatkan keterangan setelah anak yang disuruh mengambil air itu mengajak berkenalan. Ia ingat betul kata-kata Ki Bango Sampar-an waktu itu: "Prajurit-prajurit itu! Kerjanya hanya memburu-buru kita, mengancam kita yang terlambat menyerahkan upeti. Mengapa kau dikejar mereka?" Ia menceritakan duduk perkaranya. "Betul, emas dan perak dalam kereta itu kita semua yang punya. Tidak ada salahnya kalau kita mengambilnya kembali. Hanya tidak patut kalau dimakan sendiri. Perbuatan itu akan menjadi sama dengan perbuatan mereka." Ia angkat matanya dan menatap wajah Ki Bango Samparan. ia senang mendengar seorang tua yang membenarkan tindakannya. Selama ini prajurit-prajurit Tumapel mengejarnya, orang-orang lain mengecam, anak-anak lain menjauhi, menganggap diri dan teman-temannya sebagai: brandalan. Orang tua yang seorang ini membenarkan! Tentu punya alasan. Hampir-hampir ia bertanya kalau bukan Ki Bango Samparan mendahului dengan seruannya: "Jagad Pramudita! Mata apakah yang sedang memandang padaku sekarang ini?" Ki Bango Samparan mendekatinya dan memperhatikan matanya. Kemudian: "Ini bukan mata sembarang mata!"

Disuruhnya semua anaknya meneruskan pekerjaan dan ia dibawanya pulang. "Tentunya kau lapar setelah lari-lari sejauh itu." Istri Ki Bango Samparan. yang kemudian jadi ibu pungutnya menjamunya. Ia makan dengan lahap, dan dua orang itu memperhatikan dengan gembira. Setelah itu terjadi tanyajawab: "Siapa namamu?" "Orang memanggil sahaya si Temu.'" "Mengapa orang memanggilmu si Temu? Bagaimana orang-tuamu memanggil?" "Tidak pernah." "Tidak pernah?" "Tak ada yang tahu siapa orangtua sahaya. Sahaya sendiri pun tidak tahu." "Jagad Pramudita! Anak secakap ini, dengan mata bersinar seperti ini. Jagad Pramudita! Para dewa telah mengirimkan anak ini kepada kita, Nyi," katanya pada istrinya. "Siapa tahu dia putra tunggal Hyang Brahma sendiri?" Ia masih ingat Ki Bango Samparan berdiri di hadapannya dan mengaguminya.

Pada waktu itu muncul seorang gadis kecil. Dan istri Bango Samparan mengatakan padanya: "Nah, ini kau mendapat abang baru. Temu namanya. Nah, Temu, ini saudaramu yang bungsu, si Umang." Memang semua itu tidak ditulis oleh Tantripala, ia tidak mengetahui. Mungkin juga dianggapnya tidak penting. Dalam rontal itu disebutkan bekas gurunya telah bertahun-tahun mencari keterangan siapa sesungguhnya dirinya, dan tidak pernah berhasil. Ia sendiri pernah ditanyai langsung, dan ia tidak memberikan sesuatu padanya. Biarlah orang hanya tahu sampai pada anak-pungut Ki Bango Samparan. Tulisan Tantripala itu tiba-tiba menimbulkan perasaan teri-makasih yang mendalam pada orangtua pungut itu. Dan ia berjanji pada suatu kali akan membalas semua kebaikannya. Juga pada semua saudara pungutnya, juga pada Umang si gadis kecil yang suka melebihkan jatah makannya. Ia tersenyum. Barangkali anak itu kini sudah mulai dewasa. Umang! Begitu sakitsakitan ia dulu semasa kecil. Dan ia ingat betul hari pertama ia tinggal di rumah keluarga itu. Umang masih menungguinya waktu Bango Samparan datang padanya dan berkata: "Semoga kau memang putra tunggal Hyang Brahma. Sini, biar beruntung aku hari ini," dan diciumnya ubun-ubunnya. Keesokan harinya Ki Bango datang di tempat kerjanya di ladang, langsung memeluknya dan mencium ubun-ubunnya, berseru:

"Brahmaputra, ya, Brahmaputra!" ia sorongkan pada genggamannya lima buah mata uang perak dari masing-masing satu catak, kemudian berjalan bergegas pulang. Dari saudara-saudara pungutnya ia mengerti, Ki Bango Samparan adalah seorang pemain dadu. Apa artinya lima catak untuknya? Ia bisa memegang dan memiliki ratusan kali jumlah itu. Yang lima catak itu ia bagikan pada saudara-saudaranya. Dan mereka menerimanya tidak dengan wajah gembira. Bahkan yang tertua dengan nada protes bersungut: "Apa sebabnya catak ini datang ke tangan kami melalui tanganmu?" Pada waktu itu juga ia mengerti mereka cemburu pada kasih bapak mereka kepada dirinya, seorang pendatang yang tak menentu asalnya. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan melakukannya lagi. Bertahun-tahun ia tinggal pada keluarga itu. Setiap hari ia bekerja bersama saudara-saudaranya. Bila Ki Bango Samparan pergi, ia pun pergi, mengumpulkan teman-temannya di desa Karangksetra. Kembali ia memimpin mereka melakukan gangguan di pusat-pusat pengumpulan dana negeri Tumapel, mempersenjatai barisannya, dan membangunkan dana sendiri, dengan Tanca sebagai pengurusnya. Bertahun-tahun? Berapa tahun? Tidak lebih dari tiga. Dan cemburu saudara-saudara meningkat jadi tiga kali. Ki Bango Samparan semakin sayang padanya, hampir tak lagi turun ke sawah atau ladang, menjadi bandar dadu, dan selalu membawa pulang kemenangan.

Semakin banyak yang diterimanya, dan dengan sembunyi-sembunyi diberikannya pada Umang. "Biar aku simpankan untuk Kakang," sambutnya selalu. "Buat apa aku? Untuk kau sendiri." Dengan diam-diam Umang menyimpannya untuk dirinya. Dan ia semakin terpikat pada budi bahasanya yang manis tanpa pamrih. Sayang dia tidak rupawan, sering ia menyesali Umang. Cemburu saudara-saudaranya kemudian pecah menjadi kebencian waktu mereka menemukan simpanan Umang dan mulai memeriksanya. Dengan menangis gadis itu mengadu pada Nyi Bango Samparan, mengakui itu milik Temu yang disimpankannya. Sekarang giliran datang padanya diperiksa mereka, dari mana catak sebanyak itu. "Kami tahu, kau datang kemari hanya badan berlapis selembar cawat. Kau curi dari mana harta sebanyak ini?" "Jangan katakan aku mencuri." "Banyak orang menduga kau pencuri. Banyak pencurian terjadi. Biarpun tidak tertangkap, kami tahu kau sering pergi malam." "Sayang kalian saudara-saudaraku ..."

"Apa yang disayangkan? Kami tak pernah menyayangi pencuri. Tak pernah kami ceritakan pada siapa pun kau pernah merampok kereta upeti. Tak perlu kau sayangi kami. Sekiranya kami tidak mengingat bapak kami, prajurit Tumapel akan datang membekuk kau. Sudah sejak pertama kali kau datang!" Ki Bango Samparan yang pulang dari dadu menengahi: "Ada apa ini ramai-ramai?" Anak-anaknya mengadu. Ki Bango Samparan yang menyedari, ia lebih mengasihi Temu, tak dapat mengatakan semua itu berasal dari hadiahnya. Dan Temu dapat mengerti sepenuhnya. Melihat ketenangan, pembisuan hanya pandang mata tertuju padanya, dan suara sayup dari sedan Umang, ia mengangkat sembah pada ayah angkatnya dan bermohon diri untuk pergi meninggalkan mereka "Kau hendak ke mana, Temu?" tanya Nyi Bango Samparan. "Ya, Mak, anakmu ini datang kemari tanpa asal. Apalah salah pergi juga ke mana saja tanpa tujuan?" Ki Bango Samparan tak mampu bicara. Umang menjerit dan menghampirinya: "Kalau Kakang pergi, bawalah sahaya."

"Kau masih kecil, Umang," tegah ibunya. "Dengarkan, Umang, jangan ikuti aku. Kau masih kecil. Simpanan itu adalah milikmu, Umang. Tak ada yang berhak selain kau. Barang-barang itu bukan dari curian, tapi dari pemberian seorang yang mengasihi Kakang." Ia menyembah Ki Bango dan istrinya, kemudian meninggalkan rumah itu sebagaimana tiga tahun yang lalu ia datang. "Temu, jangan pergi dulu!" Ia berbalik dan menghampiri ayah pungutnya. Dengan sopan ia berdiri mengapurancang. "Barangkali para dewa telah menentukan kau harus pergi dari sini. Kau seorang anak yang cerdas, lincah, pandai dan ingatanmu sempurna. Biar aku tuliskan surat." Ia menulis sampai tiga lembar rontal. "Pergilah kau pada Bapa Tantripala di desa Kapun-dungan. Belajarlah kau baik-baik di sana. Kau seorang tani. Itu kau jangan lupa. Biar kau sudah dibenarkan Bapa Tantripala untuk meninggalkan rumahnya, kau harus selalu ingat: kau seorang tani." Untuk terakhir kali ia dibuka destarnya dan dicium ubun-ubunnya. Belum lagi jauh Umang telah terlepas dari pegangan dan memburunya. Ia berhenti untuk menyambutnya. "Umang!"

Ia merangkulnya, dan terus menangis, minta dibawa ikut. "Umang, mari aku antarkan pulang. Pada suatu kali aku akan kembali mendapatkan kau. Percayalah." "Aku ikut." "Kakang bilang: tidak. Apakah Kakang pernah berbohong padamu? Mari pulang, dan jangan pikirkan aku Pada suatu kali aku akan datang." "Aku ikut" "Kalau kau tak mau dengarkan, tidak ada gunanya aku datang lagi nanti. Kau dengarkan atau tidak?" ia mengangguk dan masih menangis. Temu menggandeng membawanya pulang, menyerahkannya pada orangtuanya, kemudian ia pergi, diiringkan oleh tangis pilu gadis Umang .... Anak itu mungkin sudah besar dan sudah melupakan aku, pikirnya. Ia pandangi kelilingnya, berdiri, meniup mati damar, dan menyusul teman-temannya di pondok. Ia lihat mereka telah tidur nyenyak dengan nafas bersahut-sahutan. Ia letakkan rontal hadiah itu di atas bantal, kemudian merebahkan diri juga. Sebagai terimakasih batin pada Dang Hyang Lohgawe sisa dari malam ini hendak dipergunakannya untuk mengenangkan kembali masa silamnya. Tantripala tidak mungkin dapat melengkapinya. Hanya dirinya sendiri yang mungkin, dan dengan demikian memperbaiki yang kurang patut dan meningkatkan apa yang dianggapnya telah tepat. Ia tampilkan kembali Umang pada mata batinnya. Mengapa anak itu lebih mengasihinya daripada saudara-saudaranya sendiri? Mengapa dia selalu

melakukan segala yang bisa mendatangkan kesenangannya? Adakah secara naluriah dia telah mencintainya sejak semula? Ia tidak pernah mengenal cinta. Pada teman-temannya ia mendapat kesetiaan. Dari orang-orang yang lebih tua tidak pernah. Ki Bango Samparan dan istri mengasihinya. Tetapi Umang! Kasih atau cintakah yang ditaburkannya pada dirinya? Ia berjanji pada suatu kali untuk menemuinya dan mempertimbangkan sekali lagi bagaimana seharusnya ia berlaku terhadap dia. Kemudian Tanca ditampilkannya pada mata batinnya. Setelah meninggalkan rumah Bango Samparan ia pergi ke sawah. Didapatinya Tanca sedang mempersiapkan sawah ayahnya menjelang penghujan itu: "Tanca, aku akan tinggalkan Karangksetra ini." "Aku ikut denganmu." "Kau harus membantu keluargamu." "Terserah padamu bagaimana aku harus membantu, tetapi aku ikut denganmu. Ke mana kau hendak pergi?" "Bapa Bango Samparan menyuruh aku belajar, pada Bapa Tantripala di Kapundungan."

"Kalau begitu aku ikut denganmu." "Kau punya orangtua, mintalah restunya." Ia naik ke pematang, mengangkat pacul dan berangkat pulang. "Kau mau ke mana sekarang?" tanyanya melihat Temu tidak menemaninya pulang. "Menemui teman-teman. Aku susul kau nanti." Siang itu teman-temannya di Karangksetra mengepungnya. Dan ia memberikan nasihat agar tetap berseia-sekata seperti semula. Ia akan berikan petunjuk dari Kapundungan, dan dimintanya semua saja membantu ayah Tanca, karena Tanca akan dibawanya pergi belajar. Di rumah Tanca ia dapatkan temannya telah siap dengan bawaannya. Orangtuanya sangat gembira anaknya punya keinginan hendak belajar pada guru Tantripala. Ia senang melihat temannya dilepas dengan rela dan restu. Di tengah perjalanan ke desa Kapundungan Tanca memperlihatkan dua catak perak pesangon dari orangtuanya. Ia sendiri mendapat pesangon rontal. Kemudian dibicarakan harta benda milik bersama yang disimpan dalam sebuah gua di hutan. "Barang-barang itu takkan mungkin pindah tempat. Kecuali bila ada yang berkhianat."

Kemudian mereka terdiam, membayang-bayangkan pengalaman belajar yang bakal datang. "Ki Bango Samparan benar, dia kirimkan aku pada Bapa Tantripala." "Aku pun benar, mengikuti kau belajar" "Ya, kita harus belajar, Tanca. Kalau tidak, kita akan begini-begini saja." "Kita harus bisa tandingi mereka." "Bukan, kalahkan." "Kalahkan? Bisakah kita kalahkan mereka?" "Bukankah kita sudah sering mengalahkan mereka?" "Mereka tak pernah kalah, hanya kehilangan." "Kita pun tak pernah kalah, tapi mendapat." "Tapi kita belum pernah kalahkan mereka." "Kita sering kalahkan mereka. Hanya mereka terlalu banyak dan kita terlalu sedikit. Kekuatan mereka tak habis-habisnya, dan kita terbatas. Maka kita akan belajar, Tanca. Kemudian kita akan tahu lebih banyak, mengalahkan lebih gemilang." "Kalau kau menang, kau akan jadi raja, Temu?" "Kau akan jadi patihku." "Selama ini aku telah jadi patihmu." Temu tertawa terbahak. Juga Tanca. Kemudian: "Hanya kecilkecilan, Tanca." "Jadi kita belajar untuk bisa besar-besaran?" Sekali lagi Temu terbahak tawa, kemudian lari mendahului. Dan Tanca lari mengikuti, seperti tumitnya sendiri .... Ia menengok untuk melihat Tanca. Dari sinar pelita itu ia lihat pemuda itu tidur dengan mulut dan tapuk mata setengah terbuka. Betapa jelek kau kalau tidur seperti itu. Ia tutupkan selembar kain pada mulutnya. Nah, begitu kau kelihatan lebih patut. Ia bisikkan pada telinganya: "Patih Tanca. aku perintahkan padamu untuk bertemu dengan Ki Bango Samparan, dan persembahkan padaku bagaimana keadaannya, dan Nyi Bango, dan Umang."

Ia tersenyum-senyum kembali ke ambinnya. Kemudian meneruskan tinjauannya pada masa lalunya: Sejak bertemu pertama kali ia tahu Bapa Tantnpala jatuh kasih padanya. Mata itu! ia sering dengar guru itu menyebut. Juga Bango Samparan kasih padanya sejak pandang pertama karena matanya. Untuk pertama kali pula dalam hidupnya di Kapun-dungan ia melihat wajahnya pada cermin perak, didapatnya dari penyerbuan pada seorang saudagar yang sedang meninjau keluarganya di desa itu. Orang itu datang dari Tuban, pergi ke Gresik, memudiki Brantas melalui Porong Erlangga. Ia perhatikan matanya, dan ia lihat memang berbeda dari yang lain-lain. Telengnya besar dan bersinar-sinar. Dalam perguruan ini ia tinggalkan semua temannya. Tantripala tak mengerti apa harus diajarkannya lagi padanya. Pada suatu kali untuk menyatakan kasihnya, guru itu membawanya masuk ke hutan. Di sana secara rahasia ia ajar tentang atman dan brahman, bagaimana mencapai keadaan nirwikana[keadaan bersatu antara brahman dan atman, jagad pra-mudita dan diri, makrokosmos dengan mikrokosmos; pantheisme], bagaimana menjalankan yoga tantri untuk mendapatkan siddhi[kesaktian.], diawali dengan sumpah untuk tidak akan menyampaikan pada siapa pun, dan keterangan: "Aku adalah tantri memang berasal dari yogin Samyanatera barang dua ratus tahun yang lalu. Kaum brahmana dari aliran lama di Jawa pada umumnya menentang Buddha termasuk yoga dan tantri, aku menganggapnya sebagai ilmu yang bisa dipelajari dan dipergunakan. Tetapi aku tak mau bertikai dengan para brahmana lain, maka tak perlu diketahui mereka. Tetapi untukmu, kau, pemuda penuh harapan, boleh jadi kau membutuhkan untuk pesangon hidupmu. Kau lebih tepat merebut tempat dalam kasta satria. Erlangga pernah menjatuhkan titah: triwangsa bukan hanya ditentukan oleh para dewa, juga manusia bisa melakukan perpindahan kasta karena dharmanya, sudra bisa jadi satria, sudra bisa jadi brahmana. Sejak itu triwangsa sudah tidak murni lagi. Aku sendiri seorang brahmana bukan karena keturunan, tapi karena ilmuku. Dan kau, Temu, kau bisa jadi satria karena kemampuanmu. Tingkah lakumu bukan lazim pada seorang sudra, tapi satria.

Matamu bukan mata satria, tapi brahmana. Kau patut mendapat kelengkapan secukupnya." Hari pertama itu ia diajar melakukan darana[konsentrasi.] dengan pandang matanya, sampai pada pratyahara[bebas dan pengaruh luar diri sendiri.] berlatih sekaligus pranayama[pengaturan nafas.] untuk mencapai ekagrata[tinggal satu titik yang diperhatikan yang nampak.] pandang, seperti dalam cerita sewaktu Arjuna membidik dengan anak panahnya. Di luar dugaan Tantripala, hanya dalam tiga kali latihan Temu telah berhasil. "Temu," serunya, "dengan kemampuan seperti ini, pandangmu akan menguasai manusia dan benda." Dan dimulailah ia mengajarkan memasukkan cipta dan karsa dalam ekagrata. ia menyedari betapa dengan latihannya itu benda-benda bergerak atas cipta dan berubah bentuk menurut karsanya.[kehendak, keinginan, yang diinginkan.] Tantripala terpakukan pada tanah melihat itu. Tiga tahun ia baru berhasil melaksanakan. Muridnya ini hanya dalam seminggu. Ia peluk muridnya, menyebut: "Jagad Dewa!, pimpinlah anak ini. Dia akan mencapai segala yang diimpikannya. Dia akan menjadi mahasiddha[orang yang memiliki siddhi, orang sakti.]. Hanya Engkaulah yang bisa memberi petunjuk. Kalau kau biarkan dia tumbuh tanpa petunjukMu, dia akan jadi penjahat yang memunahkan kemanusiaan." Tantripala tak berani memimpinnya lebih lanjut untuk menjadi mahasiddha. Tanggungjawabnya sebagai guru terlalu berat. Ia kirimkan Temu pada Dang Hyang Lohgawe.

Dan Lohgawe tidak memimpinnya menjadi mahasiddha. Ia membawanya ke jalan ke arah brahmana .... Sebelum menyuruhnya pergi sekali lagi ia dibawa ke hutan, mengajar, mewejang dan berpesan: "Dahulu kala sebelum ada Erlangga, sebelum ada Sri Dhar-mawangsa," ia mulai bicara tentang sejarah sebagai kesukaan kaum brahmana pada umumnya, "pada awal abad tujuh Saka, karena tak kuat menahan serangan Sriwijaya, Sailendra melarikan diri ke Jawa dan melindungkan diri pada Sri Baginda Sun-naha dari Mataram. Sailendra pelarian itu mendapat dari Sri Baginda Sunnaha kekuasaan atas bumi bagian timur Mataram. Sunnaha digantikan oleh Sanjaya, dan Sanjaya oleh Pancapana Rakai Parangkaran. Pada waktu itu Mataram telah dikuasai oleh Sailendra. Pancapana Rakai Panangkaran sekarang menjadi taklukan, dan oleh Sri Baginda Indra dari wangsa Sailendra, yang beragama Buddha itu, diperintahkan membangun candi-candi Buddha. Di antara yang dibangunkannya adalah candi Kalasan untuk memuliakan Hyang Dewi Tara. "Tentu kau tidak kenal siapa Hyang Dewi Tara. Kau tidak mengenal agama Buddha, Mahayana, Tantrayana dan Yoga. Dia adalah Dewi Kesaktian penganut Buddha dari Tantrayana dan Yoga. Setiap delapan tahun sekali semua dari setiap yogin dan yogini, para mahasiddha, datang dari segala penjuru, darat dan pulau, untuk memuliakan. Dewi Tara adalah lambang juga bagi kemenangan Buddha atas Syiwa Mataram. Mereka menang dengan pertolongan para mahasiddha. "Aku tidak membenci pengikut Buddha, apalagi ajarannya, bahkan yoganya, tantrinya, aku pelajari. Karena itu, sebelum kau pindah belajar, aku berpesan dua hal padamu: pertama, pada suatu kali dalam hidupmu, bila kau menjadi yogin atau

mahasiddha, berkunjunglah ke Kalasan untuk memuliakan Dewi Tara. Kedua, pelajari betul Yama.[Yama, larangan; didewakan jadi Yama(dipati) dewa pencabut nyawa (mereka yang melanggar Hyang Yama).] Dang Hyang Lohgawe akan membantumu." Sudah lama ia menyangsikan, kini kata-kata penutup itu meyakinkannya: Tantripala adalah seorang Buddha yang tak memperlihatkan kebuddhaannya. Ucapan itu juga menjelaskan padanya ia sudah melewati pendidikan cantrik, mangayu. jejang-gan, uluguntung. Kini ia sudah sampai pada ringkat cikil, tingkat kelima dalam tata pendidikan. Di atasnya masih ada tiga tingkat lagi: wasi, resi dan bagawan. Meneruskan belajar pada Dang Hyang Lohgawe berani ia akan mencapai tingkat wasi. Juga Dang Hyang Lohgawe sudah pada hari pertama terpesona oleh matanya. Dan semua pertanyaan Mahaguru tentang dirinya ia jawab, kecuali dua hal, yoga dari Tantripala dan masa kecilnya. Boleh jadi Mahaguru yang tinggi peradabannya itu akan mengusirnya bila mengetahuinya. Sampai di situ Arok menyimpulkan: tidak semua kebenaran dan kenyataan perlu dikatakan pada seseorang atau pada siapa pun. Pengusiran seorang guru tidak akan memberinya sesuatu kebaikan. Bahwa haus ilmu dirasakannya seirama dengan haus keadilan, kasih dan sayang. Dan betapa ia haus akan kasih sayang itu! Sebagai pelajar ia ikut menggarap ladang dan sawah untuk penghidupannya. Di waktu senggang ia pimpin teman-temannya yang dulu di Karangksetra, Kapundungan dan juga sekarang di Pangkur. Bila mendapat kesempatan menyendiri ia teruskan melatih ilmu dari Tantripala. Ia tahu, dengan ilmu itu ia dapat menguasai siapa saja, bukan sekedar mempengaruhi. Tetapi waktu diketahuinya latihan-latihan merugikan

kecerdasannya, ia terpaksa menghentikannya. Tantripala pernah mengajarkan: karunia terbesar yang paling diinginkan manusia dari para dewa ialah kekuatan menguasai dan mempengaruhi sesamanya; dengan karunia itu orang akan mendapat segala dalam hidupnya. Untuk menjaga agar para dewa tidak mencabut kembali kekuatan itu, manusia harus sujud pada Hyang Yama. Tantripala kurang betul, ia yakinkan dirinya untuk ke sekian kali. Kekuatan yang dimaksudkan itu masih rapuh kalau yang memiliki tidak berpengetahuan seperti Tunggul Ametung. Dan tak ada daya yang dapat memaksa seseorang untuk bersujud kepada Yama kalau dia telah begitu besar dayanya, mungkin Yama-lah yang kemudian ditaklukkannya. Kesimpulannya sudah tak dapat diubahnya lagi: ia akan tetap belajar untuk tidak terlalu banyak melakukan kekeliruan, baik terhadap para dewa maupun manusia. Dan ia terus belajar pada Dang Hyang Lohgawe. Gurunya bukan seorang mahasiddha, seorang yang menolak segala yang bersifat Buddha, ia mempertimbangkan segala berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang dikuasainya. Mahaguru itu juga menaruh kasih padanya karena kecerdasannya. Arok mendapat kebebasan penuh daripadanya. Kebebasan itu ia pergunakan terus untuk memimpin para pemuda menyerbui mana saja dan apa saja yang menguntungkan Tunggul Ametung dan teman-temannya. Tumapel tidak pernah tenang. Satu hal yang ia belum dapat menemukan adalah: sumber emas Sang Akuwu. Dari pengalaman-pengalamannya ia mengetahui, semua pejabat Tumapel menaruh takut bukan hanya hormat pada lambang-lambang para dewa. "Itu berasal dari kejahatannya yang terlalu banyak terhadap sesama manusia," ia memutuskan.

Dan pengetahuannya itu akan dipergunakannya untuk menaklukkan para pejabat itu sendiri. Sampai di situ ia masih tetap berpendapat: semua yang dilakukannya selama ini tidak menyalahi Hyang Yama. Buktinya semua temannya setia padanya. Tak ada seorang pun yang pernah berkhianat. Bahkan dari hasil rampasan-rampasan itu, sebuah di antaranya pernah dipersembahkan untuk dirinya pribadi: sebuah mata uang emas yang indah dengan gambar wajah seorang yang indah pula sampai leher, dengan tulisan aneh yang ia tak pernah dapat baca. ia berpaling pada Tanca yang masih juga nyenyak dalam tidurnya. Banyak petualangan telah mengikatkan dirinya pada teman yang seorang itu. Dan ia percaya dan sayang padanya. Ia tinggalkan Tanca dan meneruskan meneropong masalalu-nya. Sudah terlalu sering ia melakukannya, karena pekerjaan mawas diri adalah juga syarat untuk jadi seorang brahmana yang baik. Dan ia belum pernah mengubah penilaiannya selama ini. Kini untuk pertama kali ia hendak menilai masalalunya sebelum jadi anak pungut Ki Bango Samparan. Ia tampilkan Ki Lembung di hadapan mata-batinnya. Tubuhnya tinggi. Otot-ototnya nampak berserat-serat tetapi mengandung kekuatan tangguh. Ia seorang yang gesit dan bermata jeli, baik di siang maupun malam hari. Dialah juga yang mengajarinya dapat melihat dalam kegelapan: setiap pekan, pagi-pagi sehabis tidur, mencuci matanya dengan bagian tengah air kencing sendiri. Ia lakukan terus ajarannya itu sampai sekarang. Dengan matanya tak ada satu gerak pun dapat lepas dari perhatiannya.

Ki Lembung! Dialah orang pertama-tama di dunia ini yang ia kenal sebagai pengasihnya. Menurut ceritanya, dialah juga yang menemukan dirinya sebagai bayi, dibuang oleh orangtuanya di gerbang sebuah pura desa. Tengah malam: "Aku dengar tangis bayi kedinginan. Gelap waktu itu. Tapi aku dapat melihat kau. Dewa Bathara!, kau masih bayi, begitu kecil, tergolek pada selembar tikar usang. Bayi semuda itu disuruh menjaga gerbang! Siapakah yang menaruh kau di situ? Aku angkat kau, masuk dalam pelataran pertama pura, melalui padu-raksa[pintu gerbang halaman kedua pura] mengintip ke halaman kedua. Sepi-sunyi. Aku dekapkan kau pada dadaku. Tetapi kau masih juga menangis. Aku lepas destar dan kuselimutkan padamu. Halaman kedua itu kosong, juga halaman ketiga. Kau masih juga menangis. Aku batalkan maksudku dan kubawa kau pulang." Ki Lembung[Lembung, arti aksarawi adalah: pencuri. Tidak jelas apakah nama pribadi sesungguhnya atau nama ejekan.] tinggal di tengah hutan, seorang petani yang memiliki kerbau. Bayi itu diserahkan pada istrinya: "Para dewa telah mengirimkan pada kita bayi lelaki yang seorang ini. Peliharalah dia sebagai anak sendiri." Arok tidak pernah tidak merasa berterimakasih bila mengenangkan suami-istri petani di Randualas itu. Merekalah yang membesarkannya tanpa pamrih. Menginjak umur enam tahun ia sudah terbiasa bergaul dengan kerbau, memandikan dan menggembalakan, menggiringnya ke sawah dengan Ki Lembung memikul garu atau luku di belakangnya. Memasuki umur sepuluh ia mulai membantu bertani. Dan dalam perawatannya kerbau itu berbiak menjadi belasan.

Nyi Lembung seorang wanita mandul. Ia tak punya teman bermain di rumah. Tempat penggembalaan adalah medan ia bermain dengan teman-temannya. Kegesitan, kekuatan, kecerdasan dan kekukuhan menyebabkan ia hampir selalu keluar sebagai pemenang dalam permainan dan perkelahian. Dengan sendirinya sebagai murid dari pengalamannya ia meningkatkan diri di atas mereka menjadi jago dan pemimpin. Orangtua-pungutnya bangga padanya. Dan ia tak pernah mengadu tidak perlu. Ia selalu dapat mengatasi persoalannya sendiri. Sering ia serahkan penggembalaan hewannya pada teman-temannya, dan dengan beberapa orang ia mengembarai hutan dan desa-desa lain. Pengetahuannya menjadi jauh lebih banyak daripada teman-temannya. Tak ada sesuatu yang terlepas dari perhatian dan pengamatannya. Ia dapat bercerita tentang hewan, tanaman dan manusia yang pernah diketahuinya. Dan jadilah ia guru bagi teman-temannya. Dalam pengembaraannya untuk pertama kali ia melihat seorang prajurit Tumapel memasuki rumah penduduk dan merampas kambingnya. Seorang bocah menangisi binatang kesayangannya itu. Prajurit itu tidak peduli, dan binatang itu terus juga diseret masuk ke dalam hutan. Hatinya berontak melihat pemandangan itu. Dihiburnya anak itu, dan dijanjikan padanya: "Nanti aku bawakan kambing untukmu." Dicurinya seekor anak kambing dan diantarkannya kepada bocah itu. Ia mendapatkan kebahagiaan dengan perbuatan itu. Dan dengan demikian mulailah ia dan teman-temannya mencuri.

Sekali peristiwa ia melihat empat orang prajurit menyeret seorang gadis, dibawa masuk ke dalam hutan. Ia kerahkan semua temannya dan mengikuti prajuritprajurit itu, mengganggu mereka, sehingga terpaksa melepaskan korban mereka. Penduduk desa membiarkan perbuatan anak-anak itu, pura-pura tidak tahu. Mulailah ia memimpin teman-temannya dalam perbuatan-perbuatan berbahaya. Arok tersenyum senang. Ia menyimpulkan, justru karena perbuatan prajuritprajurit Tumapel sendiri ia dan teman-temannya menjadi berani dan penentang. Ia tidak pernah menyesali perbuatannya ini. Ia justru bangga. Hatinya besar, dan karena itu tubuhnya tumbuh dengan cepat dan kekuatan berlipatganda. ia memasuki medan perkelahian di desa-desa lain untuk merebut keunggulan. Ki Lembung! Seorang bapak yang berwibawa dan pengasih itu. Daripadanya ia mendapatkan cara menangkis dan menyerang, dengan tongkat, kemudian pun dengan senjata tajam. Betapa ia hormat padanya. Ki Lembung adalah juga gurunya yang pertama. Kemudian datanglah bencana itu - bencana yang berisi karunia para dewa. Sekali waktu ia pulang dari pengembaraannya langsung mendapatkan gembalaannya, tempat itu sepi. Teman-temannya lari mendapatkannya. Tak ada nampak seekor kerbau pun. "Kami semua lari, Temu. Juga binatang-binatang kita. Seekor macan telah menyeret seekor dari kepunyaanmu." "Jagad Pramudita!" serunya. Bersama dengan teman-temannya ia pergi ke tempat binatang-binatang itu dikumpulkan. Dan pulang mereka ke tempat masing-masing.

ia menggiring kerbaunya yang berpuluh-puluh itu. Ayah-pungutnya seperti biasa menunggu di depan kandang, ia menghitungnya seekor demi seekor, dan: "Kurang satu," katanya. Ki Lembung masuk ke dalam kandang dan menghitungnya sekali lagi. "Kurang satu," katanya lebih keras, ia menghitung lagi. "Kurang satu!" pekiknya. "Sini, kau hitung sendiri!" "Memang kurang satu, diterkam macan!" "Ke mana saja kau sampai kerbau diterkam macan?" Itulah untuk pertama kali Ki Lembung yang mengasihinya marah luarbiasa. Ia tahu marahnya bukan karena hilangnya kerbau, karena ia tidak setia pada tugasnya. Sekejap ia dapat melihat wajah Ki Lembung yang marah membara. Ia tak dengar lagi apa yang disemburkan padanya. Ia malu pada dirinya sendiri, berbalik dan lari. Sampai di luar Randu Alas ia baru berhenti lari, kemudian berjalan pelan-pelan menyusun pikiran. Ia timbang kembali tindakannya. Ia mengakui tidak setia pada tugasnya menggembala kerbau itu. Tapi apakah dengan demikian ia harus selalu jadi penggembala dalam kesetiaannya? Ada hal-hal lebih berharga dan lebih penting daripada kerbau. Dan dengan demikian ia memutuskan tidak akan kembali ke rumah orangtua-pungut yang mengasihi itu. Dan bermulalah kehidupan yang membusa-busa: perkelahian, penyerbuan, pencurian, perampokan, pencegatan sendiri atau dengan teman-temannya yang mengikutinya. Melukai dan dilukai, kalah dan menang. Ia keluar-masuk desa-desa

baru, bergabung dengan penjahat besar dan tanggung untuk kemudian menaklukkan dan ditaklukkan, dan meninggalkannya. Arok menilai masa petualangannya ini banyak mengandung kekeliruan dan pengawuran. Ada beberapa kejadian yang ia sesali dan lebih banyak lagi yang membikin ia bangga pada perbuatannya. Yang keliru dan mengawur itu ia takkan ulangi lagi. Yang benar ia akan kembangkan. Dan ia merasa bersalah tak pernah lagi mengunjungi Ki Lembung dan istrinya lebih enam tahun. Ia putuskan untuk sekali waktu datang ke sana, sebagai anak yang tahu membalas budi. Ia harus datang.... Ayam telah berkeruyuk untuk kedua kali. Teman-temannya sepengajaran bangun. Juga Arok bangun dari pengembaraannya pada masalalunya. Tubuhnya tetap tergeletak. "Temu, Arok," Tanca membangunkannya. "Ceritakan tentang impianmu, Tanca." "Ya, aku bermimpi kau suruh aku pulang ke Karangksetra. Aku pergi, Arok. Tahukah kau bagaimana aku impikan mereka? Lima anak lelaki Ki Bango Samparan telah meninggalkan orang-tuanya. Semua turun ke Gresik. Boleh jadi belayar. Mereka pergi karena Ki Bango jatuh miskin. Tiada suatu binggal padanya. Catak yang kau berikan pada Umang telah habis pula di medan judi. Ia sudah tak mau membayar semua hutangnya. Boleh jadi sebentar lagi akan diseret dalam perbudakan. Betapa buruk mimpi itu, Arok." "Tiada kau impikan si Umang?"

"Aku impikan dia kurus kering. Emaknya telah meninggal." "Dengar, Tanca, boleh jadi Bapa Mahaguru akan membutuhkan aku dalam beberapa hari ini. Pergilah kau ke Karangksetra. Barangkali impianmu benar. Suruh pemuda-pemuda itu lindungi Ki Bango. Tak boleh dia diseret ke dalam perbudakan. Dan jangan lupa katakan pada si Umang, aku akan datang dalam beberapa minggu atau bulan ini." Mereka berangkat ke huma. Ia tinggal seorang diri. Ia tahu masa belajarnya pada Dang Hyang Lohgawe telah selesai. Ia bukan pelajar lagi. Ia telah seorang Wasi.[Wasi, tingkat 6] Sekarang ia mulai memusatkan pikirannya untuk memasuki haridepan. Sebagai seorang yang terdidik untuk jadi pandita ia telah terlatih untuk melakukan sesuatu dengan perencanaan dan pertimbangan. Ia merasa telah mempunyai kekuatan cukup, ilmu dan pengetahuan memadai. Ia akan gulingkan Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Ia dapat kerahkan semua temannya di desa-desa sebelah barat Tumapel. Tetapi jumlah dan peralatan mereka belum mencukupi. Orang-orang yang disembunyikannya di hutan Sanggarana bukanlah prajurit, belum bisa dipergunakan. Dan bila Tunggul Ametung tidak digulingkan oleh dirinya, siapa yang berani melakukan? Dua puluh tahun, seumur hidupnya, Akuwu itu telah merajalela perampok besar yang diberi penggada oleh Sri Baginda Kretajaya. Kalau Tunggul Ametung dapat digulingkan, balatentara Kediri akan datang.

Sampai di situ ia berhenti berpikir. Ia belum tahu jalan. Ia harus mempelajari kemungkinan itu. Dan kala matahari mulai memancarkan sinarnya dari balik puncak gunung, ia bangun dan menyusul pergi ke huma. Didapatinya Tanca sudah tiada. Ia ambil alatnya dan mulai bekerja. Pagar yang mengelilingi taman larangan, tepat di belakang Bilik Agung, dilingkari pagar tanah liat bakar. Dunia selebihnya terpisah dari taman ini. Dedes senang pada semua yang bersifat seni. Dan gambar-gambar timbul sepanjang pagar itu tak pernah diperhatikannya. Dari pandang sekilas ia sudah dapat menangkap ceritanya. Pada penghujung sana adalah permulaan dari cerita itu sebatang pohon dengan Anoman di antara cabang dan ranting. Pada gambar kemudian satria monyet, Anoman itu, turun di taman untuk menemui Sinta .... Ia tak tertarik untuk memperhatikan karya besar itu. Ia tetap sibuk dengan hatinya sendiri. Ia tak hitung sudah berapa siang ia lewatkan hidupnya dalam Taman Larangan ini. Bahkan dayang pun tak jarang diusirnya. Kesukaannya adalah duduk bermenung di bawah sebatang mlinjo yang dipangkas indah. Di sekitarnya berserakan guguran bunganya yang putih kecil-kecil. Juga sekarang ini. Hamba yang duduk pada kakinya terus-menerus menyanyikan berbagai lagu berahi nyanyian yang pernah dinyanyikan oleh setiap orang. Tiba-tiba wanita itu berhenti, mengusap-usap betis Dedes. Diangkat kepalanya untuk melihat wajah pengantin baru itu Dan pandang Ken Dedes masih juga menjangkau jauh.

Ia meneruskan lagunya. Mengetahui tak mendapat perhatian ia kemudian berdiri mohon ampun dari sang Paramesywari, dan mulai membetulkan rambut majikannya yang hampir-hampir kacau digalau angin pancaroba. Bahkan kepala pengantin baru dengan hiasan mahkota pita bertaburan permata itu segan bergerak. "Yang Mulia masih juga belum pernah nampak tersenyum," ia mencoba-coba memancing percakapan. Hanya hembusan keluh terdengar. "Berapa berbahagia Yang Mulia muda, cantik-rupawan, berilmu, wanita pertama dan utama di seluruh Tumapel. Kasih para dewa nampaknya hanya untuk Yang Mulia seorang. Apa lagikah yang patut disedihkan? Semua wanita mengharap mendapatkan kasih sebanyak itu. Sangat, sangat banyak yang bahkan mendapatkan satu macam pun tidak pernah untuk sepanjang hidupnya." Ken Dedes menyentuh tangan wanita itu untuk menghentikan perawatannya. Ia berdiri dan berjalan lambat-lambat meninggalkan tempat duduk. Ia mengikuti di belakangnya. "Yang Mulia pun lebih berbahagia daripada Dewi Sinta itu," ia meneruskan lagi, kemudian menyanyikan satu bait dari kisah Dewi Sinta yang terculik oleh Rahwana dan dikurung dalam taman Argasoka. "Bukankah Dewi Sinta itu kemudian tidak berbahagia seumur hidup, Yang Mulia?" hamba itu tertawa.

Dedes merasa malu. Ia merasa tersindir. Sinta tidak pernah memberikan diri dan hatinya pada Rahwana. Ia telah berikan dirinya pada Tunggul Ametung. Bukankah Akuwu Tumapel tidak lebih baik daripada raksasa Rahwana? seorang yang tak jauh dari ajaran, hidup dalam ketidaktahuan dan penghinaan terhadap Sang Yama? Mungkinkah karena ia memberikan dirinya ia harus mengulangi nasib Dewi Amisani, mati termakan racun? Ia tak dapat berdamai dengan hatinya sendiri, mengetahui benih raksasa Tumapel itu telah memasuki dirinya. "Apakah Yang Mulia pikirkan selama ini?" Ken Dedes menjatuhkan pandang. Dayang itu melihat butiran jatuh dari pasang matanya. "Ah, Yang Mulia, Yang Mulia, betapa Yang Mulia menganiaya diri seperti ini," dengan setangan ia keringkan airmata majikannya dengan hati-hati. "Segala kemewahan, kekuasaan dan cinta Yang Mulia Akuwu rupanya tak mengurangi beban di hati Yang Mulia Paramesywari." Mendengar kata-kata bersimpati itu Dedes tersedan, membungkuk. Dari balik kedua tangannya terdengar tangis yang ditekan. Dan hamba itu juga menangis. Dikuat-kuatkan hatinya. "Tak tahan sahaya melihat begini setiap hari, Yang Mulia. Selama dalam pekuwuan begini terus. Jangan, Yang Mulia, jangan hancurkan diri sendiri. Masih ada banyak hari disediakan oleh para dewa, mengapa hari-hari ini saja Yang Mulia indahkan? Demi Hyang Parwati, katakanlah apa yang sahaya bisa lakukan untuk meringankan dukacita Yang Mulia."

Ken Dedes melangkah lambat-lambat mendekati pagar tanah liat bakar. Ia purapura memperhatikan Sinta yang sedang dihadap oleh Anoman. Di atas mereka bulan purnama memancar tepat di atas pohon Nagasari itu. Ia raba muka Sinta dengan jarinya yang bercincin susun. Karya seni itu tetap tidak menarik hatinya. Ia agak terhibur mendengarkan nada simpati itu. Hanya: adakah sumpahnya pada Hyang Parwati hanya pemanis bibir? "Yang Mulia," Rimang berbisik di belakang kupingnya. Ia tak berpaling. "Tak ada seorang pun di pekuwuan ini dapat dipercaya, Yang Mulia. Hati-hati, waspadalah." Ken Dedes tahu, Yama tak diindahkan di mana-mana, kecuali di desa-desa dalam lindungan gunung. Juga ia tak percaya pada hamba yang seorang ini. "Demi Hyang Dewi Parwati. Tidakkah cukup sumpah sahaya?" Ken Dedes melangkah dan melangkah lambat. Dan Rimang berbisik lagi: "Seluruh isi pekuwuan tidaklah parut mendapatkan karunia kepercayaan dari Yang Mulia. Tapi Rimang ini tidak sama dengan yang selebihnya." Ken Dedes berhenti, berpaling:

"Jangan cemarkan Hyang Parwati di hadapanku." "Ampun. Bukan sahaya yang pernah mencemarkan." "Berapa kali dalam hidupmu kau pernah bersumpah demi Hyang Parwati?"[Parwati atau Durga atau Kali, syakti dari Syiwa.] "Baru sekali ini, Yang Mulia." "Kalau di pura ada, akan kubawa kau ke sana untak bersumpah di hadapannya." "Sahaya bersedia, Yang Mulia. Nanti sebentar lagi kalau Hyang Surya telah terbenam, sahaya akan iringkan Yang Mulia ke pura." Ken Dedes berpaling padanya untuk melihat airmukanya. Ia melihat Rimang tidak berdusta. Dan inang itu meneruskan: "Sebaiknya pabila bulan sudah mulai muncul dari lereng Gunung Welirang." "Apakah seorang hamba boleh masuk untuk kepentingan itu?" "Ada di belakang dapur sahaya bangunkan pura pribadi, ya, Yang Mulia, sahaya anyam sendiri Hyang Parwati dari rontal." "Kau menantang murka?"

Rimang tidak menunduk, membela diri: "Memang hanya sahaya pribadi mendirikan Dewi Parwati, juga untuk sahaya sendiri." "Apakah di desamu dulu orang punya patungnya sendiri untuk puranya sendiri?" "Tidak, Yang Mulia. Di sini, ke manakah sahaya harus pergi kalau tidak membangunkan sesembahan sendiri?" "Kau menyalahi aturan. Mengapa kau menyembah Parwati?" "Siapakah yang mau dengarkan seorang sahaya dari desa kalau bukan dewi sesembahan? Yang Mulia seorang brahmani muda, katakanlah pada sahaya: adakah kiranya seorang dewi berkenan mendengarkan suara seorang dayang?" Hati Ken Dedes tersentuh. Sebentar ia merenung. Bertanya: "Apakah kastamu?" "Hanya sudra, Yang Mulia." Sudra hanya harus memuliakan para dewa. Dan barangkali juga para dewa tidak mempunyai sesuatu kewajiban terhadapnya.

Ia iba terhadap wanita sudra ini. Dan ia menduga nasib Rimang tidak lebih baik dari dirinya. Ia tak bertanya. Ia berjalan menuju ke Bilik Agung. Dan dayang itu mengikutinya membawa bakul rias. "Kau bisa membaca?" "Bisa, Yang Mulia" "Tak ada rontal padamu?" "Ah, Yang Mulia, Pandita Wanita itu melarang mendekatkan rontal apa pun pada Yang Mulia Paramesywari." Ken Dedes mengangguk mengerti: semua harus sesuai dalam ketidaktahuan dengan Tunggul Ametung. Dan ia merasa dirampas dari segala yang ia perlukan. Bahkan membaca pun ia tidak diperkenankan. "Tahukah kau siapa aku sebenarnya?" "Setidak-tidaknya bukan dari kraton, bukan dari gedung-gedung para satria, ya, Yang Mulia." "Di mana perbedaan antara diriku dengan mereka?" "Yang Mulia terlalu cantik, tidak berbahagia menjadi Paramesywari, sebaliknya mereka akan berjingkrak gila karena sukacita. Sewajarnya Yang Mulia ini seorang brahmani." "Apakah kau duga aku seorang gadis desa?" "Nampak seperti itu, Yang Mulia. Bukankah waktu pertama kali Yang Mulia tiba belum tahu sesuatu apa tentang pekuwuan?" "Ya, Rimang, aku pun dari desa seperti kau. Apa kata orang tentang diriku?" "Tak ada yang berani bicara, Yang Mulia."

Ken Dedes memejamkan mata. Saat ini ia merasa berkewajiban mengenangkan ayahnya. Ia tak dengar lagi Rimang bicara: "Betapa pengasih Dewi Parwati. Apa yang sahaya pohon selama ini telah menjadi kenyataan:Yang Mulia sudi bicara dengan sahaya ini ..." Kenangan Ken Dedes sudah melayang pulang ke desa Panawijil. Sore hari sebelum pergi orang setengah baya itu telah berpesan padanya: "Anakku Dedes, boleh jadi lama aku akan tinggalkan kau. Hati-hati kau menunggu rumah," dan ayahnya itu pergi membawa semua pemuda yang belajar secara diam-diam padanya. Ia tinggal di rumah hanya dengan bujang-bujang wanita. Seorang brahmana tidak pernah meninggalkan rumah kecuali karena urusan yang sangat penting. Ia tahu kepergiannya hendak bertemu dengan brahmana lain, entah siapa, entah di mana, dengan satu pokok pembicaraan: mencari jalan untuk menegakkan kembali cakrawarti Hyang Mahadewa Syiwa. Sejak kecil ia diajar untuk membuang muka, membenci, terhadap siapa saja yang tidak mengindahkan Hyang Syiwa. Kemudian dari pelajaran ayahnya ia tahu, Tunggul Ametung adalah seorang penjahat, karena ia tidak mengindahkan Hyang Syiwa, bahkan memusuhi. Seorang pemuja Hyang Syiwa adalah orang yang tahu diri, karena selalu menimbang masa dan hari lewat, menghukum diri sendiri untuk setiap kekeliruan dan kesalahan. Orang-orang seperti dia tidak ada harganya untuk

dikenal, sekali pun kekayaannya menyentuh langit dan kekuasaannya disokong dan dibenarkan semua drubiksa sepenuh Jagad Pramudita. Dan setiap ayahnya menerima tamu seorang brahmana ia selalu disertakan dalam pembicaraan. Sejak kecil ibunya telah meninggal. Semua kasih-sayang Mpu Parwa tertumpah padanya sebagai anak tunggal. Antara ayah dan anak terjalin ikatan kemesraan, yang mengharukan bagi para brahmana yang datang berkunjung. Dan mereka tidak menolak kesertaannya dalam samadhi bersama. Tidak jarang samadhi itu ditujukan untuk hancurnya Tunggul Ametung, agar Hyang Manakala tidak membinasakan semua-mua karena kesesatannya. Malam itu ia membaca seorang diri tanpa ayahnya. Seorang bujang datang mengganggu, memberitakan: Rombongan Sang Akuwu sedang menginap di desa tetangga. Maka besok, bila rombongannya lewat untuk meneruskan perjalanan memeriksa negeri, semua penduduk harus hadir di sepanjang jalan raya negeri untuk mempersembahkan hormat. ia tak sudi menyembah seorang akuwu yang belum patut mendapat penghormatannya, apalagi dari ayahnya seorang yang telah mendapatkan gelar Mpu karena keterpelajarannya. Pagi hari ia turun ke pancuran untuk menghindarkan diri. ambil menghafal sepuluh syair Sansakerta ia bermain-main dengan air curah dari pancuran bambu itu. Kainnya basah. Air bermanik-manik pada bahu, muka, dan buahdadanya. Seorang bujang datang berlari-lari, memberitakan: Datang seorang penunggang kuda ke rumah, Ayu, mencari Sang Mpu Parwa." "Tiada kau katakan sedang pergi?" Sudah Menakutkan orangnya, Ayu. Seorang satria berge-lang, berkroncong binggal, dan berkalung serba emas." "Bukankah rombongan Akuwu sudah lewat?" "Sudah, Ayu, mereka tidak melalui sini." "Tapi satria itu?" Dia tidak turun dari kudanya. Mengetahui Sang Mpu tak ada, ia perintahkan sahaya memanggil anak Sang Mpu."

"Kembali kau. Katakan dia sedang pergi ke hutan," Dedes mengangkat kain, mendaki lereng bukit, lari menuju ke arah hutan. Begitu melewati lereng bukit ia sampai di bentangan padang rumput. Ia berhenti untuk meninjau keliling. Sunyi-senyap. Baru kemudian ia menyeberangi padang itu. Lari, lari, tanpa menoleh lagi ke belakang- Ia tahu betul takkan ada orang menyaksikannya. Rumahnya terpencil tanpa tetangga. Sampai di tepi hutan ia terengah-engah, berhenti sebentar untuk memeriksa keliling. Ia merasa aman. sambil memperbaiki kain dan rambut ia melangkah lambat-lambat masuk ke dalam. Ia kenal hutan sekeliling ini. Dan ia tak pernah takut memasukinya. "Dedes!" panggil seseorang. Ia terkejut, terpakukan pada tanah. Di hadapannya, di dalam semak, dilihatnya tubuh seekor kuda kelabu. Di atasnya seorang pria setengah baya. Celananya satu telapak di atas lutut. Kain penutupnya jatuh di atas pelana. Dan celana itu tersulam dengan benang emas bergambar lengkung sulur dan dedaunan. Pada kaki di atas sanggurdi berkilau binggal dengan kepala naga, bermata intan. Sekaligus ia mengerti: itulah Akuwu Tumapel. Tunggul Ametung si terkutuk. Ia tak mencoba menentang mukanya. "Betul yang dikatakan orang," kata pria itu dari atas kudanya, "lima atau sepuluh Paramesywari Kediri masih kalah dibandingkan dengan kau seorang, Dedes. Mari, Permata, demi Hyang Wisynu, akan kududukkan kau di singgasana mendampingi aku. Mari, mari...."

Dedes mulai kehilangan kekagetannya. Kini ketakutan menguasai dirinya. Seluruh persendiannya goyah dan gemetar. "Ayah! Tolong!" pekik Dedes. Tapi suara tak keluar dari mulutnya. "Kurangkah kemuliaan seorang akuwu, maka kau tak berbuat sesuatu! Perlukah aku rebut Kediri untuk mendapatkan jawabanmu?" ia tetap duduk di atas punggung kuda, dengan tangan memegangi kendali. Demi Hyang Mahadewa, Dedes menyebut dalam hari. Ia mendapatkan ketabahannya kembali. Hilang goyah persendian dan geletar tangan, ia tentang mata Tunggul Ametung. Mata itu bening, dengan lingkaran kuning lebih luas, dan tidak bersinar Hidungnya tidak bangir seperti dirinya. Bibirnya tebal dan begitu penuh mengisi wajahnya yang nampak terlalu kecil untuk itu. Dadanya bidang berbulu Juga tangannya, juga kakinya. "Mata yang seindah itu ..." Sekaligus Dedes menunduk. "Buah dada yang sebagus itu ..." ia berbalik dan bersiap meninggalkan hutan. Dari belakangnya ia dengar suara rayu itu:

"Memang kau tak perlu berikan penghormatan pada seorang Akuwu, Dedes. Sri Baginda Kretajaya pun belum patut mendapatkan lirikanmu," ia turun dari kuda. Dedes mendengar kaki Akuwu menenangi semak, menyibaki lamtara muda. ia mencoba mempercepat jalan, tapi persendiannya menolak Dan ia rasakan tangan Tunggul Ametung menangkap bahunya. Ia kebaskan tangan itu: "Jangan sentuh aku!" ia merasa dirinya kotor tersentuh oleh seorang Wisynu. "Betapa galak, seperti brahmana lain-lain dan semuanya," ia tangkap tangan Dedes, dihadapkan padanya,"sebagai akuwu aku melarang kau menjadi pedanda. Mari Permata, aku iringkan kau ke Kutaraja, naik kuda, ke tempat terlayak bagimu. Mari, sayang." Tunggul Ametung menariknya dengan hati-hati pada tubuhnya. Dedes mengangkat muka dan meludahinya. Dan akuwu itu ternyata tidak marah, bahkan mendekapkan tubuhnya pada dadanya yang berbulu, ia gigit dada itu, dan ia rasai keras seperti batu. Akuwu itu tertawa. ia meronta dan meronta. Akuwu itu tertawa lunak. Dan ia tak dapat lepas dari tangannya ia tahu Akuwu dapat membinasakannya di hutan ini. Tak ada seorang pun menyaksikan. Saksi pun takkan dapat mencegahnya. Sekiranya ada senjata di tangannya ia akan tikam dia. orang Wisynu yang tak kenal Hyang Yama ini. Ia mulai mencakar dengan tangannya yang bebas.Tunggul Ametung tertawa manis. "Anak macan juga macan," ia tertawa. "Kau, anak desa yang belum lagi tahu: semua brahmana telah takluk menyembah pada kaum satria. Apakah Mpu Parwa, ayahmu, belum ajarkan itu padamu?"

Amarah tanpa daya itu membikin Dedes terhisak-hisak menangis. "Bicaralah, Permata, tak urung kau akan kuboyong ke pekuwuan. Betapa banyak wanita mengimpikan kesempatan itu, Dedes. Kau tidak suka? Justru karena itu lebih indah lagi, lebih berharga lagi kau di mataku, di hariku. Tidakkah kau mengerti Mpu Parwa bisa binasa karena kau? Bukankah dia sedang pergi mencari sekutusekutunya kaum brahmana? Tidakkah kau mengerti hukuman bagi persekutuan? Diikat dengan nagabanda, seluruh keluarga, berbaris masuk ke dalam rumahnya yang dibakar?" "Karena hanya itu yang kau bisa lakukan." "Hanya itu?" Akuwu Tumapel senang mendengar Dedes mau bicara "Hanya itu? Jauh lebih banyak dari itu, Permata." "Dan jauh lebih kejam dan hina." "Ratusan, ribuan tahun yang lalu kaum brahmana jauh lebih kejam. Tak pernahkah kau dengar kampung-kampung yang dipersembahkan pada Hyang Durga? Itulah pekerjaan para brahmana. Ayahmu tidak cukup jujur kalau tak pernah ajarkan itu. Ah, putri brahmana, seorang brahmani. Aku mengerti kau merasa terhina tersentuh olehku. Tentunya ayahmu sudah mengajarkan padamu aku hanya seorang sudra." ia dekapkan Dedes semakin lekat, dan berbisik: "Mulialah Sri Erlangga Bathara Wisynu, dengan titahnya semua orang bisa jadi satria atau brahmana demi dharmanya." Dedes tak dapat menangkis, badan maupun jiwanya. Badannya tak berdaya dalam pelukannya, ilmu dan pengetahuannya juga tak berdaya membantahnya. Ia hanya dapat mendesis.

"Penipu!" Dengan tangan sebelah Tunggul Ametung mengangkat tubuh Dedes dan diciuminya mukanya, tersenyum puas: "Adakah brahmani diajari juga bicara mengumpat? Tiada aku sangka." "Lepaskan aku!" "Sekali tertangkap tangan takkan lagi kau kulepaskan." "Keji! Yang mengerti tentang kemuliaan para dewa, mengerti tentang kehinaan manusia, yang mengerti tentang kehinaannya tidak akan lakukan perbuatan semacam ini." Tunggul Ametung membelai-belai rambut Dedes dengan tangannya yang bebas. "Justru karena kegaranganmu aku tergila-gila padamu, Dedes. Umpanlah aku, gigit dan garuk, tumpahkan semua ajaran Mpu Parwa. Untuk semua itu menjadi syahlah aku mendapatkan kau," Mengerti bahwa Tunggul Ametung tak dapat dikatakan tanpa pengetahuan menyebabkan ia lumpuh dalam amarahnya. Dan ia dengar lagi yang lebih menyakitkan: "Ayolah, kutuk aku, seperti semua brahmana mengutuk semua orang di luar kastanya. Akan aku perlihatkan pada dunia: kaum brahmana takkan bisa bikin apaapa pada waktu seorang brahmani bernama Dedes aku dudukkan di atas singgasana Tumapel. Dengar, Dedes, Permataku, tidak percuma Sri Erlangga mengutuk triwangsa bikinan kaum Brahmana. Kalian tak juga sedar, hidup terus dalam keseakanan, merasa tertinggi di atas segala kasta .... Hanya mimpi Dedes, hanya keseakanan. Itulah kekeliruan kaum brahmana! Kalian tak pernah tahu

kenyataan. Dan itulah juga kejahatan ayahmu, membikin kau buta terhadap kenyataan." "Kenyataan harus takluk pada ajaran." Tunggul Ametung menurunkan tubuh Dedes sambil tertawa terbahak-bahak: "Akulah kenyataan. Aku tak takluk pada kaum brahmana dan ajarannya. Kumpulkan semua brahmana di atas bumi ini. Mereka takkan dapat taklukkan Tunggul Ametung." Juga mempertahankan kemuliaan ajaran ia tidak mampu. Dan semua tamu brahmana itu memuji kecerdasannya Begitu banyak pujian dan sanjungan selama ini .Waktu ia jatuh ke tangan musuh pokoknya begini, ternyata ia tak berdaya. Dan Akuwu yang mendekapnya adalah kenyataan - kenyataan yang tak perlu takluk pada ajaranmu, memperlakukan makhluknya demikian macam? "Barangkali kau tak mengerti ucapanku. Barangkali kau lebih tahu Sansakerta bahasa kahyangan itu daripada bahasa orang Tumapel." "Betapa pongahnya kau seakan pemenang di atas jagad para dewa ini." "Bagus, Dedes, senang aku mendengar suaramu, kegarangan-mu.Tapi kulepaskan kau tidak. Tahukah kau, orang-orang Buddha itu tak memerlukan dewa-dewamu? Orang-orang tani juga tidak- Mereka menyembah Hyang Wisynu yang pengasih dan pemurah. Dengarkan, Dedes, hanya kaum brahmana hidup dalam mimpi, hidup mereka pun dari kemurahanku. Jangan dengarkan janji dewa-dewamu itu. Mereka hanya dongengan untuk bocah-bocah yang tak pernah dewasa." "Pongah!" Dedes lebih mempertahankan ajaran daripada diri sendiri.

"Kalian kaum brahmana lebih pongah dalam pikiran, tapi menunduk-nunduk merangkak-rangkak di hadapanku. Itu tidak jujur, Dedes. Juga kau tidak jujur, kau menantang-nantang di hadapanku begini, tapi kau sudah ada dalam tanganku, dan kau tahu, kau tak dapat menolak Tunggul Ametung. Tidak dapat, demi HyangWisynu!" Ia lepaskan Dedes, dan seperti ditiupkan kekuatan pada dirinya ia lari. "Akuwu Tumapel belum ijinkan kau pergi. Brenti!" Dedes lari dan lari. Dan tak antara lama di hadapannya telah menghadang Tunggul Ametung di atas kuda. Dan ia disambar dari atas. Ia meronta dan menggigit lengannya, namun pegangan itu tak dapat lepas. Mengetahui Akuwu tak juga sakit atau pun mengaduh, ia hendak tikam hatinya dengan kata-kata tajam, tapi semua ajaran telah menjadi batu dalam ingatannya. "Belum jera-jera kau menggigit, Dedes. Kau tahu sendiri, lengan yang seindah ini takkan kulepaskan lagi." "Lepas, demi Hyang Mahadewa, terkutuklah kau." Tunggul Ametung tertawa: "Mari naik, Permata. Dewa-dewamu tak berdaya menghadapi aku."

Dan Tunggul Ametung mengangkatnya dengan dua tangan. Ia meronta, kembali mencakar-cakar, sekarang menyasar wajah sang Akuwu. "Ayah!" pekik Dedes. Suara itu kemudian padam dalam ciuman Tunggul Ametung. Ia pukuli wajah Akuwu. Dan lelaki itu tidak menjadi kesakitan karena pukulannya. Bahkan tetap tersenyum, menarik tali kendali, dan kuda itu mulai berpacu cepat. Pada waktu itu Dedes mengerti: ia kalah, semua usahanya sia-sia, ayahnya pun tak berdaya, juga sekiranya ia melihat kejadian ini. Duduk di atas kuda dalam pelukan di depan Tunggul Ametung ia dapat dengarkan langkah kuda, dapat rasakan nafasnya yang keluar masuk dari perutnya. Ia tak berani menggigit tangan yang memeganginya, ia pun takut jatuh dari kuda yang sedang mencongklang lari itu.Terdiam dalam ketidakdayaan akhirnya ia hanya bisa menangis kelelahan. "Dedes," bisik Tunggul Ametung, dan ia rasai kumisnya menyentuh pipinya, "teruskan cakaran dan gigitanmu. Tidak mau? Baik, teruskan umpatanmu terhadapku pada suatu kali kau akan tahu semua itu akan jadi tak ternilai indahnya dalam kenangan setiap kali kau mengingatnya kembali, dan kau akan bertambah berbahagia. Hyang Wisynu telah tentukan aku jadi suamimu. Nasib tidak bisa kau elakkan. Aku pun lakukan ini bukan atas kehendak sendiri hanya karena petunjuknya juga." Kekacauan hati membikin Dedes jadi sesak, dan ia sadari dirinya mulai memasuki kepingsanan. Pengelihatannya telah berayun-ayun, dan gemuruh hati dan derap kuda mulai samar. Waktu ia sadar lagi, yang terdengar mula-mula adalah bunyi telapak kuda itu juga. Tak ada sesuatu yang dapat dilihatnya, gelap-gelita. Waktu tangannya mulai dapat digerakkannya, ia mulai meraba-raba hadapannya. Tiada sesuatu yang teraba. Dan waktu tangannya jatuh, ia rasai kehalusan sesuatu.

Jarinya mulai merabai kehalusan itu bulu, bulu kuda! Ia sadar masih berada di atas punggung kuda. Hari itu memang gelap pekat. Kuda itu tidak lagi lari. Ia angkat tangannya lagi, dan dirasainya sebuah tangan, yang bukan tangannya sendiri. Dan tangan itu merangkul pinggangnya. "Kau sudah bangun, Permata?" ia dengar suara, tepat pada kuping kanannya. Suara lelaki, bukan suara Mpu Parwa. Ia meronta, tapi pelukan itu semakin ketat sampai-sampai ia merasa tersekat. Ia mengingat dan berpikir, berpikir dan mengingat, dan tahulah ia, seseorang telah menculiknya dari Panawijil. Waktu bulan tua itu mulai muncul, kuda itu mulai lari lagi, langkahnya menderap berirama. Hutan di kiri kanan jalan ber-larian menghilang seperti malu menjadi saksi. Dan teringadah ia pada Akuwu Tumapel di belakangnya. "Berani kau bawa aku tanpa ijin ayahku?" "Tak tepat kau di desa." "Kutukan semoga jatuh ke atas kepalamu."

"Tidakkah kau akan menyesal, Dedes? mengutuki seorang yang akan jadi ayah dari anak-anakmu?" "Anak-anakku tidak berayahkan kau!" dan Dedes kembali menjadi kacau. Ia tahu anak bukan urusan manusia, tapi urusan para dewa. "Takkan lama lagi, dan kau akan tahu, akulah bakal ayah dari anak-anakmu. Tumapel menunggu seorang Paramesywari dan seorang anak calon penguasa penggantiku. Hyang Wisynu menunjuk kau sebagai ibu yang terpilih itu." Juga sekali ini Dedes tak mampu menandingi Tunggul Ametung dengan Hyang Wisynunya. "Kau akan menyesal menguruki calon suami, yang akan membawa kau ke singgasana. Jangan remehkan satria. Tanpa satria brahmana tak bisa berbuat sesuatu. Tanpa brahmana satria bisa bikin segala-galanya. Dunia menghormati satria, raja-raja, juga akuwu. Setidak-tidaknya hari ini telah kudapatkan anak perawan brahmani, seorang brahmani yang masyhur akan kesuciannya, untuk jadi permata bagi hidupku dan bagi Tumapel." Dedes pingsan lagi karena kekacauannya. Waktu ia sadar lagi dirasainya tubuhnya telah tertutup dengan kain. Angin malam itu tak lagi menggigit kulit dan membekukan darahnya. Barangkali Tunggul Ametung telah menyelimutinya dengan destar atau kain penutup celana. Ia merasa dihinakan dan tetap tak dapat berbuat sesuatu. Ditutupnya matanya, kini memohon perlidungan dari Hyang Dewi Laksmi.

Ia dengar Sang Akuwu mendengus. Ia tunggu kata-katanya. Tapi tak lagi keluar suara dari mulutnya. Ia tahu ia mulai menyerah. Waktu airmatanya jatuh menetesi lengan yang memeluknya baru ia dengar suaranya lagi: "Jangan menangis, Permataku. Para dewa telah berikan dirimu padaku. Kau hanya menjalani sebagaimana juga aku. Tak pernah ada wanita menantang, melawan dan menolak Tunggul Ametung. Hanya kau! Karena itu kau dipilih lebih daripada putriputri Tumapel, Kediri dan seluruh buana, satu-satunya perawan yang berani menggigit dan mencakar Tunggul Ametung sungguh-sungguh perawan pilihan. Yang berani meludahinya betul-betul manusia dewi. Tumpahkan airmatamu, Permata, karena setelah ini takkan dia titik lagi, seluruh kebahagiaan makhluk di atas bumi hanya milikmu." Tunggul Ametung bicara terus. Dan ia makin dapat mengerti. sama sekali dia tak dapat dikatakan dungu. Kata-katanya teratur dan bersumber pada kepercayaannya pada HyangWisynu "Dedes, kaulah permata di antara semua jenis wanita. Tak ada perawan dari triwangsa dan di luarnya lebih terpilih daripada kau Daripadamu akan lahir raja-raja besar di bumi Jawa. Ah, Dedes, apakah Mpu Parwa pernah tahu semua ini?" Airmata Dedes semakin deras. "Dedes, Dedesku, dalam hatimu saja terdapat api sang Mun-cukunda[seorang tokoh yang dengan pandang matanya telah membinasakan raksasa Kalayawana dalam peperangannya melawan Kresna.]. Di luar kau semua hanya sampah di hadapan matamu. Permataku! Permataku!" Perawan itu menjadi ragu apakah orang yang memeluknya ini benar menjalankan petunjuk dewa ataukah memang hanya drubiksa meminjam suara para dewa. Segala apa tentangnya yang didengarnya dari ayahnya dan para brahmana tidak

cocok. Ia bukan seorang yang dungu, tahu berlemah lembut. Ataukah memang demikian semua penjahat dalam usahanya? Dan mengapa para brahmana, yang menganggap dirinya benar karena sejalan dengan ajaran tunduk takluk pada Hyang Yama, tidak mampu berbuat Sesuatu terhadapnya? Adakah Akuwu Tumapel yang memeluknya benar-benar lebih kuat dari semua dewa sekaligus? Dia telah bicara tentang Muncukunda, cerita dan tafsiran yang diberikan hanya kepada siswa-siswa tingkat cikil dan wasi. Benarkah dia butahuruf, dan mengetahui segala hanya dari tangan kedua? Suatu kemestian bagi brahmana adalah berpikir dahulu sebelum bertindak. Dan nampaknya Tunggul Ametung melakukan ini setelah masak berpikir. Maka dia tahu ke mana ia pasti akan lari menghindarinya, dan menunggu di sana sampai ia datang. Kembali ia diserang kekacauan. Semua yang diajarkan oleh ayahnya terancam akan runtuh dalam tangan orang yang dapat menggagahi segala-galanya ini. Di sela-sela derap kaki kuda itu terdengar dalam ingatannya suara ayahnya: Kaum satria adalah pemukul segala dosa; dunia akan binasa karena mereka; dan hanya kaum brahmana bisa selamatkan manusia dan dunia; maka semua usaha kaum brahmana harus dipusatkan pada kembalinya tatatertib Jagad Pramudita. Sekarang ia dalam pelukan seorang sudra yang disamakan oleh Kediri. Dan ia tak dapat membela diri. Dewa-dewa juga tidak menolongnya. Hyang Laksmi juga tidak membantunya. Hyang Mahadewa yang setiap hari dipujanya dalam samadhi juga tidak melepaskan trisulanya untuk menolong dirinya. "Permataku!" ia rasai wajah Tunggul Ametung itu menciumnya. Dan ia dengar suara itu tidak mengandung kama, tapi kasih sayang. "Segalanya akan dipersembahkan pada Dedes dan kesuciannya, dan kemuliaannya. Apakah kurang

aku menghormatimu? Apakah aku kurang halus terhadapmu? Kau, perawan dengan hati memeram api Muncukunda! Kau, ibu dari raja-raja besar yang bakal dilahirkan. Singgasana Tumapel adalah milikmu. Tidak percuma para dewa bisikkan padaku setiap kali ber-samadhi." Dedes tak rasai lagi dingin angin pancaroba menjelang pagi. "Bahkan rambutmu kurasai seperti belaian sorga." "Lepaskan aku, Tunggul Ametung," ia mulai meronta lagi. "Kulepaskan kau setelah sampai di keputrian pekuwuan." "Terkutuk kau!" "Aku terima kutukanmu, Dedes. Seorang satria akan terima segala dari para dewa, sama beraninya dengan waktu di medan perang. Tapi jangan kutuki anak-anakmu sendiri." "Penipu! Pembohong! Penculik!" Dedes memberontak, juga ajaran yang telah diterimanya menggugatnya mengapa ia tidak melawan. Kembali ia pingsan. Menjelang terbit Hyang Surya, kuda itu memasuki pekuwuan, tanpa mengindahkan para pengawal yang sedang lalai dalam kantuknya. ia turun dari kuda membopong Dedes, masuk ke dalam keputrian, dan membawanya masuk ke dalam Bilik Paramesywari. Dedes sadar kembali. Ia dapat melihat Tunggul Ametung membangunkan seorang wanita yang tidur di lantai di atas tikar dengan kakinya. Dan ia dengar: "Rimang! Aku serahkan padamu putrimu Sang Paramesywari. Lehermu jadi petaruh."

Ia lihat Rimang mengangkat sembah, dan sepasang matanya bersinar-sinar. Sang Akuwu meletakkannya di atas ranjang bertilam sutra. Ia tahu pria itu berlutut padanya, berbisik: "Permataku, semua ada di bawah perintahmu. Jangan tinggalkan tempat ini," ia pergi entah ke mana. Rimang sekarang yang berlutut padanya: "Yang Mulia, Yang Mulia ..." Dedes menangis sejadi-jadinya. Di mana ayahnya kini, ia tak tahu. Sejak peristiwa penculikan dalam hutan di semak lamtara muda itu, ia tak pernah dengar sesuatu dari desanya, Panawijil. Antara dirinya dengan masalalu-nya seakan telah tergunting putus. Tak ada orang yang mengenalnya di pekuwuan. Ia diserahkan pada segala yang asing, dan pedandi itu memata-matainya tanpa jera, membanjirinya dengan nasihat tetekbengek. Pada suatu kali, tanpa bicara ia telah usir pedandi itu dengan gerak tangan. Ia tak perlukan nasihat bagaimana harusnya seorang istri terhadap suami, yang oleh para dewa dititahkan jadi satria untuk menduduki tempatnya mempertahankan keseimbangan jagad pramudita. Ia tak perlukan nasihat dari siapa pun yang tak punya persinggungan hidup dengan dirinya.

Pada mulanya ia dengarkan semua, seperti ia dengarkan setiap pelajaran dari ayahnya. Ia hafalkan dalam hatinya yang pengap karena dukacita. Keinginan untuk tahu segala dan jiwanya yang sedang kembang dengan sarwacita, memang terbuka terhadap semua penjelasan tenung kedudukan manusia di tengah-tengah jagadnya, di tengah-tengah hubungan antar manusia dan dengan para dewa. Akhirnya pintu harinya terkunci erat begitu ia menye-dari setiap nasihat bertujuan menuntut dari dirinya kesetiaan mutlak kepada Sang Akuwu. Ia muak. ia tak mempunyai perasaan bersetia pada suaminya. Pernikahannya yang tanpa saksi, bahkan tidak menyebut namanya dan nama ayahnya, mantra-mantra dalam Sansakerta yang banyak salahnya semua itu ia rasakan tak punya dasar yang kuat untuk menuntut kesetiaan daripada dirinya. Tak ada yang lebih menyakitkan mengetahui, ayahnya samasekali tidak dimasukkan dalam hitungan. Bahkan sampai empat puluh hari pun orang tak tahu siapa nama dirinya, apalagi nama ayahnya. Apalagi penculikan itu dilakukan oleh Tunggul Ametung seorang. Tanpa saksi. Dan siang itu Tunggul Ametung tidak menjenguknya. Sore hari juga tidak. Kemudian ia mengetahui: suaminya telah meninggalkan Tumapel langsung menuju ke Kediri dalam iringan pasukan kuda. "Bahkan minta diri dari aku pun ia merasa tidak perlu." Itu juga menjadi petunjuk baginya: ia tidak terikat pada suatu kesetiaan pada Sang Akuwu.

Tepat pada waktu matan tenggelam Rimang mengeringkannya ke belakang dapur, keluar dari keputrian. Para pengawal yang kebetulan terpapasi menyingkir memberikan jalan dan mengge-dikkan pangkal tombak pada tanah. Mereka sudah lebih seratus langkah di belakang dapur, memasuki kebun buahbuahan yang semua sedang berbunga lebat. "Di sini pujaan sahaya. Yang Mulia Paramesywari," Rimang berhenti di bawah pohon jambu mede muda, rendah dan lebat, "setiap han sahaya beri pohon ini air cucian daging." Ken Dedes mengawasi Rimang, terheran-heran. Inang itu mengangkat sembah pada pohon itu. "Pohon mede ini Dewi Parwatimu?" Rimang tak menjawab, tenggelam dalam kekhusukan. Dedes membuang muka kecewa dalam rembang senja. Tapi ia tak hendak memperlihatkannya. Setelah selesai baru Rimang berkata: "Di sinilah Dewi Parwati. Yang Mulia," dan dengan matanya ia menuding ke arah cabang. Sebuah patung Parwati dari dua jengkal berdiri dari cabang itu, terlindungi oleh rimbun dedaunan. Dedes mengangkat sembah pada patung anyaman rontal itu. Dalam hari ia mengherani betapa bisa dewi itu sampai mendapatkan tempat begitu tidak layak di bawah kekuasaan seorang satria Tumapel.

"Di sinilah, Yang Mulia, demi Dewi Parwati, demi Hyang Candra, sahaya bersumpah untuk membantu dan bersetia pada Yang Mulia, hidup sampai pun mati." Mereka berjalan kembali ke keputrian, kemudian masuk ke Bilik Agung. Di bawah sinar damar Dedes memperhatikan Rimang yang duduk di lantai, mencoba menerka siapa dia sesungguhnya. Dan dayang itu mengangkat muka padanya. "Kau dulu cantik, Rimang." "Tentu saja, Yang Mulia." "Berapa umurmu sekarang?" "Tiga puluh tujuh tahun surya, Yang Mulia." "Tidakkah kau pernah bersuami?" "Bukan hanya bersuami,Yang Mulia. Dahulu sahaya pun ada dua orang anak, semua lelaki." "Mengapa kau tinggalkan mereka?" "Sama dengan pengalaman Yang Mulia, diambil dari rumah dan disekap dalam keputrian sampai sekarang."

"Jagad Dewa. Jagad Pramudita. Maksudmu, Rimang, adakah kedatanganku ini mendesak tempatmu?" "Tidak, Yang Mulia, Sang Akuwu sudah tujuh tahun ini tidak memerlukan sahaya lagi." Dedes berdiri, berlutut di hadapan Rimang, memegangi dua belah bahunya: "Manakah anakmu dengan Akuwu?" "Sahava telah bersumpah takkan mengandungkan benihnya." "Kau membenci dia, Rimang?" "Yang Mulia seorang Paramesywari, tidak patut mencontoh sahava." "Kau membenci dia?" "Sahava anak sudra, Yang Mulia." "Kau membenci aku karena Paramesywari?" "Demi Parwati. Tentu ada di antara para selir yang membenci Yang Mulia, tetapi bukan Rimang ini." "Tiadakah kau ingin mendapatkan seluruh kasih Akuwu?" "Selama lima belas tahun ini saya selalu mengenangkan suami dan anak-anak sahaya. Entah di mana mereka sekarang." "Kasih betul kau pada mereka." "Merekalah suami dan anak-anak sahaya. Sebelum mati, sahaya masih ingin bertemu. Yang Mulia. Suami sahaya dan sahaya tidak pernah bertengkar. Sahaya masih ingat terakhir kali melihatnya pergi menggendong anak sahaya yang masih kecil dan menggandeng yang lebih besar. Diusir keluar dari negeri Tumapel. Sahaya memekik memanggil-manggil agar dibawa, tapi prajurit-prajurit itu menyeret sahaya ke Kutaraja."

Ken Dedes duduk lagi di atas. Pada wajah Rimang tak tergambarkan dukacita Garisgaris keras tertarik pada ujung-ujung mulut garis-garis dendam. "Kau bilang, kau anak sudra." "Benar, Yang Mulia." "Apa alasan Tunggul Ametung?" "Pernah sahaya cantik tiada tandingan di desa sahaya sejauh pemuda-pemuda yang melamar itu menyatakan, sejauh suami sahaya selalu memuji Itu saja sudah suatu alasan, Yang Mulia." Bukankah untuk itu tak perlu suami dan anak-anakmu di-usir dari negeri?" "Adik suami sahaya menginginkan sahaya dan alasan dicari-cari. Mula-mula adik ipar sahaya memancing-mancingnya bertikai tentang wayang. Suami sahaya seorang Syiwa seperti sahaya, seperti orang Syiwa lainnya tidak setuju mempergelarkan keagungan para dewa melalui bayang-bayang kulit. Keterbatasan manusia tidak memungkinkan dia melukiskan kebesaran mereka. Semakin rendah yang memainkan wayang itu, semakin mentertawakan para dewa dibuatnya. Para dewa hanya layak disampaikan oleh para pujangga dan brahmana ..." Ken Dedes tahu betul tentang persoalan itu. Wayang adalah permainan bodoh dari orang-orang bodoh yang tak mengerti ajaran. Hanya para brahmana yang berhak menafsir dan menerangkan tentang para dewa. Tetapi Sang Hyang Erlangga setelah sepuluh tahun naik tahta telah menitahkan." bukan hanya kaum brahmana saja yang berhak tahu tentang para dewa, semua orang boleh tahu, pergelarkan melalui wayang, karena bayang-bayang para leluhur dalam wayang adalah sama

dengan bayang-bayang para dewa .... Sampai sekarang ia seperti para brahmana lain belum pernah menontonnya. Melihat Ken Dedes tidak mendengarkan ceritanya Rimang berhenti. "Mengapa kau diam? Apa kemudian diperbuat oleh adik iparmu?" "Itu saja sudah cukup jadi dalih untuk menuduhnya menghujat Sri Erlangga dan kaum Wisynu. Dan itu belum semuanya. Pertikaian itu kemudian berkisar pada soal Ramayana. Ipar sahaya memulai sampai monyet pun mengabdi pada Hyang Wisynu yang menitis pada Rama. Rama sebaliknya mengangkat monyet-monyet itu jadi satria. Suami sahaya tadinya diam saja. Makin lama adik ipar sahaya semakin menjadi-jadi, mengatakan, kasih dan kemurahan Hyang Wisynu tanpa batas menyumram-bahi sampai titah yang sekecil-kecilnya. Sehingga, akhirnya suami sahaya menambahi begini: monyet-monyet yang berjasa pada Hyang Wisynu itu tetaplah menjadi monyet dalam kekesatriaannya, tak pernah jadi manusia. Seminggu kemudian prajurit Tumapel datang, dan beginilah jadinya nasib kami." "Kau sendiri bagaimana?" "Sahaya selalu berpihak pada suami sahaya." "Hyang Wisynu tidak pernah memanusiakan monyet, sekali pun monyet bukan kekuasaan Hyang Wisynu, Rimang. Itu hanya kekuasaan Hyang Mahadewa Syiwa, Dialah yang berkuasa mengubah bentuk apa pun dalam Jagad Pramudita. Bentuk, Rimang. Adapun tentang isi, titah sendiri yang menentukan." "Sahaya hanya seorang sudra, Yang Mulia, tak banyak tahu tentang kiwan[pengetahuan tentang para dewa.], tengenan[pengetahuan tentang manusia.] pun cuma sedikit. Sahaya hanya tahu tentang kasih pada suami dan anak." Betapa tidak berdaya anak sudra di hadapannya ini. Ia, seorang brahmani, yang tahu banyak tentang kiwan dan tengenan, juga tidak berdaya. Para dewa tidak

menolongnya, semua manusia juga tidak. Ayahnya sendiri tak terdengar wartanya. Ia terse-dan-sedan. Apakah sia-sia semua ilmu dan pengetahuan yang telah diserapnya sejak kecil ini? Apakah percuma saja semua yang telah dipelajarinya? Benarkah kalau ajaran percuma, sama yang tergelar dalam Jagad Pramudita ini juga sia-sia? "Yang Mulia, Yang Mulia," Rimang berdiri, "ampuni sahaya telah sedihkah hati Yang Mulia." "Kau telah tidak berdaya, Rimang. Aku pun tak lebih dari kau, biar pun aku bukan sudra." "Berbelas tahun terkurung di sini sahaya jadi mengerti, Yang Mulia tiada punya teman. Jangan, Yang Mulia, tak ada guna berteman. Percayalah, tak ada seorang pun bisa dipercaya. Dari sesama yang busuk, boleh jadi Rimang ini yang kurang busuknya." Rimang terdiam melihat pedandi itu masuk, menggelar tikar dan duduk di hadapan Dedes. Suasana berubah karena kedatangannya: "Berhubung Yang Mulia Akuwu berhalangan datang, sahaya datang untuk menemani" "Tak perlu aku kau temani." "Sahaya menjalankan perintah Yang Suci." "Temanilah Yang Suci, jangan aku." Pedandi itu mengerutkan kening: "Setidak-tidaknya hari ini Yang Mulia Paramesywari sudi bicara pada sahaya. Beribu terimakasih. Marilah kita nyanyikan bersama puji Kebesaran. Yang Mulia," tanpa menunggu jawaban ia mulai menyanyi.

Dedes menyertai, mula-mula dalam Sansakerta.Waktu berpindah dalam Jawa Dedes berhenti. "Yang Mulia Paramesywari tak suka menyanyi Jawa. Sansa-kerta Yang Mulia bagus, tepat tekanan dan panjang-pendeknya. Siapakah guru Yang Mulia?" "Siapa dewa pujaanmu?" "Sang Hyang Mahadewa." "Syiwa?" "Syiwa Manakala, Yang Mulia." "Jagad Pramudita!" "Mengapa, Yang Mulia?" "Aku kira semua di sini penyembah Wisynu." Pedandi itu mengangkat kepala lagi, memperhatikan sang Paramesywari yang malam ini mulai mau bertanya-tanya. "Aku ingin seorang diri malam ini."

Pedandi itu mengangkat sembah dan pergi. Jadi perintah Belakangka dapat dipatahkannya. Dengan diam-diam ia menikmati kemenangannya. Dan ia akan pergunakan kekuasaannya sebagai Paramesywari. Tapi benarkah ia telah jadi Paramesywari? majikan di rumah asing ini? Waktu Rimang datang untuk melakukan tugas menyertanya. Dedes mencoba memerintahnya mengambilkan air panas. Dan hamba itu pergi dan balik membawa cawan air panas. Ia pandangi wanita itu, meneliti wajahnya. Benar ia telah lakukan perintahnya dengan tulus. "Mengapa kau mau aku perintah?" "Mengapa. Yang Mulia? Semua orang di pekuwuan ini harus lakukan perintah Yang Mulia Paramesywari." "Rimang, apalah arti diriku di sini maka perintahku harus dipatuhi?" "Ah, Yang Mulia, Yang Mulia. Kutaraja bukan desa. Rumah Yang Mulia dulu bukan pekuwuan.Yang Mulialah yang berkuasa di seluruh pekuwuan ini. Juga berkuasa atas hidup dan mati." Dedes meredupkan mata, kemudian melirik pada Rimang: "Dan Sang Akuwu?"

