Bekal Ilmu bagi Pengusaha Muslim

- Posted in Islam by - Permalink

Bekal Ilmu bagi Pengusaha Muslim

Disclaimer

eBook ini hanya untuk pelestarian buku dari kemusnahan dan arsip digital untuk pendidikan serta membiasakan budaya membaca untuk generasi penerus...

Terima Kasih kepada

Pengarang buku ini yang telah menghasilkan karya yang hebat

----------

Silakan bagikan dengan tidak mengubah hak cipta

(2020)

Update

Info update koleksi ebook lainnya, kunjungi LamanSatu

Kaidah Penting dalam Muamalah

KAIDAH-KAIDAH PENTING DALAM MU'AMALAH

Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM حفظه الله

Publication : 1433 H, 2012 M

Kaidah-kaidah Penting dalam Mu'amalah

Penyusun : Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM حفظه الله

Sumber: Majalah al-Furqon, Ed.5 Thn.V 1426H/2006

e-Book ini didownload dari www.ibnumajjah.com

<h1>Muqoddimah</h1>
        <p>

MUQODDIMAH

Segala puji bagi Alloh Ta'ala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, dan yang telah mengutus Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم dengan al-Qur'an dan sunnahnya, sehingga tegaklah Islam ini dengan berbagai pokok dan landasan serta kaidah-kaidah dalam segala aspeknya.

Sungguh merupakan ciri khas agama Islam yang sempurna ini di antaranya, Islam menjelaskan segala apa yang berkaitan dengan manusia, baik dalam masalah ibadah ataupun mu'amalah/ kehidupan sehari-hari. Maka apa yang dikatakan sebagian manusia bahwa Islam ini hanya mengurusi masalah akhirat saja adalah satu syubhat yang sangat lemah dan telah dibantah oleh Alloh dalam al-Qur'an-Nya. Salah satu buktinya, satu ayat yang paling panjang dalam al-Qur'an ternyata membahas masalah hutang piutang di antara manusia (lihat QS. al-Baqarah: 282).1 Ini merupakan bukti bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna dibanding agama-agama yang lainnya. Maka dari sanalah di ambil berbagai hukum dan ketentuan yang pasti akan sesuai pada setiap zaman dan setiap tempat, sampai masalah-masalah baru yang tidak pernah terjadi pada zaman Rasulullah pun sebenarnya bisa digali hukumnya dari nash-nash yang telah ada, sehingga tidak ada perkataan bahwa hukum-hukum Islam itu kaku/kolot dan tidak sesuai dengan zaman. Maka bagi seorang yang menginginkan kebenaran dalam mengurusi kehidupan sehari-harinya, hendaknya mempelajari kembali dan memahami dengan benar al-Qur'an dan as-Sunnah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya, terutama masalah-masalah mu'amalah baru (bukan ibadah) yang belum pernah terjadi pada zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya, yang membutuhkan pemikiran dan penerapan dalil serta penggalian perkataan dan pendapat para ulama untuk diterapkan dalam masalah tersebut.

Sehubungan banyaknya pertanyaan yang berkaitan dengan fiqh mu'amalah (seperti jual beli, pegadaian, sewa-menyewa, wasiat, dan lainnya), maka pada edisi kali ini sebelum kami menjelaskan permasalahan-permasalahan yang rinci tentang fiqh mu'amalah, baik dan perlu diketahui beberapa kaidah penting sebelum kita melakukan satu transaksi seperti yang kita sebutkan dalam contoh di atas. Kaidah-kaidah ini amatlah penting sebagai tolok ukur sah dan tidaknya suatu transaksi mu'amalah dalam kehidupan manusia sehari-hari, sehingga mudah bagi kita menerapkan kaidah ini pada transaksi apa saja terutama masalah-masalah baru yang tidak ada nash dalil dari al-Qur'an dan as-Sunnah. Di antara kaidah-kaidah itu:2


1. Teks Ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلاَ يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللّهَ رَبَّهُ وَلاَ يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئاً فَإن كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهاً أَوْ ضَعِيفاً أَوْ لاَ يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُواْ شَهِيدَيْنِ من رِّجَالِكُمْ فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاء أَن تَضِلَّ إْحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى وَلاَ يَأْبَ الشُّهَدَاء إِذَا مَا دُعُواْ وَلاَ تَسْأَمُوْاْ أَن تَكْتُبُوْهُ صَغِيراً أَو كَبِيراً إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللّهِ وَأَقْومُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلاَّ تَرْتَابُواْ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلاَّ تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوْاْ إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلاَ يُضَآرَّ كَاتِبٌ وَلاَ شَهِيدٌ وَإِن تَفْعَلُواْ فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّهُ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil. dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli. dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah. Allah mengajarmu. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah[2]: 282) ~Ibnu Majjah

2. Kaidah-kaidah yang kami sebutkan ini sebagian besar dinukil dari al-Hawafiz at-Tijariyah at-Taswiqiyah wa Ahkamuha fil Fiqh al-Islami oleh DR Khalid bin Abdullah al-Mushlih, dan kami tambahkan beberapa keterangannya dari al-Qawaid al-Fiqhiyah oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syarahnya oleh DR. Sami ash-Shuqair (masih dalam manuskrip), dan juga kami tambahkan beberapa keterangan dan kitab Taisirul Allam dan Taudhihul Ahkam oleh Syaikh al-Bassam.

<h1>1. Asal Hukum Mu'amalah adalah Halal</h1>
        <p>

1. ASAL HUKUM MUAMALAH ADALAH HALAL DAN DIBOLEHKAN

Asal hukum mu'amalah seperti jual beli, sewa-menyewa, gadai, dan lain sebagainya. adalah halal dan dibolehkan sebagaimana asal hukum segala sesuatu yang ada di bumi itu halal dan dibolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama, madzhab Maliki, madzhab Syafi'i, madzhab Hanbali, dan sebagian besar ulama madzhab Hanafi, bahkan Ibnu Rajab رحمه الله mengatakan, "Sebagaian ulama mengatakan ini adalah kesepakatan para ulama."1

Dalil Kaidah

a. Dalil Umum, firman Alloh Ta'ala:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً

Dialah (Alloh) yang menciptakan semua apa yang ada di muka bumi ini untuk kalian. (QS. al-Baqarah: 29)

b. Dalil Khusus, seperti firman Alloh Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَوْفُواْ بِالْعُقُودِ

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. (QS. al-Ma'idah: 1)

Ayat ini mencakup semua akad perjanjian, baik itu perjanjian manusia kepada Alloh atau sesama makhluknya. Alloh memerintahkan supaya manusia memenuhi akad-akad itu semuanya, dan ini menunjukkan bahwa pada asalnya hukum mu'amalah adalah boleh dan halal, seandainya akad-akad itu hukumnya haram, pasti Alloh tidak akan memerintahkan manusia untuk memenuhinya.

Juga firman Alloh عزّوجلّ yang lain:

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Dan Alloh menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. al-Baqarah: 275)

Dalam ayat ini Alloh menghalalkan berbagai macam jual beli dan perdagangan karena di dalamnya ada maslahat manusia secara umum dan mengharamkan riba karena di dalamnya terdapat kezhaliman, dan makan harta orang lain dengan cara batil. Ini menunjukkan bahwa asal hukum dalam mu'amalah halal dan dibolehkan selagi tidak ada di dalamnya kezhaliman dan makan harta orang lain dengan cara batil.2

Dan masih banyak lagi dalil-dalil dari al-Qur'an yang semakna dengan di atas sebagaimana pula hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang menjelaskan bahwa segala sesuatu yang tidak disebutkan halal dan haramnya maka hal itu termasuk halal dan dibolehkan.


1. Lihat al-Asybah wan Nadza'ir hal. 66, al-Kharsyi ‘ala Mukhtashar Khalil 5/149, Syarh al-Minhaj lil Baidhawi 2,751, Syarh Mukhtashar Raudhah 1/399, I'lam al-Muwaqqi'in 1/344, dan Jami' al-Ulum wal Hikam 2/166.

2. Lihat Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah 20/349.

<h1>2. Harus Berlaku Adil dan Tidak Zhalim</h1>
        <p>

2. HARUS BERLAKU ADIL DAN TIDAK ZHALIM

Adil dan zhalim adalah dua kata yang saling bertolak belakang. Oleh karena itulah, Alloh memerintahkan berbuat adil dan mengharamkan perbuatan zhalim. Alloh عزّوجلّ berfirman dalam perintah-Nya berbuat adil:

اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Berbuatlah adil kalian, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. (QS. al-Ma'idah: 8)

Dalam satu hadits qudsi, Alloh عزّوجلّ berfirman:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezhaliman itu haram di antara kalian. (HR. Muslim 2577 dari riwayat Abu Dzar رضي الله عنه)

Telah kita maklumi bersama, zhalim adalah perbuatan yang tercela. Bahkan semua agama dan syari'at yang ada di muka bumi pun mengharamkan perbuatan zhalim dan menyeru berlaku adil, sebagaimana Alloh berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan timbangan (keadilan) supaya manusia dapat menegakkan keadilan. (QS. al-Hadid: 25)

Dan tatkala di dalam perdagangan, jual beli, dan lainnya terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar untuk masuknya perbuatan zhalim, maka keharaman berbuat zhalim dan kewajiban berlaku adil adalah termasuk tujuan pokok ditegakkan syari'at Islam ini.1 Banyak sekali kita jumpai dalil-dalil baik itu dalam al-Qur'an atau as-Sunnah yang memerintahkan manusia berbuat adil dan melarang berbuat zhalim serta keharaman makan harta manusia dengan cara yang batil, seperti firman-Nya:

وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

Janganlah kalian makan harta sebagian kalian dengan jalan yang batil. (QS. al-Baqarah: 188)

Maka dari dalil-dalil di atas, jelaslah bagi kita bahwa kezhaliman itu haram hukumnya dan berlaku adil itu wajib dalam segala bentuk mu'amalah baik itu perdagangan, jual beli, gadai, hutang piutang, dan lain-lainnya.


1. Lihat Badai' at-Tafsir al-Jami' li Tafsir Ibnil Qayyim 4/91

<h1>Tidak Ada Unsur Spekulasi (1)</h1>
        <p>

3. TIDAK ADA UNSUR PENIPUAN/SPEKULASI

Unsur penipuan/spekulasi sangat dilarang dalam asas syari'at Islam dalam fiqh mu'amalah seperti jual beli dan seluruh transaksi kepemilikan, atau hak-hak yang lain. Hal ini dimaksudkan agar tegak kestabilan dan kemaslahatan manusia, terjaga hak-hak dan harta-harta mereka, serta terselesaikannya pertikaian dan perdebatan di antara manusia.1

Kaidah ini didasari oleh hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه, beliau berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang jual beli dengan unsur penipuan. (HR. Muslim, Kitab al-Buyu' 1513)

Dalam hadits ini tercakup beberapa bentuk transaksi jual beli yang diharamkan yang di dalamnya ada unsur penipuan/spekulasi seperti jual beli anak hewan yang masih dalam kandungan, jual beli sesuatu yang tidak dimiliki, jual beli buah-buahan di atas pohon yang belum siap dipanen, jual beli sesuatu yang sedang hilang, dan sebagai-nya yang di dalamnya ada unsur spekulasi/ketidakpastian pada salah satu pihak.2

Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa larangan adanya unsur tipuan ini tidak secara mutlak mencakup segala tipuan/spekulasi pada masalah-masalah yang sekecil-kecilnya yang tipuan ini tidak ada unsur kesengajaan, atau mau tidak mau harus terjadi dalam suatu transaksi walau sekecil apa pun, karena setiap transaksi tidak akan lepas dari tipuan yang sifatnya sangat kecil. Suatu contoh seorang yang membeli suatu barang dan telah terpenuhi syarat dan rukun jual beli, sedangkan si pembeli tidak tahu apakah barang itu bisa tahan sampai setahun atau kurang dari itu, atau dia tidak tahu terbuat dari apa barang tersebut; ini adalah suatu tipuan yang mesti ada dalam jual beli, akan tetapi tipuan seperti ini tidak dianggap dalam aturan jual beli dalam Islam.