"Yang Mulia Akuwu tidak mengurus pekuwuan ini. Yang Mulia Paramesywari, tapi mengurus negeri. Selingkupan pekuwuan ini di tangan Yang Mulia. Yang Mulia tinggal jatuhkan perintah, dan semua akan terjadi." Yang demikian tidak pernah ia dengar dari mulut ayahnya, ia dididik tidak untuk menguasai pekuwuan dan manusia seisinya. "Ulangi kata-katamu, Rimang." Rimang mengulangi. Dedes menikmati keindahan dan nikmat yang terkandung dalam kekuasaan itu. "Perintahkan menabuh gamelan, Rimang, dan terangi pen-dopo dengan empat damar lagi." Rimang pergi, dan sebentar kemudian terdengar gamelan ditabuh. Rimang datang lagi. "Semua telah terjadi sebagaimana Yang Mulia perintahkan." "Lima belas penyanyi wanita supaya berlagu bersama, Rimang." "Untuk itu dibutuhkan persiapan. Yang Mulia." "Aku sabar menunggu persiapan itu." Dan Rimang pergi lagi. Walau pun agak lambat terlaksana, lima belas penyanyi wanita mulai terdengar mengiringi gamelan.

Rimang datang lagi: "Tiadakah Yang Mulia berkenan memeriksa semua?" Ken Dedes bangkit dari duduknya dan bersiap-siap hendak keluar. "Sabar, Yang Mulia," ia memperbaiki rias Paramesywari, dan menahannya keluar dari Bilik Agung."Belum,Yang Mulia, nanti Yang Mulia akan lihat, semua akan sujud dan menyembah Tetapi pita mahkota ini jangan sekali-sekali terlupa bila nampak di hadapan orang banyak." Ia ambil pita mahkota yang bertaburan intan permata itu dari lemari batu dan mengenakannya pada kepalanya. Dedes memejamkan mata, memohon pada dewata agar dikembalikan kepercayaannya pada diri sendiri. Dihirupnya nafas dalam-dalam. Ia akan memulai hidup sebagai Paramesywari dengan sepenuh kekuasaan hidup dan mari. Keluar dari Bilik Agung ia lihat pedandi itu berdiri mengangkat sembah dan membungkukkan badan berbisik: "Hendak ke manakah. Yang Mulia Paramesywari?" "Tak perlu kau tanyakan." "Ampun, Yang Mulia, adalah di luar acara ..." Dedes tak mempedulikannya. Ia melangkah ke bendul untuk memasuki pendopo. Di belakangnya ia dengar suara pedandi itu tertuju pada Rimang:

"Kepalamu akan jatuh karena peristiwa ini." Dedes berhenti, menunggu Rimang mengiringkannya. Dengan dada tegak dan langkah agung ia memasuki pendopo. Semua penabuh dan penyanyi berhenti, mengangkat sembah, juga para pengawal. Ia gerakkan jarinya memerintah gamelan ditabuh kembali. Dan gamelan itu berbunyi lagi ditingkah oleh nyanyi bersama lima belas orang dara. Ia tersenyum puas mengetahui wujud dari kekuasaannya sebagai Paramesywari. Pendopo itu dikelilinginya. Dalam han tak henti-henti ia mengucap syukur kepada Hyang Mahadewa. Kekuasaan ini adalah indah dan nikmat. Ia takkan melepaskannya lagi, dan ia akan jadikan benteng untuk dirinya sendiri, juga terhadap dukacita dan rusuh hati. Sekali mengitari pendopo kemudian ia balik masuk ke Bilik Agung dan memerintahkan pada Rimang supaya gamelan berhenti. Gamelan itu berhenti seketika. "Hyang Parwati telah lindungi Yang Mulia," bisik Rimang, "Hyang Mahadewa telah anugerahkan kekuasaan tertinggi di tangan Yang Mulia. Pandanglah Rimang yang hina ini. Dengan perintah Yang Mulia, akan sahaya sampaikan untuk jadi kenyataan." Ken Dedes berlutut mendampingi Rimang. Nafas besar di-hembuskannya. Ia mengangkat sembah dada. Kekuasaan tanpa batas itu terbayang olehnya seperti cakra[anak panah dengan roda sebagai mata; lambang kekuatan Wisynu.] Hyang Wisynu yang mampu menembus segala.

Nyala damar di empat penjuru ruangan ia rasakan seperti karunia dari Hyang Surya sendiri, yang memberinya kekuatan, jauh lebih besar daripada sebelumnya kekuatan untuk mendapatkan segala. Dalam tunduknya ia tersenyum. Berbisik: "Jagad Dewa. Jagad Pramudita." Sudah beberapa hari ia tidak melihat suaminya. Kini ia mulai berubah menjadi orang lain seorang pribadi yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Para dewa mempergunakan tubuh hidup manusia untak melakukan kehendak mereka. Melalui tubuhku yang hidup akan kulakukan segala yang jadi kehendak mereka. Kini ia tidak lagi menyesali menetesnya darah pada malam pertama itu. Kini ia malah bersyukur pada detik perpisahan antara Dedes anak brahmana Mpu Parwa tiada arti menjadi Ken Dedes Sang Paramesywari. Ayahnya hanya bisa menge-camngecam Tunggul Ametung. Ia akan menaklukkannya. Dan waktu bulan semakin lambat juga terbitnya, sekali dalam iringan Rimang dan para pengawal ia berkunjung ke pura. Rimang kembali sebelum memasuki torana. Para pengawal menunggu dan berkemit di luar. Bahkan penunggu pura ia perintahkan pergi setelah membakarkan dupa-setanggi. Dengan kepergian Tunggul Ametung ia telah perintahkan mengubah susunan pura. Ia akan mendapat tantangan dari banyak orang, dan ia sengaja hendak menantang mereka.

ia langsung pergi ke sebelah utara, berlutut di hadapan Durga. Mula-mula ragu untuk mengucapkan sesuatu. Diangkatnya mukanya, menatap syakti Sang Syiwa itu, seorang dewi yang menakutkan dengan tangannya yang delapan. Patung kayu coklat tua mengkilat itu baru sepagi dipasang. Ia perhatikan tangannya satu demi satu, dan lambang-lambang yang dibawanya: sangkala, perisai, panah, busur, pedang .... Ia menunduk lagi. Dewi yang penuh mujizat itu .... Ia semakin menunduk, menurunkan sembahnya. Ia tak menyedari buahdadanya sendiri mengerjap seperti buahdada Sang Durga. Dulu ia selalu mempunyai perasaan takut padanya. Kekuasaannya dalam membinasakan menggetarkannya. Bahkan menyebutkan namanya ia gentar. Sekarang ia merasa mendapatkan kasihsayangnya. Dewinya yang bertangan delapan ini akan tumpas segala dan semua yang akan menghadang jalannya. Nenek-moyang telah menyiapkan pengertian ini. Mpu Parwa berkali-kali telah memberinya tafsir tentangnya. Seakan semua meretas jalan baginya untuk peristiwa hari ini. Dalam kepalanya muncul Banowati, istri Suyudhana, raja Kaurawa. Bekas pacar Arjuna itu pada suatu kali didatangi oleh kekasihnya yang menyuruhnya menerima pinangan Suyudhana. Dia harus jadi Paramesywari raja Kaurawa, untuk kelak dapat membantunya mengalahkan Kaurawa sendiri di medan perang Bharatayuddha. Ia angkat lagi kepalanya, menatap ke atas pada mata Sang Durga. "Inilah sahaya, ya, Durga, inilah Banowatimu, datang menyerahkan hidup dan mati suamiku padamu."

Ia terhenyak di tempat. Suara tawa mengakak itu terdengar memekakkan telinganya. Bulu romanya menggermang dan darahnya menjompak ke kepala. Ia berdiri dan dilihatnya patung itu sesekali tak membukakan mulut. "Permataku!" Ia berpaling ke arah torana dan dilihatnya suaminya berdiri bertolak-pinggang. "Mari, Permataku, betapa rindu kakanda sepekan berpisah, mari! Kau tinggalkan Bilik Agung kosong tanpa jiwa ..." tetapi ia tak berusaha naik ke pura. Ken Dedes kembali pada sikap-duduknya yang semula, meneruskan percakapannya dengan Hyang Durga: "Itulah suami sahaya, ya, Hyang Durga. Bahkan bicara denganmu pun hendak dihalanginya. Betapa telah hinanya kaum satria ..." "Ada banyak waktu untuk itu. Permata!" seru Tunggul Ametung dari torana. Ken Dedes tetap dalam keadaannya: "Inilah sahaya, Hyang Durga, Banowatimu, yang akan jual suami pada musuhnya," ia terhenti, menunduk dalam. Seakan ia dengar suara sayup dan lembut, keluar dari hati seorang ibu yang mencinta: Kau tegakan suamimu, anakku, hendak kau jual pada musuhnya sendiri? Siapa gerangan musuh suamimu?

"Kaum brahmana, ya, Hyang Durga! Belum lagi sahaya tahu benar, ya, Durga, adalah seorang brahmana muda, brahmana jiwanya, tapi tangannya tangan satria seperti kau. Suamiku telah lari dari dia, pergi menghadap ke Kediri, boleh jadi minta ba-labantuan. Lindungi dan sokonglah brahmana muda itu, ya, Hyang Durga!" Dan seakan ia mendengar jawaban: Bagaimana bisa, kau, lebih percaya pada brahmana muda yang belum pernah kau kenal? Namanya pun kau tidak tahu? "Hati wanita ini telah digerakkan oleh Hyang Mahadewa. ya, Bathari, tak mampu memungkiri untuk sekali dapat melihat wajahnya, mendengar suaranya, mengetahui hatinya. Tidaklah terlalu luas negeri Tumapel ini, ya, Hyang Durga Banowatimu ini ingin tahu siapa dia brahmana muda dengan kumis sekepal itu." Seakan ia dengan Durga tertawa mengakak membenarkannya, dan: Boleh jadi takkan lama kau akan tahu brahmana muda musuh suamimu itu. Tidak akan lama lagi .... Ia renungkan jawaban yang seakan didengarnya itu. Adakah itu suara Durga, atau mendiang ibunya sendiri yang tak pernah dikenalnya, atau hanya suara harapannya sendiri? Ia tak tahu. "Apapun yang kau katakan padaku, ya, Durga, melalui suara siapa pun, menjadilah pedang dan perisai pada tanganku dan petunjuk dalam hatiku." "Permataku! Betapa lama aku harus menanti?" seru suara itu.

"Itulah satria suamiku, ya, Bathari, yang tidak jera-jera memburu wanita, melepas segala kama yang ada dalam dadanya, seperti anjing yang tak kenal bapa lagi." "Apakah harus aku bopong kau keluar dari pura, Permata?" suara dari luar torana itu terdengar lagi. Ken Dedes mensujudkan diri pada kaki Durga. ia padamkan pancaindera memasuki alam darana[konsentrasi, pemusatan perhatian.]. Waktu terasa mati, bersama Hyang Mahakala merasuki Bathari Durga. Dan waktu ia telah bangun dalam kesedarannya, ia lihat Tunggul Ametung telah duduk di sampingnya. Bau wewangian menyerbaki tubuh pria itu. Jelas ia telah meninggalkan torana pura dan mandi, berganti pakaian dan bersolek diri. "Cukup, Permataku." Dedes bangkit berdiri, menundukkan kepala, tak menolak digandeng suami. Tangan itu lemah-lembut menariknya langsung ke gerbang Taman Larangan. Seorang prajurit mengunci kembali gerbang itu di belakang mereka. Taman Larangan itu senyap. Hanya mereka berdua di dalam, terkepung oleh pagar tanah liat bakar, kemudian lapisan dinding gedung pekuwuan yang memutari. Ia rasai tangan Tunggul Ametung mulai meremas jari-jarinya. Paramesywari itu menolak berjalan terus, membelok ke kiri dan duduk di bangku. Ia menunggu teguran suaminya karena telah menempatkan Durga dalam pura Wisynu. Dan Tunggul Ametung tidak menegurnya. Akuwu itu memeluknya. Hari ini adalah awal dari kebinasaanmu, Tunggul Ametung! Paling tidak juga Rimang menyertai aku.

"Kau tiada bertanya dari mana saja kakanda selama ini?" bisiknya mesra. "Urusan satria adalah mengurusi negeri." "Benar, Permata. Tiada aku sangka anak brahmana tahu tentang satria." Ia rasai tangan Akuwu pindah memeluk pinggangnya yang ramping seperti pinggang lebah. Dan ia membenarkan dirinya dipeluk. "Aku tunggu kemarahanmu." "Patutkah Akuwu Tumapel marah pada Paramesywari?" "Kau biarkan Hyang Bathari Durga ada di pura?" "Malam ini juga akan dipindahkan ke Bilik Paramesywari." "Kau takut pada Belakangka?" Ia tertawa, suka istrinya mulai mau bicara, kemudian: "Takut? Hanya saling memberi dan menerima." "Apa yang kau berikan dan apa yang kau terima?" Tunggul Ametung tertawa: "Itulah urusan satria, bukan brahmana." "Hyang Bathari Durga tak perlu dipindahkan"

"Sudah cukup kesulitan di Kediri karena Belakangka Jangan persulit aku." "Apa yang menyulitkan kau di Kediri?" "Itulah urusan satria." "Bukan, setidak-tidaknya bukan tentang agama[peraturan timbal-balik antara raja dan kawula.]. Karena menyangkut tentang Belakangka, kiranya tentang igama[peraturan timbal-balik antara dewa dan manusia.]. "Dasar anak brahmana. Hendak terus juga kau mengurusi soal igama?" Tunggul Ametung hendak membisukannya dengan ciuman, tetapi Paramesywari menyorong mukanya: "Kita selesaikan dulu ini." "Apa harus diselesaikan? Tiba-tiba kau mau bicara, dan tiba-tiba kau jadi begini keras. Apakah Rimang yang mengajari kau jadi begini? Barangkali dia ingin jadi budak." "Tak ada tambahan budak selama aku Paramesywari di sini." "Dia akan dikeluarkan dari pekuwuan." "Bukan Rimang, pedandi itu!" "Apa kesalahannya?" "Itulah perintah Paramesywari."

"Dan perintah Sang Akuwu yang sudah dikeluarkan, Durga harus keluar dari pura. Dia boleh tunggui kau di Bilik Paramesywari." "Terimakasih diperbolehkan aku tinggalkan Bilik Agung." "Kau belum lagi kuperintahkan," ia diam sebentar."Mari, hari sudah larut malam. Jangan kau lupa, akulah penguasa seluruh Tumapel." "Akulah Paramesywari." "Kau tak lagi ludahi aku, tak lagi pukuli dan cakari. Sama saja, hanya caranya yang berbeda. Tidak apa. Dengan kaulah semua kesulitan bakal teratasi. Mari," ia berdiri dan menarik Dedes. Paramesywari tidak membantah. Mereka berdua berjalan. Pintu ke arah Bilik Larangan diketuk. Pintu itu terbuka dan Rimang tampak berlutut mengangkat sembah. Tunggul Ametung berpaling ke kanan: "Itulah pintu Bilik Paramesywari. Dulu kau tinggal di situ tapi pintu itu belum pernah kau lalui. Tunggul Ametung menyibakkan tabir dari potongan ranting bambu petung. Rimang merangkak meninggalkan Bilik Agung, membawa bantal dan tikar ketiduran. Di bawah damar pojokan ia membiarkan dirinya dipeluk, dicium oleh Tunggul Ametung, kemudian dibopong naik ke peraduan. "Kakanda tak pernah sampaikan kepadaku tentang nasib ayahku."

"Semestinya dia datang pada Tunggul Ametung untuk merestui kita." "Mengertikah kau artinya seorang ayah?" ia lihat gelegak darah panas memerahi wajah suaminya. "Adakah ayahku kau bunuh?" "Tidak," jawabnya keras. "Kau begitu patut kau ketahui kata Hyang Durga padaku ..." Tunggul Ametung tibatiba melangkah mundur: "Bicara padamu?" "Paramesywari Tumapel tidak terlalu hina untuk Hyang Bathari. Tidakkah kakanda pernah dengarkan suara dewa?" Suaminya menggeleng. "Suara dewi?" sekali lagi menggeleng. Darah panas Akuwu susut, berubah mukanya jadi pucat. "Apa kata Hyang Durga padamu?" "Carilah ayahku, sekarang juga." "Prajurit-prajurit Tumapel akan mencarinya." "Tidak, oleh Akuwu Tumapel Tunggul Ametung sendiri." "Jagad Dewa! Tidakkah kita lewatkan saja malam ini, besok baru aku cari?"

"Bukan aku. Hyang Bathari sendiri yang bilang: sekarang juga, dan oleh Akuwu Tumapel sendiri" "Sendiri?"ia mencoba membujuk istrinya, duduk di peraduan. "Permataku! Permataku! Betapa mahal berparamesywarikan kau," ia mencoba mencium dan Dedes memberikan pipinya. "Pergilah, jangan kotori dirimu dan pikiranmu. Kewajibanmu pada ayahku belum pernah kau lakukan. Bulan pun sudah terbit." Tunggul Ametung melangkah meninggalkan ruangan Bilik Agung dengan kaki terseret berat. Dedes mengantarkan suaminya sampai ke tabir bambu. Waktu Rimang masuk lagi dan menggelar tikar di bawah peraduan, ia telah lenyap dalam tidur berbahagia. Semua beban telah diserahkannya pada Hyang Bathari Durga. Ia tahu, ia dapat taklukkan suaminya. Ia telah padukan cita dengan keyakinan. Pada wajahnya tersunting senyum - senyum abadi, senyum Ken Dedes. Rimang memperhatikan senyum itu. Menggeleng-geleng. Tubuh seindah ini, dengan senyum yang sesuci itu, harus diabadikan. Seakan wanita ini bukan seorang Paramesywari tetapi Hyang Laksmi sendiri .... Ken Dedes terbangun. Dunia dirasainya bergoncang-goncang hendak terbalik.

Rimang berdiri ter huyung-huyung di hadapannya tanpa mengangkat sembah.Tangannya menyambar Paramesywari dan bicara tergesa: "Gempa, Yang Mulia," ditariknya Dedes turun dan peraduan. Dengan terhuyung-huyung pula ia berjalan ke setiap pojok dan memadamkan damar. Bumi terasa kehilangan kekokohannya, mengombak dalam cahaya bulan tua. Sebuah tiang api melesit dari perut bumi, mengalahkan bulan dan bintangmintang, sekejap, jauh di barat sana, di balik lereng utara Gunung Kawi. Perut bumi terdengar menggeletar. Terhuyung-huyung Dedes meninggalkan Bilik Agung, meninggalkan Taman Larangan, keluar dari gerbang, lari terhuyung pula menuju ke pura. Patung Hyang Bathara Guru dan Hyang Bathari Durga sudah tak ada di dalamnya. Ia merangkak ke tempat bekas Bathari Durga, bertekuk lutut, angan tertengadah: "Mereka telah khianati kau, ya, Bathari. Apakah semua satria ini akan punah bersama dosa-dosanya? Semoga tidak seluruh titah alami nasib yang sama." Sebuah dari damar pura jatuh. Cairannya membelabar, membakar sebagian dan geladak kayu. Beberapa orang pengawal masuk ke dalam dan memadamkannya dengan kakinya. Salah seorang datang padanya, mengangkat sembah dan berkata:

"Yang Mulia Paramesywari, Yang Mulia Sang Akuwu sedang pergi. Lihatlah kawula Yang Mulia, titahkan sesuatu pada mereka dalam bencana menjadi-jadi seperti ini ..." Ken Dedes melirik pada pengawal itu. Tak dapat ia melihat wajahnya. Damar itu telah mati. Ia berdiri dan melangkah gontai keluar dari pura, turun ke bumi yang goyang. Dalam cahaya bulan tiang api itu berulang berdiri tegak dari perut bumi. Dan ia lihat semua orang berlutut memandang ke arah Gunung Ke-lud. Semua orang mengucapkan puji-pujian. "Berhenti kalian, nyanyikan puji-pujian untuk Hyang Durga," perintahnya, "tak ada kekuatan pada kalian untuk menahan murkanya," itulah pertama kali ia bicara di depan umum pada kawula. Mereka mengangkat sembah padanya. "Khianat! Perempuan khianat!" seorang pengawal memekik padanya, "mendirikan Durga di pura dalam." Dedes berpaling pada pengawal yang mengiringkannya. Lelaki berbadan perkasa itu mengangkat tombak dan melemparkannya pada pengawal lain yang masih memekik-mekik itu. Pekikan itu padam. Tubuhnya roboh dan tak bergerak lagi. Seakan telah jadi seorang brahmani penuh ia mengangkat tangan ke arah mulut Kelud yang menyemburkan kepundan. Ia tahu bumi goncang begini hanya karena amarah Bathari Durga yang dipindahkan dari pura. Seakan di hadapan sidang

rahasia kaum brahmana ia mulai menyanyikan baris pertama lagu puja untuk kebesaran Hyang Mahadewa. Orang bersama mengikutinya, tidak jelas, semua tak memahami Sansakerta. Baris demi baris telah ia ucapkan sampai selesai. Dan ia telah kehilangan ketakutannya sendiri. Seakan sendiri Hyang Bathari Durga, berkata: "Apakah sebabnya murka dewata ditimpakan pada bumi dan manusia seperti ini?" Waktu tak ada seorang pun menjawab, ia berjalan memasuki rombongan orang berlutut yang semakin padat itu. "Berdiri kalian semua." Dan semua kawula, laki dan perempuan, juga para pengawal, berdiri. "Tiada sesuatu cedera bakal menimpa kalian. Ingat-ingat hari ini. Mulai saat ini kembalilah memuliakan para dewa, tinggalkan dosa para satria. Hilangkan leluhur itu dari pikiran, dari hati, dari pura dan dari candi. Para dewalah yang sesungguhnya berkuasa, bukan leluhur siapa pun. Celakalah yang mendewakan leluhur. Lihat kalian di langit sebelah barat sana ..." Tiga buah payung api menyemprot berturut-turut ke udara, disusul oleh tiang api yang lebih rendah. Tiang-tiang itu kemudian semakin rendah, kemudian menetap tingginya seperti api yang keluar dari tanur pandai besi. Bumi semakin kurang meronta. "Ucapkan syukur kalian semua pada para dewa!" Semua bergerak pergi ke pura pekuwuan, mengiringkan di belakangnya. ia menaikkan terimakasih atas mujizat yang diterimanya, bahwa semua orang telah mendengarkan kata dan perintahnya orang sebanyak itu, laki dan perempuan, bintara dan prajurit biasa.

Waktu ia menuruni tangga torana prajurit pengawal itu menyambutnya dengan sembah: "Berlaksa terimakasih, ya. Dewi Kebijaksanaan." "Siapa namamu?" "Dadung Sungging, ya, Dewi Kebijaksanaan, prajurit pengawal Tumapel." Dari kejauhan nampak kebakaran terjadi di beberapa tempat. "Pergi kalian semua, selamatkan semua orang dan rumah dari api kebakaran. Panggil Kepala Pengawal." Yang dipanggilnya datang menghampiri, menghormat dengan gedikan tombak. "Siapa namamu?" "Pangalasan, Yang Mulia." "Tak ada prajurit boleh berlenggang tanpa kerja! Pekuwuan tak perlu dikawal. Paramesywari cukup dikawal oleh Dadung Sungging." Dalam cahaya bulan ia lihat semua prajurit pengawal lari ke semua jurusan di mana nampak api mulai memunahkan rumah. "Ya, Guru," gumam Dedes, "detik ini telah kau berikan padaku trisula. Semua dengarkan apa yang jadi kehendakku," ia jatuh berlutut dan tersedu-sedu penuh kebahagiaan dan syukur mendapatkan trisula pada tangannya. Dalam iringan Rimang dan Dadung Sungging, berkerudung kain penutup dingin ia berjalan seperti perawan anak Mpu Parwa dulu di desa sendiri, memeriksa semua bangunan pekuwuan. Di rumah tungguk kemit masih tersisa tiga orang prajurit pengawal. Mereka pun ia usir menyusul teman-temannya. Ia melangkah cepat seperti wanita petani, tak mengindahkan rambutnya yang buyar berantakan.

Di sebelah selatan kota tanah telah rengkah dan longsor, menyeret barang dua puluh lima rumah dalam timbunan kayu bakar, dan api menandingi Kelud. Mendekati surya terbit angin mulai meniup pelahan, kemudian kencang sejadijadinya menjurus ke barat Ia awasi sendiri penyelamatan rumah yang masih bisa diselamatkan, korban yang berjajar dalam balai kota, membubungkan orang, rintih dan aduh. Ia masuki balai kota dan melihat sendiri seorang dokter membedah kaki seorang bocah untuk mengeluarkan kepingan kayu dari dalamnya.Tangan dan kaki bocah itu diikat pada ambin dalam keadaan pingsan. "Kau biarkan anak kecil ini pingsan dalam kesakitan," tegurnya, "hanya karena dia anak paria!" Dokter itu meneruskan pekerjaannya, berpaling dan membentak: "Diam kau perempuan celaka." "Siapa gurumu, maka anak yang tak dapat membela diri ini tak kau bius sebelumnya?" Dokter itu meletakkan pisau, membentak sekali lagi: "Tahu apa kau, perempuan celaka? Pergi!" dan meneruskan pekerjaannya. "Tak sepatutnya brahmani dapat jawaban seperti itu. Aku perintahkan padamu: bius!" Seakan trisula Hyang Guru tergenggam di tangan dan diacukan padanya.

Dokter itu berbalik. Lampu pada tangan pembantunya memancarkan sinar pada profil Ken Dedes dengan mahkota pita bertaburan intan permata dan pada profil dokter yang sudah tua itu. Orang tua itu mengangkat sembah dengan lutut kehilangan tenaga, jatuh ke lantai: "Ampun." Paramesywari Tumapel melangkah meninggalkannya. Dokter itu mendapat kekuatannya kembali, berdiri dan segera mengikuti langkahnya. "Ampuni sahaya, ya, Yang Mulia," bisiknya. "Ampuni dia, ya, Dewi Kebijaksanaan," Dedes dengar suara Dadung Sungging. Ia berhenti dan berpaling sedikit. Tidak mudah seorang brahmani memberikan ampun kunci rahasia keseraman brahmana. Ia berpikir apa harus diperbuatnya. "Siapa namamu?" "Orang memanggil sahaya, Dalung, ya, Yang Mulia." "Ampun untukmu. Dalung." Dokter itu menjatuhkan diri dan menyembah. Ken Dedes berpaling pada Rimang, berbisik: "Adakah dia orang yang tak kenal para dewa?" "Dilahirkan di desa jauh. Yang Mulia, seorang dokter tercakap, hanya juga jauh dari kebijaksanaan. Patut diampuni. Yang Mulia." Ayam yang berkokok menyambut datangnya hari baru memberi tanda bumi sudah takkan tergoncang lagi. Tetapi awan hitam mulai menutup langit. Segala benda angkasa hilang ditelannya. matahari pun tak mampu memunculkan muka. Bahkan

nyala damar dan kebakaran yang belum terpadamkan mulai jadi redup, seakan Hyang Agni[dewa api] sudah jadi rabun tua, dan itu pun kemudian hilang dalam kekelabuan. "Kembali, Yang Mulia," Rimang memperingatkan, kemudian menuntun Paramesywari mencari jalan pulang, menggerayang dengan tangan dan kaki. Udara sesak dihirup mengandung panas dan bau belerang. Sepanjang jalan Ken Dedes menggumamkan mantra. Dan jalan pulang itu terasa sangat, sangat jauh. Orang tak tahu lagi waktu. Dari sana-sini terdengar para prajurit pengawal berseru mencari Sang Paramesywari. Dan Ken Dedes tidak menjawab. Waktu pada akhirnya sampai di pendopo pekuwuan, Yang Suci Belakangka berdiri di antara damar-damar yang menyala besar. "Yang Mulia Paramesywari," tegurnya, "semua orang sedang mencari Yang Mulia." "Apakah patut Yang Suci tinggal aman di sini, sedang yang lain menyelamatkan yang sengsara?" tegurnya kembali. "Para dewa telah mengutuk manusia yang berdosa. Tak ada sesuatu yang bisa mencegah datangnya hukuman. Mereka hanya harus menjalani." "Para dewa telah menghukum. Bayi-bayi yang baru lahir itu dihukum, boleh jadi sama sekali tanpa dosa. Apakah Yang Suci tidak pernah belajar ugama?[peraturan yang berlaku antara sesama manusia.] Para dewa benar telah menghukum, bukan Yang Suci.Yang Suci hanya seorang titah," tukasnya berang, dan terus masuk ke Bilik Agung.

Ia tak peduli pada pandang gusar Belakangka yang tak dapat menembusi halimun debu itu. Selama tiga hari kabut debu merajalela. Semua yang tergelar di atas bumi terselaputi olehnya. Waktu matahari mulai kelihatan lagi, hanya pasir lembut itu juga yang nampak kelabu. Murka sang Kelud telah reda. Angin silir meniup ke dalam hati semua kawula Tumapel. Orang mengagungkan Ken Dedes sebagai Dewi Kebijaksanaan. Perintah yang diberikannya pada para pengawal, peristiwa dokter Dalung, telah menimbulkan harapan pada orang kecil akan datangnya tangan Sang Pelindung. Dan orang tidak menguatirkan hilangnya Tunggul Ametung. Kalau toh Sang Akuwu hilang ditelan tanah rengkah, Sang Paramesywari akan jadi penggantinya yang lebih baik. Di antara semua yang menderita hanya Yang Suci yang paling gelisah. Ia tak dapat menenggang kenyataan melihat Ken Dedes nampak tiba-tiba menjadi keras, angkuh dan galak terhadap dirinya. Lebih dari itu: nampak dibenarkan oleh semua kawula. Ia membutuhkan banyak waktu untuk berpikir, mencari jalan untuk menundukkannya. Dedes bisa menggenggam Tunggul Ametung dalam pengaruhnya. Dan itu tidak boleh terjadi. Pada sore hari datang Tunggul Ametung dalam tandu, digotong oleh empat orang prajurit pengawal.

Paramesywari menyambutnya di pintu Bilik Agung. Ia diistirahatkan di peraduan. Belakangka, Dalung dan pembantunya segera mengepungnya. juga Sang Patih. Dan Yang Suci itu tidak menyingkir terhadapnya. Ia merasa Pandita Negeri itu sengaja hendak meremehkannya. Patih Tumapel berlutut di depan kaki Sang Akuwu. Nampaknya juga merasa tidak senang melihat Yang Suci seperti sengaja hendak memagari semua orang agar tak terlalu dekat pada Tunggul Ametung. Ken Dedes masih dapat dengar suara bisik suaminya: "Bagaimana brandal itu? Apakah belum ada beritanya?" "Belum, Yang Mulia," jawab Yang Suci mengambil kata-kata dari mulut Sang Patih. "Sang Patih telah mengerahkan seluruh kemampuannya. Malahan keterangan tentangnya tak bisa didapatkan." "Sahaya tetap pada pendirian sahaya, Yang Mulia, Borang atau Arih-Arih atau Santing itu sama saja. Tetapi mengapakah Yang Mulia sampai cedera begini?" "Yang Mulia membutuhkan kekuatan sendiri. Jangan pikirkan si brandal itu," Belakangka menengahi, "serahkan semua pada sahaya, Yang Mulia, dan beristirahat dalam perawatan ter-percaya dari Dalung." "Bagaimana cedera Yang Mulia, Dalung?" tanya Sang Patih. "Kaki kanan Yang Mulia ini jelas patah. Yang kiri hanya ter-pelecok."

"Rupanya karunia yang dijanjikan kurang mencukupi," susul Tunggul Ametung. "Bapa telah rencanakan untuk melipatgandakan. Yang Mulia," sambar Belakangka. "Apa kata Dang Hyang Lohgawe?" "Ampun, brahmana terkutuk itu tidak ada di tempat. Setiap hari dijenguk, setiap hari belum muncul." "Sudah berapa lama disambangi'" "Lima hari, Yang Mulia." Tunggul Ametung mencoba duduk, tetapi disorong oleh Dalung dan tergeletak lagi. "Lima hari! Mpu Parwa juga tak ada di rumahnya. Sudah lebih sebulan." "Tidakkah sebaiknya diadakan pemeriksaan atas semua brahmana yang diakui dan tidak di seluruh Tumapel? Tak mungkin mereka pergi tanpa sebab penting." Hati Ken Dedes meriut. ia merasa Belakangka sengaja hendak mengecilkan dirinya sebagai Paramesywari. Lambat-lambat ia menghampiri ranjang, memperlihatkan diri bukan seorang yang mudah untuk disingkirkan. Dalam keadaan tegak berdiri ia menegur: "Kakanda datang dalam keadaan begini rupa" tak menghiraukan Pandita Negeri itu. "Permataku!" seru Tunggul Ametung,"mendekat sini. Kecelakaan telah menghalangi pencarianku ..."

Dalung mengangkat sembah pada Dedes dan meneruskan pekerjaannya. "Para dewa belum merestui," jawabnya. "Betapa nyeri kakanda deritakan." "Tidak, Permata." "Seorang satria takkan mengaduh karena nyeri. Yang Mulia Paramesywari," susul Belakangka,"sebentar lagi tentu akan sembuh seperti sediakala." Merasa sedang dikecilkan, dalam hati ia panggil-panggil Hyang Mahadewa, menjawab: "Bukan tempat dan bukan waktunya bicara di depan suami cedera seperti ini,Yang Suci!" "Ampun. Yang Mulia," sebut Sang Patih, "sebaiknya sekarang ini Yang Mulia harus segera beristirahat secukupnya. Adapun tentang urusan negeri akan sahaya terima titah melalui Yang Mulia Paramesywari." "Yang Mulia Paramesywari akan terlalu sibuk mengurus Sang Akuwu. Lagi pula seorang brahmana tidak punya perhatian pada urusan negeri," sambut Belakangka. Tunggul Ametung melambaikan tangan menyuruh semua pergi kecuali dokter dan pembantunya dan Paramesywari. Sang Patih mengangkat sembah dan berjalan merangkak mundur. Yang Suci Belakangka mundur beberapa langkah dan berhenti, berkokoh hendak tinggal dalam Bilik Agung.

"Semua brahmana, Yang Mulia, tercatat atau tidak, akan dipanggil ke Kutaraja dengan perintah Yang Mulia." "Tiada kudengar Yang Mulia Akuwu jatuhkan perintah itu," bantah Ken Dedes. "Yang Mulia ..." Tunggul Ametung mendesis kesakitan. Ken Dedes melambaikan tangan menyuruhnya pergi. Belakangka berbalik dan meninggalkan Bilik Agung. "Permataku," panggil Tunggul Ametung. Ia berhenti dan meringis kesakitan. "Mengapakah kau sekeras itu terhadap Yang Suci? Bukankah itu tidak patut?" "Terserahlah padamu siapa yang lebih kau butuhkan. Kalau dia, biarlah aku tinggalkan Bilik Agung," ia berbalik dan melangkah menuju ke pintu. "Dedes! Ah, Dedes, betapa kau tega perlakukan aku begini! Dedes!" Ken Dedes berhenti di bawah tabir potongan ranting bambu petung, berbalik, kemudian kembali menghampiri suaminya. "Betapa cepat kau berubah. Sini," ditariknya istrinya, dipeluk dan diciumnya. Berbisik: "Sekiranya kau tahu siapa Yang Suci....," ia terhenti karena menahan sakit. "Belum selesai, Dalung?"

Setelah memperbaiki letak otot-otot kini Dalung dan pembantunya menarik kaki yang patah itu, membalutnya dengan kerai kayu, kemudian dengan kain. Tunggul Ametung bermandi keringat, meringis dan mero-ngos, mengerutkan gigi dan kening, kemudian jatuh pingsan. Ken Dedes menyeka muka suaminya dengan kain basah, membuka destarnya dan mengairi rambutnya. Waktu suaminya bangun, segera ia mengerang-ngerang, menyambar lengan istrinya dan menariknya pada badannya. "Janganlah begini," tegah Dedes halus, "kau masih sakit." Dokter dan pembantunya undur beberapa langkah, kemudian duduk di lantai. Ia mengangkat sembah, kemudian: "Selesai, Yang Mulia." "Pergilah kau, anjing pembikin sakit!" Ken Dedes menutup mulut suaminya dengan tangan, berpaling pada Dalung: "Terimakasih banyak, ya, Dalung, semoga dikurniai kau kesejahteraan oleh Hyang Kuwera."[dewa kekayaan, pada patung atau relief dapat diketahui dari hadirnya gana, orang-orang kecil yang membantunya.] Tunggul Ametung menyingkirkan tangan istrinya. "Belum juga kau pergi?" tanyanya dengan mengangkat kepala. "Yang Mulia Akuwu tidak seyogianya meninggalkan peraduan. Yang Mulia Paramesywari, segala kebutuhan pokok Sang Akuwu harus dilayani di peraduan ini juga," ia mengangkat sembah lagi dan keluar dalam iringan pembantunya yang membawa keranjang perkakas.

"Permataku!" "Tidak layak menganjingkan seorang yang telah menolong." "Juga tak layak kau perlakukan Yang Suci." "Aku bukankah Paramesywari?" "Dia bukan kawula Tumapel, bukan kawulaku. Dia orang Kediri yang ditanam di sini untuk mengawasi aku." Belakangka adalah tangan-tangan Kediri, Sri Baginda Kretajaya. Di hadapan mata batin Ken Dedes terbuka suatu pengertian baru: Tunggul Ametung ternyata bukan yang paling kuasa di Tumapel. "Kau mau mengerti, Permata? Aku pun risi didekatinya." Ken Dedes untuk pertama kali mencium wajah suaminya dan membelai dadanya yang berbulu. "Bicaralah, Dedes." "Ayahku pun belum kakanda temukan." "Kelud menghalangi. Permataku. Para dewa belum membenarkan. Tahanlah dahulu rindumu." "Ya, para dewa belum membenarkan, dan kakanda terluka begini," ia periksa bebatan, "tetapi kakanda tidak dihalangi dalam melakukan tugas negeri. Ada Paramesywari yang membantumu." "Dedes! Dedes! kau terlampau muda untuk mengetahui urusan negeri."

"Barangsiapa tidak tedalu muda untak jadi Paramesywari, dia pun cukup tua untuk mengetahui urusan negeri." "Belum, belum mungkin, Dedes. Melihat sidang negeri pun kau belum pernah." Ken Dedes mencium wajah suaminya, berbisik: "Kakanda membutuhkan kekuatan sendiri. Aku yang menghalangi kakanda melakukan tugas negeri. Kakanda harus segera sembuh." "Ken Dedes, Ken Dedes, barangkali juga benar yang aku dengar orang menyebutnyebut kau Dewi Kebijaksanaan. Nampaknya orang pada memuji kau." "Diamlah, diamlah, kakanda sedang menderita begini." "Apalah arti cedera ini dibandingkan dengan karunia mendapatkan seorang dewi seperti ini? Tidak keliru para dewa menunjukkan padaku untuk memilih kau." "Jangan badan digerakkan begini," dan diciumnya leher suaminya. "Betapa bahagia diri kakanda merasa beruntung mendapatkan anak desa ini." "Dan kau begitu galak tadinya, mencakar, meludah dan memukul Lelah itu lantas pingsan di pelukan."

Ken Dedes tersenyum mengenangkan peristiwa itu sebagai kejadian yang tak dapat dielakkannya lagi satu keharusan dari para dewa untuk sampai pada kebulatan tekad sekarang. Tunggul Ametung menangkap tangan istrinya dan tak dilepas-kannya lagi. "Betapa terbakar hati melihat dewi secantik ini, dan badan terbelenggu karena cedera." "Jangan tantang, jangan langgar yang para dewa tidak perkenankan. Kalau kakanda rusuh di hati, biarlah Dedes yang selesaikan." Tunggul Ametung tertawa. "Aku lihat hati kakanda memang sedang rusuh karena si Borang, Arih-Arih dan Santing." "Anak desa yang nakal itu. Sebentar lagi dia akan lenyap bersama dengan debu Kelud. Jangan ikut rusuh karena dia." "Seorang anak desa yang dapat merampas upeti setengah tahun bukanlah anak nakal," bisik Ken Dedes. "Yang setengah tahun bisa jadi setahun. Badan kakanda naik suhu begini. Siapakah Borang, Arih-Arih dan Santing?" "Tak perlu kau tahu, Dedes. Di luar pekuwuan kau tidak mempunyai sesuatu urusan."

"Tentu dia seorang Buddha," Dedes memancing-mancing. "Aku harap memang begitu." "Ah. kakanda, mengapa harapan dimasukkan dalam hitungan?" Tunggul Ametung mendesis kesakitan. "Kakanda membutuhkan minuman panas," bisiknya,"biar aku uruskan sebentar." Tunggul Ametung melepas lengan istrinya dan membuang muka. Wajahnya kejang dan giginya berkerut. Dedes masuk lagi bersama Rimang yang membawa talam. Melihat Rimang Tunggul Ametung mengangkat kepala: "Rimang!" ia melambai, mendesis, "jangan biarkan kepalamu jatuh dari lehermu. Apa saja telah kau bisikkan pada Sang Paramesywari?" "Apalah artinya sahaya ini maka membisikkan sesuatu pada Yang Mulia Paramesywari? Tiada sesuatu,Yang Mulia." Dedes mengambil cawan air gula kelapa dan membantu suaminya minum daripadanya:

"Jangan berhati rusuh, kakanda. Apalah artinya perempuan desa seperti dia. Tak ada sesuatu barang apa," berpaling pada Rimang, "pergi kau!" Kembali ia seka wajah suaminya," Betapa kau rusuhkan hati karena si Rimang saja. Bukankah murka para dewa sudah cukup sehingga kakanda cedera begini?" Dengan demikian hari itu berlalu tanpa sesuatu kejadian. Lima puluh hari Tunggul Ametung terikat pada peraduan dan tergantung pada Dedes. Anak gadis desa itu dengan gigih menolak setiap orang yang hendak menghadap, dan dengan segala cara memaksa mereka menyampaikan pada dirinya. Terlalu banyak yang diketahuinya tentang urusan negeri dalam waktu sependek itu. Juga tentang Borang, Arih-Arih dan Santing yang muncul di mana-mana. Juga tentang Dang Hyang Lohgawe yang datang ke pekuwuan atas panggilan Yang Suci. Betapa ingin ia menemuinya sendiri dan belum mungkin. Belakangka akan memagarinya. Juga ia dengar tentang ayahnya: ia telah pulang, mengutuk penduduk desa yang tak dapat melindungi anak gadisnya, menyumpahi agar mereka kematian sumber air, dan agar Tunggul Ametung akhirnya tumpas dibunuh orang. Kemudian ayahnya meninggalkan desa Panawijil dan tak kembali lagi. Ia tak tahu benar, benar tidaknya berita itu. Sikap ayahnya menjadi petunjuk baginya, perkawinannya memang tidak direstuinya. Sikapnya terhadap Tunggul Ametung bukan saja tidak berubah, malah jadi semakin tegar. Ia makin menyedari di mana tempatnya antara seorang ayah dan suami. Ia berpihak pada ayahnya, tetap seperti semula. Sekali peristiwa waktu ia meneruskan laporan tentang kegiatan Borang, Arih-Arih dan Santing, ia mendesak: "Rasa-rasanya memang dia seorang brahmana muda. Mengapa kakanda belum juga membenarkan? Brahmana muda, ya, brahmana muda. Itu sebabnya janji karunia dilipat-sepuluhkan." "Dedes, mengapa kau siksa aku begini rupa?" "Hanya untuk dapat meyakini, makin meyakini kekuasaan para dewa. Hanya orang Buddha

yang menganggap diri bisa meruwat diri sendiri untuk pembebasannya. Hanya impian be laka, bukankah demikian, kakanda? Impian belaka." "Diam, kau, Dedes." "Bahkan para dewa pun masih memerlukan peruwatan untuk pembebasannya. Kalau tidak, tidak mungkin ada cerita Carudeya dan Suddhamala." "Apa sesungguhnya maksudmu, Dedes?" "Kaki kakanda cedera begini. Tapi kebencian kakanda pada kaum brahmana tidak ikut cedera. Itu sebabnya kakanda belum juga mau membenarkan, orang itu adalah brahmana muda. Dan untuk jiwanya hadiah itu dilipat-sepuluhkan." "Bicaralah pada Yang Suci. Beri aku air jeruk." Dedes pergi ke pintu dan memberikan perintah. Ia senang mendapatkan perkenan itu. Demi trisula Bathara Guru dan cakrawartinya[kekuasaan atas alam semesta], Belakangka harus takluk padanya dan mempersembahkan semua isi hatinya. Pandita Negeri itu tak boleh lebih lama berusaha menindas, memaksa, seakan ia hanya hambanya belaka. Apakah arti Belakangka dibandingkan dengan Mpu Parwa, ayahnya? Ia telah membaca naskah ayahnya yang sudah selesai, cerita tentang seorang anak brahmana yang meninggalkan kastanya untuk jadi satria, mendapatkan kebesaran dunia yang ternyata tidak memuaskan hatinya, karena dunia makin lama makin jadi beban bagi hati kecilnya, kemudian kembali jadi brahmana, bertapa seorang diri untuk meratapi kekeliruannya. Apakah yang sudah ditulis oleh Belakangka? Tak pernah terdengar beritanya. Ia bantu suaminya minum air jeruk itu, dan minta ijin untuk menemui Belakangka.

Yang Suci sedang duduk membaca mantra aksamala di pojok-an pendopo. ia perhatikan gerak jarinya sampai mencapai kepala aksamala, dan: "Yang Suci!" Belakangka membuka mata dan nampak bersiaga: "Yang Mulia," kacanya lunak. "Dengan perkenan Sang Akuwu, katakan pada sahaya dari mana asal brahmana muda bernama Borang, Arih-Arih dan Santing itu?" "Apa guna Yang Mulia hendak mengetahui? Sang Patih pun belum berhasil menjejaknya." "Jadi dia seorang brahmana muda?" "Seorang brahmana takkan berbuat kejahatan, Yang Mulia. Semua brahmana yang diakui oleh Tumapel tercatat dalam ron-tal. Tak ada nama Borang, Arih-Arih atau Santing. Dia atau mereka hanyalah penjahat, Yang Mulia Paramesywari, hanya brandal yang mengharapkan jatuhnya pedang pada lehernya." "Berikan rontal itu padaku." "Ampun, itu di luar kuasa Bapa." "Jadi sahaya harus datang pada Sang Patih?" "Tidak. Tak ada wanita diperkenankan menjamah urusan para dewa."

Ken Dedes kembali ke Bilik Agung. Ia mengerti, Belakangka tak suka ia mengetahui sesuatu tentang urusan negeri. "Sudah kau dengar, Dedes?" "Tiada sesuatu." "Dia bisa jatuhkan semua kepala dari lehernya." Ken Dedes menatap suaminya, mencoba menerka, apakah Belakangka dipergunakan suaminya untuk memomokinya, ataukah memang momok untuk setiap orang, termasuk suaminya sendiri. Mata Akuwu tidak berkedip. Juga tidak waktu tangannya meraih tangannya, memeluknya dan berbisik mesra: "Dedes, Dalung telah menyatakan aku sembuh." "Terimakasih pada para dewa belum lagi dipanjatkan di pura, kakanda." "Para dewa adalah abadi, mereka mempunyai kesabaran dalam menunggu. Manusia berumur pendek." "Ayahku pun belum kakanda dapatkan." "Juga dia bisa kehilangan kepalanya." Ia mengerti, suaminya mulai mengancamnya. Ia menggigil Hatinya meriut kecil. Ia ketakutan. Ia takkan lupakan upacara pemberian nama itu, yang ditutup dengan: "Dengan namamu yang baru, Arok, Sang Pembangun, kau adalah garuda harapan kaum brahmana."

Arok masih tetap berlutut. Malam semakin sunyi diselingi gelepar kalong menyerbui tajuk pepohonan buah. "Garuda harapan kaum brahmana," ia mengulangi, pelan. "Para dewa tidak tunjukkan padamu untuk jadi talapuan."[Talapuan, di sini dimaksudkan sebagai kata ejekan untuk pertapa Buddha.] "Para dewa tiada tunjukkan pada sahaya untuk jadi talapuan," ulangnya lagi. "Kau akan kembalikan cakrawarti Bathara Guru Sang Mahadewa Syiwa." "Kembalikan cakrawarti Bathara Guru Sang Mahadewa Syiwa." "Kembalikan keseimbangan Jagad Pramudita." "Kembalikan keseimbangan Jagad Pramudita." "Hari sudah larut, Arok. Kembali kau. Bersamadi kau sampaikan terimakasih Jangan tinggalkan rumah. Besok akan kujemput kau dan akan kubawa," dan dengan itu ia usap ubun-ubun Arok yang tiada berdestar, dengan dua belah tangan memegangi bahu bidang pemuda itu dan menariknya berdiri, kemudian ia sendiri tertatih-tatih pergi .... Sore ini mereka berdua masih juga dalam perjalanan. Guru itu di depan, ia di belakangnya dengan tongkat tangkai tombak pada pundak memikul .bungkusan barang keperluan gurunya dalam kain biru. Hanya kadang ia perhatikan kaki tua gurunya yang berte-rompah upas itu telah jadi kuning coklat karena debu jalanan, ia heran mengapa kaki tua itu belum juga lelah. Dan baru sekali ini ia saksikan guru itu menempuh perjalanan sejauh itu. Perhatiannya lebih tertarik pada kelilingnya - gunung-gemu-nung yang serasa tiada kan habis-habisnya, berlapis-lapis me-nyintuh langit. Jalanan negeri sudah lama

ditinggalkan. Juga jalanan desa. Sekarang memasuki yang kurang terawat, yang juga menarik perhatiannya. Ia simak dan pelajari selintas bekas-bekas manusia dan binatang, menaksir kapan kiranya mereka melalui terakhir kali. Juga ranting-ranting di atasnya, apakah patah karena terinjak atau karena jatuh dari dahan, atau memang karena sudah terlalu lama terkapar di udara terbuka. Juga tapak kaki yang tertinggal pada botakan jalanan ia taksir berat yang meninggalkannya. Juga suara angin dan suara tambahan di dalamnya. Juga warna-warni di hutan sekelilingnya. Parang pada pinggang tak pernah dirasakannya. Alat itu telah menjadi bagian dari tubuhnya sendiri. Parang pilihan, pemberian pemuda-pemuda Pangkur padanya, sebagai tanda pengakuan untuk pimpinan tertinggi. Ia tahu betul siapa pemilik terdahulu dari parang langsing itu, dan ia tak mau mengenangkannya. Kalau ia teringat pada pemuda-pemuda itu dengan sendirinya tangannya menggagapi pundi-pundi yang tersembunyi di balik ikat pinggang. Di dalamnya tersimpan sekeping mata uang emas dengan gambar seorang lelaki berhidung sangat mancung, tanpa badan, hanya sampai dasar leher. Bila seorang diri kadang ia memandanginya dan mengherani mengapa ia tak dapat membaca tulisan tertera di bawahnya. Dang Hyang Lohgawe belum juga mengatakan hendak ke mana. Ia tahu jalan yang ditempuhnya ini menuju ke Gunung Kawi. Sampai di bawah pohon asam hutan orang tua itu baru berhenti. Buru-buru Arok menghampiri, mengambil bungkusan pada ujung tongkat tombak dan membukanya di hadapan gurunya. Dan suatu jarak ia perhatikan Lohgawe makan sekepal ketan dengan daging serbuk, kemudian minum tiga-empat teguk air enau dari kalabasa yang terbuat dari buah labu bungkik. Ia tahu apa hendak diperbuat selanjutnya: menyorong sisa makan dan menyuruhnya menghabiskannya.

Dan Arok menghabiskan sisa gurunya. "matahari telah tenggelam," katanya. "Ya, Bapa." "Kita akan sampai tepat pada waktunya." "Barangkah lebih cepat, Bapa." "Lebih baik. Mungkin agak terlambat sedikit. Rasa-rasanya semakin pendek dan pelan juga langkahku." "Cukup panjang dan cepat, Bapa." Mereka duduk diam-diam. Burung-burung ramai berkicau di seluruh hutan. Guru itu mengamat-amati tongkat peno-lak-ularnya yang berdebu, kemudian menyekanya dengan selembar luruhan daun kering. "Hari ini kau kubawa pergi. Tahu ke mana?" "Tidak, ya, Bapa. Mungkinkah ke Kawi?" "Ya, ke Kawi. Tahu untuk apa?" "Tidak, ya, Bapa. Barangtentu untuk keperluan sangat penting, ya. Bapa." "Setidak-tidaknya juga untuk kepentinganmu sendiri sebagai garuda kaum brahmana. Ada kau dengar karunia yang dijanjikan oleh Tunggul Ametung?"

"Dengar, Bapa." "Siapa mampu menangkap kau?" ia mendesis. "Karunia apa itu. Emas lima puluh saga dan perak seratus lima puluh catak! Dibandingkan dengan karunia yang pernah diberikan oleh Sri Erlangga, uh, itu bukan karunia, sama dengan tulang dilemparkan pada anjing kelaparan. Sri Erlangga memang pemurah, pengasih dan penyayang. Semua keturunannya hampir-hampir tak ada yang seperti ia. Apalagi Sri Kretajaya. Biarpun begitu ..." Arok hafal betul akan sambungannya: "Dia bukan guru terbaik untukmu. Kaum brahmana dari Mataram telah mengangkatnya jadi raja. Tahun berapa itu, Arok?" "Sembilan ratus tiga puluh dua, ya, Bapa."[Tahun 932 Saka. Untuk memasehikan harus ditambah dengan 78.] "Ya, duaratus sepuluh tahun yang lalu. Dialah justru orang pertama-tama yang mengkhianati kita, mengkhianati bapa mertua sendiri, Sri Teguh Dharmawangsa. Memang dia yang membangunkan kembali Mendang, menjadilah Kahuripan.[nama baru bagi Mendang setelah dibangun kembali oleh Erlangga setelah dihancurkan oleh Wuri-Wuri Sriwijaya.] Tetapi dialah pula yang memunggungi Mahadewa Syiwa, merusak tata Jagad Pramudita. Keturunannya tak ada yang lebih baik, kataku. Sri Baginda Kretajaya setia pada pengkhianatan itu. Apa katamu, garudaku?" "Tata Jagad Pramudita harus dipulihkan, ya. Bapa."

"Ya, kau ingin menjoloknya. Ah, murid yang tahu kehendak para dewa, tidak percuma kau berguru padaku. Tidak percuma kubenarkan kau meningkatkan diri dari sudra jadi satria, juga kau bisa jadi brahmana mulia. Ada sepenuh syarat padamu sudra-satria-brahmana ada dalam dirimu. Kaulah kesatuan indah, takkan terjadi sekali dalam seratus tahun." Ia tak bicara lagi, berdiri dan mulai meneruskan perjalanan, langsung menuju ke Gunung Kawi. Jalan itu turun naik, gelap oleh payungan pepohonan. Arok berpikir keras tentang maksud gurunya. Bukan tanpa maksud ia mengajaknya bicara. Ia menduga-duga, barangkali ia hendak diajak bersamadhi bersama di sesuatu tempat suci. Seorang brahmana, telah tua pula, tak mungkin meninggalkan pedepokan, menempuh jarak begitu jauh, tanpa terpanggil oleh sesuatu yang terlalu penting. Makin gelap dan makin gelap. "Belumkah Bapa memerlukan penerangan?" Dang Hyang Lohgawe berhenti, memberi kesempatan pada Arok untuk menyalakan obor damar. Kini mereka berjalan berjajar. Arok di kiri dengan obor di tangan kiri. Berjalan lambat-lambat begini ia jajarkan kembali pengetahuannya yang sedikit tentang mahagurunya Setelah membacai naskah yang ditemukannya dalam sebuah gua yang tidak ditinggali, ia tak jadi bertapa. Naskah itu meriwayatkan kebesaran Buddha Mahayana, seluruhnya dalam Sansakerta tanpa ada sepatah kata Jawa pun. Ia terpesona oleh penggambaran tentang mahaguru Dharmakirti dari Suarnadwipa, yang menjadi jiwa kebesaran Sriwijaya, tentang Wajrabodhi yang menyebarkan Tantrayana di Sriwijaya dan Cina, tentang mahaguru Dharmapala dari Perguruan Tinggi Nalanda, murid dari mahaguru Dignaga dari Perguruan Tinggi Kansyi, tentang Na-garjuna. tentang Aryadewa, tentang Dipangkara, yang setelah belajar

di Sriwijaya kembali ke Tibet dan melakukan pembaharuan kepercayaan Buddha di negerinya. Ia tinggalkan gua itu, turun dari gunung ke Tuban dan bela-yar menuju ke Benggala Ia bertekad hendak mencari rahasia kekuatan Buddha, mengapa sampai dapat mengalahkan kekuatan-kekuatan Syiwa Sampai di Langka ia berkenalan dengan seorang biksu Viri-yasanti Persahabatan yang mesra itu kemudian melahirkan percakapan semacam ini: "Apa perlunya Yang Terhormat mencari rahasia kekuatan kepercayaan Buddha? Bukankah kekuatan itu tersembunyi dalam diri setiap pribadi? Dari sekian banyak pribadi itu, satu yang tampil, yang lain melaksanakan. Kebesaran duniawi pun dapat dicapai, karena yang lain sudi bersujud jadi budaknya. Yang satu itulah raja. Apakah Yang Terhormat berkeinginan jadi raja?" "Tidak." "Kalau begitu tidak perlu Yang Terhormat pelajari kekuatan yang bertujuan melahirkan kebesaran duniawi itu." Dengan demikian ia tak jadi pergi ke Perguruan Tinggi Na-landa untuk mempelajari agama Buddha Mahayana dan Tantra-yana ataupun Mantrayana. Ia mempelajari Buddha Hinayana, mempelajari dari awal bahasa Pali. Lima tahun ia tinggal di Langka, tidak pernah menjenguk Perguruan Tinggi Nalanda, berkelana ke Colamandala[Coromandel.] Burma dan Campa, kemudian kembali ke Jawa. Buddha Hinayana tidak pernah jadi keyakinannya. Tinggal hanya pengetahuan. Juga Buddha Mahayana, Tantrayana, Mantrayana. Ia tetap seorang Syiwa.

Kembali di Jawa, di Kediri, ia berusaha membangkitkan semangat rekan-rekannya untuk mendudukkan kembali Hyang Mahadewa Syiwa pada cakrawartinya yang sesungguhnya. Dan bukan tanpa hasil. Lohgawe sudah melihat mulainya kebangkitan Syiwa. Tinggal satu langkah lagi, dan ia sudah akan dapat mempengaruhi Sri Baginda Kretajaya. Tetapi Mpu Tanakung adalah benteng baginda yang tak dapat dilaluinya. Ia bahkan terpental jauh, menyelamatkan diri ke Tumapel sekarang. Namun kaum brahmana tetap menghargainya. Dalam suatu sidang brahmana barang tujuh tahun yang lalu telah dikeluarkan gelar Dang Hyang untuknya dan Lohgawe sebagai sebutan untuk pribadinya yang tak jera-jera bekerja demi kemuliaan Hyang Syiwa. Juga untuk ketinggian dan keluasan ilmu yang dikuasainya. Sejak itu ia dipanggil orang Dang Hyang Lohgawe. Para brahmana percaya, semua yang diusahakannya, seperti yang sudah-sudah, pasti berhasil dan akan berhasil, tak pernah mengingat pada satu kekurangan yang sangat menyolok padanya: ia tak dapat lancar bicara Sansakerta, sekalipun telah melewati pendidikan di negeri Hindu. Dan kekurangan ini selalu jadi penghalangnya yang terutama dalam sidang-sidang kaum brahmana dari banyak negeri. Mereka terus berjalan. Langit dan bulan tidak nampak oleh mereka. Hanya pokok, cabang, ranting dan dedaunan, seperti tembok memagari sinar obor damar itu. Tiba-tiba Dang Hyang Lohgawe berhenti: "Hatiku merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Ada apa, Arok?" "Ada sahaya dengar sesuatu."

"Sim, aku yang bawa obor," dan damar pun berpindah tangan. Tak lama kemudian Lohgawe berhenti lagi: "Aku merasa tidak patut melangkah lurus terus. Ada apa, Arok?" "Ada sahaya dengar sesuatu, Bapa, tapi masih jauh." "Apa yang kau dengar?" "Suara orang,"Arok menjawab. "Tiadakah Bapa berkeberatan sekiranya sahaya berjalan dulu untuk melihatnya?" "Jangan tinggalkan aku." "Baik, Bapa. Kalau begitu ijinkan sahaya naik ke atas pohon yang setinggi-tingginya. Bagaimana kalau obor dipadamkan, Bapa? Tiadakah Bapa ..." "Biarkan menyala begini. Kau boleh naik." Arok mengangkat sembah, kemudian melompat ke pokok kayu di sampingnya. Seperti monyet ia berpindah-pindah dari pokok ke pokok lain yang lebih besar dan lebih tinggi, sampai didapatkannya yang tertinggi. Dengan parangnya ia tebangi ranting-ranting dan cabang yang mengganggu pemandangan. Dilihatnya langit di atas dengan bulan penuh tersenyum pada dunia. Diam-diam ia duduk di atas cabang. Suara itu semakin jelas. Kemudian juga nampak olehnya serombongan orang berkumpul-kumpul di tanah lapang dengan berpuluh obor mengelilingi mereka. Ia tutup matanya untuk dapat menangkap dan memahami suara-suara mereka. Waktu ia buka lagi matanya gerak-gerik mereka di kejauhan sana semakin menjadi tak nyata. Ia masih membutuhkan waktu untuk lebih dapat memahami suara-suara itu. Kini ia mulai dapat menangkap, samar, seperti desir angin lalu: mantra. Ya, mantra: Hling Kling kandarpa eraka...

Ia turun. Dari sepenggal mantra itu ia telah dapat menangkap seluruh adegan yang terjadi sayup di sana: para najako[wanita yang dipergunakan dalam upacara maithuna] sudah direbahkan di atas tumpukan daun kering dan disetubuhi. Dalam pengembaraannya paling tidak telah tiga kali ia pernah mengintip adegan semacam itu. Dan gundulan hutan di sana itu jadilah kini sebuah mandala bayangan. "Tempat itu masih jauh. Bapa." "Apa sesungguhnya yang telah terjadi?" "Sama dengan yang dilakukan oleh sementara penyembah Syiwa, ya Bapa." "Apa yang dilakukan oleh sementara penyembah Syiwa?" "Maithuna."[upacara persetubuhan untuk memuja kesuburan.] "Husy. Tak aku benarkan kau ulangi pendapat busuk seperti itu. Salah. Keliru. Tidak benar. Menyesatkan." "Sahaya pernah saksikan sendiri." "Itulah akibat pahit peninggalan Sri Erlangga. Apakah gurumu yang lama, Tantripala, yang membisikkan itu pada kupingmu, maka kau berani bicara seperti itu?" "Bapa Tantripala pernah memberitahukan, dan sahaya pernah saksikan sendiri."

"Tantripala tidak keliru, hanya ada yang belum dikatakannya. Apa yang belum itu, Arok?" "Bahwa Maithuna juga dilakukan oleh kaum Wisynu." "Belum seluruhnya." "Sudah, Bapa." "Kalau begitu, dialah yang belum mengatakan seluruh dari kebenaran itu," ia mulai berjalan lagi, "betul masih jauh?" "Bapa tidak akan melihatnya." "Kau kenal jalanan ini?" "Mendekati tempat itu ada jalanan ke kiri, Bapa," dan ia ambil obor dari tangan Lohgawe." "Salah satu sebab kerajaan pindah ke timur, ke timur lagi, menghindarkan pengaruh Yoga, Tantri dan Buddha. Ampuni kami, ya, Mahadewa, keagungan Prambanan tidak mampu menolak pengaruh sesat itu. Kalasan telah memberikan pengayoman pada mereka. Mataram[Sekarang: daerah Kedu] dipindahkan dari pengaruh itu lebih ke timur[Sekarang: daerah Madiun] oleh Sri Baginda Dyah Balitung, kemudian ke timur lagi oleh Mpu Sindok. Waktu itu di timur sini masih bersih, belum ada pengaruh seperti itu. Hyang Agastya tetap dimuliakan. Sri Teguh Dharmawangsa malah telah mengirimkan armada untuk menumpas induk gerakan itu Sriwijaya. Selanjutnya kau tahu sendiri: kalah. Mendang kalah, ganti kena serbu, Sri Dharmawangsa sendiri gugur. Nanti kau akan juga dengar dari banyak guru yang patut kau muliakan." Arok kini mengerti, ia hendak dibawa ke Sidang kaum brahmana. Ia tersenyum, tahu bakal mendapat kehormatan diperkenalkan sebagai sudra-satria-brahmana muda, hampir-hampir dua puluh tahun.

"Buang dari ingatanmu yang kau lihat tadi, Arok. Kau adalah garuda. Bahkan abu dari pemandangan tadi tak patut kau singgung dengan jari kakimu. Garuda! Untuk kau hanya korban terbaik, hidup terbaik, dan kalaupun punah, punah yang terbaik pula. Kau takkan punah tanpa peninggalan terbaik." "Terimakasih, ya, Bapa." "Kau gentar mendengar kata punah?" "Punah adalah tugas satria, dengan peninggalan terbaik adalah sebaik-baik punah." "Ya, jawabanmu adalah jawaban satria." "Apakah tak pernah ada yang baik pada para penyembah Buddha, ya, Bapa Mahaguru?" "Apakah yang terjadi pada Mataram dulu? Berapakah sudah candi-candi agung dirobohkan oleh balatentara Mahayana Sailendra? Batu-batu mulia itu dipaprasi dari kemuliaannya, dijadikan umpak untuk kuil-stupanya? Kita tak pernah lakukan itu, maka kita pun tak dapat ampuni mereka." Ia terdiam. Arok masih menunggu buntutnya: pengecilan terhadap Erlangga. Sekali ini yang ditunggunya memang tak muncul. "Adakah Tantripala pernah mengajarkan padamu tentang seorang yogin dari Sriwijaya bernama Syamyanatera?"

"Tidak, Bapa." "Jadi apa saja kau pelajari dari dia?" "Baca tulis." "Baca tulis apa?" "Parwa, Bapa, Weda, Purana." "Sansakertamu baik. Semua itu langsung dalam Sansakerta tentunya." "Tidak keliru, Bapa." Dang Hyang Lohgawe mendeham. Arok tahu arti dehaman itu: dalam percakapan mahagurunya jauh di bawahnya. Lohgawe hanya dapat membaca, sulit menggunakannya dalam percakapan. "Kau memahami betul 100.000 bait Mahabharata dan 24 000 bait Ramayana dalam Sansakerta. Itu saja sudah cukup mengagumkan untuk seorang menghampiri dua puluh tahun. Tapi kau belum tahu siapa yogin Syamyanatera. Aku harap akan ada yang menyinggungnya nanti." "Terangkanlah pada sahaya, ya, Bapa." "Sebagai pribadi kau tak perlu mengetahuinya. Sebagai 'brahmana' muda kau wajib mendapat sepotong dua potong pengertian untuk dapat sampai sendiri pada keseluruhan. Matsiya-manuya-madya-mutra[ikan-daging, arak-wanita] dalam

kesatuan dengan maithu-na, itulah wabah sekarang ini yang dibawa oleh ajarannya. Yang memeluk Syiwa, yang Wisynu, apalagi yang Buddha sendiri, semua kena rambatannya. Hanya yang waspada juga tahu arti hidup dan mati." "Sahaya, Bapa." "Hidup yang berarti, dan mati lebih berarti lagi." Mendekati botakan hutan, tempat orang melakukan maithu-na, obor dipadamkan. Dari sela-sela dedaunan langit mulai nampak, dihiasi oleh bulan. Mereka membelok ke kiri. "Jangan lihat ke sana." Sekarang Arok yang mendeham. "Dehamanmu itu keluar dari jiwa Syiwa ataukah Buddha?" "Ya, Bapa, bukankah tidak semua penyembah Buddha dari nikayo[mashab, sekte.] Mahayana? Dan bukankah tidak semua Mahayana menganut Tantrayana? Dan tidak semua Tantrayana melakukan maithuna?" "Itu pertanyaan itu ingat-ingat, itu justru awal dari penyakitmu." "Ampun, ya, Mahaguru." "Sejak sebelum diakui sebagai 'brahmana' penuh orang telah belajar menata pikiran. Bukankah itu kau sudah ketahui secara pasti? Kesalahan tindakan tak pernah terampuni, kecuali hanya oleh Hyang Mahadewa. Untuk itu ada Mahadewa, karena manusia tidak bersifat pengampun."

"Apakah dengan demikian manusia itu kejam sudah pada dasarnya, ya, Bapa." "Makin jauh dari Mahadewa dia semakin kejam. Bukankah kau tahu betul kekejaman Tunggul Ametung? Sri Baginda Kretajaya tidak kurang dari itu. Arok, pada dasarnya manusia adalah hewan yang paling membutuhkan ampun." "Manusia adalah hewan yang paling membutuhkan ampun "Katakan sesuatu." "Ya, Bapa, oleh Tunggul Ametung dan Sri Baginda, ditumpas segala yang cenderung pada kemegahan Hyang Mahadewa Syiwa." "Dan tidak lain dari kau sendiri yang mulai melawan." Beberapa ratus langkah kemudian terdengar samar suara hum.[sebutan pembukaan yoga.] Dalam rembang cahaya bulan menerobosi dedaunan mereka melihat sesosok tubuh sedang duduk seorang diri di bawah sebatang pohon raksasa. Mereka berjalan berjingkat, cepat, seperti kucing, tanpa membangkitkan bunyi. "Itu juga akibat dari kecerobohan Erlangga," Dang Hyang Lohgawe mulai membangkit-bangkit lagi, "Dua ratus tahun, mereka sudah meruyaki dunia seperti

kudis. Tinggal hanya kita yang menolak. Kau, garuda kita, kaulah kekuatan, pelajari betul kekuatan Erlangga. Sejak pertama kali Erlangga mengakui semua macam penyembahan dewa, anak dusun itu, sejak itu juga tidak diakuinya kemutlakan kaum brahmana dalam tata Jagad Pramu-dita. Kau mengerti, Arok? Kaulah kekuatan." "Sahaya adalah kekuatan, Bapa." "Pengakuan semua macam penyembahan dewa jurusnya adalah menentang kita." "Menentang kita, Bapa." Mereka terdiam lagi. Arok belum pernah melewati daerah ini. Ia tak banyak memperhatikan ucapan gurunya, dan lebih banyak hanya mengegongi Ia teliti daerah seluas mata dapat memandang. Setelah melingkari hutan Arok melihat berpuluh kunang-kunang kemerahan bersaing dengan cahaya bulan di atas, mengelilingi sebuah candi. Itulah tujuan perjalanan. Tak ada nampak makhluk hidup bergerak. Oang Hyang Lohgawe kini berjalan di depan Arok. Ia kemudian berlutut dan mengangkat sembah ke jurusan candi. Arok menancapkan obor di tanah, kemudian mengikuti. Mereka bangkit dan berjalan lagi menempuh jalan sebelah utara lapangan, tidak langsung ke candi, karena torana berada di sebelah barat. Mereka melangkah maju beriringan, hati-hati seperti takut menerbitkan bunyi. Barang dua puluh lima depa di depan torana berdiri sebuah jambang air. Lohgawe melepas terompah dan mencuci kaki dan tangan. Arok memadamkan obor sendiri. Semua barang ditinggalkan di dekat jambang. Mereka berjalan menuju ke torana, melewati patung-patung penjaga dengan wajah bergerak-gerak terkena goyangan api obor-obor damar, seperti hidup dan mem-perhatikan kedatangan mereka. Depan torana itu terpasangi empat obor. Kala-makara di atasnya muncul dari batu seperti hendak mengucapkan selamat datang dan menyetorkan lidah pengasihnya.

Kembali mereka mengangkat sembah, kemudian menghadap ke utara dan mulai berpradaksina[berjalan memutari candi menurut gerakan jarum jam.], mengelilingi candi. Di sebelah utara mereka berhenti dan mengangkat sembah pada Hyang Durga, yang bersemayam dalam sebuah relung samar, hanya nampak jelas puncak hidungnya yang menari-nari dengan sinar api. Berjalan lagi, berhenti lagi, kini sembah untuk Hyang Genesya. "Om!" bisik Dang Hyang Lohgawe, "berilah anak ini kecerdasan yang mencukupi, ya, Hyang Ganesya." Memutar ke selatan mereka berhenti pada relung lain, mengangkat sembah pada Hyang Bathara Guru. Sinar obor bermain-main pada perutnya yang buncit dan jenggotnya yang terasa kurang panjang. "Om!" bisik Lohgawe, "kekuatanmu, ya Guru, hanya pada diri anak ini juga akan jadi sebagaimana kau hendaki." Mereka berjalan lagi ke depan candi, memberikan penghormatan pada Nandiswara dan Hyang Mahakala. Dengan melangkah mundur mereka mengangkat sembah lagi, melakukan pradaksina tiga kali, kemudian pergi ke jambang air dan meninggalkan lapangan candi, menuju ke pinggiran hutan. Kisi-kisi jendela pada kamar-kamar loteng biara itu mengkilat-kilat kena sinar damar dari dalam. Dari kilatnya orang segera tahu mereka terbuat dari perunggu dan setiap hari digosok. Di depan pintu mereka berhenti: "Dang Hyang Lohgawe," Mahaguru itu berbisik pada pintu.

Pintu pun terbuka, dan sinar damar membungah menyambut mereka. Ruang bawah itu kosong. Hanya seorang berada di pintu, meneruskan: "Yang terhormat Dang Hyang Lohgawe!" Seketika itu juga muncul berpuluh-puluh orang, menghampiri Mahaguru itu sambil mengangkat sembah. "Dirgahayu, dirgahayu, dirgahayu, ya, Mahaguru." Arok terpisah dari gurunya yang kini berada dalam lingkaran para brahmana. Dengan bungkusan dan tampaknya ia berdiri di pintu melihat hormat orang pada mahagurunya. Seseorang mengambil bungkusan dan tombak itu dari tangannya dan menyila-kannya menggabungkan diri dengan mereka. Mereka kini mulai duduk berbanjar-banjar dan Arok mengambil tempat paling belakang. Dang Hyang Lohgawe mengetuai pertemuan. Pedupaan mulai dipasang di setiap pojokan, menyebarkan harum pada menjelang pagi itu. Upacara memanjatkan teri-makasih pun selesai. Dan suasana hening. Suara burung lalu pun terdengar nyata Mabasan[membaca bersama.] dimulai, diawali oleh seorang brahmana setengah tua dalam biru berdestar putih. Suaranya nyaring. Demikian berturut-turut, sampai akhirnya Arok, yang sama sekali belum dikenal itu pun mendapat giliran. Arok menguasai mabasangama[aturan membaca bersama]. Untuknya tak ada kesulitan. Ia lewati gilirannya tanpa cacat. Para brahmana itu tetap tidak memperhatikannya. Dengan selesainya gilirannya ayam-ayam biara mulai

berkeruyuk. Lohgawe membunyikan giring-giring yang disediakan di hadapannya. Upacara menjelang pagi itu selesai. Semua keluar untuk melakukan hajad masing-masing, kemudian menyongsong Hyang Surya. Dengung nyanyi puji-pujian itu membikin Arok merasa mengantuk dan disandarkan dirinya pada pohon. Ia telah terbiasa tertidur dalam sikap demikian, dengan pendengaran tetap bekerja menangkap semua yang penting untuk keselamatannya. ia bangun waktu seorang gadis biarawati membagi-bagikan cawan tanah berisi air daging kaldu ayam. Setelah itu orang baru mendapat kebebasan untuk beristirahat atau berjalan-jalan. Arok telah dapat membayangkan tingkah umum kaum brahmana Di mana pun mereka bertemu selalu perasaan tak puas terhadap raja-raja keturunan Erlangga juga yang diperbincangkan: Jayantaka, Jayawarsa, Sekartaji, Kamesywara-I, Kamesywara-II, Jayabaya, Jayasaba, Kretajaya. Raja-raja lemah, mereka suka mengecam, penganut Wisynu hanya katak di bawah tempurung, pengurus ladang dan sawah, menelan keringat kawula sendiri. Bahkan raja-raja Syiwa yang gagahperkasa masih dapat dikalahkan Buddha Tantrayana, Sriwijaya dan Sailendra, apalagi penganut Wisynu yang hanya tahu sawah dan ladang ini! Betapa kuat mereka mengecam-ngecam, turunan demi turunan, sampai dua ratus tahun! dan tidak berbuat sesuatu. Dan ia menduga sidang kali ini pun takkan lebih daripada itu. Kutridenta sudah mulai menyinggung-nyinggung Erlangga lagi. Ia mengenakan baju pendek tertutup jubah ungu dengan destar ungu pula, yang ujung-ujungnya jatuh

di depan dadanya. Ia kepala biara Kutri, Bali, yang juga bertugas melakukan pemeliharaan candi pura Putri Mahendradatta, ibu Erlangga. "Bahkan Dewi Mahendradatta," ia bicara dalam Sansakerta yang lancar. Suaranya lambat tapi tinggi seperti bunyi genta kuningan,"takkan merestui bila tahu bakal begini jadinya semua ini. Kami di Bali semua mengerti, mengapa pada akhirnya Putri Dewi Mahendradatta berpaling pada Hyang Durga. Artinya setelah suaminya, Sri Udayana mangkat. Mahadewa Syiwa kehilangan cakrawartinya di Bali. Sampai sekarang pun pemelihara pura Kutri, selalu seorang brahmana Syiwa, tidak disukai oleh masyarakat Wisynu. Sejauh mengenai diri pribadi, itu tidak mengapa, karena semua itu berpangkal pada masa jauh silam ..." Arok mengikuti Kutridenta dengan sepenuh perhatian. Soalnya terlalu menarik baginya, dan Sansakertanya pun tidak kurang indahnya. Kutridenta meneruskan uraiannya entah sudah berapa kali saja itu dilakukan dan entah di mana saja dengan tenang, menguasai bahan yang dibicarakannya: Hanya setelah Sri Udayana Dharmadayana mangkat, Putri Dewi Mahendradatta berani terang-terangan memuja Hyang Syiwa. Orang menjadi marah padanya, waktu mengetahui ia akhirnya berpaling pada H yang Durga. Gunung Agung meletus, di mana-mana pura roboh dan hancur, beribu-ribu korban jatuh binasa, menyusul wabah. Putri Mahendradatta menganggap, bencana itu diturunkan oleh Hyang Mahakala karena orang sudah mulai ingkar. Tetapi kawula Bedulu menganggap bencana itu diturunkan oleh Hyang Durga atas permohonan Putri Mahendradatta. Beberapa kali dalam dua ratus tahun setelah terjadinya wabah dan bencana itu, pura Kutri dikepung untuk dihancurkan. Selamanya orang menjadi ragu bila sudah sampai di depan gerbang, dan niat mereka pun batal.

"Lihatlah," Kutridenta meneruskan, "semua brahmana tahu, waktu Sri Makutawangsa mengawinkan putrinya pada Udayana atas persetujuan bersama raja dengan kaum brahmana, dimaksudkan akan adanya pendekatan antara penganut Wisynu dengan penganut Hyang Mahadewa Syiwa. Sayang Putri Dewi Mahendradatta gagal sebagai pengemban tugas, sekali pun tak dapat dikatakan gagal sebagai Paramesywari atau pun ibu. Putri Mahendradatta memanglah kegagalan yang pertama.... Uraian yang menarik, hanya tanpa jurus tanpa kesimpulan, Arok menilai. Seorang brahmana dari Mataram, Resi Andaru, seorang ahli dalam kiwan, dalam Sansakerta yang lebih banyak Jawanya, menyoroti kemerosotan penyembahan pada Hyang Mahadewa dari segi lain: "Makin lama makin banyak rontal menyesap ajaran lain dan mendirikan dewadewa bara dari kaum Buddha, seakan titah ini sengaja hendak dicairkan jadi bubur campur-aduk tidak menentu." Ia menyedari ketidaksedaran umum akan pengaburan filsafat, bukan saja karena arus Mahayana, juga karena nikayonya yang banyak dan silang-siur membingungkan, dan mengancam konsep tentang tempat pribadi di tengahtengah Jagad Pramudita. "Sebuah nikayo yang paling berbahaya adalah yang melepaskan diri dari keseluruhan tata Jagad Raya, dengan ajaran dan tafsiran yang justru sebaliknya. Mereka kehilangan makna dari tanggungjawab pada sesama manusia dan para dewa, memuja kebebasan mutlak dan pelepasan kama[nafsu.] dengan rumus falsafi, kemudian memadukan diri sendiri pada para dewa dan bersea-kan sang dewa itu sendiri."

Ia tak sebutkan nama nikayo itu. Dan demikian seterusnya. Semua menggambarkan tentang ketiadadayaan kaum brahmana sendiri. Tanpa jalan keluar Timbunan kecaman dan amarah. Rasa tak puas. Hampir pada pidato terakhir Dang Hyang Lohgawe memerintahkan pada Arok untuk mendampinginya sebagai pencatat, menggantikan seorang brahmani tua yang terserang encok. Penutup dari semua laporan adalah pembacaan tulisan Mpu Parwa terbaru, dalam Jawa, yang berkisah tentang para petani yang dalam rombongan besar bersenjata penggada kayu telah menyerang kahyangan untuk mengusir Hyang Mahadewa Syiwa. Mereka itu dipimpin oleh seorang pemuda yang tidak ketahuan asalnya, bersenjata cakra, tak henti-hentinya meniup sangkakala dan dapat berjalan tanpa menginjakkan kaki pada bumi. Dua ratus tahun lamanya perkelahian di kahyangan itu terjadi antara rombongan petani, dipimpin oleh pemuda Kunda itu. Tapi Hyang Syiwa tidak pernah bergeser sejengkal pun dari tempatnya, tak pernah dikalahkan, tapi belum pernah menang. Pada akhirnya Hyang Syiwa mengambil segenggam tanah dari ladang para petani itu sendiri, dipujanya menjadi seorang satria yang gagah-berani, dinamainya Humalang. Dengan dipersenjatainya dengan trisula, Humalang menghadapi Kunda, sehingga yang belakangan ini tewas. Dengan demikian berakhir juga kisah Mpu Parwa yang dibacakan selama lima malam itu.

Juga Arok tenggelam dalam keindahan puisi, terutama dalam pertikaian kata antara Sviwa dan Kunda. Kunda dan Humalang. "Sepenuhnya tepat, benar, tiada cacat," Dang Hyang Lohgawe memberikan penilaiannya. "Memang di dalamnya masih ada satu titik yang dilupakan." Ia menerangkan dalam Sansakerta yang berpincang-pincang: ia mengakui kegagalan Putri Dewi Mahendradatta. Juga ia mengakui kegagalan saudara Sang Putri, Sri Teguh Dhar-mawangsa dalam perang darat dan laut melawan Sriwijaya untuk memperebutkan keunggulan laut dan di perairan Nusantara, pun gagal dalam mendesak kekuasaan Buddha Mahayana Sriwijaya. Kegagalan itu bukan saja tinggal jadi kegagalan, juga kebinasaan Serangan pembalasan Sriwijaya tak dapat ditangkis, dan Sri Teguh Dharmawangsa gugur dalam pralaya[perang pembinasaan] itu. "Pada tahun Saka 909 itu," ia meneruskan, "sedang diadakan pesta perkawinan antara dua putri Sri Dharmawangsa dengan Pangeran Erlangga, putra Udayana Dharmadayana. Pangeran Erlangga waktu itu masih seorang bocah berumur tujuhbelas, belum cukup ilmu, kurang pengetahuan, baik dari guru maupun ibunya, Putri Mahendradatta. Sri Dharmawangsa berusaha melaksanakan amanat ayahandanya, Sri Makutawangsa, untuk mendirikan Hyang Syiwa di Bali. Kenyataannya jadi berlainan. Erlangga bukan saja tidak menjadi penyembah Hyang Syiwa, dia malah menyebarkan kejahilan Bali, memberanikan petani-petani itu untuk memuliakan Hyang "Wisynu saja, dewa mereka, dewa dari kaum tani yang takkan pernah mendatangkan kebesaran itu. "Akibatnya: tidak untuk Hyang Syiwa, tidak untuk Hyang Wisynu, juga tidak untuk diri sendiri dan kawulanya."

Sampai di situ ia berpaling pada Mpu Parwa: "Yang terhormat," katanya, "Kundalaya sampai di situ tepat, benar, utuh. Titik kekurangan yang sepatutnya disempurnakan lagi adalah ini: "Bukan suatu kebetulan Mpu Sindok memindahkan Mataram ke timur, karena Mataram barat sudah tidak mampu membendung pengaruh Buddha. Siapakah dapat melupakan penghinaan atas kaum brahmana waktu Pancapana Rakai Penangkaran mendapat perintah dari Indra, raja Sailendra itu, untuk membangunkan candi Kalasan? Dan kemudian Sri Pancapana masih harus mendirikan kuil-kuil lain untuk kepentingan Sang Buddha?" Ia berhenti untuk minta perhatian pada kalimat-kalimat yang akan dikatakannya: "Raja-raja kita selanjutnya, Rakai Warak, Rakai Garung, meneruskan pembangunan candi-candi Buddha untuk dengan demikian mengarahkan seluruh rakyat Mataram, agar binasa di bawah kaki Sang Buddha, dan lebih menyedihkan: untuk dilupakan oleh Hyang Mahadewa. Patung dewa-dewa Buddha apa saja yang tidak dibikin oleh pemahat terbaik Mataram? Suatu jaman memalukan yang seakan tiada kan habis-habisnya. Kita baru bisa bernafas lega setelah Rakai Pikatan mengakhiri semua hinaan ini. Raja besar dan bijaksana ini mengembalikan kepercayaan diri kita menutup jaman sengsara itu hampir-hampir tanpa meneteskan darah, mengawini anak raja Sailendra Samaror-tungga itu, bernama Pramudawardhani, dan menghalau pengganti mertuanya, Sri Balaputradewa, keluar Jawa. "Pengembalian cakrawarti Hyang Syiwa dengan terbangunnya Prambanan nampaknya tidak cukup meyakinkan untuk menyuramkan kebesaran Sang Buddha. Lihatlah, para Yang Terhormat, dalam tangan raja-raja Syiwa yang mencapai

puncak kejayaannya, tidak ada satu pun batu dari candi-candi Buddha itu dirusak, bahkan negeri mengeluarkan dharma untuk pemeliharaannya." Ia berpaling pada Mpu Panya dan meneruskan: "Nah, Yang Terhormat Mpu Parwa, inilah titik kekurangan dalam Kundalaya: ancaman menetap dan Buddha dan kepemu-rahan Sang Hyang Mahadewa Syiwa." Mpu Parwa membenarkan ketajaman Lohgawe yang dapat melihat adanya titik kekurangan. Ia berjanji akan menyempurnakan pada tahun mendatang. "Sedang Humalang itu," Dang Hyang Lohgawe meneruskan, "adalah sudah tepat bila berasal dari segenggam tanah ladang petani-petani itu sendiri dan ditiupkan hidup di dalamnya oleh Hyang Mahadewa. Humalang adalah Bathara Wisynu dalam tata cakrawarti Syiwa, bukan terpisah daripadanya seperti anggapan dan pandangan kaum Wisynu dari wangsa Isana ini. "Ketahuilah, para Yang Terhormat, bahwa adalah jadi dharma kita untuk menemukan Bathara Wisynu yang ditiupkan oleh Mahadewa itu dalam hidup kita sekarang. Demi Hyang Mahadewa, Humalang itu akan muncul. Benarlah ramalan Yang Terhormat Mpu Parwa. Kita harus tutup jaman kehinaan ini dengan Kundalaya." Brahmani Taripada dari Kalingga dalam uraiannya selama sehari penuh telah menyoroti buku suci penganut Mahayana, Kamahayanikan, yang masuk ke Mataram Timur dari Mataram Barat, dan tidak mengalami banyak penyalinan karena terimbangi oleh buku suci Brahmandapurana dari kaum Syiwa. Ia membenarkan sikap kaum brahmana selama ini yang tidak bermaksud dan tidak punya keinginan untuk menghancurkannya. Ia sebaliknya memuji sikap yang menganjurkan untuk semakin memperbanyak Brahmandapurana.

Ia mengukuhkan pendapat kaum brahmana, bahwa Arjuna-wiwaha tulisan Mpu Kanwa adalah gejala pertama penggunaan buku suci untuk mendewakan manusia. Ini segera diikuti oleh Mpu Triguna dengan karyanya Kresnayana. Yang pertama untuk kepentingan Sri Baginda Erlangga, yang kedua untuk Sri Baginda Jayawarsa.Tak ada di antara raja-raja Syiwa berbuat demikian. Mpu Dharmaja dengan karyanya Smaradhahana melangkah lebih jauh lagi, tetapi juga lebih jujur, karena ditampilkannya Sri Baginda Kamesywara dan Paramesywari lebih banyak sebagai manusia. "Para Yang Terhormat," brahmani Taripada meneruskan. "Puncak kekuasaan wangsa Isana keturunan Erlangga adalah Sri Baginda Jayabaya. Adalah mengherankan, bahwa seorang raja Wisynu mau menjamah ombak dan menaklukkan daratan di seberang. Balatentaranya berhasil menguasai Jambi dan Selat Semenanjung. Kebijaksanaannya dalam mengembangkan kebesaran Wisynu, menjadikan tantangan yang benar-benar tak dapat dijawab oleh kaum brahmana pada masanya. "Hariwangsa, karya Mpu Panuluh, karya raksasa dengan 16.000 sanjak itu, seluruhnya mengagungkan Wisynu yang menitis dalam diri Kresna. Dan bukankah Kresna dengan kebijaksanaannya itu tidak lain daripada Sri Baginda Jayabaya sendiri? Untuk memasyhurkan namanya sebagai Hyang Wisynu pada dunia, diperintahkannya melakonkan pada wayang permainan leluhur para petani yang menolak para dewa kita itu. Untuk mengagungkan kemenangannya atas Jambi dan Selat Semenanjung diperintahkannya Mpu Sedah menjawakan bagian perang dari Maha-bharata, dari Dutaparwa sampai Sauptikaparwa. Barangkali karena semangat perangnya juga kepala Mpu Sedah dijatuhkannya dari lehernya sebelum karyanya selesai...."

Taripada berseru-seru pada sidang agar membikin penilaian kembali terhadap Mpu Sedah, seorang sarjana Sansakerta dan Jawa sekaligus, yang dengan keberanian luarbiasa dan dengan caranya sendiri telah melawan kekuasaan raja Wisynu yang gagah ini. "Bagaimanapun, para Yang Terhormat dan Yang Suci, Sri Jayabaya oleh Mpu Sedah tidak dimunculkannya dalam Bha-ratayuddha. Semoga pendapat ini tidak keliru." Ia meneruskan tinjauannya terhadap karya-karya semasa kekuasaan wangsa Isana yang bersifat Wisynu, mengagumi Mpu Panuluh, kemudian sampai pada Mpu Tanakung dalam kekuasaan Sri Baginda Kretajaya dengan Gatotkacasraya. "Mengapa pada kita hanya ada Yang Terhormat Mpu Parwa? Boleh jadi karena kaum Wisynu ini tidak mempunyai begitu banyak lawan seperti kita. Di tangannya ada kewibawaan, pada kita tiada sesuatu. Permainan wayang telah merambat ke mana-mana, sedangkan kita tidak mampu menandingi." Ia berseru-seru untuk menemukan kunci pembuka pintu kebesaran Hyang Mahadewa .... Sidang yang berlangsung dengan tenang penuh perasaan tidak puas pada ketiadadayaan sendiri memasuki acara Agama dan Ugama. Perdebatan sengit terjadi, sehingga mengancam gagalnya persidangan. Dalam panas pertikaian, pada suatu malam gelap bermendung, datang seorang berlari-larian membawa obor. Badannya telah basah oleh keringat bercampur debu. Kepalanya terbuka, rambutnya kacau-balau. Ia menjatuhkan diri di depan pintu biara, kehabisan tenaga. Dengan pangkal obor ia memukul-mukul daun pintu.

Sidang terhenti seketika, waspada. Boleh jadi pasukan Tumapel sedang dikerahkan untuk menindas sidang kaum brahmana ini. Semua mengawasi pintu, menunggu muka siapa yang bakal masuk lebih dahulu. Senyap. Dari luar terdengar keluh. Arok, yang termuda di antara semua yang hadir, meletakkan alat pencatat, mengangkat sembah pada sidang, kemudian menghampiri pintu dan membukanya. "Siapa kau!" tanyanya, melihat tubuh orang yang kehabisan tenaga, terbujur di samping obornya yang masih menyala. "Kawula Mpu Parwa. Berilah sahaya minum." Arok masuk ke dalam, membisikkan sesuatu pada Mpu Parwa dan keluar lagi membawa secawan air kaldu. Orang itu minum dalam keadaan masih terbujur. Ia singkirkan cawan dan mengulangi sebutannya: "Majikan sahaya. Mpu Parwa." "Ya, sebentar akan datang." Mpu Parwa keluar bersama Dang Hyang Lohgawe. "Kau, mengapa kau jadi begini?" tegur Mpu Parwa "Bangun." "Sahaya sudah tidak mampu bangun. Delapan pekan telah sahaya cari Tuanku di mana-mana, keliling seluruh Kediri dan Tumapel." "Siapa suruh kau mencari aku?" "Ampun, Tuanku, rumah sahaya tinggalkan, justru untuk membawa berita ini, Tuanku."

"Kau, perempuan, kelilingi negeri seorang diri begini?" "Ampun, Tuanku. Sepeninggal Tuanku, ayu Dedes..." "Mengapa Dedes?" "Diculik oleh Sang Akuwu." "Jagad Bathara!" Mpu Parwa terpekik. "Delapan pekan yang lalu?" Dang Hyang Lohgawe menengahi sambil menutup kembali pintu ruang bawah biara. "Terkutuk dia oleh semua dewa!" seru Mpu Parwa tak dapat mengendalikan amarahnya. Ia hampiri kawula perempuan itu. "Mengapa tak kau lindungi dia?" "Apakah daya sahaya?" Lohgawe menarik Mpu Parwa dari perempuan yang masih tergeletak tak kuat berdiri itu. "Ampun, Tuanku, hanya itu yang sahaya dapat persembahkan." Empat orang biarawati mengangkat perempuan itu dan menggotongnya masuk ke belakang untuk mendapatkan perawatan.

"Sabar, Yang Terhormat," kata Lohgawe, "tak dapat kita berbuat sesuatu terhadap mereka ini. Tetapi, bahwa seorang anak brahmana diambil dari rumahnya dengan jalan sekurangajar itu, memang tidak dapat ditenggang. Anakmu Dedes akan dapat kau temukan di pekuwuan Tumapel. Hanya harga kaum kita yang semakin jatuh. Sebaiknya Yang Terhormat beristirahat dulu, jangan terganggu oleh perasaan pribadi." Lohgawe dan Arok mengantarkannya ke belakang. Dalam perjalanan balik ke sidang Mahaguru itu bertanya: "Kau perhatikan uraian Taripada?" "Seluruhnya, ya, Bapa." "Mampu kau ucapkan tanpa rontal Salyaparwa dalam Sansakerta?" "Suatu kehormatan mengucapkannya di hadapan sidang yang mulia kaum brahmana. Bapa Mahaguru." "Baik. Jangan kecewakan gurumu."Kembali di depan sidang ia memberitahukan terjadinya suatu peristiwa yang menterje-mahkan kelemahan, kedadadayaan kaum brahmana, yang mencakup semua yang telah dibicarakan, diuraikan dan dipertikaikan, ia menganggap pertemuan para brahmana semacam ini terlampau berlarut selama dua abad ini. Ia mengusulkan cara baru. Sidang yang telah lelah tidak mendapatkan sesuatu keputusan pegangan itu sertamerta menyetujui.

"Kalau demikian, kau!" perintahnya pada Arok, "ucapkanlah Salyaparwa dalam Sansakerta, bukan dalam Jawa." Dan Arok mulai berkisah tentang Parwa ke-9 Mahabharata itu: Prabu Salya bersiapsiap akan berangkat ke medan-perang, menjadi senapati Kaurawa. Ia temui Paramesywari Dewi Setya-wati. yang masyhur akan kecantikannya ... seorang anak perempuan dari Resi Bagaspan, bernama Pujawati. Arok melihat para pendengarnya terpesona oleh bacaannya. Dan ia tahu ucapannya sangat patut demi pelajaran ucapan yang diterimanya dari Lohgawe selama ini. "Cukup, dan terimakasih." Arok tidak meneruskan. "Siapakah kiranya di antara Yang Terhormat dapat melisankan sesuatu tentang Salyaparwa dalam hubungannya dengan Mpu Sedah?" Kecuali Kutridenta semua bersedia. Dan Lohgawe memberikan kehormatan itu kembali pada Arok. "Adalah sebuah kisah," Arok memulai,"yang belum ada orang berani menuliskannya sebuah kisah tentang Mpu Sedah dalam hubungannya dengan Salyaparwa. Tetapi maafkan, sahaya, para Yang Terhormat dan Yang Suci, kisah itu kurang berarti kalau tidak didahului dengan awalan, untuk dapat mengern setepatnya watak para raja Wisynu ini. Sahaya mulai dengan awalan.

"Para Yang Terhormat dan Yang Suci, orang-orang Wisynu suka mengejek kita sebagai kaum yang tidak mengenal batas kama. Mereka menyindir-nyindir dan mentertawakan karena lingga[kemaluan pria.], lambang kita pada puncak-puncak setiap bangunan suci kita penghubung antara kahyangan dan dunia. Mereka tidak pernah mau mengerti, lingga adalah kesatuan antara Hyang Mahadewa Syiwa dengan syaktinya, Hyang Bathari Durga, antara yang abadi dan yang sementara. Kaum Wisynu berseakan mereka pengekang kama tanpa tandingan. "Untuk membuktikan wujud mereka sendiri, tidak perlu diteliti semua dan seluruh kaum Wisynu, cukup raja-rajanya .... "Siapakah tidak mengenal riwayat Putri Mahkota Dewi Sanggramawijaya, putri Sri Erlangga? Bahkan bocah angon pun tahu. Karena mengidap penyakit kedi ia tidak menaiki tahta untuk memerintah, tetapi menaiki Gunung Klotok untuk bertapa. Sri Erlangga terpaksa membelah kerajaan jadi dua sebelum menarik diri dari tahta, dilaksanakan oleh Mpu Baradha. Sebelah timur menjadi negara Janggala, dirajai putra selir, Sri jayantaka. Sebelah barat menjadi negara Panjalu, beribukotakan Dhaha, atau Kediri, dirajai oleh putra selir, Sri Jayawarsa. "Para Yang Terhormat dan Yang Suci, setelah dua tatus tahun lamanya bicara, mendengar, mengecam tanpa berbuat apa-apa, barangtentu para Yang Terhormat dan Yang Suci tiada berkeberatan mendengarkan kisah sahaya ini, yang sahaya tinjau dengan cara sahaya sendiri .... "Sri Jayawarsa memperanakkan Putri Mahkota Kediri, Dewi Sekartaji Candrakirana. Sri Jayantaka, Janggala, memperanakkan Putra Mahkota Inu Kretapati. "Para Yang Terhormat dan Yang Suci, tak ada yang dapat disela pada karya Mpu Dharmaja tentang kebesaran masa ini. Semua yang ditulisnya serba indah sejauh yang dapat dinyatakan dalam bahasa Jawa. Smaradhahana itu memang sempurna.

"Panjalu dan Jenggala harus dipersatukan kembali. Sekartaji dan Inu Kretapati harus dikawinkan untuk mewujudkan penyatuan dua kerajaan itu, tanpa harus ada darah menetes. "Sekarang, para Yang Terhormat dan Yang Suci, kita pelajari bagaimana orang Wisynu menyelesaikan perkaranya .... "Inu Kretapati, Putra Mahkota Jenggala, tidak mencintai Sekartaji, sekali pun Sekartaji mencintainya. Putra Mahkota Jenggala justru mencintai anak dara patih Jenggala, Kudanawarsa. ia seorang perawan yang sangat memikat hati semua perjaka. Gadis anak Patih Jenggala adalah Dewi Anggraini, dan membalas cinta Putra Mahkota." "Inu Kretapari lebih sering berkunjung ke kepatihan daripada ke Dhaha. Perkawinan kenegaraan terancam gagal." "Panjalu mengirimkan urusan ke Jenggala, menyampaikan ancaman resmi: Apabila perkawinan antara Sekartaji dan Inu Kretapati gagal karena Dewi Anggraini, Penjalu akan membaris-kan dua puluh ribu balatentaranya untuk menyerang Janggala dan meratakannya dengan rumput teki." "Takut pada ancaman, Sri Jayantaka, raja Jenggala, memanggil patihnya, Kudanawarsa, memerintahkan padanya untuk membunuh anaknya sendiri, Dewi Anggraini. Dan terjadilah yang harus terjadi." "Demikianlah, para Yang Terhormat, bagaimana kaum Wisynu, raja-rajanya, menyelesaikan perkara. Seorang perawan dalam kesucian dan kecantikannya, dalam gairah mengimpikan indahnya cinta, harus digelandang ke hutan dan

menerima pedang pada tubuhnya. Dia dikorbankan untuk Hyang Wisynu. Di atas mayatnya didirikan negara kesatuan Panjalu-Jenggala." "Lihatlah pula apa yang diperbuat oleh Putra Mahkota Wisynu bernama Inu Kretapati itu. Dia hanya bisa meratapi nasib kekasihnya, sama sekali tak meninggalkan asap tak menggelorakan sangkalan. Dia lari, para Yang Mulia dan Yang Suci, lari dari istana membawa tangis meratapi Dewi Anggraini." "Bagaimana dengan Putri Mahkota Panjalu? Malu karena Putra Mahkota Janggala lebih mencintai Dewi Anggraini daripada dirinya, ia pun lari meninggalkan istana, berpakaian pria, mengenakan nama pria: Kelana Jayengsari. "Dunia gempar. Tak ada yang dapat menemukan mereka Tapi dengan sukacita mereka bertemu di pulau kelahiran nenek mereka sendiri, Bali. Mereka pulang bersama ke Jawa dan kawin." "Para Yang Mulia dan Yang Suci, kaum Wisynu bersorak-sorai dengan perkawinan kenegaraan itu. Inu Kretapati marak jadi raja tunggal dengan gelar Kamesywara, dengan wilayah kekuasaan meliputi sebagian besar Jawa, Bali, Bangka, Kalimantan Barat-daya, Sulawesi Tengah dan Maluku. Mpu Dharmaja telah menyanyikan kebesaran itu. Dan mereka tetap lupa pada Dewi Anggraini yang dikorbankan...." Arok meneruskan kisahnya, bahwa Kamesywara digantikan oleh Kamesywara-II, dan: "Pada suatu waktu wangsa Isana melahirkan raja besar, Sri Baginda Jayabaya, yang telah mempersembahkan pada negeri dan keluarga: Jambi dan Selat Semenanjung. Maka terjaminlah kemakmuran Kediri dan punahlah bajak laut dari utara ke selatan. Seorang Wisynu yang sungguh-sungguh besar ini mencintai sastra, seni, filsafat dan dirinya sendiri.

Tersebutlah di sebelah selatan ibukota Kediri, di sebuah desa bernama Adiluwih, tinggal seorang pemuda desa yang dikasihi oleh Hyang Ganesya: ahli dalam bahasa dan sastra Sansakerta dan Jawa; kekasih Hyang Wisynu: seorang sudra, petani yang baik; kekasih Hyang Mahadewa: ahli dalam persoalan para dewa. kekasih Hyang Kamajaya: seorang perjaka, muda. dua puluh tiga tahun, ganteng rupawan, berbudi bahasa, penakluk hati wanita Siapakah yang bisa salahkan apabila ada seorang gadis, anak seorang brahmana, yang tinggal di desa tetangga jatuh cinta padanya? Siapakah yang bisa salahkan, kalau sebaliknya pemuda kekasih para dewa itu jatuh cinta pada Prabarini? Siapakah yang dapat salahkan, bila Sedah dan Prabarini saling mengikat janji sehidup-semati, di alam kini mau pun nanti? Prabarini hanya memilih Sedah. Sedah hanya memilih Prabarini. Betapa mahalnya bahagia itu, karena Sedah harus mengecewakan banyak perawan, dan Prabarini mengecewakan banyak pemuda. Kebahagiaan mereka dibiayai oleh kekecewaan hari para muda yang mendamba. Selamanya terjadi, mereka yang tak kuat menanggung kecewa dihalau ke pangkuan neraka melalui tindak durjana. Prabarini dan Sedah dalam mabok dilengahkan oleh kebahagiaan. Di belakang punggungnya ada saja di antara yang kecewa mempersembahkan pada Sri Jayabaya akan adanya seorang dewi, cantikjelita penjelmaan Dewi Setyawati di atas bumi Kediri. Sri Jayabaya adalah seorang raja Wisynu, oleh nenek-mo-yangnya diajar menghaki apa saja terbaik milik kawula. Juga Prabarini tidak terkecuali. Diperintahkannya pasukan untuk menjemput Setyawati Kediri. Tertinggallah Sedah kini digalau oleh kecewa itu sendiri, seorang diri, di desanya, Adiluwih. Setiap hari ia turun ke ladang atau sawah, dan tak ada Prabarini mengantarkan makan lagi. Bergumul dalam lumpur dan tanah tanpa pujaan hati seakan ia telah ditinggalkan oleh para dewa. Sedang di istana Kediri, karena kecantikan dan

kejelitaan-nya Prabarini didudukkan di atas singgasana sebagai Paramesywari Kediri. Setiap malam Sedah tinggal memohon pada para dewa untuk mengembalikan kekasihnya kepadanya. Dan para dewa tidak mendengarkannya. Di istana Prabarini juga selalu memohon pada para dewa untuk mengembalikan Sedah kepadanya. Demikianlah Sri Baginda Jayabaya telah memenggal putus tali cinta-kasih yang dibenarkan semua orang dan para dewa. Kemudian tibalah waktunya Sri Jayabaya merasa sudah cukup kukuh kemenangannya di Jambi dan atas Selat Semenanjung. Untuk mengabadikan kemenangan dan kekokohan itu dititahkannya menjawakan kemenangan perang Pandawa atas Kaura-wa, 6 parwa dari Mahabharata yang 18 itu. Pujangga-pujangga istana menyatakan tak mampu mengerjakan. Juga mahapujangga Mpu Panuluh tidak. Para cerdik-cen-dekia dikirimkan ke seluruh negara untuk mencari ahli bahasa dan sastra Sansakerta dan Jawa. Sedah bangun dari dukacitanya mendengar warta itu. Seakan ia dengar jelas suara Hyang Bathari Durga: Pergilah kau ke Kediri, anakku, karena di sanalah Prabarini kau dapatkan kembali. D engan berterompah tapas, bertongkat kayu penolak-ular, berjubah pendek dan berdestar serba hitam, laksana Bathara Kamajaya, ia berjalan ke Kediri. Dari parwa-parwa yang dikehendaki Sri Baginda Jayabaya ia tahu, adalah bagian yang bisa memberinya jalan untuk mendapatkan Prabarini, dan dengan demikian membalaskan dendamnya pada Sri Baginda. Ia tahu Prabarini tidak berdaya. Kaulah yang berdaya itu, titah Hyang Bathari, yang harus datang padanya.

'Kau, anak muda, mengaku sanggup menjawakan Mahabharata?' Mpu Panuluh menetaknya dengan tanya meremehkan. 'Inilah sahaya, yang sanggup, ya Yang Suci Mpu Panuluh.' 'Siapa gurumu, maka berani persembahkan lehermu?' 'Hyang Ganesya sendiri.' 'Jagad Dewa. Jagad Pramudita, tiadakah kau sayang pada kemudaanmu?' 'Sekiranya tiada lagi yang sanggup, inilah leher sahaya.' Dewan cerdik-pandai dipanggil bersidang oleh Mpu Panuluh, dan Sedah dihadapkan pada ujian. Tidak ada sebaris pun di antara parwa-parwa Sansakerta itu keliru ia ucapkan tanpa rontal. Penyalinan dalam Jawa membikin sidang penguji terheran-heran. Anak semuda itu, dua puluh tiga. Sri Baginda Jayabaya sendiri memerlukan datang untuk menemui. Dikalungkan untaian melati pada lehernya, ia lulus, melebihi yang diharapkan sidang penguji, sekaligus mendapatkan gelar Mpu. Dengan pikiran terpusat pada hari pembalasan terhadap Sri Baginda Jayabaya, dan hari terpanggil oleh cintanya pada Praba-rini,dengan cepat ia menjawakan parwaparwa itu. Mpu Panuluh sendiri tak habis mengerti betapa besar kasih para dewa pada anak muda ini. Sri Baginda sendiri jatuh kasih dan sayang dan menyediakan

semua keperluannya tanpa dipohon. Baginda telah menitahkan untuk membangunkan ruang khusus untuk tempat kerjanya, dikelilingi oleh taman bunga, dirindangi oleh pohon buah-buahan. Di sana ia bekerja tanpa seorang pun mengusiknya. Kemudian sampailah ia pada parwa ke-9, Salyaparwa. Prabu Salya minta diri dari Paramesywari untuk berangkat ke medan perang. Pujawati yang cantik jelita tiada tandingan itu kini telah bernama Setyawari, tidak lagi cantik jelita seperti semasa gadisnya. Ia telah beranak lima orang, Erawati, Paramesywari Sri Baladewa, raja Mathura; Surtikanti, Paramesywari Sang Karna, raja Angga; Banowati, Paramesywari Kurupati, raja Astina; Buris-rawa dan Rukmarata, yang kemudian gugur dalam perang Bharatayuddha. Mpu Sedah tanpa ragu-ragu mempenembahkan pada Sri Jayabaya, ia tidak mampu melukiskan kecantikan Dewi Setyawati. Baginda tidak menguasai Mahabharata, maka tidak tahu, bahwa Setyawati yang hendak dilukiskan sudah beranak lima dan tua. Jadi apa yang Mpu Sedah kehendaki untuk dapat melukiskan kecantikan Dewi Setyawati. Seorang wanita sesungguhnya, dan cantik jelita sesungguhnya, untuk menjadi contoh, duh Sri Baginda. Sri Baginda Jayabaya, raja besar dari wangsa Isana, pencinta sastra, seni dan filsafat, bersedia mengkaruniakan segalanya pada Mpu Sedah asalkan karya itu jadi dengan sempurna. Baginda menjatuhkan titah untuk memilih wanita siapa saja di seluruh kawasan Kediri untuk dijadikannya contoh. Bharatayuddha harus selesai.

Mpu Sedah memilih dan memilih. Pilihan terakhir jatuh pada Prabarini. Sri Baginda Jayabaya tersenyum, mengangguk membenarkan. Maka datanglah Paramesywari ke sanggar sang pujangga. Dengarkan ucapan Mpu Sedah sewaktu pertama kali melihat Prabarini diiringkan oleh dayang-dayang memasuki sanggar: 'Duh Dewa, Duh Bathara...' Jawabannya adalah airmata pada wajah Prabarini, dan kebasan tangan memerintahkan semua dayang-dayang pergi, membiarkan mereka berdua berdiri berhadap-hadapan. Mereka masih berhadapan. Tiba-tiba, tanpa bicara, Prabarini lari, memeluk Sedah dan menangis: 'Ampuni sahaya, kanda, inilah Prabarini milik kakanda.' Mpu Sedah tidak mencontoh kecantikan Prabarini, ia menghayatinya dengan rindunya yang membuncah. Berapa hari atau berapa bulan itu terjadi? Para dewa tidak menyingkapkan. Hanya sekali muncul seorang saksi. Sri Baginda Jayabaya berhari-hari bersamadhi di pura untuk mendapatkan petunjuk hukuman apa harus ia jatuhkan. Ia kini tahu hati Prabarini adalah milik Mpu Sedah sejak di desa. Sri Baginda hanya mendapatkan badan tanpa hati. Kini Sedah mendapatkan seluruh, sebagaimana dijanjikan oleh Hyang Kama, badan dan hatinya. Sri Baginda Jayabaya bukan seorang Syiwa. Sampai setinggi apapun dharmanya, hatinya tetap Wisynu yang tidak mampu membatasi gejolak keinginan mengokohi

untuk diri sendiri, segan berbagi, biarpun pada kebenaran itu sendiri. Ia jatuhkan hukuman mati. Berapa umur Mpu Sedah waktu itu? Dua puluh lima tahun. Mpu Sedah menolak berlutut untuk dipancung, ia berdiri, tersenyum menghadapi mautnya, mendesis: "Prabarini untuk selama-lamanya adalah kekasihku. Hanya karena aku bukan raja, aku tak dapat mempertahankannya." Untuk penghukuman itu terpaksa disediakan pedang pendek. Kepala Mpu Sedah jatuh dari lehernya. Untuk sementara badannya masih berdiri. Darahnya menyembur membasahi tanah, yang barangkali pernah dilangkahi oleh kekasihnya, ia tidak menyesal. Ia hadapi segala dengan tabah. Ia adalah seorang brahmana, karena telah memikir, merancang lebih dulu. Maka ia tidak menjatuhkan diri memohon ampun pada seorang raja Wisynu. Sahaya menyetujui Yang Terhormat Taripada dari Kalingga, agar diadakan penilaian kembali terhadap Mpu Sedah, dipelajari riwayatnya lebih teliti, dan diabadikan, sebagaimana kemenangan atas Jambi dan Selat Semenanjung diabadikan olehnya sendiri dalam Bharatayuddha." Arok mengangkat sembah pada sidang menandakan ucapannya telah berakhir. Waktu ia berpaling pada Dang Hyang Lohgawe, ia lihat Mahaguru itu menitikkan airmata karena kefasihannya dalam Sansakerta, keberaniannya berkisah dengan caranya sendiri, dan keberaniannya menyatakan pendapat pada sidang tertinggi kaum brahmana yang tidak berdaya itu. "Teruskan," kau Dang Hyang Lohgawe.

Riwayat itu telah selesai. Arok mengerti perintah itu, meneruskan: "Sri Baginda Jayabaya bukan satu-satunya raja Wisynu yang berbuat demikian. Cucunya, Kretajaya, dengan cara yang agak lebih baik, bukankah juga melakukannya atas diri anak gadis Resi Brahmaraja? Bukankah demikian juga tingkahnya bawahannya di seluruh kekuasaan Kediri?" sekali lagi ia berpaling pada Lohgawe. "Teruskan!" "Dahulu, yang mengalami adalah Anggraini, kemudian Prabarini, kemudian Amisani anak Resi Brahmaraja, sekarang Dedes, anak Yang Terhormat Mpu Parwa. Oleh siapa? Oleh hanya seorang akuwu, akuwu Tumapel, Tunggul Ametung'" Serenuk terdengar sebutan-sebutan: "Jagad Dewa!" Dan seruan-seruan. "Parwa! Yang Terhormat! Mpu Parwa!" Sidang itu kacau, semua berdiri untuk mendapatkan Mpu Parwa. Dang Hyang Lohgawe mengangkat tangan menenangkan: "Yang Terhormat Mpu Parwa sedang beristirahat. Harap sementara ini jangan disibuki dengan ucapan ikut berdukacita. Peristiwa ini, para Yang Terhormat,

merupakan gambaran yang paling jelas tentang keadaan kita semua, kaum brahmana. Hentikan semua pertikaian. Demi Gajayana, yang mempersembahkan candi ini pada Hyang Agastya, dengan hanya bicara saja selama dua ratus tahun kita takkan mencapai sesuatu, kita membutuhkan satria, pelaksana. Lihatlah, berapa banyak di antara kita sendiri yang sudah menyeberang pada kedudukan, wanita dan harta, seakan hendak mengikuti Yang Suci Belakangka? Mereka lebih berbahaya daripada prajurit-prajurit Tumapel dan Kediri sekaligus." "Yang Terhormat Kutridenta tak mengerti Jawa," seseorang memperingatkan. Arok menterjemahkannya dalam Sansakerta. Lohgawe mengangguk-angguk membenarkan. "Kekurangan dalam menggunakan Sansakerta ini," Lohgawe kemudian meneruskan, "tidak atau jangan dianggap sebagai wakil kemerosotan para brahmana, juga tidak akan mengurangi satu titik penting yang akan kusampaikan. Kita telah mema-mah-biak kejengkelan selama ini. Lihatlah ini," dengan telapak tangan kanan ia tepuk leher Arok, "seorang pemuda, seorang Humalang, yang dengan trisula di tangan akan mampu binasakan Kunda. Inilah Arok seorang yang tahu bagaimana menghadapi Akuwu Tumapel. Terimalah dia, perpaduan antara brahmana dan satria yang berasal dari sudra ini." Arok mengangkat sembah pada sidang, dan semua orang memancarkan pandang menyelidik padanya. "Bicara, kau, garuda kaum brahmana, dengan berat dan ketajaman parasyu Hyang Ganesya, dengan ketajaman kilat Sang Muncukunda..." Arok mensansakertakan ucapan Lohgawe, kemudian meneruskan:

"Sahaya telah ikuti semua uraian dan pembicaraan, pertikaian dan saran. Hanya satu yang tidak pernah disinggung: di manakah sebenarnya kekuatan kaum brahmana? Seluruh ilmu dan pengetahuan, milik paling berharga dari kaum brahmana yang tak dapat diragukan ini, dikerahkan hanya untuk memburukburukkan yang tidak disukai, tidak menjadi kekuatan yang mengungguli yang lainlain." Suara yang keluar dari tenggorokan yang belum lagi lama memasuki kedewasaan itu terdengar segar: seorang yang nampak masih bocah, berperawakan sehat, mata bersinar-sinar, dengan Sansakerta yang mencukupi dan persoalan yang menyangkut semua. "Suaramu lantang, Arok, seakan semua dewa Kahyangan memimpinmu. Siapa guru Sansakertamu?" "Bapa Tantripala." "Jagad Pramudita!" seru Kutridenta. "Apakah kau bermaksud mengatakan, semua jataka[kitab Buddha berisi dongengan.] kau pikul pada pundakmu?" "Tidak, Yang Terhormat, baru sampai ..." "Dan tidakkah harimu tak lain dari Hyang Kamahayanikan?"[buku suci Buddha Mahayana] "Tidak, Yang Terhormat. Sahaya tinggalkan Bapa Tantripala, telah mendengarkan ajarannya tentang tatatertib selama tiga tahun."

"Selidikilah 'brahmana' muda ini," Lohgawe mencoba meredakan penyelidikan. "Sinar matamu tidak berbohong," seorang lain memberikan perhatian. "Memang ada sinar Muncukunda." "Sudah lama kita tak dengarkan suara sesegar itu " "Tiada salah seorang brahmana muda mempelajari tatatertib ajaran lain." "Teruskan, garuda!" Lohgawe memberanikan. "Kekuatan, para Yang Terhormat dan Yang Suci," Arok meneruskan untuk menghindari penyelidikan, "barangsiapa tidak tahu kekuatan dirinya, dia tidak tahu kelemahan dirinya. Barangsiapa tidak tahu kedua-duanya, dia pusing dalam ketidaktahuannya." "Dari rontal siapa itu, Arok?" "Dari sahaya sendiri." "Kekuatan brahmana ada pada ilmu dan pengetahuannya," seseorang menyela, "sujudnya pada para dewa." "Apa yang kau maksudkan kekuatan itu tombak dan pedang kaum satria?"

"Kekuatan tanpa Nandi, berkaki empat, bersintuhan langsung dengan bumi, tidak mungkin mengejawantahkan diri sebagai kekuatan di atas bumi. Dia tinggal kekuatan dalam angan-angan," Arok tersenyum. "Empat kaki Nandi, para Yang Terhormat: teman, kesetiaan, harta dan senjata...." "Baru keluar dari perguruan sudah hendak menggurui..." "Para dewa pun tak jarang belajar dari manusia ..." "Bahkan dibebaskan oleh manusia," Arok menambahi. "Teruskan, Arok," Dang Hyang Lohgawe memberanikan lagi. "Teman, para Yang Terhormat dan Yang Suci, semua kita adalah teman. Kesetiaan, para Yang Terhormat dan Yang Suci, tadi pun telah dikatakan, di antara kita ada saja yang telah meninggalkan kesetiaan, menyeberang pada kedudukan, wanita dan harta. Sebuah dari kaki Nandi telah pincang. Sampai seberapa pincangnya, para Yang Terhormat dan Yang Suci lebih tahu. Harta, para Yang Terhormat ..." "Tumapel dan Kediri sudah lama tidak mengeluarkan dharma untuk kita. Candicandi Syiwa terancam kerusakan!" "Harta, para Yang Terhormat selama ada manusia, di situlah harta," sekarang Arok mendengus tertawa. "Mengapa kau mendengus-dengus begitu, setelah tiga tahun belajar tata-tertib?" "Dengan hanya kata, para Yang Terhormat dan Yang Suci, telah sahaya timbun sebanyak setengah tahun upeti Tumapel pada Kediri." "Arok!" seru Lohgawe, matanya terbeliak. "Kau, garudaku, sudah sebanyak itu dharmamu, pada waktu kaum brahmana dalam dua ratus tahun hanya bersilat lidah semacam ini?"

"Masuklah ke hutan Sanggarana, di lapangan pertapaan Bonardana yang telah ditinggalkan di sana upeti Tumapel untuk setengah tahun telah tertimbun. Para pemikulnya tak berani balik ke desa masing-masing. Buat apa kaki kekuatan yang satu ini?" "Garudaku! Garudaku!" Lohgawe masih juga menyebut-nyebut. "Para Yang Terhormat, berilah dia restu untuk melengkapi kaki Nandi. Teman dan kesetiaan sudah ada pada kita semua. Biarlah anak ini, perpaduan sudra-satriabrahmana, melengkapi. Kita tak perlu bertikai lagi." Dan dengan demikian pertemuan bertele itu berbelok arah, membicarakan empat kaki sang Nandi: kaki yang pincang dan yang belum ada, memperkuat yang telah ada, mendasarkan semua pada sintuhan bumi .... Menjelang penutupan telah dilahirkan janji, bahwa peristiwa Dedes tidak akan terjadi lagi, bahwa itu adalah pengkhianatan terakhir atas kehormatan kaum brahmana. Untuk itu kaum brahmana mengakui kemestian untuk bertangan satria, dan bahwa satria itupun harus diperlengkapi dengan segala syarat kesa-triaan. Semua untuk membangunkan kaki perkasa Nandi, dan dengan demikian ia bisa jadi kendaraan Hyang Mahadewa Syiwa di tengah-tengah cakrawartinya. Mpu Parwa, brahmana yang sedang menanggung aniaya itu, dianggap tepat untuk memimpin upacara penutupan dan pengucapan janji di dalam candi Agastya. Upacara itu mula-mula dilakukan di gundulan hutan di sore hari. Mereka kemudian berbaris di malam hari menuju ke candi Agastya yang bermandikan sinar obor damar, di bawah gema puji-pujian yang dibubungkan ke kahyangan. Di atas pujipujian itu melengking suara Mpu Parwa:

"Ya, Mahadewa Bathara Guru, kalau kami dua ratus tahun yang lalu dapat meletakkan mahkota di atas kepala Erlangga, tentulah kami tidak lebih keliru bila memberikan kepercayaan pada brahmana muda ini sebagai penutup dari ketiadadayaan dan kelalaian dan pertikaian antara kami sendiri selama ini." Mereka kemudian berbaris berpradaksina mengelilingi candi, berhenti di depan Nandiswara dan Mahakala, seperti ular hendak memasuki liang. Paling depan adalah Mpu Parwa, dengan obor kecil pada tangannya. "Penutup pertemuan kami, ya Mahadewa, artikanlah itu sebagai awal selesainya kezaliman Wangsa Isana " "Om!" "Benarkanlah kepercayaan kami pada "brahmana" muda Arok ini, perpaduan dari triwangsa-triwangsamu sendiri, untuk perkokoh cakrawartimu." "Om!" Barisan itu kemudian berlutut, mengangkat sembah. Dang Hyang Lohgawe membunyikan giring-giring perunggu. Nyanyi puji-pujian membubung menghalau burung-burung malam. Di atas mereka langit yang hitam tertutup mendung tebal. Kemudian di sebelah barat tiang api melompat dari perut bumi, menusuk langit, kemudian pecah seperti payung dan turun lagi ke bumi. Mereka semua merasakan geletaran bumi, goncangan, perut bumi sendiri terasa menggelegak.

Kelud meletus. TUNGGUL AMETUNG Kalau hanya menghadapi rombongan perampok atau pemberontak, baginya merupakan pekerjaan sehari-hari sejak sebelum diangkat jadi akuwu. Ia tahu bagaimana menangani mereka. Orang yang mengaku brahmana, berkumis sekepal, menutup dada dengan Durga Mahisasuramardini, menghadapi seorang Tunggul Ametung dengan pasukan hanya seorang diri ....Jiwanya tergoncang. orang seberani itu tidak bisa tidak pasti seorang mahasiddha, seorang setengah dewa, seorang bathara, bukan iawan baginya dan bagi pasukannya. Di atas kuda dalam perjalanan pulang pikirannya kacau. Ramalan resi dari candi Erlangga yang menjanjikan kebesaran melalui Dedes mulai menerbitkan ragu. Perampasan berhasil atas upeti ke Kediri kini ia anggap bukan suatu perbuatan bran-dal-brandal nakal. Pembawa-pembawa upeti yang tak kunjung pulang pun bukan suatu kenakalan gerombolan perampok. ia melhat adanya bangunan raksasa yang sedang dihadapkan padanya sebagai akuwu dan sebagai pribadi. Keterangan Arya Artya membangkitkan kecurigaan. keterangan sisipan dari Belakangka semakin mencurigakan.

Orang-orang terpelajar yang tahu segala-galanya, pikirnya, tapi tak punya pengetahuan bagaimana menyembunyikan kerakusan sendiri! Ia dapat menduga Belakangka mencurigai kesetiaannya pada Hyang Wisynu, pada Kediri. Mata-mata melaporkan, Pandita Negeri itu telah mengirimkan utusan ke Kediri. Ia tak boleh waswas lagi. Dengan satu pasukan kuda ia berangkat juga ke Kediri untuk melumpuhkan utusan Belakangka. Semua yang bersangkut-paut dengan manusia begini, baginya adalah latihan jasmani dan ketangkasan. Tetapi manusia bathara yang mengaku brahmana dari utara sungguh-sungguh bukan tandingannya. Jelas dia bukan anak wayang Belakangka atau Arya Artya. Dia lebih besar dari dua mereka sekaligus. Pasukan kuda itu berpacu tanpa mengindahkan aturan lagi, seakan tidak ada Tunggul Ametung di antara mereka. Karunia dijanjikan untuk mereka yang paling pertama dapat menangkap utusan Belakangka. Tunggul Ametung sendiri ikut dalam perlombaannya sendiri seperti biasa. Orang tak mengindahkan lagi miringtegaknya umbul-umbul pekuwuan. Barangsiapa tertinggal, dia jauh lebih tertinggal, dibutakan oleh tabir debu. Kuda-kuda pegunungan itu mendaki dan menuruni bukit tanpa lelah, tanpa gentar, dan lebih kencang lagi di dataran. Hutan, jurang, selokan dan anak-anak sungai dilalui tanpa perhatian. Mereka melalui sebelah utara Gunung Kawi dan Gunung Kelud, dan di sebelah selatan Gunung Anjasmara. Memasuki Jenggala mereka terpaksa menunda pengejaran. Kuda-kuda telah kehabisan nafas dan keringat. Para pengejar kehabisan tenaga, dan mata setengah rabun karena kotoran.

Mereka tertinggal lebih setengah hari dari utusan Pandita Negeri Tumapel. Keesokan harinya, di tepi sungai Brantas mereka dapatkan seekor kuda tercancang pada sebatang kayu kapuk. Penunggangnya tiada nampak. Setelah diperiksa, benar kuda Tumapel. Cap bakar pada pinggul kuda menunjukkan kuda pekuwuan. Tunggul Ametung memerintahkan untuk menyisiri hutan sekeliling. Mereka tak dapatkan seorang penunggang kuda Rakit juga kosong tanpa pengemudi, tercancang di tepian. Dua buah kapal yang sedang belayar menghilir pun tidak memberi tanda akan adanya penumpang yang naik dari tepian. Pasukan itu kembali menghadap pada Tunggul Ametung. "Dia belum menyeberang," kata akuwu itu. "Demi Harimur-ti!" ia bertolak pinggang, mengerahkan pikirannya. "Periksa rakit itu." Orang mulai memeriksa rakit. "Lihat, galah pendayung ada atau tidak." "Ada, Yang Mulia." "Perakit itu masih di sekitar sini. Cari!" ia sendiri menebarkan pandang meneliti atas pepohonan. "Bangsat! turun, kau!" matanya telah menangkap benda yang mencurigakan di balik dahan dan daun johar. Benda itu menyerosot turun. Kakinya terkelupas, merangkak mengangkat sembah. Pasukan kuda segera melingkari. "Mengapa sembunyi?" Orang desa yang hanya bercawat itu pucat, menggigil: "Sahaya takut." "Tak urung hilang juga kepalamu. Mana penunggang kuda ini?" Dengan jempolnya perakit itu menuding pada rakitnya:

"Di bawah rakit sahaya, ya, Pangeran." Kembali rakit diselidiki. Mereka dapatkan penunggang kuda itu menggelantung di bawah rakit. Waktu dibawa ke hadapan Tunggul Ametung mereka mengetahui dia teman sepasukan sendiri. Tunggul Ametung menarik pedangnya: "Siapa suruh kau?" "Yang Suci" "Keluarkan surat yang kau bawa." Surat itu benar kepada Yang Tersuci di Kediri, mewartakan bahwa Tunggul Ametung Tumapel sudah mulai takut pada bayangan Hyang Durga, suatu pertanda wewenangnya atas Tumapel mulai harus diragukan. Tunggul Ametung ingin menyemburkan umpatan pada Belakangka. Ia tak berani. Ia teliti wajah mereka seorang demi seorang, siapa yang bakal paling berbahaya terhadap dirinya. Semua menghindari tatapannya. "Siapa hendak ikuti jejak pengkhianat ini?" tanyanya. "Jangan hinakan sahaya sebagai pengkhianat," tangkapan itu membela diri. "Sahaya hanya diperintahkan membawa surat ini, selamat sampai ke Kediri." "Mengapa lari dari kami?"

"Dari kejauhan nampak barisan tidak teratur. Sahaya sangka bukan pasukan Tumapel." "Kau orang Kediri, bukan Tumapel. Di mana kau dilahirkan?" "Jenggala. Yang Mulia." "Menyerahkan kuda Tumapel pada ketidaktentuan, selamatkan diri sendiri di bawah rakit." "Tugas sahaya menyelamatkan surat, bukan kuda. Yang Mulia." Dengan kuda pasukan itu menyeberangi Brantas, meninggalkan dua bangkai di pinggir kali. Sampai di seberang mereka berjalan teratur, dengan seorang peseru jauh di depan, mewartakan akan lewatnya Yang Mulia Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Mereka memasuki Kediri. Di tengah perjalanan ke pusat kerajaan, seorang prajurit Tumapel berkuda menghindari papasan, membalikkan kudanya di kejauhan dan melarikan diri. Tunggul Ametung melihat adegan itu, dan ia tak berani menjatuhkan perintah untuk mengejar, ia pura-pura tidak tahu. Pasukan pengawal pengiring itu semakin mengerti adanya persekutuan Kediri terhadap Tunggul Ametung persekutuan yang didalangi oleh Yang Suci Belakangka. Tunggul Ametung sudah tahu akan adanya persekutuan ini. Hasil pendulangan Kali Kanta tak pernah dapat disembunyikannya dari Kediri. Ia terpaksa menambahi jumlah budak baru, dan Kediri menaikkan jatah upeti. Telik telah disebarkannya untuk menyelidiki kesetiaan silpasastrawan Tumapel, Gusti Putra. Dan mereka tidak mendapatkan petunjuk. Sekiranya ada pun ia takkan berani mengganggunya.

Ia membutuhkan tenaganya: mendirikan sebuah candi Wisynu yang megah untuk kehidupannya setelah pembebasan dari samsara. Ia sengaja sembunyikan perintahnya dan para pandita, takut tidak mendapatkan restu mereka, sebagai orang berasal sudra yang hendak mencandikan diri. Tetapi Gusti Putra, juga seorang sudra, telah membenarkan maksudnya. Yang ia tidak mengerti, apa maksud Belakangka memata-matainya. Dari hasil Kali Kanta ia sendiri mendapat pembagian yang tidak sedikit. Ia tidak mendirikan istana di Tumapel. Ke mana saja puluhan ribu saga emas yang telah diterimanya? Dan sekarang hendak dipergunakannya Hyang Durga Mahisasu-ramardini sebagai jerat pada lehernya? Bukankah Yang Suci merupakan sekutunya untuk menimbulkan kembali perbudakan? Bukankah mereka berdua tetap tidak mempersembahkan jumlah budak yang sesungguhnya ke Kediri? Bukankah Belakangka membikin jerat pada lehernya sendiri juga? Pendahulu Belakangka tidak begitu cerdik. Kediri telah mengirimkan padanya untuk memimpinnya di bidang keigamaan, karena ia dianggap terlalu dungu - tidak berilmu. Ia kebaskan tanaman Kediri itu dalam suatu kecelakaan. Tapi Belakangka membenarkan semua tingkahnya, menjadi sekutunya yang ter-percaya, maka dia tidak terkebaskan dalam kecelakaan. Pasukan kuda dengan Akuwu Tumapel di depan itu langsung menuju ke istana Ratu Angabaya Kediri untuk memohon ijin menghadap Sri Baginda Kretajaya. Dengan ijin itu ia menghadap. Juga Yang Tersuci Mpu Tanakung kebetulan hadir mendampingi Sri Baginda. Dan ia sendiri telah bersiap-siap menerima murka. Larinya prajurit kuda Tumapel waktu terpapasi menjadi petunjuk baginya Belakangka telah mengirimkan dua orang utusan dengan persembahan yang sama.

"Kau, Tunggul Ametung, setiap kali menghadap, setiap kali semakin banyak yang tak kau persembahkan." ia tunduk mengawasi kaki Sri Baginda yang telah lebih se tengah abad pernah melangkahi bumi, lebih tiga puluh tahun duduk di singgasana dalam segala kemewahan dan kebesaran. "Malahan perkawinanmu dengan Dedes pun tidak kau persembahkan. A, barangkali mertuamu kau agungkan lebih daripada Yang Tersuci, mungkin telah kau panggil pematungmu untuk membangunkan arcanya dari emas utuh." "Ampun, duli Sri Baginda, bila ada persembahan dari orang lain yang begitu bunyinya, itu tiadalah benar. Inilah sahaya Sri Baginda datang menghadap sendiri." "Ataukah karena pengaruh Mpu Parwa, mertuamu itu, kau mulai kecut melihat gambar dudul Hyang Durga?" "Ampun, Sri Baginda, adapun mertua sahaya, Mpu Parwa, belum pernah sahaya temui dalam hidup sahaya, sampai sekarang." "Ataukah persembahan Menteri-Dalam itu keliru, upeti pertanian Tumapel belum juga datang sampai sekarang?" "Ampun, Sri Baginda, perusuh telah merampasnya di hutan Sanggarana."

"Kami lihat kumismu masih utuh pada mukamu," tetak Kretajaya, "kau, anak sudra tanpa harga, tak mengerti bagaimana berterimakasih pada Kediri yang mengangkatmu begitu tinggi, sejajar dengan para narapraja dan para pangeran ..." Sri Baginda menarik diri, dan tertinggal ia hanya dengan Yang Tersuci Tanakung. "Apakah Yang Suci Belakangka kurang membantumu maka Sri Baginda sampai begitu murka padamu?" "Ampun, Yang Tersuci, kerusuhan-kerusuhan dari macam yang belakangan ini sahaya memang baru mengenal." "Bukankah kau menjadi Tunggul Ametung melalui cara yang sama seperti dilakukan oleh mereka sekarang?" "Selamanya dapat sahava patahkan, kecuali yang terjadi pada dua tahun belakangan ini. Yang Tersuci. Mereka menggunakan ketakutan kawula terhadap Hyang Durga Mahisasuramardini." "Juga kau sendiri takut. Apa nasihat Yang Suci?" "Hendak dipanggilnya Dang Hyang Lohgawe." "Dia betul, mengapa kau halangi?" "Tiada sahaya menghalangi, sahaya langsung menghadap sekarang" "Orang bilang kau telah bikin persekutuan dengan brahmana Syiwa, Arya Artya. Orang bilang kau telah lakukan nasihatnya mengawini Dedes dan mendudukkannya di sampingmu, di puncak kekuasaan Tumapel. Dua puluh tahun kau telah

dibenarkan jadi Tunggul Ametung, dan tidak juga mau belajar dari sikap Sri Baginda terhadap mereka. Jadi Yang Suci Belakangka masih kurang membantumu?" "Mencukupi, Yang Tersuci." "Ataukah kau sendiri yang tak juga bisa mengerti?" Tunggul Ametung tak dapat menjawab. "Atau kau sendiri yang sudah bosan memangku jabatan?" "Hidup dan mati sahaya adalah milik Sri Baginda." "Dua puluh tahun yang lalu itu pun telah kau ucapkan." "Sahaya tidak akan jera mengucapkannya, Yang Tersuci." "Tidakkah Yang Suci pernah menasihatkan padamu tentang Arya Artya? seorang brahmana yang tinggal di pinggiran kota, minta pengakuan bergelar Arya ... brahmana yang membutuhkan gelar kebesaran dunia ...bukankah telah diterangkan padamu apa arti peristiwa itu? Bila ada kesempatan, dia akan muncul sebagai satria! melemparkan jubah brahmananya! Kau-lah yang telah melaksanakan nasihatnya, mengawini anak brahmana Mpu Parwa. Kau tidak meminta nasihat dari Yang Suci Malah Belakangka kau paksa mengawinkan kalian." Pada waktu itu terbayang oleh Tunggul Ametung penjaga candi Sri Erlangga. Ramalannya menjanjikan kebesaran karena perkawinannya dengan Dedes Kini

bencana demi bencana jadi hadiah kawinnya, dan kebesarannya terangkat naik ke atas ujung duri. "Baik, pergi kau pada Ratu Angabaya, pikirkan masak-masak sampai jawabanmu dapat kau persembahkan dan dapat difahami oleh Sri Baginda." Tunggul Ametung tidak diperkenankan meninggalkan Kediri. Dalam penahanan di istana Ratu Angabaya, tanpa seorang penuntun pikiran, ia mencoba mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang Arya Artya. Yang Tersuci memang tidak keliru bila menilai brahmana itu sebagai seorang yang rakus akan kebesaran dunia. Belakangka selalu menjauhkannya darinya. Dan bukan tanpa alasan. Apakah Arya Artya sedang menggali lubang perangkap untuk dirinya? Boleh jadi dia sedang menggali lubang untukku, tetapi apa artinya lubang untuk Tunggul Ametung ini? Dia telah berikan padaku Dedes. Dedes adalah segalagalanya. Dia lebih berarti dari Tumapel, dari hidup dan mari. Gadis yang secantik itu, sejelita itu, tidak menyerah gampang pada seorang Tunggul Ametung, telah menimbulkan rangsang semangat dalam hatinya. Hidup menjadi berbobot karena dia. Menjadi lebih indah karena dia. Ia tak menyesal akan lubang perangkap itu. Ia merasa berbahagia di dalamnya. Sekarang ia akan dapat mempersembahkan: Arya Artya patut disingkirkan dari muka bumi. Ia tak berani meneruskan pikiran melenyapkan brahmana itu. Persembahan itu bisa menyebabkan jatuhnya titah untuk juga melenyapkan Ken Dedes, paling tidak titah untuk menyerahkan Paramesywarinya pada Sri Baginda. Ia tidak akan bicara sesuatu tentang brahmana terkutuk itu. ia akan mempersembahkan kaum

brahmana Syiwa pada umumnya, dan ia bersedia menumpas semua mereka dari muka bumi. Juga Mpu Parwa mertuanya, juga Dang Hyang Lohgawe. Hanya itu persiapannya untuk mempersembahkan pada Sri Baginda Kretajaya. Selama beberapa hari itu! Selama itu pula hatinya gelap pekat digumul oleh kerinduannya pada Ken Dedes, Ia mempersembahkan pada Ratu Angabaya telah siap untuk menghadap dan ia pun dihadapkan. Sri Baginda tidak sudi melihatnya.Yang Tersuci Tanakung yang menerimanya. Dan Kepala Penghulu Agama Negara itu meng-gedikkan tongkatnya karena kecewa. "Apakah selama dua puluh tahun belakangan ini hanya merampas dan merampok, menyembunyikan banyak hal pada Sri Baginda saja yang kau pelajari sebagai akuwu? Apakah kau tidak mengerti, dengan penumpasan kaum brahmana Syiwa, semua pemeluknya akan menghadapkan mata dan taringnya pada Kediri? Apakah kau tidak tahu kaum brahmana bukan satria? Mereka tidak akan membikin kerusuhan kalau tidak dirusuhi. Mereka tidak pernah bikin keonaran kapan dan di mana pun. Bagaimana seorang akuwu bisa berpendapat seperti itu?" "Mereka telah membikin kerusuhan dengan menggunakan Hyang Durga. Tak mungkin itu bukan karena mereka, Yang Tersuci." "Kau belum pernah mempersembahkan bukti itu pada Sri Baginda. Para brahmana adalah orang-orang terpandai dari seluruh negeri. Orang dungu, seperti kau ini, lebih suka melihat semua orang sedungu kau, maka kau ingin binasakan mereka. Kembali kau ke tempatmu. Pikirkan sekali lagi." Akuwu Tumapel kembali ke tempat penahanannya. Pada waktu itu ia menjadi ketakutan takkan diperkenankan kembali. Dan itu berarti ia bisa kehilangan segalagalanya: wilayah kekuasaan, singgasana dan Dedes.

Dedes, ya Dedes. Mengapakah setelah mengawininya, melalui jalan yang dibenarkan oleh para dewa, ia tertimpa begini banyak kesialan? Seorang akuwu, yang di negeri sendiri menggenggam jiwa semua orang, di Kediri tak ubahnya seperti anjing tanpa harga. Apakah Dedes yang memiliki kebesaran itu, dikasihi para dewa, dan Tunggul Ametung hanya menompang pada kebesatannya? Pikiran itu ia bantah sendiri. Semua kesialan dan kesulitan ini semestinya hanya bea untuk kelahiran anaknya. Dan ia mendapatkan sesanti[ketenangan batin] dengan pikiran itu. Waktu menghadap lagi ternyata Yang Tersuci pun tidak sudi melihatnya. Hanya Menteri-Dalam. "Jadi kedatanganmu sekarang ini bermaksud untuk memohon titah? Baik. Akhirnya kau cukup bijaksana. Upeti yang setengah tahun itu segera penuhi, dengan denda sebanyak itu juga. Kau boleh kembali ke Tumapel." Keluar dari istana ia disambut oleh Ratu Angabaya dan dibawa pulang ke istananya. Waktu ia mohon diri untuk pulang Ratu Angabaya mengangguk-angguk: "Akuwu masih punya persoalan denganku." "Semua telah diselesaikan di istana, Yang Mulia." "Tentu. Tetapi persoalan denganku belum selesai, kataku. Pertama, kau telah membunuh orang Tumapel di daerah Kediri, bukan di Tumapel. Kedua kau membunuh kawula Kediri, si tukang rakit. Ada saksi yang kau kira tidak melihatnya: kecil, anak si tukang rakit, bersembunyi lebih atas dari bapaknya." "Prajurit berkuda Tumapel yang lakukan itu, Yang Mulia." "Soal ketiga dari perkaramu, kau menyuruh prajurit Tumapel melakukan itu, dan kau sendiri melihat mereka melakukannya, dan kau tidak mencegahnya."

Ampun, Yang Mulia, keperluan menghadap Sri Baginda lebih penting dari jiwa mereka berdua." "Bahkan Sri Baginda tidak sudi melihat mukamu. Kau tidak aku perkenankan pulang ke Tumapel. Akuwu Tumapel bisa dijabat oleh setiap orang." "Ampun, Yang Mulia." "Kau tahu urusan agama ini. Sri Baginda sendiri yang akan membuka pengadilan, seperti setiap raja Kediri melakukannya dalam semua peristiwa pembunuhan atas diri kawula di atas wilayah kerajaan. Lehermu akan putus." "Ampun Yang Mulia Ratu." "Dalam pencurian dan pembunuhan tidak pernah ada ampun." "Tolonglah leher sahaya ini, Yang Mulia Ratu." "Aku? Menolong buaya seperti kau? Pantas Yang Tersuci pun tidak sudi melihat mukamu lagi." "Katakanlah apa harus sahaya perbuat." "Persembahkan sendiri perkaramu pada Sri Baginda." "Tidak mungkin." "Pada Yang Tersuci." "Tidak mungkin." "Sang Patih pun telah menyerahkan perkara ini kepadaku." "Yang Mulia Ratu jua yang berkuasa atas leher sahaya," ia angkat mukanya. Ia tidak rela mari tidak di medan perkelahian. Ia tidak rela mati di medan agama. "Sekiranya sahaya boleh membeli leher sahaya kembali."

Ratu Angabaya meneleng padanya: "Apakah lehermu ada harganya?" Dalam pandang batin Tunggul Ametung membentang pendulangan Kali Kanta. Dan seorang ratu Angabaya sudah akan senang dengan lima ribu saga. "Terserahkan pada Yang Mulia Ratu berapa harga leher sahaya ini." "Apakah lehermu kau hargai tinggi atau murah?" "Mungkin cuma lima ribu saga." "Aku kira cuma seribu saga. Berapa harga Ken Dedes? Kau tebus atau kau serahkan?" "Jagad Dewa! Sampai hati Yang Mulia menuntut istri sahaya yang tiada tahu sesuatu apa?" "Seorang brahmani seperti itu tentu jauh lebih berharga daripada hanya seorang buaya. Aku kira harganya ada barang tujuh ribu saga." "Sahaya akan usahakan, Yang Mulia Ratu." "Aku sendiri yang akan pimpin pasukan membikin Tumapel jadi bubur: pertama, kalau mulut buayamu hanya baik untuk dilempari jangkar; kedua, kalau Yang Suci Belakangka sampai cedera, biarpun hanya lecet karena kau."

Ia bersorak dalam hati meninggalkan Kediri dalam iringan pasukannya. Dua belas ribu saga dalam setahun! Ia dapat rampas dan peras semua emas dari rumah kawula Tumapel. Pendulangan Kali Kanta tetap tidak diketahui oleh Kediri. Ia bersumpah dalam hati akan pimpin sendiri penyapuan emas pada semua biara Syiwa. Ia tidak melalui jalan utara. Mula-mula pasukannya mengikuti jalan ke hulu Brantas, terus ke selatan, baru kemudian menyeberang. Semua biara Syiwa dalam kekuasaan Kediri dalam perjalanannya ia serbu dan rampas semua logam mulia yang nampak dan tersembunyi. Tak dibiarkannya satu orang penghuni pun hidup. Ketakutannya pada Hyang Durga berubah jadi dendam kesumat. Semua patung, yang ia temui ia hancurkan dengan pedang, juga yang dari emas atau suasa atau perunggu. Biara ia bakar dan ditinggalkan. Waktu memasuki daerah Blitar, ia melakukan perampokan dan pembunuhan lagi. Sekali ini ia menghadapi perlawanan dari barisan biarawati, yang menggunakan pelempar anak panah. Ia kehilangan dua orang anak buahnya, tapi tak urung dapat merampas alat-alat upacara dari emas. Memasuki Tumapel ia telah dapatkan lebih dari tujuh ribu saga. Dengan senyum puas ia perintahkan pasukan kuda berjalan lambat-lambat. Perjalanan ternyata tidak langsung menuju ke Kutaraja. Tunggul Ametung memerintahkan pasukannya berhenti di pinggir jalan desa. Ditunjuknya sepuluh orang prajurit untuk mengawalnya, sedang sisanya harus menunggu, tak boleh meninggalkan tempat.

Tanpa membawa barang rampasan ia membelok ke kanan, memasuki jalan hutan, menuju ke tempat rahasia pendulangan emas. Mereka tidak memapasi seorang pun, karena jalanan rahasia ini tidak boleh ditempuh tanpa ijin dari pekuwuan. Mendekati tempat pendulangan segerombolan budak bersenjata menampakkan diri, bersujud dan meletakkan kening di atas tanah. Mereka adalah penjaga wilayah emas yang terpercaya. Semua lidah mereka telah dipotong untuk keselamatan rahasia. Tunggul Ametung turun dari kuda, berkata manis: "Kembali kalian di tempat semula," ia naik ke atas kudanya lagi dan meneruskan perjalanan. Gusti Putra berlutut dan mengangkat sembah. Tunggul Ametung langsung naik ke panggung dan silpasastrawan itu mengikuti. "Persembahkan pada kami barang sepuluh ribu saga." "Ampun, Yang Mulia, yang telah dilebur baru meliputi separuh dari jumlah itu." "Itu pun baik." Gusti Putra membungkus lima ribu saga dalam tapas, diikat dengan tali rotan, dipersembahkannya pada Tunggul Ametung. Sebelum akuwu itu berbalik meninggalkannya ia bersembah: "Ampun, Yang Mulia, karunialah sahaya kiranya perkenan untuk menengok anak dan istri sahaya." "Anak dan istrimu akan didatangkan kemari." "Ampun, Yang Mulia, bukan maksud sahaya menjadikan mereka budak di sini."

"Jadi kau mengerti. Apakah kau merasa dirimu budak?" "Dengan tidak diperkenankan pergi barang ke mana sahaya kehendaki, sahaya memang budak." "Kau bukan budak. Apakah kurang cukup gelar Gusti untukmu?" "Sejak kecil sahaya belajar keahlian membangunkan rumah-rumah suci bukan untuk mendapatkan gelar Gusti dan bukan untuk tidak diperkenankan meninggalkan tempat." "Bukankah di sini juga banyak anak dan perempuan?" "Yang Mulia, apalah gunanya ilmu sahaya bila hanya untuk jadi budak bergelar Gusti?" "Kau tinggal di sini. Kau takkan dapat lewati jajaro itu tanpa jadi bangkai. Atau kau kehendaki aku panggilkan jajaro itu'" "Ampun. Yang Mulia, sahaya masih ingin hidup. Tapi kalau itu Yang Mulia kehendaki, inilah diri sahaya." Tunggul Ametung tak dapat menundukkan Gusti Putra, juga tak memberinya perkenan meninggalkan tempat. Ia turun dari panggung diiringkan silpasastrawan yang menjinjing lima ribu saga, kemudian mempersembahkannya waktu akuwu itu

naik ke kudanya lagi. Ia tinggalkan tempat dengan tambahan emas. Kembali para jajaro keluar dari persembunyiannya untuk menghaturkan penghormatan. Ia perintahkan sepuluh orang pengawalnya turun dari kuda. Dengan gerak tangan ke atas rombongan jajaro itu meringkus sepuluh orang pengawal itu. Seorang di antaranya mengikat kuda-kuda itu menjadi rentengan dan mempersembahkan talinya pada Tunggul Ametung. Dari mulut para prajurit kuda, yang masih sempat belum tersumbat, terdengar raungan memohon ampun. Dan Tunggul Ametung mulai menggerakkan kudanya. Sepuluh kuda dalam rentengan itu mengikuti di belakangnya. "Tak perlu kalian tunggu teman-teman kalian itu," katanya pada mereka yang menunggunya di pinggir jalanan desa. "Lain kaJi dijemput." Sekarang ia tidak di depan atau tengah barisan. Di belakang. Dan pasukan kuda itu berjalan seirama seperti sedang berparade. Kegelapan malam mulai turun waktu pasukan itu sampai di luar Kutaraja. Dari jauh nampak sebuah pasukan Tumapel sedang mempapasi. Pasukan kuda itu masih juga berjalan tenang-tenang. Hutan di kiri dan kanan jalan sudah gelap. Dan justru dari situ terdengar pekik bersama. Kuda-kuda terkejut dan lari. Di depan mereka tibatiba membentang sepasang tali menghadang jalanan. Juga Tunggul Ametung jatuh terpental tersapu tali. Namun bungkusan emas itu tidak terlepas dari tangannya. Hujan tombak bambu mengikuti, kemudian serbuan kilat dari kiri dan kanan. Tunggul Ametung lari membawa bungkusannya, berteriak pada pasukan kaki yang sedang datang. Kuda-kuda di belakang-nya berpusing-pusing dalam kebingungan.

Yang telah tersambar tombak terinjak-injak. Yang masih sempat dapat membawa badannya lari mengikuti akuwunya Pasukan kaki itu datang membantu dan para penyerang yang terdiri atas barang lima puluh orang itu menghilang ke dalam hutan dengan membawa barang rampasan. Dengan membawa bungkusan emas Tunggul Ametung kembali lagi, memerintahkan pengejaran. Dengan tombak yang tak dapat dipergunakan mereka memasuki hutan. Hanya seorang yang nampak oleh mereka. Yang lain hilang seperti meruap dalam udara. Yang seorang itu terus lari dan Tunggul Ametung bersama prajuritnya terus mengejar. Pada sebuah tubir jurang orang yang satu itu tak dapat lagi meneruskan larinya. Ia naik ke atas pohon enau. Orang bersorak-sorak memerintahkannya turun. Mata tombak-tombak teracukan ke atas. "Turun, kau!" perintah Tunggul Ametung. "Kau akan diberi pengadilan yang baik. Turun!" Yang turun bukan perburuan di atas enau itu, tetapi kegelapan malam. Akuwu itu membutuhkan keterangan tenung para penyerang. Ia perintahkan terus mengepung sampai orang tersebut menyerah. Kemudian ia sendiri pulang ke Kutaraja, dengan bungkusan tidak terlepas dari tangan. Tetapi baru saja ia keluar dari huun diketahuinya emas rampasan dari biara-biara Syiwa telah terampas oleh para penyerang. Dalam amarahnya ia kembali lagi ke tempat semula, memerintah mengasapinya dari bawah.

Api mulai menyala. Perburuan seorang di atas enau itu menebang dua daun, mengepitnya pada ketiaknya dan menolak diri dengan kaki, kemudian terbang melayang dalam kegelapan menuruni jurang. Dari udara terdengar suaranya yang nyaring: "Tunggul Ametung! Tunggul Ametung ... ha-ha-ha-ha!" Akuwu itu murka, memaki dan mencaci sejadi-jadinya Ia pulang ke Kutaraja dengan hanya lima ribu saga. Pasukan kuda yang dibawanya rusak. Tetapi baginya bukan suatu perkara besar atau pun berat. Sejak muda ia hidup dalam alam perampasan, merampas atau dirampas. Juga kehilangan rampasan emas baginya bukan suatu perkara. Yang memukulnya justru Ken Dedes. Dicari-carinya, ditemukannya dalam pura sedang memuja Hyang Durga dan tidak kurang dari tiga patung emas bathari itu juga yang telah dihancurkannya dalam perjalanan. Sekarang, wanita yang dipujanya memujanya hanya dari kayu! Hyang Durga! Betapa bathari itu banyak menerbitkan kesulitan. Sri Baginda dan Yang Tersuci murka karena ia takut padanya, sekarang Dedes justru memuja dewi kebinasaan itu. Perusuh muda itu juga mengamangkan Hyang Durga Mahisasuramardi-ni kepadanya. Ia membenarkan Kediri: nampaknya ada persekutuan Durga terhadap dirinya. Ia sudah mulai membalaskan dendamnya dengan hancurnya biara-biara Syiwa. Sekarang syakti-nya didirikan di dalam pura pekuwuan. Dan tidak lain dari Dedes yang dipujanya yang mendirikannya. Kemarahan Kediri menyebabkan ia berbalik mendendam terhadap segala yang bersifat Syiwa. Dahulu ia hanya membunuhi mereka yang secara terang-terangan memperlihatkannya di depan umum, sekarang ia bernafsu hendak menghancurkannya sama sekali. Tetapi Dedes? wanita yang menjanjikan kebesaran itu?

Dan waktu Dedes menuntutnya mencari mertuanya sekali lagi seorang pemeluk Syiwa, Mpu Parwa itu! Malam hari itu juga ia datangi rumah mertuanya. Pedepokan yang terpencil jauh dari desa itu sunyi. Tak ada penghuni kecuali binatang piaraan yang mulai jadi liar. Ia periksa semua bilik. Ia bongkari lemari batu tempat rontal-rontal disimpan. Kemudian ia perintahkan bakar semuanya, termasuk rumah dan pura pedepokan. Beberapa hari lamanya ia mencari dan tidak menemukan. Bila berhasil ia telah bermaksud hendak membelah kepalanya dengan pedangnya sendiri. Pulang dari pengembaraan ia langsung menuju ke rumah Arya Artya. Orang serumahnya telah melarikan diri melihat datangnya bondongan pasukan kuda. Juga Arya Artya. Dan sekarang ia mencari brahmana yang menggunakan gelar kebesaran itu. Beberapa hari lagi. Yang ditemukan adalah letusan Kelud. Gempa yang melongsorkan tanah telah menumbangkan sebatang pohon. Kudanya melompat tak terkendali. Kemudian binatang itu sendiri tersekat pada cabang pohon yang melintang, jatuh ke samping, rubuh, ia tertindih dan mengalami cedera. Perawatan Dedes yang berkasih sayang itu menyejukkan harinya. Mau rasanya ia membayar kembali dengan apa saja: gelar, harta benda, dan jiwa orang lain. Tetapi setelah sembuh tingkahnya yang ogah menyerahkan hati dan badan kepadanya sebagai istri yang syah membangkitkan berang. Rasa-rasanya tega ia hendak meremasnya sampai lumat jadi bubur. Mengingat akan ramalan resi candi Erlangga dan tuntutan Ratu Angabaya itu, kembali ia tak berani melakukan kekasaran. Sri Baginda Kretajaya pun akan merampasnya sekali ia pernah melihatnya sebagai Paramesywari Tumapel. Semua telah dipertaruhkan untuk perempuan yang seorang ini. Ia merasa terlalu dungu apabila merusaknya sendiri.

Lohgawe menolak datang ke pekuwuan. Belakangka tetap dapat menahan diri. Tunggul Ametung gusar. "Semua harus datang karena panggilanku. Semua harus pergi karena usiranku," raungnya. "Tidak bagi Dang Hyang Lohgawe, Yang Mulia," tegah Belakangka. "Tidak sembarang orang mendapatkan gelar Dang Hyang tanpa sebab. Yang Mulia," Sang Patih mencoba menasihati. "Seorang tua tanpa tenaga ," dengus Tunggul Ametung. "Apa artinya dia untuk mata pedangku?" "Seorang brahmana tidak bersenjatakan pedang. Yang Mulia," tegah Belakangka, "dia bersenjatakan kata, setiap patah diboboti sidhi dari para dewa."Waktu mata akuwu itu membeliak padanya, ia tidak peduli. Meneruskan,"Cedera bagi orang seperti dia akan membakar amarah semua pemeluk Syiwa. Dia harus didekati, dibaiki, diambil hatinya." "Orang tua keparat!" "Belum pernah terbukti dia menghasut semua kerusuhan ini, Yang Mulia," Sang Patih mengajukan perhatian. "Apa artinya menolak panggilan kalau bukan hendak membangkang?"

"Dia tidak pernah mendapatkan dharma dari Tumapel, Yang Mulia. Dia tak ada kewajiban untuk tunduk pada Yang Mulia." sekali lagi Belakangka menasihati. Juga sekali lagi Tunggul Ametung membeliak pada Belakangka. Setelah pulang dari Kediri Yang Suci telah berubah dalam penilaiannya. Dia tak lagi dianggapnya teman sekepentingan dalam menumpuk kekayaan, lebih banyak seekor ular yang ikut tidur satu selimut dengannya. "Dia mendapat pengakuan dari Tumapel, diijinkan membuka perguruan ..." "Kalau semua dilarang membuka perguruan, Yang Mulia, dalam sepuluh tahun lagi tak ada anak muda bisa baca tulis, tak ada lagi yang mengerti bagaimana memuliakan para dewa, manusia kembali menjadi hewan rimba belantara." "Apa keberatan Yang Suci kalau semua kembali jadi hewan rimba belantara?" "Keberatan Bapa, semua musnah, juga Tumapel, juga Kediri." "Prajurit-prajurit tidak diperlukan lagi. Yang Mulia, juga akuwu, juga patihnya, juga raja, karena tak ada lagi yang mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan," Patih Tumapel memperkuat, "setiap orang harus menjaga keselamatanmu sendiri-sendiri, tak ada orang akan berbuat sesuatu untuk yang lain." "Justru karena itu Lohgawe harus binasa." "Kalau itu telah jadi keputusan Yang Mulia, tidak bisa lain, Bapa hari ini juga harus ke Kediri." "Yang Suci sekali lagi hendak mengadu?"

"Bukan mengadu, itulah tugas Bapa. Sekiranya Yang Mulia tidak indahkan lagi nasihat Bapa, memang tak ada gunanya lagi Bapa tinggal di sini ."Tunggul Ametung berjalan mondar-mandir. "Sri Baginda Kretajaya pun mendengarkan Yang Tersuci Tanakung" "Tanpa Yang Suci semua akan berjalan lebih mudah." "Betul, Yang Mulia, akan lebih mudah menukik ke jurang kebinasaan." "Baik, apa nasihat Yang Suci sekarang?" "Tak bisa lain, Yang Mulia seyogianya datang mengunjunginya. Hanya datang berkunjung, dan orang-orang Syiwa itu akan menganggap Yang Mulia menghormatinya." "Akuwu Tumapel sowan pada Lohgawe? Nasihat cara apa itu?" "Untuk keselamatan Tumapel sendiri, Yang Mulia." "Tumapel cukup terjaga oleh prajurit-prajuritnya." "Yang Mulia," susul Patih Tumapel, "tak ada yang tahu, apakah prajurit-prajurit itu Syiwa atau Wisynu, boleh jadi juga Buddha. Tak ada yang dapat mengetahui hati manusia secara tepat."

Tunggul Ametung menatap patihnya, memancarkan kecurigaan: "Bukan tugasmu menasihatiku. Kau hanya menjalankan perintahku." Patih itu terdiam dan mengangkat sembah. "Tapi Sang Patih tidak keliru, Yang Mulia. Lihatlah prajurit-prajurit Tumapel itu. Apa kekurangannya' Namun kerusuhan tidak semakin reda, malah meningkat." "Karena Yang Suci membiarkan Lohgawe tinggal hidup" "Tidak ada bukti dia ikut campur." "Dang Hyang Lohgawe bukan seorang begawan,[seorang pandita, memisahkan diri dari masyarakat dan kehidupan duniawi.] dia hanya seorang resi. Pada seorang begawan raja-raja pun patut menyatakan hormat. Seorang resi[seorang pandita, yang pada suatu ketika masih tampil sebagai satria] setiap saat bisa menjadi prajurit! Bahkan biarawati-biarawati itu tak jarang prajurit Syiwa yang bersembunyi." "Di mana itu pernah terjadi, Yang Mulia?"

Tunggul Ametung tidak menanggapi. Yang Suci Belakangka melihat mata akuwu itu mengerjap. Ia kenal kerjapan pembunuh itu. "Sri Baginda tidak kurang-kurangnya kemurahannya, Yang Mulia," katanya memperingatkan. "Katakanlah pada Bapa kapan Yang Mulia bersedia berkunjung ke pedepokan Dang Hyang Lohgawe. Pembicaraan itu akan sangat pentingnya untuk Tumapel, juga untuk Kediri. Apa yang dikerjakan di Kediri seyogianya sejalan dengan yang di sini." Tunggul Ametung melambaikan tangan menyuruh mereka pergi, ia berbalik dan masuk ke Bilik Agung. Dilihatnya Ken Dedes tiada di dalam ia langsung turun ke Taman Larangan. Juga di sana ia tidak mendapatkannya. Ia tinggalkan taman, melalui pintu gerbang belakang. Di hadapannya muncul pura pekuwuan. Dengan hati masgul ia masuki pelataran pertama, kedua dan ketiga pura. Dan Dedes tak juga ditemukannya. Ia keluar lagi, dan dilihatnya istrinya sedang berada di kebun buah yang mengelilingi pura dalam. Melihat suaminya mencarinya ditinggalkannya Rimang dan menghampiri. "Kakanda nampak rusuh di hati." "Tiadakah kau melihat kemit lewat kemari?" "Sekali"

"Siapakah kiranya yang sudah kau tegur?" "Tiada." "Yang menegurmu?" "Tiada." "Tempat ini terbuka bagi semua kemit yang lewat." "Paramesywari Tumapel berkuasa atas rumah tangga pekuwuan. Adakah Kakanda menyesal telah mengangkat aku jadi Paramesywari?" "Sejak pertama kali bertemu kau selalu mengajak bertengkar, Dedes." "Dan kau selalu berhad rusuh." "Dewi bumi dan langit, aku tak sudi kehilangan kau. Mari," ia berjalan lebih dahulu kembali melewati pintu gerbang Taman Larangan dan masuk. Ken Dedes mengikutinya. Mereka duduk di bangku kayu di bawah pepohonan menghindari matahari siang. "Baru sekali ini kakanda mencari aku sejauh ini." "Diamlah kau, brahmani." Ken Dedes memperhatikan nada suaranya, dan ia tak mendapatkan di dalamnya kegusaran, hanya kerusuhan hati. "Apa lagi kakanda rusuhkan hari ini?"

"Ingin aku dengarkan dari istriku, seorang brahmani: apa sebabnya dunia menghormati satria?" "Tidak banyak satria yang dihormati." "Tidak banyak?" "Terlalu sedikit. Mereka adalah yang bijaksana. Selebihnya tidak pernah dihormati dunia, hanya ditakuti." Melihat suaminya tidak menengahi ia meneruskan, "Mereka ditakuti, karena semua satria adalah pembunuh, penganiaya, penyiksa karena kerakusannya pada kebesaran dunia. Hanya yang bijaksana dengarkan petunjuk para dewa, mendengarkan Hyang Yama." "Apakah sebabnya brahmana ditakuti?" "Kau tak pernah takut padaku, bahkan kau telah menculik aku dari rumahku" Tunggul Ametung diam lagi, mengambil tangan istrinya dan mempermain-mainkan cincin pada jari-jarinya. Ia tak tahu istrinya sedang meliriknya. "Suamiku tidak takut padaku sebagai wanita, dia tetap takut padaku sebagai brahmani, karena Dedes tahu apa yang suaminya tidak tahu." Tunggul Ametung tertawa: "Apa yang kau tahu tentang ketidak pengetahuanku?" "Bukankah suamiku tidak bisa baca tulis dan aku bisa?" "Baca tulis?" ia tertawa bahak, "setiap yang bisa, bisa juga aku suruh." "Suamiku bisa menyuruh selama ada yang bisa disuruh."

"Selamanya akan ada dan harus ada." "Suamiku hanya bisa meminjam tangan dan mata orang." "Tangan dan mataku lebih berharga untuk kerja baca tulis." Sekali lagi Dedes melirik pada suaminya untuk mengetahui gusar atau tidak. "Kalau semua tidak bisa, siapakah yang akan kakanda suruh? Kakanda tak tahu Sansakerta, maka tak tahu bagaimana berte-rimakasih dan bermohon ampun dan petunjuk." "Maksudmu aku satria yang tidak dihormati?" "Satria baru yang menakutkan," Dedes duduk menjauh, "satria hidup dari ketakutan dunia, maka ia terus juga takut-takuti dunia." "Maka juga kaum brahmana takut pada satria." "Mereka tidak perlu takut pada kedunguan. Mereka belajar setiap hari untuk tidak jadi dungu." Tunggul Ametung tersinggung. Tetapi ia diam saja. "Tentu kakanda gusar." "Orang lain tentu sudah harus rebah di tanah."

Ken Dedes berdiri, bersiap hendak pergi. Tunggul Ametung menangkap tangannya dan mendudukkannya kembali di sampingnya. "Dengar, Dedes juga brahmana yang semasyhur-masyhurnya, Dang Hyang Lohgawe itu, dia akan takut padaku." "Seorang brahmana seperti dia tidak perlu takut pada siapa pun. Juga tidak pada Akuwu Tumapel. Dia tidak pernah membutuhkannya. Akuwu Tumapel pada suatu kali akan membutuhkannya, sekalipun karena dungunya ia ingin membunuhnya, seperti dicobanya pada diri Mpu Parwa dan Arya Artya." "Aku baru tahu seorang brahmani juga seorang pembohong." "Tak ada seorang brahmana merosot dari sudra untuk mendapatkan keuntungan dari kebohongannya. Jadi Paramesywari Tumapel telah mendapatkan segala-gala yang tidak diperlukannya." "Tidak patut itu diucapkan oleh seorang istri." "Katakanlah, apa yang kakanda butuhkan daripadaku." "Engkau terlalu angkuh, Dedes, seperti semua brahmana." "Tak ada brahmana angkuh. Mereka hanya lebih mengerti, lebih tahu daripada orang yang menganggap pengetahuan dan ilmu sebagai keangkuhan."

"Baiklah. Tentu semua yang diucapkan oleh Paramesywari Tumapel benar. Hanya, tidakkah bisa kau bersikap manis padaku, seperti wanita-wanita lain?" "Apakah yang kurang manis padaku? Telah kubiarkan diriku kau miliki. Dedes tidak memerlukan segala apa yang kau taburkan padaku, dan dia memiliki apa yang suaminya tidak pernah punya," ia mencoba melepaskan pegangan suaminya. "Dia telah biarkan dirinya kau miliki, karena tadinya menyangka dengan demikian dirinya, ayahnya, akan selamat. Kau haus akan jiwa Mpu Parwa dan kaum brahmana. Sekarang kau datang padaku untuk menyerahkan Dang Hyang Lohgawe padamu." Tunggul Ametung memelintir lengan istrinya. Dedes memekik kesakitan. "Tak ada satria memekik kesakitan." "Biarpun begitu kau takkan berani bunuh aku, Tunggul Ametung. Kau membutuhkan anak lelaki pewaris Tumapel. Hanya aku yang tahu, apakah pewaris itu akan kugugurkan atau tidak." Akuwu itu melepas tangan istrinya. "Akan kuperintah orang menjagamu siang dan malam Hati-hati kau." "Kalau Dedes tidak takut padamu, apa lagi pada pengawal-pengawalmu. Aku pun bisa memerintah mereka" "Betapa dungu aku telah kawini perempuan sial ini."

"Kau-lah satria sial itu, seorang sudra yang tak tahu diuntung, seorang satria gadungan yang tak tahu tempat." "Diam!" "Ada tanda-tanda Dedes mulai mengandung. Aniayalah aku, sentuh aku lagi, dan akan kusampaikan kepada dunia, benih dalam diriku ini bukan anakmu ..." Tunggul Ametung menutup mulut istrinya dengan telapak tangannya. Dan Dedes menggeleng berpaling-paling menghindari. "Perempuan garang semacam ini ..." dibopongnya istrinya dan masuk ke dalam Bilik Agung. Dua minggu telah berlalu. Dalam dua minggu Tunggul Ametung tidak lagi mendengar suara istrinya yang membisu, sebagai protes dari hilangnya Rimang. Bahkan matanya pun selalu menghindari pandangnya. Ia telah pindahkan kembali Dedes dari Bilik Paramesywari ke Bilik Agung. Pintupintu depan dan belakang bilik yang pertama ia perintahkan dimatikan. Brahmani itu kini selalu tinggal di Taman Larangan, tidak mau masuk ke Bilik Agung tanpa dibopongnya dengan paksa. Juga sewaktu hujan mulai turun dua-tiga kali belakangan ini.