Oleh karena itu, para ulama memberikan kriteria-kriteria unsur tipuan/spekulasi yang dibolehkan yang tidak mempengaruhi sahnya suatu transaksi yang dilakukan, di antaranya:


1. Lihat Hasyiyah ar-Raudh an-Nadhir 3/241.

2. Lihat al-Mu'lim bi Fawa'id al-Muslim 2/244-245.

<h1>Tidak Ada Unsur Spekulasi (2)</h1>
        <p>

a. Hendaknya spekulasi itu tergolong sedikit dan mesti terjadi tanpa adanya unsur kesengajaan

Para ulama telah sepakat bahwa sedikitnya tipuan/spekulasi yang mesti terjadi tanpa unsur kesengajaan dalam suatu transaksi tidak menggugurkan sahnya transaksi tersebut.1 Sebagai contoh, apabila seorang menyewa satu kamar mandi, jelas pemilik kamar mandi tidak tahu berapa banyak air digunakan si penyewa atau berapa lama dia berada di kamar mandi; maka spekulasi ini sama sekali tidak mempengaruhi sahnya transaksi tersebut.

b. Spekulasi itu tidak bisa dielakkan kecuali dengan adanya kesulitan

Para ulama bersepakat apabila dalam transaksi ada unsur spekulasi yang tidak bisa dielakkan kecuali dengan adanya kesulitan, seperti seorang yang membeli satu karung buah mangga dan ternyata ada satu atau dua dari buah mangga itu yang belum masak, maka ini sama sekali tidak mempengaruhi sahnya jual beli tersebut, karena hal ini tidak mungkin atau sulit sekali dielakkan.2

c. Apabila ketidakpastian itu termasuk kebutuhan manusia secara umum

Apabila manusia secara umum membutuhkan suatu transaksi yang di dalamnya ada spekulasi/ ketidakpastian yang harus terjadi, maka hal ini tidak mempengaruhi sahnya transaksi tersebut. Sebagai contoh dan sekaligus sebagai dalilnya, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم melarang jual beli buah-buahan yang ada di pohonnya yang belum matang,3 kemudian beliau memberi rukhshah (keringanan) bolehnya membeli buah yang ada di pohon yang sudah matang kemudian dibiarkan sampai benar-benar siap dipanen. Maka seperti ini dibolehkan karena berhubungan dengan kebutuhan manusia secara umum walaupun di dalamnya ada unsur ketidakpastiannya, misalnya sebagian dari buah-buahan tadi ada yang tidak matang waktu dipanen atau masih muda ketika dipanen sehingga tidak layak dimakan dan sebagainya.4

d. Apabila spekulasi itu sekedar cabang permasalahan, sedang pokok permasalahannya bukan murni spekulasi

Dalam satu kaidah fiqih "Kadang-kadang sesuatu itu dibolehkan kalau sekedar cabang atau pengikut saja, akan tetapi tidak dibolehkan kalau dijadikan pokok atau asal yang disendirikan".5 Sebagai contoh, dibolehkan menjual binatang yang sedang hamil walaupun tidak diketahui berapa ekor yang ada dalam perut binatang tersebut, sedangkan haram hukumnya menjual isi perut binatang yang sedang hamil saja tanpa menjual induknya.

e. Apabila ketidakpastian itu terjadi pada transaksi pemberian semata yang sifatnya bukan timbal balik, seperti sedekah, hibah, wasiat, dan lainnya

Transaksi yang sifatnya timbal balik seperti jual beli, sewa-menyewa, dan lain lain, tidak dibolehkan di dalamnya terjadi unsur spekulasi. Berbeda dengan transaksi pemberian yang di dalamnya tidak ada unsur timbal baliknya, maka tidak dilarang adanya unsur spekulasi di dalamnya. Sebagai contoh, seorang yang mengatakan kepada temannya, "Aku sedekahkan rumahku ini buat kamu", maka hal ini sah dan dibolehkan walaupun si penerima sedekah itu tidak tahu pasti apa yang ada dalam rumah tersebut, berapa jumlah kamarnya, kondisinya bagus atau buruk, masih layak dipakai atau tidak, dan sebagainya. Berbeda kalau seandainya orang tadi menjual rumahnya kepada orang lain, maka pembeli harus tahu apa yang ada di dalam rumah tersebut, berapa jumlah kamarnya, bagaimana kondisinya, dan sebagainya.


1. Lihat al-Majmu' 9/258.

2. Lihat al-Majmu' 9/258.

3. HR. Bukhari kitab al-Buyu' 2194.

4. Lihat al-Majmu' 20/341 dan l'lam al-Muwaqi'in 2/6-7.

5. Lihat Manzhuma al-Qawa'id al-Fiqhiyah oleh ibnu Utsaimin no. 77.

<h1>4. Tidak Ada Unsur Riba</h1>
        <p>

4. TIDAK ADA UNSUR RIBA DALAM TRANSAKSI

Riba menurut istilah fuqaha terbagi menjadi dua bagian:

a. Riba jahiliyah/al-qardh; jenis ini kita kenal dengan riba bunga, renten, atau bunga hutang dan yang sejenisnya.

b. Riba jual beli; jenis riba ini tebagi menjadi dua macam yaitu riba al-fadhl dan riba nasi'ah. Jenis riba yang ini jarang diketahui kebanyakan manusia, khususnya para pedagang di negeri kita. Riba ini insya Alloh akan kita jelaskan dalam kesempatan yang lain.

Dua jenis riba di atas telah diharamkan dalam al-Qur'an dan hadits-hadits yang shahih, serta dengan kesepakatan para ulama. Alloh عزّوجلّ berfirman:

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Dan Alloh menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. al-Baqarah: 275)

Dan Nabi kita صلى الله عليه وسلم, telah melarang praktek riba ini dengan dengan ancaman laknatnya kepada para pelaku riba. Sabdanya:

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ

Dari Jabir رضي الله عنه ia berkata, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم melaknat orang yang makan riba, orang yang memberi makan dengan hasil riba, penulisnya, dan kedua saksinya." (HR. Bukhari 2086 dan Muslim 1598 dalam kitab al-Musaqat)

<h1>5. Tidak Ada Unsur Judi</h1>
        <p>

5. TIDAK ADA UNSUR JUDI/ TARUHAN/MENGUNDI NASIB

Imam Mawardi رحمه الله dalam kitabnya al-Hawi al-Kabir (19/225) mengatakan bahwa yang dimaksud perjudian di sini ialah apabila seorang melakukan transaksi yang dia tidak lepas antara untung dan rugi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله dalam kitabnya Majmu' Fatawa (32/237) mengatakan, "Maka jelaslah bahwa perjudian mengandung dua mafsadat/kerusakan. (Yang pertama) mafsadat dalam harta itu sendiri yaitu salah satu pihak yang untung akan mengambil harta orang lain dengan cara batil. (Yang kedua) mafsadat dalam perbuatan tersebut, di antaranya kerusakan harta itu sendiri, kerusakan hati dan akal pelakunya, kerusakan hubungan antara sesama, dan masing-masing kerusakan tersebut telah dilarang dengan larangan yang tersendiri."

Maka dari definisi yang telah disebutkan di atas bisa kita ambil satu contoh; seandainya ada seseorang menyewa sebuah rumah dengan akad kontrak perbulannya dia akan membayar ongkos sewa rumah dengan separuh penghasilannya, maka ini termasuk perjudian karena masing-masing pelaku transaksi ini tidak lepas dari dua hal yaitu untung atau rugi,1 lantaran tidak dapat dipastikan berapa penghasilan penyewa rumah tersebut setiap bulannya.

Keharaman perjudian ini telah ditegaskan oleh Alloh Ta'ala dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, perjudian, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran minum minuman keras dan berjudi, serta menghalangi kamu dari ingat Alloh dan menegakkan shalat, maka kenapa kalian tidak menghentikan (perbuatan tersebut)? (QS. al-Ma'idah: 90-91)

Dua ayat tersebut di atas menunjukkan dengan jelas haramnya perjudian karena Alloh menyatakan itu adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, dan perintah supaya dijauhi. Kemudian Dia menjelaskan, perbuatan tersebut menyebabkan timbulnya permusuhan, kebencian, mencegah dari mengingatAlloh, dan menghalangi shalat, lantas menguatkan larangan-Nya dengan perintah supaya menghentikan perbuatan itu. Hal ini menunjukkan keharaman perbuatan tersebut dengan jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.

Dalam satu hadits, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan:

مَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ فَلْيَتَصَدَّقْ

Barangsiapa berkata kepada kawannya, "Marilah ke sini, aku bermain judi denganmu", maka (kafarahnya adalah) hendaknya ia bersedekah. (HR. Bukhari, kitab at-Tafsir 4860)

Dalam hadits ini, Nabi صلى الله عليه وسلم mengharuskan orang yang sekedar mengajak berjudi untuk membayar kafarah berupa sedekah, maka ini menunjukkan bahwa judi jelas-jelas haram.

Dari dalil-dalil di atas dapat kita simpulkan bahwa perjudian adalah semua bentuk transaksi yang pelakunya tidak lepas dari untung atau rugi disebabkan oleh ketidakjelasan dan mengundi nasib dan menimbulkan permusuhan serta kebencian sesama manusia.2


1. Lihat l'lam al-Muwaqqi'in 1/387.

2. Lihat Syarhus Sunnah 6/279 oleh Imam al-Baghawi.

<h1>6. Tidak Harus Dengan Lafazh</h1>
        <p>

6. IJAB QABUL DALAM TRANSAKSI TIDAK HARUS DENGAN LAFAZH TERTENTU

Sebagian fuqaha mensyaratkan sahnya suatu transaksi harus disertai ungkapan berupa ijab dari pihak pertama, dan qabul dari pihak kedua. Sebagai contoh, mereka mengharuskan bahwa jual beli tidak sah kecuali si penjual mengatakan (ijab) "Aku jual barang ini" dan pembeli menjawab (qabul) "Aku beli barang ini". Maka suatu transaksi jual beli tidak sah kecuali harus disertai dengan ijab dan qabul seperti ini (atau semisalnya).

Akan tetapi, pendapat yang benar adalah yang menyatakan bahwa ijab dan qabul tidak harus dengan lafazh/kalimat-kalimat tertentu, bahkan segala transaksi akan sah dengan ijab qabul berbentuk apa saja, baik perkataan, perbuatan, atau dengan sikap yang menunjukkan kerelaan masing-masing pelaku transaksi. Oleh sebab itu, seandainya penjual mengatakan "Ambillah barangku ini!" kemudian pembeli menjawab "Baiklah", maka sahlah jual beli tersebut. Atau seandainya penjual menyerahkan barangnya kepada pembeli, kemudian pembeli menyerahkan uang dengan harga yang disepakati, kemudian keduanya tidak mengucapkan sepatah kata apa pun, maka sahlah jual beli tersebut. Hal ini dianggap sah karena yang menjadi syarat adalah kerelaan dan ridha kedua belah pihak, sebagaimana firman Alloh عزّوجلّ:

إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

Kecuali harta perniagaan dengan sama rela di antara kalian. (QS. an-Nisa': 29)

Kemudian yang mendasari pendapat ini, di antaranya karena tidak ada satu pun dalil menunjukkan bahwa suatu transaksi tidak sah kecuali dengan ijab dan qabul dengan perkataan-perkataan tertentu, sedangkan hukum asal dari segala transaksi dan mu'amalah adalah halal dan dibolehkan sebagaimana dalam kaidah yang telah disebutkan di atas.

<h1>Ibrah</h1>
        <p>

IBRAH

Dari penjelasan di atas, dapat kita ambil ibrah bahwa praktek-praktek jual beli dengan menggunakan mesin-mesin modern, yang mana pembeli cukup memasukkan beberapa uangnya kemudian keluarlah barang yang diinginkan. Transaksi seperti ini sah walaupun tidak terdapat ijab dan qabul, dan syarat kerelaan dari kedua belah pihak telah terpenuhi, adapun pihak penjual di sini bentuk kerelaannya adalah dengan meletakkan mesin tersebut di tempat-tempat yang diinginkan, dan kerelaan si pembeli di sini adalah dengan memasukkan uangnya ke mesin tersebut, maka terpenuhilah syarat rela sama rela dari kedua belah pihak.1

Inilah beberapa kaidah penting untuk menentukan sah atau tidaknya suatu transaksi mu'amalah. Sehingga diharapkan akan memudahkan kita menerapkannya pada bentuk-bentuk transaksi mu'amalah yang lainnya, terutama transaksi-transaksi baru yang tidak pernah terjadi pada zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan tidak terdapat nash dalil, baik dalam al-Qur'an atau hadits-hadits yang shahih. Mudah-mudahan bermanfaat. Allohu A 'lam.[]


1. Lihat ar-Raudhah an-Nadiyah oleh Shiddiq Hasan Khan dalam muqadimah kitab al-Buyu'.

<h1>GHARAR Dalam Transaksi KOMERSIAL</h1>

GHARAR dalam Transaksi Komersial

Ustadz Ahmad Sabiq, Lc حفظه الله

  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Publication : 1435 H, 2014 M </span></span> 
  </span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><strong><span class="calibre78">Ghoror dalam Transaksi Komersil<br class="calibre17"/></span></strong></span></span><span class="calibre79"><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">  Oleh : Ustadz Ahmad Sabiq, Lc 
  </span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre80">حفظه الله</span></span></span></span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Sumber: Majalah Al-Furqon, No. 145 Ed.9 Th ke-13_1435 H/ 2014 
  M <br class="calibre17"/></span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">e-Book 
  ini didownload dari </span></span></span><span class="calibre76"><span class="calibre56">www.ibnumajjah.com</span></span></p>
<h1>Muqoddimah</h1>
        <p>

MUQODDIMAH

Sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa lepas dari bertransaksi dengan manusia lainnya. Baik transaksi itu bersifat untuk tolong-menolong maupun transaksi yang bersifat untuk mencari keuntungan duniawi.

Contoh transaksi untuk tolong-menolong adalah aktiyitas saling membantu, pinjam-meminjam atau hutang piutang. Inilah yang diistilahkan oleh para ulama dengan tabarru'at (akad sosial).

Adapun contoh transaksi untuk mencari keuntungan duniawi, seperti jual beli, sewa-menyewa, dan semisalnya. Inilah yang diistilahkan oleh para ulama dengan mu'awadhat (transaksi komersial).

Jadi, transaksi komersial adalah semua transaksi atau akad yang dilakukan oleh seseorang dengan lainnya yang tujuan pokoknya untuk memenuhi kebutuhan dan mencari keuntungan duniawi. Jika ada tujuan akhirat maka itu bersifat ikut, bukan pokoknya.

<h1>Defenisi dan Dalil Gharar</h1>
        <p>

DEFINISI AL GHARAR

Gharar adalah semua transaksi yang mengandung unsur ketidakjelasan atau pertaruhan atau perjudian; atau semua yang tidak diketahui hasilnya atau tidak diketahui hakikat dan ukurannya.

DALIL PERMASALAHAN

Al-Imam an-Nawawi رحمه الله dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan, "Adapun larangan jual beli gharar, maka ia merupakan pokok penting dari kitab jual beli. Oleh karena itu, al-Imam Muslim mengedepankannya. Dalam hal ini tercakup permasalahan yang sangat banyak, tidak terhitung."

Kaidah ini didasari sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang jual beli al-hashah dan jual beli al-gharar." (HR Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa gharar itu terlarang dengan dua kriteria:

Pertama: Gharar tersebut fahisy (besar atau dominan) bukan kecil

Kedua: Gharar tersebut terdapat dalam transaksi komersial, bukan dalam hal tabarru'at.

<h1>Gharar Fahisy</h1>
        <p>

GHARAR FAHISY

Gharar dalam sebuah transaksi ada dua macam. Ada yang fahisy yang berarti gharar yang berat dan dominan, dan ada gharar yang yasir artinya ringan atau sepele. Dan gharar yang terlarang adalah yang fahisy bukan yang yasir.

Dengan demikian, gharar yang sedikit diperbolehkan dan tidak merusak keabsahan akad. Ini perkara yang telah disepakati para ulama, sebagaimana disampaikan Ibn Rusyd dalam Bidayah al-Mujtahid (2/155) dan al-Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab (9/258).

Para ulama memberikan contoh dengan masuk ke kamar mandi umum untuk mandi dengan membayar. Ini mengandung gharar, karena orang berbeda dalam penggunaan air dan lamanya tinggal di dalam. Demikian juga, persewaan (rental) mobil untuk sehari atau dua hari, karena orang berbeda-beda dalam penggunaannya dan cara pemakaiannya. Ini semua mengandung gharar, namun dimaafkan syari'at karena gharar-nya tidak besar.

Karenanya, jual beli borongan diperbolehkan dalam Islam. Alasannya, meskipun mengandung gharar tapi ringan.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ كُنَّا نَشْتَرِي الطَّعَامَ مِنْ الرُّكْبَانِ جِزَافًا فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ

Dari Abdullah ibn Umar رضي الله عنهما berkata, "Dahulu kami (para Sahabat) membeli makanan secara taksiran, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang kami menjual lagi sampai kami memindahkannya dari tempat belinya." (HR Muslim: 1526)

Makna dari: جِزَافًا adalah jual beli makanan tanpa ditakar, tanpa ditimbang, dan tanpa ukuran tertentu, tetapi menggunakan sistem taksiran. Dan inilah makna jual beli borongan.

Sisi pengambilan hukum dari hadits ini adalah bahwa jual beli sistem borongan itu merupakan salah satu sistem jual beli yang dilakukan oleh para Sahabat pada zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan beliau tidak melarangnya. Hanya, beliau melarang untuk menjualnya kembali sampai memindahkannya dari tempat semula. Dan ini merupakan taqrir (perserujuan) beliau atas bolehnya jual beli sistem tersebut; seandainya terlarang, pasti Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan melarangnya dan tidak hanya menyatakan hal di atas.

Al-Hafizh Ibn Hajar رحمه الله berkata, "Hadits ini menunjukkan bahwa jual beli makanan dengan sistem taksiran hukumnya boleh." (Fath al-Bari: 4351)

Al-Imam Ibn Qudamah رحمه الله berkata, "Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini." (Lihat pula Mausu'ah al-Manahi Syar'iyyah oleh asy-Syaikh Salim al-Hilali 2/233.)

<h1>Perbedaan Pendapat Ulama</h1>
        <p>

Jika sampai ada perbedaan di kalangan para ulama tentang masalah ini maka itu biasanya berangkat dari perbedaan persepsi apakah hal tersebut masuk dalam gharar fahisy ataukah ringan. Seperti jual beli biji-bijian dan tanaman yang masih dalam tanah, semisal ketela, kacang tanah, dan lainnya.

Al-Imam Abu Hanifah, asy-Syafi'i dan salah satu riwayat dari al-Imam Ahmad tidak memperbolehkan jual beli tersebut. Namun, al-Imam Malik dan salah satu riwayat dari al-Imam Ahmad berpendapat bahwa hal itu boleh. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dan murid beliau Ibn al-Qayyim.

Pendapat yang rajih (kuat) — insya Allah — adalah yang membolehkan, berdasarkan beberapa sebab, di antaranya:

1. Jual beli tersebut tidak termasuk dalam jual beli gharar yang fahisy, karena orang yang sudah berpengalaman akan mampu untuk mengetahui isi dan kadar tanaman tersebut meskipun belum dicabut. Misalkan dengan melihat batang dan daunnya maka bisa diprediksikan apakah biji-bijian tersebut bagus ataukah tidak, juga dengan mencabut satu atau dua tanaman akan bisa diprediksikan berapa jumlah yang akan dihasilkan dalam kebun atau ladang tersebut.

2. Jual beli tersebut dibutuhkan manusia, terutama yang mempunyai lahan luas, karena akan sangat menyulitkan sekali kalau diharuskan memanennya sendiri. Sebab itu, kalau diharamkan maka itu akan sangat memberatkan, padahal Allah Ta'ala telah mencabut sesuatu yang berat dari syari'at ini. Allah عزّوجلّ berfirman

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dan tidaklah Allah menjadikan dalam agama Islam kesulitan bagi kalian. (QS al-Hajj [22]: 78)

(Lihat Majmu' Fatawa Syaikhul-Islam Ibn Taimiyyah 29/33, 227, 487, dan Zadul Ma'ad al-Imam Ibn al-Qayyim 5/920)

<h1>Perbedaan Gharar Fahisy dan Yasir</h1>
        <p>

APA PERBEDAAN ANTARA
GHARAR FAHISY DENGAN YASIR

Ada satu perbedaan mendasar antara keduanya yaitu kalau fahisy maka sesuatu yang tidak jelas dan tidak tampak tersebut sama sekali tidak bisa diprediksi, sedangkan yang yasir, yang tampak menunjukkan ada yang tidak tampak. Misalkan jeruk, yang tampak di luarnya adalah kulit meskipun tatkala orang beli yang diinginkan ada dalamnya. Ini ada gharar tetapi ringan karena dengan kulitnya bisa diprediksi isinya.

<h1>Boleh Gharar Dalam Transaksi Sosial</h1>
        <p>

GHARAR DALAM TRANSAKSI KOMERSIAL BUKAN SOSIAL

Para ulama sepakat bahwa gharar terlarang dalam akad komersial, sebagaimana keterangan di atas. Lalu, bagaimana dengan akad sosial? Para ulama berbeda pendapat menjadi dua pendapat:

Pertama: Diperbolehkan adanya gharar dalam akad tabarru'at. Inilah pendapat mazhab Malikiyyah, serta dirajihkan oleh Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim. Mereka berdalil dengan hadits Amr ibn Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya yang berbunyi:

فَقَامَ رَجُلٌ فِي يَدِهِ كُبَّةٌ مِنْ شَعْرٍ فَقَالَ أَخَذْتُ هَذِهِ لِأُصْلِحَ بِهَا بَرْذَعَةً لِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَّا مَا كَانَ لِي وَلِبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكَ

"Maka ada seseorang yang membawa sekumpulan bulu rambut (seperti wig) berdiri di tangannya, lalu berkata, 'Aku mengambil ini untuk memperbaiki pelana kudaku.' Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم, bersabda, 'Adapun yang menjadi hakku dan Bani Abdil Muthalib, maka itu untukmu.'" (HR Abu Dawud dan dinilai hasan oleh al-Albani dalam lrwa' al-Ghalil 5/36-37)

Dalam hadits ini, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghadiahkan bagiannya dan bagian Bani Abdil Muthalib dari benda tersebut, dan tentunya ukurannya tidak jelas. Dengan demikian gharar tersebut tidak berlaku pada akad tabarru'at.

Pendapat ini dikuatkan dengan "kaidah asal dalam muamalah adalah sah", baik dalam akad mu'awadhah ataupun tabarru'at. Asal hukum ini tidak berubah dengan larangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dari gharar dalam hadits Abu Hurairah رضي الله عنه di atas, karena itu menyangkut akad mu'awadhah saja. Apalagi perbedaan antara akad mu'awadhah dengan tabarru'at telah jelas. Akad mu'awadhah dilakukan oleh seseorang yang ingin melakukan usaha dan perniagaan, sehingga disyaratkan pengetahuan dan kejelasan yang tidak disyaratkan dalam akad tabarru'at. Hal ini terjadi karena akad tabarru'at yang dilakukan oleh seseorang, tidaklah untuk usaha, namun untuk berbuat baik dan menolong orang lain.

Kedua: Gharar berlaku juga pada akad tabarru'at; inilah pendapat mayoritas ulama.

Namun yang rajih (kuat) adalah pendapat yang pertama.

Berdasarkan hal ini, maka muncullah banyak masalah yang disampaikan ulama, di antaranya:

Pemberian majhul. Bentuk gambarannya adalah seorang menghadiahkan sebuah mobil yang belum diketahui jenis, merek, dan bentuknya, atau memberikan sesuatu yang ada di kantongnya. la berkata, "Saya hadiahkan uang yang ada di kantong saya kepadamu." Pertanyaannya, apakah ini akad transaksi yang shahih atau tidak? Yang rajih adalah akad pemberian ini sah, sebab tidak disyaratkan hadiahnya harus jelas.

Demikian juga, seandainya ia menghadiahkan sesuatu miliknya yang telah dicuri atau dirampok, maka hukumnya sah. Juga, menghadiahkan barang-barang yang hilang. Wallahu A'lam. []

<h1>Rukun dan Syarat Jual Beli</h1>

MEMAHAMI RUKUN DAN SYARAT SAHNYA JUAL BELI

Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawas, Lc, MA حفظه الله

Publication : 1437 H


Memahami Rukun dan Syarat Sahnya JUAL BELI

Oleh : Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawas حفظه الله

Sumber: Blog Resmi Penulis di www.abufawas.wordpress.com

Kami Sedikit Mengubah Sedikit Tampilan Artikel
e-Book ini didownload dari www.ibnumajjah.wordpress.com

Muqoddimah

MUQODDIMAH

Pada dasarnya hukum muamalah adalah mubah (diperbolehkan) sebagaimana yang telah disepakati oleh mayoritas ulama fiqih dalam kitab-kitab mereka dengan menetapkan sebuah kaidah fiqhiyah yang berbunyi ‘Al-Ashlu Fil Asy-ya-i Wal A’yani Al-Ibahatu’. Kaidah ini berlandaskan beberapa dalil syar’i, di antaranya adalah firman Allah Azza wa Jalla:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu.” (QS. Al-Baqarah/2: 29)

Dan jual beli (perdagangan) adalah termasuk dalam katagori muamalah yang dihalalkan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli.” (Q.S. Al Baqarah/2: 275).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsir ayat diatas mengatakan: “Apa-apa yang bermanfaat bagi hamba-Nya maka Allah memperbolehkannya dan apa-apa yang memadharatkannya maka Dia melarangnya bagi mereka”.