Dan sekali ini ia bopong lagi Dedes dari Taman Larangan masuk ke Bilik Agung. Mengeluh: "Betapa kau berkukuh tak mau bermanis pada suami!" sesal Tunggul Ametung. "Masih juga tak mau dengar tak mau bicara? Baik. Aku perintahkan kau berpakaian sebagai Paramesywari Tumapel. Sekarang juga." Dan Dedes tidak mengindahkan. Tunggu! Ametung mulai merias istrinya. Dedes membiarkan tubuhnya dirias. Ia mengganti pakaiannya, membedaki wajahnya, mencelak dan menggincu bibirnya, kemudian memasang pita mahkota pada kepalanya. Ia seka binggal kakinya, kemudian menggandengnya, duduk di peraduan. "Dengarkan, Dedes, Permataku. Pagi ini kita akan pergi agak jauh. Kita akan mengunjungi Dang Hyang Lohgawe. Tak ada yang lebih tepat daripada kau yang bicara. Aku akan mengiringkan kau. Katakan nanti padanya, Akuwu Tumapel dan Paramesywari menjanjikan kemuliaan padanya, kalau dengan pengaruhnya ia sanggup dan berhasil meredakan kerusuhan yang semakin memuncak belakangan ini. Kau sudah dengar, dan kau mengerti. Mari berangkat." Ia tarik istrinya berdiri. Ken Dedes mengikuti tarikan itu seperti golek tanpa jiwa. Suaminya sendiri juga yang membopongnya ke atas tandu. Iring-iringan itu berangkat dengan sangat banyak pengikut. Juga Yang Suci Belakangka diangkut dengan tandu. Tunggul Ametung dan Patih Tumapel berkuda. Di belakang mereka berbaris sepuluh ekor kuda yang dimuati dengan hadiah. Di belakangnya lagi pasukan kaki. Dan di depan sana pasukan kuda bertombak. Jauh

sebelum iring-iringan telah berjalan lebih dahulu pasukan yang membersihkan jalanan dan sekitarnya dari para perusuh. Seorang peseru mewartakan keberangkatan Paramesywari ke Pangkur untuk sowan Dang Hyang Lohgawe. Dan tak ada perusuh mengganggu mereka. Sepanjang jalan kawula Tumapel memerlukan mengelu-elukan dengan sembah dan hormat. Beberapa kali terdengar seruan lantang dari tengah-tengah mereka. "Dirgahayu, Dewi Kebijaksanaan!" Beberapa batu telah dilemparkan pada Tunggul Ametung dan Belakangka, api mereka tidak menanggapi untuk tidak menimbulkan kekacauan. Di jalanan yang diapit oleh jurang curam dan tebing terjal, di mana dahulu ia melihat brahmana muda berkumis sekepal itu berdiri di atas batu ia memerlukan berpaling. Di atas batu hitam itu tak nampak ada seorang pun. Tapi dari sebuah bukit di atasnya lagi terdengar suara seruan yang bergaung-gaung di tengah hutan: "Tunggul Ametung! Tunggul Ametung! Ha-ha-ha! Rampok yang akhirnya roboh karena rampok kecil!" Sang Akuwu tidak menanggapi, juga tidak mencari di mana orang yang berseruseru itu. Ia tahu ia tidak disukai, tidak dicintai, hanya ditakuti. Sekarang pun rampok-rampok kecil itu bahkan mulai berani melawannya terang-terangan. Tahu istrinya dihormati oleh para kawula, kudanya selalu dipepetkan pada tandu istrinya, di samping Ken Dedes tidak akan ada sesuatu serangan bakal datang. matahari telah tenggelam. Iring-iringan itu diterangi dengan banyak damar. Mereka tiga kali telah beristirahat untuk makan dan melakukan hajad.

Menjelang tengah malam mereka sampai. Pangkur bermandikan damar. Semua penduduk keluar dari rumah. Jalan-jalan menjadi terang. Dang Hyang Lohgawe berdiri di depan rumahnya bertumpu pada tongkat. Di belakangnya berdiri para muridnya. Semua berkerodong kain penolak dingin. "Dirgahayu, Dang Hyang Lohgawe," seru Yang Suci. "Yang Mulia Akuwu Tumapel dan Paramesywari datang berkunjung untuk memuliakan Yang Terhormat." Tunggul Ametung turun dari kuda, membopong turun istrinya dan menggandengnya menghadap Dang Hyang Lohgawe. "Inilah Akuwu Tumapel bersama Ken Dedes datang menghadap, Yang Terhormat Dang Hyang Lohgawe." "Dirgahayu kalian semua." Di bawah curah sinar damar Ken Dedes berlutut, mengangkat sembah, kemudian merangkul kaki Lohgawe: "Ampuni sahaya, ya. Yang Suci, ampuni sahaya." Lohgawe menunduk, mengusapusap rambut Dedes "Dedes, cucuku ..." Ken Dedes menangis. "Masih patutkah sahaya disebut cucu, Yang Suci?" "Takkan ada yang bisa mengubah cucuku Dedes tanpa semau-mu sendiri." "Yang Suci, Yang Suci," dan Dedes terhisak-hisak dalam tangisnya. Lohgawe mencium ubun-ubunnya, berbisik:

"Mari, cucu, mari naik ke rumah," ia tarik Dedes berdiri. "Silakan, Yang Mulia, Yang Suci silakan naik." Dedes memegangi tangan Dang Hyang Lohgawe sambil menciuminya. Mereka mengiringkan masuk. Para murid itu berhenti di depan pendopo untuk menunggu perintah dari Sang Mahaguru. "Betapa jauh jalan yang telah ditempuh, seperti ada keperluan yang terlalu tidak bisa ditunda, Yang Mulia Akuwu." Mereka duduk berkeliling di atas tikar. Dan damar menerangi mereka dari dua jurusan. Pasukan pengawal Tumapel menghalau setiap orang yang hendak mendekati rumah, dan mereka tinggal berdiri di kejauhan. Kemudian mereka menyiapkan diri untuk mesanggrah di kebun buah Lohgawe. "Kami datang untuk menghaturkan warta keselamatan seluruh Tumapel pada Yang Terhormat Dang Hyang Lohgawe," Tunggul Ametung memulai, "selain hendak menengok dan memang ada keperluan yang tak bisa ditunda." "Adalah suatu kehormatan diperkenankan menengok Yang Terhormat,"Yang Suci menambahi. "Apalagi setelah Yang Terhormat begitu lama meninggalkan Pangkur. Barangkali ada warta yang patut didengarkan oleh Yang Mulia Akuwu." "Dan sengaja kami bawa Paramesywari Tumapel untuk memudahkan pembicaraan, Yang Terhormat"

Keesokan harinya pembicaraan itu dimulai. Belakangka menga-carai. Tunggul Ametung lebih banyak menarik diri. Patih Tumapel lebih memperlihatkan kegesitan. Ken Dedes tak juga angkat bicara biar pun oleh Belakangka beberapa kali disebut mewakili Sang Akuwu yang merasa agak kurang sehat. "Memang tak ada jalan lain lagi yang bisa ditempuh daripada ini, Yang Terhormat," Belakangka kemudian mengambil-alih pembicaraan. "Yang Mulia Akuwu dan Yang Mulia Paramesywari telah sepakat untuk mengajukan beberapa pokok," ia berpaling pada Ken Dedes. Kemudian, "Silakan, Yang Mulia Paramesywari." Ken Dedes menggigit bibir. Ia mengangkat sembah, kemudian merangkak mencium lutut Dang Hyang Lohgawe. "Apa hendak kau katakan, Cucu?" "Tiada barang sesuatu dari sahaya, ya, Yang Suci. Hanya sahaya mendapat perintah untuk mempersembahkan ini,Yang Suci." "Katakan, jangan ragu-ragu. Apakah tentang dibakarnya rumahmu dan hilangnya ayahmu?" "Bukan itu yang terkandung dalam perintah, ya. Yang Suci." Cucu, Cucu," Dang Hyang Lohgawe mengangguk-angguk mengerti. "Kalau begitu itu tak perlu kau sampaikan. Apakah perintah yang kau terima, Cucu?" "Yang Suci, kerusuhan semakin lama semakin meruyak, semakin tidak terpadamkan. Apakah sebabnya itu, Yang Suci?"

Tunggul Ametung, Belakangka dan Sang Patih menarik diri dari pembicaraan. "Setiap kerusuhan di sesuatu negeri, bukan hanya Tumapel, adalah pencerminan dari ketidakmampuan yang memerintah, Cucu." "Di manakah letaknya ketidakmampuan itu, Yang Suci?" Dedes meneruskan. "Ketidakmampuan itu berasal dari diri semua yang memerintah, Dedes, ketidakmampuan mengerti kawulanya sendiri, kebutuhannya, kepentingannya." "Apakah Yang Suci bermaksud mengatakan ketidakmampuan itu sama dengan kedunguan?" "Tidak sama, hanya sejenis." Tunggul Ametung mengerutkan gigi. Belakangka menggeletar karena muntab. Sang Patih menunduk lebih dalam. "Dari mana asalnya kedunguan itu, Yang Mulia?" "Dari terlalu banyak mengurus diri sendiri, sehingga buta terhadap yang lain-lain." "Kalau hanya demikian, Yang Mulia, mengapa timbul kerusuhan?" "Hyang Mahadewa tahu bagaimana membikin Jagad Pramudita seimbang. Kerusuhan mengimbangi kedunguan." "Kalau soalnya keseimbangan, Yang Terhormat," Tunggul Ametung tak dapat menahan hatinya, "pada imbangan manakah Yang Terhormat berada?"

"Kalau soalnya Mahadewa, Yang Mulia, jangan tanyakan kepada Bapa, pergilah ke pura, bertanyalah Yang Mulia kepadanya. Boleh jadi Yang Suci Belakangka dapat Yang Mulia perintahkan untuk itu." Belakangka menggaruk tenggorokan. "Kalau kerusuhan itu tidak lain dari soalnya Hyang Mahadewa, masih perlukah Hyang Mahadewa disembah dan dipuja?" "Yang tidak memerlukan Hyang Mahadewa juga tidak diperlukan olehnya. Tetapi hukumnya berjalan terus dengan atau tanpa manusia." "Yang mempertahankan keseimbangan adalah Hyang Wisynu," Belakangka menyerang. "Pergilah Yang Suci ke pura, bertanyalah pada Hyang Wisynu. Bukankah tidak perlu melalui jalan belok ke pedepokan Dang Hyang Lohgawe" "Ampun. Yang Suci." Ken Dedes menengahi awal pertengkaran itu, "kami datang karena Hyang Wisynu telah lupa pada Tumapel, tidak dijaganya keseimbangannya." "Karena Tumapel sudah lupa pada Hyang Wisynu" "Dharma tetap diberikan pada para brahmana. Yang Terhormat," susul Belakangka, "biara-biara dan para resi yang diakui oleh negeri." "Sangat baik," Dang Hyang Lohgawe mengangguk-angguk. "Kalau betul dharma mencukupi dan Hyang Wisynu tidak dilupakan, tanpa ada ketidakmampuan,

barangtentu para dewa tidak lakukan sendiri memulihkan keseimbangan Jagad Pramudita seperti yang disampaikan sekarang ini." "Kalau Hyang Wisynu tidak menjawab, bertanyalah pada hati sendiri." "Kalau hati sendiri tidak menjawab, Yang Terhormat tidak benar." "Kalau hati sendiri pun tidak menjawab, itulah tanda ketidakmampuan, dan ketidakmampuan itu memanggil kerusuhan." "Orang tua mau menang sendiri," dengus Sang Akuwu. "Yang Mulia Akuwu," Lohgawe segera menyambut, "tak ada guna seorang tua hendak menang sendiri. Pada akhirnya para dewa juga yang menang." "Kami datang ke mari tidak untuk bertengkar, tidak untuk bertikai, Yang Suci," Ken Dedes menyela. "Bukankah Yang Suci juga menghendaki adanya keamanan dan ketertiban di Tumapel?" "Bukan hanya di Tumapel, di seluruh bumi, Cucu." "Perintah yang diberikan pada sahaya dari sidang negeri Tumapel adalah mengajukan pertanyaan pada Yang Suci: Dapatkah kiranya kerusuhan diredakan dan dipadamkan?" "Tentu saja, mengapa tidak?"

"Katakan pada sahaya bagaimana caranya." "Caranya, Cucu. sama seperti yang pernah dilakukan oleh raja-raja besar terdahulu: bijaksana, berhenti hanya mengurusi diri sendiri, mulai mengurusi kawula." "Seorang akuwu mengurusi kawula!"Tunggul Ametung tertawa menghinakan. "Penghinaan yang tak dapat ditenggang! Keangkuhan brahmana ..." "Sabar, Yang Mulia," tegah Belakangka. "Jangan lupa, Yang Suci, Pangkur masih kawasan Tumapel." "Yang Mulia membutuhkan penyelesaian soal kerusuhan, bukan pertengkaran dengan Yang Terhormat Dang Hyang Lohgawe." Tunggul Ametung mengangkat muka dan dada, menuding pada Lohgawe, mengguruh: "Dia yang mendalangi semua kerusuhan!" "Lepaskan semua tuduhan Yang Mulia, biar sahaya kumpulkan berapa biji kebenaran yang terkandung dalam kebijaksanaan Tumapel."

"Kau justru yang menuduh kami mengidap ketidakmampuan, tidak mendapatkan petunjuk dari Hyang Wisynu, tidak mempunyai kebijaksanaan," ledak Tunggul Ametung. "Apakah itu tidak keterlaluan?" "Para dewa mengejawantahkan diri pada dunia melalui syak-tinya" Lohgawe berkata pelahan, "ketidakbijaksanaan manusia mengejawantahkan diri dalam kerusuhan lingkungannya." "Bukan Tunggul Ametung kurang bijaksana, perusuh-perusuh itu yang sengaja merusak kewibawaan." "Untuk itu ada perlindungan Kediri, ada prajurit Tumapel," sambut Lohgawe. "Apakah mereka kekurangan senjata, maka kerusuhan tak bisa dipadamkan?" "Dua kali perusuh itu telah merampas angkutan besi dari Hujung Galuh[pelabuhan Gresik] waktu memasuki tapal batas utara Tumapel." "Dan Tumapel tidak berdaya," susul Lohgawe. "Apakah itu juga kesalahan Lohgawe? Tiada prajurit padaku ..." "Hadapkan semua muridmu!" Lohgawe menuding pada murid-muridnya yang duduk berjajar di luar pendopo: "Marilah kalian ke mari, menghadap untuk menghaturkan sembah dan hormat pada Yang Mulia."

Mereka beringsut-ingsut dalam duduknya, mendekat. Tunggul Ametung berdiri, berbalik dan memeriksa dengan teliti wajah mereka seorang demi seorang. Ia bertolak pinggang. Suaranya menggeletar: "Siapa di antara kalian bernama Borang, Arih-Arih atau Santing?" "Tak ada di antara mereka," jawab Lohgawe tetap dalam duduknya. Tunggul Ametung tidak mendapatkan yang dicarinya. Berbalik pada Belakangka: "Berapa murid yang diperkenankan untuknya?" "Sepuluh, Yang Mulia." "Mana yang lima lagi?" desak Tunggul Ametung. "Hanya lima orang itu yang ada pada Lohgawe," jawab Loh-gawe."Cucu, ruparupanya tak perlu lagi kita bicara. Sang Akuwu sedang memeriksa aku." "Bukan memeriksa, Yang Terhormat," Belakangka memperbaiki. "Tak ada sesuatu yang bakal menimpa diri Yang Terhormat. Yang Mulia hanya gusar karena kerusuhan yang tak juga dapat dipadamkan." "Yang Mulia sendiri adalah juga seorang penasihat perang," Lohgawe menanggapi Belakangka. "Mana yang lima lagi?"

"Tiada, Yang Mulia." "Mengapa tidak sepuluh?" "Tiada guna mengajar murid dungu. Lima pun sudah berat." Akuwu itu menusukkan pandang menyelidik pada Lohgawe: "Jadi siapa muridmu bernama Borang, Arih-Arih dan Santing?" "Tiada, Yang Mulia." "Sabar, Yang Mulia," Belakangka menengahi. "Tiada guna mengkasari seorang brahmana. Silakan duduk kembali. Yang Mulia." "Perkenankan sahaya mengundurkan diri," Ken Dedes memohon pada Lohgawe. "Mengasohlah, kau, Cucu. Kau sudah dada diperlukan." "Paramesywari Tumapel tinggal di tempat," perintah Akuwu. Para siswa itu beringsut mundur ke tempat semula. "Biarlah yang lebih tua yang bicara,"Belakangka meneruskan. Dan katanya lagi, "Maafkan ucapan tiada pada tempatnya, Yang Terhormat."

"Ucapan tiada pada tempatnya bukan lahir di rumah ini, Yang Suci, hanya terbawa entah dari mana." "Maafkan," Belakangka meneruskan, "tak ada gunanya lupa pada pokok semula. Biarlah sahaya yang bicara, Yang Terhormat, Yang Mulia Akuwu dan Paramesywari." Tunggul Ametung mengangguk mengiakan. "Adapun kedatangan kami ini bukanlah bermaksud hendak bertengkar. Justru sebaliknya. Kami datang untuk memohon pada Yang Terhormat Dang Hyang Lohgawe untuk ikut memikirkan keprihatinan Tumapel. Yang Terhormat sendiri bukankah juga menghendaki adanya keamanan dan ketertiban? Yang Terhormat, bila demikian halnya, barangtentu Yang Terhormat sudi menggunakan pengaruh Yang Terhormat untuk meredakan kerusuhan-kerusuhan ini." "Justru setelah ucapan yang tidak tepat seperti itu?" tukas Lohgawe. "Maafkan semua ucapan yang tidak tepat." "Apakah Yang Mulia Paramesywari juga menghendaki yang demikian?" tanya Dang Hyang Lohgawe. "Sahaya diperintahkan untuk membenarkan, Yang Suci." "Kau tidak berbahagia di pekuwuan, Dedes, cucuku?" "Inilah sahaya, Yang Suci." "Kerusuhan-kerusuhan barangtentu juga mengancam keselamatan dan kedudukan Yang Mulia Paramesywari," susul Belakangka. "Tidak ada itu dikatakan oleh Paramesywari."

"Paramesywari akan mengatakannya, Yang Terhormat Dang Hyang Lohgawe," susul Tunggul Ametung. "Sahaya hanya dharma menjalankan perintah, Yang Suci: keamanan dan kedudukan Paramesywari terancam oleh kerusuhan-kerusuhan." "Kedudukan dan keamanan Paramesywari Tumapel memang terancam," Lohgawe membenarkan. "Tapi kau sendiri tidak, Dedes. Tak ada sesuatu dosa padamu terhadap siapa pun." "Tentang dosa itu biarkan para dewa yang menilai," susul Belakangka. "Kawula Tumapel menggelari Paramesywari Dewi Kebijaksanaan. Mengapakah Yang Mulia dan Yang Suci tidak mencoba mendengarkannya?" "Apakah yang bisa diperbuat oleh seorang perempuan?" "Gelar itu dipersembahkan pada manusia oleh manusia, maka bukan tanpa alasan." "Yang mempersembahkan gelar itu barangtentu bermaksud mengadu-domba antara Paramesywari dengan Akuwu," susul Tunggul Ametung tajam. Keningnya berkerut. "Kalau seluruh kawula Tumapel membenarkan gelar ugama itu, apakah berarti seluruh kawula menjagoi Paramesywari?" tanya Lohgawe. "Kita tinggalkan semua pertengkaran, Yang Terhormat," susul Belakangka. "Bagaimana pun bila Tumapel terancam, bukan hanya Sang Akuwu dan para

narapraja, juga Yang Mulia Paramesywari. Betapa baiknya kalau Yang Terhormat sudi mempergunakan pengaruh besar Yang Terhormat itu untuk meredakannya." "Kami janjikan hadiah sebagaimana Yang Terhormat kehendaki," Tunggul Ametung menambahi. "Tiada hadiah diharapkan oleh brahmana, Yang Mulia. Kalau dia sudah dapat memberikan dharma untuk kesejahteraan titah, para dewa akan mengantar kesudahannya." "Jadi, apa kata Yang Terhormat Dang Hyang Lohgawe?" "Tidak mungkin Dang Hyang Lohgawe bisa menjawab sekarang juga. Berilah waktu barang seminggu," jawab tuan rumah, "Lohgawe akan turun ke Tumapel dan menyampaikan sesuatu. Cukuplah kiranya ucapan ini. Dan kau, Cucu, juga aku akan temui kau di Tumapel seminggu yang akan datang." Pada hari yang ditentukan Lohgawe datang ke Tumapel, menaiki pendopo dengan masih berterompah tapas. Sang Patih menyambutnya. Akuwu dan Belakangka masih harus dicari. Kemudian Akuwu itu keluar dari Bilik Agung bersama Ken Dedes. Dan Paramesywari segera bersujud dan membersihkan kaki Dang Hyang Lohgawe dengan penutup kepalanya. Tamu itu dengan dua belah tangan menengadahkan muka Dedes, merestuinya, kemudian mengangguk-angguk melihat pipi wanita itu yang tembong biru muda.

Akuwu Tumapel mengambil tempat di kursi kebesarannya. Lohgawe tinggal berdiri. Sang Patih duduk di lantai. Pandita Negeri yang datang kemudian juga tinggal berdiri. Dan Paramesywari Tumapel berdiri mendampingi tamu yang dihormatinya. "Tiada banyak yang Dang Hyang Lohgawe akan sampaikan," tamu itu memulai. "Seperti pesan yang dahulu juga: mulailah dengarkan Yang Mulia Paramesywari Ken Dedes. Adalah tidak tepat untuk kebijaksanaannya ia mendapatkan warna biru seperti itu pada pipinya. Kalau seorang Paramesywari telah demikian diperlakukan, bagaimana pula kawula kecil?" Belakangka mengawasi pipi Ken Dedes, kemudian membuang muka. Sang Patih tetap menunduk di tempatnya. Tunggul Ametung mendengus "Kedua, kerusuhan hanya bisa diatasi dengan mewa-ra-warakan, siapa yang sanggup meredakannya. Hendaknya, bila terbukti, orang itu mendapatkan jabatan negeri yang layak. Dan apabila dirasakan memalukan melalui wara-wara, Lohgawe sanggup mencarikan orang yang mampu uncuk melakukan pekerjaan itu." "Bapa Lohgawe menjanjikan seorang yang lebih mampu daripada prajurit Tumapel?" desak Tunggul Ametung. "Lohgawe tidak memerlukan kepercayaan manusia. Bila itu diterima, akan aku panggil orang itu beserta beberapa orang temannya."

"Siapa nama calon Yang Terhormat Dang Hyang Lohgawe?" Belakangka bertanya untuk kesopanan. "Arok." "Siapa Arok itu?" tanya Tunggul Ametung. "Yang Mulia bisa bicara sendiri dengannya." "Panggil dia ke mari." "Dia akan datang ke mari atas perintahku." "Dia akan kehilangan kepalanya bila tidak sesuai dengan yang dijanjikan." Dang Hyang Lohgawe mengangkat tangan, memberi restu pada Ken Dedes, kemudian meninggalkan pendopo .... "Tua bangka yang banyak mulut!" "Hanya Arya Artya brahmana yang banyak mulut," Belakangka memperbaiki. Ken Dedes meninggalkan pendopo dengan menghafal nama baru yang terdengar aneh itu: Arok, Arok, Arok. PERLAWANAN TERHADAP TUNGGUL AMETUNG Api itu gemeratak memakan tumpukan ranting dan dahan. Asap mengepul langsung ke udara kadang di-bungai oleh percikan. Puluhan pemuda, yang dudukduduk melingkarinya, riuh bersenda-gurau. Batang, dahan, ranting dan dedaunan hutan di sekeliling mereka melongokkan diri ikut menemani. Hanya Arok yang berdiri:

"Sudah, periksa barang rampasan itu." "Jagad Dewa!" orang menyebut berbareng, melihat badan dan anggotaanggotanya dari emas, suasa, yang berserakan; alat-alat upacara keagamaan dari perak. "Jangan gentar," tegah Arok. "Bukan kita yang menghancurkannya. Kite telah selamatkan semua ini dari tangan mereka. Kau, Lingsang, yang sudah belajar pandai-emas dari bapakmu. Taksir olehmu berapa saga emas hancuran para dewa itu." Lebih dan enam ribu saga, Arok" "Semua percaya padamu. Kau yang akan meleburnya, secepat mungkin. Kau yang menyimpannya, sebaik mungkin. Kita belum bisa pergunakan. ada waktunya dia bakal jadi kelengkapan untuk tumbangkan rampok-rampok itu." "Baik, Arok." "Maju kau, dan ucapkan sumpahmu." Lingsang duduk bersila, menatap api unggun. "Demi kau, Hyang Agni, inilah Lingsang yang akan merawat, melebur dan menyimpan emas, perak dan suasa ini, takkan kurang dari bobotnya semula. Tak ada yang mengganggunya kecuali dengan perkenan Arok."

Api dipadamkan. Mereka berjalan bergandengan dalam kegelapan hutan untuk mencapai jalanan desa. "Nah, pergilah kalian Aku akan datang dua minggu lagi. Kau ikut denganku, Hayam!" Mereka berpisahan. Rombongan besar berjalan seorang-seorang ke berbagai jurusan. Arok dan Hayam langsung menuju ke selatan Kutaraja. Anjing itu menggonggong gila waktu Arok dan Hayam menghampiri rumah itu. Pintu pun terbuka dan seorang lelaki berkerudung selimut keluar. Pada tangannya ia membawa tombak, pada pinggangnya tergantung pedang. "Tim, Tim, ayoh Tim, jangan takut!" Anjing itu semakin gila menggonggong, menghampiri Arok dan Hayam. "Diamkan anjing ini, kami hendak singgah," seru Arok. "Sudah terlalu malam untuk singgah." Anjing itu memekik terkena gedik punggung pedang, kemudian tak bersuara lagi. Orang di pintu itu lari masuk ke dalam rumah dan memadamkan damar.

"Percuma kau lari masuk ke dalam. Kami bisa bakar rumah ini, dan tumpas kau bersama anak-binimu. Keluar!" Orang itu keluar lagi. Dalam kegelapan tak nampak ia membawa senjata atau tidak. "Kau Empu Gandring, dengarkan aku." "Siapa kau sesungguhnya?" "Pada tangan kami ada senjata bikinanmu sendiri." "Tentunya kalian pembayar yang baik." "Apakah Akuwu membayarmu dengan baik?" "Aku kawulanya." "Artinya tidak baik. Aku bisa bayar lebih baik." "Siapa kau?" "Tak perlu kau ketahui. Pada suatu kali kau akan terima perintah buatkan senjata." "Percuma kalau jumlah kecil, aku tak terima." "Kau yang bikin, aku yang bayar. Habis perkara." "Kau harus pertimbangkan kekuasaan Sang Akuwu." "Kau lakukan perintahnya karena dia Akuwu ataukah karena kau dibayar?" "Dua-duanya,"

"Kau bisa tidak lakukan perintahnya." "Tidak mungkin." "Aku yang memungkinkan." "Tidak mungkin. Berapa kekuatanmu?" "Bodoh. Kalau angkutan besi ke pabrikmu aku hancurkan, tak bakal lagi kau mempersembahkan sesaji pada Hyang Pancagina. Kau dengar? Hyang Pancagina[dewa kaum sudra, pelindung lima macam pertukangan: pandai besi, pandai tembaga, pandai emas, tukangkayu dan pelukis.] akan tinggalkan kau." Empu Gandring terdiam. "Kau membikin senjata hanya untuk dapatkan upah. Ingat-ingat itu. Pada suatu kali perintahku akan datang padamu." Arok berbalik dan meninggalkan pelataran Empu Gandring. Dalam kegelapan Arok berbisik pada Hayam. "'Kita tidak memasuki Kutaraja malam ini." "Sudah terlalu malam, Arok."

"Kau sudah mengantuk?" "Semestinya kau lebih mengerti." "Baik, kita tidur di gubuk ladang." Mereka memasuki ladang, naik ke atas gubuk dan menggo-lekkan diri. "Kau tak pernah bercerita, ke mana saja kau selama ini, Arok." "Melihat aku masih hidup, bukankah kau sudah senang?" "Ah, Arok, kau semakin pendiam sekarang ini. Makin tak dapat aku sampai pada hatimu." Arok membiarkan temannya bicara dan bicara Ia sendiri mengheningkan cipta dalam malam ditingkah musik serangga dan margasatwa malam itu. Ia tempatkan dirinya sendiri di hadapan matabatinnya, meneliti segala apa yang telah diperbuatnya, didengar dan dilihat dan dipikirkannya sehari itu. Untuk ke sekian kali ia menilai tak ada kekeliruan telah dilakukannya, juga ndak ada sesuatu yang berlawanan dengan Hyang Yama. Waktu ia bangun dari renungannya, Hayam telah terlena dalam tidurnya. Ia bisikkan pada kuping temannya: "Hari ini kita belum juga temukan tempat pendulangan emas itu, Hayam. Kau akan menemukannya dalam beberapa hari ini. Aku, Arok, yang memerintahkan. Kau

seorang anak pandai emas yang tajam hidung. Tahu saja kau di mana tempatnya. Kalau bukan dengan kau, emas ndak kita peroleh hari ini. Ingat-ingat, Hayam, dalam beberapa hari ini kau akan temukan pendulangan itu ..." Ia sendiri pun tidur. Pemilik ladang itu membangunkan mereka. Dan Hayam mengucapkan banyakbanyak terimakasih telah mendapatkan penginapan yang baik dan sehat. Arok telah turun dari gubuk untuk meneruskan perjalanan, terhenti setelah beberapa langkah, mengingat-ingat. "Kumismu ketinggalan, Arok!" Hayam memperingatkan. Setelah menerima kumisnya ia berjalan bergegas seorang diri melalui perladangan, menghindari Kutaraja, menuju ke utara. Ia tidak singgah di Pangkur atau pun Kapundungan. Tujuannya sementara ini hanya satu: Karangksetra, keluarga Bango Samparan. Sampai di rumah yang ditujunya ia tak menemukan barang seorang pun. Rumah itu kosong dengan pintu-pintu terbuka. Ia masuki bilik demi bilik. Tak ada satu barang pun berharga yang nampak. Tikus berkeliaran kehilangan sumber rejeki. Ia pergi ke dapur. Tak sebuah pun belanga berada di tempat, kosong. Ia periksa tungku. Sudah lama tak pernah ada api menyala di dalamnya. Bahkan bekas kucing tidur semalam pun tak ada.

Ia keluar lagi dan masuk ke kandang kerbau. Tak ada bau kerbau atau rumput kering. Bekasnya pun tiada. Ia lihat lubang penimbun kotoran ternak itu kering kerontang. Tak ada lalat bermain-main seperti biasanya. Pekarangan samping dan belakang rumah telah kotor oleh rerumputan. "Siapa kau?" seseorang menegur. "Anak pungut Ki Bango Samparan." "A, kebetulan. Ayoh, ikuti aku." "Ikuti kau? Siapa kau?" "Semua di atas tanah ini sudah jadi milikku. Biar begitu hutang Ki Bango Samparan belum terlunasi. Dia telah kuserahkan pada Gusti Demang. Memang telah aku terima uang penggan-tian. Ki Bango jadi milik Gusti Akuwu.Tapi anaknya sempat lari. Maka aku menderitakan rugi. Kau sekarang ikut denganku, ke Gusti Demang." "Terlalu berani kau menghadapi aku," dengus Arok. "Aku sendiri tak perlu berkelahi denganmu. Ada banyak prajurit yang akan mempertahankan hakku." "Kaulah kiranya yang membikin Ki Bango jadi budak," ia tersenyum. "Orane-orang seperti kau! Bandar dadu!"

"Juga Ki Bango sudah jual orang lain jadi budak. Apa bedanya? Kalau aku jatuh pun mungkin aku jadi budak juga." "Sudah, pergi kau dengan damai." "Ganti kerugianku" "Berapa?" "Tiga ratus catak." "Pergi kau! Jangan ganggu aku. Sebaliknya katakan padaku, kira-kira ke mana si Umang pergi." "Bodoh. Kalau aku tahu, aku sendiri yang menangkapnya" "Kalau aku yang dapat menangkap Umang'" "Tidak perlu. Kau pun mencukupi untuk menggantinya" "Kalau aku banting kau?" Orang itu tertawa menghinakan: "Mana mungkin. Sekali aku berteriak, prajurit-prajurit itu akan datang." "Kalau aku tikam kau?"

"Tidak mungkin. Kalau belum pernah tahu bagaimana hebat lariku." "Larilah, biar aku kejar kau dengan parangku." Arok menarik parang dan orang itu lari, tanpa berteriak. Ia lari, membungkuk, tanpa menoleh. Dari kejauhan seperti sabit. Arok tertawa senang, kemudian meneruskan perjalanannya. Setelah lulus sebagai siswa begini, ia merasa bebas untuk pergi ke mana pun ia suka. Tapi semua pemuda Karangksetra telah tinggalkan desanya. Dengan melalui jalan hutan ia kini menuju ke Randu Alas, ke rumah orangtua pungut pertamatama: Ki Lembung. matahari sudah tenggelam waktu dalam hutan itu tiba-tiba muncul serombongan orang muda, lelaki dan perempuan, semua bersenjata. Ia terkepung di tengahtengah, dan berdiri tanpa bergerak. Dari atas pohon terdengar lengkingan suara: "Arok!" Arok mengangkat muka ke arah datangnya suara, ia lihat se-orang turun dari pohon, hanya bercawat. Pada tangannya seba tang tombak dan pada pinggangnya tergantung parang. Tiba-tiba orang yang mengepungnya berlutut. "Tanca!"

"Ya. akulah Tanca," ia memeluk Arok. "Tak bisa aku kembali pulang pada Bapa Mahaguru. Mereka semua ini menahan aku. Ki Bango... Umang!" pekiknya memanggil. Dari lingkaran pengepung itu bergerak seorang gadis, juga hanya bercawat, pada tangannya membawa tombak, pada pinggangnya tergantung parang. Seperti yang lain-lain juga badannya kotor. Dengan kaki dan hati ragu ia berdiri. Arok mengikuti arah pandang Tanca. Dan ia dengar bisikan pada telinganya: "Itulah Umang. Lari tepat pada waktunya. Terutama perintahmu yang tepat pada waktunya." Umang masih berdiri ragu. "Maju kau. Inilah Arok, pemimpinmu." ia melangkah, dan kaki itu gemetar. Arok melangkah menyambutnya, menangkap bahunya: "Umang?" Umang mengangkat sebelah tangan, menggosok mata dan terhisak-hisak. "Mengapa kau menangis, Umang?" tegur Tanca, "bukankah semestinya kau gembira bertemu dengan abangmu?"

Kaki Umang semakin menggigil, kemudian jatuh berlutut. "Ampuni aku, Umang, ayah sudah terburu dibudakkan." Umang menjatuhkan badan di tanah dan menangis sejadi-jadinya. "Bangun, kau, prajurit!" perintah Tanca. Tangis Umang menjadi keras. "Umang!" panggil Arok, "bangun kau, dan dengarkan aku." Umang bangun, berdiri di hadapan Arok dan membuang muka. "Dengarkan, aku bersumpah untuk membebaskan ayahmu!" Dan kepada yang lainlain: "Siapa yang tidak sanggup membantu?" Kepungan orang itu melompat berdiri: "Perintahkan! Perintahkan!" "Kau dengar, Umang? semua temanmu sedia melakukan." "Dengan pimpinanmu, Arok, pimpinanmu sendiri." "Selama ini kalian dipimpin Tanca."

"Di daerah sendiri lain dari di tempat lain " "Baik, aku akan pimpin kalian." Hutan gelap itu bergema-gema dengan sorak sorai. Umang semakin keras menangis. "Adakah tidak sepatutnya kau berterimakasih pada mereka?" tanya Tanca. Arok menarik bahunya dan dibawanya berjalan ke arah Randu Alas. Yang lain-lain mengikuti di belakangnya. "Kita tidak ke Randu Alas, Arok. Di sana banyak prajurit." Arok berhenti. "Ada apa di sana?" "Sang Akuwu telah memerintahkan membuka pengaduan untuk hutang-hutang yang tidak terlunasi." "Bukankah di sana hanya ada dua-empat rumah?" "Dulu, Arok. Sekarang banyak orang Kutaraja pindah ke sana!" Ia berpaling ke belakang, "Bukankah aku tidak keliru?" "Benar, Arok, Tanca benar."

"Belok ke kanan, Arok,"Tanca mendahului berjalan. "Pasang damar, jalan di depan kami!" Obor damar itu turun naik menerangi jalanan hutan, jalanan setapak yang gundul. Paling depan Tanca. Di belakangnya Arok dan Umang. "Berhenti dulu, kau," perintah Tanca pada pembawa damar. Ia juga berhenti, berpaling ke belakang, "Umang, lihatlah dulu wajah Arok. Mungkin kau keliru. Boleh jadi bukan Temu yang tinggalkan kau enam tahun yang lalu. Dan kau, Arok. mungkin kau juga keliru. Lihatlah baik-baik, berpandang-pandanglah kalian yang benar." Arok menangkap muka Umang dan dipandanginya. Airmata gadis itu masih juga meleleh, dan Arok menyekanya dengan tangannya. Umang tidak membalas pandangnya. Tapuk matanya runduk. "Gadis kecil beringus dulu, kini sudah besar," desau Arok. Ia mundur dan memandangi tubuh kotor yang sehat dan kurus itu. Ia perhatikan dadanya, pinggul dan pinggangnya. Gadis itu telah memasuki kedewasaan. "Penangis di hadapanmu itu, Arok, adalah gadis terganas dari seluruh rombongannya. Tak ada di antara mereka yang dikasihnya ampun. Haus darah dia, Arok. Hampir-hampir tak pernah bicara Lebih sering melamun." "Benar itu, Umang?" "Barangkali melamunkan datangnya saat ini."

"Umang! Umang! gadis kecilku yang beringus-ingus dulu!" "Bicaralah kau, Umang, biar semua dengar," perintah Tanca. Umang mendahului melangkah, dan tetap tidak bicara. "Sini damar itu," perintah Tanca. Ia obori Umang. "Tidak patutkah Arok datang jauh-jauh mencari kau? Bahkan senyum pun kau tidak?" Umang lari mendahului dan menangis meraung-raung. "Hibur dia, Arok. Lihat, dia masuk ke hutan." Arok lari menyusul. Dan rombongan itu tidak mengikuti masuk. Sebuah damar lain ditancapkan di pinggir jalanan hutan, dan mereka meninggalkan tempat itu. "Umang! Umang!" panggil Arok. Hutan itu tiada ditumbuhi semak-semak, hanya batang-batang pohon raksasa. Ia dengar tangis Umang, dan didapatkannya gadis itu bersujud di bawah sebatang pokok, lupa di mana tombaknya, dan meneruskan tangisnya. Arok menghampirinya, duduk di sebelahnya dan mengusap-usap rambutnya, Ia tegakkan badan Umang, ia letakkan kepalanya pada pangkuannya. Dan gadis itu masih juga menangis tersengal-sengal.

"Mengapa kau menangis semacam ini? Bukankah semua temanmu cukup memperhatikan kau?" Tangis itu mulai menjadi reda. "Dengarkan abang akan bercerita," dan ia bercerita tentang negeri-negeri jauh yang pernah didengarnya. Ia perhatikan tangis itu, semakin lama semakin mereda. "Dan ada satu negeri lagi jauh di barat sana, di tempat Hyang Surya setiap sore masuk ke peraduannya. Di situ ada seorang petani mempunyai seekor babi betina. Hanya itu miliknya yang berharga.Tapi sayang babi itu bongkok.... "Kik," terdengar Umang tertawa, teringat pada cerita itu semasa kecilnya. Arok tidak peduli, pura-pura tidak tahu. "Petani yang bernama Tumpal itu setiap hari bicara pada babinya yang bongkok, dinamainya dia Ratu Lengkungsari, karena punggungnya begitu melengkungnya seakan pada bongkoknya tepat seorang dewa selalu menariknya ke atas. Pada suatu hari, Tumpal mengumpani babi-bongkoknya dengan potongan-potongan ubi mentah. Apa katanya sekali ini?" Ia tengok Umang yang sudah mulai tenang dan menahan tawa. "Dia bilang; aduh, aduh Sri Ratu Lengkungsari,betapa indah bongkokmu ini, sampai semua babi hormat padamu, tak berani mendekat tak berani menegur. Mendadak terjadi sesuatu. Ratu Lengkungsari berhenti makan, berhenti mengunyah, kupingnya berdiri mengangkat kepala dan memasang moncongnya pada Tumpal, berkata dengan suara besar: "Ha-ha-ha, yang berani dekati cuma si Tumpal. Tumpal jatuh terpelanting saking kagetnya." "Kik-kik-kik," Umang tertawa mengikik. "Dulu tak begitu ceritanya."

"Bagaimana cerita yang dulu?" "Tak tahu, ah." "Kau sudah besar, Umang, sudah dewasa." Umang duduk tegak, cepat, terkejut menyedari keadaannya. "Sudah bertiduran saja di pangkuanku." Sejenak Umang tak bisa bicara. Ia tidak menghadapi Temu yang dahulu, tapi seorang lelaki dewasa bernama Arok, nama setelah lulus belajar dari seorang brahmana yang dihormati orang seluruh negeri. "Maafkan aku. Bang," katanya kemudian. "Mari kita menyusul yang lain-lain," Arok berdiri. Umang pun berdiri. "Mengapa kau menangis tadi? Dan begitu lama?" Apalah artinya dibandingkan dengan menunggu selama enam tahun?" "Benar kau menunggu-nunggu aku, Umang?" "Bukankah Abang tak pernah ajari aku berbohong?" Arok berhenti berjalan. Ia tak ingin menyinggung perasaan gadis yang telah menunggunya selama enam tahun ini. "Tentu, kau menunggu aku selama enam tahun. Kau harapkan sebagai apa waktu dia datang?"

"Sebagai kau sekarang ini." "Sebagai saudara, kenalan, apakah sebagai suami?" "Bang," ia tak dapat meneruskan. "Mengapa tak kau jawab? Bukankah aku tak pernah mengajarimu membisu?" Umang melangkah berjalan dan menunduk. Dan Arok mengikutinya. "Jawab, Umang." "Jawabannya ada padamu sendiri, Bang." "Baik, Umang. Kita akan bebaskan ayah dulu. Mari, kita menyusul mereka." Mereka keluar dari hutan, mencabut damar di pinggir jalanan desa dan lari memburu. Antara sebentar Arok melirik Umang di bawah sinar damar yang dipegangnya. Ia tidak rupawan seperti gadis-gadis lain yang pernah ditemuinya. Ia kenangkan semua kebaikan Ki Bango Samparan dan istrinya, juga gadis di sampingnya ini, yang kini lari di malam hari hanya dalam cawat, rambut terurai, dan dingin udara tak dirasakannya sama sekali. Mereka berdua telah bermandi keringat waktu mencapai rombongan. Tanpa ada yang bicara lagi rombongan itu berjalan terus semakin memasuki kandungan belantara.

"Macan!"Tanca memperingatkan dan berpaling ke belakang ke arah tudingan. Seekor macan besar, loreng kuning hitam berlari-larian kecil mengikuti mereka. Dan mereka berjalan terus seakan tiada terjadi sesuatu. Dari kejauhan nampak api unggun, dan mereka menuju ke sana Sebuah gubuk panjang dari kulit kayu beratap daun-daunan yang belum sepenuhnya kering menari-nari dalam sinar unggun yang tidak terang itu. Beberapa orang bertombak mengangkat dua belah tangan menyambut mereka. "Arok bersama kita," bisik Tanca. "Jangan ribut, ada macan mengikuti kita." Rombongan itu masuk ke dalam rumah, menancapkan damar mereka di samping unggun. Tiada seorang pun tinggal di luar. Tinggal macan besar loreng kuning hitam itu duduk diam-diam memandangi api. Setelah puas ia pun bangkit dan berjalan kembali ke arah datangnya. Gubuk panjang itu ditinggali oleh beberapa belas orang pelarian dari Tumapel utara karena terancam akan dibudakkan. Perkara mereka macam-macam. Antaranya karena tak mampu membayar iuran negeri, pertengkaran dengan pejabat, tak mampu membayar hutang, pendatang baru yang menolak menyerahkan istrinya pada seorang prajurit, gagal menyerahkan hewan pada pembesar setempat, karena hewan itu ternyata terserang penyakit dan mati. Mereka terdiri dari laki dan perempuan, dewasa dan kanak-kanak. Di bawah pimpinan Arok dan Tanca mereka melakukan penyergapan-penyergapan, penyerangan dan perampasan barang-barang Akuwu Tumapel. Dua kali mereka telah menyergap pengangkutan besi dari Hujung Galuh, menghancurkan lima koyang garam [30 pikul. 1 pikul ± 67 liter], lima puluh satu pikul beras[Beras diukur

dengan pikul juga], dua ratus takar minyak-minyakan[± 25 liter], beratus hasta kain tenun. Mereka telah dengar Tunggul Ametung hendak mengunjungi Dang Hyang Lohgawe untuk meminta pertolongan. Juga mereka telah dengar adanya bondongan pelarian orang Syiwa dari Kediri Selatan ke arah Tumapel Selatan. Mereka telah mulai membuka perangkap terhadap kekuatan Tumapel, setelah mengetahui tidak lain dari Tunggul Ametung yang melakukan penyerbuan dan penghancuran biara-biara Syiwa. Arok dan Tanca telah menemui Hayam dan mendapatkan keterangan secukupnya tentang pendulangan emas Kali Kanta, tentang barisan jajaro yang tidak pernah nampak oleh orang dan selalu membunuh orang yang mencoba masuk tanpa ijin, dan menahan yang dengan ijin, untuk kemudian juga dijadikan budak. Tak ada yang tahu berapa kekuatan mereka. Hayam tidak pernah memasuki daerah pendulangan. Ia hanya memasuki hutan sekitar dengan lima puluh orang anak buahnya, menyisiri selangkah demi selangkah untuk menemukan tempat persembunyian mereka. Tengah malam mereka balik tanpa menemukan sesuatu. Tanca telah dapat menemui pimpinan pelarian Syiwa dari Kediri. Mereka terdiri atas biarawan dan biarawati yang takkan mungkin lagi bisa berdamai dengan Tunggul Ametung, telah mengucapkan sumpah untuk menumpas Akuwu Tumapel dan semua gerombolannya. Mereka takkan kembali jadi biarawan dan biarawan sebelum sumpah mereka terlaksana. Dengan Hayam didapatkan persetujuan untuk melakukan serangan besar-besaran atas pendulangan emas, dan dengan demikian merebut sumber kekayaan terpokok dari Tunggul Ametung.

"Kau berani memastikan biarawan dan biarawati itu akan menyertai kita?" "Mulai kapan kau tidak percaya pada Hayam Lumang Celukan?" Dengan demikian Arok dan Tanca kembali ke utara. Menjelang matahari tenggelam di belakang mereka terdengar teriak para peseru Tumapel akan lalunya Yang Mulia Akuwu, Yang Mulia Paramesywari Ken Dedes dan Yang Suci Belakangka dengan Sang Patih Tumapel. "Dedes, Tanca, anak Mpu Parwa. Diculik dari desanya di Panawijil." "Semua sudah dengar." "Waktu Mpu Parwa ada bersama kami." "Ya." "Anak brahmana keturunan. Tentunya cantik." "Ya, semua yang tercantik kepunyaan Tunggul Ametung," Tanca mulai meminggir, "kemari, Arok, ke tempat yang lebih tinggi. Mari kita lihat." Mereka mendaki tebing di sebelah kanan jalan. Di kejauhan telah nampak iringiringan itu maju dengan terlalu lambat, didahului dan diikuti oleh pasukan kuda.

"Orang bilang Paramesywari Tumapel tidak berbahagia." Tanca melaporkan. "Kerbau betina pun takkan berbahagia dengan orang dungu seperti itu, Tanca." "Untuk apa kau hendak melihat Dedes? Bukankah sebentar lagi ada padamu Umang?" "Sebentar lagi Tunggul Ametung jatuh, Tanca." "Dia takkan dapat mengelakkan nasibnya." Mereka duduk-duduk di bawah pohon memandangi iringan yang merambat maju itu. "Betapa indahnya kalau kita sergap sekali tangkap. Arok," Tanca memulai lagi. "Lantas kita mau apa kalau berhasil? Kau pun tak tahu jalan lagi, seperti orang buta bergerayangan mencari jalan, jadi tertawaan." "Barangkali benar pendapatmu: kita begini saja sampai para dewa berkenan memberi petunjuk jalan." "Pendapat lama itu tak perlu diubah, Tanca."

"Tak perlu kita melihat mereka, Arok. Mari langsung ke Randu Alas. Yang lain-lain sudah lama menunggu kita." Setelah berteriak menghinakan Tunggul Ametung mereka meneruskan perjalanan. Dengan semakin bergolaknya desa-desa sebelah barat Tumapel, banyak prajurit ditempatkan terpencar di mana-mana. Dua orang itu menghindari setiap desa. Di tengah hutan Umang menyambut mereka dengan barisan perawan. Di belakangnya barisan pemuda. Semua hanya berca-wat. Damar menyala di manamana. Di belakangnya pengangkut besi yang telah menggabungkan diri dari desadesa lain yang terkena kerja paksa. Di belakangnya lagi menyusul barisan pelarian yang menggabungkan diri. Setiap orang yang mendapatkan kepercayaan untuk memimpin disebut Maarok, yang kemudian berubah menjadi Warok Barisan besar itu keluar dari hutan, memadamkan damar dan mulai menyapu desadesa dari para prajurit Tumapel yang sedang berkeliaran mencari mangsa. Tidak kurang dari lima puluh orang prajurit telah berguguran pada malam itu. Menjelang pagi mereka telah mengepung Randu Alas yang terpencil di dalam hutan. Desa kecil itu kini telah padat dengan gubuk-gubuk para pelarian dari Tumapel. Sawah dan ladang telah melebar lebih sepuluh kali lipat. Tetapi tak ada prajurit Tumapel nampak berkemit. Rumah Ki Lembung kini berada di tengah-tengah desa. Arok maju tanpa ragu-ragu ke rumah, kemudian berbalik dan memeriksa kandang. Hanya seekor anak kerbau mendekam tercancang sendirian. Ia periksa tonggak-tonggak pencancang dan memeriksa kelicinannya. ia tahu sudah lama kandang ini telah ditinggalkan oleh rombongan besar ternak yang dulu.

ia kitari rumah sambil memanggil-manggil pelan Ia dengar ambin di dalam berkerait. Kemudian suara: "Suara siapa itu yang memanggil-manggil kalau bukan suara anakku?" "Akulah ini, Mak, anakmu." "Temu, anakku?" "Temu, Mak." Pintu depan itu terbuka. "Temu? Temu? Di mana, kau?" Arok menjatuhkan diri di hadapan perempuan yang belum lagi dilihat wajahnya itu, merangkul kaki kanannya. Wanita itu berlutut dan menciumi muka Arok. "Aku tahu pada suatu kali kau akan datang," ia menangis. "Keterlaluan, kau, begitu lama baru kembali ..." Arok berdiri dan membopong emaknya masuk ke rumah Dari sinar damar ia lihat wanita itu bukan seorang ibu muda yang dulu, tetapi telah tua dengan muka telah dirusak oleh usia.

"Mak, aku tak mengira kau mengharapkan kedatanganku." "Terlalu! Terlalu!" ia terhisak-hisak. "Dua puluh tahun yang lalu, Temu ... selalu aku guriskan tanda-tanda tahun pada tiang ... kau mulai mengisap dadaku ... ya dewa, mengapa tak kau keluarkan air dari dadaku untuk anak ini? Biarpun begitu kaulah satu-satunya anakku, ah, Brahmaputra, Brahmaputra "Emakku, emakku sendiri," Arok mengavun-ayunkan Nyi Lembung dalam bopongan. Wanita itu tak dapat berbuat sesuatu kecuali menangis. "Kau tidak sayang padaku, Temu." "Inilah sahaya datang." "Kau biarkan aku sendirian selama ini." "Ah, emak, emakku sendiri," ia letakkan nyi Lembung di atas ambin, dan wanita itu merangkulnya, seakan takkan dilepaskan untuk selama-lamanya. "Kalau emak mau aku bawa..." "Hendak kau bawa ke mana emakmu ini?" "Ke mana saja emakku suka."

"Begitu kecil kau datang ke rumah ini, sekarang ... bukan tangis kedinginan yang terdengar," ia terhenti untuk melepaskan hisaknya. "Kau tidak diganggu prajurit tadi?" "Prajurit, Mak? Anakmu ini juga prajurit, Mak." "Prajurit?!" Nyi Lembung melepaskan pelukannya, turun dari ambin dan mengawasi Arok dari sesuatu jarak. "Prajurit? Ikut membunuh bapakmu sendiri?" "Ampun, Mak, tidak, bukan prajurit Tumapel," ia dekati Nyi Lembung, dan wanita tua itu menghindarinya. "Mengapa, Mak?" "Jangan sentuh aku." Tapi Arok telah membopongnya lagi, berbisik: "Bukan prajurit Tumapel, Mak, bukan." "Bapakmu mereka bunuh di desa Kidal, Temu, tidak pernah kembali lagi, sudah lima tahun berselang," ia mulai menangis lagi. "Diam, Mak, aku sudah dengar. Inilah anakmu yang akan membalaskan dendam brahmaputramu, Mak." Nyi Lembung dalam bopongan itu memeluk leher anaknya: "Aku percaya, anakku akan lakukan itu." "Mari, Mak, aku bawa kau ke tempat lain." "Tidak, Temu, tempatku di sini. Kau saja yang sering datang ke mari."

"Anak kerbau siapa yang di kandang, Mak?" "Prajurit punya, aku yang diharuskan memeliharanya." "Kurangajar! Aku bunuh anak kerbau itu, Mak." "Jangan. Aku tetap tinggal di sini, Temu." "Siapa memelihara Mak kalau sakit?" "Tak pernah sakit." "Bagaimana makannya?" "Apa saja yang bisa dimakan" "Mari aku bawa, Mak." "Tidak. Biar aku mati di desa ini, Temu." "Mak, ayam sudah pada berkeruyuk, Sebentar lagi matahari terbit." "Ya, pergilah kau. Sering-sering kau datang ke mari..." Gerakan para biarawan dan biarawati di selatan Tumapel mulai merambat dengan cepat sampai ke kaki Gunung Semeru dan kaki Gunung Kawi serta dataran tinggi Kelud. Balatentara Tumapel dikerahkan ke tiga jurusan untuk memadamkan pemberontakan. Prajurit-prajurit yang ditempatkan di desa-desa ditarik ke selatan, tenggara dan baratdaya.

Gerakan itu kemudian berpadu dengan gerakan Arok, kekuasaan setempat dan kaum petani penganut Syiwa. Kediri, yang murka karena perbuatan Tunggul Ametung, menjadi sibuk. Kretajaya hampir-hampir menjatuhkan perintah untuk menyingkirkan Tunggul Ametung. Tetapi sidang negara memutuskan lain: Biar Akuwu Tumapel menyelesaikan pemberontakan-pemberontakan itu, untuk kemudian Belakangka akan menyelesaikan bagian yang terakhir. Mahisa Walungan. adik Sri Baginda, telah disebut-sebut untuk menggantikan pemegang kekuasaan Tumapel. Tiga kedemangan di kaki Gunung Semeru ternyata tak dapat dipadamkan oleh Tunggul Ametung. Separoh dari pasukannya binasa. Ia sendiri memimpin perang penindasan di Gunung Kawi dan dataran tinggi Kelud. Di sini pun ia terpaksa mundur. iawannya telah menggunakan alat senjata baru yang belum pernah dikenal sebelumnya: pelempar anak panah yang bisa melepaskan tiga kali lebih cepat. Kedemangan-kedemangan di tiga tempat tersebut akhirnya tak diurusinya lagi. ia kembali ke Kutaraja dan mengeluarkan perintah pada semua desa dalam kawasannya untuk menyerah-kan dua ratus orang calon prajurit, berumur antara tujuhbelas dan dua puluh tahun. Tidak semua desa mampu memenuhi jatah. Pemuda-pemuda yang terpanggil banyak yang melarikan diri, masuk ke hutan dan menggabungkan diri dengan kekuatan Arok. Juga lurah-lurah yang takut kena hukuman dengan senang hati meninggalkan desanya, mengungsi ke Gresik, Kediri atau bergabung dengan Arok. Mengetahui maksud Kediri terhadap dirinya, ia memperkuat pasukan pengawal, dan mengambil semua prajurit Tumapel yang terbaik ke Kutaraja. Untuk itu ia harus lebih banyak mendapatkan perak untuk membiayai mereka. Ia sendiri sudah

mulai kehilangan kepercayaan akan kekuasaannya sendiri suatu hal yang membikin kerakusannya akan emas semakin menjadi-jadi. Rencana telah masak dalam hatinya: bila semua tak dapat dipertahankan lagi, ia akan lari ke utara dalam pengawalan kuat, membawa emas dan Dedes. Ia tak pernah lagi meninggalkan Kutaraja. Juga tidak meninggalkan pekuwuan. Tentara baru sejumlah tujuh ribu lima ratus itu belum menggembirakan hatinya. Lima ratus di antaranya dikerahkannya untuk menjaga keamanan garis antara Kutataja dengan pendulangan emas. Sikapnya terhadap Dedes semakin hari semakin lunak. Hanya pada brahmani itu ia meletakkan harapan kebesaran di kemudian hari. Ia mewajibkan diri mempercayai ramalan resi candi Erlangga di Belahan. Tanpa kepercayaan itu segala-galanya akan hilang daripadanya. Ia sengaja tidak mengganti Rimang dengan siapa pun. Dan ia tak biarkan Ken Dedes mendapatkan teman yang pasti akan dapat disuruhnya untuk mencari keterangan. Terhadap Belakangka ia sudah mematokkan ketentuan: bila keadaan sudah tak dapat dipertahankan, ia akan membinasakan-nya untuk memenangkan beberapa hari sebelum balatentara Kediri sempat memasuki Tumapel. Tetapi semua matamatanya tidak pernah mendapatkan siapa-siapa pembantunya. Kemudian tiba pukulan yang tak terelakkan itu. Malam itu Oti lari dari gubuk meninggalkan suaminya yang telah dilumpuhkan oleh lima orang jajaro. Ia lari menyeberangi padang batu. Tak diindahkannya kakinya yang telah berdarah-darah.

Ia lari ke tempat Gusti Putra.Tanpa mengindahkan tatacara ia daki tangga, mendobrak pintu loteng dan menjatuhkan diri di hadapan silpasastrawan yang sedang membikin perhitungan di atas selembar rontal. "Ampun, Gusti, sahaya mohon perlindungan." "Bukankah kau ini Oti?" "Inilah sahaya, Gusti." "Apakah suamimu tak mampu melindungimu?" "Sudah jatuh menggeletak, Gusti, tolonglah dia." Gusti Putra bangkit dari tempat duduk, menggunakan ikat pinggang dan memasang pedangnya. Ia ambil dua pucuk tombak: "Mari," dan diserahkan sepucuk pada Oti. "Bolehkah sahaya ikut berkelahi, Gusti?" "Mari bantu aku." Oti menerima tombak itu, matanya menatap Gusti Putra. "Hanya kau dan aku yang bisa menolongnya. Tak ada orang lain bisa diharapkan. Ayoh!" Mereka mematikan damar, menuruni tangga dan lari melintasi padang batu.

Pada malam itu juga pasukan Arok, diperkuat oleh barisan biarawan dan biarawati dan para petani Syiwa, menyisiri hutan selingkaran pendulangan. Mereka melangkah setapak demi setapak untuk menemukan sarang jajaro. Gua-gua mereka ditemukan kosong. Umang, dalam semangat untuk membebaskan ayahnya, selalu menjadi panah barisan wanita. Dan pasukan itu bergerak dalam kegelapan seperti gelombang kucing malam. Tak ada seorang pun yang pernah menginjak tempat ini. Tetapi jalan-jalan setapak jajaro sendiri yang memberi petunjuk lalulintas mereka. Atas perintah Arok Tanca selalu mendampingi Umang. Mereka mendapatkan seorang jajaro sedang memasak di depan guanya. Umang mengacukan tombak pada dadanya. Orang itu terkejut. Waktu memekik Tanca menyepak mulutnya. Ia jatuh berguling dan mencabut parang. Umang memasukkan tombak pada iga-iganya. Orang itu mencoba meraung. Mulutnya nampak besar dan gelap seperti gua. Gerakan selanjutnya juga tidak menemukan jajaro lagi. Lewat tengah malam mereka semakin menghampiri pendulangan. Mulai ditemukan beberapa orang jajaro. Perlawanan hampir-hampir tidak ada. Mereka menduga akan tetap aman dalam kerajaannya dalam hutan.

Biarawan dan biarawati, yang mengerti pendulangan adalah sumber kekuatan penting bagi kekuatan Tunggul Ametung, bergerak cepat dan tidak ragu-ragu menggunakan senjatanya: pelempar panah cepat itu. Sebuah bayang-bayang gelap bergerak-gerak di balik batu besar. "Orang Gusti," Oti memperingatkan. "Siapa itu!" gertak Putra. Bayang-bayang itu mengitari batu berlindung diri. "Budak atau jajaro?" Orang itu lari "Kalau jajaro aku lempar kau dengan tombak." Bayang-bayang itu berhenti "Sini." Bayang-bayang itu tidak mau datang, Gusti Putra menghampiri. Pedangnya ditariknya dari sarong. "Budak atau jajaro?" "Budak," jawab suara perempuan. "Oti, bawa saudarimu ini. Siapa namamu?" "Rimang." "Mengapa di sini?"

"Setiap malam sahaya bersembunyi di ladang batu. Gusti, ah. Gusti Putra, beribu terimakasih Gusti sudi datang begini." "Takut pada jajaro?" "Siapa tidak takut, Gusti?" jawab Oti. "Mereka datang bergelombang-gelombang, hampir setiap malam. Celakalah wanita-wanita muda itu harus melayani empat sampai enam orang." "Dewa Bathara, aku tak pernah keluar malam." "Inilah barangkali Rimang pengiring Yang Mulia Paramesywari, Gusti." "Benar, Gusti, juga bekas selir Yang Mulia Akuwu." "Jagad Dewa! Nanti kita bicarakan lagi. Mari!" Mereka berjalan bergegas. "Inilah gubuk sahaya." "Mundra!" seru Gusti Putra.

"Inilah sahaya, Gusti, malu sahaya tidak bisa membela diri terhadap mereka. Oti! Oti, kau selamat?" "Mana jajaro itu?" "Sudah pergi lagi, Gusti, ke gubug-gubug lain " "Tolong suamimu itu, Oti. Rimang, kau ikut denganku. Bawa tombak Oti." Mereka berjalan dan mendengar-dengarkan dari gubuk ke gubuk. Pada sebuah gubuk mereka mendengar seorang wanita merintih. Gusti Putra berbisik pada Rimang: "Tombak siapa saja yang nanti keluar. Aku masuk." Ia memasuki gubuk itu dan dengan tangan menggerayangi keadaan di dalam. Suatu raungan lelaki telah memadamkan rintihan. "Pasang damar!" perintah Gusti Putra pada Rimang yang menunggu di luar. Rimang masuk "Tidak ada sahaya bawa pembangkit api. Gusti." Mendengar raungan, beberapa orang jajaro terdengar mendatangi. Gusti Putra menarik tangan Rimang, berbisik: "Keluar kita, Rimang." Di depan gubuk mereka melihat bayang-bayang lima orang membawa parang telanjang. "Gusti Putra di sini. Panggil kepalamu kemari!"

Lima orang jajaro itu menyerang berbareng ke arah datangnya suara, membelah dinding gubuk. Dengan pedangnya Gusti Putra membabat dua orang di antaranya, langsung jatuh men-jelempah di tanah. Tombak di tangan Rimang jatuh ke tanah. Ia sendiri pun jatuh. Kakinya gemetar kehilangan tenaga. Tiga orang jajaro itu menyerang Gusti Putra. Dengan mengelakkan serangan silpasastrawan itu memekik-mekik memerintah: "Mundur kalian! Pergi! panggil kepalamu ke mari." Mereka tidak menggubris. "Kalian melawan Gusti Putra, melawan perintah Sang Akuwu. Kembali! Kembali ke sarang kalian!" Perkelahian dalam kegelapan itu berpindah-pindah dari depan ke samping gubuk. Dan Rimang, yang malu pada kelemahannya sendiri mulai merangkak berdiri, mengambil tombak dan bisiknya: "Ya Mahadewa, beri aku kekuatan."

Dengan tombaknya ia tikam seorang jajaro dari belakang. Sekali lagi raungan terdengar, jajaro yang dua orang itu tak dapat lagi memusatkan perhatian, kemudian lari meninggalkan tiga orang temannya. "Pergi dari sini kita, Rimang, sebentar lagi mereka akan datang dalam jumlah sangat besar, orang-orang buas itu," Pasukan biarawan dan biarawati itu maju lebih cepat daripada yang diduga. Mereka berhenti di pinggiran ladang batu Tanca, Umang dan pasukannya tersasar menjauhi pendulangan. Kemudian mereka menempuh jalan kembali karena semakin tak mendengarkan suara-suara isyarat. Waktu Arok sampai di tepi padang batu ia perintahkan memberikan isyarat. Pasukan biarawan-biarawati dan petani itu sudah menjawab dari sebelah kanan. Tanca dan Umang belum terdengar. Ia perintahkan lima orang untuk mencarinya. Bulan tua mulai muncul dari atas hutan, mendesak kemutlakan kegelapan. Mereka mulai dapat melihat bayang-bayang bergentayangan di padang batu, di depan gubug-gubug, juga suara-suara manusia. Bulan itu naik sejengkal lagi dan pasukan Umang-Tanca baru terdengar memberikan isyarat. Serombongan jajaro nampak berjalan tenang-tenang hendak pulang ke guanya masing-masing. Tiga pasukan di tepi ladang batu itu bersorak. Rombongan jajaro itu lari menyerbu. Arok, yang mengerti mereka tidak tahu kridagama[olah keprajuritan.] dan tugasnya memang bukan untuk bertempur, membiarkan mereka maju. Sorak mereka

bergelombang-gelombang lagi. Semua jajaro meninggalkan gubuk-gubuk dan berlarian ke arah datangnya sorak. Pasukan panah cepat dari barisan biarawan-biarawati mulai menghujani dengan jarum bambu mautnya. Lima belas orang jajaro itu lari balik meninggalkan beberapa orang korban, menggabungkan diri dengan rombongan besarnya. Sekarang pasukan jajaro itu meraung berbareng, membentuk garis panjang. Tetapi hanya dengan tombak dan parang mereka tak mengerti bagaimana harus menghadapi anak panah. Mereka masih tetap meraung-raung dengan suara bolong dan terdengar aneh, seperti keluar dari rongga mulut macan. Pasukan tak dikenal yang berdiri di tepi padang batu di pinggiran hutan itu lari meninggalkan tempat, memasuki padang di depannya dan mendesak pasukan jajaro. Empat ratus orang jajaro buyar memecah diri, sepera sekelompok lebah dilempar batu. "Semua budak bebas mulai hari ini!" teriak Arok. "Semua budak bebas!" pekik bersama. "Hancurkan jajaro!" "Hancurkan!"

Beberapa jajaro nampak membuang senjata dan mencoba lari memasuki hutan Tetapi tombak temannya sendiri selalu menyambarnya dengan tepat. Panah-panah beterbangan. Mereka mundur dan mundur. Di belakang mereka para budak nampak sedang kebingungan dan melarikan diri ke arah sungai. "Hancurkan jajaro itu!" pekik Arok. Budak-budak yang lari itu setengahnya berhenti. "Kalian bebas. Sekarang juga. Hancurkan jajaro!" Seluruh pasukan Arok lari mengejar. Para jajaro mulai mem-buyar lebih tipis dengan raungan hewan. Dan budak-budak itu mulai melempari para jajaro dengan batu. Terjepit oleh dua kekuatan mereka kemudian berbalik, menerjang pagar budak dengan parang dan tombak dan melarikan diri ke arah Kali Kanta, tanpa berlawan. Gusti Putra menarik tangan Rimang dan dibawanya lari pulang ke rumah panggungnya. Kaki mereka telah berdarah-darah, Silpasastrawan itu menyalakan damar. Bercak-bercak darah dari kaki keduanya membekasi lantai geladak, "Sudah, kau sembunyi saja di sini." "Jajaro tentu nanti datang kemari." "Binatang-binatang itu. Kau benar juga."

Pada waktu itu mereka mendengar sorak perang dari kejauhan. Dan mereka mendengar-dengarkan suara aneh itu. "Sorak, Rimang, bukan raungan Sesuatu telah terjadi di Tumapel." "Kita turun saja, Gusti." Sorak itu terdengar lagi, bergelombang, bergema-gema "Bukan suara jajaro." Tak lama kemudian terdengar raungan simpang-siur pasukan jajaro. "Memang sesuatu sedang terjadi di Tumapel, Rimang. Mari bantu aku." ia buka lemari batu dan mengeluarkan batangan-batangan emas dari dalam. Bolakbalik mereka menuruni tangga. Kemudian mereka pikul batangan-batangan itu ke dalam hutan di belakang rumah. Barang dua ratus depa Rimang berhenti, tak kuat meneruskan. Nafasnya sengal-sengal. "Sampai di sini pun sudah baik. Kita angkut seperempatnya saja, Rimang, dan ditimbunnya yang tiga perempat dengan luruhan dedaunan dan ranting. Mereka berjalan terus, melalui jalan setapak jajaro. Tiga ratus depa kemudian Rimang berhenti lagi, tak mampu meneruskan. "Baik. Kita tinggalkan jalan setapak. Bawa beberapa potong ini," sekali lagi Gusti Putra menimbun sisa itu dengan luruhan daun.

Mereka meninggalkan jalan setapak, menempuh jalan liar yang ditumbuhi semaksemak. "Berani kau seorang diri di hutan ini? Biar aku angkuti sendiri yang lain-lain." "Kita lupa membawa senjata, Gusti." Sorak di kejauhan itu bergelombang-gelombang lagi. Dan raungan jajaro tidak terdengar menyambut. "Jajaro itu lari, Rimang. Boleh jadi akan membuyar melalui tempat ini. Kita bersembunyi saja, Rimang." Mereka memasuki semak yang lebih rapat. Sekali lagi sorak bergema. Dari arah yang bertentangan terdengar aum macan. Dan Rimang sendiri tak berani terlalu dekat pada Gusti Putra. Ia tahu banyak cerita tentang keganasan orang-orang yang menguasai terlalu banyak emas. Boleh jadi ia akan dianggap terlalu banyak tahu tentang rahasia penyimpanan. "Benar kau bekas selir Sang Akuwu?" "Benar, Gusti." "Bagaimana bisa sampai ke mari?" "Yang Mulia sudah tidak memerlukan, Gusti."

"Kan tidak perlu sampai ke mari? Apa kesalahanmu?" "Terakhir jadi pengiring Yang Mulia Paramesywari." "Apakah Yang Mulia Paramesywari jahat?" "Tidak, Gusti. Yang Mulia berdua belum pernah rukun. Mungkin karena itu sahaya dituduh menghasut." "Apakah Yang Mulia Paramesywari seorang putri dari Kediri, Rimang?" Sorak-sorai bertalu-talu terdengar bergema-gema menggelombang, jauh lebih panjang-panjang dan terus-menerus. "Jajaro itu kalah, Rimang. Raungan mereka tak terdengar sama sekali." "Sahaya, Gusti." Mereka diam-diam mendengarkan kalau-kalau ada pecahan jajaro yang menempuh tempat mereka. Tak ada tanda-tanda. "Apakah Yang Mulia Paramesywari putri dari Kediri?" "Tidak, Gusti. Hanya seorang perawan desa, anak brahmana Mpu Parwa."

"Jagad Dewa!" sebut Gusti Putra. "Dedes?" "Betul, Gusti. "Tak mungkin dengan rela orang tua atau dirinya sendiri." "Diculik, Gusti." "Diculik! Jagad Dewa!" "Kenalkah Gusti pada Yang Mulia?" Gusti Putra mendengus. Kemudian: "Mari kita selamatkan terus sisa emas itu." Rimang gemetar. Pada akhir kerja ini tentu dibunuhnya aku, pikirnya, ia laksanakan perintah itu, membawa sesedikit mungkin dan menjaraki sejauh mungkin. Tiba-tiba terdengar sorak gemuruh, lebih keras, ber-gaung-gaung menyapu padang batu dan hutan. "Mereka bersorak gembira. Jajaro itu mungkin sudah tumpas Tapi siapa kiranya yang menyerbu? Pasti bukan balatentara Tumapel. Ayoh, Rimang, lebih cepat."

Sinar matan pagi telah mulai menusuki mendung di sebelah timur. Batang-batang emas itu telah terkubur di dalam tumpukan dedaunan dan ranting. "Mengapa kau selalu jauhi aku?" "Ampun, Gusti. jangan bunuh sahaya setelah membantu kerja begini." "Gila! Siapa akan bunuh kau? Aku? Gila! Mari keluar hutan," dan Gusti Putra melangkah cepat meninggalkan Rimang. Rimang berjalan lambat-lambat. Kalau ia tahu jalan pada saat ini juga ia akan melarikan diri. Tak ada jalan baginya daripada mengikuti Gusti Putra keluar dari hutan. Semua budak, laki-perempuan, tua-muda dan kanak-kanak bersorak-sorai menyambut kedatangan pasukan pembebas itu. Mereka semua dikumpulkan di padang batu. Arok naik ke atas sebongkah batu, berlutut dan mengucap syukur kepada Mahadewa. Semua mengikuti contohnya. Waktu ia berdiri dilihatnya sekelompok kecil budak lelaki meninggalkan rombongannya, menyelusup di balik-balik batu besar. "Hayam, ikuti mereka dengan regumu," perintah Arok. Kemudian pada semua budak yang hadir: "Mulai hari ini kalian bebas. Hanya jangan bubar dulu. Tidak lama lagi pasukan Tumapel akan datang merampas lagi tempat ini dan

memperbudak kalian kembali. Karena itu semua orang di antara kalian agar bersiap-siap bertempur. Setuju?" Sorak-sorai gemuruh menyambut ajakan itu. "Tumpas setiap prajurit Tumapel." "Tak ada senjata pada kami!" teriak seseorang. "Kalian membantu pasukan yang akan ditinggalkan di sini. Setuju?" ia menuding ke arah sayap kanannya: pasukan biarawan-biarawati dan petani selatan Tumapel. "Bantu mereka seperti membantu saudara-saudaramu sendiri. Mengerti?" "Mengerti." "Siapa di antara kalian bernama Bango Samparan?" "Ki Bango! Ki Bango!" orang berseru-seru memanggil. Dari tengah-tengah kumpulan budak itu keluar seorang lelaki jangkung yang sudah mulai agak bongkok, berjalan dengan langkah tegap maju menghampiri Arok. "Inilah Bango Samparan, Yang Mulia!" Arok melompat turun dari batu, bersujud dan mencium kakinya. Ki Bango melangkah mundur kemudian juga berlutut mencium tanah. "Biarlah aku memuliakan kau, Bapak. Inilah anakmu, anakmu sendiri si Temu." "Jagad pramudita! Temu? Temu anakku?" Berdua mereka bangkit dan berangkulrangkulan. Arok memimpin Ki Bango Samparan naik ke atas batu. "Inilah Ki Bango Samparan, bapakku. Hormati dia seperti kalian menghormati aku, karena sebentar lagi aku akan tinggalkan tempat ini. Bapakku ini akan memimpin

kalian. Jangan kalian tinggalkan tempat ini sebelum pasukan Tumapel nanti dapat dikalahkan. Semua masuk ke dalam hutan." Ia diam sebentar dan menebarkan pandang ke keliling. Dengan lambaian tangan ia memberi isyarat pada Umang di sayap kiri untuk maju menemui bapaknya. Sayap kiri yang terdiri dari wanita bercawat dengan hanya seorang lelaki, Tanca, maju serempak dan mengangkat sembah pada Ki Bango Samparan "Bapak, inilah Umang." Tanca menyorong Umang naik ke atas batu. Dan Umang menangis, tersedu-sedu. Ia tinggalkan tombaknya pada Tanca Budak-budak itu maju melingkari batu itu, bertanya satu pada yang lain. "Inilah prajurit wanita yang juga membebaskan kalian. Umang, anak darah Ki Bango Samparan. Aku bukan anak darah, hanya anak pungut." Ki Bango Samparan memeluk Umang dengan tangan satu dan memeluk Arok dengan tangan yang lain. "Kami bertiga bertemu di padang perbudakan ini Harap kalian mengingat-ingat ini: perbudakan tidak aku benarkan Siapa pun tidak dibenarkan untuk menjadikan saudaranya sendiri dan bukan saudaranya sendiri menjadi budak." "Ki Bango Samparan telah menjadikan sahaya jadi budak," seorang mengadu. "Juga sahaya jadi budak karena dia."

"Sahaya juga." "Maka itu Ki Bango Samparan juga dijadikan budak oleh orang lain. Untuk selanjutnya tak boleh terjadi lagi, baik karena judi, hutang maupun tak kuat membayar upeti. Kalian mengerti? Maaf-memaafkan kalian mulai hari ini. Nah, beramah-ta-mahan kalian sekarang dengan semua prajurit yang telah membebaskan kalian!" Budak-budak itu berebutan dulu untuk mencium kulit Arok. Juga Umang mencium tangan Arok. Kemudian juga Ki Bango mengikuti contoh orang banyak. Arok turun dari batu memasuki tengah-tengah kaum budak. Orang semakin rapat untuk dapat mencium kulitnya. Dengan lambaian tangan ia perintahkan semua prajurit untuk meramahi mereka. Dan pesta keriangan pun dimulai dengan tari dan nyanyi Ratusan mulut menirukan suara gamelan sambil menari.... Dengan regunya Hayam mengikuti beberapa orang budak lelaki yang memisahkan diri dari rombongannya, lari bercepat-cepat menuju ke rumah panggung Gusti Putra. Mereka lihat budak-budak itu terus lari tanpa memperhatikan keliling, naik ke tangga dan hilang di dalam panggung. Tak

lama kemudian mereka turun lagi. Dua orang di antaranya kini membawa tombak, seorang membawa pedang. Mereka berpencaran ke sekeliling rumah. Regu Hayam makin mendekat dan mendengar: "Cari sampai dapat!" Dan ia lihat seorang punggawa keluar dari hutan di belakang rumah. Budak-budak itu segera menangkapnya. Tombak diacukan pada dadanya. Secepat kilat punggawa itu telah terpelintir tangannya ke belakang badan. "Kau simpan di mana semua emas itu?" "Di atas!" raung Gusti Putra, ditujukan pada regu bersenjata yang mendatangi. Regu Hayam lari mendekati. Dua orang bertombak dan seorang berpedang itu menghadang regu pembebas, mengancam: "Kalian orang-orang desa, jangan ganggu kami. Jumlah kalian memang besar, tapi jangan coba melawan bekas prajurit Tumapel, biar jumlahnya kecil." "Apa yang kalian pertengkarkan?" tanya Hayam.

"Orang-orang ini menghendaki emas," sebelum Gusti Putra menyelesaikan katakatanya mulutnya telah kena hujan tinju, dan terbisukan. Darah mengucur. "O, itu?" sambut Hayam. "Kalau begitu kalian ini mau merampok emas kami?" "Emasmu?" "Serbu mereka!" perintah Hayam. Gusti Putra dilepas dari pelintiran tangan Dengan tombak Hayam menyerbu. Dalam hujan tombak yang dilemparkan rombongan kecil budak itu kewalahan. Beberapa orang telah menjelempah tanpa bisa membalas. Kemudian melarikan diri berpencaran ke segala penjuru. "Siapa kau?" tanya Hayam pada punggawa itu. "Gusti Putra, pengurus semua pekerjaan di sini." "Budak-budak itu menanyakan di mana emas disimpan." "Betul. Bawalah aku pada pemimpinmu yang tertinggi" "Di mana kau simpan emas itu?" "Hanya pada pemimpinmu yang tertinggi akan kusampaikan. "Baik," diperintahnya beberapa orang anak buahnya untuk menjemput Arok. Hayam naik ke panggung, memeriksa semua lontar perhi tungan. Gusti Putra menolong menyusunkan. Hayam melongok pada jendela berkisi-kisi, bertanya ke bawah: "Apa ribut-ribut di bawah itu?"

"Perempuan, Hayam." "Rimang," kata Gusti Putra, "bekas pengiring Paramesywari Tumapel." "Ah? Suruh dia naik," ia meneruskan bacaannya. "Aku lihat ada tiga puluh ribu saga. Benar?" "Benar. Hanya tidak akan dikatakan di mana ditempatkan." "Baik ada waktunya sendiri untuk mengatakan. Bakar semua perhitungan itu,"perintah Hayam. "Tiga puluh ribu saga. Jangan lupa." Rimang naik ke atas waktu Gusti Putra membakar ron-tal-rontal perhitungan. "Jadi sepuluh ribu saga yang tersedia," Hayam menindas dengan suaranya. "Kalau yang sepuluh ribu itu tidak ada kepalamu tergantung-gantung di ujung pedang," ia berpaling pada Rimang yang duduk di lantai. "Bekas pengiring Paramesywari?" "Sahaya." "Lari waktu dikejar-kejar jajaro, mencari perlindungan kemari," Gusti Putra menerangkan, "kemudian kami berdua bersembunyi dalam hutan." "Dengar, Gusti Putra, tidak lama lagi pasukan Tumapel akan melakukan serangan pembalasan. Kau berpihak pada siapa?"

"Aku pun seorang budak." "Baik. Sampaikan nanti pada pemimpinku. Jangan salah ucap. Dan kau, Rimang, sudah lama kau jadi budak di sini?" "Belum lagi lama." "Kau akan dibawa nanti oleh pemimpinku. Bersiap-siap kau. Perjalanan akan sangat jauh." "Sahaya." Matan makin meninggi. Arok datang dalam iringan pasukan, didampingi oleh Umang dan Tanca. "Sepuluh ribu saga tersedia, Arok." Arok tak menjawab. Dengan pandang matanya ia selidiki seluruh ruangan. Hayam menceritakan segala yang telah terjadi. "Berapa bekas prajurit Tumapel dibudakkan di sini?" tanyanya pada Gusti Putra. "Empat puluh." "Perintahkan menghimpun semua mereka dan giring kemari." Hayam turun. "Laksanakan olehmu sendiri," perintah Arok. Ia menjenguk ke jendela melihat Hayam pergi bersama regunya. "Kau, perempuan, katakan padaku apa yang dipercakapkan Hayam dengan Gusti Putra."

Dan Rimang menceritakan. "Apa saja yang telah kau lihat?" Dan Rimang menceritakan. "Gusti Putra, lihat, tidak mungkin suatu perhitungan bisa menghasilkan tepat sepuluh ribu saga." "Sahaya hanya menjalankan perintah." "Perintah Hayam?" Arok menghampiri Gusti Putra dan menariknya ke jendela. "Ceritakan semua, sebelum pasukan Tumapel datang menyerang kembali." "Lindungilah sahaya." "Bukan hanya aku lindungi, seluruh pekerjaan ini teruskan pengurusannya. Hanya mereka tidak sebagai budak. Berikan upah yang menjadi hak mereka. Atau kau yang bertindak mem-beli hasil mereka. terserah padamu. Hanya sebelum pasukan Tumapel datang, semua harus ikut berkelahi." "Bagaimana sahaya harus panggil pimpinan tertinggi?" Arok tertawa. "Aku berasal dari sudra, berlaku satria, berhati brahmana Panggil sesuka hatimu." "Siapakah nama pimpinan tertinggi?" "Ceritakan semua yang perlu aku ketahui."

"Bersama Rimang telah kami sembunyikan hasil emas yang ada. Menurut perhitungan rontal tiga puluh ribu saga. Ampun, harap sahaya dilindungi dari pembalasan Hayam." "Urusanku. Katakan semua." Silpasastrawan itu melaporkan tentang pembikinan candi dalam persiapan. "Dan Lihatlah, Pimpinan Tertinggi, semua regol atas dari panggung ini adalah emas belaka, dilapis kayu." "Mengapa kau sembunyikan dari Tunggul Ametung?" "Silpasastrawan hampir semua dikorbankan pada waktu candi selesai didirikan. Raja-raja itu tak dapat menenggang bila orang lain membuat juga candi dengan tangan ahli yang sama, apalagi sama dalam segala perencanaan dan penggarapan." "Mengapa kau mau jadi silpasastrawan?" "Sejak dahulu telah diatur oleh raja-raja, maka setiap Silpasastrawan selalu berasal dari sudra." "Jadi semua silpasastrawan tak pernah ada yang jujur pada rajanya?" "Mereka berusaha lari sebelum candi selesai dibangun."

"Tunggul Ametung tak memerlukan candi," sambar Arok. "Mayatnya cukup dibakar dan disebarkan di Brantas." "Terimakasih, Pimpinan Tertinggi," jawab Gusti Putra. "Kau tidak akan dibunuh, karena aku tidak perlu dicandikan sebagai sudra. Juga Tunggul Ametung berasal dari sudra " "Terimakasih. Adapun semua emas yang Pimpinan Tertinggi telah periksa sendiri sahaya persembahkan. Setiap budak akan membenarkan sahaya. Sisanya Rimang tahu di mana kami telah menyembunyikan." "Baik. Urus semua pekerjaan dengan baik, karena kami akan segera pergi lagi." Pasukan Arok ditarik seluruhnya dari pendulangan. Para bekas budak telah dipersenjatai untuk mempertahankan daerah kerja mereka sendiri. Para bekas prajurit Tumapel yang dibudakkan telah dikurung, dan mereka yang mencoba merampas emas dari Gusti Putra ditumpas, dua orang berhasil melarikan diri. Pasukan Arok ditempatkan di selatan kota. Seorang bekas prajurit telah dihadapkan kepadanya, mendapat perintah untuk menghadap Tunggul Ametung tentang penyerangan dan perampasan daerah pendulangan. Tetapi orang itu tidak menghadap, melarikan diri meninggalkan Tumapel, pergi ke Kediri. Dari mata-matanya di Kediri Tunggul Ametung mendengar, bahwa sumber emasnya telah dirampas oleh pasukan pemberontak. Dengan serta merta ia perintahkan menjemput Dang Hyang Lohgawe dengan kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda. Tetapi Lohgawe menyatakan belum lagi berhasil menemukan orang yang diharapkannya.

Pasukan Arok telah memutuskan jalan raya dan jalan air yang menghubungkan Kediri dengan Tumapel dari sebelah selatan. Kekurangan garam dan hasil laut lain membikin penduduk Kutaraja menjadi gelisah. Dan Tunggul Ametung jarang keluar dari pekuwuan. Kepercayaan pada prajuritnya sendiri mulai goyah; pada pasukan pengawalnya ia menjadi curiga. Pada Belakangka ia hanya menunggu kesempatan untuk membalaskan dendamnya. Jalan satu-satunya yang terbuka baginya hanya berbaikan dengan kaum brahmana. meminta bantuan mereka, berdamai dengan seluruh ummat Syiwa. Dan apakah itu mungkin setelah perbuatannya terhadap mereka selama ini? Ia sendiri ragu. Berdamai dengan mereka tak lain artinya dari memanggil balatentara Kediri, Sekali ia mencoba mengambil hati Ken Dedes, mulai menceritakan padanya tentang keadaan negeri. Setelah selesai mencurahkan semua kesulitan ia hanya mendapat kata penutup dari bibir wanita harapan kebesarannya itu: "Barangsiapa menyebar angin, dia akan berpanen badai." Lama ia merenungkan ucapan itu, dan ia mulai mengerti Kemudian ia menawarkan pada Paramesywari untuk ikut bersama-sama memerintah negeri. Hanya Yang Suci Dang Hyang Lohgawe yang bisa menolong. Ia perintahkan sekali lagi untuk menjemput brahmana itu. Dengan Tanca Arok berkunjung ke pabrik senjata Tumapel di luar Kutaraja. Pabrik itu tak terdengar ramai seperti biasanya.