Dari ayat ini para ulama mengambil sebuah kaidah bahwa seluruh bentuk jual beli hukum asalnya boleh kecuali jual beli yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Yaitu setiap transaksi jual beli yang tidak memenuhi syarat sahnya atau terdapat larangan dalam unsur jual-beli tersebut.

<h1>Pengertian Jual Beli</h1>
        <p>

PENGERTIAN JUAL BELI

Jual Beli bisa didefinisikan sebagai: Suatu transaksi pemindahan pemilikan suatu barang dari satu pihak (penjual) ke pihak lain (pembeli) dengan imbalan suatu barang lain atau uang.

Atau dengan kata lain, jual beli itu adalah ijab dan qabul,yaitu suatu proses penyerahan dan penerimaan dalam transaksi barang atau jasa.

Islam mensyaratkan adanya saling rela antara kedua belah pihak yang bertransaksi. Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Ibnu Majah menjelaskan hal tersebut:

إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

“Sesungguhnya Jual Beli itu haruslah dengan saling suka sama suka.”

Oleh karena kerelaan adalah perkara yang tersembunyi, maka ketergantungan hukum sah tidaknya jual beli itu dilihat dari cara-cara yang nampak (dhahir) yang menunjukkan suka sama suka, seperti adanya ucapan penyerahan dan penerimaan.

<h1>Macam-macam Jual Beli</h1>
        <p>

MACAM-MACAM JUAL BELI

Beberapa macam jual beli yang diakui Islam antara lain adalah:

1. Jual beli barang dengan uang tunai

2. Jual Beli barang dengan barang (muqayadlah/barter)

3. Jual beli uang dengan uang (Sharf)

4. Jual Utang dengan barang, yaitu jual beli Salam (penjualan barang dengan hanya menyebutkan ciri-ciri dan sifatnya kepada pembeli dengan uang kontan dan barangnya diserahkan kemudian)

5. Jual beli Murabahah (Suatu penjualan barang seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang disepakati. Misalnya seseorang membeli barang kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan tertentu. Karakteristik Murabahah adalah si penjual harus memberitahu pembeli tentang harga pembelian barang dan menyatakan jumlah keuntungan yang ditambahkan pada biaya tersebut.”

Untuk dapat mengetahui dan memahami bentuk-bentuk transaksi jual beli yang dilakukan oleh umumnya manusia, apakah hukumnya sah atau tidak, penghasilan yang diperolehnya halal atau tidak, maka berikut ini kami akan sebutkan rukun-rukun dan syarat-syarat sahnya jual beli.

RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI

Jual beli memiliki 3 (tiga) rukun:

1. Al- ‘Aqid (orang yang melakukan transaksi/penjual dan pembeli),

2. Al-‘Aqd (transaksi),

3. Al-Ma’qud ‘Alaihi (objek transaksi mencakup barang dan uang).

Masing-masing rukun memiliki syarat;

Pertama:
A L - `A Q I D

1. Al- ‘Aqid (penjual dan pembeli) haruslah seorang yang merdeka, berakal (tidak gila), dan baligh atau mumayyiz (sudah dapat membedakan baik/buruk atau najis/suci, mengerti hitungan harga).

Seorang budak apabila melakukan transaksi jual beli tidak sah kecuali atas izin dari tuannya, karena ia dan harta yang ada di tangannya adalah milik tuannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

“Barangsiapa menjual seorang budak yang memiliki harta, maka hartanya itu milik penjualnya, kecuali jika pembeli mensyaratkan juga membeli apa yang dimiliki oleh budak itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian pula orang gila dan anak kecil (belum baligh) tidak sah jual-belinya, berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla:

وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya”. (QS. An-Nisaa’: 6).

Para ulama ahli tafsir mengatakan:“Ujilah mereka supaya kalian mengetahui kepintarannya”, dengan demikian anak-anak yang belum memiliki kecakapan dalam melakukan transaksi tidak diperbolehkan melakukannya hingga ia baligh. Dan di dalam ayat ini juga Allah melarang menyerahkan harta kepada orang yang tidak bisa mengendalikan harta.

2. Penjual dan pembeli harus saling ridha dan tidak ada unsur keterpaksaan dari pihak manapun meskipun tidak diungkapkan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”. (Q.S. An-Nisaa’: 29).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan dengan suka rela.” (HR. Ibnu Majah II/737 no. 2185 dan Ibnu Hibban no. 4967)

Maka tidak sah jual-beli orang yang dipaksa. Akan tetapi di sana ada kondisi tertentu yang mana boleh seseorang dipaksa menjual harta miliknya, seperti bila seseorang memiliki hutang kepada pihak lain dan sengaja tidak mau membayarnya, maka pihak yang berwenang boleh memaksa orang tersebut untuk menjual hartanya, lalu membayarkan hutangnya, bila dia tetap tidak mau menjualnya maka dia boleh melaporkan kepada pihak yang berwenang agar menyelesaikan kasusnya atau memberikan hukuman kepadanya (bisa dengan penjara atau selainnya). Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Orang kaya yang sengaja menunda-nunda pembayaran hutangnya telah berbuat zhalim. Maka dia berhak diberikan sanksi.” (HR. Abu Daud)

Masalah: Hukum membeli barang dengan harga miring dari seseorang yang butuh uang tunai karena kepepet (terpaksa)

Dalam masalah ini ada tiga pendapat para ulama fiqih, tetapi pendapat yang rojih (terkuat) ialah yang mengatakan dibolehkan dan bahkan dianjurkannya jual beli seperti ini dalam rangka membantu saudara seiman yang membutuhkan uang tunai secepatnya. Juga dikarenakan tidak terdapat unsur keterpaksaan, karena orang ini akan menjual barangnya kepada siapapun dengan harga miring. Namun sebagian ulama dalam mazhab hanbali memakruhkan membeli barang tersebut meskipun transaksinya sah.

Adapun hadits yang berbunyi:

نَهَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الْمُضْطَرِّ

Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang membeli barang dari orang yang sedang kepepet”, adalah hadits dho’if (lemah), diriwayatkan oleh Abu Daud no. 3384. (lihat Shohih Fiqhis Sunnah IV/271)

Kedua:
A L - `A Q D U

Al-‘Aqdu (transaksi/ijab-qabul) dari penjual dan pembeli.

Ijab (penawaran) yaitu si penjual mengatakan, “saya jual barang ini dengan harga sekian”. Dan Qabul (penerimaan) yaitu si pembeli mengatakan, “saya terima atau saya beli”.

Di dalam hal ini ada dua pendapat:

Pendapat pertama: Mayoritas ulama dalam mazhab Syafi’i mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul dalam setiap bentuk jual-beli, maka tidak sah jual-beli yang dilakukan tanpa mengucapkan lafaz “saya jual… dan saya beli…”.

Pendapat kedua: Tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul dalam setiap bentuk jual-beli. Bahkan imam Nawawi rahimahullah -pemuka ulama dalam mazhab Syafi’i- melemahkan pendapat pertama dan memilih pendapat yang tidak mensyaratkan ijab-qabul dalam aqad jual beli yang merupakan mazhab maliki dan hanbali. (lihat Raudhatuthalibin 3/5).

Dalil pendapat kedua sangat kuat, karena Allah Azza wa Jalla dalam surat An-Nisa’ hanya mensyaratkan saling ridha antara penjual dan pembeli dan tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul. Dan saling ridha antara penjual dan pembeli sebagaimana diketahui dengan lafaz ijab-qabul juga dapat diketahui dengan adanya qarinah (perbuatan seseorang dengan mengambil barang lalu membayarnya tanpa ada ucapan apa-apa dari kedua belah pihak). Dan tidak ada riwayat dari nabi atau para sahabat yang menjelaskan lafaz ijab-qabul, andaikan lafaz tersebut merupakan syarat tentulah akan diriwayatkan. (lihat Kifayatul akhyar hal.283, Al Mumti’ 8/106).

Imam Baijuri –seorang ulama dalam mazhab Syafi’i- berkata, “mengikuti pendapat yang mengatakan lafaz ijab-qabul tidak wajib sangat baik, agar tidak berdosa orang yang tidak mengucapkannya… malah orang yang mengucapkan lafaz ijab-qabul saat berjual beli akan ditertawakan…” (lihat Hasyiyah Ibnu Qasim 1/507).

Dengan demikian boleh membeli barang dengan meletakkan uang pada mesin lalu barangnya keluar dan diambil atau mengambil barang dari rak di super market dan membayar di kasir tanpa ada lafaz ijab-qabul. Wallahu a’lam.

Ketiga:
AL- MA’QUD `ALAIHI

Al-Ma’qud ‘Alaihi ( objek transaksi mencakup barang dan uang ).

Al-Ma’qud ‘Alaihi memiliki beberapa syarat:

1. Barang yang diperjual-belikan memiliki manfaat yang dibenarkan syariat, bukan najis dan bukan benda yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَىْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ

Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka Dia pasti mengharamkan harganya”. (HR. Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad shahih)

Oleh karena itu tidak halal uang hasil penjualan barang-barang haram sebagai berikut: Minuman keras dengan berbagai macam jenisnya, bangkai, babi, anjing dan patung. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ

Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamer, bangkai, babi dan patung”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadist yang lain riwayat Ibnu Mas’ud beliau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ ثَمَنِ اَلْكَلْبِ, وَمَهْرِ الْبَغِيِّ, وَحُلْوَانِ اَلْكَاهِنِ

Sesungguhnya Nabi Saw melarang (makan) harga anjing, bayaran pelacur dan hasil perdukunan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Termasuk dalam barang-barang yang haram diperjual-belikan ialah Kaset atau VCD musik dan porno. Maka uang hasil keuntungan menjual barang ini tidak halal dan tentunya tidak berkah, karena musik telah diharamkan Allah dan rasul-Nya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Akan ada diantara umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik”. (HR. Bukhari no.5590)

2. Barang yang dijual harus barang yang telah dimilikinya. Dan kepemilikan sebuah barang dari hasil pembelian sebuah barang menjadi sempurna dengan terjadinya transaksi dan serah-terima.

Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, dia bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang seseorang yang datang ke tokonya untuk membeli suatu barang, kebetulan barang tersebut sedang tidak ada di tokonya, kemudian dia mengambil uang orang tersebut dan membeli barang yang diinginkan dari toko lain, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab:

لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

jangan engkau jual barang yang tidak engkau miliki!” (HR. Abu Daud II/305 no.3503)

Dan tidak boleh hukumnya menjual barang yang telah dibeli namun belum terjadi serah-terima barang.

Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “aku bertanya kepada rasulullah, jual-beli apakah yang diharamkan dan yang dihalalkan? Beliau bersabda, “hai keponakanku! Bila engkau membeli barang jangan dijual sebelum terjadi serah terima”. (HR. Ahmad)

3. Barang yang dijual bisa diserahkan kepada sipembeli,

Maka tidak sah menjual mobil, motor atau handphone miliknya yang dicuri oleh orang lain dan belum kembali. Demikian tidak sah menjual burung di udara atau ikan di kolam yang belum di tangkap, hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Abu Said radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang membeli hamba sahaya yang kabur”. (HR. Ahmad)

4. Barang yang diperjual-belikan dan harganya harus diketahui oleh pembeli dan penjual.

Barang bisa diketahui dengan cara melihat fisiknya, atau mendengar penjelasan dari si penjual, kecuali untuk barang yang bila dibuka bungkusnya akan menjadi rusak seperti; telur, kelapa, durian, semangka dan selainnya. Maka sah jual beli tanpa melihat isinya dan si pembeli tidak berhak mengembalikan barang yang dibelinya seandainya didapati isi rusak kecuali dia mensyaratkan di saat akad jual-beli akan mengembalikan barang tersebut bilamana isinya rusak atau si penjual bermaksud menipu si pembeli dengan cara membuka sebuah semangka yang bagus, atau jeruk yang manis rasanya dan memajangnya sebagai contoh padahal dia tahu bahwa sebagian besar semangka dan jeruk yang dimilikinya bukan dari jenis contoh yang dipajang. Maka ini termasuk jual-beli gharar (penipuan) yang diharamkan syariat. Karena:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang jual beli yang mengandung unsur gharar (ketidak jelasan/penipuan). (HR. Muslim)

Adapun harga barang bisa diketahui dengan cara menanyakan langsung kepada si penjual atau dengan melihat harga yang tertera pada barang, kecuali bila harga yang ditulis pada barang tersebut direkayasa dan bukan harga sesungguhnya, ini juga termasuk jual-beli gharar (penipuan). wallahu a’lamu bish-showab.

Demikianlah penjelasan singkat tentang rukun dan syarat sahnya jual beli. Semoga dapat dipahami dan bermanfaat bagi kita semua. Amiin....

<h1>Hukum Hadiah Komersial</h1>

HUKUM HADIAH KOMERSIAL

Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA حفظه الله

  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Publication : 1436 H / 2015 
  M </span></span></span> </p>
  <p><span><span class="calibre76"><strong><span class="calibre78"><span class="calibre126">HUKUM <span class="calibre106">HADIAH</span> KOMERSIAL</span> <br class="calibre17"/></span></strong></span></span><span class="calibre79"><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Oleh : Ustadz Dr. Erwandi 
  Tarmizi, MA </span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre80">حفظه الله<br class="calibre17"/></span></span></span></span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Sumber: 
  Majalah Al-Furqon, No. 160 Ed. 1 Th ke-15_1436/2015 <br class="calibre17"/></span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">e-Book 
  ini didownload dari </span></span></span><span class="calibre127"><span class="calibre56">www.ibnumajjah.com</span></span></p>
<h1>Muqoddimah</h1>
        <p>

MUQODDIMAH

Di antara maqashid (tujuan pokok) syari'at Islam adalah menciptakan rasa saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling mencintai sesama hamba Allah pengikut Nabi akhir zaman (صلى الله عليه وسلم). Salah satu faktor yang dapat menimbulkan saling mengasihi dan mencintai yaitu berbagi rezeki dalam bentuk sedekah atau hadiah kepada saudara seiman.

Sedekah yaitu sesuatu yang diberikan kepada orang lain yang membutuhkan (fakir miskin) tanpa mengharap imbalan. Adapun hadiah yaitu sesuatu yang diberikan kepada orang lain tanpa imbalan dengan tujuan mempererat hubungan atau sebagai penghormatan, dan orang yang diberi hadiah bukanlah orang dalam ekonomi sulit. Tindakan saling berbagi hadiah dianjurkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم di dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : تَهَادُوا ، تَحَابُّوا

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda, "Salinglah memberikan hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad. Derajat hadits ini dinyatakan hasan oleh al-Albani.)

Dan untuk menjaga perasaan pemberi hadiah, Nabi صلى الله عليه وسلم menganjurkan agar orang yang diberi tidak menolaknya. Beliau bersabda:

أَجِيبُوا الدَّاعِيَ ، وَلَا تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ

"Hadirilah undangan dan jangan tolak hadiah!" (HR Ahmad. Al-Arnauth menyatakan sanad hadits ini jayyid).

Ummulmukminin Aisyah رضي الله عنها juga meriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم menerima hadiah dan membalasnya. (HR al-Bukhari)

Terkadang hadiah yang diberikan tidak terlalu berharga, namun tetap dianjurkan untuk menerimanya. Sebab, Nabi صلى الله عليه وسلم menerima hadiah sekalipun kikil kambing. Beliau bersabda:

لَوْ دُعِيتُ إِلَى ذِرَاعٍ أَوْ كُرَاعٍ لأَجَبْتُ ، وَلَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ

"Aku akan menghadiri undangan, sekalipun untuk makan kikil kambing kaki depan atau kaki belakang dan aku menerima hadiah, sekalipun kikil kambing kaki depan atau kaki belakang." (HR al-Bukhari)

Di era modern, para pedagang (dan produsen, Red.) memanfaatkan pemberian hadiah untuk menarik konsumen sebanyak mungkin agar keuntungan yang diperoleh semakin besar. Cara pembagian hadiah pun dibuat beraneka ragam: beli satu dapat dua, diskon harga di setiap musim tertentu, door prize, undian berhadiah, puzzle potongan gambar yang dikumpulkan dari barang yang dibeli, ataupun mengumpulkan huruf-huruf sehingga membentuk kata yang diinginkan, hadiah tunai dalam setiap kemasan, dan sebagainya.

Seorang muslim tentu ingin mengetahui hukum hadiah komersial ini, karena dalam beberapa bentuknya mirip dengan judi dan mengandung gharar.

<h1>Cendera Mata</h1>
        <p>

CENDERA MATA (SUVENIR)

Banyak para pedagang dan pengusaha membuat cendera mata dalam bentuk kalender, gantungan kunci, cangkir, buku catatan harian, pena, dan alat tulis lainnya untuk dibagikan cuma-cuma kepada setiap pembeli dan pelanggan sebagai kenang-kenangan dan untuk mempromosikan usaha/barang mereka. Pada saat penerima hadiah membutuhkan barang/jasa yang dipromosikan, mereka langsung ingat dan akan menghubungi pemberi hadiah, karena alamat lengkap perusahaan pemberi hadiah tertera pada cendera mata yang dibagikan.

Hadiah jenis ini termasuk hibah. Sebab itu, hadiah jenis ini boleh diterima; kecuali hadiah digunakan untuk kepentingan haram, seperti asbak rokok dan kalender yang bergambar wanita yang tidak menutup aurat atau hadiah tersebut berasal dari perusahaan yang bergerak di bidang haram, seperti kalender dari bank riba karena hadiah tersebut bagian dari promosi untuk menggunakan barang/jasa pemberi hadiah.

<h1>Hadiah Promosi</h1>
        <p>

HADIAH PROMOSI

Hadiah promosi terkadang diberikan oleh sebuah perusahaan sebelum pembelian barang dalam bentuk contoh barang (sampel) dengan tujuan memperkenalkan barang dagangannya kepada calon konsumen. Andai kata konsumen menginginkan barang dalam jumlah besar, dia telah melihat contohnya. Hukum hadiah ini boleh karena termasuk hadiah (hibah) yang dibolehkan.

Apabila calon pembeli berpedoman kepada contoh dan tidak menyaksikan barang yang akan dibelinya, apakah jual beli ini dibolehkan?

Para ulama berbeda pendapat tentang jual beli barang berdasarkan contoh:

Pendapat pertama: jual beli ini tidak sah, karena termasuk jual-beli yang mengandung unsur gharar, di mana barang yang dibeli tidak disaksikan dalam akad dan contoh yang diperlihatkan belum tentu sama seperti barang yang dibeli. Ini merupakan pendapat yang terkuat di dalam madzhab Hanbali.

Pendapat kedua: jual beli ini hukumnya boleh. Ini merupakan pendapat mayoritas para ulama madzhab. Sebab, unsur ketidakjelasan (gharar) dalam barang yang merupakan objek akad telah tiada dengan cara melihat barang contohnya; syaratnya, barang yang hendak dijual harus sama persis spesifikasinya dengan contoh yang diperlihatkan.

Wallahu A'lam, pendapat yang membolehkan jual beli barang berdasarkan contoh adalah pendapat yang terkuat. Sebab, untuk dewasa ini, kesamaan barang dengan contoh telah menjadi ukuran mutu sebuah barang. Dengan demikian, unsur gharar dalam barang objek akad dapat diminimalkan.1

Dan terkadang hadiah promosi diberikan oleh sebagian supermarket dan toko besar dengan menjanjikan bagi pembeli jika berbelanja di toko mereka di atas nominal tertentu akan diberi hadiah menarik yang tidak dijelaskan ciri-ciri fisiknya. Hal ini bertujuan untuk menarik pembeli sebanyak mungkin. Setelah konsumen berbelanja di atas nominal yang disyaratkan, pembeli mengunjukkan lembaran tanda pembayaran ke bagian yang bersangkutan dan menukarnya dengan hadiah. Hadiah yang diberikan terkadang berupa piring, cangkir, dan peralatan rumah tangga lainnya.

Para ulama kontemporer berbeda pendapat tentang hukum hadiah ini.

Pendapat pertama: Sebagian ulama kontemporer, seperti asy-Syaikh Dr. Abdullah al-Jibrin رحمه الله dan asy-Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan mengharamkan pemberian hadiah dengan cara ini.

Dalil pendapat ini: Bahwa harga dari hadiah yang dijanjikan telah dihitung pada saat pembayaran barang yang dibeli. Andai kata nominal yang disyaratkan Rp500.000,00 maka hakikatnya dia membeli barang seharga Rp480.000,00 dan Rp20.000,00 lagi disisihkan untuk harga hadiah yang dijanjikan.

Dengan demikian, sesungguhnya hadiah adalah bagian dari barang yang dibeli dan bukan murni hadiah. Dan ini termasuk jual beli gharar karena hadiah (barang yang dibeli) tidak jelas; bisa jadi berbentuk piring, gelas, sendok, baju kaos, dan sebagainya. Karena hadiah bentuk ini termasuk jual beli gharar, hukumnya pun haram.

Selain mengandung gharar, cara ini juga dapat merugikan pedagang lain yang tidak memberikan hadiah promosi, terutama pedagang kecil. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

"Tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat mudharat bagi orang lain baik permulaan ataupun balasan." (HR Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)

Tanggapan: Hadiah yang diberikan tidak diambil dari pembayaran barang karena nilai barang pada saat pembagian hadiah dan pada saat tidak ada hadiah tetap, tidak berubah. Ini berarti bahwa hadiah tidak ditarik harganya dari barang yang dibeli.

Adapun cara ini dapat merugikan pedagang lain yang tidak memberikan hadiah maka tidak dapat dibenarkan. Sebab, setiap pedagang memiliki cara tersendiri untuk menarik para pelanggan; mungkin dengan cara mengantar barang ke alamat tanpa ditarik imbalan, atau fasilitas barang yang dibeli dapat dikembalikan dalam tenggang waktu tertentu yang dinamakan khiyar syarat, dan lain-lain. Jadi, hadiah bukanlah satu-satunya cara untuk menarik pembeli. Sebagaimana khiyar syarat tidak dapat diharamkan karena merugikan pedagang lain yang tidak menggunakannya, hadiah juga tidak dapat diharamkan karena pada dasarnya hadiah hukumnya mubah.

Pendapat kedua: Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin رحمه الله membolehkan pemberian hadiah dengan cara ini. Beliau berkata, "Apabila harga barang yang dijual oleh pedagang yang menjanjikan hadiah untuk pembeli yang nominal belanjanya di atas sekian sama dengan harga yang dijual oleh pedagang lain yang tidak memberikan hadiah maka hukumnya boleh."

Pendapat ini didasarkan pada hukum mu'amalat bahwa pada prinsipnya halal, kecuali terdapat hal-hal yang diharamkan. Di dalam pemberian hadiah cara ini tidak terdapat larangan karena hadiah yang diberikan murni hadiah dan tidak mengapa terdapat gharar dalam akad hadiah.2

Wallahu A'lam, dari tinjauan dalil, pendapat yang membolehkan memberi dan menerima hadiah dengan cara ini lebih kuat.


1. Dr. Khalid al-Mushlih, al-Hawafizh at-Tijariyyah, hlm. 102-103.

2. Dr. Khalid al-Mushlih, al-Hawafizh at-Tijariyyah, hlm. 75-92.

<h1>Hadiah Promosi Langsung</h1>
        <p>

HADIAH PROMOSI LANGSUNG

Terkadang hadiah yang diberikan oleh pedagang kepada pembeli diikat dengan barang, lalu dijual seharga satu barang dan satunya lagi hadiah, atau diikat tiga barang dan dijual seharga dua barang. Biasanya hadiah seperti ini diiklankan dengan "beli satu dapat dua" atau "beli dua dapat tiga".

Cara pemberian hadiah seperti ini, selain untuk menarik pembeli, juga bertujuan mempertahankan harga barang. Terkadang ia juga bertujuan untuk menghabiskan barang yang tersimpan lama di gudang dan telah mendekati masa kedaluwarsa.

Pemberian hadiah dengan cara ini hukumnya boleh. Sebab, sekalipun harga hadiah telah dihitung dan dimasukkan ke dalam harga barang yang lain, barang dan harganya jelas tidak terdapat unsur gharar. Dengan demikian, hukum hadiah bentuk ini kembali kepada hukum asal mu'amalat yaitu boleh.

<h1>Hadiah Dengan Mengkapai Gambar,...</h1>
        <p>

HADIAH YANG DIBERIKAN DENGAN CARA MELENGKAPI GAMBAR, MENGUMPULKAN HURUF ATAU MENGUMPULKAN KEMASAN

Terkadang hadiah diberikan dengan cara perusahaan produsen barang memotong gambar mobil menjadi beberapa bagian. Setiap bagian diletakkan ke dalam kemasan barang. Pembeli yang berhasil mengumpulkan seluruh potongan gambar hingga lengkap membentuk gambar mobil berhak mendapat mobil dari perusahaan. Juga terkadang dengan meletakkan huruf-huruf tertentu pada setiap kemasan barang dan pelanggan diminta untuk mengumpulkan huruf-huruf sehingga membentuk kalimat tertentu. Juga terkadang dengan mengumpulkan bungkus kemasan barang yang dijual dalam jumlah tertentu.