Mereka berdiri di depan gambar bintang besar bersudut lima, lambang dewa kaum sudra, Hyang Pancagina, pelindung pandai besi, pandai tembaga, tukang kayu, pelukis, dan pandai emas Mereka mengangkat sembah dengan satu tangan, kemudian masuk ke dalam pabrik. Empu Gandring sedang berdiri sunyi bersedekap tangan dalam kelilingan para pekerjanya. Mendengar seruan dirgahayu ia tinggalkan mereka dan menemui tamunya. "Tidak bekerja hari ini. Bapak Empu?" tanya Arok. "Tidak. Tidak ada besi." "Biasanya datang dari mana besi itu?" "Jauh, jauh sekali, dari Sofala, Wulungga." "Kami ada besi." Empu Gandring memandangi Arok dan Tanca berganti-ganti. Ia tertawa dan menggeleng. Jenggot hitamnya yang panjang melambai-lambai dan matanya yang agak sipit mengejek. "Kami perlukan seribu pedang dan tiga ribu tombak lempar."

"Tidak mungkin. Siapa kau?" "Perintah itu telah kau terima di malam hari di rumahmu sendiri, dan kau sudah menyanggupi." Empu Gandring menjadi bersungguh-sungguh, meneliti dua orang tamu itu berganti-ganti. Kemudian: "Hanya Sang Akuwu bisa memesan sebanyak itu." "Kau sudah berjanji," Arok menetak. "Besi akan datang ke tempat ini. Berapa kau perlukan biaya?" "Banyak kerusuhan sekarang ini." Tanca menarik Empu Gandring dan dibawanya keluar pabrik. Arok mengiringkan dari belakang. Di bawah lambang Hyang Pancagina, Tanca mendesak: "Kau terlalu pongah. Empu Gandring. Apakah kau kira kami rak bisa beli kepalamu? Kau telah berjanji." Memang aku telah berjanji, tapi sebanyak itu? Di bawah lindungan siapa aku? Hanya Sang Akuwu." Arok memperlihatkan padanya potongan-potongan emas dari sepuluh saga:

"Dua ratus saga untuk panjar." Empu Gandring menggeleng. "Tiga ratus saga." Empu Gandring tertawa. "Bicara kau, orang pongah!" "Jiwaku lebih mahal daripada panjar tiga ratus." "Kau bisa katakan berapa perlumu." "Tak ada besi" "Apakah perlu aku pekikkan pada telingamu?" desak Arok, "Besi itu akan kami antarkan?" "Aku pikirkan dulu." "Di sini dan sekarang juga kau harus menjawab. Kami sudra, dan kau pun hanya sudra." "Balatentara Kediri," bisik Empu Gandring. "Tak ada urusanmu." "Mereka akan tumpas anak-istriku." "Kami pun bisa lakukan itu pada malam dulu itu" Empu Gandring pucat, Sinar matanya padam. Kepongahan-nya sebagai ahli yang dibutuhkan oleh semua orang, padam saat itu juga. "Seribu pedang dan tiga ribu tombak lempar bukan sedikit," keluhnya.

"Apa perlu aku carikan tambahan tenaga?" desak Arok. "Tidak. Aku bisa cari sendiri." "Jadi kau sanggup." Kepala pabrik senjata itu mengangguk "Berapa lama semua selesai?" Gandring menghitung-hitung dengan jari kakinya pada pasir tanah. Kemudian: "Setahun." "Kau gila!" "Sang Akuwu bisa kasih perintah mendadak." "Itu urusanmu. Setahun terlalu lama. Dengar," desak Arok, "Pada tanggal yang sama enam bulan yang akan datang aku akan ambil semua pesananku. Berapa biaya semua?" "Dengan besi yang mencukupi dari kau," Gandring menjawab, "Seribu saga emas." "Baik, seribu saga. Kalau kau menetapi janji akan kuberi kau hadiah. Ini, terima yang seribu saga, dan bersenang-senang kau dengan orang-orangmu."

Empu Gandring mengernyitkan dahi dan berkedip-kedip menerima upah dari Arok, kemudian berbalik hendak masuk ke dalam pabriknya. Arok menangkap bahunya, dan: "Penipu! Kau belum lagi mengangkat janji pada Hyang Pancagina." "Kau memang terlalu. Gandring," tegur Tanca. "Pantas semua orang tidak suka padamu. Boleh jadi terlalu banyak kau tipu mereka." "Dia boleh coba menipu kita. tapi pada 1 Hyang Pancagina dia tidak akan berani. Ayoh. ucapkan janjimu: seribu pedang, tiga ribu tombak lempar akan kau selesaikan dalam enam bulan mulai dengan hari ini, dan untuk itu kau telah menerima seribu saga." Empu Gandring berlutut, mengangkat hormat dengan satu tangan - hormat seorang sudra pada sesamanya dan pada dewa sudra, - dan mengucapkan janji. Begitu ia berdiri lagi Arok membisikkan pada telinganya: "Akan ada orangku yang mengawasi jalannya pekerjaan. Jangan main-main dengan kami. Dirgahayu." Dalam perjalanan kembali ke selatan seorang gadis bercawat, membawa busur pada bahu dan tempat anak panah pada pinggang menghentikan mereka. "Arok," katanya, "Yang Suci Dang Hyang Lohgawe mencarimu Seorang pesuruh telah datang membawa sepucuk surat untukmu. Ini," katanya lagi sambil menggapai tempat anak panah.

Arok membacanya, kemudian berbisik pada Tanca: "Pimpin semua pasukan olehmu, Tanca. Aku harus pergi. Kalau kekuatan mampu, putuskan sama sekali jalan darat dan air ke Kediri. Jangan memaksa. Kalau tidak mampu, bikin jadi sambilan." ia berikan semua senjatanya pada Tanca. "Kembali kau bersama Tanca gadis." Mereka berpisahan. Arok berjalan seorang diri memasuki Kutaraja, terus menuju ke utara, kemudian membelok ke barat, ke kaki Gunung Arjuna. Pagi hari ia sampai di Pangkur, langsung masuk ke asrama. Para siswa sudah berangkat ke sawah. Dan tidurlah ia di tempatnya yang lama. Dang Hyang Lohgawe yang melihat kedatangannya membiarkan ia berisnrahat. Dan waktu kereta dari Kutaraja datang, ia masuki asrama dan membangunkannya, menyuruhnya mandi. Dalam kereta Arok baru mendengar maksud gurunya: ia hendak dibawa menghadap Tunggul Ametung untuk meredakan kerusuhan di bagian selatan negeri. "Garudaku!" bisik Lohgawe, "hanya kau yang dapat tumbangkan Akuwu Tumapel. Hanya cara ini yang bisa ditempuh. Kau harus mendapatkan kepercayaan dari Tunggul Ametung. Dengan kepercayaan itu kau harus bisa menggulingkannya. Semua brahmana di Tumapel, Kediri, di seluruh pulau Jawa, akan menyokongmu. Dengan Tumapel di tanganmu kau akan bisa hadapi Kediri. Demi Hyang Mahadewa, kau pasti bisa."

Arok terpesona oleh tugas yang datang secara mendadak itu Dari medan pertempuran ia harus pindah ke medan siasat. "Kau pasti bisa," ulang Lohgawe mempengaruhi. "Sahaya pasti bisa." "Pegang Tumapel dan hadapi Kediri." "Pegang Tumapel dan hadapi Kediri, ya. Bapa Mahaguru." "Demi Hyang Mahadewa." "Demi Hyang Mahadewa." "Heningkan cipta dan dengarkan suara para dewa ..." Arok mengheningkan cipta. Dan kereta itu lari laju kembali ke Kutaraja. Arok tak mendengar suara para dewa. Yang datang padanya adalah seorang gadis bercawat kumal bernama Umang. Suaranya yang terdengar olehnya: Umang akan bersetia padamu sampai akhir hidup. Di sampingnya adalah Ki Bango Samparan. Dan pesta perkawinan di padang budak itu berakhir dalam segala kesederhanaannya. Ia raba cawatnya sendiri. Dengan selembar kain itu ia nikahi Umang. Dengan itu pula ia akan hadapi Tunggul Ametung hari ini, dan ia akan hadapi dia sebagai musuh semua orang. Pada tangannya tergenggam tugas kaum brahmana untuk

menyingkirkannya. Dan ia harus menghamba padanya sebagai budaknya yang paling rendah. Ia tersenyum. "Aku tahu, kau sudah mengerti seluruh sangkut-paut dari tugasmu. Kau tidak akan mengecewakan." "Sahaya tidak akan mengecewakan, ya Bapa Mahaguru. Arok memejamkan mata. Dalam hati ia menempa rencana dalam hubungan dengan semua orang yang mencintainya... Kereta itu berhenti di depan rumah tungguk-kemit. Pangalasan, kepala kemit. ikut naik ke atas kereta dan memimpin kusir melalui samping kanan pekuwuan, membelok di belakangnya. Mata Arok tajam menghafal semua keadaan, dan sekilas ia lihat pura-dalam di sebelah kirinya, terkurung pagar tanah liat. Kereta berhenti tepat di tentang pintu gerbang pertama pura. Semua turun. Pangalasan mengetuk pintu gerbang belakang pekuwuan. Waktu pintu itu terbuka Pangalasan menjatuhkan diri dan mengangkat sembah. Lohgawe mengangkat tangan. "Dirgahayu, Yang Terhormat," sapa Tunggul Ametung. "Dirgahayu!"

Tunggul Ametung memimpin dua orang tamunya duduk di bangku. Pangalasan menutup pintu dan pergi. Arok berdiri di belakang Lohgawe. "Siapakah yang Bapa bawa, maka tidak mengindahkan kesopanan pekuwuan?" "Dia-lah Arok, orang yang aku janjikan." Tunggul Ametung berdiri, menghampiri Arok dan menyelidik dengan matanya. Tiba-tiba ia membuang muka beberapa bentar kemudian menyelidik lagi dengan matanya. "Aku pernah lihat mau ini," katanya. "Arok namamu. Di mana sekarang kumismu?" "Hormati Sang Akuwu, Arok!" perintah Dang Hyang Loh-gawe, Arok menjatuhkan diri dan mengangkat sembah. "Yang Terhormat Bapa Dang Hyang, aku mengenal mata itu. Suruhlah dia mengaku asalnya, perbuatannya selama ini." "Yang Mulia membutuhkan bantuannya untuk memadamkan kerusuhan. Kalau perjanjian yang didasarkan permintaan dari Yang Mulia tidak berlaku, sebaiknya kami tinggalkan tempat ini" Tunggu! Ametung berbalik. kemudian berjalan mondar-mandir dari tempat itu ke pintu Bilik Agung Tiga kali ber-jalan mondarmandir kemudian ia masuk ke dalam bilik. "Begitulah tingkah seorang sudra yang tak tahu diuntung, kata Lohgawe, "tidak pernah bisa menghormati orang. Juga tidak bisa menghormati dirinya sendiri.Tak ada sesuatu pun yang perlu dihormatinya."

Arok menunduk mempersiapkan pikiran untuk dapat menundukkan penguasa liar ini. Pada waktu itu Tunggul Ametung keluar dari Bilik Agung. Di belakangnya muncul Ken Dedes yang mengangkat sembah pada Dang Hyang Lohgawe. Orang tua itu mengangguk membalas. Dan Dedes hilang lagi dari lubang pintu. Tunggul Ametung langsung duduk di hadapan Lohgawe: "YangTerhormat," katanya dengan nada hormat, "Yang Mulia Paramesywari Tumapel menghendaki agar Tumapel mempercayai Yang Terhormat." "Setiap persetujuan menuntut bea, Yang Mulia." "Boleh jadi." "Arok datang karena persetujuan denganku, bukan atas perintah Yang Mulia. Dia tidak akan menerima perintah Yang Mulia sebelum Bapa ini meminta padanya untuk menjalankannya." "Baik. Seperti kita perbincangkan sebelumnya, Bapa menjanjikan seorang yang akan dapat meredakan dan menindas kerusuhan di Tumapel." "jadi Yang Mulia terima anak ini?" "Dia sendiri belum menjanjikan sesuatu."

"Katakan, Arok." "Ya, Bapa Mahaguru, sesuai dengan perintahmu, sahaya akan redakan dan tindas kerusuhan di seluruh Tumapel. Hanya perkenankan sahaya membawa lima puluh orang anak buah sahaya." "Yang Mulia dengar sendiri permohonannya" "Kau boleh datangkan anak buahmu, hanya ucapkan sebelumnya kesetianmu pada Sang Akuwu Tunggul Ametung dan Paramesywari. bahwa kau akan menjaga keselamatannya, dan keselamatan Tumapel." "Ucapkan janjimu, Arok." "Sahaya berjanji akan bersetia dan menjaga keselamatan Sang Akuwu dan Paramesywari dan Tumapel." "Kau, Syiwa, Wisynu ataukah Buddha?" "Dia datang tidak untuk diperiksa, Yang Mulia," tegur Lohgawe. "Dia telah bersedia untuk meredakan dan memadamkan kerusuhan, dan itu sudah segala-gala yang Yang Mulia kehendaki. Persetujuan telah kita terima, sisanya hanya pelaksanaan." "Apa katamu, Arok?" "Sahaya akan datang membawa anak buah sahaya." "Baik Panggil anak buahmu, memperkuat pasukan pengawal pekuwuan sebelum kau siap meredakan dan memadamkan kerusuhan."

Pasukan Umang telah menahan perahu-perahu yang ditarik mudik oleh lima puluh orang dharmana,[Di sini berarti sebutan ironi untuk orang-orang sudra yang dikenakan kerjapaksa dalam masa tertentu untuk menarik perahu dari tepi Brantas untuk bra memudik ke Tumapel.] membawa perbekalan untuk Tumapel dari Hujung Galuh melalui Kediri. Semua awak kapal ia tahan dan semua dharmana ia lepaskan. Muatan itu terdiri dari besi dari Sofala dan hasil laut dari Gresik. Pesangon yang diberikannya pada para dharmana itu menyebabkan mereka pulang dengan girang, membawa oleh-oleh untuk keluarga, juga ketakutan mendapat hukuman dan Kediri... Tahun Saka 1142 (1220 Masehi). AROK DAN DEDES Ia menyedari dalam suasana hati yang aneh. Kadang merasa takut, kadang kuatir, kadang mengalami kegembiraan batin, kadang sendu. Suasana hati tidak tetap, turun-naik biar pun tanpa sebab yang nyata. Kadang kebenciannya pada Tunggul

Ametung tiba-tiba hilang. Dengan diam-diam ia amati wajah suaminya, yang jelas tak mengandung seujung jarum pun darah Hindu, hidungnya yang lengkung ke dalam, tulang pipinya yang terlalu tinggi sehingga membikin rongga mata itu nampak dalam, gelap secara tidak wajar. Dua kali ia tidak datang bulan. Ia tahu: ia mulai mengandung. Rimang telah menanamkan untuknya sebatang pohon srigading di Taman Larangan. Ia takkan lupa pada bisikannya: Beginilah batangnya, dan beginilah daunnya; bunganya putih berkembang datar seperti payung, batang bunganya sama besar dengan pangkal lidi enau berwarna kuning; terserah pada Yang Mulia Paramesywari hendak gugurkan anak Sang Akuwu atau tidak, Yang Mulia cukup minum air seduan bunganya, dan anak itu akan larut meninggalkan kandungan. Rimang sudah tiada dan kandungan itu nampaknya memang hendak menjadi. Haruskah anak ini anak yang makin sedikit darah Hindu dalam dirinya dibiarkan hidup dan dengan demikian memberikan pada Tunggul Ametung seorang pewaris Tumapel? Minumlah seduan bunga srigading pada waktu kandungan masih sangat muda, kata Rimang; makin tua akan makin berbahaya bagi Yang Mulia; dan bila terlalu tua ada kemungkinan Yang Mulia mengalami pengguguran berat dan tak dapat mengandung lagi. Tapi anak itu bukan hanya anak Tunggul Ametung, juga anaknya sendiri. Ia raguragu untak mengambil keputusan. Kemudian terjadi peristiwa itu: Tunggul Ametung untuk pertama kali minta nasihat apakah Arok yang dibawa oleh Dang Hyang Lohgawe ia terima atau tidak. Ia tindas kegembiraan hadnya dan menjawab dingin:

"Yang Suci Dang Hyang Lohgawe berlidah dan bermata dewa, ia tidak mungkin keliru." Untuk pertama kali ia lihat suaminya memejamkan tapuk matanya yang mulai menggelambir karena usia, memejamkan-nya keras-keras sehingga cakar ayam pada sudut-sudut luar matanya menjadi semakin nyata, mengangguk, kemudian meninggalkan Bilik Agung. Ia memerlukan menjenguk ke Taman Larangan, mengangkat sembah pada Dang Hyang Lohgawe dan menyapukan pandang pada Arok yang duduk di tanah. Sekaligus ia melihat jago Lohgawe mentah-mentah berdarah sudra. Tak ada sedikit pun darah Hindu dalam dirinya, nampak pada tingginya tulang pipi dan lengkung hidung ke dalam, mulut yang agak lebar dan mukanya yang lebar pula, tak jauh berbeda dari Tunggul Ametung sewaktu mudanya barangkali. Agar suaminya tidak mengetahui kecucukannya ia sengaja menindas keinginan untuk bertemu dengan brahmana itu dan jagonya. Dan justru karena itu ia sibuk menimbang-nimbang seorang diri: adakah seorang sudra tanpa sedikit pun darah Hindu bisa melakukan hal-hal besar? Ia pandangi wajahnya sendiri pada cermin perunggu, membelai batang hidungnya yang tinggi dan lurus, pada tulang pipinya yang tidak begitu tinggi, dan meyakinkan diri: darah Hindu ini semestinya menjamin diriku untuk juga bisa lakukan hal-hal besar. Kalau Arok bisa ditunjuk oleh Yang Suci, semestinya aku bisa juga menunjuk diriku sendiri. Belum pernah seorang tanpa darah Hindu, sudra itu, membuktikan diri bisa lakukan hal-hal besar sepanjang sejarah Ia takkan lupakan kata-kata ayahnya: Terlalu sedikit darah Hindu mengalir dalam tubuh Sri Erlangga Dharma Dayana; itu sebabnya tindakan-tindakannya menyimpang dari kemestian, ia bisa lakukan itu hanya karena menguasai balatentara sepenuhnya. Dan penguasaan mutlak atas balatentara kemudian menjadi tradisi wangsa Isana. Sampai Sri Kretajaya sekarang.

Tunggul Ametung menyampaikan padanya setelah pertemuan: "Arok akan datang beberapa hari lagi, membawa pasukannya sebanyak barang lima puluh orang." "Hanya lima puluh?" "Tiada lagikah kepercayaanmu pada Lohgawe?" "Kakanda harus tambah kekuatannya." "Akan kulihat dulu. Dia akan kutempatkan di pekuwuan,"ia mendengus. "Anak tani biasa. Aku agak ragu. Hanya matanya, matanya, Dedes, entah mata hantu ataukah drubiksa, apakah gandarwa." "Suatu kali akan kunilai sendiri kemampuannya." "Tentu," jawabnya lunak. "Dan setelah jelas kau mulai mengandung begini, sebaiknya kau mendapatkan pengasuh barang tujuh orang. Kau boleh pilih gadisgadis putri para bangsawan Kediri mana saja, Dedes." "Tidak perlu,"jawabnya. Ia tahu putri-putri bangsawan akan lebih cepat bersekutu untuk meracunnya. Ia tak hendak menjadi Amisani anak Resi Brahmaraja. "Atau gadis-gadis sudra?"

"Berikan kembali padaku Rimang, atau tidak sama sekali Aku masih mampu mengurus diriku sendiri." "Kandunganmu, Dedes. Atau perlukah kiranya tenaga para putri anak selir?" "Terimakasih, Kakanda, tidak perlu," Dedes bermanis-manis, "hanya bila berkenan di hati Kakanda, perbolehkan aku membacai rontal-rontal yang ada." Dalam beberapa hari menunggu kedatangan jago Lohgawe dengan pasukannya ia membacai rontal. Sebagian terbesar adalah agama sejak Erlangga sampai pada seluruh wangsa Isana yang berkuasa. Semua itu tidak pernah ditemuinya, hanya diperkenalkan padanya oleh Mpu Parwa secara lisan. Apapun kekurangan wangsa ini ia mulai mengagumi dharma mereka pada kehidupan, penghapusan kasta waisyia, karena memang tak ada kaum waisyia berdarah Hindu. Ia mulai melihat adanya pembagian triwangsa Erlangga itu secara lebih jelas: kasta brahmana dan satria yang berdarah Hindu dan kasta sudra yang tidak mengandungnya dalam dirinya. Kasta itu ternyata ditentukan oleh darah. Dan ia merasa senang karena tidak termasuk sudra, berdarah Hindu, dan juga tidak senang karena akan melahirkan seorang bayi dengan semakin kurang darah mulia itu dalam tubuhnya. Terpaksa ia hibur dirinya; setidak-tidaknya masih ada dalam dirinya dia bukan sudra sebagai bapaknya. Sebuah rontal yang sangat tua terpaksa ia cuci dengan minyak kelapa, tetapi tulisannya sudah terlalu kabur. Waktu ia gosok kembali dengan jelaga, yang bisa terbaca pun sangat sedikit. Dua nama yang terbaca olehnya adalah Wasista, putra Brahma. Kemudian: Cinadara. Selanjutnya tidak terbaca lagi. Kemudian potonganpotongan kalimat tentang Mahacina Kramasara yang tidak jelas duduk-perkaranya. Kemudian lagi kalimat yang agak lengkap, diucapkan oleh Kramasara:

"Wanita itu Dewa; Wanita itu Kehidupan; Wanita itu Perhiasan..." ia mengerti sepenuhnya kalimat tidak selesai itu, tetapi tak tahu sangkut-pautnya. Pada waktu itulah Tunggul Ametung memberitahukan padanya, Arok telah datang dengan pasukannya. Semua hanya berca-wat, dan ia telah memerintahkan untak membagikan celana dan kain penutup, destar dan senjata. Juga telah diperintahkannya membangunkan asrama baru di samping asrama pasukan pengawal yang telah ada. "Pada waktunya," sambut Dedes, "berilah aku perkenan untuk melihat dan bicara dengannya. Aku ingin tahu bagaimana macam dan kemampuan jago Yang Suci Dang Hyang." "Sama dengan semua anak buahnya: gesit, kurus dengan mata menyala-nyala seperu si kelaparan melihat makanan." "Salah kesan bisa berbahaya, Kakanda," tegur Dedes. Dan Tunggul Ametung yang mulai belajar bermanis pada istrinya pada hari-hari sesak ini bertanya: "Apa salah kesan itu, Dedes?" "Ada diajarkan oleh kaum Brahmana: orang kaya terkesan pongah di mata si miskin; orang bijaksana terkesan angkuh di mata si dungu; orang gagah-berani terkesan dewa di mata si pengecut; juga sebaliknya, Kakanda: orang miskin tak berkesan apa-apa pada si kaya; orang dungu terkesan mengibakan pada si bijaksana; orang pengecut terkesan hina pada si gagah-berani. Tetapi semua kesan itu salah. Orang harus mengenal mereka lebih dahulu."

Akuwu itu meninggalkan Taman Larangan untuk menemui Arok dan anak buahnya sekali lagi. Ia menunduk pada perutnya, membelainya dan berbisik: "Kau tidak akan sedungu ayahmu. Kau takkan bikin malu ibumu. Kalau kau wanita, kau adalah dewi, kalau kau pria kau adalah dewa. Ayahmu tak punya persangkutan dengan kau. Dengar, kau, jabang bayi? Kau berdarah Hindu, ayahmu sudra hina." Pasukan Arok melakukan latihan di bawah Kebo Ijo dan dibantu oleh Dadung Sungging. Waktu Arok dikenalkan pada nama mereka sekaligus ia tahu Kebo Ijo adalah seorang Wisynu, nampak jelas dari nama binatang[Terutama nama binatang ternak yang membantu pertanian.] yang dipergunakannya. Dadung Sungging ia belum tahu, boleh jadi Buddha atau Syiwa. Seminggu lamanya dengan pasukan ia berlatih mempertahankan pekuwuan, mengenal tempat-tempat, pojokan dan pedalaman pekuwuan melalui gambar. Ia tahu tepat di mana para selir tinggal di bagian keputrian. Bilik Paramesywari dan Bilik Agung, Taman Larangan dan Taman Sari. Matanya yang tajam tidak melewatkan sesuatu pun tanpa tertanam kuat dalam ingatannya. Ia dapat mengingat dengan pasti goresan-goresan, macam dan jumlahnya pada paduraksa, benda apa saja yang ada dalam Balai Agung di halaman dua pura-dalam, dan gambar apa saja yang menghiasi pagar tanah liat pura itu.

Waktu pasukannya mulai mendapat giliran kemit, semua perhatiannya tertuju bukan saja pada bentuk, juga suara-suara yang keluar dari pedalaman pekuwuan. Pada umumnya suara wanita, tertawa dan bicara. Ketiga kali ia melakukan kemit terjadilah peristiwa bersejarah itu. Ia hanya bertiga waktu berkemit itu. Waktu membelok di jalanan antara belakang gedung pekuwuan dan kebun buah yang melingkari pura-dalam, dari ujung jalan yang lain ia melihat sebuah tandu dipikul oleh empat orang budak dengan tapas penutup kepala. Dalam iringan dua orang ia memelankan jalan. Tandu itu berhenti di depan pintu gerbang belakang pekuwuan. Ia berhenti memberi hormat dan menggedikkan pangkal tombak pada bumi. Paramesywari turun dari tandu. Ia terpesona oleh kecantikannya. Kulitnya gading. Angin meniup dan kainnya tersingkap memperlihatkan pahanya yang seperti pualam. Arok mengangkat muka dan menatap Dedes. Dengan sendirinya ekagrata ajaran Tantripala bekerja. Cahaya matanya memancarkan gelombang menaklukkan wanita yang di hadapannya itu. Dedes terpakukan pada bumi. Ia menundukkan kepala, merasa mata seorang dewa sedang menumpahkan pengaruh atas dirinya. Ia gemetar. Dengan tangan menggigil ia buka pintu Taman Larangan itu, tapi tak mampu. Arok datang membantunya, dan ia dengar suara dewa itu: "Sahayalah orang Yang Suci Dang Hyang Lohgawe." "Dirgahayu untukmu, Arok."

"Beribu terimakasih. Yang Mulia." Pintu itu terbuka. Arok dapat melihat Taman Larangan itu. Dedes masuk ke dalam dan pintu ditutup kembali. "Makhluk kahyangan, Arok," bisik prajuritnya. Arok tak menanggapi dan berjalan terus berkemit di belakang pekuwuan, di belakang pura-dalam, di dalam kebun buah, memutari gedung pekuwuan itu barang lima kali kemudian kembali ke tungguk kemit. Ia diterima oleh Pangalasan dengan perintah baru: "Demi perintah Yang Mulia Akuwu, kau, Arok, diharapkan menghadap sekarang juga di Taman Larangan." Dan Arok berangkat lagi ke belakang gedung pekuwuan. Pintu gerbang itu tidak terkunci dari dalam. Ia sorong dan terbuka. Dua orang pengawal gerbang itu mengangguk mengia-kan. Setelah menutup pintu di belakangnya ia mengangkat sembah pada Sang Akuwu yang duduk bersanding di bangku kayu taman, di bawah rindangan pepohonan. Ia duduk bersila di hadapan Akuwu dan mengangkat sembah.

"Inilah Arok, jago pilihan Yang Terhormat Dang Hyang." ia dengar Tunggul Ametung memulai. Arok mengangkat sembah pada Paramesywari. "Jadi kaulah yang bernama Arok," kata Dedes. Suaranya agak gemetar. "Inilah sahaya, Yang Mulia." "Berapa umurmu?" "Dua puluh, Yang Mulia Paramesywari." "Pernah kau belajar pada Yang Suci Dang Hyang?" "Sampai tamat, Yang Mulia Paramesywari." "Semuda itu sudah tamat? Ampuni aku, berapa banyak syair dalam karya Mpu Panuluh Hariwangsa?" "Enam belas ribu bait, Yang Mulia." "Bisakah kau mengucapkan barang sepuluh bait?" Arok membacakan bagian awal dalam Sansakerta.

"Sansakerta!" Paramesywari mendesis, "Jagad Dewa." Matanya membeliak dan ditebarkan membikin lingkaran berdiri pada alam semesta. Berbisik pada Tunggul Ametung: "Dalam Sansakerta seindah itu. Bukan manusia, dewa itu sendiri." Ia berdiri, tak tahu apa harus diperbuatnya, matanya sebak. Berbisik lagi pada suaminya. "Tidak patut dia duduk di tanah begitu rupa." "Arok,"Akuwu memulai, "ketahuilah, Yang Mulia Paramesywari Tumapel telah berkenan untuk mengenal dirimu." Arok mengangkat sembah terimakasih. "Tunjukkan pada kemurahan Yang Mulia Paramesywari, bahwa kau akan segera dapat memadamkan kerusuhan di selatan Tumapel." "Bila Yang Mulia Paramesywari menjatuhkan titah melaksanakan sekarang juga, akan sahaya laksanakan." "Balatentara Tumapel tidak mampu, banyak binasa, bagaimana caranya kau berani menyanggupi?" "Yang Mulia Akuwu dan Yang Mulia Paramesywari tinggallah berbahagia di pekuwuan. Sahaya akan padamkan dalam waktu cepat" "Kau harus tahu, lima ratus jajaro pengawal telah dihancurkan. Sisanya melarikan diri dan bakal binasa di hutan-hutan. Engkau dengan gampang mempersembahkan janji kemenangan gampang." "Inilah Arok, Prajurit Yang Mulia sendiri." "Kau percaya, Permata?" "Yang Mulia Akuwu sebaiknya belajar percaya padanya."

"Baik, padamkan kerusuhan di selatan. Kau akan mendapat tambahan lima ratus prajurit lama yang berpengalaman. Dengan kepala pasukannya kau akan pelajari medan." "Sedia, Yang Mulia." "Kalau berhasil, kau akan lanjutkan pekerjaan ke barat daya, Kawi dan Kelud." "Sedia, Yang Mulia." Sementara itu Ken Dedes tetap mengawasi dan memperhatikan Arok. "Bicaralah, Permata. Sekarang giliranmu." "Arok, katakan padaku siapa sesungguhnya Kramasara?" "Seorang mahayogin. Yang Mulia Paramesywari, dari negeri Cina. Setengah orang memanggilnya Mahacina." Kembali Ken Dedes berdiri, membeliak, dan Tunggul Ametung memperhatikan tingkah istrinya yang aneh itu. "Apa mahayogin itu?" "Seorang mahaguru, Yang Mulia Paramesywari, yang menguasai ilmu tantri dan yoga." "Jagad Dewa!"

"Ada apa, Permata?" bisik Tunggul Ametung. "Tak pernah diajarkan padaku tentang tantri dan yoga." "Apa guna semua itu untuk Paramesywari?" "Coba katakan padaku yang masih bodoh ini," Dedes me-neruskan,"apa saja yang kau ketahui dari ucapan Kramasara tentang wanita?" Arok mengangkat muka dan pandang, memancarkan sinar ekagrata, berkilauan menelan semua yang dilihatnya. Tunggul Ametung merasa seperti lumpuh di tempat duduknya. "Dengarkan sahaya ulangi kata-katanya Wanita adalah Dewa; Wanita adalah Kehidupan; Wanita adalah Perhiasan untuk pria ...Yang Mulia. Sahaya membenarkan, hanya alasannya tidak. Yang Mulia, menyesatkan ..." Dengan susah payah Ken Dedes berbalik, melangkah cepat-cepat meninggalkan Taman Larangan, masuk ke Bilik Agung. Sepanjang perjalanan ia menyebut-nyebut: "Jagad Dewa, Jagad Pramudita!" Tunggul Ametung meninggalkan tempat duduk, berjalan cepat memburu istrinya. Arok menutup mata memusatkan ekagrata pada pendengarannya, dan ia dengar:

Tunggul Ametung : Mengapa, Permata? Mengapa? Ken Dedes : Jagad Dewa! Jagad Pramudita! Tunggul Ametung :Ya-ya, mengapa? Ken Dedes : Bukan semestinya dia duduk di tanah begitu di hadapan Dedes. Tunggul Ametung : Mengapa? Ken Dedes: Akulah yang semestinya menyeka kakinya. Tunggul Ametung dengan nada sengit : Mengapa? Ken Dedes : Dari Sansakertanya jelas dia telah kuasa semua ilmu. Dia tahu yang aku tidak tahu .... seorang sudra yang mendaki naik ke tempat brahmana. Tunggul Ametung : Jangan risau, dia takkan kembali dari medan pertempuran. Dari pintu Tunggul Ametung menjenguk keluar dan melambaikan tangan mengusir Arok. Arok mengangkat sembah, berdiri, melalui pintu gerbang belakang pekuwuan, meninggalkan Taman Larangan. Sebelum berangkat ke medan pertempuran Arok telah memerintahkan anak buahnya untuk menghubungi Tanca dan Umang, membawa penntah untuk menjebak pasukan Tumapel dari angkatan lama yang akan dipimpinnya. Perjalanan akan menempuh jalan negeri, maka penjebakan itu akan terlalu mudah dilakukan.

Anak buah itu datang membawa rencana Tanca di samping surat khusus yang melaporkan tugas pengawasannya terhadap Hayam. Surat itu pendek, menceritakan bahwa Hayam merasa tidak senang tidak diperbolehkan ke pendulangan dan padang batu. ia telah menuduh, ada sesuatu yang disembunyikan dari-padanya, dan ia menyatakan kehilangan kepercayaan pada Arok dan Tanca. Kemudian ia menarik pasukannya dan katanya dibawa ke kaki Gunung Kawi. Tentara Tumapel berangkat dengan kekuatan tujuh ratus orang. Pasukan Arok sendiri berangkat paling dahulu. Sampai di jebakan pertama tak terjadi sesuatu. Di jebakan ke tiga terjadi perang semu dan sorak-sorai riuh. Pasukan Arok berbalik membantu teman-temannya sendiri. Pasukan Tumapel yang kedua dan ketiga segera masuk dalam jebakan yang tidak pernah diduga-duganya, menderitakan penumpasan darah. Panah cepat para biarawan dan biarawati, tombak, pedang dan pasangan-pasangan bambu hampir-hampir membinasakan seluruh tentara Tumapel. Mayat bergelimpangan sepenuh jalanan. Perkelahian hampir-hampir tidak terjadi. Sorak riuh-rendah menandakan kemenangan pada tentara Arok. Prajurit-prajurit Tumapel yang dapat meloloskan diri dari maut dibiarkannya lari. Mereka takkan berani kembali ke asramanya, dan akan tetap menghilang dari Tumapel. Bagi Arok semua itu hanya sebuah latihan untak menghadapi pertempuran yang jauh lebih berarti di kemudian hari. Padanya telah ada tempat resmi sebagai prajurit Tumapel. Ia dapat bergerak bebas di antara mereka, dan lebih bebas di tengah-tengah pasukannya sendiri. Memasuki padang batu ia disambut oleh Gusti Putra, Mundra dan Umang. Dari Umang ia menerima laporan, bahwa jalan air dan darat ke Kediri telah jatuh seluruhnya ke tangannya. Berpuluh-puluh perahu telah dirampas, dan beratus

dharmana telah diperintahkannya kembali pada keluarganya. Tetapi sebagian terbesar tak berani pulang dan menggabungkan diri. "Berikan padaku lima ratus orang dharmana." "Kau akan mendapatkannya pada hari ini juga. Suami." "Dan persiapkan mereka untuk berangkat bersama denganku ke Tumapel." "Mereka akan berangkat mengiringkan kau." Gusti Putra melaporkan, bahwa seluruh pertahanan di pendulangan dan perbatuan dipegang oleh Mundra. Untuk itu ia mendapatkan kehormatan nama Mundrayana. "Berapa jumlah pasukanmu, Mundrayana?" "Semua orang dewasa. Pimpinan Tertinggi, laki dan perempuan, kecuali kanak-kanak." "Baik. Berangkat kau dengan dua ratus orang pada malam ini juga. Hindari jalanan negeri, dan berkampung kalian di desa Randu alas. Muliakan ibuku, Nyi Lembung. Binasakan semua prajurit Tumapel yang tidak takluk padamu. Isilah namamu, Mundrayana, dengan kemenangan gilang-gemilang." Malam itu ia beristirahat dengan Umang di gubuk Ki Bango Samparan. Dan pada keesokannya ia berangkat pulang ke Kutaraja dengan membawa lima ratus prajurit tambahan bekas dharmana Kediri dan sebagian dari anak buah Tanca. Mereka semua berpakaian prajurit Tumapel, juga persenjataannya. Memasuki Kutaraja mereka berbaris dan bersorak-sorai memberitakan kemenangannya. Penduduk kota pada keluar dari rumah masing-masing,

menyambut balatentara pulang itu tanpa sorak, hanya diam-diam menonton. Mereka berbaris di depan pekuwuan untuk menerima pujian dari Sang Akuwu. Damar-damar pendopo itu telah ditambah dengan sepuluh lagi. Empat orang menteri Tumapel dan Belakangka hadir. Tetapi Sang Akuwu belum juga muncul. Malam telah tiba waktu akhirnya pintu Bilik Agung terbuka. Yang muncul bukan Akuwu, tetapi Paramesywari dalam pakaian kebesaran yang serba gemilang. Diiringkan oleh para menteri dan Belakangka ia menyeberangi pendopo, berdiri pada anak tangga. mengumumkan: Yang Mulia Sang Akuwu sedang berhalangan, telah berangkat pada siang hari tadi ke sebelah barat Tumapel." Arok, yang berdiri di depan pasukannya mengerti, Sang Akuwu sedang memimpin sendiri penindasan kerusuhan di sebelah barat. Ia melaporkan hasil pertempurannya: para perusuh di selatan ditumpas seluruhnya. Tentara Tumapel kehilangan dua puluh lima orang prajurit. "Arok, setiawan Tumapel, terimakasih atas jasamu yang sangat besar pada Tumapel. Asramakan anak buahmu untuk kemudian menghadap padaku." Dan Arok mengasramakan prajuritnya sendiri yang enam ratus orang, dengan reguregu dipimpin oleh anak buah lama. Ia tahu: hari ini adalah hari awal kemenangannya dan awal keruntuhan Tunggul Ametung.

Penghadapan itu terjadi di pendopo. Ken Dedes sebagai Paramesywari Tumapel duduk di Singgasana menggantikan Sang Akuwu. Empat orang menteri duduk di bawah mengapitnya. Yang Suci Belakangka berdiri, bertumpu pada tongkat. Sang Patih tidak hadir, karena dibawa oleh Sang Akuwu dalam menindas kerusuhan. Paramesywari memerintahkan padanya menceritakan jalannya pertempuran. Arok mengangkat muka dan mengagumi kecantikan Dedes. Dalam hati ia membenarkan Tunggul Ametung mendudukkannya pada tahta Tumapel. Ia adalah mahkota untuk kerajaan mana pun, karena kecantikannya, karena pengetahuannya, karena ke-brahmanaannya, karena ketangkasannya, karena keinginannya untuk mengetahui persoalan negeri. Ia melaporkan jalannya pertempuran dalam Sansakerta. Dan selama itu mereka berdua berpandang-pandangan seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal dan mengerti hati masing-masing. Dedes tak menguasai istilah perang, lebih-lebih tak menguasai hati sendiri lagi. Dengan jujur ia mengakui pada dirinya telah jatuh cinta pada pemuda sudra tanpa darah Hindu setetes pun itu, yang demikian fasih berbahasa ilmu para dewa dan mahir dalam yuddhagama. Dan begitu muda, hanya terpaut tiga tahun dari dirinya sendiri. Dialah yang patut jadi suamiku, pemegang kekuasaan atas Tumapel, seorang brahmana yang akan dapat memuliakan cakrawarti Hyang Syiwa. Ia pejamkan mata, menikmati musik yang terdengar dalam Sansakerta Arok. Dan ia membiarkan dirinya dipandangi sepuasnya oleh seorang lelaki yang bukan suaminya.

"Selesai, Yang Mulia Paramesywari." "Terimakasih Arok, akan aku teruskan pada Yang Mulia Akuwu," ia berpaling pada Belakangka yang berdiri agak jauh di sampingnya, "Yang Suci, silakan ajukan pertanyaan padanya untuk melengkapi gambaran." Ia tahu Belakangka tak dapat mengikuti laporan itu, apalagi para menteri Tumapel. Dan Belakangka menggaruk-garuk tenggorokan. Tawaran diteruskannya pada para menteri. Salah seorang mengakui tidak mengerti Sansakerta. Ken Dedes tersenyum. Kesempatan itu ia pergunakan untuk berpesan pada Arok agar menemuinya di Taman Larangan nanti tengah malam. Dan dengan demikian penghadapan bubar. Malam itu juga ia ambil-alih tugas kemit, dan dengan demikian pasukannya sendiri yang telah terpercaya yang melakukannya. Ia mengerti, Paramesywari sedang menantang maut dan menawar maut untuk dirinya dengan undangan malam itu. Dedes masuk ke Bilik Agung dengan tubuh menggigil. Begitu Arok menyatakan kesanggupannya ia mengerti, ia telah ber-sekutu dengan pemuda itu untuk menjatuhkan Tunggul Ametung. Kesedaran, bahwa ia sedang menempa makar, dirasakannya suatu hal yang terlalu besar dan tubuhnya kurang kuat menampung. Melintas wajah Mpu Parwa di hadapannya Ayah tercinta itu mengangguk

membenarkan. Kemudian melintas wajah Dang Hyang Lohgawe Brahmana itu dilihatnya mengangguk membenarkan. Ia perintahkan untuk mengawalnya dari pintu gerbang belakang pekuwuan ke pura dalam. Dilintasinya Taman Larangan. Di luar ia disambut oleh empat orang pengawal. "Pasukan siapa kalian?" tanyanya pelan. "Arok, Yang Mulia." "Aku merasa lebih aman dalam pengawalan kalian." "Beribu terimakasih. Yang Mulia." Mereka mengiringkannya memasuki halaman pertama, kedua dan ketiga pura. Penunggu itu mengangkat sembah menyambutnya kemudian menyilakannya naik ke atas. "Tinggalkan aku seorang diri," perintahnya. Pedupaan itu telah mengepulkan harum. Ia tahu tak ada patung-patung Mahadewa dan syakti-syaktinya. Tetapi selama ini ia telah membiasakan tanpa dengan mereka. Ia lenyapkan perasaan pribadi, segala pamrih yang menggumuli hati, memadamkan pancaindra dengan hanya membawakan satu macam permohonan untuk mendapatkan petunjuk yang benar dan dibenarkan pada Hyang Mahadewa Syiwa.

Dan lenyaplah ia dalam alam puja. Seluruh wujudnya padam, memasuki alam sinar dan getaran kemudian ke alam sunnya tanpa sesuatu. Kemudian sayup-sayup menggeletar, makin lama makin nyata, dan terdengar suara tawa. Muncul di hadapannya seorang tua buncit berjenggot putih panjang sampai ke pusar, telanjang dada dan bertongkat, berbisik padanya: "Kembali kau. Cucu, kembali, mahkota kerajaan mana pun yang kau inginkan sudah ada pada kepalamu." Sekarang alam sunnya itu padam. Ujung-ujung ibujarinya menggeletar, merambat naik ke kaki, ke badan, ke leher dan kepala. Baru ia dapat menggerakkan tubuhnya. Ia mengangkat sembah pada Hyang Bathara Guru dalam bayangan, kemudian beringsut mundur, bangkit dan meninggalkan pura. Waktu ia menuruni tangga, ia teringat, bahwa ia tidak seorang diri menghadap Hyang Mahadewa Syiwa Bathara Guru. ia beserta anak dalam kandungan. Ia raba perutnya dan berbisik: "Jangan kau kaget, anakku. Sesuatu harus terjadi, dan kau ikut menyertai bundamu sejak semula." Para pengawal itu menghormatinya dengan gedikan pangkal tombak. Ia melangkah pelan-pelan ke pintu gerbang belakang pekuwuan. Sebelum masuk ia berpaling dan berbisik: "Tenmakasih, prajurit. Aku merasa aman dalam pengawalan pasukan Arok. Maka pintu gerbang ini tak perlu dikawal," dan ia masuk ke dalam.

Lambat-lambat ia menutup pintu sambil memperhatikan apakah para pengawal telah pergi. Memang mereka semua telah pergi dan berbalik ia menghadap ke Taman Larangan. Bulu ro-manya menggermang, terkejut, melihat sesosok tubuh berdiri di hadapannya. Hampir ia terpekik. "Dirgahayu untukmu, anak Mpu Parwa." Demi dilihatnya orang itu Arok, ia berlutut dan mengangkat sembah: "Dirgahayu, ya, Guru." "Ketahuilah, telah aku antarkan ayahmu Mpu Parwa kembali ke Gunung Kawi setelah pulang melihat rumahmu dibakar habis oleh Tunggul Ametung." "Tenmakasih beribu kali, ya, Guru." "Ayahmu takkan melihat kau sebelum suamimu tumpas karena senjata." Sahaya mendengarkan, ya, Guru." "Ketahuilah, bahwa persidangan kaum brahmana puncak di candi Agastya, Gunung Kawi, telah berjanji untuk menjatuhkan Tunggul Ametung dan Kediri. Kaulah yang menyebabkan persidangan mengutuk dan menghukum penculikan itu. Kau mengerti semua yang aku katakan, anak Mpu Parwa?" "Sahaya mendengarkan, ya, Guru." "Belum patut aku jadi gurumu, Dedes" "Beribu terimakasih atas pemberitaan itu, ya, Kakanda."

"Katakan padaku, pada pihak siapa kau berada." "Sahaya ada pada pihak para brahmana, pada pihak Kakanda." "Apakah cukup dengan hanya pemihakan?" "Sahaya serahkan suami sahaya, hidup dan matinya, pada Kakanda," ia menunduk,"semua yang dituntun oleh tangan Dang Hyang Lohgawe pasti kebenaran yang tak dapat ditawar." "Apakah kau tidak menyesal kehilangan suami?" "Sahaya serahkan diri dan hidup sahaya kepada Kakanda, demi Hyang Mahadewa." Arok menarik Dedes berdiri, dan ia rasai tubuh Paramesywari menggigil: "Bangun kau, Dedes, dan kembali kau ke Bilik Agung." "Akan Kakanda tinggalkan sahaya begini seorang diri?" "Tidak. Setiap saat aku akan kunjungi kau di sini. Terserah pada panggilanmu." Arok memimpinnya ke arah Bilik Agung. Sampai di tangga ia minta diri dan melangkah cepat menyeberangi gerbang belakang pekuwuan, kemudian keluar.

Ken Dedes jatuh tak berdaya di depan peraduan, ia letakkan kepalanya. Matanya tertutup, ia merasa sangat, sangat berbahagia. Ia merasa tidak berdosa pada para dewa, juga tidak pada ayahnya. Ia menggeliat waktu menyedari adanya saksi percakapan mereka: anak dalam kandungan. Dibelainya perutnya: "Duh, anakku, jangan kaget telah aku serahkan hidup dan mari ayahmu pada musuh-musuhnya. Kalau kelak kau nnggalkan rahim ibumu, kau akan tiba di dunia yang tidak seperti ini; dunia yang dikehendaki oleh para dewa." Dengan dua ratus prajurit sendiri dan dua ratus prajurit Tumapel, dan dengan restu resmi Paramesywari, Arok berangkat menyusul Tunggul Ametung untuk menumpas kerusuhan di utara dan barat Kutaraja. Di desa Asam Bagus kesatuannya berhenti untuk mesanggrah. Dua puluh orang dari prajuritnya sendiri ia perintahkan menghubungi Arih-Arih dan Santing untuk menumpas buntut pasukan yang dibawanya. Ia sendiri akan berbalik dan ikut menghancurkan. Dengan pengawalan empat orang pada malam itu juga ia berangkat ke Pangkur untuk menemui Dang Hyang Lohgawe. Ia menyampaikan Tumapel sudah hampir berada di tangannya. Setiap waktu ia dapat gulingkan Tunggul Ametung. "Aku percaya. Kau telah bekerja lebih cepat daripada perhitungan. Untuk itu waktu belum mengijinkan. Penggulingan atas Sang Akuwu, garudaku, belum tentu berarti kemenangan bagimu, bisa berarti awal dari kehancuran kita semua." "Ya, Bapa Mahaguru, sahaya mengerti: Kediri tidak akan tinggal diam. Pasukan gajahnya yang perkasa akan segera datang menghancurkan Tumapel."

"Itu bisa kau hadapi Arok. Tergulingnya Tunggung Ametung berarti kau menjadi raja Tumapel. Di situ letak kesulitannya. Belum pernah terjadi seorang sudra, tanpa darah Hindu, marak jadi raja. Erlangga yang mula-mula marak dengan terlalu sedikit darah Hindu dalam tubuhnya. Tetapi darah itu ada. Padamu sama sekali tiada. Kau tidak bisa mengajukan silsilah yang bisa dibenarkan oleh kaum brahmana. Takkan ada raja lain yang bakal dapat mengakuimu." "Tak pernah ini Bapa ajarkan pada sahaya." "Sekarang ini aku sampaikan, Arok. Tanpa darah Hindu orang tak bisa jadi raja." "Apakah ini berarti sahaya hanya baik untuk berperang saja untuk orang lain?" "Bukan. Kau bukan semestinya jadi prajurit bayaran. Dengarkan, garudaku: begitu dunia mendengar seorang sudra telah menggulingkan kepercayaan Kediri di Tumapel, semua raja di Jawa. orang-orang yang berdarah Hindu itu, akan bangkit dan berbaris untuk membinasakan kau. Kau bisa gulingkan Sang Akuwu dengan mudah. Memang setiap waktu bisa.Tapi jadi raja bukankah tidak cita-citamu? Jadi satu-satunya dari yang selebihnya? Bukan, Arok. Jalan ke tahta terlalu mudah bagi orang seperti kau. Hanya jangan kau lupa, kau membawa tugas dari semua brahmana dan penganut Hyang Mahadewa. Tugasmu adalah menggulingkan wangsa Isana yang sudah tak dapat menenggang lagi itu." "Sahaya mengerti sepenuhnya, Bapa Mahaguru." "Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu. Tanpa jatuhnya Tumapel, kita takkan bisa menghadapi Kediri. Tumapel adalah modal pertama, Arok. Jangan kau lupa."

Ia diam, memejamkan mata, kemudian meneruskan: "Segera setelah jatuhnya Tunggul Ametung, Belakangka akan bertindak sebagai wakil Kediri. Ia akan menempatkan seseorang untuk jadi pengganti sementara. Itu tidak boleh. Dedes harus segera memegang kekuasaan pengganti suaminya. Dia harus mampu menjatuhkan hukuman bagi yang bersalah dan karunia bagi yang berjasa. Kaulah harus jadi tempat ia menyandarkan diri." Dan Arok sepenuhnya mengerti. Ia menyampaikan, bahwa Tumapel Selatan sepenuhnya sudah berada di tangannya. Sebentar lagi juga sebelah barat dan utara.

"Kau memang putra Hyang Brahma sendiri." Arok mengangkat sembah. "Sudah kau bertemu dengan anak Mpu Parwa?" "Sudah, ya, Bapa Mahaguru." "Sudah kau bicara dengannya?" Ia menceritakan pertemuan di malam hari dalam Taman Larangan itu.

"Hanya orang seperti kau yang berhak memiliki dia. Ingat, Arok, dia berdarah Hindu. Bila dia memegang kekuasaan atas Tumapel adalah sudah wajar menurut kebiasaan lama. Bukan kau. Dari perkawinanmu dengannya saja syarat-syarat baru tersedia untukmu." "Tiadakah Bapa mahaguru menaruh banyak, terlalu banyak kepercayaan pada sahaya?" "Kau hanya menjalani kehendak kaum brahmana." Dan Arok pulang pada kesatuannya. Waktu hendak memasuki rumah penginapannya di Asam Bagus dari rimbunan semak di pinggir jalan terdengar teguran dari seseorang: "Arok, aku tahu dari mana kau." "Siapa itu!" "Bana." Ia telah mencabut pedang dan para pengawalnya dengan tombak mulai mengepung semak-semak itu. "Bana siapa!" "Anak buahmu dulu. Dengar, aku mau bicara denganmu." "Keluar kau dari situ." "Jangan bunuh aku. Aku akan keluar mendapatkan kau." Orang itu keluar dari semak-semak. "Ah, kau?" seru Arok. "Bagaimana kau bisa di sini? Tempatmu di utara." "Kau tak perhatikan aku dan kami sejak tadi. Aku prajurit Tumapel. Tak bisa lolos dari wajib tentara. Semua temanku yang dalam pasukanku adalah anak-anak kemarin, anak tani semua. Apakah kau tega tumpas kami seperti yang kau bawa ke selatan?"

"Lantas apa maumu?" "Aku dan kami menggabungkan diri denganmu, Arok." "Bagaimana bisa orang seperti kau tidak bisa lari waktu kena wajib tentara?" "Mereka mengancam Bapak dan emak." "Ketahuilah, sesungguhnya prajurit Tumapel sukar untuk dapat dipercaya. Juga kau. Tempatmu tidak di sini, di barisanmu sendiri" "Aku tak mampu melihat bapak dan emak teraniaya Sudah kukatakan tadi. Aku mengerti, kau menghendaki jaminan dari kami. Mari aku bawa ke penginapan kami" "Tidak perlu." "Baik, aku bawa jaminan kami kepadamu." Arok masuk ke rumah penginapannya dalam iringan para pengawalnya. Beberapa bentar kemudian terdengar suara dari luar rumahnya: "Bana datang untuk menemui Arok." "Bawa dia masuk," perintahnya pada kemit.

Ia masuk membawa sepuluh orang tamtama angkatan lama yang telah terikat, diiringkan oleh pengawal-pengawal dari angkatan baru. "Inilah jaminan kami. Terserah padamu hendak kau apakan binatang-binatang ini." Di bawah cahaya damar nampak muka Bana yang masih muda belia, belum lagi tumbuh kumis dan cambang. Pipinya barut dan berdarah. "Beri kami hidup, Arok," seorang tamtama memohon. "Kejahatan kalian tak mungkin melindungi hidup kalian," jawab Arok. "Kami tangkap sedang melakukan kejahatan terhadap orang desa, Arok." "Hanya itu yang kalian bisa perbuat selama ini hanya menindas dan merampoki orang desa." "Hidupi kami. Akan kami persembahkan apa saja: harta, anak bini, untuk dibudakkan, untuk milik sendiri...," seorang memohon. "Dengar," kata Arok pada semua yang hadir, juga prajurit-prajurit yang terbangun dari tidurnya, "kami tidak memberikan pengampunan dan hukuman. Kami memberikan keadilan pada siapa saja, pada semua sejauh kemampuan kami. juga keadilan untuk kalian, para tamtama angkatan lama untuk semua kejahatanmu selama jadi prajurit Tumapel. Bana, nyahkan mereka dari pandanganku, dan segera kau kembali kemari." Mereka berangkat, dan Arok meneliti makan dan minum yang disediakan untuk dirinya dan para pengawalnya.

Ia mulai makan dan hujan turun dengan derasnya. Bana datang lagi, basah kuyup: "Arok, kita sama-sama anak desa, anak tani, mengapa kau kehilangan kepercayaan pada kami?" "Apakah tamtama tadi bukan anak tani? Anak tani pun bisa jadi sampar untuk bekas tetangga dan teman sepermainan sendiri di desanya yang dulu. Juga kau bisa jadi sampar." "Tidak, aku tetap bersama denganmu." "Tidak semudah itu. Kau sudah mendapat contoh busuk dari prajurit Tumapel." "Berilah keadilan padaku, pada kami semua." "Baik, berangkat kau bersama pasukanmu malam ini, gabungkan diri dengan Mundrayana di Randu Alas. Lari pindah kalian ke utara Tumapel, bergabung dengan Santing dan Arih-Arih bila melihat kami datang, dan bersorak kalian Arok datang." "Siapa Mundrayana?" "Si-mata-satu. Salam dari Pimpinan Tertinggi padanya, dan pergi kalian." "Belum tentu dia percaya." "Kalau begitu, itulah nasib prajurit Tumapel." "Baik, kami berangkat, Pimpinan Tertinggi." Salah seorang pengawalnya berbisik: "Kau terlalu keras, mereka adalah anak buahmu sendiri."

"Mereka prajurit Tumapel waktu menghadap aku. Mereka tetap prajurit Tumapel sebelum bergabung dengan Mundrayana. Kita anak tani, tidak memerlukan lain kecuali diri kita sendiri. Dia harus belajar mengerti." "Dia masih terlalu muda, dan telah menyerahkan jaminan." "Dia memerlukan keadilan, dia harus belajar mengenalnya dengan seluruh tubuh dan jiwanya, bukan hanya suara hampa untuk bunga bibir dan bunga hati Juga untukmu sendiri. Juga untukku sendiri. Juga untuk kita semua. Setiap orang." Dedes merasa berbahagia telah terbebas dari tingkah laku pura-pura selama kepergian Tunggul Ametung. Ia merasa menemukan diri sendiri, tidak dibiarkan tersasar seorang diri di tengah rimba belantara kedunguan. Ia merasa berada di antara orang-orangnya sendiri, dijaga keselamatannya, diperhatikan dan dihargai. Dan ia jatuh cinta. Terlalu sering ia ambil cermin perunggu dan berhias. Dan kadang pun ia malu pada diri sendiri: seorang wanita, istri seseorang, mengandung dua bulan, jatuh cinta pada seorang sudra! Tanpa darah Hindu dalam dirinya! Apakah jadinya anak ini dengan hati ibunya yang berubah-ubah semacam ini? Kalau ada Rimang, boleh jadi akan lebih mudah mengambil keputusan untuk menggugurkannya. Dia tak ada, dan hubungan dengan orang lain pun tiada. Arok pun pergi. Ia merasa: dia akan datang kembali untuk menengoknya. Waktu Tunggul Ametung pergi ia tak punya perasaan itu, bahkan tak mengharapkan melihatnya kembali. Ia tahu: ia jatuh cinta. Dan ia merasa bersyukur dapat mencintai seorang pria. Dan kalau teringat ia pada pembenaran Arok, Wanita adalah Dewa, Wanita adalah Kehidupan, Wanita adalah Permata, kebahagiaannya mendapatkan pengukuhan. Apa yang Tunggul Ametung tahu tentang itu? Tak sedikit pun. Orang yang jatuh

cinta pada diri dan nama sendiri karena sekeping kekuasaan dari Kediri itu tak tahu sesuatu pun kecuali nikmatnya kekuasaan. Dan Arok tak menyetujui alasan Mahayogin Kramasara. Dia tidak membenarkan seorang mahaguru! Tentu dia punya alasan, ah, Arok yang mengenal para dewa itu. Umur dua puluh telah dilepas oleh Yang Suci Dang Hyang Lohgawe, menumpas kerusuhan di selatan, dan kini akan menumpas lagi di barat dan utara. Bukankah dia juga yang mengaku brahmana dari utara? dengan kumis sekepal? Teka-teki itu pada suatu kali akan ditanyakannya padanya. Juga teka-teki kemenangannya di selatan. Karena, bukankah semua itu gerakan Syiwa melawan Tunggul Ametung? Bagaimana mungkin ia menindas mereka para pelawan Akuwu itu? Makin ia pikirkan, Arok semakin menjadi teka-teki baginya. Dan justru karena itu semakin agung dalam penilaiannya - anak sudra itu! Sedap sore ia memuja di pura dalam untuk keselamatan Arok. Dan setiap berangkat tidur ia bicara pada anak dalam kandungan tentang ketidakpantasan ayahnya, Sang Akuwu, meyakinkan dirinya sendiri bukan seorang istri yang tidak tahu bersetia, tetapi seorang brahmani yang hendak mengebaskan diri dari kungkungan kedunguan dan musuh dari ajaran. Kebahagiaan ini akan ia kokohi untuk selama-lamanya. Ia hindari Patih dan para Menteri. Semua keputusan mereka harus disampaikan kepadanya melalui Belakangka. Hendak diperlihatkannya pada Penghulu Negeri itu, bahwa ia tidak pernah takluk kepadanya. Dan bahwa ia harus mendengarkan katanya dan perintahnya.

Dari Rimang ia mengetahui, semua kerusuhan mengangkat tinggi nama Hyang Bathari Durga. Kini dalam meluasnya kerusuhan, bathari itu tak banyak lagi terdengar. Ia juga tidak mengerti sebabnya. Sekarang dua orang lelaki yang mengisi hidupnya berangkat untuk berperang, seorang suami dan seorang pujaan hati. Ia tindas perasaan malu tidak mengharapkan kembalinya sang suami. Ia memohon agar pujaan hati saja yang bakalnya pulang kepadanya. Dalam keadaan hati penuh dengan bahagia dan harapan ia keluar dari gedung pekuwuan dalam iringan para pengawal, memeriksa seluruh halaman, memasuki tungguk kemit dan memerlukan berunya pada kepala kemit: "Anak buah siapa yang berjaga sekarang?" "Arok, Yang Mulia Paramesywari." "Siapa yang mengatur giliran?" "Pangalasan, Yang Mulia." "Mengapa bukan anak buah Pangalasan?" "Sahaya kurang periksa, ampun." "Panggil Pangalasan." Dan waktu Pangalasan datang, ia mempersembahkan: "Ampun. Yang Mulia, anak buah sahaya sebagian dibawa oleh Arok, sebagai gantinya ia menukar dengan anak buahnya." Ken Dedes membuang muka untuk menyembunyikan senyum. "Baik. Kau tidak bersalah. Juga Arok tidak, barangkah ia membutuhkan tamtama yang lebih berpengalaman."

"Memang itu sebabnya, Yang Mulia Paramesywari." "Kau boleh pergi." Pangalasan pergi dan ia bertanya pada kepala kemit, "Kau anak buah Arok, apakah kau orang Syiwa?" "Ampun. Yang Mulia," ia gugup dan terdiam. "Mengapa takut? Apakah semua anak buah Arok orang Syiwa?" "Tidak. Yang Mulia" "Apa sebabnya kau ikut dia?" "Hanya dia yang membikin kami tidak teraniaya. Yang Mulia." "Apakah Arok tidak menganiaya seperti prajurit Tumapel?" "Ampun. Yang Mulia, sahaya tidak patut menjawab." "Apa perintah Arok padamu dan kalian?" "Sepenuhnya menjaga keselamatan Yang Mulia." "Lainnya?" "Hanya Yang Mulia, tak ada lain." "Apakah kau dan kalian mencintai Arok?" "Tanpa dia mungkin kami sudah lama binasa." "Mengapa?" "Ampun. Yang Mulia, sahaya tidak patut menjawab." "Siapa yang patut?" "Arok sendiri."

Ia tinggalkan tungguk kemit. Dalam iringan para pengawal ia masuki keputrian, memasuki Bilik Paramesywari tempat ia pertama kali tinggal, kemudian memasuki tempat para selir. Para wanita rupawan itu berlutut di depan bilik masing-masing dan mengangkat sembah. Mereka adalah bunga kecantikan seluruh Tumapel, dan sebagian dalam keadaan menyusui. Tanpa bicara ia perhatikan seorang demi seorang di antara mereka, adakah kiranya memancarkan kebencian padanya. Tak ada yang membencinya, hanya ia melihat hormat mereka kepadanya sungguh tidak keluar dari hati. Ia berpaling pada para pengawalnya: "Lihat, bukankah cantik semua mereka? Tidakkah kalian ingin memiliki salah seorang di antaranya?" Para pengawal itu membuang muka, dan para selir membere-ngut merasa dihinakan. "Bukan," katanya kemudian, "puaskah kalian tinggal di sini jadi selir?" Seorang mengangkat mata dan melirik kepadanya. Ia tahu, semua mereka datang kemari karena paksa, seperti dirinya sendiri. Ia berjalan ke bilik terujung, tempat istri syah Tunggul Ametung sewaktu ia masih muda. Wanita tua itu menjatuhkan diri dengan kening di tanah pada kaki Dedes. "Di manakah anak-anak Bibi?" tanyanya. "Semua sudah jadi prajurit, Yang Mulia."

Ken Dedes terperanjat dan berpaling pada para pengawalnya. Buru-buru ia bertanya tentang hal lain: "Tidakkah Bibi ingin pulang ke desa?" "Sahaya hanya menunggu perintah Yang Mulia." "Bukan aku yang menghendaki. Aku hanya bertanya." Perempuan tua itu mengangkat sembah dan tidak bicara se-patah pun. "Marilah aku lihat bilikmu," tanpa menunggu jawaban ia masuk. Bilik itu terdiri atas empat ruangan. Ia masuki semua. Setiap ruangan berisi benda-benda berharga. "Semua di sini, Yang Mulia, adalah pemberian anak-anak sahaya." "Betapa berbakti anak-anak Bibi. Berapa semua, Bibi?" "Tujuh, Yang Mulia." Keluar dari keputrian ia memasuki dapur untuk pertama kali. Semua budak wanita menjatuhkan diri mencium tanah dan tidak lagi bergerak dari tempatnya. "Buang tapas dari kepala kalian. Tak ada lagi yang mengenakan tapas di pekuwuan ini." Mereka semua membuang penutup kepala itu dan menangis terhisak-hisak. Tak seorang pun mengucapkan kata.

Dedes berpaling pada para pengawalnya: "Dengarkan, tak ada lagi budak di pekuwuan ini. Atas perintah Paramesywari. Sampaikan pada kepalamu." Ia tinggalkan dapur dan masuk ke Taman Larangan dari belakang, duduk di bangku di bawah rindangan pepohonan dan membacai rontal. Pasukan Arok berjalan cepat ke arah Gunung Arjuna. Desa-desa yang dilalui sepi. Penduduk telah mengungsi ke hutan-hutan sekitar, atau bergabung dengan kaum perusuh. Canang dan genderang pasukan itu bertalu tiada henti-henti, memberitahukan pada kaum pelawan akan kedatangannya. Tunggul Ametung, Sang Patih dan pasukannya terkepung di desa Jarak Sempal dan telah lebih sehari semalam kelaparan. Pasukan Arok bersorak lari menyibak para pengepung. Dan para pengepung, seperti telah disetujui sebelumnya berpekikan: "Arok datang! Arok datang!" dan lari buyar mengundurkan diri. Pasukan Arok bergerak seakan mengejar musuh.

Sorak-sorai pertempuran kedengaran di kejauhan, semakin lama semakin menjauh, kemudian padam. Arok mendapatkan Mundrayana di desa Randu Alas. Ia peluk warok baru itu. Dan Mundrayana tak berani membalas pelukannya, hanya erat-erat memegangi lengan kirinya. "Betapa banyak orang yang dapat kau kerahkan, Mundra." "Sebelumnya sahaya telah datang ke desa sahaya sendiri. Orang desa sahaya murka luar biasa mendengar perbudakan Kali Kanta, Pimpinan Tertinggi, langsung mengambil senjata mereka dan ikut bergerak." Tak lama kemudian Bana muncul dan melaporkan tugasnya. "Baik, kau pergi ke sebelah utara Tumapel, Bana." "Apakah sudah cukup jaminan dari aku dan kami?" "Cukup." "Aku pergi, Arok!" "Ya, kau pergi," ia tarik Mundrayana masuk ke rumah Nyi Lembung dan membisikkan: "Membuyarlah kalian ke semua desa barat Tumapel ini. Ajak semua membersihkan desa masing-masing dari prajurit Tumapel. Beri aku lima puluh orang bekas budak dan lima puluh lagi dari desamu sendiri." Dengan tambahan seratus orang ia balik ke Jarak Sempal. Didapatkannya Tunggul Ametung sedang berlutut di samping seorang perwira Tumapel yang tewas, dan

jari-jarinya memperbaiki letak destar mayat itu. Sang Patih berjongkok ditentangnya, menunduk. "Anakku yang gagah berani," Tunggul Ametung terdengar mengulanginya untuk entah berapa kali, "mati membela bapa...." Melihat bayang-bayang panjang dari matahari sore yang melintasi mayat itu ia menengok. Arok mengangkat sembah: "Inilah sahaya, Yang Mulia. Jalan ke Kutaraja telah bersih dari kaum perusuh." Tunggul Ametung melirik curiga pada Arok dan tidak bicara sepatah pun. "Mari sahaya iringkan kembali" Sang Patih memerintahkan prajuritnya untuk mengangkat mayat perwira itu, dan dengan demikian pasukan Tumapel yang telah sampai pada puncak kelelahan dan kelaparan itu berangkat pulang ke Kutaraja. Di Asam Bagus Arok mempersembahkan agar menginap. Tunggul Ametung menyetujui. Segera kemudian ia murka karena tak ada penduduk desa yang menghadap.

"Mereka semua celah melarikan diri, Yang Mulia." Sang Akuwu memerintahkan membongkari lumbung untuk memberi makan pasukan dan dirinya sendiri. Ternyata ternak besar juga dibawa pergi oleh pemiliknya. Sang Patih memerintahkan agar menjejak ternak besar dengan damar. Dan Arok mencegahnya, bahwa obor damar itu memanggil kebinasaan. Kaum perusuh bisa menyergap di mana saja. Arok melihat Tunggul Ametung untuk ke sekian kali melirik padanya. Dalam hati ia mentertawakannya. Ia tahu dirinya dan pasukannya tetap waspada terhadap segala gerak-gerik prajurit Tumapel dan Akuwu. Dan sekarang pun anak buahnya terus membayangi semua prajurit Tumapel. Tunggul Ametung nampaknya tak ada keinginan untuk menanyakan tentang penindasannya di sebelah selatan. Dan Arok sendiri menyimpan persembahan itu untuk waktu yang lebih tepat. Malam itu Tunggul Ametung dan seluruh pasukan hanya makan nasi dengan daundaunan, tanpa garam, dan semua orang makan dengan lahap. Gula pun tiada, tuak apalagi. Pada waktu semua terlelap dalam kelelahan hanya prajurit-prajurit Arok yang berjaga. Juga mereka yang menjaga mayat putra pertama Tunggul Ametung, Kidang Handayani. Akuwu sendiri tidur di antara perwira-perwira puteranya sendiri, yang berjaga bergantian.

Kutaraja berkabung karena gugurnya Kidang Handayani. Seperti ikut berbelasungkawa seluruh Tumapel dalam keadaan damai. Tak ada persembahan tentang terjadinya kerusuhan baru pada Sang Akuwu. Jenasah itu dibakar di depan pura dalam dengan segala upacara kebesaran. Menurut keputusan negeri abunya akan ditaburkan di Laut Selatan, sehingga tidak bakal diterjang oleh perahu dan kapal yang mondar-mandir di Brantas. Dalam persidangan negeri sehari setelah abu Kidang Handa-yani disimpan dengan upacara di pura dalam, yang juga dihadiri oleh Paramesywari Tumapel, baru Arok mendapat kesempatan untuk melaporkan pemadaman kerusuhan di selatan. Tunggul Ametung menatap Arok dengan pandang tajam: "Belum ada bukti kerusuhan di selatan telah padam." "Apakah kiranya bukti yang Yang Mulia Akuwu harapkan dari sahaya?" "Seluruh Kutaraja berteriak kekurangan garam, dan hasil laut belum juga datang sampai sekarang. Jalan air dan darat di selatan masih rusuh." "Bukankah lembah Brantas tepat pada waktu sungai membelok ke barat bukan lagi kawasan Tumapel, Yang Mulia, tetapi Kediri?" kata Arok tidak pasti. "Yang Suci, belum pernah Kediri menyatakan yang demikian."

"Yang Mulia, memang belum pernah ada pernyataan yang demikian selama dua puluh tahun ini. Selama ini baik jalan air maupun darat dipergunakan oleh Tumapel dan Kediri bersama, jadi selayaknya keamanannya harus ditanggung bersamasama. Artinya, sebagai orang yang mewakili Kediri. Yang Mulia, jalur darat, jalan negeri dan air lembah Brantas. Sebelah utara jalan negeri menjadi bagian Kediri, bagian selatan Brantas menjadi bagian Tumapel. Itu pun kalau Yang Mulia dapat menyetujui." "Apakah dengan itu Yang Suci bermaksud mengurangi kawasan Tumapel?" "Bukan. Bapa telah persembahkan, sekiranya Yang Mulia Akuwu menyetujui. Kewilayahan tergantung pada kenyataan apakah keamanannya dapat dipertahankan atau tidak. Bila tidak, dia menjadi kawasan siapa saja." "Kediri selama ini tidak pernah mengirimkan balatentara untuk mengamankannya. Tumapel sudah, sampai pada tikungan Brantas." "Jadi sampai di tikungan itu wilayah Tumapel." "Jagad Dewa!" seru Tunggul Ametung murka. "Telah aku bersihkan daerah selatan itu, dari tikungan ke barat sampai ke bendungan Sri Erlangga Ringan Sapta. Telah aku persembahkan separoh dari wilayah itu kepada Sri Kretajaya atas titahnya sendiri, karena Kediri membutuhkan daerah Ganter karena pendulangan emas yang kaya. Sekarang aku harus bertanggungjawab dari Ganter sampai tikungan itu, wilayah yang tak menghasilkan apa-apa. Apakah ini cukup adil, Yang Suci Bapa Belakangka?" "Terserahlah pada Yang Mulia, kalau Yang Mulia menghendaki dari Ganter ke Timur sampai tikungan tetap wilayah Tumapel, Yang Mulialah yang perlu turun tangan membersihkannya. Bapa telah mengusulkan kerjasama Kediri-Tumapel."

"Apakah Yang Suci pasti dibenarkan oleh Kediri?" "Tak dapat diragukan. Yang Mulia." "Apakah Akuwu Tumapel ini hanya petani huma yang setiap waktu harus membabat kembali?" "Karena ladang tidak terawat, Yang Mulia." "Jagad Dewa, Jagad Pramudita!" ia berpaling pada Paramesywari dan bertanya, "Kaulah yang bicara, Paramesywari." "Bukankah itu tergantung pada kesanggupan Tumapel sendi-ri. Yang Mulia?" Dedes menjawab, "Dan bukankah kesanggupan Tumapel terletak pada para prajuritnya sendiri?" "Panggil para Kidang. Yang Suci, Bapa tidak diperlukan lagi." "Ampun." Belakangka meninggalkan sidang. Hanya tiga orang putra Tunggul Ametung yang dapat dihadap-kan. TungguI Ametung menerangkan pada mereka tentang sengketa kewilayahan dengan Kediri. Kemudian:

"Apakah kalian rela wilayah dari tikungan Brantas ke barat sampai Ganter hilang dari Tumapel?" Putra termuda mempersembahkan: "Ampun, Yang Mulia Ayahanda, sejengkal pun dari Tumapel tidak seyogianya gumpil." Kalau begitu siapa di antara kalian sanggup mengamankan daerah itu, dan memulihkan lalu lintas air dan darat?" Ketiga-tiganya menyatakan sanggup dan diperintahkan meninggalkan sidang. "Arok, kau telah dengar semua keterangan dari Yang Suci, Yang Mulia Paramesywari dan para Kidang. Wilayah itu milik Tumapel. Kau mempersembahkan telah memadamkan kerusuhan di selatan. Persembahkan sekarang, adakah Gusti Putra masih selamat? Dan di mana kau telah menjumpainya?" "Sahaya tidak mengenal Gusti Putra, Yang Mulia." "Apakah penghalauan para perusuh itu tidak sampai ke tempat pemahatan batu di tepi Kali Kanta?" "Sampai, Yang Mulia." "Jagad Dewa! Jadi siapa yang melakukan kerusuhan itu, hei, Arok?" "Seorang perusuh yang tertawan mengakui mereka berasal dari Lodaya. Yang Mulia, dan bergabung dengan para jajaro."

"Jagad Dewa. Kalau kau tidak temui Gusti Putra, di mana orang-orang lain, laki dan perempuan, yang bekerja di tempat itu?" "Sahaya datang dan tempat itu sudah kosong." "Jagad Dewa." "Kau membikin teka-teki. Tak mungkin perempuan dan kanak-kanak itu hilang lenyap tanpa bekas." "Boleh jadi mereka semua telah bergabung dengan para perusuh." "Apakah Paramesywari bisa mempercayai persembahan seaneh itu?" "Apakah tak ada seorang pun di antara pekerja itu yang tertangkap olehmu, Arok?" tanya Ken Dedes. "Hanya seorang. Yang Mulia Paramesywari, itu pun karena luka pada telapak kakinya, seorang perempuan, bernama Rimang." "Rimang!" seru Paramesywari. Tunggul Ametung mengernyitkan dahi dan membisu. "Apakah maksudmu Rimang bekas selir pekuwuan?" "Betul, Yang Mulia." "Kau tidak diperlukan lagi," perintah Sang Akuwu.

Arok memerintahkan anak buahnya yang dapat mengendarai kuda untuk menghubungi Tanca dan Umang, dan menanyakan apa sebabnya perintahnya untuk membuka lalu lintas darat dan air tidak juga dilaksanakan. Menjelang pagi utusan itu kembali dan melaporkan, lalu lintas itu tidak diganggu lagi. Umang dan pasukannya telah ditarik ke pendulangan. Tetapi Hayam, yang katanya menarik pasukannya ke Gunung Kawi, ternyata dengan tindakannya telah menentang kekuatan Arok. Dengan pasukannya ia menguasai jalur dari tikungan ke barat sampai Ganter. Hayam telah menolak peringatan Tanca untuk menyingkir dari jalur itu. Jawaban yang diterimanya adalah tantangan untuk semua kekuatan Arok. Bahkan telah menyebarkan fitnah, bahwa Arok tak dapat dipercaya, rakus, dan menimbun emas untuk kepentingannya sendiri. Bahwa dalam penyerbuan Kali Kanta, Arok telah menyembunyikan rampasan paling sedikit tujuh puluh ribu saga emas, dan dia tidak berniat memperlihatkannya pada anak buahnya. Tanca telah membalas fitnah itu, bahwa Hayamlah yang selalu dipercayai oleh Arok untuk mengurus semua yang berbentuk emas. Bahwa sampai sekarang Arok tidak punya apa-apa kecuali sekeping mata-uang emas persembahan teman-temannya sendiri. Tetapi, bahwa pengaruh Hayam Lumang Celukan nampaknya ditampung juga oleh sementara biarawan dan petani adalah yang paling berbahaya. Ia bisa berubah sikap setiap saat, bisa tiba-tiba bergabung dengan Kediri, bisa dengan Tumapel, dengan tujuan hanya untuk menjatuhkan Arok. Arok menggeleng-geleng mendengar laporan itu. Dari pengalamannya selama ini ia telah menghadapi beberapa orang yang tak berpendirian, kecuali pada keuntungan dirinya sendiri, dan berpihak pada siapa saja yang dapat memuaskan kerakusannya. Dan Hayam yang paling berbahaya: dia membawa satu pasukan utuh. "Ingat-ingat kejadian ini," ia memperingatkan utusannya, "bahwa setiap orang yang berlaku demikian akan mendapatkan keadilan sebagaimana dia sendiri sudah tahu sebelumnya. Untuk menghindari pengadilan itu dia berlindung di balik anak buahnya. Siapa pun boleh mencoba, dan keadilan itu takkan dapat dihindarinya, karena dia adalah tumit manusia sendiri." ia keluar dari asrama dan mendapatkan Dadung Sungging di hadapannya, berbisik: "Tuan, marilah berjalan-jalan, karena ada pesan sangat penting." Arok mengawasi prajurit pengawal itu dengan mata curiga, dan ia berjalan di sampingnya menuju ke belakang asrama. Ia tak mencoba bertanya. "Dari Yang Mulia Paramesywari ..." Arok menangkap lengan Dadung Sungging. "Ampun, terserah pada Tuan hendak percaya atau tidak." "Tak mungkin Yang Mulia Paramesywari berpesan sesuatu padaku. Kau pemancing Yang Suci?" "Apakah sahaya harus mati terjepit antara dua gajah?"

"Siapa kau?" "Dadung Sungging sahaya." "Bagaimana Yang Mulia Paramesywari bisa mempercayai orang seperti kau?" Ia bercerita tentang peristiwa meletusnya Kelud "Kau orang Syiwa?" "Sahaya." "Bagaimana kau bisa dipercaya?" "Siapakah yang tahu rahasia para dewa kalau bukan kaum brahmana? Dengarkan pesan Yang Mulia, Tuan." "Tidak. Tak ada sesuatu persekutuan menghubungkan aku dengan Yang Mulia. Pergi kau." "Sahaya tidak akan pergi dari hadapan Tuan. Tuan harus dengarkan," Dadung Sungging memaksa. Arok berbalik, dan ia mengikuti. "Yang Mulia Akuwu akan saksikan sendiri pekerjaan Tuan di selatan." Arok menyambar ikat pinggang Dadung Sungging:

"Dan kau bilang itu pesan dari Yang Mulia." "Demi Hyang Mahadewa." "Apa urusanmu dengan Yang Mulia Paramesywari." "Hanya kepercayaan, Tuan." "Siapa lagi yang mendapat pesannya selama ini?" "Sekali, hanya Tuan." "Kau anggota kelompok rahasia?" Dadung Sungging tak menjawab dan Arok mengguncangnya. "Terserah hendak diapakan sahaya ini, hanya pesan Yang Mulia agar Tuan bercepat-cepat mendahului." "Selatan telah aku bersihkan. Sang Akuwu dapat saksikan." "Telah sahaya persembahkan pada Yang Mulia Paramesywari, ada sesuatu yang tidak beres di selatan."

"Apa yang kau maksudkan tidak beres?" "Bukan tidak beres untuk Tuan, hanya untuk Sang Akuwu." Arok melepas ikat pinggang Dadung Sungging dan mulai memperhatikan prajurit itu lebih teliti. "Apa yang kau ketahui tentang selatan?" "Bagi Sang Akuwu yang penting adalah emas. Sahaya hanya meneruskan pesan: Bercepat-cepatlah Tuan." "Aku tidak percaya padamu. Pergi kau." Arok bercepat-cepat balik ke asrama dan memerintahkan seorang anak buahnya untuk berkuda ke selatan, menghubungi Tanca dan Umang. Ia tahu pasukan biarawan dan biarawati telah ditarik ke sebelah timur maka ia tidak perlu menghubungi. ia sebarkan beberapa orang anak buahnya untak mengetahui adanya persiapan dari Tunggul Ametung atau tidak. Empat orang ia perintahkan untuk menyelidiki Dadung Sungging. Untuk pertama kali ia mengetahui, bahwa ia belum banyak tahu tentang Kutaraja. Tunggul Ametung ternyata mempunyai persiapan untuk berangkat ke selatan. Ia menunggu-nunggu barangkali mendapat panggilan untuk mengawal. Dan dari seorang yang ditempatkan di pabrik senjata diketahuinya Dadung Sungging sering datang ke pabrik, juga ke rumah Empu Gandring.

Ia tak mendapat panggilan untuk mengawal. Tunggul Ametung diiringkan oleh para Kidang dan pasukannya. Ia datang pada Pangalasan dan memberinya libur selama dua hari dan mengambil alih penjagaan. Pada kesempatan itu ia latih anak buahnya untuk melakukan pembelaan atas pekuwuan sehingga menggemparkan para penghuni. Suara sorak dan aba-aba bergema-gema seakan ada serbuan sesungguhnya sedang terjadi. Dan yang demikian tidak pernah dilakukan sebelumnya. Ken Dedes keluar dari pekuwuan dan memerintahkan memanggil Arok, yang segera datang dan duduk mengangkat sembah. "Apa yang sedang terjadi, Arok?" "Ampun,Yang Mulia, dengan banyaknya kerusuhan belakangan ini sahaya menganggap penting adanya latihan mempertahankan pekuwuan." Ken Dedes tinggal berdiri di pendopo. Kemudian mencangkung dan berbisik: "Adakah telah Kakanda persiapkan di selatan sana?" "Sepenuhnya sudah. Siapa sesungguhnya Dadung Sungging?" "Sahaya hanya hendak mencoba adakah dia bisa dipercaya."

"Aku tidak percaya padanya." "Kalau begitu sahaya akan hentikan." "Kembalilah ke tempatmu, anak Mpu Parwa!" "Tiadakah sahaya dapat menemui Kakanda nanti di Taman larangan'" "Sayang tidak, Akuwu akan segera kembali." "Beritahulah sahaya siapa Dadung Sungging sesungguhnya." "Akan kau dapatkan." Dedes menegakkan badan, mengangkat tangan memberi isyarat agar Arok pergi. Dan ia pun mengangkat sembah kemudian menyingkir pergi Latihan itu diteruskan. Para penghuni pekuwuan kini pada keluar untuk menonton. Dedes menduga Sang Akuwu akan murka bila mengetahui adanya ladhan tanpa perintah dan tanpa sepengetahuannya. Tetapi ia menyerahkan segalanya pada kebijaksanaan Arok. Waktu Tunggul Ametung datang pada malam hari segera diperintahkan Arok menghadap.

"Aku mengerti alasanmu dengan membikin latihan sewaktu aku tiada. Kewajibanmu adalah memadamkan kerusuhan," suaranya dingin. Arok dapat merasa kekecewaan Sang Akuwu karena lenyapnya para budak dan Gusti Putra. Sumber emasnya binasa. "Apakah kau berpendapat kerusuhan bisa pada suatu kali menjamah pekuwuan?" "Latihan itu justru peringatan bagi para perusuh. Yang Mulia, agar melepaskan niat sekiranya mereka mempunyai rencana. Sahaya tidak tahu hati orang lain, Yang Mulia." "Jadi benar dugaanku: kau tidak yakin kerusuhan telah kau padamkan." "Mereka belum seluruhnya tumpas dari muka bumi." Dedes mendengarkan semua percakapan dari Bilik Agung. Kadang suara suaminya tidak terdengar. Tetapi suara Arok keras dan lantang. Ia ikuti dalih Arok yang selalu mengelakkan tuduhan dan kecurigaan. "Arok, coba persembahkan padaku, apa sebabnya semua perbuatanmu menerbitkan kecurigaanku?" "Yang Mulia, apabila sahaya memang tidak patut menerima kepercayaan dari Yang Mulia, ijinkanlah sahaya beserta pasukan sahaya meninggalkan Kutaraja."