Hukum membeli barang ini dengan tujuan selain mendapat barang juga mendapat kesempatan untuk mendapatkan hadiah adalah haram.

Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

1. Pemberian hadiah dengan cara seperti ini termasuk qimar dan gharar. Karena pembeli barang atau pengguna jasa mengeluarkan uang untuk membeli barang dan potongan gambar. Pada waktu pembelian, dia tidak dapat memastikan apakah akan mendapatkan potongan gambar yang dicarinya atau tidak. Jika mendapatkan potongan gambar maka ia beruntung dan jika tidak mendapatkannya maka jelas ia rugi. Spekulasi jenis ini termasuk gharar dan qimar yang disepakati oleh para ulama haram hukumnya.

Tanggapan: Tujuan utama pembeli pada saat membeli adalah barang. Adapun hadiah hanyalah sebagai pengikut. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa gharar yang terdapat pada akad dengan status pengikut tidak diharamkan, maka membeli barang sambil mendapatkan kesempatan meraih hadiah tidaklah dilarang.

Dan juga tidak ada untung rugi dalam hal ini. Karena jika pembeli tidak mendapat potongan gambar ia telah mendapatkan barang dengan harga normal tanpa dirugikan. Dan jika mendapatkan potongan gambar ia telah beruntung dengan mendapatkan barang ditambah keuntungan mendapat hadiah.

Jawaban atas tanggapan: Tidak benar tujuan untuk mendapatkan potongan hanya sekadar pengikut, terlebih lagi jika hadiah yang diinginkan bernilai mahal, seperti mobil. Tentu keinginan untuk mendapatkan potongan gambar tidak kalah dengan keinginan untuk mendapatkan barang. Kemudian kegagalannya memperoleh potongan gambar dianggap rugi sekalipun tetap mendapatkan barang, karena telah hilang kesempatan meraih hadiah yang diinginkan.

2. Pemberian hadiah dengan cara ini mengajari masyarakat hidup mubadzir, membeli barang melebihi kebutuhan untuk dia dan keluarganya. Hal ini ia lakukan karena berharap akan menemukan potongan gambar/huruf lainnya pada kemasan yang dibeli berikutnva, semakin banyak ia membeli semakin besar kesempatan untuk memenangkan hadiah.

Allah telah melarang gaya hidup mubadzir. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS al-An'am [6]: 141)

Allah عزّوجلّ berfirman:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا.

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS al-Isra' [17]: 26-27)

Asy-Syaikh al-Utsaimin رحمه الله berkata, "Bentuk lain dari pemberian hadiah, yaitu dengan cara gambar mobil dibagi dua, satu gambar bagian mobil dimasukkan ke dalam salah satu kemasan barang dan potongan gambar lainnya tidak diketahui apakah dimasukkan ke dalam kemasan lain atau tidak sama sekali. Sekalipun dimasukkan ke dalam kemasan barang lain, hukumnya tetap haram. Sebab, pembeli yang membeli satu kemasan lalu mendapatkan gambar salah satu bagian mobil, ia akan terus membeli barang. Ia berharap akan menemukan gambar bagian lainnya dan memenangkan hadiah mobil. Padahal satu kemasan saja sudah mencukupi kebutuhan dia dan keluarganya. Dan kenyataannya, ia tidak menemukan potongan lainnya. Ia telah rugi karena telah mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli berkotak-kotak barang dan ia tidak mendapatkan yang diinginkan. Ini termasuk gharar (spekulasi) dan membuang-buang harta. Dan hukum perbuatan ini adalah haram."1


1. Dr. Khalid al-Mushlih, al-Hawafizh at-Tijariyyah, hlm. 97-98.

<h1>Hadiah UangTunai Pada Tiap Barang</h1>
        <p>

HADIAH UANG TUNAI ATAU EMAS PADA SETIAP PEMBELIAN

Di antara trik perusahaan/pedagang untuk meningkatkan penjualan barang adalah dengan memberikan hadiah berupa uang tunai atau emas yang terkadang terpisah dengan barang dan terkadang menyatu dalam barang dalam bentuk cincin/koin emas di salah satu kemasan atau uang tunai.

Adakalanya hadiah uang tunai atau emas diberikan kepada setiap pembeli, dan adakalanya hanya untuk yang beruntung saja dengan cara produsen mencantumkan pada setiap kemasan bahwa pembeli yang beruntung akan memperoleh sebuah cincin/koin emas sekian gram dalam kemasan barang.

Jika uang tunai atau emas diberikan kepada setiap pembeli apa hukum dari hadiah seperti ini? Pemberian hadiah serupa ini dapat ditakhrij dengan permasalahan yang dijelaskan dahulu oleh para ahli fiqih dikenal dengan "mud ‘ajwah wa dirham bi dirham" (satu mud kurma ajwah ditambah satu dirham ditukar dengan dua dirham).

Para ulama berbeda pendapat dalam hukum mud ‘ajwah wa dirham bi dirham.

Pendapat pertama: mud ‘ajwah wa dirham bi dirham hukumnya tidak boleh. Ini merupakan pendapat madzhab Syafi'i dan Hanbali.

Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid رضي الله عنه bahwa dalam Perang Khaibar ia membeli kalung emas permata seharga 12 Dinar (uang emas). Lalu ia memisahkan emas dari permata, ternyata emas kalung lebih berat dari 12 Dinar. Lalu ia memberi tahu Nabi صلى الله عليه وسلم tentang hal tersebut, maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا تُبَاعُ حَتَّى تُفَصَّلَ

"Tidak boleh kalung emas permata dijual sebelum dipisah antara emas dan permata." (HR Muslim)

Di dalam riwayat lain, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda setelah memerintahkan supaya memisahkan emas dari permata pada kalung:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ

"Emas ditukar dengan emas, harus sama beratnya." (HR Muslim)

Di dalam hadits di atas, Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang menjual suatu barang yang terdiri dari bahan emas dan bahan lainnya dengan emas (uang dinar). Akan tetapi, Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan agar emas terlebih dahulu dipisah dari benda lainnya. Setelah emas dipisah maka emas ditukar dengan uang dinar (emas) dengan syarat harus sama beratnya serta tunai.

Dari kasus ini, tidak boleh menukar mobil beserta hadiah uang tunai dengan uang tunai, karena hukum uang kartal disamakan dengan emas dan perak. Maka dari itu, berdasarkan hadits ini, uang tunai hadiah ditukar dengan uang tunai pembeli secara langsung dan sama nominalnya dan setelah itu baru dilakukan pembelian mobil.

Tanggapan: Dalil ini tidak terlalu tepat untuk hadiah uang tunai, karena di dalam kasus hadits Fudhalah رضي الله عنه, emas yang bersama kalung permata lebih banyak daripada emas harga kalung, berbeda dengan mobil beserta uang tunai (hadiah) ditukar dengan uang tunai, di mana jumlah uang tunai pembeli jauh lebih banyak.

Pendapat kedua: Mud ‘ajwah wa dirham bi dirham hukumnya boleh jika emas yang menjadi pembayar lebih banyak daripada emas yang beserta barang. Pendapat ini merupakan madzhab Maliki dan didukung oleh Ibnu Taimiyyah.

Dalil pendapat ini bahwa ini adalah jual beli dan hukum asal jual beli boleh berdasarkan firman Allah عزّوجلّ:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ

Allah telah menghalalkan jual beli. (QS al-Baqarah[2]:275)

Hakikat jual beli mobil beserta uang tunai 10 juta rupiah (hadiah) dengan uang tunai 300 juta rupiah adalah: uang tunai 10 juta rupiah—yang merupakan hadiah —ditukar dengan uang tunai 10 juta rupiah yang merupakan sebagian dari harga, dan mobil ditukar dengan uang tunai 290 juta rupiah. Ini adalah jual beli yang terpenuhi syarat beserta rukunnya; hukumnya boleh.

Juga, dalil dari pendapat ini bahwa Ibnu Umar رضي الله عنهما meriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنِ ابْتَاعَ عَبْدًا وَلَهُ مَالٌ فَمَالُهُ لِلَّذِي بَاعَهُ ، إِلَّا أَنْ يَشْتَرِطَ الْمُبْتَاعُ

"Barang siapa yang menjual budak dan budak tersebut memiliki harta, maka hartanya milik penjual, kecuali pembeli mensyaratkan (bahwa harta budak menjadi miliknya)" (HR al-Bukhari dan Muslim)

Di dalam hadits di atas, Nabi صلى الله عليه وسلم tidak memerintahkan untuk memisahkan antara budak dengan hartanya, padahal kemungkinan harta bawaan budak tersebut berbentuk emas/perak, yang ketika ditukar dengan harga uang emas dan perak haruslah mengikuti kaidah sharf agar tidak terjadi riba ba'i.

Ketiadaan perintah Nabi صلى الله عليه وسلم untuk memisah antara budak dengan harta bawaannya dikarenakan status harta hanyalah sebagai pengikut, sedangkan tujuan objek jual beli adalah budak. Oleh karena itu, menjual mobil yang merupakan tujuan dari akad ditambah dengan uang tunai ditukar dengan uang tunai hukumnya boleh karena uang tunai hadiah hanyalah sebagai pengikut dalam akad jual beli mobil dan bukan tujuan.

Wallahu A'lam, pendapat kedua yang membolehkan pemberian hadiah dalam bentuk uang tunai atau emas hukumnya boleh.

<h1>Hadiah Uang Tunai Pada Sebagian Barang</h1>
        <p>

HADIAH EMAS ATAU UANG TUNAI PADA SEBAGIAN BARANG

Jika hadiah uang tunai atau emas dengan cara emas atau uang tunai diselipkan pada sebagian kemasan dan diberitahukan bahwa jika beruntung pembeli akan mendapat uang tunai atau emas, maka orang-orang akan membeli barang sebanyak mungkin. Mereka berharap akan mendapatkan emas di dalam kemasan, selain juga mendapatkan barang yang dibeli.

Hukum pemberian dan menerima hadiah dengan cara ini diharamkan, berdasarkan dalil-dalil berikut:

1. Hal ini termasuk qimar dan gharar, karena pembeli saat membeli kemasan barang selain bertujuan mendapatkan barang juga bertujuan mendapatkan emas.

Dan pada saat transaksi pembelian dilakukan ia tidak tahu apakah emas yang diinginkannya ada pada kemasan yang dibeli atau tidak? Ini dinamakan ba'i gharar (barang tidak jelas keberadaannya). Jika ternyata tidak ada emas di dalam kemasan maka ia rugi dan jika ada maka ia beruntung. Spekulasi ini dinamakan qimar (judi). Qimar dan gharar hukumnya haram.

2. Hadiah dengan cara ini juga mengajari masyarakat hidup boros. Mereka akan membeli barang melebihi kebutuhan dengan tujuan mendapatkan emas yang ada pada kemasan.1

PENUTUP

Demikianlah paparan singkat ini kami sampaikan, semoga hadiah yang kita peroleh dan yang kita berikan berbuah pahala, bukan malah menuai murka. Dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. []


1. Dr. Khalid al-Mushlih, al-Hawafizh at-Tijariyyah, hlm. 113-115

ETIKA PEDAGANG MUSLIM

Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Badri MA حفظه الله

Publication : 1433 H, 2012 M

ETIKA PEDAGANG MUSLIM
Oleh : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA حفظه الله

Sumber: Majalah Al-Furqon, No. 110 Ed. 7 Th ke-10_1432/2011
e-Book ini didownload dari www.ibnumajjah.com

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga, dan sahabatnya. Amma Ba’du:

Sejarah masuknya agama Islam ke negeri kita tercinta Indonesia sungguhlah unik dan menakjubkan. Betapa tidak, konon nenek moyang kita beragama Hindu dan Buddha dan di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha pula. Walau demikian, semua itu tidak dapat menghadang laju pergerakan para penyebar syi'ar Islam. Kisah sejarah ini semakin unik, karena nenek moyang kita memeluk agama Islam dengan sukarela, tanpa paksaan dan iming-iming materi. Keputusan berani mereka ini tentu berisiko berat, karena mereka pastilah berhadapan dengan para penguasa dan pemuka masyarakat mereka. Bisa Anda bayangkan, kira-kira bagaimana sikap para pendeta, biksu, dan pemuka agama Hindu dan Buddha tatkala mengetahui pilihan masyarakatnya.

Tahukah Anda, siapakah tokoh-tokoh penyebar agama Islam di bumi Nusantara ini? Apakah profesi mereka yang berhasil mengislamkan nenek moyang kita? Konon, mereka adalah para pedagang muslim yang singgah di berbagai pelabuhan nusantara, lalu berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Sekarang coba Anda bandingkan dengan kemajuan dakwah penyebaran syi'ar Islam di zaman sekarang.

Dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada para juru dakwah zaman sekarang belum kuasa mengukirkan sejarah segemilang yang ditorehkan para pedagang kala itu.

Melalui tulisan sederhana ini, saya mengajak Anda mengenal sejauh manakah keluhuran perilaku pedagang muslim sehingga begitu memikat simpati masyarakat. Dengan mengetahui berbagai etika dan adab pengusaha muslim sejati, diharapkan Anda dapat merintis kembali sejarah emas tersebut.

<h1>Ketulusan Niat</h1>
        <p>

ETIKA PERTAMA:

KETULUSAN NIAT

Niat adalah dasar dan pembangkit segala bentuk ucapan dan tindakan. Bila niat Anda tulus dan luhur, niscaya ketulusan niat ini terpancar dalam ucapan dan tindakan Anda. Seorang pedagang muslim menjalankan perniagaannya dalam rangka menjaga kehormatan dirinya sehingga tidak merendahkan diri dengan meminta-minta. Dengan berniaga keluhuran jiwa seorang muslim terbukti dengan tercukupinya kebutuhan dan nafkah setiap orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنْ النَّاسِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

Andai seorang di antara kalian pergi mencari kayu bakar dan memanggulnya di atas punggungnya, sehingga dengan itu ia dapat bersedekah dan mencukupi kebutuhannya (tidak meminta-minta kepada) orang lain, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik orang itu memberinya atau menolak permintaannya. Karena sesungguhnya tangan yang di atas itu lebih utama daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah (nafkahmu dari) orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu."1


1. HR. al-Bukhori Kitab az-Zakah "Bab: La shodaqota ilia 'an zhohri ghina" hadits no. 1362, dan Muslim Kitab az-Zakah "Bab: Bayan anna al-yad al-'ulya khoirun min al-yad as-sufla" hadits no. 1033

<h1>Tangguh dan Pantang Menyerah</h1>
        <p>

ETIKA KEDUA:

TANGGUH DAN PANTANG MENYERAH

Di antara kepribadian pedagang muslim yang membedakannya dari selainnya ialah ketangguhan mental dan jiwanya. Berbagai aral yang melintang di jalan hidupnya tidak menjadikan semangatnya luntur. Kegagalan dan tantangan, yang kadang menghiasi perjuangannya, tidak menjadikannya lemah dan kendur semangat. Dia akan selalu optimis dan menatap masa depan dengan penuh kepercayaan. Semboyannya hanya satu, "Selama hayat di kandung badan, maka keberhasilan dan rezekinya pastilah mengalir." Semboyan ini bukanlah diperoleh dari sesuatu yang hampa, melainkan diperoleh dari janji Alloh dan Rosul-Nya.

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allohlah (datangnya). (QS. an-Nahl [16]: 53)

<h1>Tawakal</h1>
        <p>

ETIKA KETIGA:

T A W A K A L

Keimanan Anda—sebagai pengusaha muslim—kepada Alloh tidak menjadikan Anda bertopang dagu dan pasrah dengan setiap kenyataan. Keimanan terus mendorong Anda untuk berusaha tanpa kenal lelah. Walau demikian, Anda menyerahkan hasil dari usaha keras Anda kepada kehendak dan karunia Alloh.

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضاً سُخْرِيّاً

Kamilah yang menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian lainnya beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian lainnya. (QS. az-Zukhruf [43]: 32)

Betapa indah gambaran Rosululloh صلي الله عليه وسلم tentang tawakal berikut ini:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Andai engkau bertawakal kepada Alloh dengan sebenarnya, niscaya Alloh memberimu rezeki sebagaimana Alloh memberi rezeki kepada burung yang di pagi hari meninggalkan sarangnya dan ketika senja hari tiba, ia telah kenyang." (HR. Ahmad: 1/30)

Coba Anda cermati burung-burung yang ada di sekitar rumah Anda. Di pagi hari, adakah burung yang tidak meninggalkan sarangnya? Bila ada, maka dapat dipastikan itu adalah burung yang sedang menderita sakit. Dengan demikian, tawakal yang benar tidak menjadikan Anda manusia pemalas. Akan tetapi, tawakal menjadikan Anda dapat menatap hari esok dengan penuh percaya diri tanpa ada kekhawatiran sedikit pun.

<h1>Tidak Lalai dari Mengingat Allah</h1>
        <p>

ETIKA KEEMPAT:

BERNIAGA NAMUN TIDAK LALAI DARI MENGINGAT ALLOH

Di antara karakter pengusaha muslim yang sangat indah dan membedakan Anda dari pengusaha nonmuslim ialah senantiasa ingat kepada Alloh Ta'ala. Dengan demikian, Anda senantiasa menjalankan kewajiban ibadah kepada Alloh tanpa terganggu oleh berbagai aktivitas perniagaan Anda.

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Alloh dan dari mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang padanya hati dan penglihatan bergoncang. (QS. an-Nur [24]: 37)

Anda senantiasa sadar bahwa Alloh Ta'ala mengetahui setiap perbuatan dan ucapan Anda. Dan Anda pun percaya bahwa setiap ucapan dan perbuatan Anda pastilah mendapat balasannya yang setimpal. Kesadaran ini menjadikan Anda waspada dan tidak menghalalkan segala macam cara dalam mencari keuntungan niaga.

لَا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ , فَإِنَّهُ لَـمْ يَكُنْ عَبْدٌ يَـمُوْتُ حَتَّى يَبْلُغَهُ آخِرُ رِزْقٍ هُوَلَهُ , فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ مِنَ الْـحَلَالِ وَتَرْكِ الْـحَرَامِ

"Jangan pernah engkau merasa rezekimu telat datang, karena sesungguhnya tiada seorang pun hamba yang mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir yang ditentukan untuknya. Maka bertaawalah engkau kepada Alloh dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah yang halal dan tinggalkan yang haram."1

Anda berlaku santun dalam menjalankan perniagaan, karena Anda beriman bahwa harta kekayaan dunia bukanlah standar keberhasilan, baik di dunia atau akhirat. Harta kekayaan hanyalah titipan dan bahkan ujian, apakah Anda bersyukur atau sebaliknya, kufur.

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Dan ketahuilah bahwa harta benda dan anak keturunanmu hanyalah cobaan, dan sesungguhnya Alloh, di sisi-Nya terdapat pahala yang agung. (QS. al-Anfal [8]: 28)

Anda percaya bahwa keberhasilan hidup tidaklah diukur dari banyak atau sedikitnya kekayaan Anda. Terlalu rendah dan hina bila kesuksesan hidup diukur dengan materi.

لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

"Andai dunia beserta isinya seberat sayap nyamuk, niscaya Alloh tidak pernah memberi kesempatan kepada orang kafir untuk meneguk walau hanya seteguk air minum."2


1. HR. Ibnu Majah Kitab at-Tijarot "Bab: al-lqtishod fi tholabil ma'isyah" hadits no. 2144. Oleh al-Albani, hadits ini dinyatakan sebagai hadits shohih. Silsilah al Ahadits ash- Shohihah: 6/209 no. 2607

2. HR. at-Tirmidzi Kitab az-Zuhud "Bab: Ma ja'a fi hawani ad-dunya ‘alla Alloh عزّوجلّ" hadits no. 2320

<h1>Jujur</h1>
        <p>

ETIKA KELIMA:

J U J U R

Syari'at Islam mengajarkan untuk selalu berbuat jujur dalam segala keadaan. Anda berlaku jujur walau secara lahir kejujuran Anda dapat menimbulkan kerugian pada diri Anda sendiri.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاء لِلّهِ وَلَوْ عَلَى أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ إِن يَكُنْ غَنِيّاً أَوْ فَقَيراً فَاللّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلاَ تَتَّبِعُواْ الْهَوَى أَن تَعْدِلُواْ وَإِن تَلْوُواْ أَوْ تُعْرِضُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيراً

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Alloh biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu, jika ia kaya ataupun miskin, maka Alloh lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Alloh adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (QS. an-Nisa' [4]: 135)

يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ فَاسْتَجَابُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعُوا أَعْنَاقَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ إِلَيْهِ فَقَالَ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنْ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ

"Wahai para pedagang!" Spontan mereka menegakkan leher dan pandangan guna memperhatikan seruan Rosululloh صلي الله عليه وسلم. Lalu beliau bersabda, "Sesungguhnya para pedagang kelak pada hari kiamat akan dibangkitkan sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertaqwa kepada Alloh, berbuat baik, dan berlaku jujur."1

Al-Qodhi 'Iyadh رحمه الله berkata, "Kebiasaan para pedagang adalah menipu dalam perniagaan dan berambisi untuk menjual barang dagangannya dengan segala cara yang dapat mereka lakukan. Tanpa terkecuali, dengan sumpah palsu dan yang serupa. Karenanya, Nabi صلي الله عليه وسلم memvonis mereka sebagai orang-orang jahat (fajir). Beliau hanya mengecualikan dari vonis ini para pedagang yang senantiasa menghindari hal-hal yang diharamkan, senantiasa memenuhi sumpah, dan jujur dalam setiap ucapannya." (Dinukil oleh al-Mubarokfuri dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi: 4/336)


1. HR. at-Tirmidzi Kitab al-Buyu' 'Bab: Ma ja'a fi at-tujjar wa tasmiyatan Nabi صلي الله عليه وسلم iyyahum" hadits no. 1210. Hadits ini dinyatakan sebagai hadits shohih oleh al-Albani, Silsilah Ahadits ash-Shohihah no. 2984

<h1>Memudahkan Orang Lain</h1>
        <p>

ETIKA KEENAM:

SENANTIASA MEMUDAHKAN ORANG LAIN

Perniagaan dan keuntungan bukanlah cita-cita akhir Anda dari berniaga. Keuntungan hanyalah sarana untuk memudahkan urusan dunia dan akhirat Anda. Wajar bila Anda selalu bersikap ringan tangan dan rendah hati pada setiap urusan termasuk ketika sedang berniaga.

Dari sahabat Jabir bin Abdillah رضي الله عنه, bahwa Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى

"Semoga Alloh senantiasa merahmati seseorang yang senantiasa berbuat mudah ketika ia menjual, ketika membeli, dan ketika menagih."1

Sikap Anda ini merupakan cerminan nyata dari keimanan Anda bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sesaat, dan selanjutnya cepat atau lambat anda pasti berpindah ke alam akhirat. Karenanya, Anda tak kenal lelah untuk terus-menerus menabur benih-benih kehidupan akhirat semasa hidup di dunia fana ini.

Pada suatu hari Rosululloh صلي الله عليه وسلم bercerita, "(Pada hari kiamat kelak) Alloh mendatangkan salah seorang hamba-Nya yang pernah Dia beri harta kekayaan, kemudian Alloh bertanya kepadanya, 'Apa yang engkau lakukan ketika di dunia?' (Dan mereka tidak dapat menyembunyikan dari Alloh suatu kejadian)2 Sang hamba menjawab, 'Wahai Tuhanku, Engkau telah mengaruniakan kepadaku harta kekayaan, dan aku berjual beli dengan orang lain, dan kebiasaanku (akhlaqku) adalah senantiasa memudahkan, aku meringankan (tagihan) orang yang mampu dan menunda (tagihan kepada) orang yang tidak mampu.' Kemudian Alloh berfirman, 'Aku lebih berhak untuk melakukan ini daripada engkau, mudahkanlah hamba-Ku ini.'"3

Tidakkah Anda menjadi tergiur mendengar kisah Rosululloh صلي الله عليه وسلم di atas? Semasa di dunia, perniagaan Anda berjalan lancar, harta melimpah, dan ternyata di akhirat, kekayaan Anda menghantarkan Anda ke pintu surga?