"Maka kau juga akan memulai kerusuhan baru?" desis Tunggul Ametung. "Aku yang memerintahkan. Bukan kau yang memohon. Dengar, sudah sejak kulihat sendiri kau menghalau perusuh di barat Kutaraja, kau sendiri telah membuktikan diri punya persekutuan dengan mereka.Tidak mungkin para perusuh yang begitu gigih melawan pasukan Tumapel lari hanya karena kedatanganmu." "Yang Mulia, kalau demikian halnya memang sepatutnya sahaya tidak datang untuk tidak merusak kepercayaan Yang Mulia." "Diam, kau sudra hina. Telah aku angkat kau dari orang gelandangan bercawat menjadi prajurit Tumapel. Jawab pertanyaanku: persekutuan apa terjadi antara kau dengan perusuh di selatan?" "Yang Mulia menghendaki jawaban yang tidak terdapat pada sahaya." "Pembohong. Sudah sejak semula datang mukamu menunjukkan hari yang tidak bisa dipercaya. Persembahkan." "Sahaya hanya memadamkan kerusuhan, lain tiada." "Apa kau dan pasukanmu perbuat di rumah Gusti Putra?" "Tempat itu telah kosong sewaktu sahaya datang. Juga orang-orang sudah ndak ada lagi." "Apa telah kau ambil dari rumah panggung itu?"

"Tiada sesuatu pada rumah satu-satunya, rumah panggung itu." "Akan aku perintahkan periksa anak buahmu. "Bila Yang Mulia berkenan." "Baik. Hati-hati kau. Apa sebabnya bila aku tiada di pekuwuan kau mengambil alih tugas kemit?" "Sahaya tidak percaya pada prajurit Tumapel yang tidak mampu memadamkan kerusuhan Keselamatan Yang Mulia Akuwu dan Yang Mulia Paramesywari bukankah telah menjadi tanggungan sahaya sejak pertama persetujuan itu diterima? Bila tugas itu tidak dibenarkan lagi sahaya lakukan, pastilah bukan sahaya yang tidak mematuhi." Untuk waktu agak lama Tunggul Ametung tidak bicara. Dari Bilik Agung Dedes mengerti suaminya kehabisan kata. Orang yang terbiasa menggunakan kekerasan dan kekuasaan itu tak mampu menghadapi Arok yang terbiasa menggunakan kekerasan dan pikiran sekaligus. Dengan muka merah terbakar ia masuk ke Bilik Agung dan mendapatkannya sedang duduk mempermain-mainkan kalung, yang tergantung rendah pada perut. "Kuda liar yang sulit ditertibkan," dengusnya. Dedes pura-pura tak mendengar, berdiri dan menghampiri: "Sudah malam, Kakanda."

"Aku telah keliru menempatkan durjana di bawah atapku, mungkin juga dalam bilikku sendiri." Dedes menatapnya, menduga-duga barangkah kecurigaan itu kini jatuh pada dirinya. "Kalau benar begitu sebaiknya dibuang dari bawah atap dan dari dalam bilik." "Setelah semua sandiwaranya tak bisa dimainkannya lagi," ia tangkap muka Dedes dan dua belah tangan, menembuskan pandang pada matanya, dan: "Kau brahmani orang Syiwa, dia jago Lohgawe Syiwa, sudah bicara apa saja kau padanya?" "Pernah aku panggil dia, kutanyakan apa saja gunanya berlatih di pekuwuan." "Dan apa kau bicarakan padanya?" "Apakah aku harus bisikkan padanya?" Dua belah tangan Tunggul Ametung bergerak cepat mencengkam kuping Dedes. Paramesywari itu menangis kesakitan dan tidak mengaduh. "Bukan saja kuping ini bisa putus," ia sorong istrinya langkah demi langkah, "Apa kau bisikkan padanya?" "Perintah itu belum aku terima dari Yang Mulia Akuwu."

"Paramesywari bisa bikin perintah untuk dirinya sendiri," ia mendorongnya sekali lagi, "Jawab!" "Jatuhkan perintahmu, dan akan aku laksanakan!" Tunggul Ametung menampar mulut Dedes dengan telapak tangan dan membuang muka dari tantangan mata perempuan di hadapannya. "Betapa pandai Akuwu Tumapel membikin orang benci padanya!" "Diam! Kalau sekali waktu aku panggil sepuluh budak yang kuat-kuat, aku perintahkan meniduri kau sampai mati, baru kau mengerti siapa Tunggul Ametung." "Paramesywari hanya darma jalani perintah," tantang Dedes, "tak pernah yang semacam itu disebutkan dalam rontal." Tunggul Ametung berbalik, mengambil semua rontal yang terjajar dalam ikatan-ikatan dalam lemari batu, membawanya keluar dari Bilik Agung, dan kembali, langsung menghampiri Dedes: "Orang yang mengajar mulutmu begini tajam, patut dibelah empat dengan kapak, tepat pada mulutnya." Ia angkat Dedes pada pinggangnya, ia angkat, digendongnya kemudian dilemparkannya di peraduan.

Arok menjatuhkan perintah pada semua anak buahnya untuk tidak menjawab pertanyaan orang yang tidak dikenal dan mereka yang bukan dari barisan sendiri. Justru karena perintah itu mereka terheran-heran melihat banyaknya orang mencoba bicara dengan mereka. Perintah lain adalah: membela diri terhadap setiap serangan, dari siapa pun dan kapan pun. Penjagaan atas asrama sendiri diperketat dan seorang pun di luar barisan sendiri tak iperkenankan masuk atau pun mendekati. Dadung Sungging semakin sering mencoba mendekatinya. Ia tampung semua katanya dan tidak menanggapi. Sekali disampaikan padanya, bahwa Yang Mulia Akuwu sedang mempersiapkan gerakan pembersihan besar-besaran untuk membuka kembali lalu lintas darat dan air di selatan. Dan Arok akan ditunjuk sebagai pimpinan dengan para Kidang sebagai pembantunya. "Awas, Tuan, para Kidang akan mencari kesempatan untuk membunuh Tuan." "Terimakasih," juga ia tidak menanggapi. Arok menduga, peringatan itu benar. Hanya belum jelas baginya dari kelompok mana prajurit seorang yang aneh ini. ia baru sampai pada pengetahuan dia sering bicara dengan Empu Gandring. Dan ia berharap semoga Dedes tidak menaruh banyak kepercayaan padanya. Bagaimanapun Dadung Sungging hanya prajurit Tumapel, yang tedatih dalam semua macam kejahatan terhadap kawula Tumapel yang tidak berdaya dan tidak bisa membela diri....

PEMBERSIHAN DI SELATAN Hujan yang jatuh tak henti-hentinya itu memudahkan Arok mengirimkan beberapa orang bergantian untuk berteduh di pabrik senjata Hyang Pancagina. juga di rumah pribadi Empu Gandring di pinggiran Kutaraja. Dalam waktu cepat ia dapat ketahui ada tiga orang bekas jajaro telah menggarap ladang Empu Gandring. Di pabrik terdapat lima orang. Semua dimasukkan oleh Empu Gandring sendiri. Juga ia mengetahui Dadung Sungging sering menemui empu[pandai besi] itu, baik di pabrik atau pun di rumahnya. Arok memerintahkan seorang anak buahnya yang dianggapnya cerdas untuk mendekati Dadung Sungging, mendapatkan siapa-siapa saja temannya, dan didapatkannya jaring-jaring yang tidak begitu luas tetapi ketat. Benar Dadung Sungging seorang anggota gerakan rahasia, dan semua gerakan itu berpusat pada Empu Gandring. Belum lagi lengkap pengetahuannya tentang itu Tunggul Ametung telah memerintahkannya bersiap-siap dalam seminggu untuk melakukan gerakan pembersihan terbesar di daerah selatan.

Tiga hari sebelum berangkat ia telah memasuki Taman iarangan di malam hari dan mendapatkan taman itu lengang. Ia masuki Bilik Agung dan mendapatkan Tunggul Ametung sedang nyenyak dalam tidurnya. Suara keruhnya berderai-derai berpantulan dari dinding ke dinding. Hanya sebuah damar menyala. Dirabanya kaki Dedes. Wanita itu membuka mata, menyingkirkan tangan Akuwu yang memeluknya, duduk memandanginya. Ia melambaikan tangan dan Dedes turun dari peraduan. Mereka turun ke Taman Larangan. "Dedes, anak Mpu Parwa, aku minta, cabut kembali kepercayaanmu dari Dadung Sungging." "Sahaya mengerti maksud Kakanda. Sekarang juga sahaya cabut. Hanya, berilah sahaya keterangan." "Dia anggota gerakan rahasia yang aku belum temukan kun-ci-kuncinya. Cobalah kau yang lakukan itu." "Berilah sahaya sedikit petunjuk." "Dia punya hubungan terlalu rapat dengan Empu Gandring." "Bila Kakanda lusa pergi, dan Sang Akuwu menyertai, sahaya akan panggil dia." "Berilah janji setinggi-tingginya padanya. Boleh jadi dia orang Syiwa atau Wisynu dan kira-kira pasti bukan Buddha."

"Sahaya, Kakanda, dan ingat-ingadah, hati-hatilah, Sang Akuwu akan pergunakan pembersihan yang berhasil untuk menyingkirkan Kakanda sendiri. Waspadalah terhadap para Kidang." "Terimakasih, Dedes. Akan aku tinggalkan satu regu untuk menjaga keselamatanmu. Hati-hatilah setelah kepergianku. Jangan timbulkan kecurigaan. Kembali kau ke Bilik Agung, dan tolong sekakan bekas kakiku dari lantai." Ia tinggalkan Taman Larangan. Sesanti meliputi dirinya. Di asrama ia disambut oleh anak buahnya yang melaporkan jalannya pertemuan di rumah Empu Gandring! Mereka telah memutuskan untuk mencoba memasukkan Kebo Ijo dalam pasukan pembersihan yang hendak diberangkatkan, dan dengan kesatuannya akan menempati buntut barisan. Kebo Ijo harus membelok ke Kali Kanta dengan diamdiam dan merampas emas yang tersimpan oleh Gusti Putra. Dua orang bekas jajaro akan dimasukkan sebagai penunjuk jalan yang bakal menempuh jalanan jajaro. Sekali lagi ia kirimkan utusan pada Tanca dan Umang untuk menyingkirkan semua orang dari padang batu dan pendulangan. Dan khusus pada Tanca dipesankan agar memancing Hayam agar terlibat dalam pertempuran dengannya. Ia menunjukkan padanya jalan-jalan yang akan ditempuhnya dan agar menyiapkan pasukan untuk membantunya bila para Kidang dan Tunggul Ametung nanti menyerang pasukannya dari belakang. Laporan, bahwa dari belakang Kebo Ijo kemudian harus menyusul dan menumpas Tunggul Ametung, para Kidang dan Arok untuk kemudian secara serentak menyerbu pendulangan emas Kediri di selatan Ganter oleh Arok tak begitu diperhatikan.

Tumapel kosong dari balatentara. Oleh Paramesywari Belakangka dan para narapraja diperintahkannya meninggalkan pendopo. Seorang pengawal anak buah Arok ia perintahkan menjemput Empu Gandring. Orang yang sedang sampai pada tingkat kemasyhurannya sebagai pandai besi itu datang dengan lambang Hyang Pancagina pada dadanya, sebuah bintang segi-lima selebar telapak tangan, terbuat dari emas, dilingkari oleh rangkaian daun beringin, juga dari emas. Pada lehernya tersilangkan selendang kuning, terikat pada pinggang sebelah kiri. Sebelum menaiki pendopo telah diangkatnya sembah tiga kali dan dengan isyarat Ken Dedes ia mulai naik sambil terus mengangkat sembah dan duduk di bawah tempat duduk Sang Paramesywari: "Dirgahayu untukmu, Empu Gandring!" "Semoga para dewa melimpahkan kemurahan tiada terhingga pada Yang Mulia Paramesywari." "Terimakasih, Empu. Ada aku dengar kau sedang membikin banyak, terlalu banyak senjata. Kau terlalu sibuk." Empu Gandring nampak mengernyit. Kemudian buru-buru menjawab: "Kiranya tidak perlu diperhatikan warta seperti itu, Yang Mulia. Sudah lama tak ada datang besi dari Hujung Galuh."

"Bukankah tahun yang lalu Yang Mulia Akuwu telah menyerahkan sepuluh ribu saga pada Yang Mulia Ratu Angabaya Kediri untuk membeli besi dari Sofala?" "Sampai sekarang belum ada sekepal pun yang datang, Yang Mulia." "Orang bilang, pabrik itu selalu riuh." "Banyak senjata rusak belakangan ini, Yang Mulia, terialu banyak dipergunakan untuk menghalau perusuh." "Kapan terakhir Yang Mulia Akuwu menitahkan membikin senjata baru?" "Tahun lalu, Yang Mulia, dan belum bisa dikerjakan sampai sekarang ini. Empat ribu pedang, lima belas ribu tombak lempar, dan empat ribu tombak tangan. "Empu Gandring, kau yang terahli dalam membikin senjata, aku panggil kau menghadap karena merasa kuatir akan kesela-matanku sendiri di hari-hari belakangan ini. Sebagai kepala pabrik senjata kiranya kau mengetahui jumlah senjata yang ada di Tumapel ini, baik di tangan perusuh atau pun balatentara Tumapel. Dari manakah kiranya para perusuh itu mendapatkan senjatanya?" "Setidak-tidaknya, Yang Mulia, bukan bikinan sahaya yang ada di tangan kaum perusuh itu. Boleh jadi mereka membelinya dari Gresik, boleh jadi juga dari Kediri sendiri." "Kau mencurigai Kediri, Empu?"

"Hanya dugaan, Yang Mulia. Baik di Tumapel maupun Kediri, semua pandai besi berada dalam pengawasan negeri. Tetapi tidak mustahil pejabat-pejabat yang rakus itu menjualnya untuk dirinya sendiri. Besi dari Sofala itu terlalu kotor, dan tak bisa ditentukan secara pasti berapa sampahnya. Dari perhitungan yang tidak pasti itu mereka dapat memperkaya dirinya." "Lihatlah. Gandring, aku panggil kau pada waktu Sang Akuwu pergi. Bukankah kau tak pernah dipanggil menghadap?" "Tak pernah, Yang Mulia." "Kaulah satu-satunya yang mengetahui tentang senjata yang ada di Tumapel ini. Aku mengadu padamu, aku kuatir akan ke-selamatanku pribadi. Bukankah aku diambil dari desa, ditempatkan di pekuwuan ini bukan untuk mengalami kematian di ujung senjata para perusuh?" Empu Gandring terdiam dan berpikir keras. "Kerusuhan semakin meruyak di mana-mana. Adakah kau tidak melihat, bahwa senjata bikinanmu pada suatu kali membunuh aku? Mungkin juga membunuh dirimu sendiri pula?" "Ampun, Yang Mulia, demikianlah sudah kehendak para dewa, hanya untuk membunuhlah gunanya senjata. Waktu Hyang Pancagina turun dari Gunung Hyang, berjalan ke barat selama sehari dan semalam, sampailah ia di kaki Gunung Semeru. Di situlah ia melihat dua orang kakak-beradik sedang berkelahi. Si abang terbanting ke tanah, lehernya digigit sampai putus, dan matilah ia. Hyang Pancagina bertanya pada pemenang itu: Telah aku ajarkan pada kalian berbagai kepandaian. Sekarang kau berkelahi dan membunuh abangmu sendiri dengan gigi dan jari-jarimu. Mari ikuti aku, akan kuajari kau membikin senjata. Juga hewan

membunuh lawan dan mangsanya dengan gigi dan kukunya. Dengan senjata buatanmu sendiri itu kelak kau akan berbeda daripada binatang. Demikianlah, Yang Mulia, dengan senjata itu manusia tidak lagi menjadi hewan, karena dia telah bisa membunuh dengan senjata." "Biadab! Hanya sudra yang bisa punya cerita begitu hina." "Ampun. Yang Mulia, sahaya hanyalah sudra hina." "Jadi karena kaulah manusia bukan binatang lagi, kaulah pusat kemanusiaan." "Ampun, bukan itu maksud sahaya. Pusat kemanusiaan akan tetap kaum brahmana. Apalah artinya sudra hina ini dibandingkan dengan mereka? Dengan Yang Mulia Paramesywari?" "Dengan sadarmu kau menjadi empu agar manusia dapat bunuh-membunuh dengan layak?" "Bukan, Yang Mulia, sudah sejak manusia lebih dari tiga, sejak itu juga mereka berbunuh-bunuhan, dan untuk itu para dewa mengadakan kasta brahmana untuk menyelamatkan mereka dari haus darahnya sendiri." "Dalam hal itu kau benar. Walau demikian, kau memandang dunia ini dari segi bunuh-membunuh." "Tidak, Yang Mulia. Lihatlah, sekiranya sahaya tidak membikin senjata, siapakah yang bisa mempertahankan Tumapel dan keselamatan Yang Mulia?" Empu Gandring menunduk dan menelan senyumnya sendiri.

"Baiklah, memang ada kemuliaan dalam hadmu. Sekarang aku hendak bertanya padamu: bagaimanakah sikapmu bila pada suatu kali aku terancam mati karena kerusuhan makin memuncak?" "Tidak mungkin, Yang Mulia. Para perusuh tidak memusuhi Yang Mulia. Mereka membuat kerusuhan untuk mendirikan Hyang Syiwa." "Apakah kau sendiri bukan Syiwa?" "Sahaya adalah seperti Sang Akuwu apa agama raja, itulah agama sahaya." "Wisynu." "Wisynu, Yang Mulia." "Kalau Sang Akuwu jadi Syiwa?" "Maka Syiwalah sahaya." Ken Dedes membuang muka. Kemudian dengan cepat ia menatap Empu Gandring yang duduk di bawahnya: "Kau pembikin senjata agar orang bunuh-membunuh tidak seperti binatang, kau sendiri ternyata yang paling membutuhkan keselamatan." "Inilah sahaya."

"Ya, itulah kau. Tapi bagaimana kau tahu para perusuh itu tidak memusuhi aku?" "Seorang brahmani putri seorang brahmana terkemuka ..." "Kerusuhan itu sudah ada sebelum aku ada di pekuwuan." "Sama saja, Yang Mulia, semua tidak akan melukai Yang Mulia. Tentara Tumapel tidak akan mengusik Yang Mulia. Perusuh demikian juga." "Mengapa tentara Tumapel tidak akan mengusik aku?" "Karena Yang Mulia Paramesywari Tumapel." "Maksudmu orang Wisynu pun tidak akan mengusik aku?" "Pasti tidak. Yang Mulia." "Bagaimana kau bisa tahu?" Empu Gandring memegang lambang dewa yang tergantung pada dadanya, mengangkat muka, dan: "Demi Hyang Pancagina." "Kau bersumpah pada dewamu, kehormatanmu. Dan kau tidak persembahkan segala seluk-beluk yang kau ketahui."

"Ada waktunya sendiri, Yang Mulia. Hanya, yang perlu Yang Mulia ketahui, ada beberapa tamtama yang selalu memperhatikan keselamatan Yang Mulia." Sekaligus Dedes membayangkan Dadung Sungging, tetapi dia hanya prajurit, bukan tamtama. "Bukan perwira?" "Yang Mulia, jangan percayai perwira mana saja dari Tumapel ini. Mereka semua sanak-keluarga Sang Akuwu. Dan Yang Mulia Tunggul Ametung adalah sudra, sejauh sahaya ketahui sejak ia muda." "Terimakasih atas kebaikanmu, Empu." "Kalau Yang Mulia memerlukan, sahaya bersedia menceritakan semua tentang Sang Akuwu, siapa orangtuanya, bagaimana naiknya sampai menjadi Akuwu ..." "Tenmakasih, Empu, barangkali lain kali," ia menyeka bibir dengan setangan,"Sungguh engkau orang mulia hati. Bahwa kau memperhitungkan keselamatanku, sudah menjadi bukti dari kebaikanmu, sekalipun engkau orang Wisynu, dan sekalipun engkau sangat mementingkan keselamatanmu sendiri sebagaimana halnya dengan diriku. Aku ingin selalu berhubungan denganmu. Siapa yang dapat menghubungkan, Empu?" "Pada suatu kali akan Yang Mulia temui seseorang dengan berkalung bintang emas kecil pada dadanya, bintang Hyang Pancagina, Yang Mulia." "Terimakasih, Empu yang baik hati, kau boleh pergi."

Desas-desus yang ditiupkan oleh Belakangka mendapatkan bumi yang subur: Setelah Tunggul Ametung kehilangan putranya yang pertama, ia ingin segera terbebas dari enam putranya yang selebihnya, dengan demikian, hanya anak dari Paramesy-wari-lah yang bakalnya jadi pewaris Tumapel tanpa penggugat. Tak ada di antara prajurit Tumapel yang mengambil sikap terhadap desas-desus itu. Bagi mereka hidup atau matinya para Kidang bukanlah urusan mereka. Di antara para tamtama memang ada yang tersenyum dalam hati. Tumpasnya para Kidang akan membuka kemungkinan bagi mereka untuk naik jadi perwira. Belakangka juga meniupkan: sudah berkali-kali Tunggul Ametung mohon perkenan dari Kediri untuk menempatkan putra-putranya jadi kepala-kepala kawasan Tumapel, tetapi selalu ditolak oleh Sri Baginda. Kediri tidak suka melihat Tumapel menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Pandita Negeri itu tidak mempunyai keyakinan Sang Akuwu akan bisa mengatasi kerusuhan dalam negerinya. Ia bekerja sebagai yang ia bisa untuk menarik kesetiaan kawula Tumapel pada Kediri. Orang yang tak lagi bakal mampu memberinya emas itu sudah tak perlu ia timbang berat lagi. Satu-satunya yang jadi penghalangnya adalah Ken Dedes. Ia mengetahui benar, Paramesywari itu didukung oleh para perusuh. Untuk meredakan kerusuhan, Lohgawe harus ditekan untuk dapat mempergunakan Dedes sebaik-baiknya untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Ia tahu suami-istri itu belum pernah nampak rukun. Dan dua-duanya menentang dirinya. Paramesywari bisa tetap. Akuwu boleh berganti.

Tetapi munculnya Arok menjadi masalah yang agak sulit baginya- Para perusuh itu takut atau sebaliknya patuh padanya. Buktinya, ke mana ia mendatangi mereka, tak pernah diberitakan ada anak buahnya yang tewas. Hanya Tunggul Ametung yang tidak pernah memperhatikan. Kekuasaan seluruh balatentara ada pada tangannya, seperti penguasa-penguasa wangsa Isana semua. Tetapi Akuwu, tak pernah mengetahui pedalaman balatentaranya sendiri. Seperti sewaktu masih jadi gerombolan liar yang menindas desa demi desa, ia menganggap semua anak buahnya patuh pada dirinya, hanya karena pribadinya. Ia telah berhasil memasukkan anak buahnya ke dalam barisan pengawal Sang Akuwu yang memeriksa pendulangan Kali Kanta, dan daripadanya mengetahui: pendulangan itu telah ditinggalkan sama sekali, baik oleh para budak mau pun para jajaro, rumah Gusti Putra telah rusak, dinding-dindingnya bertebaran, peleburan emas telah hancur, tinggal hanya padang batu yang masih utuh. Juga lenyapnya pendulangan menimbulkan teka-teki baginya. Dan ia tidak berani mempersembahkan ini pada Kediri, karena ia sendiri mempunyai kepentingan pribadi. Kediri pun tak pernah menanyakan sumber emas Tumapel. Sang Akuwu sendiri menganggapnya sebagai rahasia negeri sendiri dan takkan mengatakan pada siapa pun. Sumber emas itu adalah miliknya pribadi. Ia menduga, Aroklah yang telah menyulap pendulangan itu menjadi daerah kosong tanpa manusia. Pastilah Arok telah membunuh semua orang untuk dapat memiliki semua emas yang telah tersedia. Juga Gusti Putra telah dibunuhnya. Kadang ia ragu pada pikirannya sendiri. Dan ke manakah para jajaro yang terkenal buas dan tak pernah gentar pada mati itu? Adakah mereka bisa menyerah dengan mudah untuk ditumpas begitu saja?

Atas pertanyaannya orang melaporkan: tidak ada bangkai orang nampak di pendulangan atau pun padang batu. Apakah itu cukup menjadi buka, pertempuran tidak pernah ada? Dan dengan demikian ia kerahkan pembantu-pembantunya untuk membayangbayangi Arok. Pasukan Tumapel itu berbaris laju ke selatan seakan hendak menggempur Kediri. Enam kesatuan di bawah pimpinan para Kidang merupakan benteng pemisah antara pasukan Arok di depan dan pasukan yang dipimpin sendiri oleh Tunggul Ametung. Tak ada pasukan kuda serta, karena mereka ditugaskan untuk menjaga keamanan Kutaraja. Kebo Ijo tidak berhasil mendapatkan tempat di buntut barisan. Ia langsung berada di bawah pimpinan Kidang Telarung, tepat di belakang pasukan Arok. Waktu pasukan Kidang Telarung membelok ke kanan mengikuti tikungan sungai, dari kantongnya ia keluarkan sum-pitan kecil dan melepaskan anak sumpit beracun pada pemimpinnya. Telarung memekik kemudian roboh tanpa bersuara lagi. Pasukan Arok berjalan terus tanpa menoleh ke belakang. Prajurit barisan terakhir lari ke depan dan melaporkan kejadian itu padanya. Ia hanya mengangguk. Dan pasukannya berjalan terus. Tentara Tumapel terhenti semua di tikungan. Kebo Ijo membuang sumpitannya ke samping dan menolong pemimpinnya, memperlihatkan diri sedang sibuk mencari sebab-sebab bencana itu dan memerintahkan anak buahnya untuk menggotongnya ke pinggir jalan di bawah pohon.

Tunggul Ametung mengerutkan dahi melihat balatentara yang tersekat itu dan melarang turun dari kuda. Mengetahui Kidang Telarung telah menghembuskan nafas penghabisan ia membungkuk! mayat anaknya dan memerintahkan Kebo Ijo dengan tiga regu kembali ke Kutaraja membawa mayat. Setelah mendengar desas-desus Tunggul Ametung sendiri menghendaki kematian para Kidang, orang tidak terkejut melihat peristiwa itu Tunggul Ametung naik ke atas kudanya lagi dan dengan bentakan memerintahkan balatentara berjalan terus. Pasukan Arok telah jauh meninggalkan mereka, sengaja lari. Arok menuju langsung ke tempat perkubuan Hayam barang tiga ribu depa sebelah barat dari tikungan Brantas[Sekarang masuk wilayah Kesamben]. Tepat sebagaimana direncanakan, barang dua ribu depa sebelah barat tikungan, dari kiri jalan pasukan Tanca melakukan serangan mendadak dengan tombak lempar dan panah. Kacau balau tentara Tumapel. Buntut barisan itu dengan sendirinya membelok ke kiri untuk membikin lingkaran kepung terhadap penyerang, menyebar berlarian ke arah Sungai Brantas yang hanya dua ribu depa dari jalan negeri. Mereka tidak bisa bergerak lebih lanjut, tersekat oleh ranjauranjau bambu. Tak lama kemudian pasukan Umang, pasukan wanita yang hanya bercawat itu menyerang dengan anak panah yang dapat dilepaskan empat sekaligus. Dengan pedang lebar Oti memimpin regunya dan melanggar daerah ranjau itu untuk menebangi prajurit Tumapel yang didendaminya. Ia memekik, meraung, mengayunkan pedang lebarnya dengan tangan perkasa. Dalam sebentar waktu

pedangnya telah bermandi darah para prajurit yang tersekat oleh ranjau dan tak dapat membela diri. Umang memerintahkan pasukannya untuk segera menarik diri dari kemungkinan serangan pembalasan, Oti menolak mundur. Ia ditinggalkan oleh anak buahnya dan menyerbu seorang diri untuk memuaskan dendamnya Melalui jalur-jalur bebas ranjau ia lari menikam dan menebang, memekikkan kata-kata yang tak ada seorang pun mengerti artinya. Melalui jalur bebas itu juga ia menembusi daerah ranjau, membelok ke kiri, menerobosi hutan belantara dan menggabungkan diri dengan buntut pasukan Umang. Pasukan Tanca melarikan diri seluruhnya ke arah Sungai Bran-tas, kemudian membikin tikungan tajam ke kiri dan memasuki daerah ranjau dengan pasukan buntut Tumapel yang sudah bergelimpangan dalam jebakan. Pasukan itu terus bergerak melingkar ke arah buntut baru lawannya. Pasukan Arok terus lari meninggalkan tentara Tumapel, membelok ke kiri meninggalkan jalan negeri, memasuki jalur antara jalan raya dan Sungai Brantas, langsung mengepung perkubuan Hayam. Tanca telah gagal memancingnya keluar dari perkubuannya. "Arok datang!" pasukan Arok berseru-seru. "Jangan sampai bertempur! Keluarkan Hayam!" "Arok datang!" pasukan Hayam berteriak menyambut. "Jangan lebih mendekat!" "Keluarkan Hayam!" Enam ratus prajurit Arok itu makin ketat mengepung perkubuan Hayam.

"Dengan satu gelombang serangan kalian akan hancur-binasa. Menyerah kalian!" teriak Arok. "Keluarkan Hayam!" Dan yang keluar menghadapi Arok bukan Hayam, seorang setengah umur berjubah coklat berkalung emas dan bertongkat gading. "Diam kau, Arok! Kau, yang sudah khianati teman-teman sendiri bersumpah melawan Tumapel dan Kediri sekarang justru ikut dengan Tumapel, melawan teman-teman sendiri menyembunyikan emas rampasan dari teman-teman sendiri ... Dengar itu, kalian, pengikut-pengikut Arok! Tangkap oleh kalian musang berbulu macan itu!" "Dengarkan semua prajurit Arok!" teriak Arok. "Barangsiapa percaya pada mulutnya, inilah Arok, tangkap dan lumatkan dengan tombak kalian." "Orang tidak percaya pada Arok, orang lebih percaya pada seorang brahmana," orang berjubah itu mencoba mempengaruhi semua orang. "Apakah Arok? Sejak kecil bernama Temu, mendapat sedikit kemenangan bernama Borang, sekarang, dalam barisan Tumapel bernama Arok! Orang lebih percaya padaku, Arya Artya, brahmana." "Katakan lebih cepat!" pekik Arok, "dan keluarkan jagomu, si Hayam Lumang Celukan." "Tak perlu! Sebentar lagi pun kau akan dilumat oleh anak buahmu sendiri. Keroyok dia!" perintah Arya Artya pada anak buah Arok. "Keroyok dia, perintahku. Dengarkan perintah brahmana, kalian sudra, anak-anak tani dan tukang!"

"Yang Suci Arya Artya!" seorang warok berteriak, "Yang Suci belum pernah berbukti berbuat sesuatu untuk kepentingan kami." "Tanpa berniat laksanakan perintah brahmana kalian telah menantang Hyang Yama." "Dia anggap dirinya Hyang Yama sendiri," pekik Arok. "Dengarkan suara brahmana palsu itu. Dengarkan aku, kalian, tak ada brahmana menggunakan nama para dewa untuk kepentingannya sendiri, kecuali brahmana palsu." Dan ia memekik, "Hayam, singkirkan brahmanamu ini, keluar kau, dan hadapi Arok.Jangan bersembunyi pada tengkuk anak buah! Kau, penghasut, pemfitnah!" Hayam tak juga keluar. Arok memerintahkan satu regu untuk mengawasi jalan negeri, agar tidak tersusul oleh tentara Tumapel. "Dan kalian, anak buah Hayam. jangan angkat senjatamu. Biar kita semua selesaikan pertengkaran ini. Keluarkan pemimpinmu, seorang warok yang tak dapat dipercaya mulutnya itu." "Lumatkan Arok!" perintah Arya Artya. "Sama saja nilaimu dengan Hayam, brahmana! Dengan modal fitnah dan hasut hendak dapatkan segala-galanya." "Katakan kau tidak khianati teman-temanmu sendiri, bergabung dengan balatentara Tumapel."

Perkubuan itu terbuat dari tumpukan balok batang kayu. Nampaknya Hayam telah menyiapkannya dengan terburu-buru setelah mendapat tantangan Tanca. Ia tahu akan kalah perbawa dan kalah jumlah. Ia tidak mengeluari tantangan dan lebih suka berlindung di balik balok-balok. Menarik pasukan lebih ke barat ia kuatir akan tertumbuk oleh tentara Kediri. Menarik ke utara ia hanya menemui padang rumput dan daerah pegunungan yang tak menguntungkan. Menarik diri ke selatan menyeberangi hutan Lodaya dan hutan pegunungan Kendeng Selatan pasukannya akan kelaparan. Maka ia lebih suka tetap berdiri di tempat menguasai lalulintas air dan darat. Arok berdiri di atas tunggul kayu, melihat seluruh daerah perbentengan Hayam. Anak buah Hayam dengan tombak di tangan berlindung di balik-balik pohon mendengarkan semua perselisihan. "Kalau kau jujur," pekik Arya Artya dengan mengamangkan tongkatnya, "jelaskan pada semua temanmu ini, yang di luar maupun di dalam perkubuan, mana saja emas yang kalian peroleh selama ini. Jangan ragu-ragu, katakan!" "Kau brahmana palsu yang rakus akan emas. Dari mana asal tombak dan pedang di tangan orang-orang semua ini? Apa kau kira dari brahmana Arya Artya? Siapa yang membantu keluarga mereka, yang semua teman ini telah tinggalkan kalau bukan emas kami bersama? Setidak-tidaknya belum pernah Arya Artya membantu, biarpun hanya dengan sebutir beras. Apa kau kira hanya orang-orang yang nampak olehmu ini saja yang membutuhkan biaya?" "Penipu! Jangan percayai mulutnya."

"Kalau begitu terangkan, berapa yang sudah aku tipu. Bukankah tidak lain dari Hayam sendiri pemegang semua benda ber-bentuk emas? Keluarkan Hayam Lumang, biar dia terangkan lebih jelas. Hayam, keluar kau!" Hayam keluar dari balik dinding balok. Dua tombak ada pada tangannya, kiri dan kanan. Pada pinggangnya tergantung pedang lengkung sempit. "Jangan gegabah mulurmu, Temu. Tombak ini bisa masuk ke tenggorokanmu. Betul aku yang mengurus emas sebelum penyerbuan ke Pendulangan. Setelah itu lain lagi yang terjadi, semua hasil kau kangkangi sendiri. Kau mencoba tidak akui?" "Hei, semua pengikut Arok!" pekik Arok."Satu-satunya emas yang aku punya hanya mata uang ini," ia keluarkan dari pinggang mata uang emas dengan huruf tak terbaca dan dengan gambar kepala orang sampai leher itu. "Ini pun pemberian kalian pada pertemuan tahun yang lalu. Adapun emas dari pendulangan, semua telah dalam pengurusan Gusti Putra." "Gusti Putra punggawa Tumapel, Arok prajurit Tumapel. Apakah itu suatu kebetulan?" "Berapa yang kau perkirakan emas pada Gusti Putra?" "Tiga puluh ribu saga!" "Penipu!" bentak Arok. "Bukan tiga puluh ribu saga. Dengarkan yang baik, semua yang mencurigai aku atau percaya padaku: lebih dari tujuh puluh ribu saga." Arya Artya pucat. Tongkatnya jatuh dari tangan.

"Dengarkan kalian, jangan ada yang keliru dengar: lebih dari tujuh puluh ribu saga." Anak buah Hayam yang bersiaga dari balik-balik pohon kehilangan kewaspadaannya, keluar dari persembunyian masing-masing dan berjalan mendekati Hayam. "Beri kami penjelasan," tuntut salah seorang- "Kau mengatakan Hayam, kau sendiri yang memasuki rumah Gusti Putra. Kau bersumpah demi Hyang Pancagina, tiga puluh ribu, katamu." "Dia penipu kalian! Tak ada sebanyak itu." "Arok," seorang dari dalam perkubuan bertanya, "Benarkah kau menipu dengan jumlah sebesar itu?" "Pada saatnya kalian semua akan dapat melihat sendiri, tidak secuwil pun bakal kurang, apabila pembiayaan sehari-hari tetap dikeluarkan oleh Hayam. Lihat, Hayam telah lari dari kita membawa kalian Tanyakan padanya, berapa sisa yang ia telah bawa?" Arya Artya duduk pada sebongkah batu besar, kehilangan lidahnya. "Jelaskan, Hayam.!" desak anak buahnya. "Kau seorang Warok, patut bisa dipercaya oleh anak buahmu." "Rampok-rampok yang rampok-merampok!" pekik Arya Artya. Ia bangun dari duduknya dan berjalan hendak meninggalkan perkubuan.

"Untuk perlindungannya Hayam mengambil orang luar, brahmana palsu itu!" pekik Arok, kemudian menegurnya dalam Sansakerta, "brahmana yang karena emas telah lupa daratan lupa lautan, menyarangkan diri di tengah-tengah anak-anak muda yang punya perkara sendiri. Cih!" Arya Artya berhenti berjalan dan menamatkan pandangnya pada Arok. "Jawab, Hayam!" pekik orang-orang dalam barisannya sendiri. "Arok, berapa kirakira yang masih ada padanya?" "Pengeluaran belakangan ini memang tiga kali lipat. Semestinya masih ada sebelas ribu saga padanya." "Penipu!" raung Hayam dan melemparkan tombaknya pada Arok. Barisannya sendiri serentak mengepung Hayam dan melucutinya dari semua senjatanya. "Jawab dengan kata!" pekik mereka beramai-ramai. "Kaulah sendiri yang tidak jujur." "Jangan biarkan orang luar itu mengetahui semua tentang kita," perintah Arok pada anak buah Havam. Sepucuk tombak melayang. Arya Artya terjungkal di tanah bermandi darah.

"Terkutuk, kau, Arok, sudra pembunuh brahmana!" seru Arya Artya sebelum menghembuskan nafas penghabisan. Mulutnya menyeringai, kemudian tak keluar lagi kata-kata daripadanya. "Lepaskan, aku!" pekik Hayam. "Kaulah kiranya warok palsu," pekik anak buah Havam dengan muka tiada terkendali. "Jangan bunuh dia," teriak Arok. "Buka pintu perkubuan." Orang berlarian membuka. Tapi Hayam tetap tertelikung tangan dalam kepungan anak buah sendiri. Barisan Arok masuk ke dalam perkubuan dan melingkar menjadi gelang raksasa mengepung Hayam. Hayam sendiri dipaksa berlutut dan tangan tetap tertelikung: "Aku tahu kalian hendak bunuh aku secara hina." "Tidak," bentak Arok. "Kau yang pernah berjasa pada kami semua, kau tidak layak mendapatkan maut secara hina. Lepaskan dia" Hayam berdiri sambil membersihkan lututnya. Matanya menyala-nyala menyemburkan dendam. "Sebentar lagi tentara Tumapel akan datang kemari. Kalian, anak buah Hayam, bersorak-sorai perang kalian bersama prajuritku. Kami akan mundur, dan kalian

mengejar. Kami akan masuk dalam tubuh tentara Tumapel, dan kalian menyerang. Kami akan keluar dari tubuh Tumapel, menyerang kalian, dan kalian lari ke selatan, melewati perkubuan ini, seberangi Brantas, berhenti di sana. Mengerti?" Hutan itu gegap gempita oleh pekik jawaban. "Pilihlah pimpinan kalian sendiri. Angkat seorang warok baru." "Hayam Lumang tak layak jadi warok," seseorang mengusulkan. "Jatuhkan hukumanmu, Arok." "Apa keinginanmu?" "Biarkan aku lalu meninggalkan tempat ini, meninggalkan kalian semua. Jangan hinakan seorang bekas teman." "Adakah Arok dan semua temannya pernah menghinakan orang? Mengapa kau takut dihinakan? Kau adalah sepenuhnya apa yang kau perbuat sendiri terhadap semua kita. Maju." Hayam melangkah maju lambat-lambat. Ia berhenti di hadapan Arok dengan dendam menyala-nyala pada matanya. "Beri aku kesempatan tinggalkan tempat ini." "Kau tidak akan mengkhianati kami semua di tempat lain, bekas warok! Berikan dia tombak!"

Seseorang memberikan padanya sebilah tombak tangan. Secepat kilat ia mulai menyerang, menggunakan sikap Arok yang belum menyiapkan diri. Dalam mengelakkan jojohan, Arok melangkah ke samping, tertumbuk oleh akar dan jatuh terbalik. Orang terpekik melihat Hayam menyambar lambung Arok. Pimpinan tertinggi itu melompat bangun dengan kulit teriris dan darah mulai memerahi kain penutup celana dan celana itu sendiri. Ia mendapat kesulitan dalam menarik pedangnya. Kemudian bersama dengan sarongnya ia mulai membela diri. Hayam menyerang dengan kalap, tahu bakalnya pasti mati. Tetapi tombak yang terlalu panjang untuk perkelahian dekat itu mengganggu serangannya. Arok makin merapati. Dengan pukulan sungsang pedang bersarung ia kenai dagu Hayam sehingga terhuyung ke belakang, dan ia susulkan ayunkan kaki menyepak hulu hatinya. Hayam jatuh pingsan. Kebo Ijo tidak langsung menuju ke Kutaraja. Dengan petunjuk para jajaro yang dibawanya ia membelok bersama pasukannya, memasuki hutan, melalui jalanan setapak jajaro menuju ke pendulangan. Mayat Kidang itu mereka tinggalkan di dalam hutan tanpa penunggu. Mereka berjalan beriring. Tak bisa melangkah lebih cepat daripada yang dikehendaki. Di bawah petunjuk para jajaro mereka langsung menuju ke rumah panggung Gusti Putra. Tetapi rumah itu telah tiada sekarang tinggal tumpukan puing hitam. "Di mana disimpan emas itu?" pekik Kebo Ijo murka.

Jajaro yang tidak berlidah itu pada menuding ke arah timbunan puing hitam dan mengeluarkan suara keruh besar dari teng-gorokan. "Di mana Gusti Putra?" Mereka memberi isyarat tidak tahu. Dengan murka Kebo menendangi mereka, memerintahkan untuk membongkar puing. Tak ada didapatkan sesuatu kecuali debu, arang, tanah yang terbakar jadi bata dan batu-batu kali. Ia perintahkan membongkari bawahnya lagi, menggali tanah.Yang didapatkan hanya beberapa tulang pinggul babi. "Sambar geledek!" maki Kebo Ijo. Ia jelajahi padang batu yang sunyi-senyap, kemudian turun ke Kali Kanta yang tak kurang senyapnya. Kembali mendaki tebing ia cabut pedangnya dan memerintahkan semua anak buahnya menyisiri seluruh padang batu dan pinggiran hutan. Yang ditemukan hanya batu dan batu dan batu. Dalam kemarahannya ia ayunkan pedangnya pada kepala salah seorang jajaro sehingga belah sampai mata. Jajaro lain-lainnya melarikan diri dalam kejaran tombak lempar, lenyap ke balik hutan. "Betapa bodoh bisa ditipu oleh jajaro," gerutunya. "Terkutuk kau Empu Gandring. Dasar sudra berkepala anjing! Awas kau! Sekali lagi menipu aku ..."

Pasukannya kembali menuju ke jalan negeri melewati jalanan setapak kaum jajaro. Dan mereka tak dapatkan mayat Kidang Telarung. Kembali Kebo Ijo menjadi murka. Diperintahkannya menyisiri hutan sekitar. Dan orang mendapatkan jalur bekas mayat itu diseret, tanpa meninggalkan tetesan darah. Di bawah sebaung pohon raksasa orang melihat Kidang Telarung tidur dalam pangkuan orangutan raksasa. Tak ada orang yang takut pada orangutan. Dari tahun ke tahun jenis ini telah dibinasakan dan dapat dikatakan hampir musnah dari kawasan Tumapel. Anak-anak kecil pun berani membunuhnya. Binaung itu nampaknya sudah lama kehilangan lakinya. Ia ciumi mayat itu dengan mesra, tak mempedulikan datangnya bondongan prajurit. Malah menyobeki pakaian mayat sehingga Kidang itu telanjang bulat seperti bayi besar dalam gendongan induknya. Para prajurit berhenti dan tertawa bahak. Kebo Ijo di belakang membentak supaya bergerak lebih cepat. Mereka menggunakan galah panjang yang diruncingkan dan menyodok dada orangutan betina janda itu. Binatang itu dengan satu tangan menangkap ujung galah dan dengan tangan lain mempertahankan Kidang Telarung. Waktu sorongan galah semakin kuat, dengan hati-hati ia letakkan mayat itu di atas tanah dan dengan dua tangan mempertahankan diri sekuat daya agar runcing galah tidak menusuk dadanya. Dalam keadaan demikian para prajurit seperti juga kanak-kanak sedang menumpas orangutan selama ini mereka melingkar ke belakang hewan itu dan menghantami tubuh belakangnya dengan senjata. Binatang itu tetap memegangi ujung galah sampai matinya. Kidang Telarung hanya mengalami kerusakan pakaian. Sesampai di Kutanya hari sudah malam. Yang Suci Belakangka dan para rohaniawan merawat

dan membalurnya dengan wangi-wangian, kemudian meletakkan dalam pura, dihamburi oleh airmata ibunya. Malam itu juga Ken Dedes turun dari pekuwuan pergi ke pura untuk ikut menyatakan berdukacita pada ibu yang dalam beberapa hari telah kehilangan dua orang putranya. Perwira pasukan kuda juga hadir. Dan ia sengaja memperhatikan setiap prajurit yang dapat dilihatnya adakah mengenakan lambang Hyang Pancagina. Pura dan pelataran diterangi oleh damar-damar besar. Waktu ia turun dari pura dan memasuki halaman ke dua ia berpapasan dengan seorang tamtama yang berkalung Hyang Pancagina, kecil, dari emas, berkilat-kilat oleh sinar damar. Kebo Ijo berlutut dan mengangkat sembah. Ken Dedes berhenti sejenak untuk memperhatikan. Ia telah sering melihat tamtama yang seorang ini. Paling tidak telah empat kali. Dan selama itu sejauh teringat olehnya tak pernah mengenakan bintang Pancagina. "Kau yang membawa pulang mayat putra Yang Mulia Akuwu?" "Sahaya, Yang Mulia." "Jangan tinggalkan pura, tunggu mayat sampai ayahnya datang," perintahnya, kemudian melangkah cepat-cepat meninggalkan halaman pura, memasuki gerbang belakang pekuwuan dan hilang dari pemandangan.

Kebo Ijo tinggal di pura. Seorang demi seorang pergi, juga kemudian Belakangka. Ibu mayat itu masih tetap menangisi anaknya yang tersayang, yang selalu ingat pada kesenangannya, dan telah mempersembahkan padanya barang-barang rampasan terbaik selama ini. Sebelum kembali ke pekuwuan ia telah menemui Empu Gandring dan menyatakan kemarahannya. Dan ahli senjata itu menghiburnya dengan kata-kata ini: "Apa artinya semua emas dibandingkan dengan Ken Dedes? Semua tamtama telah di tangan kita. Kau satu-satunya turunan satria. Tak patut kau marah seperti itu pada seorang yang telah menempakan semua rencana untukmu. Kembali kau ke pekuwuan, kalungkan Hyang Pancagina ini pada lehermu. Usahakan agar Dedes melihatmu. Hanya dengan ini kau akan bisa bicara dengan orang tercantik di seluruh negeri itu. Jangan bodoh, karena dia wanita cerdas. Ingat-ingat, Tunggul Ametung rela mengorbankan apa pun untuk bisa miliki dia. Ia akan memilih Dedes daripada Tumapel." "Kau, sudra, yang hendak permain-mainkan aku!" Kebo Ijo bersungut-sungut semula, dan dikenakannya juga Hyang Pancagina. Apa aku katakan padanya?" "Katakan: seluruh balatentara Tumapel berada di bawah perintah Ken Dedes, bukan Tunggul Ametung." "Kalau dia mengadu pada suaminya?" "Kau yang sehari-harian gentayangan di pekuwuan tidak mengerti apa terjadi di sana," Empu Gandring menyesali. "Apa lagi kemudian?"

"Terangkan, bahwa balatentara Tumapel dipimpin oleh sebuah inti ... selanjutnya kau tahu sendiri" Dan Kebo Ijo tak habis-habis heran melihat Paramesywari Tumapel memerlukan berhenti dan memberinya perintah menunggu terus di pura dalam. Pikirannya mulai dibuncahi dengan impian indah: Tunggul Ametung seorang sudra. Ia anak satria. Ia benarkan Empu Gandring: sudah semestinya antara Sang Akuwu dan Paramesywari tak bakal ada keserasian. Tempat Tunggul Ametung terlalu jauh di bawah Ken Dedes. Dan dirinya sendiri jauh lebih dekat, seorang satria. Juga satria yang selama ini dihinakan oleh Sang Akuwu, tetap menjadi tamtama, tak bisa lebih tinggi dari seorang Kidang yang juga cuma sudra. Para tamtama lainnya pun tidak puas dengan sikap Tunggul Ametung, mengetahui para Kidang tak dapat dikatakan tangguh sebagai prajurit. Ia mengimpikan diri menjungkirkan Tunggul Ametung, dan Dedes mendampinginya. Paramesywari itu belum juga muncul. Pura yang sempit tanpa jendela itu panas, pekat oleh asap damar, kepulan dupa setanggi dan wangi-wangian pembalur mayat, dan berbagai macam bunga. Ia duduk bersimpuh pada pinggiran pintu. Setiap kali seakan mendengar suara ia menengok. Bahkan sekali pernah meninjau belakangnya begitu lama, dan pandangnya menerobosi dua gerbang halaman pura, menelusuri jalanan di depannya, dan berhenti pada gerbang belakang pekuwuan jauh di sana. Semua itu nampak oleh pengelihatannya. Juga dua orang pengawal yang bertugas menjaga gerbang itu.

Menjelang matahari terbit benar Paramesywari datang lagi. Para pengawal itu berhenti di depan pura. Ia pura-pura tak mendengar. Dan ia semakin menajamkan kuping. Bunyi kain pada setiap langkah Dedes terdengar sebagai gamelan yang mendayu-dayu. Dan langkah itu terasa olehnya begitu lambat. Kemudian tubuh yang menggiurkan itu melewatinya tanpa menyapa, meninggalkan wangi-wangian lain lagi. Ia langsung pergi ke tempat mayat, dan ia dengar perintahnya: "Sudah, Bibi, tinggalkan beristirahat sebentar, biar aku yang ganti mengurusnya." Wanita tua itu mengangkat sembah, berjalan merangkak meninggalkan pura, masih juga meratap pelahan, memprotes perlakuan para dewa yang tega merampas anak-anak itu daripadanya. "Siapa namamu?" tanyanya pada tamtama itu. Kebo Ijo mengangkat sembah dan mempersembahkan namanya. "Kau tamtama, bukan?" "Benar, Yang Mulia." "Namamu Kebo, mengapa hanya tamtama, bukan perwira?" "Terserahlah semua pada Yang Mulia Akuwu." "Sini, tolong aku betulkan letak Kidang ini." Ternyata Kebo Ijo hampir-hampir tak dapat bergerak dari tempatnya: ia gemetar, tubuh dan hatinya, sekalipun lelah dan kantuknya hilang kabur entah ke mana. Dedes mengangkat muka memperhatikan tamtama yang terlalu lambat bergerak itu. Dan berdebaran jantung Kebo Ijo ter-tatap sinar matanya. Untuk pertama kali ia berani mengagumi kecantikannya.

Dengan berjalan berlutut ia mendekat. "Berapa umurmu?" "Tiga puluh satu, Yang Mulia." Ken Dedes tersenyum, dan Kebo Ijo merasa disambar petir: Paramesywari Tumapel tersenyum padanya, seorang tamtama, seorang satria yang tidak dianggap oleh Tunggul Ametung! "Ada kulihat Hyang Pancagina pada dadamu." Dengan sendirinya Kebo Ijo meraba kalung emas itu: "Benar, Yang Mulia." "Jadi kau sudra." "Bukan, Yang Mulia, Satria." "Angkat ini, mari bersama aku, agak ke sanakan," mereka geser mayat itu sedikit ke kanan. "Mana bisa seorang satria mengenakan lambang dewa orang sudra?" "Hanya untuk dapat mendengarkan Yang Mulia."

"Oh? Apa hendak kau dengarkan daripadaku?" "Boleh jadi sahaya akan mendapat keberuntungan menerima riuh khusus dari Yang Mulia." Penjaga pura itu masuk, berjalan merangkak sambil mengangkat sembah, langsung menuju ke pedupaan dan memperbaiki api dan menyiramkan dupa setanggi baru. Kemudian ia pergi lagi. "Apakah penting betul titah khusus dariku untukmu?" "Akan menjadi kenang-kenangan terindah dalam hidup sahaya, Yang Mulia." "Baik. Baik. Persembahkan padaku sesuatu." "Tentang apa, Yang Mulia?" "Tentang Hyang Pancagina." "Hyang Pancagina ini adalah pemberian dari Empu Gandring." "Sudah lama kau mengenal dia?" "Semua tamtama kenal. Yang Mulia." "Mengapa semua?" "Dialah satu-satunya orang pandai di Tumapel." "Dan Belakangka?"

"Yang Suci adalah orang Kediri, bukan Tumapel" "Mengapa para tamtama saja kau sebut? Di mana kaum perwira?" "Kaum perwira hanya sanak semenda Sang Akuwu dan merupakan kelompok tersendiri." "Kelompokmu, kelompok tamtama, mengapa berkampung di sekitar Empu Gandring? Apa yang kau harapkan dari dia?" Kebo Ijo tak dapat mengendalikan diri dalam desakan pertanyaan-pertanyaan yang menggebu-gebu dan menggiringnya pada pengakuan itu. Ia kehilangan keseimbangannya, tanpa ancang-ancang tanpa pertimbangan meneruskan: "Yang Mulia, Empu Gandringlah yang membikin para tamtama bersepakat mempersembahkan semua balatentara ke bawah duli Yang Mulia Paramesywari." "Terimakasih, Kebo Ijo. Tetapi bagaimana bisa begitu? Bukankah seluruh balatentara Tumapel milik Sang Akuwu pribadi?" Kebo Ijo tiba-tiba menjadi takut pada ucapannya sendiri. Ia tak berani meneruskan. "Mengapa kau terdiam? Kurang baikkah tugas khusus ini bagimu?" Kebo Ijo gemetar. Ia merasa kepalanya seakan kini berisi angin dan hatinya penuh padat oleh maut yang mengancam-ngancam dengan seratus cara.

"Kalau Yang Mulia berkenan melindungi jiwa sahaya ..." "Adakah kau timbang Paramesywari Tumapel tidak bisa dipercaya?" "Ampun, Yang Mulia, karena ini juga menyangkut semua tamtama Tumapel." "Kau dan kalian berada dalam lindunganku, Kebo." "Itulah nilai dan kenang-kenangan terindah dalam hidup sahaya, Yang Mulia." "Kalau begitu teruskan persembahanmu. Cepat. Boleh jadi Sang Akuwu akan segera tiba." "Di bawah pimpinan Empu Gandring, para tamtama setuju mempersembahkan seluruh balatentara Tumapel, Yang Mulia." "Apa sebabnya?" "Sang Akuwu hanya seorang sudra yang disatriakan. Semua prajuritnya dianggapnya sudra, tak peduli dia satria, seperti sahaya ini. Bukankah Sang Akuwu jauh di bawah derajad Yang Mulia Paramesywari?" "Terlalu jauh." "Kami dari Gerakan Empu Gandring, Yang Mulia, lebih menghendaki Yang Mulia Paramesywari yang memegang kekuasaan Tumapel."

"Bagaimana Sang Akuwu?" "Terserah pada Yang Mulia sendiri." "Dan para perwira?" "Mereka tanpa arti tanpa kami, Yang Mulia." "Lihatlah, belakangan ini dengan cepat kerusuhan dipadamkan oleh seorang baru bernama Arok." "Arok termasuk orang yang sangat berbahaya bagi Tumapel, Yang Mulia. Kemenangannya yang cepat dan utuh di selatan dan barat, menerbitkan kecurigaan di kalangan tamtama dan perwira." "Mengapa dia berbahaya?" "Itulah, Yang Mulia, kemenangannya yang cepat dan utuh adalah permainan sandiwara untuk mencapai sesuatu yang tidak patut. Dia juga seorang sudra hina, Yang Mulia." "Tidakkah kalian keliru menduga, Kebo?" "Empu Gandring telah memikirkan semua itu. Yang Mulia." "Baiklah semua telah dipikirkannya. Tapi lihatlah: Kediri adalah Wisynu, aku Syiwa. Bukankah Kediri akan memberikan balatentaranya ke Tumapel?" "Yang Mulia, bila yang mendampingi Yang Mulia seorang satria dan Wisynu pula, dan segera menghadap ke Kediri ... tiada sesuatu yang bakal terjadi."

"Apakah semua itu pikiran Empu Gandring?" "Betul, Yang Mulia, dan para tamtama." "Betapa cepat kau dan kalian mempercayai aku, Kebo." "Karena keadaan semakin tidak tertahankan, Yang Mulia. Kerusuhan-kerusuhan yang berlipat-ganda belakangan ini terlalu banyak merampas jiwa prajurit-prajurit kami." "Bukankah gunanya prajurit untuk tewas di medan perang?" "Tidak sepenuhnya demikian, Yang Mulia. Munculnya Arok kami rasakan semakin mengkhawatirkan. Pasukannya semakin lama semakin besar, dan prajurit asli Tumapel semakin berkurang juga. Jelas dia membiayai sendiri pasukannya" "Apakah Yang Mulia Akuwu tidak mengetahui?" "Yang Mulia Akuwu terlalu memperhatikan dan mengharapkan tercapainya kemenangan atas kaum perusuh, secara me-nyolok membiarkan Arok berkembang menjadi lebih kuat. Pada suatu kali. Yang Mulia, bila kerusuhan itu telah padam samasekali, Sang Akuwu akan menghadapi lawan yang berada dalam lindungannya sendiri." "Tentu semua itu pikiran Empu Gandring, bukan, Kebo?" "Empu Gandring dan semua tamtama, ya, Yang Mulia." "Juga mereka sebagai prajurit tidak ingin tewas di medan pertempuran, bukan?" "Tewas bukan tujuan kami. Yang Mulia, tujuan kami adalah menang atas musuhmusuh Tumapel, musuh-musuh Yang Mulia Paramesywari." "Juga itu pikiran Empu Gandring dan para tamtama?" "Demi Yang Mulia Paramesywari."

"Terimakasih. Dari semua musuh Tumapel itu, Kebo, yang mana kalian anggap paling berbahaya?" "Yang Mulia, dari semua itu Yang Mulia sendiri sekarang yang menentukan Kami dari gerakan Empu Gandring hanya dhar-ma melaksanakan untuk Yang Mulia." "Baik, kau boleh pergi." Belakangka merasa puas dapat menggenggam pasukan kuda Tumapel di dalam kekuasaan Kediri. Dalam waktu belakangan ini utusan-utusannya tak pernah mengalami gangguan atau hilang di tengah jalan. Ia selalu perintahkan utusan menempuh jalan utara yang bercabang-cabang, sehingga pencegatan dan penyusulan lebih mudah dapat dihindari, kecuali bila benar-benar terpergok. Ia telah berhasil melumpuhkan Sang Patih dan para Menteri. Mereka tinggal menjadi boneka-bonekanya yang patuh. Ia dapat mengikuti dengan cermat kejatuhan Tunggul Ametung sebagai satu-satunya sudra terkuat dalam kekuasaan Kediri, karena hanya mengandalkan kekuatan belaka, kini merosot jadi kilangperang, yang tidak mengetahui ke mana jurus perkembangan dari semua ini. Ia telah mengisyaratkan pada Kediri agar sudra terkuat yang seorang ini digantikan oleh seorang satria, dan bahwa waktu untuk itu telah hampir sampai. Bila kerusuhan-kerusuhan telah dapat dipadamkan Tunggul Ametung sudah akan sangat lelah, dan keluarga Sri Baginda dengan mudah akan dapat ditempatkan di Tumapel.

Tentang Arok ia mempersembahkan, bahwa jago Lohgawe memang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda berbahaya. Ia mempunyai cara-cara perang yang sampai sekarang belum dapat difahami. Tetapi untuk memusnahkan seorang sudra sebelum mendapatkan bentuk kekuatannya yang mantap bukanlah suatu hal yang terlalu sulit. Perbedaan antara Tunggul Ametung dan Arok memang kentara, walaupun duaduanya muncul dengan cara yang sama. Yang pertama memeras teman-teman seperjuangannya yang terpercaya sampai semua tumpas dalam pertempuranpertempuran dan menggantikannya dengan anak-anaknya sendiri, yang kedua memeliharanya. Belakangka telah menemukan cara untuk menghadapi Arok sekiranya memang berhasil dapat memadamkan semua kerusuhan. Ia akan pergunakan Kebo Ijo. Ia telah mengurus pengesahan silsilahnya yang ternyata benar tanpa setitik pun pemalsuan. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Tumapel. Ibunya anak seorang pengusaha pengangkutan air, yang menghubungkan Kutaraja dengan Hujung Galuh. Ia berumur sepuluh atau sebelas tahun waktu gerombolan Tunggul Ametung mulai menyapu desa demi desa, mengerahkan penduduknya menjadi prajuritnya dan menguasai seluruh Tumapel. Waktu itu ia masih bernama Langi. Ia kuasai lalulintas air dan darat antara Tumapel dengan Kediri baik dari selatan maupun utara. Perusahaan nenek Kebo Ijo gulung tikar. Dan bukan hanya itu, bapak Kebo Ijo, Kebo Delancang, seorang perwira Kediri, telah ditumpas bersama pasukannya oleh Langi di desa Gledug. Kediri mengakui Kebo Ijo seorang dari kasta satria. Tunggul Ametung tidak menggubris.

Ia akan tampilkan satria ini untuk menghadapi Arok, dengan segerobak janji indah. Dan ia tidak tahu, juga Empu Gandring telah memilihnya untuk jadi bidak bagi gerakannya. Kastanya akan membikin ia berapi-api menghadapi si sudra Langi Tunggul Ametung. Tetapi ia belum lagi mulai mendekati satria yang tidak diakui itu. ia masih harus menunggu gerakan pembersihan di selatan. Kalau Tunggul Ametung tewas sekarang ini, keadaan akan menjadi sulit, karena seluruh Tumapel akan terlibat dalam perkelahian semua orang lawan semua orang. Dan itu berarti hilangnya pengaruh dan kekuasaan Kediri. Ia sendiri terpaksa juga harus menyingkirkan diri. Kalau Tunggul Ametung keluar sebagai pemenang, kaum perusuh di selatan dapat dikalahkan, tindakan pertama Sang Akuwu adalah menghadapi Arok. Antara keduanya harus terbit suatu permusuhan yang terkam-menerkam, dan Arok harus kalah dan Tunggul Ametung dalam keadaan lemas tanpa daya. Kalau Sang Akuwu kalah di selatan, dan sumber emas itu lenyap, ia akan pulang sebagai seorang tanpa arti tanpa kekuatan. Tak mungkin lagi ia dapat membiayai balatentara dan rumah tangga pekuwuan. Dan kalau dalam keadaan seperti itu Arok tewas, pada waktu itu ia akan munculkan Kebo Ijo ke atas panggung. Tewasnya Kidang Handayani baginya suatu pertanda baik bagi semua rencananya.Tewasnya Kidang Telarung memberinya keyakinan yang lebih kuat. Ia menunggu apa yang akan terjadi hari ini. Betapa penuh kejadian Tumapel ini...

Orang-Orang melingkari Hayam Lumang, mengangkat tombak masing-masing untuk melumatkannya. Jangan," tegah Arok. Tak rela kami Pimpinan Tertinggi dilukai dan difitnah." "Bangunkan dia dari pingsannya," perintahnya. Seseorang menyiramkan air pada tubuhnya. Hayam bergerak, kemudian duduk. "Bangun kau!" Hayam melompat bangun, menyedari keadaannya. "Berikan tombak padanya." Seseorang memberikan tombak, tapi ia menolaknya. "Berikan pedang padanya." Juga ia menolak menerima. Arok melemparkan semua senjata pada dirinya: "Hanya dengan tangan. Baik. Ayoh serang aku!" Dan Hayam Lumang, tidak juga menyerang. "Telah aku berikan kesempatan padamu mendapatkan maut yang terhormat, dan kau menolak. Kau memilih yang hina? Tidak menyesal sebagai orang bekas warok?"

"Pada saat yang terakhir ini, Arok, biarlah aku tetap menghormati dan mencintaimu. Kau telah memberikan padaku gambaran dari seorang yang patut aku ikuti sampai mati. Adapun sisa emas kita aku simpan di tempat ayahku. Ambillah itu. Tak ada sedikit pun yang kurang. Arok, jangan hinakan bekas teman dan sahabatmu ini. Berilah dia kehormatan pada saatnya yang terakhir." Arok menarik pedang dari pinggang seorang prajurit dan menghantamkannya pada dada Hayam Lumang sehingga belah, dan darah menyembur dari jantungnya. Kematian Hayam sungguh-sungguh menggocangkan pasukan Arok yang sudah berhimpun kembali jadi satu iru. Banyak yang memberengut karena kemurahan tidak dilimpahkan pada si bersalah yang mengakui segala-galanya dan menyatakan cinta dan hormatnya pada pimpinannya. Orang mulai berbisik-bisik menyatakan tidak puas. "Siapa tidak setuju?" tiba-tiba Arok berbalik dan bertanya. "Siapa yang punya anggapan Arok kejam? Tidak ada? Lihat, jangan kalian terpesona pada katakatanya yang terakhir, pada waktu dia jadi sadar kembali karena sudah tidak punya kekuatan. Bukan ucapannya yang terakhir yang menjadi nilai dari seluruh dirimu. Laku durjana pada semua temannya adalah dosa yang tidak terampuni. Selama ada senjata pada kita seperu ini, kita adalah satria, sekalipun tidak karena kasta." Orang menunduk mendengarkan, dan sunyi-senyap perkubuan itu. "Jangan ada yang sentuh dua mayat ini. Separoh dari pasukan yang aku bawa, bergabung kalian dengan bekas pasukan Hayam, lepaskan pakaian tentara Tumapel. Aku dan sisanya nanti yang harus kalian kejar."

matahari telah mulai condong ke barat waktu pengintai memberitakan kedatangan pasukan Tunggul Ametung sendiri. "Bersorak semua, bersorak perang!" Hutan itu bergema-gema dengan sorak perang gemuruh. Arok mengangkat tangan dan semua berhenti: "Kejar kami nanti sampai seberangi jalan negeri memasuki padang rumput. Bila buntut barisan sudah juga memasuki padang rumput, kami mulai berbalik, dan lari kalian kembali kemari, lari terus dan seberangi Brantas. Jangan lupa." Sorak-sorai menggemuruh lagi. Mereka bersorak dan minum, minum dan bersorak. Pengintai memberitakan pasukan Tunggul Ametung semakin mendekat, disusul oleh pasukan lain. Mereka berhenti bersorak. Pengintai memberitakan munculnya pasukan ketiga. Mereka tertawa-tawa membayangkan pertempuran aneh yang akan terjadi. "Hanya Arok kita kepala pasukan yang tidak pernah naik kuda," seseorang memperingatkan. "Kita harus sediakan kuda," seseorang menjawabi. "Ayoh, sorak lagi." Pasukan Tunggul Ametung semakin jauh meninggalkan jalan negeri menuju ke perkubuan. Mereka semakin mendekat, tinggal jarak seribu depa, lima ratus depa, dua ratus depa.

"Lari!" perintah Arok. Pasukan Arok lari terbirit-birit meninggalkan perkubuan Tak lama kemudian di belakangnya memburu pasukan bercawat. Yang mengejar bersorak-sorai, yang dikejar membisu, lari cepat membutuhkan pertolongan dari balatentara yang datang. "Kembali!" pekik Arok memperingatkan Tunggul Ametung. "Pengecut!" balas Tunggul Ametung. "Pasukan sahaya rusak, Yang Mulia." "Menyingkir!" Pasukan Arok menggabungkan diri pada Tumapel. Dalam barisan lebar pasukan pemburu itu menerjang pasukan Tunggul Ametung, melingkar dan mendesak, kemudian berbaur dalam kancah pertempuran. Anak buah Arok berteriak-teriak menganjurkan mundur, menurunkan semangat tentara Tumapel: "Lari!" "Mundur!"

"Lari!" "Mundur!" dan terus juga lari meninggalkan gelanggang ke arah jalan negeri. Arusnya akhirnya diikuti juga oleh pasukan Tunggul Ametung, sehingga Akuwu itu kehilangan kekuatan. Tubuh pasukannya tak dapat digerakkan. Akhirnya ia sendiri juga berbalik, lari lebih cepat dengan kudanya. Arus pelarian itu kemudian menenang juga pasukan yang sedang mendatangi, membawa serta dengannya prajurit-prajurit Tumapel. Arus itu semakin lama bertambah semakin tebal, menerjang dan menyeret serta pasukan buntut. Lari lurus ke utara, sampai di jalan negeri. Pasukan Arok mendahului melintasi jalan dan memasuki padang rumput di sebelah utaranya lagi. Dan pasukan pemburu itu mengejar lebih gencar. Mula-mula balatentara Tumapel bersiap hendak menikung ke timur, tetapi pasukan Arok purapura tidak tahu dan terus juga lebih dalam memasuki padang rumput. Prajuritprajurit Tumapel yang di belakangnya dengan sendirinya mengikuti. Waktu para pengejar juga mulai memasuki padang itu tiba-tiba Arok memberi perintah pada pasukannya untuk berbalik dan menghadapi para pengejar. Tunggul Ametung ikut berbalik mengikuti. Para pengejar kini dalam kejaran, lari kembali menuju ke perkubuan semula. Pertempuran sambil lari itu menjatuhkan kurban pada tentara Tumapel karena pasukan Arok menggunakan kesempatan ini menyerang mereka secara tersembunyi.

Dan matan hampir tenggelam. Mereka yang telah kehabisan nafas pada menyingkir ke pinggir kuatir terinjak-injak. Para perwira dan tamtama yang memperhatikan gerakan perang yang aneh itu sebagian mengagumi Arok, dan ada yang mencurigai-Tapi tak urung mereka lari mengejar memasuki hutan. Hujan jatuh dengan derasnya, dan keadaan dalam hutan semakin muram. Jalanan yang habis terinjak-injak oleh yang dikejar terlalu licin bagi para pemburunya. Namun mereka memasuki juga perkubuan yang kosong dan tidak mampu meneruskan pengejaran. Api unggun dinyalakan dalam hujan itu dan pemeriksaan kubu dilakukan oleh Tunggul Ametung. Ia memerintahkan memperbaiki semua perkubuan. Waktu ia mendapatkan mayat Arya Artya, Arok yang membawakan obor damar. Akuwu itu memeriksa muka mayat itu, meludah ke tanah dan bergumam: "Kau tahu siapa dia?" "Tahu, Yang Mulia, Arya Artya." "Mayat siapa yang lainnya?" "Hayam Lumang, pemimpin perusuh di selatan ini" "Siapa yang membunuh mereka?" "Pasukan sahaya dalam penyerangan pertama." "Mengapa engkau lari?" "Dari seberang Brantas mereka mendatangkan terlalu banyak balatentara." Para Kidang dan tamtama mengawasi Arok dengan pandang tajam. "Mengapa hanya Arya Artya dan kepala perusuh yang mati?"

"Mereka membawa lari korbannya." "Mereka yang dua ini tak dibawa lari?" "Sahaya tidak tahu alasan mereka. Barangtentu suatu pancingan yang jahat." "Apa maksudmu dengan pancingan yang jahat?" "Dapat diduga mereka akan lakukan serangan di malam hari," jawab Arok. "Maka hanya ada dua kemungkinan, meninggalkan tempat ini atau terus mengejar." "Kami akan tinggal di sini. Kau menjaga tepian Brantas." "Pasukan kami tidak mencukupi, Yang Mulia." Tunggul Ametung tidak menggubris. Arok dan pasukannya berangkat pada saat itu juga. Ia tahu Tunggul Ametung takut diserang oleh pasukan perusuh lain yang menyerang pertama. Ia membutuhkan penginapan dengan penjagaan yang kuat. Hujan mulai reda waktu pasukan Arok sampai di tepi Brantas. Ia panggil Lingsang, pemimpin baru pengganti Hayam, dan memerintahkan padanya untuk mengirimkan urusan pada Tanca agar menyerang tentara Tumapel sebelum mereka sarapan menjelang matahari terbit. Ia panggil kembali semua pasukannya dari seberang dan minta seperempat dari jumlah bekas pasukan Hayam. Sebelum matahari terbit tentara Tumapel telah bergerak meninggalkan perkubuan. Sebuah gelombang besar perusuh melanda dari jurusan barat, seakan-akan dari Kediri. Perkelahian yang seru segera terjadi.

Sebelum berangkat pasukan Kidang Gumelar telah diperintahkan oleh Tunggul Ametung untuk menikam pasukan Arok yang berjaga di tepi Brantas dari belakang. Tetapi serangan mendadak telah mengubah pikiran Tunggul Ametung. Seorang utusan berkuda telah diperintahkan memanggil kembali, dan memanggil semua pasukan Arok untuk membantu. Jarak antara perkubuan dengan pinggir Brantas di selatan tidak sampai seribu depa. Utusan susulan itu tak dapat memburu. Kidang Gumelar telah mulai menyerang dengan tiba-tiba, tanpa mengetahui, pasukan Arok telah berkembang lebih besar daripada sebelumnya. Arok selalu mencadangkan kemungkinan akan datangnya usaha pemusnahan dari Tunggul Ametung. Sang Akuwu tidak pernah rela melihat segala sesuatu yang bersifat Syiwa. Dan pasukan Arok hampir seluruhnya orang Syiwa. Kidang Gumelar bersorak sorai menyerbu dan segera ditadahi dengan lebih gencar. Pertempuran dalam hutan tanpa lapangan itu menguntungkan pasukan Arok yang biasa bergerak dalam hutan. Kidang sendiri memberi aba-aba dari atas kudanya tanpa maju menyertai pasukan. Akhirnya ia berada di buntut barisan. Pasukan Arok menghindari serangan dan melingkar ke belakang. Kidang Gumelar dirunduk dari belakang dan ditangkap hidup-hidup dan kudanya dirampas. Pasukan itu kemudian mendesak tentara Tumapel dari punggungnya. Mereka lari sampai ke Brantas. Sebagian menceburkan diri, mencoba menyeberang menyelamatkan kulitnya masing-masing. Dan di seberang sana ditadahi oleh pasukan Lingsang. Utusan berkuda itu berseru-seru menyampaikan titah Sang Akuwu untuk menyelesaikan pertengkaran, dan menarik semua pasukan untuk membantu pertempuran di dekat jalanan negeri.

Arok memerintah binasakan utusan itu. Tamtama itu terbalik dari kudanya dengan pinggang tertembus tombak. Ia kumpulkan semua anak buahnya dan memerintahkan agar lebih waspada terhadap penikaman Tunggul Ametung dari belakang. Barisan itu meninggalkan tempat pertempuran menuju ke jalanan negeri. Arok berjalan di depan di atas kuda Kidang Gumelar. Dan Kidang itu sendiri terikat tali digiring di buntut pasukan. Wakil Arok dalam pasukan, Handanu, mengiringkan di belakangnya di atas kuda bekas utusan, membawa panji-panji pasukan berwarna hitam kuning. "Di depan!" perintah Arok. "Naikkan tinggi-tinggi panji itu, dan serukan kedatangan Arok." Ia menengok ke belakang, "dan semua kalian, perkeras seruannya!" Pasukan itu seakan bukan meninggalkan perkelahian yang habis dimenangkan, tapi dari asrama untuk berparade, dengan setiap prajurit berseri-seri penuh kepercayaan diri dan kepercayaan pada pimpinannya. "Pasukan Arok datang!" pekik Handanu. "Pasukan Arok datang!" teriak seluruh pasukan. Panji itu diangkat tinggi. Hutan itu makin lama makin tipis kemudian muncul pertempuran besar di hadapan mereka. Handanu melengking dan pasukan Arok meraung. Panji diangkat-angkat tinggi.

Arok memacu kudanya seakan hendak menyerbu memasuki medan pertempuran. Pasukan Tanca dan Umang memecah diri kemudian melarikan diri ke jurusan Kediri. Serangan kilat mendadak itu banyak menumbangkan tentara Tumapel yang berjalan beriringan keluar dari jalanan sempit tanpa mendapatkan medan yang cukup luas untuk bertahan. Mayat bergelimpangan terkena semburan panah cepat pasukan Umang. Tunggul Ametung berbalik menunggu kedatangan Arok dan pasukannya. Matanya membeliak melihat dua kuda Tumapel dipergunakan oleh Arok dan pembawa panjinya. Dan Arok langsung datang ke depan Tunggul Ametung, tidak turun dari kuda dan menatap Tunggul Ametung. "Kau bukan perwira, tak berhak menaiki kuda itu." "Lihatlah, Yang Mulia, sahaya terikat pada persetujuan untuk menjaga keselamatan Yang Mulia Akuwu. Yang Mulia Paramesywari dan Tumapel," Arok berkata dengan suara lantang. Handanu dari atas kudanya memberi isyarat pada pasukannya untuk segera maju mendekat. Juga ia tidak turun dari kuda. "Kalau bukan karena persetujuan itu, pengkhianatan dari Yang Mulia terhadap pasukan sahaya, akan sahaya jawab dengan pedang, langsung pada Yang Mulia." Tunggul Ametung menggigit bibir. "Janganlah Yang Mulia lupa, yang Yang Mulia hadapi adalah Arok. Lihatlah pasukan sahaya," katanya dengan suara lebih keras. "Setiap saat bisa lindas semua tentara Yang Mulia. Tetapi itu bukan tugas Arok dari Yang Suci Dang Hyang Lohgawe."

Tunggul Ametung belum juga mendapatkan kepribadiannya. "Pasukan Tumapel di bawah Kidang Gumelar telah sahaya tumpas dalam beberapa bentar." Ia berpaling, "bawa sini pelaksana pengkhianatan itu." Kidang Gumelar dihadapkan pada Tunggul Ametung, terikat dengan tali rotan. Kidang Gumelar berjalan menunduk mendekati ayahnya. Secepat kilat Tunggul Ametung melompatkan kudanya dan menerjang anaknya sehingga menjelempah di tanah. Ia turun dari kudanya dan mengayunkan pedang pada lehernya, putus jadi dua. Ia naik lagi ke atas kuda sambil meludah. Arok tak menggerakkan kudanya dan Akuwu menghampiri. "Jangan Yang Mulia menyangka, bahwa dengan tindakan itu Yang Mulia dapat menutupi pengkhianatan Yang Mulia." Panji di tangan Handanu memberi isyarat agar semua pasukan bersiaga untuk berkelahi. "Yang Mulia belum juga menjatuhkan titah. Maka, sedang pasukan sahaya sudah bersiaga begini, sahaya ingin mendapatkan penegasan: adakah persetujuan dengan Yang Suci Dang Hyang Lohgawe masih Yang Mulia hormati atau tidak? Bila tidak, sekarang juga tidak ada kewajiban kami terhadap Yang Mulia." "Sabar, Arok." "Sahaya tahu, Yang Mulia menghendaki jiwa sahaya. Bukan lagi persoalan sabar, Yang Mulia, tetapi hidup dan mati. Sahaya dan pasukan sahaya sama sekali tiada punya keberatan untuk menyelesaikan pertengkaran sekarang pun dan di sini pun." "Semua adalah karena salah terima perintah, Arok."

"Kalau demikian halnya Yang Mulia tidak perlu membungkam mulut Kidang Gumelar dengan pedang." Para Kidang pucat melihat nasib saudaranya. Dan seluruh balatentara Tumapel yang belum lagi sembuh terkejut dari serangan mendadak yang cepat menggelombang itu terpukau melihat Arok, seorang prajurit yang baru dua bulan di Kutaraja telah berani demikian garang terhadap Sang Akuwu. "Mari, iringkan aku pulang ke Kutaraja." "Sahaya masih menunggu jawaban. Biar semua mendengar dan tahu apa yang sedang terjadi." "Aku menghormati persetujuan dengan Dang Hyang Lohgawe." "Bagaimana penilaian Yang Mulia terhadap pekerjaan sahaya dalam gerakan pembersihan daerah selatan ini?" Tunggul Ametung melihat pada pasukan Arok. Ia tahu pasukan itu tidak lebih sedikit, sebaliknya. "Tak ada di antara pasukanmu yang berkurang," katanya. "Hanya balatentara Tumapel mengalami rusak," ia mengerutkan gigi, kemudian berbalik, "kawal aku sampai ke Kutaraja." Dengan muka masam Tunggul Ametung bergerak maju dan dengan lambai tangan memerintahkan tentaranya berangkat, meninggalkan semua korban yang bergelimpangan.

Tentara Tumapel bergerak, berjalan melangkahi bangkai-bangkai temannya dan tidak memahami keadaan baru yang datang mendadak itu. Mereka mulai kehilangan semangat tempur dan kegairahan. Memasuki Kutaraja hari telah sore. Pasukan Arok mendapat perintah dari pemimpinnya untuk memekikkan sorak kemenangan. Sorak itu bertalu-talu, tapi barisan di depan Tunggul Ametung tak berani menyambut Orang-orang keluar dari rumah masing-masing untuk menonton. Seluruh balatentara itu berhenti di depan pekuwuan. Tunggul Ametung dalam iringan Arok dan Handanu menaiki tangga dalam sambutan Ken Dedes yang nampak cantik jelita, yang Suci Belakangka, Sang Patih dan para Menteri. Di depan pekuwuan pasukan Arok masih juga memekikkan sorak kemenangan. Tetapi tentara Tumapel tetap tak berani menyambut. Mereka gelisah, melihat Arok muncul lebih unggul daripada Tunggul Ametung. Ken Dedes membawa suaminya naik ke pendopo yang telah digelari dengan hidangan, daging babi dan kambing, karena kaum Wisynu menurut adat tidak makan daging hewan yang membantu pertanian. Akuwu itu tidak duduk di pendopo, langsung masuk ke Bilik Agung. Dengan demikian Paramesywari menjadi protokol penjamu para pimpinan balatentara yang pulang membawa kemenangan. Arok turun dari pendopo dan memanggil semua pimpinan, memerintah para prajurit pulang ke asramanya masing-masing.

Tengah malam setelah upacara Akuwu memanggil Yang Suci dan menceritakan segala yang telah terjadi di selaun, kecuali pembunuhan yang dilakukannya sendiri atas Kidang Gumelar. Dimintanya Belakangka berangkat menghadap Sri Baginda untuk memohon bantuan balatentara, semua atas tanggunganTumapel. "Tetapi Yang Mulia," jawab Belakangka, "bila balatentara Kediri datang, bukankah itu merupakan ancaman terhadap kedudukan Yang Mulia sendiri? Bukankah dalam upacara pengangkatan Yang Mulia dulu ditentukan, Yang Mulia akan menjabat kedudukan dan pangkat selama Yang Mulia dapat mempertahankan Tumapel?" Belakangka tidak menduga, bahwa perkembangan telah mencapai puncak baru. Kini ia baru mengerti mengapa hanya pasukan Arok saja dari seluruh balatentara yang bersorak-sorai. Tetapi ia pun tetap waspada terhadap kecerdikan Tunggul Ametung. Jangan-jangan Akuwu sengaja menggiringnya ke Kediri untuk dibuatkan kecelakaan dan dengan demikian Kediri akan kehilangan keterangan tentang Tumapel. "Kediri berkewajiban untuk memberikan perlindungan setelah sekian lama Tumapel mempersembahkan upeti. Bukankah Tumapel kawula Kediri dan bukan budak?" "Yang Mulia, terlalu keras kata-kata itu terdengar, dan bisa membangkitkan murka Sri Baginda." "Yang Suci, inilah permohonan terakhir dan tergawat dari Akuwu Tumapel pada Yang Suci. Aku tak melihat ada jalan lain."

"Baik, beri Bapa ini satu regu pasukan kuda." "Yang Suci akan mendapatkannya besok pagi." Keesokan harinya ia berangkat dengan kereta dalam pengawalan satu regu pasukan kuda. Tetapi ia tidak melanjutkan perjalanan ke Kediri. Ia berhenti di desa Sumberpetung. Dua orang kepercayaannya diperintahkannya meneruskan perjalanan untuk mempersembahkan pada Ram Angabaya, bahwa keadaan Tumapel gawat, tetapi belum membutuhkan bantuan balatentara. Ia bermaksud tinggal di sana sambil memata-matai Sang Akuwu dan Arok. Lewat tengah malam ia menjatuhkan perintah agar pengawalan pekuwuan dipegang langsung oleh Kebo Ijo dan pasukannya, dan melarang prajurit lain di luar kesatuannya menginjak kawasan pekuwuan. Setelah itu dengan pengawalan kuat ia pergi ke pura untuk melihat abu dan mayat putra-putranya. Mula-mula ia menghampiri guci batu tempat abu dan mengheningkan cipta. Kemudian pada mayat yang terbaring di bawahnya tertutup beberapa lembar kain. Ia buka penutup mukanya dan di bawah sinar damar nampak olehnya kebiruan muka mayat itu. Tiba-tiba ia menengadah, kemudian kembali meneliti warna mayat yang biru, dan mendadak menutup mukanya dengan dua belah tangan dan menangis tersedusedu. Ia mengerti Kidang Telarung mati karena pengkhianatan, karena peracunan. Ia bangkit berdiri dan mengangkat pedangnya, lari masuk ke pekuwuan dan mendapatkan Dedes sedang nyenyak tidur. Dengan muka masih basah karena airmata ia bangunkan Paramesywari dan berbisik terputus-putus:

"Tolong aku." Dedes buru-buru turun dari ranjang dan meneliti wajah suaminya. Kemudian: "Katakanlah, Kakanda." "Uruslah agar pasukan Kebo Ijo sekarang juga ditarik dari pekuwuan. Ganti dengan pasukan lain." "Pasukan siapa yang Kakanda lebih percaya?" "Barangkali salah seorang di antara para Kidang." "Bukankah semua mereka sedang berkabung?" Melihat Akuwu ragu-ragu dan gugup, ia meneruskan, "Apakah kesalahan Kebo Ijo? Dia seorang satria, lebih patut mendapatkan kehormatan ini." "Singkirkan dia dari pekuwuan. Pergilah. Urus dengan para Menteri." "Siapa kemudian yang mengawal aku? Bukankah prajurit-prajuritnya juga?" "Biasanya kau ... bukankah kau seorang dewi kebijaksanaan? Segeralah," katanya tanpa daya. Dan Dedes pergi meninggalkan Bilik Agung.

Tunggul Ametung duduk di peraduan dengan pedang telanjang di sampingnya. Ia menyedari kini: balatentara Tumapel tak lagi dapat dipercaya, bukan lagi andaiandainya. Sementara itu ia membenarkan sikap Dedes yang menolak pembantu dan pengawal Bilik. Bila tidak mungkin sudah lebih dahulu seseorang mengkhianatinya sewaktu tidur. Seorang demi seorang di antara para kepala pasukan ia jajarkan di hadapan mata batinnya. Para Kidang yang pertama-tama tak dipercayainya karena perkawinannya dengan Dedes. Pasukan kuda makin lama makin dekat pada Belakangka, dan Yang Suci merasa lebih aman dalam pengawalan mereka. Arok? Dengan terang-terangan ia telah nyatakan sikap padanya, telah berani menghadapkan pasukannya pada balatentara Tumapel di tengah medan pertempuran. Kebo Ijo? Ia yakin Kidang Telarung dibunuh oleh pasukannya, olehnya sendiri atau oleh suruhannya. Ia sebagai satria yang tidak pernah diakui, dia mempunyai alasan. Ia masih muda dan dengan kematian itu mungkin menganggap lebih dekat pada haknya atas Tumapel daripada para Kidang. Ingin ia membina-sakannya, tapi kini ia belum berani, belum mengetahui betul kekuatan yang di belakangnya. Namun ia akan menghancurkannya. Padanya sekarang tinggal Dedes, yang tidak dimusuhi oleh siapa pun, kecuali barangkali oleh para selir saja dan istrinya. Dan balatentara Kediri? Bila datang? Ia tahu kedudukannya akan terancam, tetapi jiwanya akan selamat, juga hartanya, juga Paramesywarinya. Ia harus yakin: semua kesulitan tak lain daripada bea untuk anak kebesaran yang bakal lahir. "Kau menang, Dedes!" bisiknya meratapi kedudukannya yang tidak menentu.

Ia merasa sangat, sangat lemah, tanpa penunjang begini. Ia harus pergunakan Dedes untuk menyelamatkan dirinya .... Dengan mempersiapkan segala-gala dalam pikirannya ia datang ke asrama Arok. Dan para kemit tidak mengijinkan ia masuk sebelum mendapat perintah dari Arok sendiri. Para pengawal dari pasukan Kebo Ijo bahkan mereka tahan. Arok keluar untuk menyambutnya. Untuk pertama kali di depan orang lain ia tidak mengangkat sembah. "Bahkan Paramesywari tidak kau ijinkan masuk," protes Dedes. "Silakan masuk, Yang Mulia," sambut Arok. "Siapa pun memang tak dapat memasuki asrama ini kecuali Yang Mulia. Silakan." Dan Paramesywari tidak masuk. Dalam Sansakerta ia sampaikan pada Arok tentang persembahan Kebo Ijo, dan perintah Tunggul Ametung untuk menggantikan pengawal pekuwuan. "Dedes, anak Mpu Parwa, sampaikan pada Kebo Ijo untuk menemui aku dalam sebulan ini." "Baik. Bagaimana tentang penggantian pengawal?"

"Jangan pasukanku. Tunjuk olehmu yang lain saja. Kau akan dikawal malam ini oleh prajurit-prajuritku." Ken Dedes pergi dalam pengawalan para prajurit Arok. Baginya tak ada lain yang didatangi kecuali pasukan Kidang. Dan ia menjatuhkan titah: Tanpa seorang Kidang. Seorang tamtama segera menyiapkan pasukannya dan berbaris mengiringkan Paramesywari memasuki pekuwuan. Ken Dedes memanggil Kebo Ijo dan memerintahkan masuk ke asrama pada saat itu juga. "Apakah kesalahan sahaya, yang Mulia?" Kebo Ijo berkata dengan suara gemetar. "Maju mendekat kau, Kebo!" perintahnya. "Apakah yang telah kau perbuat di selatan?" "Tiada sesuatu, Yang Mulia." "Juga aku dengar Kidang itu tewas sebelum bertempur, dan pasukanmu yang menjadi saksi, atau lebih dari itu." "Tiada seorang pun tahu tentang sebab sesungguhnya, Yang Mulia. Bukankah sebaiknya ada pemeriksaan teliti?"

"Untuk itu seluruh pasukanmu tidak diperkenankan keluar dari asrama. Dan ingatingat," suaranya menjadi sangat pelahan, "Hitung harinya, dalam sebulan ini kau harus menghadap pada Arok." Dengan kaki gemetar Kebo Ijo meninggalkan pekuwuan. Malam itu juga prajurit-prajurit Kebo Ijo yang ditahan oleh pasukan Arok dihadapkan pada Arok. Delapan orang itu dalam keadaan terlucuti duduk berbanjar di bawah sebuah damar besar "Siapa di antara kalian berdelapan mau menceritakan peristiwa kematian Kidang Telarung?" Seseorang mulai bercerita. "Baik. Aku percaya." "Apakah peristiwa itu kalian anggap kecelakaan ataukah pengkhianatan?" "Bukankah sebaiknya Dalung yang menjawab?" "Apakah Dalung belum juga dipersembahkan pada Yang Mulia Paramesywari atau Akuwu?" "Sejauh kami ketahui, belum." "Mengapa Kebo Ijo tak lakukan itu?" Tak berjawab.

"Apakah Dalung pernah ditolak, kalian tolak, waktu hendak memasuki pekuwuan?" "Kami mendapat perintah melarang siapa pun masuk." "Selama kalian mendapat tugas kawal. Sebelum itu?" "Kami tiada tahu." "Di sebelah mana Kebo Ijo waktu peristiwa itu terjadi?" "Di belakang Kidang." "Baik. Ada terdengar desas-desus yang berasal dari kalian sendiri. Sewaktu membawa pulang mayat Kidang kalian tidak langsung ke Kutaraja. "Langsung." "Jangan kalian lupa, kalian dalam kekuasaan pasukan Arok," dan Arok menyodorkan lodong tuak pada mereka. "Kalian datang lebih dulu dari kami. Kami sekarang sangat mengantuk. Minum, dan jangan tunda-tunda jawaban." Mereka minum. "Benar? Langsung ke Kutaraja?" tanya Arok. "Jangan lupa, malah seorang di antara teman-temanmu bilang tidak, membelok ke sesuatu tempat untuk mencari petai hampa. Orang itu akan kami ungkap dan kami hadapkan pada kalian. Jangan lupa, kalian dalam tangan pasukan Arok." mereka tidak menjawab.

"Baik, kalian tak mau menjawab. Tentunya mau menerangkan padaku: apa arti petai hampa?" "Tak ada di antara kami berdelapan pernah mengucapkan itu. "Baik. Tidurlah kalian." Mereka pergi- Arok duduk pada ambin asrama dan segera dikelilingi oleh enam orang pengawalnya. "Mereka harus mengaku, Pimpinan Tertinggi. "Mereka akan mengaku. Semua usaha mereka sia-sia. Mereka menganggap Kebo Ijo begitu besar kekuasaan dan pengaruhnya. Dalam percaturan Tumapel dia tidak berarti apaapa." "Adakah Kidang benar dikhianati?" "Biar mereka yang menjawab nanti." Malam itu juga ia jatuhkan perintah untuk memperketat pengawasan terhadap Empu Gandring dan Kebo Ijo. Kemudian Arok berangkat tidur dengan pengetahuan yang pasti: Tumapel sudah ada dalam genggamannya .... RAHASIA EMPU GANDRING Seperti anjing mendekati tuannya yang membawa tongkat pemukul Kebo Ijo datang pada Empu Gandring untuk mengadukan halnya.

"Tuan tidak pernah menceritakan sebelumnya," tegur Empu Gandring, "kalau telah bunuh Kidang Gumelar dari belakang. Perbuatan terkutuk itu yang menggagalkan semua rencana. Mengapa hanya seorang Kidang tanpa arti Tuan binasakan? Bukankah rencana semula Tunggul Ametung sendiri dan Arok? Kemudian menyerbu ke pendulangan emas Kediri." "Ampuni sahaya." "Sekiranya rencana pribadi terkutuk itu sudah sahaya ketahui sebelumnya, Tuan, tidak mungkin sahaya memberikan kepercayaan pada Tuan untuk bicara dengan Paramesywari. Sekarang sudah ada orang lain mengetahui tentang gerakan kita. Semua rencana kita gagal dalam tangan Tuan. Tuan terusir dari pekuwuan seperti bukan keturunan satria. Tuan tidak merasa tersinggung, bahkan kecut. Apakah seorang Kidang yang mengusir Tuan?" "Bukan Paramesywari!" "Jagad Dewa!" "Dan perintahkan pada sahaya untuk menghadap Arok dalam satu bulan ini." "Jagad Bathara!" "Delapan anak buah sahaya telah ditahan oleh pasukan Arok dan belum juga dilepaskan sampai sekarang."

"Ah-ah, betul-betul kita dalam kesulitan, Tuan," Empu Gandring kemudian berkomat-kamit dan menyemburkan sirih ke lantai. "Panggil Dadung Sungging kemari, Tuan." "Ada di depan," ia meninggalkan tuan rumah dan balik lagi membawa Dadung Sungging. "Nah, katakan apa yang kau ketahui. Bukankah kau dari pasukan Kidang?" "Sahaya, Empu. Pertama-tama sibuknya orang dalam pekuwuan membicarakan matinya Kidang. Dalung telah dihalangi datang. Begitu ganti pengawal, Empu, seorang Kidang datang membawanya, memeriksanya di pura, dan langsung mengatakan: kematian tidak wajar, racun. Ia telah menemukan tanda-tanda aneh bekas barutan kuku binatang dan luka setengah jari dalamnya di bawah pinggang." "Itu tidak penting. Ucapan Paramesywari atau Akuwu yang aku butuhkan." "Akuwu tidak lagi keluar dari pekuwuan. Juga tidak ke pura sejauh kami ketahui. Paramesywari setiap hari ke pura seperti biasa. Sekali sahaya dapat mencuri kesempatan bicara. Yang Mulia masih tetap mempercayai sahaya, berpesan, bahwa ia tidak mempercayai pasukan Kidang, dan mengharap sahaya dan temanteman sahaya menjaga keselamatannya dengan baik." "Tidak membicarakan keselamatan Akuwu?" "Tidak, hanya dirinya sendiri." "Tak ada suara-suara tentang Arok atau aku?" "Tidak ada, Empu." "Juga tidak tenung sesuatu yang bernama Gandring?" "Tidak, Empu." "Cukup." Dan Dadung Sungging pergi. "Bagaimana sekarang Tuan?" unya Kebo Ijo.

"Tuan terlalu menyusahkan, tidak mendengarkan petunjuk." "Sahaya memang sudah bersalah besar." "Tetapi nanti sebagai Akuwu Tuan bisa mengulangi dan meli-pat-gandai kesalahan Tunggul Ametung. Barangkali Tuan sudah punya rencana mengusik-usik orang Syiwa pula. Tuan telah gagal dalam menumpas Tunggul Ametung dan Arok pada waktu mereka justru sedang terlena. Sebenarnya kebinasaan mereka akan bisa memunculkan Tuan di medan perang. Tuan tinggal berseru-seru: Inilah Kebo Ijo, semua kini aku ambil-alih. Sayang, Tuan, kesempatan itu Tuan sia-siakan." "Berilah sahaya petunjuk bagaimana mesti bersikap terhadap Arok. Paramesywari telah menjatuhkan perintahnya." "Lihat, tuan ternyata juga belum berhasil mempengaruhi Ken Dedes. Dia hendak menggunakan Tuan untuk jadi penghubungnya. Itu yang Tuan harus mengerti." "Seluruh balatentara Tumapel telah sahaya persembahkan padanya." "Tuan tidak bisa membuktikan kebenaran ucapan Tuan sendi-ri. Tuan menyingkir setelah diperintahkan pergi. Celakanya Tuan juga tidak menyedari itu suatu ujian dari Paramesywari." "Jagad Dewa!" sekarang Kebo Ijo yang menyebut.

"Seorang satria seperti tuan semestinya tidak lakukan rangkaian kesalahan seperti itu." "Baiklah. Sekarang, Tuan beri sahaya nasihat bagaimana hams menghadapi Arok keparat ini?" "Tuan nampaknya segan padanya." "Segan?" Kebo Ijo tertawa sumbang. "Segan? Apakah arti Arok? Hanya karena titah Paramesywari sahaya harus datang padanya." "Kalau segan, Tuan tak perlu datang padanya." "Anak buah sahaya yang delapan? Mereka bisa berkicau di bawah lecutan cambuknya." "Pulanglah Tuan. Biar sahaya pikirkan dalam beberapa hari ini. Sedang Tuan sendiri, seorang calon satu-satunya untuk Akuwu Tumapel, hendaklah belajar bijaksana." Empu Gandring mengantarkan Kebo Ijo keluar pelataran rumahnya dalam iringan pengawalan yang kuat. Beberapa bentar kemudian mereka hilang ditelan kegelapan malam. Menjelang tengah malam datang seorang tamtama, juga dalam pengawalan kuat. Tuan rumah sudah tidur waktu anjingnya menggonggong gila. Ia keluar untuk menjemput tamunya dan langsung membawanya masuk.

Anjing itu terus menggonggongi para pengawal. Tiba-tiba suaranya padam, dan tak ada seorang pun memperhatikan. Para pengawal itu duduk-duduk memunggungi rumah, dalam kegelapan malam. "Berita celaka, Tuan," Empu Gandring memulai. "Kebo Ijo memang terlalu dungu, dan nama sahaya sudah terlanjur terbawa-bawa oleh si goblok itu." "Seorang yang hanya cocok untuk umpan pertama, Tuan," tamtama itu menyetujui. "Celakanya pula dia tidak berani menghadapi Arok." "Sudah tercium desas-desus dialah yang membunuh Kidang Telarung. Memang hanya cocok untuk umpan pertama," tamtama itu menegaskan. "Cuma dia satria di Tumapel, Tuan. Puh, negeri desa tanpa satria ini. Orang Kediri pun segan memasuki negeri ini. Bagaimana pun darahnya lebih mulia daripada Tunggul Ametung. Dengan keberanian dan kecerdikan dia bisa bangunkan negeri. Kebo Ijo ini cuma punya darah!" "Kita lepaskan dia, Tuan. Bagaimana dengan senjata yang dijanjikan? Arok makin mendesak, sedang prajurit-prajurit angkatan baru itu tak punya sikap terhadapnya. Sahaya tidak mengerti sikap mereka. Seperti tidak peduli. Sikap yang tidak bisa ditebak justru yang bisa bikin salah hitung." "Mereka akan berpihak pada yang berani ambil tindakan dan menang. Tunggul Ametung mengunci diri dalam pekuwuan. Arok tidak akan mengambil tindakan.

Ingat Tuan pada ucapannya di selatan? Dia terikat pada persetujuan antara Lohgawe, dan Tunggul Ametung membenarkan. Dia tidak akan berbuat sesuatu terhadapnya. Tindakan hanya bisa datang dari pihak kita." "Jadi, bagaimana senjata yang dijanjikan?" "Gampang, Tuan." "Sahaya ragu-ragu akan kegampangannya. Sudah lama besi tidak masuk ke Tumapel." "Sebut nama Empu Gandring, dan gudang senjata akan terbuka." "Berikanlah segera. Kita harus menghadapi Arok." "Hanya setelah dapat sahaya pastikan waktunya. Kita belum lagi mencapai persetujuan tentang pembagian hasil yang akan dicapai. Demi Hyang Pancagina." "Tuan, kita semua orang sudra." "Hanya sahaya yang menentukan." "Dan kekuatan Arok yang semakin merajalela?" "Tunggulah."

Tamtama itu pergi dalam kawalan kuat. Empu Gandring mengiringkannya keluar. Waktu tamu sudah hilang dalam kegelapan Empu Gandring memanggil-manggil anjingnya. Binatang itu tidak menjawabi. Ia masuk ke dalam dan keluar lagi membawa damar. Binatang itu ia dapati mati terkena tikaman beracun. Ia angkat bangkai itu dengan satu tangan, dibawa masuk. "Alamat tidak baik," bisikannya pada diri sendiri. "Memang Kebo Ijo keparat. Pantas ditembak dari belakang, hina tanpa sedikit pun kehormatan." Ia letakkan bangkai itu di atas meja dan dipasangnya pedupaan di depan moncongnya, kemudian berbisik pada kuping bangkai itu: "Tim, kau yang sejak kecil aku pelihara, aku sayang dan aku manjakan, katakan padaku kapan waktunya aku harus gerakkan senjata yang telah di tangan ini. Kau, jangan sia-siakan jerihpayahku selama ini. Kau telah dengarkan aku." Kutaraja setiap hari melihat para tamtama dan perwira dalam pengawalan besar. Orang menduga pertempuran akan meletus di ibukota. Tetapi tiada yang tahu antara siapa dengan siapa. Hanya pasukan Arok tinggal tenang dalam asrama. Tetapi prajurit-prajuritnya yang berpakaian preman banyak berhamburan mengawasi segala perubahan yang terjadi. Pemasukan hasil laut tetap terhenti. Bahan makanan semakin sulit. Balatentara Tumapel tak mengijinkan penduduk mengungsi, takut mereka akan bergabung dengan para perusuh di luar kota. Tetapi kiriman bahan makanan ke asrama pasukan Arok terus mengalir. Waktu iring-iringan kiriman mulai diganggu oleh pasukan-pasukan lain, bahkan dirampas, Arok mulai memerintahkan mengeluarkan patroli. Kadang-kadang ia sendiri dalam iringan satu regu.

Dan penduduk ibukota, yang tidak mengerti seluk-beluk kegentingan, tidak berpihak pada siapa pun. Mayat Kidang Telarung telah dibakar dalam upacara kecil di halaman pura. Bisikdesus semakin berkembang, dia mati dikhianati. Nama Kebo Ijo sebagai wakil kepala pasukan Kidang Telarung mulai dihubung-hubungkan orang dengan pengkhianatan itu. Namun mereka tidak dapat memahami kegentingan sekarang. Belakangka kembali dari Sumberpetung dalam iringan pasukan kuda, seperti seorang akuwu. Dari desa itu ia telah kirimkan utusan ke Kutaraja minta tambahan pengawalan untuk dapat memasuki Kutaraja sebagai wakil Kediri dengan selamat tak kurang suatu apa Ia masuki ibukota dengan keyakinan: dengan modal pasukan kuda ia akan dapat tegakkan kewibawaan Kediri, ia telah mendengar laporan dan mau-maunya tenung meruncingnya perselisihan antara Tunggul Ametung dengan Arok. Juga telah mendengar tenung kedudukan Kebo Ijo yang sulit: didesas-desuskan membunuh seorang Kidang dan diusir oleh Paramesywari. Keretanya bergerak pelan-pelan menuju ke asrama pasukan Kebo Ijo. Kunjungan itu membikin Kebo hidup kembali. Ia berlari-iarian menyambut, berbesar hati melihat barisan kuda yang meramahi pasukannya. Begitu Belakangka turun dari kereta ia segera berlutut, membersihkan kakinya dan mengangkat sembah.

"Semoga para dewa tetap melindungimu, anakku." Belakangka memulai, "aku hendak bicara sesuatu denganmu. Naiklah ke kereta, biar kita bisa bicara terangterang." Kebo Ijo mengangkat muka, menduga pasukan kuda datang untuk menculiknya, dan: "Dengan kereta dalam iringan pasukan kuda begini, pengawal sahaya tentu tak dapat melindungi sahaya." "Apakah pasukan kuda kurang cukup kuat?" "Terlalu kuat terhadap sahaya, Yang Suci." "Patutkah kau mencurigai aku? Mari naik. Jangan buang-buang kesempatan sekali ini, kalau tidak, kau akan kehilangan untuk selamalamanya." Pikiran Kebo Ijo goyah. Tanpa menimbang-nimbang keselamatan dirinya ia iringkan Belakangka naik ke kereta. Kendaraan itu bergerak mengelilingi Kutaraja, sengaja dipamerkan bahwa ada kekuatan lain yang selama ini dilupakan orang. Dalam berkendara berkeliling itu terjadi percakapan ini: "Sri Baginda telah memahami keadaan Tumapel sampai sekecil-kecilnya. Disimpulkan, bahwa perkembangan yang buruk ini bersumber pada satu sebab: Arok si Syiwa yang durhaka itu. Dia ternyata hanya alat dari Dang Hyang Lohgawe. Ucapan Arok di medan pertempuran itu jelas bersangkutan dengan kesetiaannya pada Lohgawe, bukan pada Sang Akuwu yang dilindungi oleh Kediri. Maka jalan yang terbuka dan pertama-tama hanya membinasakan brahmana terkutuk itu." "Yang Suci," Kebo Ijo megap-megap. "Memang tidak sembarang prajurit berani membinasakan seorang brahmana. Kau sendiri juga gentar. Hanya Tunggul Ametung berani lakukan itu Berani hanya karena bodohnya. Ajaran lama mengatakan: brahmana adalah semulia-mulia orang, karena dia di tempat terdekat pada para dewa. Tetapi Lohgawe bukan brahmana yang semacam itu. Dia mengusik semua orang di Tumapel, penghujat Hyang Wisynu dengan perbuatannya. Bagaimana pendapatmu?"

"Sahaya hanya seorang prajurit, Yang Suci." "Jadi kau tidak berani." "Bukankah pada Yang Suci ada pasukan kuda?" "Untuk apa aku bicara denganmu? Tidakkah kau mengerti maksud-maksud Kediri atas dirimu?" "Aduh Dewa Bathara, sampai setinggi itu karunia dilimpahkan pada sahaya, Yang Mulia?" "Jangan sebodoh Tunggal Ametung." "Tetapi tentang Dang Hyang Lohgawe itu. Yang Mulia, amit-amit, sahaya tiada keberanian sekarang dan kemudian." "Tidak apa, kalau itu tidak mungkin. Kalau begitu tangan-tangan Lohgawe yang harus dipenggal - Arok, Kebo, anakku." "Mengapa tidak langsung Tunggul Ametung, Yang Mulia?" "Jagad Dewa. Bagaimana kau bisa bicara begitu? Sang Akuwu masih dalam lindungan Kediri."

"Jadi untuk apa sahaya harus hadapi Arok?" "Masih kau tidak mengerti? Dengarkan: Kediri akan membantu Tumapel dalam tiga bulan ini bila kerusuhan tidak teratasi. Kini kegentingan pindah dari luar kota ke dalam kota. Semua ini disebabkan Arok, si keparat itu. Kalau dia mau, sekarang juga, dan Tumapel jatuh ke tangannya." "Bukankah masih ada pasukan sahaya dan pasukan kuda?" "Pasukanmu? Tentu! Hanya kau terlalu ragu-ragu, atau mungkin terlalu hati-hati. Pasukan kuda hanya baik untuk perang terbuka. Dalam perkelahian awut-awutan yang bisa terjadi di ibukota, dia tidak berdaya, kecuali dengan kerjasama pasukan kaki." Sahaya telah diperintahkan oleh Yang Mulia Paramesywari untuk mengunjungi Arok." "Baik, bicaralah dengannya, jajagi keinginannya. Boleh jadi kau bisa tundukkan dia hanya dengan kata." "Yang Suci..." Kebo megap-megap. "Kau tidak percaya pada pasukanmu sendiri." "Yang Suci, bukan begitu." "Pasukan kuda akan membantu pengawalmu."

Mereka tidak memperhatikan mata penduduk yang melihat kereta dalam iringan pasukan kuda dengan pandang tidak peduli..... Iring-iringan itu melewati pekuwuan dan asrama-asrama prajurit. Seperti telah diatur sebelumnya di depan asrama pasukan Arok di dekat pekuwuan pasukan kuda itu bersorak dan mengangkat tinggi-tinggi tombak mereka yang dihiasi dengan bendera warna-warni. Mereka sengaja melambatkan langkah, dan prajuritprajurit Arok tidak menanggapi, juga tidak keluar untuk menonton. "Lihat, pasukan Arok tidak menjawab pameran kita ini." Kebo Ijo melirik ke asrama Arok. "Perlihatkan dirimu di jendela." "Yang Mulia," Kebo Ijo megap-megap. "Ayoh, biar mereka tahu, pasukan kuda dan pasukanmu bersatu, dan di belakangnya adalah aku, Belakangka, wakil Kediri. Ayoh!" Ia dorong Kebo Ijo, memaksanya memperlihatkan diri di jendela kereta. "Ya," Belakangka memegangi pinggangnya. "Tinggal dulu di situ, biar mereka cukup mengenal kau. Apa yang kau takuti? Takkan bakal ada tombak menyambar batang tubuhmu." Belakangka masih juga memegangi pinggangnya. "Tersenyum menantang, kau! Dan mengangguk-angguk, seperti kau mengerti benar, Arok sudah menjadi takut padamu." Karena Kebo Ijo hendak buru-buru menarik badan dari jendela, Belakangka menindas punggungnya dengan lutut. Dan pasukan kuda itu masih juga bersoraksorak. Asrama Arok telah dilewati. Belakangka menarik lututnya dan melepaskan pinggang Kebo. "Senyum kau tadi?" "Senyum, Yang Suci." "Kalau tidak. kita terpaksa harus mengulangi sekali lagi."

"Senyum, Yang Suci, benar sahaya telah senyum." "Baik, besok atau lusa pasukanmu dan pasukan kuda akan lakukan baris keliling kota." "Yang Suci, ah, Yang Suci... Para Kidang, pasukan-pasukan lain... mereka akan gusar pada sahaya." "Bukankah tidak ada perpecahan antara kalian?" "Para Kidang, Yang Suci!" "Kau takut pada para Kidang karena telah membunuh seorang Kidang?" "Jagad Dewa, tidak, Yang Suci." "Mengapa takut? Kalau begitu kau punya maksud jahat terhadap Tunggul Ametung." "Demi Hyang Wisynu, tidak. Yang Suci." "Mengapa kau takut kalau ada pada pihaknya? Bukankah kau jadi prajuritnya Sang Akuwu?" "Sahaya tidak tahu hati para tamtama. Mungkin ada di antara mereka yang..."

"Ya-ya, jadi ada di antara para tamtama yang hendak ingkar terhadap Sang Akuwu." "Bukan begitu maksud sahaya, Yang Suci." "Nah sekarang sebutkan siapa-siapa mereka..." "Ampun, Yang Suci, ampuni sahaya." "Jangan takut. Bagi Kediri, yang terpenting adalah kesetiaan Tumapel pada Kediri. Tunggul Ametung tak berarti apa-apa. Kalau ada tamtama yang ingkar, aku tidak ambil pusing. Bahkan sekiranya dia digulingkan pun aku tidak peduli. Yang penting, akuwu baru harus tetap setia pada Kediri. Nah, sebutkan sekarang nama-nama mereka. Siapa tahu mereka dapat kau ajak sepakat? Jangan lupa, kaulah orang yang paling layak menguasai Tumapel. Kediri pasti akan membenarkan. Tak lain dari aku yang akan mempersembahkan ke Kediri." "Yang Suci, betapa besar kasih Yang Suci pada sahaya." "Tidak percuma telah kuurus pengesahan silsilahmu ke Kediri. Kau seorang Kebo, anak seorang Kebo. Nah katakan sekarang, siapa-siapa tamtama yang ingkar dan akan membantumu naik?" Kereta itu kini menjurus ke luar kota. "Luar kota sekarang lebih aman," Belakangka menyisipi. "Ayoh katakan, jangan tunda-tunda keadaan yang baik ini." "Yang Suci, Yang Suci!"

"Lihat pasukan kuda di depan dan belakangmu. Apa kau tak percaya pada kekuatan dan kelincahannya? Kelincahan, Kebo, lebih penting dari kekuatan. Dia lima kali lebih cepat daripada lima kali pasukanmu. Dengan pasukan kuda dan pasukanmu, kekuatan menjadi dua puluh enam kali. Kalau para tamtama itu menyokong kau, jelaslah singgasana akuwu itu menjadi milikmu. Baik, kau tak mau sebutkan namanama mereka. Pendeknya aku percaya ada para tamtama sebagaimana kau maksudkan. Bukan?" Dan Kebo Ijo tak berani menjawab. "Jadi kedudukanmu sudah cukup kuat. Kau hanya gentar pada Arok. Sikapmu terhadap Paramesywari sungguh-sungguh tepat. Kau pergi dari pekuwuan tanpa menimbulkan onar. Hanya jangan gegabah bila hendak bergerak nanti. Beritahu aku. Dan jangan lupa, besok atau lusa, bariskan kekuatanmu mengelilingi seluruh kota, juga melalui asrama Arok." Kereta itu kembali memasuki kota. Dan Kebo Ijo telah bermandi keringatnya sendiri. Waktu kereta berhenti di depan asrama Kebo Ijo, Belakangka berbisik: "Aku tahu kau membutuhkan emas, biaya semua keperluan itu. Ada kau modal?" "Secatak pun tiada, Yang Suci." "Memalukan. Apa yang bisa kau gerakkan tanpa secatak pun? Datang nanti malam ke tempatku."

"Sahaya, Yang Suci. Betapa pemurah Yang Tersuci pada sahaya." "Semua akan aku petaruhku pada satu-satunya Kebo di Tumapel." "Bagaimana dengan Arok, Yang Mulia?" "Kita teruskan nanti malam." Kebo Ijo turun dan Belakangka pulang ke istananya. Malam itu juga tamtama itu datang menghadap dalam iringan pengawal yang kuat. Belakangka menerimanya dengan gembira, langsung menyodorkan sebuah kantong berisi lima puluh ribu catak perak dan dua ribu saga emas. "Kau akan mengembalikannya setelah berhasil, dan barang-tentu berlipat empat sebagai harga singgasana akuwu. Kau mengerti Kebo?" "Sahaya Yang Suci." "Bersumpahlah." "Demi Hyang Wisynu, sahaya akan kembalikan lima kali lipat setelah berhasil." "Aku akan masih tetap wakil Kediri di Tumapel."

"Tanpa perlindungan Yang Suci sebagai wakil Kediri, sahaya bakal tiada daya." "Setidak-tidaknya kau mengerti duduk perkara." "Bagaimana dengan pasukan kuda, Yang Suci?" "Sepenuhnya dalam tanganku, tak perlu jadi pikiranmu." "Bagaimana dengan pasukan Arok, Yang Suci?" "Untuk itu malam ini kita bertemu ..." Ruang gerak Tunggul Ametung terbatas pada Bilik Agung dan Taman Larangan. Ke Pendopo pun ia tidak, ia tahu, kecuali di bidang ketentaraan, semua Ken Dedes yang mengurus. Juga menghadapi para Menteri, Sang Patih dan Yang Suci. Ken Dedes menjadi bersemangat dengan pekerjaannya yang baru. Ia merasa trisula Mahadewa telah tergenggam dalam tangannya, juga cakra Hyang Wisynu. Setelah memanggil Dalung dan mendapatkan persembahan tentang kematian Kidang Telarung, bahwa seseorang di belakangnya telah membunuhnya dengan anak sumpit beracun, ia perintahkan Kebo Ijo datang menghadap. Dan Kebo Ijo tidak datang menghadap. Asramanya kosong.

Ia masuk ke Bilik Agung dan memberitahukan pada Tunggul Ametung, hendak menangkap Kebo Ijo. Juga memberitahukan asramanya kosong. "Dia memegang pasukan bekas Kidang. Jangan gegabah menangkap dia." "Dia harus diadili." "Dia bisa ditangkap hanya kalau sudah bisa diceraikan dari pasukannya." Paramesywari pergi lagi ke pendopo, memerintahkan memanggil Arok, dan yang dipanggil datang. "Dengarkan, Arok, Kebo Ijo telah aku panggil menghadap. Dia harus ditangkap dan harus mempertanggungjawabkan kematian Kidang Telarung. Dia tidak ada di tempat. Asramanya kosong." "Dia sedang di luar kota dengan pasukannya,Yang Mulia. juga dengan pasukanpasukan lain, juga dengan pasukan kuda." "Apakah dia mencoba membikin huru-hara?" "Jangan kuatir. Yang Mulia. Dia memang telah berhasil meninggalkan para perwira. Pasukan Kidang yang mengawal pekuwuan juga tidak bisa dipercaya lagi. Ijinkanlah semua pasukan sahaya memasuki pekuwuan, Yang Mulia." "Apakah itu perlu?"

"Kalau balatentara Tumapel sudah berhimpun di bawah Kebo Ijo demikian, kelanjutannya hanya huru-hara. Pasukan sahaya akan masuk sedikit demi sedikit sampai semua Dada tinggal. "Jadi kau melihat akan adanya perang?" "Masih ada sedikit waktu, Yang Mulia. Pasukan sahaya akan segera masuk. Kalau telah dibunyikan tengara lonceng perunggu tungguk kemit, jangan Yang Mulia lupa, larilah Yang Mulia seorang diri masuk ke pura dalam. Seorang diri, Yang Mulia. Bagaimana kesehatan Sang Akuwu, Yang Mulia?" "Aku tidak mengerti, Arok, selalu gugup tidak menentu." "Kalau begitu Yang Mulia Akuwu membutuhkan ketenangan. Huru-hara mungkin akan terlalu hebat. Sang Akuwu tidak boleh tergoncang karena itu. Tentang itu serahkan semua pada sahaya, dan semua akan beres. Hanya, harap Yang Mulia Akuwu diusahakan tenang. Kalau bisa dibius, Yang Mulia." Arok menembuskan pandang pada Paramesywari. Ken Dedes menutup tapuk maunya dan mengangguk. Dengan demikian sedikit demi sedikit mulai pagi itu anak buah Arok masuk ke pekuwuan. Dari semua keterangan anak buah yang disebarkannya Arok telah mendapat gambaran yang pasti tenung keadaan Tumapel. Dan dengan tersingkirnya para

perwira, terutama pada Kidang, ia telah mendapatkan pengkokohan dari kepastian itu. Berdasarkan itu ia mulai menyimpulkan: Pasukan Kidang yang kini masih tinggal di pekuwuan memang sengaja tidak ditarik oleh Arok untuk tidak terlalu menerbitkan kecurigaan sendiri. Ia kumpulkan mereka di belakang pekuwuan dan diberinya keterangan, bahwa Kebo Ijo telah mengambil-alih semua tentara Tumapel, dan dengan demikian hendak melawan Yang Mulia Tunggul Ametung, yang dilindungi oleh Kediri. Keadaan semacam ini akan bisa memanggil balatentara Kediri untuk melakukan penumpasan. Hanya orang dungu seperti Kebo Ijo, yang tidak mengerti. Kalau sisa pasukan Tumapel yang tinggal di pekuwuan hendak mengikuti jejaknya, berarti itu memanggil kebinasaannya sendiri. Ia mempersilakan siapa saja untuk mengikuti Kebo Ijo. Dan tak ada seorang pun yang pergi "Pada siapa kesetiaanmu. Kebo Ijo atau Arok?" "Arok!" jawab mereka "Kalian ada di antara pasukan Arok. Setiap pengkhianatan terhadap jawaban sendiri bukan tanpa akibat." "Arok!" jawab mereka sekali lagi. "Lihat," ia menuding ke arah pura,"di sana ada beberapa orang Kidang dan perwira yang sedang menyaksikan. Sekali lagi: pada siapa kesetiaan kalian?" "Arok!" "Terimakasih." Ia anggap sisa senjata Tumapel ini tidak lagi menjadi masalah yang terlalu gawat. Ia pecah-pecah pasukan itu dan ditaruhnya di bawah pimpinan anak buahnya sendiri.

Kesulitan lain yang harus diselesaikannya adalah Empu Gandring. Sebagaimana halnya dengan para sudra terkemuka, pada mereka timbul impian untuk naik menjadi akuwu. Kenyataan, bahwa Tunggul Ametung sendiri seorang sudra telah memberanikan impian mereka - para tamtama, Empu Gandring sendiri, dan terutama satria Kebo Ijo. Semua mereka menghendaki singgasana Tumapel. Di antara semua itu, yang ia anggap paling berbahaya adalah Empu Gandring. Dialah penghasut pertama agar para tamtama ingkar pada Tunggul Ametung dalam kemerosotannya. Yang memerosotkannya adalah perlawanan pemuda dan orangorang tani yang dipimpinnya. Gandring ingin memetik buah usahanya. Ia nilai Empu Gandring sebagai seorang yang cerdik, wibawanya terasa di dalam pasukan Tumapel. Ia menguasai persenjataan Tumapel. Dan ia mempersatukan para tamtama di bawah pengaruh dan perintahnya, namun mempertentangkannya satu dengan yang lain. Pada setiap orang di antara mereka ia tiupkan harapan untuk menaiki singgasana. Pada suatu ketika mereka akan berbunuh-bunuhan satu sama lain. Gandring akan keluar sebagai pemenang tanpa berkelahi, dan dengan demikian menjadi pewaris Tunggal Tumapel. Gandring telah menerima emas dan besi daripadanya, telah menempa besi itu menjadi senjata. Tetapi anak buahnya tetap belum pernah berhasil mendapatkan di mana barang-barang jadi itu telah disimpan. Dengan semua senjata pesanannya itu paling tidak Gandring akan bisa mempersenjatai pasukan kecil untuk modal untuk menumpas seorang demi seorang para tamtama sekawannya bila mereka tidak juga binasa teradu-domba olehnya. Tanpa Gandring para tamtama itu sebaliknya akan cerai-berai seperti serumpun anak ayam kehilangan induk. Ia menduga ahli senjata itu sudah banyak makan garam dan cukup rontal telah dipelajarinya. Tanpa modal itu tak mungkin dia mempunyai impian untuk menaiki singgasana.

Ia tahu apa harus ia perbuat terhadapnya. Dengan lenyapnya sudra terpelajar itu, gerakan Empu Gandring akan lumpuh, dan ia sendiri akan hanya menghadapi Tunggul Ametung, artinya: menghadapi Kediri. Ia membutuhkan banyak waktu .... Bahwa Kebo Ijo kemudian juga bergabung dengan Belakangka, terarak dalam pengawalan pasukan kuda dalam satu kereta, bisa terjadi karena kelemahan Kebo dan pasti karena kelobaan Belakangka. Balatentara Tumapel mampu bergerak tanpa perintah dan pembiayaan Akuwu hanya mungkin bila ada modal dari sumber lain. Sumber itu adalah Belakangka. Ia merasa cukup mengikuti sepak terjangnya. Kesimpulannya: kadang-kadang saja Yang Suci mewakili Kediri. Makin banyak dia menyatakan diri wakil Kediri, makin jelas dia mengharapkan keambrukan Tunggul Ametung dan menggantinya dengan orang yang runduk takluk pada dirinya. Dan Belakangka tidak akan memilih jago yang cukup cerdas. Yang demikian akan menyepaknya setelah mendapat kekuatan. Maka persekutuan dua orang itu ia anggap sebagai permainan dua ekor congcorang yang berkasih-kasihan untuk saling memangsa. Dang Hyang Lohgawe menanggapi kesimpulan-kesimpulannya: "Hati-hati, garudaku, jangan sampai ketajaman parasyu Hyang Ganesya dan irama aksamalanya terlepas dari tanganmu. Selama kau mengokohnya, kau berada dalam ketepatan kebenaran." Menerima jawaban itu langsung ia perintahkan anak buahnya menerobosi malam gelap berhujan menghubungi pasukan-pa-sukannya di utara, barat dan selatan kota, memerintahkan mengepung Kutaraja dalam tiga hari mendatang. Dengan tambahan: jangan sampai menerbitkan takut pada penduduk dan siapa saja, berlaku tenang, sopan, penolong, dan pengajak. Ia tinggal di asrama dengan hanya satu regu.

Dengan regu itu pula pada suatu siang ia mendatangi pabrik senjata. Ia mengenakan gelang dan kalung perwira Tumapel, langsung masuk dan mendapatkan empu itu sedang memeriksa nilai tombak-tombak yang baru turun dari penyepuhan. "Dirgahayu, Tuan Empu Gandring." Ia lemparkan tombak dari tangannya ke atas meja pemeriksaan. Nampak ia sangat terkejut melihat seorang perwira Tumapel berdiri di hadapannya: "Arok, perwira Tumapel, Tuan Empu." Ia menatap Arok, mengingat-ingat. "Tuan kenal siapa aku." Empu Gandring menggeleng-geleng: "Baru kali ini sahaya melihat Tuan. Nama Arok sahaya kenal tapi baru sekali ini melihat. Duduk. Tuan Arok," ia mempersilakannya pada selembar tikar yang tergelar di pojokan. "Lebih baik berdiri saja begini." "Baik. Tentunya Tuan ada keperluan penting."

"Aku datang membawa dua hal. Pertama, bagaimana warta tentang senjata yang aku pesan?" "Senjata apa, Tuan?" ia memanggil seorang pembantunya. "Bukankah kau telah menerima kiriman besi dari aku?" "Besi? Kapan kalian pernah menerima besi?" tanyanya pada pembantunya. "Bukankah tidak pernah ada selama setengah tahun ini?" "Tak pernah kami menerima kiriman besi, Tuan," pembantu Gandring membenarkan. "Baiklah. Bukankah kau sendiri yang dahulu bersumpah pada Hyang Pancagina di depan sana setelah menerima seribu saga dari aku?" "Seribu saga. Tuan? Melihat emas sebanyak itu pun sahaya tidak pernah." "Baiklah. Buka gudang senjatamu." "Kami di sini tak punya gudang senjata, Tuan. Setiap senjata yang selesai, langsung dikirimkan ke pekuwuan." "Baiklah Di gudang nomor berapa senjata disimpan?" Empu Gandring tertawa terbahak. Kemudian:

"Semestinya Tuan, seorang perwira Tumapel, lebih tahu." "Baiklah. Sekarang urusan yang kedua. Yang Mulia Akuwu telah menjatuhkan titah agar kau datang menghadap." Empu Gandring pucat. Ia berpaling ke mana-mana. "Siapa Tuan cari? Kebo Ijo? Dia sudah dipanggil lebih dahulu, dan sampai sekarang belum datang menghadap. Dia telah dianggap menyangkal titah. Nasibnya sudah jelas. Maka itu dia lari membawa pasukannya ke luar kota. Sayang sekali Tuan tidak punya pasukan. Mari!" "Sebaiknya sahaya pulang dulu. Tuan, untuk berpakaian yang lebih tertib." "Tidak perlu," tegah Arok; dan pada pembantu empu, "harap kalian ketahui, Tuan Empu dititahkan menghadap Yang Mulia Akuwu." "Jangan, Tuan," pembantu empu itu menegah balik. "Jangan bawa empu kami. Pekerjaan akan macat seluruhnya." "Baik, kau pun ikut serta dengan kami," ia tangkap lengan pembantu itu. Orang itu menghantam lengan Arok dengan tangannya yang lain, lepas, dan melarikan diri. Berteriak: "Selamatkan empu kita!"

Ratusan pekerja itu bergerak. Beberapa orang saja lari menyerbu regu Arok untuk menyelamatkan Gandring yang telah digiring ke jalanan Sebagian terbesar raguragu. "Kalian mau menyanggah Sang Akuwu?" pekik Arok. "Balatentara Tumapel akan datang menghukum kalian." "Bohong!" pekik pembantu empu dari belakang para pekerja. "Semua balatentara Tumapel sudah ingkar pada Tunggul Ametung. Bebaskan empu kita!" Para penyerbu itu dapat ditangkis, menjadi ragu-ragu, dan mengundurkan diri. "Jangan halangi," pekik Arok. "Jangan panggil pasukan Arok. Lebih baik kalian ikuti perintahnya." Empu Gandring dibawa ke asrama Arok. Ia didudukkan di atas bangku, dan Arok memeriksanya sambil berdiri. "Kau tahu dosa-dosamu. Maka dengarkan kusebutkan satu demi satu: pertama, kerakusan menyebabkan kau suka menipu semua orang yang membutuhkan jasamu." "Sahaya tidak pernah menipu." "Kau tak perlu bantah atau jawab. Cukup kau dengarkan. Juga Yang Mulia Akuwu kau tipu sehingga senjata Tumapel tak dapat dipergunakan untuk memadamkan kerusuhan. Mau lihat bukti?"

Seorang anak buah mengantarkan pada Arok sebilah tombak bikinan Empu Gandring dan tombak prajurit Arok. "Lihat ini perbandingannya. Dengan kekurangan baja seperti ini senjata Tumapel terlalu sering kembali ke pabrikmu. Lain kekuatannya dari senjata prajurit Arok. Kau bisa lihat sendiri. Dengan buatanmu yang busuk ini kau hendak lemahkan balatentara Tumapel." "Tuan, nilai besi yang kami terima memang tidak baik." "Diam, aku tak tanya. Lihat ini, tombak bikinanmu ini kurang panjang dan kurang tipis dibandingkan dengan kepunyaan kami. Bukankah ga, angka satu ini, ciri dari pabrikmu? Kau hendak lemahkan Tumapel dengan ini, dan kau hendak memperkaya dirimu sendiri. Kau telah menerima emas dan besi dari aku, dan besi itu telah kau tempa jadi senjata, tapi kau tak bermaksud menyerahkan padaku. Aku mengerti senjata itu untuk dirimu sendiri." "Tuan!" "Kedua, dengarkan baik-baik. Melalui Dadung Sungging kau telah mematai-matai pekuwuan," ia berpaling pada anak buahnya, "panggil sini Dadung Sungging." Dan prajurit Kidang itu dihadapkan. "Inilah mata-matamu. Dia menduga, kau menyokong Paramesywari. Kau hanya menyokong dirimu sendiri. Dia melakukan perintah-perintahmu dengan suka rela, tanpa upah sekeping perak pun, karena menyangka kau orang jujur yang hendak mendirikan cakrawarti Hyang Mahadewa melalui Paramesywari. Tapi kau sendiri yang mengakui diri seorang Wisynu selama Sang Akuwu Wisynu. Sekiranya Sang Akuwu Buddha, kau pun orang Buddha. Pendirianmu di mana saja ada, yang tinggal mantap hanya kerakusanmu. Singkirkan prajurit ini!"

Empu Gandring tak lagi mencoba membantah. "Ketiga, engkau mencoba mengadu domba antara Sang Akuwu, Sang Paramesywari dan aku, melalui pesuruhmu yang menamakan dirinya Kebo Ijo, berkalung Hyang Pancagina kecil, dan seakan Sang Akuwu dan Arok adalah musuh Sang Paramesywari." "Keempat, melalui orang yang menamakan Kebo Ijo itu juga kau menyatakan seluruh balatentara Tumapel ada dalam tanganmu, dan kau mempersembahkannya pada Paramesywari. Apa nyatanya sekarang, balatentara Tumapel telah meninggalkan Sang Akuwu dan para perwiranya di bawah perintah Kebo Ijo. Kau menganggap Kebo Ijo akan serahkan itu padamu? Kau mengim-pi! Dia akan genggam untuk dirinya sendiri. Kau kira kau yang membikin dia jadi begitu penting dan didengarkan balatentara Tumapel? Kau mengimpi untuk kedua kali. Dia bisa menarik balatentara Tumapel karena emas dan perak dari Yang Suci Belakangka." Kuping Empu Gandring bergerak-gerak. "Di belakang Belakangka adalah Kediri. Di belakang Kebo Ijo bukan kau - kau yang tak pernah memberi orang sekeping perak pun. bahkan menggaruk dari siapa saja yang dapat kau kenai! Maka pada akhirnya Kebo Ijo akan datang padamu untuk menumpasmu. Bicara kau sekarang." Empu Gandring menundukkan kepala, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Jangan kau kira seluruh balatentara Tumapel bisa kalian kuasai. Lihat, ini Arok, yang tetap mempertahankan Tumapel. Dia dan pasukannya akan mempertahankannya sampai titik darah terakhir. Bukan karena imbalan uang, emas dan perak dan singgasana. Hanya karena kesetiaan pada janji. Kau sendiri sudah dengar ucapan Arok di tengah-tengah medan pertempuran, langsung di hadapan Sang Akuwu. Arok dan pasukannya akan tetap setia menjaga keselamatan Sang Akuwu, Paramesywari dan Tumapel." Dalam rubungan para prajurit itu Gandring tetap membisu. "Kau boleh bicara." Empu Gandring belum juga bicara. "Bahwa kau menipu aku, bagiku bukan soal. Pada suatu kali semua senjata yang kau sembunyikan akan jatuh ke tanganku. Pabrikmu akan dipegang oleh orang yang sekarang ini sama sekali tidak pernah kau kenal, bahkan namanya kau tidak ketahui." Empu Gandring mengangkat kepala dan menatap Arok. "Dosamu terhadap dirimu sendiri jelas: kau telah bersumpah pada Hyang Pancagina, dan kau tidak bermaksud untuk memenuhi sumpahmu. Kau kehilangan kepantasanmu menjadi penyembahnya, maka juga kau kehilangan segala hak untuk terus menjadi empu. Kau penipu diri sendiri dan orang lain dan semua orang." Gandring menunduk lagi. Kemudian ia mengangkat kedua belah tangan pada dada, menghela nafas dalam dan:

"Sahaya tahu, sahaya sudah sampai pada batas terakhir." "Sekarang kau betul. Jangan harapkan Kebo Ijo akan menolong kau, bahkan akan membunuhmu. Sebagai apa? Sebagai guru penjerumus, tidak bisa dipercayai hati manusia, tidak bisa dipegang oleh para dewa, bahkan juga tidak oleh dewa sudra Hyang Pancagina. Telah kusampaikan semua dosamu kembali padamu sendiri" "Sahava mengerti dan menyedari. Hanya, bila sahaya boleh meminta, jangan hendaknya tangan Kebo Ijo dibiarkan menyentuh badan sahaya. Berilah sahaya kehormatan tangan Tuan sendiri." "Baik. Demi kehormatanmu yang terakhir, bila kau masih punya kehormatan, kapan Kebo Ijo kau atau kalian perintahkan menyerbu pekuwuan?" "Lusa. Lusa malam." "Baik. Lusa. Kalau kau bohong, tubuhmu tidak akan dibakar, akan kami serahkan pada anjing-anjing pekuwuan. Dan Tim, anjingmu yang telah mati itu, akan datang ikut menyantap tubuhmu." "Demi kehormatan sahaya terakhir."

Siang itu Arok menghadap Paramesywari untuk mendampinginya dalam menghadapi pameran kekuatan Kebo Ijo. Pasukan Arok dan Kidang yang tetap di pekuwuan diperintahkannya menarik diri ke belakang pekuwuan. Seluruh Tumapel sepi, tak ada berani keluar dari rumah. Hanya anjing dan babi dan kucing berkeliaran di jalan-jalan. Hujan turun sebentar, deras, tetapi hari tetap gelap oleh mendung tebal yang tergantung di langit. Kilat tak henti-henti mengerjap, diikuti oleh petir dan guruh. Tetapi hujan tak juga turun lagi. Dedes mengawasi Arok yang duduk di bawah di hadapannya. Pikirannya melayang pada masa dua bulan yang lalu waktu Arok datang ke pekuwuan untuk pertama kali, dan ia mengandung dua bulan. Kini kandungannya telah berumur empat bulan, dan balatentara Tumapel sedang balik gagang melawan ayah dari kandungannya. Ia tahu, balatentara itu tidak memusuhi dirinya. Dan siapa pun yang menggantikan Tunggul Ametung akan mengangkatnya sebagai Paramesywari, karena kasta dan karena kecantikannya. Juga ia tahu orang menghendaki jiwa suaminya. Dan ia menitikkan air mata. Suaminya kini terbujur nyenyak termakan bius ringan. Para Menteri dan Sang Patih Tumapel telah kemarin melarikan diri bersama keluarga masing-masing ke arah timur, daerah yang belum pernah mengalami kerusuhan. Sebagian dari para abdi juga telah pada mengungsi. "Kau menangis, Dedes, anak Mpu Parwa!" Dedes menyeka matanya.

"Mereka semua memusuhi suamimu. Dan dia sekarang tidur tanpa menyedari keadaan dan kejahatannya selama ini." Membayangkan, bahwa takkan lama lagi seseorang akan membunuh suaminya, dan darah akan menyemburat, dan anak dalam kandungan takkan mengenal bapa, ia menjadi terhisak-hisak. "Apakah sekarang kau berbalik pikir, anak Mpu Parwa?" Dedes menutup muka dengan dua belah tangan dan menangis. "Kau menyesal?" Dedes terus menangis. Dan pendopo yang lengang itu diisi oleh suaranya yang pelahan ditahan-tahan. "Bukankah demi Hyang Mahadewa telah kau serahkan hidup dan matinya padaku?" "Darah! Darah bapanya, Guru, Kakanda." "Darah pencuci kaki Hyang Mahadewa Syiwa diperlukan anak Mpu Parwa. Begitulah sepanjang sejarah titah di atas bumi ini. Kuatkan hatimu, jangan jatuh ke bumi sebagai buah membusuk tak mampu matang. Kau brahmani, kuat hati, kuat ilmu. Hapuskan airmatamu!" Ken Dedes terdiam. "Kau yang menguasai Bhagawatgita ..." "Airmata ini bukan untuk suami sahaya, juga bukan untuk diri sahaya, ya. Guru. justru untuk anak yang tak bakal mengenal bapa ini." Arok mengawasi perut Dedes, kemudian:

"Adakah hanya karena anak itu semua harus keluar dari rencana yang disetujui oleh para brahmana dan semua orang Syiwa?" "Ampuni sahaya." Arok menebarkan pandangnya ke keliling. Lengang. Dalam kesunyian itu yang terdengar hanya suara keruyuk ayam dan percakapan bebas dari para selir di belakang. "Mengertikah kau, Dedes, bahwa semua ini bergerak, seluruh negeri, hanya karena hendak menjatuhkan suamimu?" "Mengerti, Kakanda." "Bahwa balatentara yang ingkar itu tidak segera memukul hanya karena ada pasukan Arok?" "Mengerti, Guru." "Mengertikah kau, bahwa saat ini yang telah dua ratus tahun lamanya ditunggutunggu oleh kaum brahmana dan ayahmu sendiri?" "Juga saat ini yang sahaya pohon dari Hyang Bhatari Durga." "Mengapa kau tangisi anak yang takkan melihat bapa? Apakah itu lebih berat daripada dua ratus tahun menunggu dan terinjak-injak?"

"Sahaya malu pada diri sendiri." "Hanya karena pada suatu kali anakmu akan bertanya: siapakah bapa sahaya? maka kau jatuhkan airmata yang semestinya untuk keperluan lain'" "Guru, Kakanda." "Berdiri, kau, dan suruh seisi pekuwuan keluar meninggalkan tempat ini. Suruh pergi bersama semua harta-bendanya. Pertempuran akan bisa terjadi di pekuwuan ini. Suruh prajurit-prajurit membobolkan pagar belakang dan suruh mereka lewat sana. Kemudian segera kau kembali sebelum Kebo Ijo berpo-ngah dengan kekuatannya " Ken Dedes bangkit, mengangkat sembah dada dan masuk ke dalam. Arok pun bangkit, kembali ke asrama, memerintahkan prajurit-prajuritnya naik kuda untuk menghubungi pasukan-pasukan di luar kota, agar besok, pada waktu matahari telah tenggelam, semua memasuki kota dari barat, utara dan selatan dengan berselempang klaras[daun pisang kering.] untuk membedakan diri dari tentara Tumapel yang ketahuan mulai berkalung dan bergelang janur.[daun kelapa muda.] Ia perhitungkan, bahwa setelah Kebo Ijo mempongahkan kekuatannya, sesuai dengan watak tentara Tumapel pasti ia akan perintahkan prajuritnya bersuka ria ke seluruh kota, merampas dan menjarah, apabila nyata tidak ada perlawanan. Dan besok malam, bila semua pasukan luar kota telah memasuki Kutaraja, harus serempak memekikkan sorak perang untuk Arok, membela diri terhadap sedap serangan, tetapi tidak akan melakukan serangan lebih dahulu.

Utusan-utusan itu berangkat seketika, menunggang kuda dengan berkalung dan bergelang janur, dan ia sendiri kembali ke pukuwuan. Semua regu yang tertinggal di asrama dibawanya serta termasuk delapan orang prajurit Kebo Ijo yang menggabungkan diri. Kemudian ia memeriksa seluruh pertahanan pekuwuan dan perkubuan-perkubuan di luarnya. Ia perhatikan bondongan wanita dan sisa abdidalam yang bergerak mengangkuti harta benda masing-masing dan bobolan pagar. Buntut dari bondongan adalah istri Tunggul Ametung yang diiringkan oleh para Kidang sampai bobolan, kemudian datang padanya untuk menyatakan hormat. "Kalian para Kidang," ia memperingatkan, "jangan ada yang melangkahkan kaki memasuki pekuwuan. Kalian sudah tolong ibu kalian mengangkuti harta benda keluar dari sini. Sekarang, muliakan ibu kalian, jaga hatinya, jaga keselamatannya, dan jangan sekali-kali mencampuri urusan pekuwuan. Serahkan pertahanan pekuwuan padaku seluruhnya, tanpa syarat." Mereka keluar, juga melalui bobolan pagar. Arok memasuki Taman Larangan dari belakang dan masuk ke dalam. Diperiksanya semua bilik dan ruangan, gudang bahan makanan dan senjata. Ia masuki Bilik Agung dan mendapatkan Dedes sedang mengawasi Tunggul Ametung yang tidur nyenyak dengan mulut terbuka. Ia tarik tangan Dedes, dan Paramesywari itu merangkulnya, terhisak-hisak: "Ampuni sahaya, bagaimanapun dia pernah suami sahaya." "Ratusan, mungkin ribuan orang telah binasa karena dia. Seluruh kawula Tumapel kecuali prajuritnya menderita karena dia. Mari, tinggalkan tempat ini."

Mereka keluar dan Dedes menduduki tempatnya sebagai Paramesywari sedang Arok di hadapannya, duduk di bawah. Para prajurit Arok terdengar ramai memasuki pekuwuan dan menduduki bilik, membuka perkubuan dalam rumah. Bersamaan dengan bunyi guruh mulai terdengar sorak-sorai di kejauhan. "Sebentar lagi mereka datang. Jangan gugup, jangan takut. Kau seorang brahmani, harus lebih tabah daripada orang biasa. Berjalan nanti kau ke tangga, lambaikan selendang sutramu pada Kebo Ijo, dan tersenyum kau padanya. Aku akan berdiri di belakangmu. Jangan sekali-sekali menengok. Kau dengar, anak Mpu Parwa?" "Sahaya." "Jangan sampai meleset. Kalau pertempuran terjadi karena kekeliruan, boleh jadi seluruh rencana akan bubar." Sahaya, Guru, Kakanda" "Dengar, mereka makin mendekat" Sorak-sorai itu makin lama makin kentara. Sebentar angin meniup keras dan hujan turun lebat, datang dan pergi sekilas, meninggalkan bercak-bercak pada jalanan batu di depan pekuwuan. Puncak gunung-gemunung hilang tertutup mendung dan pepohonan nampak lesu-berat terbebani air hujan. Udara terasa tebal untuk paru-paru. Dan sorak-sorai menggelombang semakin dekat. Kemudian mulai terdengar juga suara genderang dan tetabuhan. "Tidakkah perlu dijemput Yang Suci?" tanya Paramesywari.

"Telah ada dia di tungguk kemit." "Jagad Dewa! Mengapa dia di situ?" "Biangkeladi dari semua ini adalah Gandring dan Belakangka. Gandring telah diselesaikan. Belakangka masih akan kita pergunakan." "Bagaimana nanti Kediri?" "Dia dibawa kemari untuk diselamatkan." "Diselamatkan dari siapa?" "Dari kekuatan Kebo Ijo." "Sahaya tidak mengerti. Bukankah Kebo Ijo membutuhkan Belakangka dan sebaliknya, untuk tidak memurkakan Kediri?" "Mereka semakin dekat." Dari pendopo sudah mulai kelihatan pasukan kuda. Sorak dari sebelas ribu tentara Tumapel itu memekakkan telinga. Jalanan sepi dari lalulintas. Bahkan anjing, kucing dan babi melarikan diri ketakutan. Pasukan kuda itu muncul seutuhnya, berjalan pelahan, menyirik dan berputarputar memenuhi jalanan. Empat ratus pasang kaki kuda itu menumbuki jalanan

batu itu, meninggalkan lumatan lumpur kuning. Bendera-bendera pada tangkai tombak basah kuyup tak mampu berkibar. Seorang diri di atas kuda di belakang pasukan itu muncul Kebo Ijo, hanya dengan pedang di pinggang. Dari kejauhan ia sudah nampak memusatkan pandang pada pekuwuan. Tepat di depan pekuwuan pasukan kuda itu bersorak riuh-rendah, mengangkat tombak mereka berbareng, dan semua wajahnya tertuju ke pendopo. "Mari aku iringkan, Dedes. Bangkit kau dan berjalan ke tangga." Arok mengiringkan Paramesywari berjalan ke tangga. Ia berdiri tepat di belakangnya. "Selendangmu, anak Mpu Parwa. Lambaikan pada Kebo Ijo." Ken Dedes menarik selendang dari bahunya dan melambaikan pada Kebo Ijo. Nampak dari kejauhan tamtama itu membungkuk dan tersenyum-senyum. "Jangan memberengut. Perlihatkan wajah gembira, buka sedikit mulutmu, biar nampak gigimu." Sorak-sorai itu padam, tinggal gerak kaki kuda dan tangan para prajurit Dan gelanggelang janur yang kuning dalam kekelabuan hari bermendung itu nampak seperti menyala memenuhi udara. "Lambai Kebo Ijo dengan selendangmu. Dia pasti datang. Dia harus datang. Dia harus lupa sedang membawa balatentara."

Ken Dedes melambai dan melambai dengan selendangnya, tersenyum, kecil dan besar, giginya muncul rampak, gemerlapan dalam rembang hari bermendung. Pasukan kuda yang empat ratus orang itu mulai melewati pekuwuan. Kebo Ijo terkena daya tarik lambaian, membelok seorang diri ke pekuwuan. Sorak-sorai berhenti, balatentara Tumapel tak mengerti apa lagi harus dikerjakan, melihat pemimpin tertinggi keluar dari acara semula. "Ucapkan terimakasih, dia telah tunjukkan kesetiaan balatentara Tumapel kepadamu." Kebo Ijo telah sampai di tentang tangga. Ia turun dari kudanya, tanpa menyembah meletakkan sebelah kaki pada anak tangga, bertolak pinggang. "Kebo Ijo, terimakasih telah kau persembahkan kesetiaan balatentara Tumapel kepadaku. Ternyata kau memang tidak memungkiri janji telah mempersembahkan balatentara kepadaku." Kebo Ijo kehilangan kata. Dan senyum dan keramahan Ken Dedes membikin ia menjadi bingung. Waktu ia menyedari, Arok ada di belakang Paramesywari, mendadak wajahnya menjadi merah menyala: "Arok, apa kau perbuat di sini?" "Menjaga keselamatan Yang Mulia Paramesywari."

"Tugasmu menjaga keselamatan Tunggul Ametung." "Aku perintahkan dia menjaga keselamatanku, Kebo Ijo." "Perintahkan dia keluar dari pekuwuan," perintah Kebo Ijo cemburu. "Besok malam, bila kau, Kebo Ijo, memasuki pekuwuan dalam iringan para tamtama secara patut, untuk mengambil-alih pekuwuan dan kekuasaan atas Tumapel, Arok dan pasukannya akan aku usir. Hanya yang menguasai seluruh balatentara yang menguasai semua-muanya. Asramakan semua pasukan, beri mereka hari pesta dalam tiga harmal ini." "Mana Tunggul Ametung?" "Dia sudah dalam tanganmu. Segera bawa pergi semua pasukanmu, suruh berpesta, kawula Tumapel jangan dibikin takut karena keriuhan ini." Dedes sekali lagi melambaikan selendang menyuruhnya pergi dengan disertai senyum manis, menawan dan merayu-rayu. "Serahkan Arok sekarang juga." "Apa arti seorang Arok? Bila Kebo Ijo telah memasuki pekuwuan besok malam, dia adalah milikmu, hidup dan matinya. Jangan lupa seluruh balatentara telah kau persembahkan padaku. Pulanglah."

Kebo Ijo ragu-ragu. Beberapa orang tamtama mulai memasuki pelataran depan pekuwuan. "Jangan ragu-ragu, teman-temanmu mulai hendak menyusul kau. Pulang, kataku. Pulang! Beri kesempatan pada semua prajuritmu berpesta-ria merayakan kemenangan ini - kemenanganmu!" Kebo Ijo menengok ke belakang. Kuatir akan direcoki mereka ia berbalik dan meninggalkan pekuwuan. Para tamtama itu tak meneruskan maksudnya, juga keluar. Ia lambaikan tangan memerintahkan balatentara bersorak lagi. Dan suara gemuruh itu membubung ke langit, memekakkan telinga. "Begitulah jadinya gerakan Empu Gandring, berkembang tidak menentu, seperti kuda liar tak tahu tujuan." "Adakah sahaya telah bersalah?" tanya Dedes. "Sepenuhnya menurut rencana." "Mengapa gerakan Empu Gandring, Kakanda?" "Suatu kekuatan yang dapat menggerakkan seluruh balatentara Tumapel sungguhsungguh gerakan yang hebat. Patut dipelihara. Pelihara dia dengan tanganmu sendiri, anak Mpu Parwa."

"Sahaya akan coba." "Lambaikan terus selendangmu sampai pasukan terakhir." "Apabila rencana gagal, Kakanda, sahaya bersedia tumpas bersama Kakanda." "Demi Hyang Mahadewa yang menggerakkan semua ini, kita tidak akan tumpas. Dirgahayu, kita akan tetap selamat dan jaya." Ia sentuh sikut Dedes, "Lambaikan lebih bersemangat." Kemudian dengan suara rendah seperti ucapan mantra, "Kehancuran dari Hyang Bathari Durga hanya untuk mereka. Pasti!" "Demi Hyang Mahadewa, pasti." Para prajurit yang mendapat lambaian Paramesywari itu bersorak lebih gemuruh, semakin lama semakin parau, terlalu gembira mendapat perhatian dewi kecantikan Tumapel. "Mereka tak tahu apa sedang terjadi," kata Arok dari belakang. "Gerakan Empu Gandring itu sungguh-sungguh dahsyat. Hanya Empu Gandring itu saja dapat melakukan pekerjaan raksasa ini." Dedes terus juga melambai-lambaikan selendang. Tangannya telah terserang pegal: "Kakanda, anak dalam kandungan ini..." "Mengapa lagi dengan anakmu?" "Dia akan lahir lima bulan mendatang." "Ya. Mengapa?" "Berilah sahaya pegangan."

"Pegangan apa?" "Bahwa Kakanda akan memperlakukan anak ini sebagai bapanya sendiri." "Bapanya adalah Tunggul Ametung." "Bapanya sedang menunggu saat kematiannya." "Dia masih hidup." Dedes menoleh padanya. "Jangan menoleh, lambaikan terus selendangmu, beri mereka semua senyumanmu." "Dia tidak boleh tahu siapa bapanya sesungguhnya." "Temui dulu ayahandamu Mpu Parwa." "Ayahanda? Di mana ayahanda sekarang?" "Kau tak pernah memikirkannya selama ini. Besok mungkin datang bersama pasukan." "Pasukan?" "Pasukan kita."

Balatentara Tumapel itu masih juga beriring-iringan, suaranya semakin parau. Buntut terakhir sudah tidak mampu lagi bersorak, tinggal hanya berjingkrak dalam barisan. Dan jalanan batu ini terlapisi lumpur hancuran batu, kuning dan tipis. "Selesai, anak Mpu Parwa, kau bisa beristirahat." Arok mengantarkannya melalui Bilik Agung ke Bilik Paramesywari. "Kau takkan temani suamimu?" "Tidak, Kakandalah suamiku," jawabnya cepat. "Demi anak ini, demi Tumapel, demi kita berdua." Arok bersidekap dan Dedes berdiri dengan mata cemas. "Tidakkah Kakanda sudi memberikan sahaya pegangan?" "Bicaralah besok dengan ayahandamu. Aku tidak menjawab Di bilik lain sana tidur suamimu." "Adakah Kakanda akan tinggalkan sahaya seorang diri? Hinakah sahaya untuk Kakanda?" "Aku tidak akan tinggalkan kau seorang diri. Kaulah wanita yang paling patut jadi Paramesywari. juga untuk raja terbesar pun di pulau Jawa ini. Beristirahatlah."

"Tiada mungkin sahaya beristirahat dalam keadaan seperti ini." "Besok keadaan akan lebih tegang." "Sahaya tidak akan beristirahat. Jangan tinggalkan sahaya seorang diri begini." "Besok akan kau dapatkan Rimangmu kembali. Dia pun akan datang bersama pasukan." "Terimakasih, Kakanda. Namun jangan tinggalkan sahaya sampai semua telah selesai." "Kau takut?" "Tidak. Hanya tidak mampu menanggungkan seorang diri," ia tangkap tangan Arok meminta kekuatan. Arok membiarkan lengannya dipegangi. Melihat itu Dedes kini memeganginya dengan dua tangan. Lelaki itu kini memindahkan pandang dari wajah Dedes pada dua belah tangannya. "Anak Mpu Parwa, lepaskan peganganmu. Bukankah kau tidak akan lupa di Bilik Agung ada suamimu?" "Ampuni sahaya," ia lepaskan pegangannya, "hanya jangan tinggalkan sahaya seorang diri. Hanya sahaya wanita di seluruh pekuwuan." Arok memerintahkan anak buahnya untuk membawa Belakangka ke Bilik Paramesywari.

Wakil Kediri itu datang dengan wajah pucat dalam iringan para pengawal. "Pimpinan Tertinggi," seorang memulai, "Inilah Yang Suci Belakangka. Di samping itu aku beritahukan: asrama kita telah dibakar." "Biarkan semua mereka bakar. Api itu menyala atas perintah Yang Suci Belakangka ini." "Tidak benar!" bantah Belakangka. "Pergi kalian," dan para pengawal itu pergi. "Kebo Ijo tak mampu, tak bakal mampu membiayai semua ini. Dua orang terkaya di seluruh Tumapel hanya dua: Tunggul Ametung dan Yang Suci. Akuwu tidak bakal membiayai gerakan untuk menentang dirinya sendiri." "Tiada kekayaan padaku." "Kekayaan Yang Suci terkumpulkan di Kediri. Memang yang di sini hanya sisa, namun mencukupi untuk membiayai semua huru-hara ini." "Tidak benar." "Baik. Besok Kebo Ijo akan mengaku di hadapan kita," Arok mengancam, "dan Yang Suci akan tahu akibatnya - seorang pandita, seorang wakil Kediri, seorang pemuka Wisynu ... Apakah masih akan tetap bertahan?" "Buat apa seorang wakil Kediri membiayai gerakan untuk melawan Kediri?" tanya Belakangka balik. "Seorang Kebo Ijo tidak akan berpikir untuk melawan Kediri. Tanpa tunjangan Kediri dia takkan berani bertingkah seperti hari ini. Kediri berarti Yang Suci Belakangka."

"Betapa bodohnya, kau Arok, tidak mengetahui, semua gerakan ini ditujukan kepadamu." "Janganlah Yang Suci mereka-reka. Kebo Ijo takkan mampu bebaskan Yang Suci dari tangan sahaya. Setelah selesai semua ini sahaya sendiri yang akan datang ke Kediri membawa Yang Sua dan di sana akan sahaya persembahkan semua kedurjanaan Yang Suci." Belakangka tertawa menghinakan. "Yang Mulia Paramesywari menjadi saksi pertama dan utama dalam pemeriksaan ini, Yang Suci. Sahaya harap janganlah kiranya kesucian Yang Suci dipetaruhkan dalam permainan." "Kau memang berilmu dan berpengetahuan, Arok. Kaulah yang membikin gaduh seluruh negeri ini. Setiap orang yang berakal tahu, kau seorang pemain sandiwara di pekuwuan dan di medan pertempuran. Yang Mulia, awas-awaslah pada anak gelandangan yang seorang ini." "Yang Suci, boleh jadi Arok seorang gelandangan dalam usahanya menegakkan keadilan dan pengayoman bagi kawula Tumapel." "A, kalian berdua sudah mulai bersekutu. Mengerti aku sekarang mengapa Yang Mulia Akuwu tak pernah keluar, dan Kebo Ijo mengancam hendak menghancurkan Arok dan pasukannya." "Mereka telah membakar asrama kosong, Yang Suci," Arok memperingatkan. "Kalau asrama itu kami jaga, mereka takkan membakarnya. Kalau pekuwuan tidak kami jaga, Kebo Ijo akan menyerbunya. Dia takkan punya keberanian sendiri.

Semua berasal dari Yang Suci. Yang Suci sendiri mengatakan dia bersama seluruh gerakan ini ditujukan pada sahaya. Mengapa pada sahaya? seorang yang justru mempertahankan pekuwuan, Yang Mulia Akuwu dan Yang Mulia Paramesywari?" "Tunjukkan di mana sekarang Sang Akuwu." "Mari kami antarkan memasuki peraduannya. Yang Mulia sedang terlelap dalam tidurnya. Mari." "Tahukah Yang Suci, bahwa semua yang bergerak ini mem-beludag tidak dengan sendirinya? Ada Gerakan yang mendalangi. Gerakan itu adalah Gerakan Empu Gandring! Kebo Ijo hanya sekedar boneka Empu Gandring. Yang Mulia lebih tahu dari sahaya, bahwa besok Kebo Ijo akan menyerbu pekuwuan, tetapi Yang Mulia Paramesywari telah memperingatkannya agar tidak berbentuk serbuan. Bukan, Yang Mulia?" "Telah aku perintahkan pada Kebo Ijo datang untuk mengam-bil-alih pekuwuan dan kekuasaan atas Tumapel, maka kedatangannya cukup dikawal secara patut oleh para tamtama." "Setelah itu Gerakan Empu Gandring akan menghabisi Kebo Ijo dan Empu Gandring naik ke singgasana Tumapel." Belakangka terlongok-longok. "Gerakan besar ini tidak akan menghasilkan sesuatu untuk Yang Suci. Biaya yang Yang Suci keluarkan sia-sia." "Empu Gandring bukan prajurit!"

"Dia yang memiliki seluruh balatentara Tumapel. Yang Suci terlambat mengetahui. Bila Empu Gandring naik, Yang Suci yang paling mula akan diadili telah mengacaukan keadaan. Maka Yang Suci kami bawa kemari untuk terlepas dari pengadilan tak menentu dari Empu Gandring yang bakal menang. Sayang, Yang Suci tidak mau mengerti jasa kami, telah membalas dengan kebohongan, yang tidak patut dilakukan oleh seorang pandita Wisynu yang terkemuka." Belakangka sibuk menata pikiran. Dan Arok tidak membiarkannya: "Yang Suci menganggap dapat memetik buah dari pekerjaan Empu Gandring dengan hanya bicara-bicara, tanpa mengetahui segala apa yang telah dia lakukan. Empu Gandring sendiri menganggap dapat memetik buah dari pekerjaan sahaya dan semua teman sahaya dalam menentang Tunggul Ametung. Ya, sahaya menentang Sang Akuwu yang dilindungi Kediri.Ya, sahaya menentang Kediri. Sahaya dan semua orang Syiwa, juga Yang Mulia Paramesywari." "Kau sendiri yang mengakui menentang Kediri." "Yang Suci belum juga mengakui hendak mengail di air keruh. Sahaya ingin dengarkan pengakuan itu." "Bukan jadi watak seorang pandita Wisynu mengail di mana pun dan dalam air macam apa pun." "Ada waktunya setiap orang mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri. Juga seorang pandita Wisynu, juga seorang brahmana Syiwa - setiap orang, juga mereka yang sama sekali tidak pernah mengenal dan tidak mau mengenal Hyang Mahadewa. Besok, di hadapan Kebo Ijo, Yang Suci akan mengaku."

"Perbaikilah letak jubah Yang Suci," Ken Dedes memperingatkan, "Agar kehormatan dan kesucian tetap nampak oleh setiap orang." "Anak buah kalian telah sembunyikan tongkatku." "Yang Suci telah menyembunyikan kebenaran. Apalah salahnya bagi Yang Suci untuk menggunakan cabang pohon?" "Tidak pernah seorang wakil Kediri dihinakan semacam ini." "Yang Suci," Arok menambahi, "belum pernah wakil Kediri dihadapkan ke depan pengadilan sejak Sri Baginda Erlangga Dharma Dayana. Tetapi besok akan terjadi, demi Hyang Mahadewa." "Dan Yang Mulia Paramesywari ternyata telah bersekutu dengan Arok menentang Kediri." "Inilah Dedes, yang Yang Suci telah beri pengesahan atas diri dengan gelar Ken," balas Dedes. "Gelar yang dipilihkan oleh Kediri untuk sudra yang disukainya," tambah Arok. "Ahya, barangkali ada baiknya sahaya tanyakan, apakah arti Ken menurut Kediri, Yang Suci? Tak pernah sebelumnya ada gelar seaneh itu." "Waktu Yang Mulia memberikan gelar itu kepadaku," sambung Paramesywari, "aku tak menghiraukan. Jadi apa sesungguhnya artinya. Yang Suci, karena gelar diatur oleh Kediri." "Waktu mereka menemukan gelar itu," Arok menyambung, "mungkin sambil tertawa-tawa, karena arti tidak layak ada di dalamnya. Bukankah begitu, Yang Suci."

Belakangka menolak untuk bicara lebih lanjut. Dan ia diantarkan oleh para pengawal kembali ke tungguk kemit. Para prajurit Tumapel diberi berlibur oleh Kebo Ijo. Terpengaruh oleh ucapan Paramesywari ia beranikan mereka untuk berpesta merayakan kemenangannya. Dalam pengawalan kuat ia sendiri pergi untuk menjemput Empu Gandring dan mendapatkan pabrik senjata itu dalam suasana murung. "Keparat!" pekiknya serenta mengetahui Empu Gandring diungkap oleh Arok atas perinuh Tunggul Ametung. Tetapi ia ndak langsung pergi ke pekuwuan untuk menghajar Sang Akuwu. Di hadapan mau batinnya berdiri Ken Dedes yang menunggu kedatangannya besok malam dalam iringan para tamtama secara patut, secara terhormat. Ia tinggalkan pabrik senjata dan pergi ke istana Belakangka untuk melaporkan hasil berpongah kekuatan. Mendengar Yang Suci telah ditangkap oleh pasukan pengawal pekuwuan atas perintah Tunggul Ametung, ia mulai ragu-ragu. Ia tak dapat berpikir sendiri.Tetapi gambaran yang diberikan oleh Paramesywari, bahwa besok malam ia akan menerima seluruh Tumapel termasuk Ken Dedes semakin membebalkan pikirannya. Dan ia rasa Dedes lebih berharga daripada Tumapel. Perusuh di luar kota mungkin membikin Tumapel tinggal Kutaraja, tapi Dedes akan jadi miliknya. Dan Arok? Empu Gandring dan Belakangka menginginkan jiwanya. Tetapi bukankah dia terikat pada persetujuan dengan Lohgawe untuk menjaga keselamatan Sang

Akuwu, Paramesywari dan Tumapel? Dia hanya setiawan persetujuan. Mengapa jiwanya dikehendaki mereka? Dia sama sekali bukan penghalang. Dan Paramesywari sendiri membenarkan. Huh! Tak ada alasan untuk cemburu. Seorang brahmani takkan mungkin menerima seorang pria sudra tanpa dipaksa dengan senjata. Apakah artinya Arok? seorang tidak menentu asal-usulnya, tak punya silsilah, apalagi disyahkan oleh Kediri. Ia pergi ke asrama-asrama untuk mendapatkan para tamtama. Tapi asrama-asrama telah kosong. Para prajurit telah bubar ke seluruh kota untuk menjarah penduduk, merayakan kemenangannya. Hanya pasukan kuda yang mengawalnya, yang masih utuh. Dan ia tak berani memberitakan pada mereka tentang ditangkapnya Belakangka. Hanya empat puluh orang tamtama dapat ia kumpulkan. Di hadapan mereka ia ternyata tak berani menyatakan sesuatu, takut salah, takut ketahuan ketidaktahuannya, takut kehilangan wibawa. Juga ia tidak berani menyampaikan berita tentang ditangkapnya Empu Gandring. Ia tahu kekuasaan atas balatentara tidak ada di tangannya, tapi di tangan Gerakan Empu Gandring. Seorang tamtama dengan suara keras menantang mengajukan pertanyaan: "Bagaimana sekarang jadinya kita ini setelah semua orang tahu Empu Gandring ditangkap oleh Arok atas perintah Tunggul Ametung?" "Ketahuilah," jawabnya agak gugup, "setelah kemenangan ada pada kita, Empu Gandring menjadi tidak penting. Lagi pula dia bukan prajurit." "Lantas bagaimana sikap kita terhadap Kediri?" Kebo Ijo teringat pada jaminan Belakangka:

"Kita akan kirimkan utusan ke Kediri mempersembahkan tanda takluk, dan semua akan beres," tapi dengan hilangnya Belakangka ia tak yakin pada kata-katanya sendiri. "Yang Suci harus memberikan jaminan pada kita. Kalau tidak gajah perang Kediri bisa memusnahkan kita semua, dan sia-sia semua ini." "Paramesywari telah memberi jaminan seluruh Tumapel akan diserahkannya besok malam." "Itu bukan jaminan Kediri tidak menghancurkan kita. Celakalah kau, Kebo Ijo, bila hendak celakakan kita semua." "Kebo Ijo adalah bagian dari kalian." "Bagian dari kami dalam usaha bersama, bagian kau adalah hasilnya. Bukankah begitu maksudmu?" tamtama lain menetak. Dan Kebo Ijo tak dapat menjawab. "Jawab, Kebo, satria keturunan Kediri ..." "Bagaimana Tunggul Ametung? Dia masih bertenaga untuk menangkap Empu Gandring dan Yang Suci. Itu dulu urus!"

"Sabar kalian. Aku akan urus ini sampai selesai." Ia tinggalkan para tamtama yang mendengungkan ketidak puasan mereka. Kebo Ijo keluar dari asrama dalam kawalan pasukan kuda langsung menuju ke pekuwuan. Tetapi ia tak berani memasuki pelataran teringat pada pesan Paramesywari. Hanya besok malam ia boleh datang. Pasukan pengawal itu ia perintahkan menjauh. Ia sendiri turun dari kuda dan memanggil-manggil pengawal di tungguk kemit. Dan ia heran beberapa prajurit kemit itu sama sekali tak nampak gentar menghadapinya. Dari pinggir jalan ia bertanya: "Hei, kau, prajurit! Di mana Empu Gandring dan Yang Suci pada saat ini?" Seorang prajurit turun dari tungguk dan menghampiri pagar: "Hanya Arok yang bisa menjawab." "Panggil Arok!" "Akan dipanggil." Seorang prajurit lari ke pekuwuan, kemudian kembali mengiringkan Arok dan Paramesywari, tanpa tambahan pengawal. Tamu itu semakin kehilangan keberaniannya melihat Dedes Ia mengangkat sembah. Ken Dedes langsung menegur: "Bukankah perjanjian kita besok malam, Kebo Ijo?"

"Sahaya tidak melangkah memasuki pelataran pekuwuan. Yang Mulia Paramesywari. Hanya di pinggir jalan begini." "Apakah kurang cukup kuat janji seorang Paramesywari Tumapel kepadamu?" "Ampun.Yang Mulia, sahaya hanya membutuhkan Arok." "Inilah Arok." "Ampun. Yang Mulia, sahaya hendak menanyai Arok." "Lakukan." "Arok, kau telah tangkap Empu Gandring dan Yang Suci atas perintah Yang Mulia Akuwu?" "Benar." "Di manakah mereka sekarang?" "Dalam guci abu." "Jagad Dewa! Telah kau bunuh mereka." "Tidak. Kau yang membunuhnya. Mereka di dalam asramaku waktu prajuritprajuritmu kau perintahkan membakar asramaku." "Mengapa mesti kau perbuat itu, Kebo? Tiadakah kau mengerti bagaimana prihatinku memikirkan semua ini? Engkau menambahi keprihatinanku begini." "Ampun, Yang Mulia, prajurit-prajurit dungu tidak berpikiran itu.."

"Tetapi kau yang memerintahkan. Mereka takkan berani melakukannya tanpa perintahmu," Paramesywari menekan. "Tetapi Arok atas perintah Sang Akuwu telah tangkap mereka," tamtama iru mencoba berdalih. "Sampai sekarang ini, Kebo, kekuasaan masih di tangan Yang Mulia Akuwu. Mulai besok malam baru di tanganmu. Sebenarnya aku berhak memerintahkan menangkap kau karena membunuh mereka melalui pembakaran asrama. Lihatlah, aku tidak jatuhkan titah untuk menangkapmu, karena kaulah yang terpantas untuk memegang kekuasaan atas Tumapel. Kembalilah, bersabarlah sampai besok malam." "Tidakkah sebaiknya guci abu mereka dibawanya serta, Yang Mulia?" tanya Arok pada Paramesywari. "Apalah gunanya abu untuk mereka? Pulang kau!" Kebo Ijo mengangkat sembah, melirik pada Arok dan pergi menuntun kudanya. Langkahnya gontai, menggabungkan diri pada pasukan kuda pengawalnya. Setelah menyampaikan terimakasih pada para prajurit di tung-guk kemit karena ketabahan mereka Dedes kembali ke pekuwuan dalam iringan Arok. "Betapa berbelit-belit persoalan ini, Kakanda."

"Yang berbelit-belit hanya cara mereka hendak menjangkau-kan tangan pada singgasana." "Apakah Kakanda yakin akan kebenaran penyelidikan telik-telik Kakanda?" "Seperempat jari pun tak ada yang meleset." "Apa sebab telik-telik Sang Akuwu tak dapat menemukan?" "Karena mereka dari kalangannya sendiri, hanya karena upah dan pangkat, untuk kemudian takut kehilangan dua-duanya. Untuk mendapatkan keterangan mereka tempuh jalan yang termudah: mengada-ada. Dan orang tak berdosa yang jadi korbannya." "Bagaimana Empu Gandring bisa punya pikiran demikian?" "Dia sendiri tidak berani punya pikiran seperti itu. Bersama para tamtama mereka saling berani-memberanikan, dan berbentuk pikiran itu." Arok mengantarkan sampai ke pintu Bilik Paramesywari. Sebelum pergi lagi ia berpesan: "Mulai besok tak perlu lagi Sang Akuwu dibius, anak Mpu Parwa. Kepentingan telah lewat."

"Jangan tinggalkan sahaya terlalu lama," ia mengangkat sembah pada Arok. Dan Arok pun pergi untuk memeriksa persiapan pasukannya. JATUHNYA TUNGGUL AMETUNG Undian itu dilakukan dengan sut. Lingsang dan pasukannya mendapat kehormatan jadi ujung barisan yang akan memasuki Kutaraja dari selatan. Di belakangnya akan menyusul pasukan Umang. Di belakangnya lagi pasukan Tanca. Setiap pasukan membawa serta dengannya para petani yang menggabungkan diri - mereka yang telah bosan dan muak terhadap perampasan dan penindasan yang menimpa mereka selama ini. Dan di belakang ketiga-tiga pasukan mengikuti kanak-kanak dan orang-orang tua,juga ibu-ibu dengan anak dalam gendongan atau dalam tuntunan. Dengan kepercayaan pada kebijaksanaan Pimpinan Tertinggi semangat mereka membuncah Tubuh-tubuh yang kurus tak terpelihara dan pakaian yang dekil rompang-ramping itu, hampir-hampir telanjang bulat, menderap dalam hujan pagi yang tak putus-putusnya. Klaras basah yang menyelempangi tubuh mere-ka tak mampu berkibar karena sarat oleh air hujan. Lenggang dan langkah mereka

seirama, ke arah tujuan yang satu. Dan air yang tergenang di jalanan tak sempat istirahat, memercik dan berkeci-bak kena terjang ribuan pasang kaki - seakan tiada kan akhirnya. Pasukan Lingsang memanggul enam tombak lempar setiap orang, pedang pada pinggang, tanpa perisai. Pasukan Umang bersenjatakan panah cepat dengan laras bambu, yang ditirunya dari pasukan biarawan dan biarawati. Juga pada pinggang mereka tergantung pedang, hanya lebih pendek. Pasukan Tanca bersenjatakan tombak tangan bergagang panjang. Hanya sebilah seorang. Juga pedang tergantung pada pinggang mereka. Barisan petani yang mengikuti membawa senjata beraneka macam: kapak, canggah, trisula, pisau dapur, sabit, clurit, pelempar batu. Semua berselendang klaras. Juga ibu-ibu dan kanak-kanak. Dalam dingin hujan itu sebentar-sebentar Umang menyisih dari barisannya, menekan perutnya, menahan muntah. Kemudian ia lari menyusul. Seluruh pasukan mengetahui, ia sedang mengandung. Tak ada yang berhasil mencegahnya, ia tetap hendak memimpin memasuki kota, tak mau kehilangan kesempatan, yang takkan kembali untuk kedua kali dalam hidupnya. Dari sebelah barat kota berbaris pasukan Mundrayana. Dari utara pasukan Santing dan Arih-Arih. Juga para petani mengikuti mereka, laki-perempuan dan kanakkanak, seakan tidak berangkat perang. Mereka hendak ikut bersumbang meruntuhkan kekuasaan Tunggul Ametung. Paling tidak menjadi saksi hidup. Pasukan biarawan dan biarawati yang tak banyak jumlahnya diharuskan tetap di tempat di tenggara. Sebelah timur kota dibiarkan terbuka. Dan matahari seakan tidak akan muncul lagi untuk selamanya. Mendung tebal dan hujan terus-menerus seakan sengaja hendak merangsang tumbuhnya benih baru dalam kehidupan di Tumapel.

Akhir tahun 1142 Saka (1220 Masehi)... Siang itu Tunggul Ametung duduk di bangku Taman Larangan bersama Dalung dan Paramesywari. Badannya membungkuk bertumpu pada sikut dengan dagu tenggelam pada telapak tangan. Destarnya tak terawat dan matanya kuyu memandang jauh tanpa melihat. "Apakah pusing Yang Mulia belum juga berkurang?" Sang Akuwu hanya menggeleng. Paramesywari menarik pandang dari suaminya yang kusut dan melemparkan ke langit. Hujan telah lama berhenti, namun matahari belum juga muncul. "Tuak!" desau Tunggul Ametung. Suaranya rendah seperti keluar dari dasar perut. Paramesywari mendekatkan lodong tuak, kemudian membantunya minum. "Hari tidak baik begini, Kakanda. Bukankah seyogianya tinggal dalam Bilik Agung?" Sang Akuwu kembali menggeleng. "Apa sebenarnya yang Kakanda rasakan?" "Kepala mendenyut seperti pecah."

"Memang sebaiknya beradu, Yang Mulia," Dalung mempersembahkan. "Udara terlalu buruk untuk kesehatan Yang Mulia. Mari sahaya bimbing." Dibimbing oleh Dalung dan Paramesywari Tunggul Ametung berjalan goyah menuju ke Bilik Agung. Sampai di tangga ia ragu-ragu untuk naik. "Hujan akan turun lagi. Kakanda," Paramesywari mengingatkan. "Angin mulai keras dan tajam begini." Dan Tunggul Ametung tak juga melangkah naik. "Mengapa, Kakanda?" "Seakan ada sesuatu yang melarang aku masuk." "Kami menemani," hibur Paramesywari. "Tak ada apa-apa. Seluruh pekuwuan dan Tumapel, Akuwu dan Paramesywari dijaga ketat oleh pasukan Arok." "Dia bisa berkhianat." "Tidak. Persetujuan itu tetap mengikat. Mari naik." "Di mana para Kidang?" "Semua sedang kemit kota." "Jadi Telarung sudah diabukan?" "Sudah selesai, Kakanda." "Dan Kidang Gumelar?"

"Gumelar? Tiada pernah kuperhatikan di mana dia selama ini," jawab Paramesywari pura-pura tidak tahu, "boleh jadi sedang berkunjung ke rumah kekasih." "Mari sahaya bantu naik, Yang Mulia." "Lihat dahulu, apakah di pendopo masih ada orang." Paramesywari mendahului masuk, melongok ke pendopo, kemudian berseru sambil berpaling: "Sunyi sepi tiada seorang pun." Ia mulai melangkah menaiki tangga. Dan Paramesywari kembali mendekati, mendengar pesannya: "Jangan perkenankan siapa pun naik ke pendopo. Di mana Arok sekarang?" "Kemit ke sekeliling pekuwuan." "Jagad Dewa, betapa terlupa aku membawa pedang." Paramesywari mengambilkan pedang telanjang dari peraduan. Serenta pedang itu tergenggam pada tangan, matanya menjadi liar, mengawasi pintu dan semua pojokan, kemudian membalik pada Dalung:

"Kau!" memekik, "Kau!" Dalung melangkah mundur, Paramesywari memegangi bahu suaminya, mencegah berbuat sesuatu kekerasan. "Kau yang racuni aku." "Tidak," bantah Paramesywari. "Dalungkah yang memelihara dan mengobati Kakanda?" "Kau bikin kepalaku serasa hendak pecah." "Tidak," bantah Dedes. "Dalung, pergi kau." Dalung buru-buru mengangkat sembah dan meninggalkan Bilik Agung. "Panggil dia kembali! Dia akan datang lagi bawa teman-temannya" "Tidak. Tidurlah lagi. Kakanda, biar hilang pening di kepala," ia tarik suaminya ke peraduan, mendudukkannya dan mengangkat kakinya sebelah dan sebelah. Tunggul Ametung meletakkan pedang itu di sampingnya. "Jangan ada orang sampai naik ke pendopo. Siapa pun memasuki Bilik Agung, aku tebang batang lehernya." "Kalau begitu biarlah aku pergi."

Akuwu itu menangkap pergelangan istrinya: "Jangan pergi." "Tidakkah Kakanda menghendaki bersantap?" "Tidak," ia tarik Dedes pada dirinya dan dirabanya kandungan istrinya. "Baik, semua ini untuk bea kau, anak, anak yang tidak kukenal." "Tidurlah, Kakanda. Ataukah tuak lagi Kakanda inginkan?" "Stt. Ada kau dengar?" "Hanya prajurit berganti jaga." "Pes. Dengan mereka aku taklukkan desa demi desa, aku bangunkan negeri besar ... mengapa mereka semua sekarang tak dapat dipercaya?" "Karena mereka tak pernah diajar mendapat kepercayaan." "Mulut brahmani!" "Jangan pikirkan sesuatu apapun, tidurlah. Aku yang akan jaga Kakanda. Belajarlah mempercayai seorang saja, istrimu sendiri ini." "Untukmu, untuk anakmu, negeri ini aku dirikan." "Tentu, Kakanda." "Hanya beberapa bulan lagi, dan anak ini bakal lahir, ah, apa yang aku himpun, aku bangunkan, aku lihat bergumpil-gumpil jadi desa kembali. Keliru aku, Dedes," ia

duduk dan memegangi hulu pedangnya, "keliru aku, sudah dengarkan nasihat Belakangka. Semestinya Lohgawe aku tebang lebih dahulu sebelum minta nasihat. Keliru! Aku terima Arok. Dia tidak bekerja untukku, untuk keparat Lohgawe!" "Tanpa Arok, Kakanda, kerusuhan takkan mungkin padam." "Dia tidak padamkan kerusuhan. Dalam setiap pemadaman balatentara Tumapel rusak, pasukannya sendiri semakin besar." "Mengapa dulu Kakanda biarkan?" "Karena aku pun tahu ada sesuatu tidak beres dalam tentaraku sendiri. Hanya tak ada telik dapat bisa temukan duduk perkaranya." "Sampai sekarang?" "Sampai sekarang." "Kakanda betul. Ada sesuatu yang tidak beres - itulah Gerakan Empu Gandring." Tunggul Ametung membeliak pada Dedes: "Apa diperbuat Empu Gandring?" "Dihimpunnya para tamtama - sendiri hendak naik jadi Akuwu!" Tunggul Ametung melompat turun dari peraduan dengan pedang di tangan. "Jangan keluar, Kanda, di luar genting."

Tunggul Ametung terhenti di pintu. Matanya liar menembusi pendopo ke segala jurusan. "Pasukan Arok sedang berhadap-hadapan dengan balatentara Tumapel yang dipimpin oleh Gerakan Empu Gandring." "Jadi siapa yang berpihak padaku?" "Arok!" "Jagad Dewa! Balatentaraku sendiri hendak balik gagang terhadapku? Keparat!" Paramesywari menghampirinya dan membawanya kembali ke peraduan: "Belajarlah percaya pada Arok." "Dia terlalu cepat menjadi kuat. Akhirnya dia akan melawan aku. Berapa bulan yang lalu dia datang kemari?" "Dua, Kakanda." "Jagad Dewa, Jagad Pramudita. Sekuat itu dalam hanya dua bulan! Dalam dua tahun pun aku tak mampu!" "Belajar percaya. Kakanda, belajar mempercayai." "Mulut brahmani!" Diamlah. Balatentara Tumapel takkan lagi dapat Kakanda perintah."

"Empu Gandring!" Tunggul Ametung mengaum. Kemudian dengan suara rendah. "Dari mana kau bisa mengetahui?" "Arok, Kakanda." "Suruh Arok membinasakannya." "Dia sudah lakukan." Tunggul Ametung mencekam kepalanya. Pedangnya jatuh bergelontang di lantai. "Pijiti kepalaku!" perintahnya. "Yang keras! Keras! Lebih keras!" pekiknya. "Bolehkah destar ini aku buka?" "Buang! Cepat pijiri!" Dalam pijitan Dedes yang kurang kuat mata Akuwu membeliak dan berpendaran liar. "Dia sudah binasakan Gandring, ahli senjata tiada tara, tanpa perintahku. Dari mana balatentaraku akan mendapatkan senjata? Khianat!" bisiknya. "Kakanda tak punya balatentara lagi sekarang ini." "Jagad Dewa." "Tidurlah, Dedes menjaga Kakanda." "Apa kekuatanmu?" "Arok masih terikat pada persetujuan," Paramesywari menolong membaringkan kepalanya di atas bantal. "Dia bukan musuh Kakanda. Belajarlah percaya. Atau perlukah kiranya aku nyanyikan?"

Tunggul Ametung bergumam tidak kentara. Kemudian terdengar suaranya yang cepat, diucapkan dengan mata terkatup: "Akan kubelah kepalamu dengan tanganku sendiri." "Ya, Kakanda, setelah semua reda kembali." "Ya, dengan tanganku sendiri." Betul." Juga si keparat Lohgawe, Belakangka, semua orang Syiwa." "Ya, semua orang Syiwa." Tiba-tiba ia membuka mata, bertanya gugup: "Suara apa itu?" "Tiada aku dengar sesuatu." "Dengarkan yang baik," Tunggul Ametung melirik ke langit-langit, agak lama tiada berkedip. "Tiada kau dengar?" Ken Dedes mengangguk. "Apa kau dengar?" "Suara orang-orang Syiwa." Akuwu mencari-cari pedang dengan tangannya. "Siapa? Arok?" "Bukan. Orang-orang Syiwa yang sudah Kakanda bunuh." Ken Dedes meninggalkan Bilik Agung. "Dedes! Dedes! Jangan pergi!" Kebo Ijo berhasil dapat membungkam para tamtama dengan tambahan catak dan saga. Ia menjadi canggung tanpa Empu Gandring. Namun ia lega juga dengan hilangnya orang yang pandai menguasai dirinya itu. Sekarang ia menjadi orang paling terkemuka dari gerakannya. Ia menjadi kecil hati tanpa Belakangka, apalagi catak dan saga sudah mendekati habisnya. Juga tanpa dia ia kehilangan jaminan dari

Kediri. Kalau demikian ia merasa bebas tanpa ada orang lain lagi menyorongnyorongnya. Ia tahu, bila perak dan emas telah tandas dari persediaan, para tamtama itu akan berbalik menentang dan menghadapinya. Sumber emas yang diketahuinya sekarang adalah rumah Empu Gandring, Belakangka, pekuwuan dan Arok. Diajaknya empat orang tamtama mengadakan persekutuan kecil untuk merampok rumah Empu Gandring dan Belakangka. Ia tahu seluruh balatentara mendapat liburan sampai besok, dan mereka sedang sibuk berpesta menjarah dan merampok, memperkosa dan menganiaya, karena Hyang Kama telah mere ka taklukkan, dan hukum adalah kepunyaan balatentara Tumapel. Mulai nanti malam Tumapel dan Dedes telah jadi miliknya. tapi para tamtama harus tetap dapat dikendalikan. Dan kendalinya hanya janji naik jadi perwira, kantong berisi catak dan saga. Telah dapat ia bangunkan keyakinan: sekali kesempatan ini meleset, dia takkan datang lagi untuk selama-lamanya. Dan empat orang tamtama itu menyetujuinya. Dengan kawalan pasukan kuda mereka mendatangi rumah Empu Gandring dan tidak mendapatkan sesuatu kecuali pertanyaan anak-bininya tentang bapa-suami mereka. Bahkan tak ada lemari batu di dalam rumah itu. Empu Gandring ternyata cermat dalam sim-panmenyimpan, juga menyimpan maksud-maksud pribadinya sendiri.

Di istana Belakangka mereka dapatkan sekumpulan selir. Juga lemari baru itu tak mereka dapatkan. Sebagai hiburan sial mereka lucuti para selir dari perhiasan mereka. Kemudian mereka kembali ke asrama. "Bagian kalian adalah yang terakhir, yang terbaik," Kebo Ijo menghibur pasukan kuda yang mengawalnya. "Harta-benda dalam pekuwuan akan jadi milik kalian." Kebo Ijo menyesal memberikan janji itu. Mereka bisa menjadi murka bila ia tak bakal memenuhinya. Dan ia tidak bakal memenuhinya. Seluruh pekuwuan harus jadi miliknya sendiri, termasuk singgasana, Dedes dan dana negeri. Ia akan hadapi pasukan kuda sebelum jadi murka dengan balatentara Tumapel. Sebelum sampai ke asrama, di sebuah jalan raya negeri ia melihat suatu pertempuran terjadi di sekitar rumah besar seorang pedagang. Ia lambaikan tangan memerintahkan pertempuran lerai. Dan pertempuran itu tidak lerai. Seorang tamtama yang mengeringkannya melihat anak buahnya sedang berkelahi dengan para prajurit dari pasukan lain. Ia menceburkan diri membantu anak buah sendiri. Kebo Ijo meneruskan perjalanan. Kalau tamtama itu tewas dalam pertempuran, bahaya untuk dirinya akan berkurang dengan seorang lagi. Ia menduga dalam pekuwuan sudah tersedia barang lima puluh ribu saga, dan catak tak terhitung lagi. Nanti malam, bila seluruh kekuasaan sudah jatuh ke tangannya paling banyak ia akan bagikan sepersepuluh. Mula-mula para tamtama, kemudian seluruh prajurit kuda.

Bagaimana menyelamatkan selebihnya? Ia pilih para tamtama yang dianggapnya terdekat dengan dirinya - mereka yang sekarang mengiringkannya. Terbatas pada mereka saja segala-galanya akan diatur. Mereka pun akan ia angkat sebagai menteri dan patih, dan semua akan beres. Pada dasarnya ia tidak pernah mendendam Tunggul Ametung karena tewasnya ayahnya, Kebo Delancang. Makin dekat dengan waktu yang dijanjikan oleh Ken Dedes, makin muncul gambaran Akuwu sebagai pembunuh ayahnya, makin ia merasa berdosa bila tidak membalas akan dendam: ia mempunyai alasan untuk lakukan itu. Harus! Hanya dengan jalan membunuhnya darah satrianya akan mendapat pengkokohan. Sampai di asrama, keadaan masih lengang. Para prajurit masih gila dengan pestanya. Hanya para tamtama dari Gerakan Empu Gandring yang masih tetap berada di tempat. Yang tidak bergabung juga sedang sibuk mempertahankan harta keluarga sendiri dari jarahan dan perampasan. Kedatangannya disambut oleh pertanyaan dari seorang tamtama yang paling menjengkelkannya itu: "Belum juga kau jawab tentang Empu Gandring dan Yang Suci." "Apakah belum cukup pundi-pundimu diisi?" ia sengaja membikin jawabannya jadi keras. "Bukan pundi-pundi dan isinya yang aku tanyakan, Kebo; kepastian tentang Empu Gandring dan Yang Suci." "Kalian akan bertemu dengan mereka nanti malam."

"Sebagai apa? Sebagai tangkapan pasukan Arok?" "Arok hanya menjalankan perintah Akuwu." "Di mana mereka sekarang?" tanyanya. "Sekarang ini tak perlu kau tahu." "Kebo, itu tidak benar. Perlu kau ketahui apa kata Empu Gandring padaku terakhir kali: Jaga si Kebo, memang dia punya darah - lebih dari itu tidak!" "Itulah Empu Gandring. Tentang kau untuk terakhir kali dia bilang padaku: jangan turutkan kehendakmu. Karena apa? Karena kaulah, katanya, tukang jegal yang bisa membikin orang terbalik sewaktu tertawa suka." "Kata-katanya terakhir padaku," seorang tamtama lain menye-ia,"dia memperingatkan agar waspada pada tamtama selebihnya." "Itulah Empu Gandring," seru Kebo Ijo. "Pendeknya bukan dia yang membiayai semua ini. Aku. Kalian yang takkan pernah jadi perwira tanpa perlawanan terhadap Tunggul Ametung ini - sekali kita bertengkar, semua kesempatan akan hilang. Dengan cakra Hyang Wisynu, dengarkan Kebo Ijo bicara, akan kupeli-hara Gerakan Empu Gandring ini tanpa Empu Gandring." "Belum ada seorang resi pun yang membenarkan ada cakra Hyang Wisynu pada tanganmu," seseorang membantah.

"Setidak-tidaknya," orang lain lagi menambahi, "Tunggul Ametung dibenarkan oleh Resi Belahan. Siapa benarkan kau?" Kebo Ijo gugup dan menangkap satu-satunya pegangannya selama ini: "Semua kalian tahu, silsilah Kebo Ijo sudah ada di Kediri. Adakah pada salah seorang di antara kalian ada? Yang Tersuci Tanakung telah mempelajari dan membenarkan. Apakah pada salah seorang di antara kalian ada? Siapakah yang lebih dekat pada Kediri di antara kita? Aku ataukah kalian?" "Tentang itu biarlah wakil Kediri yang bicara, bukan kau!" Kebo Ijo menggeragap. "Apakah gunanya kita bertengkar begini?" seorang tamtama lain lagi menyela. "Waktunya semakin pendek, dan Paramesywari Tumapel, sejauh yang kita ketahui, telah bersedia menerima seluruh balatentara Tumapel. Sejak kejadian itu Tunggul Ametung sudah tiada artinya lagi. Kita tinggal menunggu saat resmi malam ini. Apa guna semua percekcokan ini? Apalagi kita sekarang mengetahui, Empu Gandring mengadu-domba kita selama ini?" Kebo Ijo melirik pada pembicara terakhir itu, dan diketahuinya dia adalah salah seorang pengiring yang telah dipilihnya. Dan orang itu meneruskan: "Bagaimana pun, Kediri akan mengakui Kebo Ijo daripada kita sekalian. Selama ini dia hanya tamtama seperti kita. Itulah kejahatan Tunggul Ametung yang tidak mengindahkan triwangsa. Untuk mengerti itu tak perlu melalui ucapan Yang Suci.

Wakil Kediri itu ada atau tidak, aturan itu berlaku dengan sendirinya. Tidak mengindahkan aturan para dewa akan tumbang dengan sendirinya, atau harus ditumbangkan. Lagi pula Kebo bukanlah seorang Syiwa, dia Wisynu seperti kita semua. Maka dia patut dan harus didengarkan." Kebo Ijo mendapatkan kepribadiannya kembali: "Memang itulah yang kumaksudkan untuk menyampaikan pada kalian. Sekarang terserah pada kalian apakah kita berhenti sampai di sini saja atau harus melangkah. Barangsiapa lebih suka berhenti barangtentu akan kita tinggalkan." "Aku ikut bersama denganmu, Kebo, karena para dewa lebih dekat pada seorang satria daripada sudra. Barangsiapa telah patah di tengah jalan, tinggallah di sini, atau bergabunglah dengan para prajurit yang sedang berpesta. Barangsiapa ikut dengan Kebo Ijo, mari kita iringkan dia pergi ke pura. Tindakan sepenting ini tidak patut tanpa diketahui oleh Hyang Wisynu." "Dengan memohon pada Hyang Wisynu kita tidak akan bersalah pada para dewa dan juga tidak pada Kediri," Kebo Ijo menambahi. "Kau berkokoh tak mau menerangkan bagaimana nasib Yang Suci dan Empu Gandring," tamtama yang menjengkelkan itu mulai lagi. "Dua-duanya ada pada Arok dan Akuwu," jawab Kebo Ijo gusar. "Kalau kau hendak ikut bersama mereka, pergilah" "Dan kau terlalu percaya pada Paramesywari." "Kau terlalu percaya Paramesywari berkuasa atas Arok!" yang lain lagi menambahi.

"Jadi kau percaya pada siapa?" tanya Kebo balik. "Hanya pada HyangWisynu." "Kalau begitu mari bersama aku pergi ke pura," ajak tamtama penyokong Kebo. "Mari berangkat, Kebo! Kami akan iringkan!" Ajakan yang membebaskan itu memaksa Kebo itu bangkit berdiri dan mulai melangkah meninggalkan asrama dalam iringan para tamtama penyokong. Beberapa orang yang melihat hampir semua mengikuti Kebo merasa kehilangan pegangan, ikut berdiri dan mengikuti mereka tanpa kerelaan. Para penduduk Kutaraja yang kaya dalam keadaan kacau-balau itu menyebarkan hamba-hambanya, berseru-seru memanggil para prajurit untuk mempertahankan harta benda dan keluarganya. Mereka menjanjikan upah tinggi. Mereka yang mempunyai sanak tamtama memerlukan menghubungi untuk minta bantuan. Perkelahian antar prajurit Tumapel semakin menjadi-jadi. Darah bertetesan di mana-mana. Kelompok-kelompok prajurit baru, yang tak dapat melihat kejahatan itu pada melarikan diri kembali ke desa masing-masing di luar kota. Sampai di tengah perjalanan mereka kembali harus melarikan diri berpapasan dengan pasukanpasukan Arok yang sedang menuju ke Kutaraja. Kelompok-kelompok lain, juga dari angkatan baru, dalam bondongan melarikan diri ke pekuwuan minta perlindungan pada pasukan Arok.

Darah bertetesan di jalan-jalan dan pelataran rumah orang-orang kaya dan tidak kaya. Setiap dendam pada penduduk, betapa pun kecilnya, kini mendapat kesempatan dilepaskan: lamaran tertolak, permintaan tertolak, sikap yang dianggap kurang hormat dan kurang menghinakan diri sendiri di hadapan prajurit Tumapel, lelucon para prajurit yang tidak ditanggapi dengan tawa. Terutama yang paling menderita adalah kaum terpelajar yang miskin dan tak mampu menyewa tenaga pembela dalam kerusuhan ini. Karena keterpelajarannya para prajurit menjadi dengki. Dalam kekacauan sekarang mereka mendapat kesempatan untuk membuktikan: senjata lebih berarti di tangan orang sebodoh-bodohnya daripada keterpelajaran dalam tubuh tanpa pelindung. Arus bondongan penduduk yang melarikan diri ke luar kota melalui segala cara yang mungkin tak lagi dapat dibendung, siang dan malam, terutama wanita dan kanak-kanak. Di beberapa tempat penduduk telah pula mulai melawan. Dan para pelawan makin lama meningkat jumlahnya. Mula-mula secara perorangan, kemudian bergabung, kampung demi kampung. Pasukan kuda, yang sudah tak lagi melihat Yang Suci Belakangka, kemudian jadi ragu-ragu terhadap perkembangan yang tak jelas jurusnya. Hanya karena jaminan dari Belakangka menyebabkan mereka masih tinggal tertib. Tetapi terus-menerus mengawal Kebo Ijo? Mereka tak tahu lagi apa pula gunanya. Perwiranya, seorang sanak-jauh dari Tunggul Ametung kemudian menyedari, bahwa gerakan besar yang dipimpin Kebo Ijo bertujuan untuk menggulingkan pamannya. Sang Akuwu. Mengerti, bahwa bila Tunggul Ametung terguling ia sendiri kemudian akan mendapatkan giliran, akhirnya memerintahkan pasukannya menarik diri, membawanya lari ke Kediri melalui utara. Perwira itu telah bertekad untuk mempersembahkan segala sesuatu di Tumapel pada Ratu Angabaya, dan akan mohon perlindungan Kediri. Ia tidak tahu siapa yang harus dilawannya sebagai prajurit Tumapel.

Empat ratus prajurit kuda itu nampak sebagai gelombang tebal yang memenuhi jalanan. Tanpa panji dan tanpa umbul-umbul. Mereka sudah buang segala tanda-tanda Tumapel dan menjadi pasukan liar. Sore itu hujan turun lagi dengan lebatnya. Hanya sebentar. Namun air yang mengalir dari gunung-gunung di sebelah utara tak dapat ditampung oleh selokan kiri-kanan jalanan negeri, naik ke atasnya. Dan pasukan Santing, Arih-Arih dan Bana menderap maju dengan semangat mengalahkan dingin dan hujan. Sepanjang jalan semakin menggembung besar dengan ikut-sertanya penduduk yang bergabung: orang-orang Syiwa, Wisynu, Buddha, Kalacakra, Tantrayana, Durga dan mereka yang hanya memuja leluhur. Selama ini Tunggul Ametung paling memusuhi orang Syiwa, maka yang paling keras melawan adalah juga golongan mereka. Dalam sut pasukan Bana harus masuk lebih dahulu ke Kutaraja. Pasukannya yang terdiri atas anak-anak belasan tahun itu bukan lagi berbaris, tetapi telah mendekati lari, semua sudah kehilangan kesabarannya untuk segera melaporkan keadilan yang telah mereka laksanakan pada Arok.

Sepanjang jalan ia bertemu dengan wanita dan kanak-kanak yang melarikan diri, juga prajurit-prajurit Tumapel angkatan baru. Makin lama makin banyak barisan yang mengikuti, terutama gadis-gadis dari desa-desa yang dilalui. Dan pasukan itu semakin jadi bersemangat. Sepanjang jalan orang berseru mengumumkan: pasukan Arok turun dari gunung untuk menggempur Kutaraja, menggulingkan Tunggul Ametung. Di belakangnya menyusul pasukan Santing - sebuah pasukan yang telah berpengalaman melawan Tumapel selama lima tahun, juga diikuti oleh petampetani dewasa dari desa-desa yang pernah dilindunginya, membawa segala macam senjata dan perbekalan. Di belakangnya lagi menyusul pasukan Arih-Arih - sebuah pasukan yang telah berpengalaman selama tiga tahun, dengan keahlian memainkan bandul batu dan merayap dalam kegelapan. Sama halnya dengan pasukan Santing, dua-duanya mahir menguasai medan di rimba belantara. Dari sebelah barat pasukan si mata-satu Mundrayana membawa serta dengannya semua penduduk desa kaki Gunung Arjuna, laki dan perempuan, tua dan muda. Pasukan bekas budak, yang mendalam dendamnya terhadap Tunggul Ametung dan barisan jajaro ini, boleh menggunakan panah cepat yang dipelajarinya dari barisan biarawan dan biarawati. Penuh kepercayaan, senjatanya tiada terlawan oleh tombak dan pedang, mereka akan dapat menumpas balatentara Tumapel dengan hujan-mautnya. Di tengah-tengah rombongan penduduk yang bergabung terdapat juga Nyi Lembung, yang diangkat dengan tandu. Dalam rombongan lain terdapat pandita Tantripala, yang naik kuda dituntun oleh murid-muridnya. Dalam rombongan

penduduk terakhir terdapat Dang Hyang Lohgawe, juga naik kuda, dalam iringan murid-muridnya. Semua takkan lewatkan kesempatan untuk saksikan tumbangnya Tunggul Ametung. Mendung di atas mereka tidak menjatuhkan hujan, namun jalanan yang biasa dihancurkan oleh ladam kuda itu telah rusak dan mengandung lumpur. Seluruh barisan itu dua kali berhenti di sebuah desa di pinggir jalan untuk bersantap. Dan sore pun datang waktu mereka harus meneruskan perjalanan lagi. Waktu senja jatuh, pasukan Mundrayana melihat di depannya gelombang besar pasukan kuda Tumapel. Mereka langsung bersorak perang dan menyerukan datangnya pasukan Arok Pasukan kuda di depan itu nampaknya hendak menerjang gelombang manusia yang menghadang jalan, tak peduli dan tidak gentar pada sorak-perang. Melihat itu pasukan Mundrayana memerintahkan penduduk yang serta meminggir ke kiri dan kanan jalan. Mereka menyibak diri seperti gelombang pecah dua. Dari depan pasukan kuda bersorak menjawabi. Mendengar tantangan itu pasukan Mundrayana langsung lari ke depan. Jarak mereka semakin dekat. "Minggir untuk pasukan kuda Kediri!" terdengar pekikan dari depan. "Balik untuk pasukan Arok!"

Dengan pedang terhunus Mundrayana lari mendahului pasukannya dan memerintahkan menyemburkan hujan panah. Anak panah melesit ke udara seperti sekelompok awan, membikin terdepan pasukan kuda itu membanting arah ke kiri dan kanan. Pasukan kuda yang tidak bermaksud hendak bertempur itu terpaksa menghindari hujan panah, sebentar berpusing-pusing di tempat, kemudian semua membelok menerjang desa, dengan hujan panah terus mengikuti. Kuatir mereka kemudian menyerang rombongan penduduk di belakang, pasukan Mundrayana berbalik dan lari ke belakang untuk menyempurnakan pengusiran Pasukan kuda itu semakin menjauh, menerjang-nerjang ladang dan sawah untuk kemudian menghilang dari pemandangan. Pasukan Mundrayana bersorak gembira, mengetahui tanda-tanda ketakutan dari balatentara Tumapel. Pasukan cepat penindas kerusuhan kecil-kecilan itu ternyata gentar melihat gelombang manusia dari belasan ribu orang yang bersenjata. Para gadis berlarian ke depan untuk memunguti anak-anak yang berhamburan dan menyerahkan kembali pada para prajurit Mundrayana. Mereka maju lagi dan matahari pun hilang ditelan oleh pegunungan dan puncak rimba. Di selatan kota pasukan Umang telah dua kali beristirahat di desa di pinggir jalan. Semua perempuan desa terangsang untuk serta: hampir seluruhnya Wisynu dan pemuja Dewi Sri. Tetapi serangan yang semakin datang menyerang kesempatannya menyebabkan ia digantikan oleh Oti.

Di belakangnya, pasukan Lingsang yang merasa bersalah telah mau dibawa oleh Hayam Lumang Celukan untuk melawan Arok, untuk penebus kesalahannya, adalah yang paling bersemangat mengagungkan Arok. Sepanjang jalan pasukan itu bersorak-sorai menyebut nama pemimpin tertinggi mereka. Dalam pasukan Tanca tergabung beberapa ratus orang dhar-mana Kediri.Tanca sendiri agak kurang bersemangat. Mpu Parwa yang dijemputnya ternyata menolak ikut serta memasuki Kutaraja. Ia tak berhasil membujuknya, bahwa kedatangannya adalah untuk menyaksikan kejatuhan Tunggul Ametung. "Takkan kuinjakkan kakiku di bumi Kutaraja," jawabnya. "Juga tidak untuk melihat jatuhnya Tunggul Ametung." "Setidak-tidaknya untuk menyaksikan bebasnya Dedes, ya, Bapa Mpu Parwa," Tanca mencoba mempengaruhi. "Sejak dia membiarkan diri tersentuh oleh orang Wisynu terkutuk itu, aku menjadi ragu apakah benar dia anakku." Tanca merasa tak punya hak untuk mendesaknya lebih lanjut, kecuali memberitakan: "Sahaya hanya menjalankan perintah dari Arok, Bapa." "Berangkatkan pasukanmu dengan restuku," dan ia tak bicara lagi, kemudian pergi ke candi Agastya.

Tanca merasa tidak puas dengan gagalnya tugas itu. Ia dapat melihat jatuhnya Tunggul Ametung kurang sempurna tanpa saksi Mpu Parwa, yang justru berkepentingan melihat bebasnya Dedes. Senja mulai jatuh. Dan ia belum juga perintahkan pasukannya bersorak. Yang bersorak-sorai justru sisa penduduk yang tidak sempat menggabungkan diri dengan pasukan-pasukan sebelumnya. Mendung di langit masih juga tergantung. Hari menjanjikan malam yang gelappekat. Guruh terdengar terus-menerus menggerutu di kejauhan. Dan Tanca masih juga belum dapat menemukan jawaban apa harus dikatakannya pada Arok tentang tak hadirnya Mpu Parwa. Di barisan terdepan Oti terus juga memberanikan Umang: "Kuatkan, kuatkan. Katakan pada anak dalam kandunganmu itu: jangan ganggu ibu yang sedang maju ke medanperang." "Lihatlah, sudah aku tahankan." "Pinggiran kota sudah hampir sampai. Pergunakan untuk bersorak. Tidak benar kalau anak itu harus jadi bebanmu." "Jagad Dewa," pekik Umang. "Bersorak kalian!" kemudian ia lari ke belakang, memerintahkan pada penggabung yang telah parau itu untuk membuka suara. Malam jatuh waktu barisan terdepan itu melewati pinggiran kota, melalui desa Empu Gandring, Lumambang. Sebagaimana direncanakan pasukan Umang menyebar ke sekeliling pabrik senjata di tentang rumah Empu Gandring. Dihancurkannya pintu-pintu batu pada bukit kecil di belakang pabrik dan dikeluarkan senjata-senjata yang telah jadi. Yang tidak bersenjata kini bersenjata. Tak ada yang ditinggalkan di gua dalam bukit. Tumpukan-tumpukan dijajar di

pinggir jalan untuk dipergunakan oleh pasukan-pasukan yang masih di belakang. Kemudian mereka memekikkan sorak-perang lagi. Wanita-wanita yang hanya bercawat itu mendesak maju dalam kegelapan Kutaraja, menghalau prajurit-prajurit Tumapel yang lena dalam gila pesta menjarah dan merampok. "Pasukan Arok datang! Pasukan Arok datang!" Pada mulanya prajurit-prajurit Tumapel tidak menyedari, mereka datang untuk menyerang. Sorak-perang dari tenggorok-an wanita itu terdengar aneh, tinggi dan ngilu, tidak menggambarkan semangat haus darah. Serenta mereka mengetahui wa-nita-wanita menyapu para prajurit Tumapel dari kampung ke kampung dan dari desa ke desa, membinasakan mereka yang terpapasi, terpaksa mereka lari belingsatan meninggalkan segala yang telah terampas dan termiliki. Sorak-sorai itu memburu-buru, membuntuti ke jantung ibukota... Malam itu seratus depa jalanan kiri dan seratus depa jalanan kanan depan pekuwuan bermandikan sinar damar besar, berjajar-jajar sampai ke pelataran, pendopo pekuwuan. Tetapi pendopo itu sendiri tidak bersuasanakan pesta - kosong. Ratusan prajurit Arok berbaris berjajar sebagai pasukan kehormatan menyambut kedatangan Kebo Ijo dan para tamtama Mpu Gandring yang mengiringkannya.

Arok dan Handanu berdiri pada tangga pendopo sebagai penyambut resmi. Kebo Ijo datang dalam pakaian kebesaran, berhias dengan serba emas, diiringkan oleh seratus empat puluh tiga tamtama - semua dalam pakaian kebesaran. Pasukan penyambut mengge-dikkan tombak mereka pada tanah, kemudian berlutut dengan satu kaki. Dan Kebo Ijo meneruskan perjalanan tanpa menggubris. Ia berjalan paling depan. Di belakangnya empat orang pengiring tepercaya, di belakangnya lagi para tamtama selebihnya. Dari kejauhan mulai terdengar sorak-perang pasukan Arok, tetapi mereka tidak memperhatikan, mengirakan seruan-seruan para prajurit Tumapel yang sedang berpesta. Kebo Ijo melangkah gagah langsung ke pendopo. Arok dan Handanu menggedikkan tombak. "Yang Mulia," Arok memulai. "Silakan naik. Yang Mulia Akuwu masih di Bilik Agung. Sahaya akan menjemput Yang Mulia Paramesywari dari pura-dalam." "Ya, pergi kau menjemput Yang Mulia Paramesywari!" Arok dan Handanu menggedikkan tombak, kemudian balik kanan jalan melalui depan pekuwuan pergi ke belakang.

Kebo Ijo naik ke pendopo yang kosong dari manusia, pengawal ataupun narapraja. ia berjalan langsung ke Bilik Agung dan berhenti pada tabir bambu patung. "Tunggul Ametung!" serunya, "keluar kau!" Dari dalam terdengar orang batuk. Dan Kebo Ijo mengulangi perintahnya: "Aku belah kepalamu! Siapa kau, berani-berani buka mulut padaku?" terdengar suara parau dari dalam. "Dedes! Dedes! Di mana kau, Permata?" "Mabok!" bisik seorang pengiring. "Segera masuk, sebelum Paramesywari datang," bisik yang lain. "Hanya ini kesempatan kita." Kebo Ijo menghunus pedang dan masuk ke dalam. Terdesak dari selatan para prajurit Tumapel yang belum tahu betul duduk-perkara, berlarian ke pusat ibukota. Tetapi sorak-perang dari sebelah utara dan barat mulai mendesak, menggelombang seperti laut pasang. Kilat yang berkejapan menjadi suluh bagi para prajurit yang berlarian dari utara dan barat. Kini mereka mulai mengetahui, benar-benar pasukan besar Arok sudah datang menerjang kota dari tiga jurusan. Tak ada tempat bisa mereka pergunakan berlindung. Asrama yang pada mulanya mereka pergunakan berkumpul, kini mereka tinggalkan lagi dalam keadaan bingung tanpa perwira tanpa tamtama. Mereka hanya bisa mengangkuti harta-benda paling berharga, membela diri secara perorangan dan melarikan diri ke arah timur - daerah hutan belantara yang belum terjamah manusia.

Pasukan Arok makin mendesak dan membiarkan timur kota tetap terbuka. Sorakperang dan seruan pasukan Arok datang menggiring balatentara Tumapel yang belingsatan itu meninggalkan tempatnya. Rumah-rumah penduduk yang dipergunakan mereka bersembunyi ditinggalkan oleh para penghuni, yang memanggil kedatangan pasukan pendatang. Para petani penggabung tidak kalah bersemangat dari prajurit-prajurit Arok. Mereka berlari sambil menyerang dan menyerbui rumah-rumah yang dipergunakan bersembunyi. Gelombang dari luar kota menguasai Kutaraja setapak demi setapak, meninggalkan prajurit-prajurit Tumapel bergelimpangan, dan mendesak terus ke titik yang dijanjikan pekuwuan Tumapel untuk melihat sendiri jatuhnya Tunggul Ametung dan Tumapel. Gedung pekuwuan terkepung rapat dengan tombak. Sorak parau makin menderuderu, menggentarkan para tamtama yang kebingungan menunggu di pendopo. Kemudian orang melihat Kebo Ijo keluar dari bilik dengan pedang berlumuran darah. "Pasukan Arok datang!" Ia berjalan ke tengah-tengah kumpulan tamtama. Matanya liar melihat kepungan tombak di hadapannya. Ia lari meninggalkan pendopo masuk kembali ke Bilik Agung.

Para tamtama tinggal duduk di tempat. Kemudian seperti mendapat perintah gaib semua bersujut dengan kening pada lantai. Paramesywari didampingi oleh Arok dan dikawal oleh regu besar bertombak naik dari depan ke pendopo. Orang bersorak menyambut. Para tamtama tetap bersujud menyerah di tempat. Arok mengangkat tangan menyuruh semua pasukan luar kota diam. Ken Dedes berhenti menunggu Arok. Dan seorang tamtama memekik dalam sujudnya: "Ampun Yang Mulia Paramesywari, inilah para tamtama Tumapel datang untuk bersujud pada kaki Yang Mulia." "Di mana Kebo Ijo?" "Di dalam Bilik Agung, Yang Mulia." Dedes didampingi oleh Arok, diiringkan oleh regu bertombak masuk ke Bilik Agung. Melihat Arok datang dengan regu bersenjata, dengan pedang berlumuran darah ia lari ke pintu Taman Larangan. Tapi tak mungkin, juga di situ tombak-tombak menyeringai dari luar.

"Menyerah kau. Kebo Ijo!" perintah Arok. "Dan lihat kalian, semua pengawal, dia telah masuki Bilik Agung. Pada tangannya pedangnya sendiri, berlumuran darah." Semua yang melongok ke Bilik Agung melihat Kebo Ijo berdiri dengan pedang di tangan. Airmukanya tegang, matanya sedikit membeliak dan mulutnya agak terbuka sehingga kelihatan baris giginya yang hitam-kelam karena sirih dan jahawe. Di depan peraduan Tunggul Ametung menggeletak di lantai kayu, bermandi darah, tuak dan muntahan sendiri. Dadanya belah, perutnya menganga. Mukanya pecah, dan dari mulutnya masih keluar muntahan bercampur darah. Jari-jari tengahnya masih kelihatan bergerak-gerak tak kentara. Bau amis mengawang di udara. Ken Dedes mencekam dada dan memekik: "Kakanda!" ia lari pada suaminya. "Tangkap si Kebo!" perintah Arok. Tombak-tombak pasukan pengawal menyeringai mengepung Kebo Ijo. Pedang di tangannya jatuh menggelontang di lantai. "Tangkap semua tamtama di luar sana!" Sebagian besar para pengawal berlarian mengepung para tamtama di pendopo. "Ikat si Kebo!" Dan Kebo Ijo diikat.

"Pembunuh Yang Mulia Akuwu!" desis Arok. "Telah mati waktu sahaya masuk," jawab Kebo. Suara dan kakinya gemetar. "Penipu! Pedang dan tanganmu masih berlumuran darah." "Kakanda! Kakanda!" tangis Dedes, membungkuki suaminya. "Berapa kali kau pukulkan pedangmu?" desak Arok. "Hanya sekali, pada perutnya." Arok melangkah cepat ke arah Tunggul Ametung, membungkuk sebentar, merabanya sedikit, kembali pada Kebo Ijo: "Penipu, pembunuh. Paling tidak tiga kali kau memedang. Badannya masih hangat, jari-jarinya masih bergerak. Tak ada orang lain masuk kecuali kau!" ia menuding ke arah pintu ke taman Larangan. Dan di sana tombak - tombak menyeringai tanpa nampak prajurit-prajurit yang memeganginya. "Hanya kau!" "Sahaya hanya sekali memedang, sungguh mati, pada perutnya." Seseorang memukul mulutnya dengan gedigan tangkai tombak. Ia terdiam. Darah mengalir dari mulut itu. Paramesywari masih berlutut membungkuki suaminya dan meratap. Suaranya pelahan menghiba-hiba. Arok menghampirinya dan mempersembahkan: "Yang Mulia Paramesywari," ia berpaling dan menuding pada Kebo Ijo,"terserah pada Yang Mulia hukuman apa harus dijatuhkan pada penjahat itu." "Mati, Arok, Sang Akuwu mati," tangis Dedes.

"Panggil dan jemput Dalung!" perintah Arok pada anak buahnya. Dan empat orang lari keluar untuk menjalankan perintah. Arok menghampiri mayat Tunggul Ametung, membungkuk dan memperhatikan Dedes mengambil selendang dari kepala dan dengannya menyeka muka suaminya dari darah, kemudian menyeka dada, tangan. Tetapi darah itu masih juga mengucur dan mengotorinya lagi. Ia bantu Paramesywari menutupkan tapuk mata mayat itu, meletakkan tangannya di samping tubuh. Hening seluruh Bilik Agung dan pendopo. Sorak perang tak terdengar dari kejauhan. Lambat-lambat Paramesywari berdiri, mengangkat muka dan pandang pada Kebo Ijo, berkata pelahan: "Seorang satria - berkelahi dengan orang yang sedang mabok." Ia berpaling pada Arok, bertanya, "Apakah itu cukup patut, Arok?" Arok mengangkat pedang, terarah pada Kebo Ijo: "Jawab pertanyaan, Yang Mulia Paramesywari!" "Ampun," geletar suara Kebo Ijo. "Apakah kau sudah jadi jajaro, tak buka suara pada Yang Mulia Paramesywari?" "Ampun," ia jatuh berlutut. Seluruh tubuhnya gemetar.

"Giring semua tamtama itu masuk kemari dengan tertib, biar mereka saksikan apa telah diperbuat oleh pemimpinnya." Para tamtama itu berbaris merangkak memasuki Bilik Agung. "Inilah hasil kalian dari Gerakan Empu Gandring, hanya menumbangkan orang yang sedang mabok. Baik, kalian memang hanya sudra, tapi pemimpinmu ini, seorang satria! membunuh orang mabok - hanya paria yang dijajarokan bisa berlaku sehina itu!" Para tamtama itu berjalan membentuk lingkaran, merangkak tanpa menurunkan sembah, sampai orang terakhir meninggalkan Bilik Agung. Dalung masuk, langsung mendapat perintah mengurus mayat dan meletakkannya di pendopo. Dengan dua orang pembantunya ia bersihkan mayat itu dan membalurnya dengan wangi-wangian, kemudian mengangkat keluar. Tinggal hanya dua orang di dalam ruangan: Arok dan Dedes. "Dedes," bisik Arok, "semua sudah selesai." Dedes tak menanggapi. "Dedes, aku ulangi: semua sudah selesai. Bicara, kau." "Ya, semua sudah selesai."

"Mari ke pendopo," dan sampai di tempat Arok berkata keras, "Yang Mulia Paramesywari, dengan wafatnya Yang Mulia Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung, Yang Mulialah sekarang penguasa penuh di Tumapel. Titahkan sesuatu." Dari pasukan-pasukan luar kota yang mengepung membubung seruan-seruan tidak puas. Ken Dedes nampak mengge-ragap, menghindarkan pandang dari para pengepung di luar pendopo dan menancapkan pada wajah Arok. Bibirnya bergerak, tetapi tak sepatah kata keluar daripadanya. Dan bibir itu nampak kering. "Dengan mangkatnya Sang Akuwu pada hari ini," Arok memulai lagi,"Yang Mulia Paramesywari sekarang penguasa penuh Tumapel." "Arok Akuwu kita!" mereka bersorak. Arok melambaikan tangan menyuruh orang bersabar Tetapi kegelisahan umum itu masih juga merajalela Ia angkat tangan tinggi-tinggi, menyuruh semua diam. Dan kegelisahan itu makin lama makin mereda. Dari pemandangan sekilas Dedes mengetahui, semua orang mendengarkan Arok. Jantungnya mendenyutkan perasaan tak rela. Ia, seorang brahmani, adalah yang tertinggi di antara semua yang ada di hadapannya. Dan nampaknya orang tak ingin mendengarkan suaranya. "Titahkan sesuatu, Yang Mulia, seluruh kawula Tumapel sedang menunggununggu." "Kalian, para tamtama Gerakan Empu Gandring. Kalian telah melakukan persekutuan untuk membunuh Yang Mulia Akuwu dan telah melaksanakan pada

hari ini," suaranya ragu-ragu, sangat pelan, parau, tangan selalu diletakkan pada perut bawah. Dan Arok menompangi dengan suara lantang: "Siapa pemimpin kalian dari Gerakan Empu Gandring?" Melihat tak seorang menjawab, ia meneruskan: "Seluruh Tumapel dan ibukota, juga pekuwuan, telah terkepung oleh pasukan Arok. Balatentara Tumapel telah lari, binasa atau menyerah. Jangan kalian menganggap masih punya kekuatan. Salah seorang harus menjawab: Siapa pemimpin kalian?" "Empu Gandring," seorang menjawab. "Maka itu Empu Gandring telah aku tangkap. Siapa pemimpin kalian setelah itu?" "Kebo Ijo," semua menjawab. Kebo Ijo sendiri duduk menunduk dengan tangan terikat ke belakang. Arok menuding pada Kebo Ijo: "Diakah yang pimpin kalian untuk membunuh Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel yang dilindungi oleh Kediri'" "Kami datang bukan untuk membunuh," seorang menjawab, "Kami datang untuk menghadap Yang Mulia Paramesywari, dititahkan datang pada malam ini."

"Mengapa kau bunuh Yang Mulia Akuwu?" tanya Arok pada Kebo Ijo. "Mengapa tak kau jawab? Baik. Siapa perintahkan kau?" Pasukan Arok yang mengepung di luar dan di dalam pekuwuan, dalam dingin malam itu tetap tak bergerak dari tempat. "Jadi kau sendiri yang berkehendak membunuhnya. Untuk menggantikan Yang Mulia jadi Akuwu. Hei, kalian para tamtama Tumapel. Apa benar demikian?" "Benar! Benar!" para tamtama menjawabi ramai. "Apakah itu perintah Empu Gandring?" "Gandring memerintahkan menumpas Arok," sahut mereka. "Mengapa tak kalian tumpas aku dan pasukanku? Baik, kalian tak mau menjawab. Sayang sekali kalian tak lakukan itu." "Kau, Kebo Ijo, apa perintah kau terima dari Belakangka?" Dan Kebo Ijo tak dapat menjawab. "Yang Mulia Paramesywari, penguasa tunggal seluruh Tumapel, Yang Mulialah yang memeriksa mereka." Ken Dedes memberi perintah pada para pengawal untuk mengurus mayat Tunggul Ametung. "Dengan tindakan ini kalian telah menantang Sri Baginda Kretajaya - kalian, balatentara Tumapel, tetap setia pada Kediri. Untuk itu pasukan Arok telah menjaga keselamatan kami. Dan kau, Kebo Ijo, yang menyatakan telah menyerahkan balatentara Tumapel ke tangan kami, kau telah mengkhianati Tumapel dan Sang Akuwu, yang dilindungi oleh Kediri."

"Jangan jatuhkan dulu hukuman atas mereka. Yang Mulia. Mereka belum lagi bicara tentang kesertaan Belakangka dalam perkara ini." Pada anak buahnya:"Bawa kemari Yang Suci Belakangka." Kebo Ijo gemetar menjadi-jadi Belakangka berdiri di hadapan Arok Jubahnya telah lusuh dan destarnya agak miring. Ia bersidekap mempertahankan kemuliaannya. Tak ada tongkat padanya. "Nah, katakan, kau, Kebo Ijo, apa perintah yang kau terima dari Yang Suci." "Menumpas Arok," jawabnya. "Mengapa tak kau lakukan? Baik, kau tak mau menjawab. Jadi Yang Suci jelas hendak menumpas aku dan pasukanku. Dengan bantuan pasukan kuda pun kau tak lakukan itu.Yang Suci. Yang Suci telah dengar sendiri." "Si penipu!" desau Belakangka pelahan. "Demi hidup dan demi mati," susul Kebo Ijo, "dan memerintahkan juga menumpas Dang Hyang Lohgawe." "Si pembohong!" desau Belakangka. "Orang seperti Kebo Ijo tak mampu bicara bohong," susul Arok. "Dia bicara sewajarnya, atau membisu karena tak mau mengatakan. Yang Sucilah yang penipu dan pembohong."

"Untuk ucapanmu kepalamu jadi tebusan untuk Kediri, Arok." "Tidak apa-apa,Yang Suci. Yang Mulia Paramesywari, silakan meninggalkan pendopo kalau dikehendaki." "Baik, Arok, aku serahkan segala kebijaksanaan terhadap para perusuh ini ke tanganmu. Hukumlah yang sepatutnya mendapat hukuman karena dosa-dosanya, dan jangan sentuh mereka yang tidak bersalah." Arok mengangkat sembah, dan para pengawal mengiringkan-nya meninggalkan pendopo melalui kepungan pasukan Arok. Beberapa orang pengawal mengangkat mayat Tunggul Ametung. "Kalian semua dari pasukan Arok," seru Arok, "saksikanlah ini Yang Suci Belakangka Pandita Negeri Tumapel. Untuk menjatuhkan Sang Akuwu ia telah perintahkan membinasakan Arok dan pasukannya." "Tumpas dia, Arok!" orang mulai riuh berseru-seru. "Dan ditumpasnya Tunggul Ametung yang sedang mabok." "Pengecut!" orang memekik-mekik. Belakangka berbalik menghadapi pasukan Arok:

"Wakil Kediri mewakili kerajaan dengan balatentara cukup kuat. Hukuman bagi mereka yang menyentuh dan menghinakannya." Ia berbalik pada Arok dan menuding, "Kau Arok. perancang dari pembunuhan terhadap Sang Akuwu dalam perlindungan Kediri! Kau sendiri yang membunuh Tunggul Ametung." "Hai, kalian tamtama dari Gerakan Empu Gandring, siapa yang bunuh Sang Akuwu?" tanya Arok. "Kebo Ijo!" mereka menjawab serentak. "Jangan kalian terpengaruhi oleh kepungan pasukan Arok. Katakan sesungguhnya," seru Belakangka. "Apa arti pasukan Arok dibandingkan dengan balatentara Kediri? Hanya mentimun berbanding durian." "Kebo Ijo!" mereka mengulangi. "Kami lihat sendiri pedangnya berlumuran darah." "Kebo Ijo," desak Belakangka, "Kau tidak membunuh Tunggul Ametung. Arok yang membunuhnya. Dia orang Syiwa. Dia jago dari brahmana Syiwa Lohgawe yang tidak rela melihat kekuasaan Wisynu. Kau sendiri orang Wisynu, mana mungkin membunuh Wisynu yang lain? Tidak mungkin. Semua hanya akal si Arok." Para tamtama yang duduk berbanjar-banjar mengangkat pandang pada Belakangka. "Bahkan pasukan kuda Tumapel meninggalkan Yang Suci, karena juga Yang Suci tak dapat dipercaya." "Hukuman Kediri akan jatuh ke atas kepalamu menghina wakilnya, kau, Arok."

"Yang Suci betul memang tidak mau sahaya periksa. Baik." Ia berpaling pada pasukannya, "Inilah Yang Suci Belakangka, Pandita Negeri Tumapel dan wakil Kediri. Yang Suci inilah yang meniupkan kejahatan dalam hati Sang Akuwu untuk berjahat terhadap orang Syiwa." "Omong kosong," bantah Belakangka, "Tunggul Ametung sejak mula muncul sebagai penjahat. Karena kelemahan Kediri ia diakui sebagai penguasa Kediri untuk Tumapel. Juga Arok penjahat, hanya tidak diakui oleh Kediri. Hanya oleh Tunggul Ametung. Dua kucing jantan tak dapat berkumpul. Salah seekor harus kalah atau mati. Kucing Tunggul Ametung yang mati Kucing Arok tinggal hidup, kini menuduhnuduh." "Dan kalian yang mengenal Arok, inilah aku, kejahatan apa pernah aku lakukan terhadap kalian?" Tanca melompat naik ke pendopo: "Buka kupingmu. Yang Suci, kuping Kediri. Arok dan teman-temannya justru pelindung terhadap kejahatan Tunggul Ametung dan balatentara Tumapel yang dilindungi oleh Kediri. Dia dan teman-temannya memang penjahat, dengarkan - penjahat bagi Akuwu karena menghalang-halangi kejahatannya. Akuwu jahat karena wakil Kediri membenarkan kejahatannya, bahkan merancangkan untuknya." Tanca maju menghampiri Belakangka, menengok pada pasukannya: "Apakah Arok pernah menjahati kalian?"

"Dia lindungi kami dari kejahatan balatentara Tumapel yang dilindungi Kediri." "Tumpas Belakangka!" seorang wanita memekik sambil naik ke pendopo dengan tombak di tangan kanan dan laras panah cepat tergantung pada bahu. Wanita yang hanya bercawat itu menghampiri Arok, memekik, "Suami, mengapa tak segera kau tumpas?" Arok tertegun melihat wanita itu, kemudian melangkah cepat menghampiri: "Umang!" "Inilah istrimu dan anakmu datang," ia menghampiri Belakangka dan menuding, "Apa kau ragukan lagi. Suami?" "Biarlah semua orang tahu akan dosa-dosa Yang Suci. Kita hanya mendirikan kembali keadilan dan kebenaran, Umang." Kemudian berbisik, "Benarkah telah kau kandungkan anakku?" Sejenak orang terpesona melihat Umang. Dan dari tengah-tengah pasukan terdengar: "Beri jalan untuk Yang Suci Dang Hyang Lohgawe!" Brahmana itu dibantu naik oleh para prajurit Arok. Umang, Arok dan Tanca bersujud padanya dan membersihkan kakinya. "Bangun dan berdiri, kalian - kalian yang telah robohkan kejahatan tak layak sujud semacam ini."

Semua bangun dan Arok meneruskan: "Yang Suci Bapa Mahaguru Dang Hyang Lohgawe, bicaralah." "Bawa kemari Paramesywari dan mayat Tunggul Ametung!" ia berpaling pada Belakangka tapi tidak menegurnya. "Inilah kiranya dalang dari pembangkangan terhadap Kediri," tuding Belakangka pada Lohgawe. "Memasukkan jagonya ke pekuwuan untuk merampas segala dan semua." "Jangan biarkan penjahat Kediri itu bicara lebih lama!" seseorang memekik. Para tamtama yang duduk bersila masih tetap pada tempatnya, hanya berani menggerakkan leher dan tapuk mata. Paramesywari datang dalam iringan pasukan pengawal. Langsung ia bersujud pada Lohgawe: "Berdiri kau, Dedes, anak Mpu Parwa, Paramesywari Tumapel," sambut brahmana itu, "aku datang untuk saksikan runtuhnya Tunggul Ametung." "Dialah yang jelas dalang runtuhnya Tumapel dan Akuwu," pekik Belakangka.

"Tak ada sesuatu yang berhubungan dengan Kediri. Semua yang telah terjadi tinggal urusan Tumapel dan kawulanya," sanggah Lohgawe. "Mengerti kalian semua? Kawula Tumapel tak pernah berhutang sebutir beras pun pada Kediri." "Tumapel adalah bagian dari Kediri, Tumapel harus menghormati wakil Kediri," pekik Belakangka. "Tumapel tetap bagian Kediri," jawab Lohgawe, "hanya tidak mengakui penjahat yang kebetulan jadi wakilnya. Tumapel punya agama dan ugama sendiri, tak pedu sama dan tak perlu ditentukan oleh Kediri. Tak ada itu tersebut dalam rontal." Hujan turun dengan derasnya. Sebagian terbesar dari pasukan luar kota yang mengepung diperintahkan berteduh dan tetap siaga. Beberapa ratus orang yang tinggal berjaga diperintahkan naik ke pendopo. Suara percakapan di pendopo tersapu oleh deras hujan, guruh dan petir. Semua damar di jalanan depan pekuwuan di pindahkan di bawah-bawah atap yang tersedia. "Semua orang berhak melihat Tunggul Ametung," kata Lohgawe, "untuk melihat tampang orang yang selama ini menjahatinya." Pasukan luar kota itu bersorak mengiakan. Mereka yang ber-teduh datang kembali, telah merugi meninggalkan peristiwa bersejarah yang takkan terulang kembali untuk selama-lamanya itu. Tanpa menghiraukan hujan dan dingin mereka merapat dan mengintip dari sela-sela kaki temannya di pendopo. "Jangan bersedih, Dedes, bahwa seperti itu nasib mayat dari suamimu." Dedes mengangkat sembah:

"Bila sudah sepatutnya dia jalani, biarlah dia menjalaninya. Yang Suci. Biarlah semua dapat melihat orang yang pernah menjahatinya." "Dan sejak saat ini, Dedes, Paramesywari Tumapel, setiap penjahat harus diperlihatkan pada mereka yang pernah dijahati-nya, biar orang mengerti tampang dan sanubari penjahat!" "Sahaya, Yang Suci." "Dan kalian semua, seluruh pasukan Arok yang hadir, dari dalam dan luar kota, juga kalian para tamtama Tumapel, perhatikan pula tampang Yang Suci Belakangka ini, yang menggurui Tunggul Ametung dalam kejahatan terhadap kawulanya sendiri...." Lohgawe terhenti bicara. "Yang Terhormat Dang Hyang Lohgawe. apakah pantas menuduh wakil Kediri seperti itu?" "Itulah Yang Suci Belakangka, mengaku wakil dari Kediri. Sebelum kedatangannya, Tunggul Ametung hanya penjahat biasa, perampok, perampas, penculik dan pembunuh. Setelah kedatangannya orang Syiwa mulai dianiaya. Perbudakan mulai dijalankan untuk harus mendatangkan emas bagi mereka berdua Inilah orang yang merancang perbudakan. Kenalilah dia. Sehingga perbudakan yang celah dihapus oleh Sri Erlangga dua ratus tahun yang lalu muncul kembali, mempariakan kawula hanya untuk dapatkan emas. Itulah dosa Yang Suci." Dari barisan luar kota terdengar sorak pasukan Mundrayana. Mereka mendesak dan naik ke pendopo. Mundrayana, basah kuyub dengan matasatunya yang menyala menghampiri Belakangka:

"Inilah rupanya orang Suci yang membudakkan aku selama sepuluh tahun." Dalam waktu pendek Belakangka terkurung oleh para bekas budak basah kuyub yang menyala karena amarah. Dan Belakangka kehilangan kepribadian dalam kepungan para pengancam. "Kembali kalian!" perintah Arok. "Kalian hanya dengarkan agar mengerti duduk perkara." Mundrayana dan anak buahnya turun dari pendopo sambil bersorak menandingi bising hujan meninggalkan bercak-bercak di lantai. Belakangka terdiam mengalami kemerosotan semangat. Sebagian terbesar pasukan luar kota masih terdiam, tidak dapat mengikuti persoalan, tidak mengerti benar duduk perkara. "Yang Suci telah menuduh aku merancangkan penggulingan Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Tidak perlu dituduhkan. Semua kawula yang telah dirugikan olehnya menghendaki demikian. Itu adalah urusan Tumapel, bukan Kediri. Sebaliknya Yang Suci sebagai wakil Kediri hendak menumbangkan dia juga, hanya melalui penumpasan terhadap Arok dan pasukannya.Yang Suci telah berdosa terhadap Tumapel. Ken Dedes, Yang Mulia Paramesywari Tumapel, Yang Mulialah sekarang yang memutuskan." Dedes mengangkat pandang pada Arok. Ia tertegun menyedari hadirnya seorang prajurit wanita muda, hanya bercawat, bersenjatakan tombak dan panah cepat, berdiri di samping Arok. ia paksakan diri tersenyum, kemudian bicara pada Arok:

"Arok, singkirkan Yang Suci Belakangka dari pendopo. Berikan kesempatan pada semua orang untuk melihat orang yang selama ini telah menjahati mereka. Dialah biang keladi sesungguhnya dari kejahatan atas orang Syiwa dan perbudakan yang dilakukan oleh mendiang suamiku." "Turunkan Belakangka dari pendopo," perintah Arok pada pengawalnya, "dan pertontonkan pada umum mulai saat ini, sambil menunggu jatuhnya hukuman." Pasukan pengawal menggelandang wakil Kediri turun dari pendopo - memasuki hujan, disambut dengan sorak-sorai oleh pasukan Mundrayana. Kini pandang orang tertuju pada Kebo Ijo dan para tamtama. "Beri jalan pada Nyi Lembung!" seseorang memekik dari para pengepung. Dan jalan ke tangga tersibak. "Beri jalan pada emak Arok!" Seorang perempuan diturunkan dari tandu dan dipapah naik ke pendopo. Begitu sampai di geladak, ia lari, menubruk Arok. "Temu! Temu!" ia terhisak-hisak. "Aku tahu akhirnya kau menang juga atas pembunuh-pembunuh bapakmu." Semua mata tertuju pada Nyi Lembung, yang untuk kesempatan ini mengenakan pakaiannya terbaik. Dan sebagian dari pakaian itu telah basah meneteskan air di lantai geladak.

Ken Dedes menghampiri Nyi Lembung. Bertanya: "Inikah emak Arok?" "Inilah emak sahaya, Yang Mulia." "Dan siapa perempuan muda ini?" ia menengok pada Umang. "Inilah Umang, saudari pungut dan istri sahaya, prajurit dari pasukan luar kota sebelah selatan." Air muka Dedes berubah. Pandangnya gugup. Nampak ia berusaha menguasai diri, kemudian tersenyum: "Kita masih sibuk mengurus semua ini." "Temu, tunjukkan padaku siapa-siapa pembunuh bapakmu." Arok menuntun perempuan tua itu pada kelompok para tamtama dan menuding: "Semua di antara mereka, Mak." "Dan kau biarkan mereka tenang-tenang seperti tak punya dosa pada manusia dan Hyang Wisynu?"

"Setiap orang akan mendapatkan keadilan yang setimpal dengan dharmanya, Mak." "Demi emakmu ini, Temu, binasakan mereka sebagaimana mereka membinasakan bapakmu." "Binasakan mereka semua!" orang mulai bersorak gegap gempita menenggelamkan derai hujan. Ken Dedes lupa pada lingkungannya. Pandangnya tertuju hanya pada Umang: seorang gadis prajurit, berbibir tebal dan bermata kecil, kurus sehingga hanya buahdadanya saja nampak daging pada tubuhnya, mata menyala memperhatikan segala yang terjadi. Di luar hujan berhenti. Pasukan Mundrayana bersorak-sorai mengarak Belakangka dan menghujaninya dengan maki dan kutukan. Arok membawa Nyi Lembung kembali ke tempatnya, menghadapkannya pada Paramesywari. "Adakah emakmu ini Wisynu, Arok?" "Wisynu, Yang Mulia." Ia melangkah pada Umang, bertanya: "Adakah kau juga Wisynu?" "Wisynu," jawab Umang. Dedes berbalik dan melangkah pada Dang Hyang Lohgawe. Brahmana itu menyambutnya dan berkata:

"Tak ada salahnya mereka orang Wisynu." Dedes balik kanan jalan dan berhenti di hadapan Kebo Ijo. Tanpa mendapat perhatian orangTantripala naik ke pendopo, langsung pergi pada Lohgawe dan mengangkat sembah. Dan Lohgawe berseru pada Dedes yang memunggunginya: "Paramesywari, tak ada salahnya orang Wisynu itu. Orang Buddha pun tiada. Yang bersalah adalah yang berdosa terhadap para dewa dan sesamanya." "Arok! Mengapa kau diam saja?" pekik seorang dari pasukan luar kota. "Kitalah yang menang atas Tumapel. Kaulah yang sudah pimpin semua kita. Mengapa kau diam saja?" Arok berjalan melangkah pada pasukan luar kota, dan berbisik pada salah seorang di antaranya: "Jangan kalian kehilangan kesabaran - kalian yang telah bertahun-tahun berkelahi...," dan ia berbalik ke tempatnya. Menye-dari hadirnya Tantripala ia langsung datang padanya dan mengangkat sembah. Lingsang melompat ke pendopo dan langsung menghadap Paramesywari tanpa menyembah: "Yang Mulia, berikan kembali pada sahaya emak sahaya." Cepat-cepat Dedes menyeka muka, tersenyum dan bertanya manis:

"Kau prajurit luar kota?" "Sahaya, Yang Mulia." "Siapa emakmu, dan mengapa kau tuntut dari aku?" "Sang Akuwu telah menculiknya sewaktu sahaya masih kecil, dibawa ke pekuwuan dan tak pernah keluar lagi. Dengan bapak dan saudara sahaya diusir dari Tumapel." "Siapa emakmu?" "Rimang!" Tanca yang sejak tadi tak bicara, kini mendapat kesempatan berbuat, berseru-seru keluar: "Rimang! Rimang! Naik kau bersama Oti!" Rimang naik ke atas, langsung memeluk kaki Paramesywari. "Rimang?" tanya Ken Dedes. "Lihatlah, apakah ini benar anakmu." Rimang bangkit dan mengawasi Lingsang. "Itulah emakmu, Lingsang."

Mereka berdua berhadap-hadapan, kemudian berpelukan "Ampuni aku, Mak, menggunakan nama Wisynu Lingsang begini." Di luar mulai riuh orang menjerit-jerit: "Perang ini bukan untuk pertemuan keluarga!" "Berikan keadilan setimpal pada yang berdosa!" "Arok. kitalah yang menang, bukan Paramesywari Tumapel!" "Nyatakan sesuatu pada kami, Arok!" "Nyatakan! Nyatakan!" Sekali lagi Arok menghampiri lingkaran pasukan luar kota, berseru dengan suara lantang: "Dengarkan kalian - kalian yang telah bertahun-tahun sabar berperang, dan kini tidak sabar melihat penyelesaian...", ia berpaling ke belakang, melihat Dang Hyang Lohgawe, kemudian datang menjemputnya, dan mengajaknya berhadapan dengan pasukan-pasukan luar kota. "Dengarkan kalian - dengan ini aku nyatakan: Kita telah menang perang terhadap Tumapel. Mulai saat ini seluruh Tumapel adalah milik kita sendiri." Orang bersorak dan berjingkrak. "Akuwu Tumapel Tunggul Ametung kita dapatkan mati di bawah pedang kebo Ijo, tamtama Tumapel sendiri." Tak ada sorak dan tak ada jingkrak.

"Bukan berarti Kebo Ijo lebih berhasil daripada kalian. Justru karena desakan kalian maka kedudukan Tunggul Ametung menjadi lemah dan tidak berdaya. Keadaan itu dipergunakan oleh Kebo Ijo untuk membunuhnya. Dan dia tidak membunuhnya dalam keadaan perang - sedang seorang diri dalam keadaan mabok tuak." Sunyi-senyap. "Seluruh balatentara Tumapel sudah tidak berdaya menghadapi desakan dari luar kota dan siasat kita dari dalam kota. Kebo Ijo dan gerakannya, Gerakan Empu Gandring, tidak mempunyai sangkut-paut dengan kita. Dia adalah penjahat - telah membunuh orang tanpa perang." Tetap sunyi-senyap. "Kita semua tidak melawan Kediri, kita semua melawan kejahatan Tunggul Ametung." Di pendopo, kecuali Kebo Ijo dan para tamtama yang duduk dalam penjagaan pasukan pengawal, Ken Dedes bersama dengan yang lainnnya berdiri di belakang Arok dan Dang Hyang Lohgawe. Ken Dedes berdiri tepat di belakang Lohgawe. Airmata mengalir menyeberangi pipinya. Ia kuatir tempatnya sebagai brahmani dan Paramesywari terdesak oleh keadaan baru Ia merindukan ayahnya, mengharapkan pengaruhnya akan menyelamatkan kedudukannya. Ia tak rela di dunia ini ada seorang Umang, perempuan sudra dengan perlengkapan perang meng-hiasai dirinya, sedang pada badannya berkilauan perhiasan emas dan intan. Dadanya sesak. Akhirnya ia tak dapat menahan hati dan menangis tersedan-sedan.

Lohgawe dan Arok menoleh padanya. "Mengapa kau menangis, Cucu?" "Ayah sahaya, Yang Suci." Tanca mendesak ke depan dan memberitakan: "Yang Terhormat Mpu Parwa menolak menginjakkan kaki di bumi Tumapel." Tangis Dedes sekaligus padam. Ia tahu ayahnya tidak dapat mengampuni dirinya: ia tidak lebih tinggi daripada Umang. "Teruskan, Arok!" Orang mulai berseru-seru kehilangan kesabaran. "Ingat-ingat kalian, kita tidak melawan Kediri. Belakangka kita adili, tetapi belum kita putuskan. Kita tidak mengadili Kediri, kita mengadili Belakangka yang melakukan persekutuan dalam kejahatan dengan Tunggul Ametung di Tumapel. Sekiranya Sang Akuwu tidak terburu mati, dia pun akan kita adili. Tetapi kalau Sri Baginda Kretajaya tidak senang pada kita dan mengirimkan balatentaranya, kita akan hadapi." Sorak riuh bertalu-talu.

"Tumapel tanpa Akuwu Tunggul Ametung sekarang tetap berada dalam kawasan Kediri." "Tidak perlu!" orang ramai-ramai memekik membantah. Dang Hyang Lohgawe mengangkat satu tangan. Orang pun berlutut dan mengangkat sembah. "Dengarkan kalian semua yang telah memenangkan perang. Dengan kemenangan ini telah selesai babak perlawanan terhadap Akuwu Tumapel Tunggul Ametung. Kita semua memasuki babak lain, yang sama sekali berlainan daripada sebelumnya. Jangan bangunkan macan tidur. Para dewa telah membenarkan kejatuhan Tunggul Ametung dan kemenangan kita. Akuwu itu mati di bawah pedang Kebo Ijo atau kita, sama saja, karena itulah kehendak para dewa." Di belakang Lohgawe kembali Dedes menangis tersedan-sedan mengetahui tak ada seorang pun memperhatikan dan menghormati dirinya. Kenikmatan kekuasaan itu ia rasai mendadak lenyap dari tangannya. jatuh pecah-belah di lantai, tak terbetul-kan lagi. Ia merasa sebatang kara di tengah-tengah keriuhan ini, seorang yatim-piatu di tengah-tengah padang batu. Ia melihat kekuasaan itu tanpa semaunya telah beralih tangan, pada Arok dan Lohgawe. Dalam hati ia bermohon pada Hyang Mahadewa agar tempat dan kedudukannya tidak akan terdesak oleh sudra berbibir tebal, bermata kecil dan hanya berdaging pada dada, yang bernama Umang itu. Ia tak dengarkan ucapan Lohgawe. "Aku, Dang Hyang Lohgawe, merestui kemenangan ini, kemenangan kita semua." Orang kembali bersorak-sorai.

"Dan aku benarkan Arok sebagai orang pertama untuk seluruh Tumapel!" Sorak-riuh rendah bergelombang-gelombang menjelang tengah malam seakan tanpa habis-habisnya. "Bicara, kau, Arok!" "Dengarkan, kalian!" keadaan reda, "bahwa kemenangan bukan satu-satunya buah usaha. Maka jangan ulangi kejahatan Tunggul Ametung dan balatentaranya. Jangan ada seorang pun yang merampok, mencuri, merampas, menganiaya, memperkosa seperti mereka. Dalam hal ini aturan dari Sri Baginda Erlangga masih tetap berlaku: hukuman mati terhadap mereka itu. Juga terhadap diriku bila dalam babak baru ini melakukannya." Sorak menggelombang lagi, beralun dan beriak. "Aku, Arok, adalah seorang sudra seperti kalian semua. Karena itu semua sudra, jangan bertengkar. baik kaum Wisynu, Syiwa, Buddha, Kalacakra dan Tantrayana, jangan bertengkar karena berlainan mengagungkan para dewa ..." Perasaan tidak menentu dalam dada Ken Dedes mendadak hilang mendengar itu. Nafasnya terengah-engah menolak, membangkang terhadap pernyataan itu. Tantripala merangkul Arok dan membisikkan sesuatu. "Kalian lihat, aku adalah seorang Syiwa, istriku, Umang, orang Wisynu, bapa angkatku, Bango Samparan dan Ki Lembung juga orang Wisynu, guruku. Yang Terhormat Tantripala adalah Buddha, mahaguruku, Yang Suci Dang Hyang Lohgawe adalah Syiwa. Aturan-aturan yang baik selama dua ratus tahun ini adalah karunia

raja Wisynu, Sri Erlangga. Yang jadi ukuran baik tidaknya seseorang bukan bagaimana menyembah para dewa, tapi dharma pada sesamanya." Dedes merasa tersinggung namanya tiada disebut-sebut, tapi ia berdiam diri, mengetahui balatentara yang diserahkan kepadanya telah ditumpas oleh pasukan luar kota Arok. "Arok! Kaulah raja kami!" seseorang memekik. "Tidak! Tak diperlukan dua orang raja di bumi Jawa." Dang Hyang Lohgawe buru-buru mengangkat tangan minta perhatian: "Kalian telah dengarkan dia, Arok, orang yang cakap, pandai dan bijaksana, yang akan membawa kalian pada kegemilangan. Dia mendapat pancaran sepenuhnya dari Hyang Bathara Guru. Dia adalah orang terbaik dari kalian. Dia adalah titisan Hyang Wisynu, karena dialah yang memeliharakan kalian dari bencana Tunggul Ametung dan balatentaranya. Dia adalah Akuwu-mu, Akuwu Tumapel!" Orang kembali bersorak-sorai. "Bebaslah kalian kini bertemu dengan keluarga kalian, dengan orangtua, anak dan istri. Sebelum ini perbudakan telah dihapuskan oleh Arok dengan senjata. Tak ada perbudakan lagi boleh berlaku." Sorak-sorai kembali menggelombang, beralun, beriak. Lohgawe memberi isyarat pada Arok untuk berlutut di hadapannya. Arok berlutut dan ia angkat tangan kanannya di atas kepalanya:

"Aku, Dang Hyang Lohgawe, dengan petunjuk Hyang Mahadewa telah benarkan dia, Arok, menjadi Akuwu Tumapel. Semua kawula Tumapel, berilah hormat pada Akuwu baru ini..." Kecuali Dang Hyang Lohgawe dan Tantripala semua berlutut dan mengangkat sembah. Juga mereka yang di belakang, juga para tangkapan, yang mengangkat sembah sambil menoleh ke samping. Suatu tekanan berat telah memaksa Ken Dedes berlutut di hadapan umum dan mengangkat sembah. Ia menyadari: riwayat dirinya sebagai pemegang kekuasaan telah selesai, dan justru karena itu ia merindukannya. Orang telah kembali berdiri. Juga Arok. Lohgawe berbalik, dan: "Dalam kemenangan kalian ini semua telah memberikan dharmanya. Juga Paramesywari Tumapel, anak Mpu Parwa, Ken Dedes, telah menduduki tempat penting di antara semua kalian. Yuddhagama[hukum perang] tidak membenarkan ia jadi orang jarahan perang. Paramesywari Tumapel adalah juga bersama semua kalian dalam pergulatan ini. Karenanya Ken Dedes tetap Paramesywari Tumapel." "Umang Paramesywari!" pekik Oti dari belakang Umang. "Umang Paramesywari!" sambut semua pasukan. "Umang! Umang! Tidak lain dari Umang!"

Lohgawe mengangkat tangan mendiamkan: "Dang Hyang Lohgawe belum selesai bicara. Lihatlah, semua diatur secara terbuka. Aku ulangi: Ken Dedes tetap Paramesywari Tumapel. Tentang Umang, istri Arok? Dia juga Paramesywari." ia menyilakan Umang dan Dedes tampil ke depan, dan ditariknya Arok berdiri di tengah-tengah. "Lihatlah, Dang Hyang Lohgawe tidak menyalahi kehendak para dewa, mereka ditempatkan sesuai dengan dharmanya. Hormatilah mereka bertiga." Sekali lagi orang berlutut dan mengangkat sembah. "Sambutlah pengukuhan ini!" Sorak-sorak bertalu menantang tengah malam. Sekilas alam terang oleh petir yang dibarengi ulah ledakannya. "Bicara kau, Arok!" perintah Lohgawe. "Dengarlah aku berjanji, sebagai Akuwu Tumapel perbudakan tidak akan diadakan lagi, aku lawan dan aku hapuskan. Dengan bantuan semua kalian akan kutumpas kejahatan dalam bentuk dan cara apa pun. Aku tidak akan menghaki milik kalian, juga tidak akan merampas apa pun dari siapa pun. Dua orang wanita ini saja yang akan menyertai hidupku sebagai istri. Dan akan aku pimpin kalian menghadapi dan melawan kejahatan dari luar Tumapel, dari siapa pun datangnya." Kembali orang bersemangat perang. Dan orang mengerti kata-kata itu ditujukan pada Kediri.

Sejenak keadaan menjadi tenang. Lohgawe mengangkat tangan: "Akuwu Tumapel baru, Arok, adalah sudra, berlaku satria dan berhati brahmana. Paramesywari Ken Dedes adalah brahmani, dengan gelar Ken bikinan Belakangka, dan barangtentu dibenarkan oleh Kediri. Aku sendiri tidak tahu artinya. Bagaimanapun gelar itu telah berlaku. Maka pada kesempatan ini, dengarkan semua kalian, mulai saat ini Arok juga bergelar Ken. Umang, Paramesywari Tumapel adalah juga seorang sudra. Untuknya, juga pada malam ini bergelar Ken." Kembali orang bersorak riuh-rendah, kecuali para tangkapan di latar belakang. "Bicaralah kau, Arok, semua anak buahmu telah lelah dengan pertempuran sehari ini." "Terimakasih pada semua kalian. Berasramalah kalian di bawah petunjuk pasukan kota. Dan hubungkan svukur kepada para dewa untuk kemenangan kita semua ini, kemenangan yang menjamin tak seorang pun akan jadi budak lagi." Kepungan itu bersorak-sorai, makin lama kepadatan itu makin menipis. Akhirnya hanya tinggal pasukan pengawal. Tanca, Bana, Rimang, Oti, Arih-Arih, Santing, Tantripala, Lohgawe dan Mundrayana mengiringkan Akuwu Tumapel baru masuk ke dalam pekuwuan, ke Bilik Paramesywari setelah perintah dijatuhkan untuk menyingkirkan para tangkapan.

Memasuki Bilik Paramesywari Ken Dedes berhenti di depan peraduan, yang ditidurinya pada bulan pertama ia memasuki pekuwuan. Kini ia harus berbagi tempat dengan seorang lelaki yang jadi suaminya. Arok - seorang lelaki yang dicintainya dengan tulus. Tapi ia tidak rela berbagi kekuasaan dengannya. Dan kini ia pun harus berbagi tempat dengan Paramesywari lain, Ken Umang - seorang wanita yang baru dikenalnya. Ia tidak rela berbagi peraduan dan berbagi kekuasaan dengannya. Ia sadar akan dirinya waktu lengan Arok memeluk lehernya dengan tangan kanan. Dan ia lihat tangan kirinya memeluk Ken Umang. "Jangan kalian berdua sampai pernah bertengkar. Kalian berdua adalah kakakberadik demi keselamatan semua. Pertengkaran kalian bisa merambat keluar dan jadi pertengkaran umum." Bertiga lewat tengah malam itu turun dari pekuwuan menuju ke pura dalam untuk menyampaikan puji-syukur kepada para dewa. Ken Dedes kehilangan kedamaiannya memasuki pura bersama dengan orang Wisynu, juga Paramesywari Tumapel. Dilihatnya Ken Arok dan Ken Umang telah tenggelam dan puji syukur. Dan waktu ia berpaling ke belakang dilihatnya Bango Samparan dan Bana juga sedang tenggelam. Dari cara mereka bersimpuh dan menunduk dapat diketahuinya: dua-duanya orang Wisynu. Ia melirik pada suaminya yang sedang tenggelam di samping kirinya. Apakah benar ucapan Lohgawe, dia mendapat pancaran sepenuhnya dari Hyang Bathara Guru dan titisan Hyang Wisynu Untuk pertama kali ia meragukan brahmana puncak itu. Lelaki di sebelah kirinya memang sangat berharga untuknya, sangat berharga untuk cinta dan hidupnya. Dia telah persembahkan kemenangan untuk kawula Tumapel dengan muslihat bermuka ganda dan cara tanpa bilangan. Dan ia tahu, kemenangan itu tidak dipersembahkan kepada dirinya. Sejak pertama kali naik ke panggung kekuasaan Tumapel dia telah membawa serta dengannya orang Wisynu, Buddha, Tantrayana dan Kalacakra, orang-orang bodoh yang hanya menyembah leluhur. Ia tidak yakin Ken Arok akan mendudukkan kembali Hyang Syiwa pada cakrawartinya. Ia mengerti Ken Arok mempunyai cara berperang tanpa membuka gelar, tidak seperti para satria sebelum ini. Dan dengan cara-cara berperang itu ia takkan mungkin terkalahkan. Keselamatan dan keagungan Tumapel terjamin di dalam tangannya. Hanya ia sendiri kehilangan tempat di samping suami yang dicintainya, kehilangan balatentara yang dapat diperintahnya, kehilangan kepercayaan dari orangtua yang dicintai dan dipujanya setulus hati. Dan dalam kandungannya seorang bayi, anakku dari musuh suaminya, sedang menunggu giliran untuk jadi berkuasa atas Tumapel. Dan Paramesywari lain itu, juga sedang mengandung. Juga dalam kandungannya seorang bayi sedang menunggu giliran untuk jadi penguasa atas Tumapel. Dan bayi itu adalah anak Ken Arok yang menang atas Tumapel. Bayinya adalah anak dari yang dikalahkannya. Ia pejamkan dan kedipkan mata. Ia lihat kegelapan di hadapannya, dan ia tidak rela. Untuk pertama kali ia biarkan airmatanya berlinang.


Naskah "Arok dan Dedes". diselesaikan: 1 Oktober - 24 Desember 1976 Mako, Buru, 24 Desember 1976