1. HR. al-Bukhori Kitab al-Bai' "Bab: As-suhulah wa as-samahah fis syiro' wal bai'" hadits no. 1970

2. QS. an-Nisa' [4]: 42

3. HR. al-Bukhori Kitab al-lstiqrodh "Bab: Husnu at-taqodhi" hadits no. 2261 dan Muslim Kitab al-Musaqoh "Bab: Fadhlu inzhori al-mu'sir" hadits no. 1560

<h1>Membelanjakan Harta di Jalan yang Benar</h1>
        <p>

ETIKA KETUJUH:

MEMBELANJAKAN HARTA DI JALAN YANG BENAR

Manisnya kekayaan, mungkin saja menjadikan Anda lalai dan lupa daratan. Betapa tidak, segala yang Anda inginkan dapat terwujud dengan mudah berkat kekayaan Anda yang melimpah. Betapa sering Anda bisa menahan diri dan bersikap bersahaja tatkala kantong Anda cekak, namun hal itu begitu berat untuk Anda lakukan bila kantong Anda tebal.

Keimanan dan keluhuran jiwa Andalah yang dapat menahan Anda dari sikap angkuh dan melampaui batas ketika berhasil mencapai kekayaan. Yang demikian itu karena Anda sadar bahwa suatu saat nanti kekayaan itu harus Anda pertanggungjawabkan, dari mana memperolehnya dan ke mana Anda membelanjakannya.

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

"Kelak pada hari kiamat, tidaklah kedua kaki seorang hamba dapat bergeser hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya; tentang hartanya, dari mana dan ke mana ia belanjakan; dan tentang badannya, untuk apa ia gunakan."1


1. HR. at-Tirmidzi Kitab Shifatul Qiyamah wa ar-Roqo 'iq "Bab: al-Qiyamah" hadits no. 2416

<h1>Penutup</h1>
        <p>

PENUTUP

Semoga paparan singkat ini menggugah semangat dan iman Anda untuk memancarkan iman dan keluhuran jiwa Anda dalam setiap sikap dan perbuatan Anda, tanpa terkecuali ketika Anda berniaga. Betapa besar pahala yang diraih bila Anda berhasil membuktikan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akhlaq mulia dan menempatkannya di atas segala kepentingan dunia. Wallohu Ta'ala A'lam.[]

<h1>Utang-Piutang dalam Kehidupan Masyarakat</h1>

UTANG PIUTANG dalam KEHIDUPAN MASYARAKAT

Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Badri MA حفظه الله

  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Publication : 1435 H, 2013 M 
  </span></span></span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><strong><span class="calibre78">UTANG PIUTANG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT<br class="calibre17"/></span></strong></span></span><span class="calibre79"><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Oleh : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA 
  </span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre80">حفظه الله</span></span></span></span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Sumber: Majalah Al-Furqon, No. 138 Ed. 1 Th 
  ke-13_1434/2013 <br class="calibre17"/></span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">e-Book 
  ini didownload dari </span></span></span>

www.ibnumajjah.com

MUQODDIMAH

Allah Ta'ala telah menciptakan manusia sebagai umat yang bersifat sosial, saling membutuhkan dan saling melengkapi. Tidak mungkin bagi siapa pun untuk hidup seorang diri. Bahkan syari'at Islam tidak membenarkan bagi umatnya untuk hidup menyendiri jauh dari keramaian.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ مِنْ سَرَايَاهُ قَالَ فَمَرَّ رَجُلٌ بِغَارٍ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ مَاءٍ قَالَ فَحَدَّثَ نَفْسَهُ بِأَنْ يُقِيمَ فِي ذَلِكَ الْغَارِ فَيَقُوتُهُ مَا كَانَ فِيهِ مِنْ مَاءٍ وَيُصِيبُ مَا حَوْلَهُ مِنْ الْبَقْلِ وَيَتَخَلَّى مِنْ الدُّنْيَا ثُمَّ قَالَ لَوْ أَنِّي أَتَيْتُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَإِنْ أَذِنَ لِي فَعَلْتُ وَإِلَّا لَمْ أَفْعَلْ فَأَتَاهُ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنِّي مَرَرْتُ بِغَارٍ فِيهِ مَا يَقُوتُنِي مِنْ الْمَاءِ وَالْبَقْلِ فَحَدَّثَتْنِي نَفْسِي بِأَنْ أُقِيمَ فِيهِ وَأَتَخَلَّى مِنْ الدُّنْيَا قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ بِالْيَهُودِيَّةِ وَلَا بِالنَّصْرَانِيَّةِ وَلَكِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ

Abu Umamah رضي الله عنه mengisahkan, "Pada suatu waktu, kami menyertai Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam salah satu peperangannya. Di tengah perjalanan, ada seorang sahabat yang melintasi suatu gua, yang padanya terdapat sedikit mata air. Spontan terbetik dalam hati sahabat itu suatu rencana untuk menetap di dalam gua itu, dengan mencukupkan diri dengan minum dari mata air tersebut dan memakan sayur-mayur yang tumbuh di sekitarnya, sehingga ia dapat menjauhi hingar-bingarnya kehidupan dunia. Selanjutnya, sahabat itu berpikiran 'Alangkah baiknya bila aku terlebih dahulu menemui Nabi صلى الله عليه وسلم guna menyampaikan rencanaku ini, bila beliau mengizinkan maka aku akan menjalankan rencanaku ini, dan bila tidak maka aku pun akan mengurungkannya'. Ia pun segera menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan bertanya kepadanya, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya baru saja saya melintasi suatu gua dan di sana terdapat air serta sayur-mayur. Terbetik di benakku untuk menyendiri di dalamnya, dengan demikian aku dapat meninggalkan segala urusan dunia.' Mendengar pernyataan sahabat ini, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, 'Sesungguhnya aku tidak diutus dengan agama Yahudi dan tidak juga dengan agama Nasrani. Akan tetapi, aku diutus dengan membawa agama yang lurus dan lapang.'" (Riwayat Ahmad, ath-Thabrani, dan dinyatakan oleh al-Albani sebagai hadits hasan.)

Pada hadits lain, Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskan alasan mengapa beliau tidak mengizinkan umatnya untuk hidup seorang diri jauh dari saudara-saudaranya sesama muslim:

إِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدَ وَهَوَ مِنَ الإِثْنَيْنِ أَبْعَدَ

"Sesungguhnya setan itu senantiasa menyertai orang yang menyendiri, dan ia berada lebih jauh dari dua orang." (Riwayat at-Tirmidzi, al-Hakim, al-Baihaqi, dan dinyatakan oleh al-Albani sebagai hadits hasan.)

Berdasarkan hadits ini dan juga lainnya, para ulama menjelaskan bahwa setan lebih leluasa untuk menyesatkan dan menggoda orang yang berada di suatu tempat seorang diri. la akan semakin mendapat kesulitan untuk melancarkan godaannya bila kita berada dalam keramaian. Oleh karena itu, Allah Ta'ala mencela orang-orang Arab Badui yang hidupnya senantiasa berpindah-pindah dan jauh dari keramaian masyarakat:

الأعْرَابُ أَشَدُّ كُفْرًا وَنِفَاقًا وَأَجْدَرُ أَلا يَعْلَمُوا حُدُودَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Orang-orang Arab Badui itu lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS at-Taubah [9]: 97)

Pada ayat ini dijelaskan bahwa orang yang tinggal di pedalaman, yang kebiasaan hidupnya adalah berpindah-pindah, lebih keras kekufurannya, serta lebih jauh dari pengetahuan agama. Yang demikian itu dikarenakan mereka jauh dari keramaian masyarakat dan sumber ilmu pengetahuan. (Baca Tafsir ath-Thabari 14/429, Tafsir Ibnu Katsir 4/201, dan Tafsir as-Sa'di: 349.)

Ibnu Taimiyyah رحمه الله menjelaskan bahwa orang yang hidup menyendiri jauh dari keramaian masyarakat akan kehilangan banyak kebaikan dalam urusan agama sebesar kemaslahatan dunianya yang sirna atau bahkan lebih. (Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah 27/56)

Tidak heran bila orang yang lebih memilih untuk menjalankan fitrahnya sebagai makhluk sosial dengan tetap berinteraksi dengan masyarakat lebih baik dari orang yang berusaha menyendiri.

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

"Seorang mukmin yang tetap bergaul dengan masyarakat sedangkan ia dapat bersabar menghadapi gangguan mereka lebih baik dibanding seorang mukmin yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak tabah menghadapi gangguan mereka." (Riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dinyatakan oleh al-Albani sebagai hadits shahih.)

Demikianlah Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa hidup bermasyarakat karena dengan bermasyarakat kemaslahatan akan menjadi mudah diwujudkan dan kejelekan mudah ditanggulangi. Dengan bermasyarakat, umat manusia dapat saling melengkapi dan saling menghargai.

Dengan cara bermasyarakat yang baik, kehidupan umat manusia menjadi nyaman, bahagia, dan kebutuhan mereka dapat terpenuhi degan sempurna. Anda dapat bayangkan, betapa susahnya hidup manusia Anda, bila Allah Ta'ala menciptakan umat manusia dalam bentuk yang sama dengan diri Anda.

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. (QS adz-Dzariyat [51]: 49)

Saudaraku, selama mengarungi bahtera ke-hidupan di dunia ini, janganlah pernah ada rasa sombong atau congkak dalam diri Anda. Anda dan peranan Anda menjadi berarti karena adanya orang lain yang butuh kepada diri dan peranan Anda. Sebagaimana Anda mustahil untuk hidup tanpa butuh kepada diri dan peranan orang lain. Bila Anda adalah orang kaya maka kekayaan Anda tidak ada gunanya bila tidak ada orang miskin, sebagaimana kekayaan Anda itu menjadikan Anda semakin banyak membutuhkan kepada jasa dan peranan orang lain.

Andai Anda adalah seorang yang berilmu, maka ketahuilah bahwa ilmu Anda hanya berguna bila didapatkan banyak orang bodoh di sekeliling Anda. Anda pasti butuh kepada keberadaan dan peranan mereka.

Dan andai Anda adalah seorang bangsawan yang berdarah biru dan berpangkat tinggi maka ketahuilah bahwa kedudukan Anda hanya akan berarti bila di sekitar Anda didapatkan banyak rakyat jelata. Renungkanlah saudaraku fakta ini, agar Anda dapat menyingkirkan noda-noda keangkuhan takhta dan harta.

<h1>Piutang &amp; Perannya dalam Kehidupan Masyarakat</h1>
        <p>

PIUTANG DAN PERANANNYA
DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

Di antara metode yang telah dikenal umat manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan mereka ialah dengan cara berinteraksi dan bertukar kepentingan dengan saudaranya. Dan perrukaran kepentingan tersebut ada yang dilakukan antara dua kepentingan duniawi dan ada pula yang dilakukan antara kepentingan duniawi dengan kepentingan akhirat.

Diantara contoh pertukaran antara dua kepentingan duniawi adalah berbagai transaksi perniagaan yang telah banyak kita kenal. Dan diantara contoh pertukaran kepentingan duniawi dengan kepentingan akhirat ialah hibah, sedekah, wakaf dan hutang-piutang.

Simaklah firman Allah Ta'ala berikut:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا . إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلا شُكُورًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS al-Insan [76]: 8-9)

Dan simak pula sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم berikut:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

"Barangsiapa yang menunda atau memaafkan piutang orang yang kesusahan, niscaya Allah akan menaunginya di bawah 'Arsy, kelak di hari yang padanya tidak ada naungan selain naungan-Nya." (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan at-Tirmidzi dan ini adalah teks riwayat at-Tirmidzi.)

Demikianlah kepentingan dunia ditukarkan dengan keuntungan yang kekal dan abadi yaitu keuntungan di akhirat. Tidakkah Anda memimpikan perniagaan yang pasti untung ini?

Saudaraku, mungkin Anda pernah merasakan suatu keadaan di mana Anda benar-benar kesusahan, tidak memiliki dana untuk memenuhi kebutuhan. Keadaan ini sudah barang tentu menjadikan Anda merasakan gundah, susah tidur, dan bingung. Pada saat semacam ini, Anda pasti mendambakan uluran tangan seorang teman atau saudara seiman, guna menyibak kesusahan atau—paling tidak—meringankannya.

Saudaraku, setelah sekarang Anda mendapat karunia dari Allah Ta'ala berupa kelapangan rezeki, tidakkah Anda mengingat bahwa di sekitar Anda masih banyak saudara-saudara Anda yang menanggung pahitnya kemiskinan dan sempitnya pintu rezekinya. Tidakkah penderitaan mereka menggugah batin Anda dan mengetuk pintu hati Anda? Apakah yang akan Anda lakukan guna meringankan penderitaan mereka?

Barangkali, lubuk hati Anda yang paling dalam tergugah untuk segera mengulurkan tangan, dengan memberikan pinjaman modal. Akan tetapi, mungkin juga setan membisikkan kepada Anda satu pertanyaan berikut: "Mereka adalah orang miskin, atau tidak memiliki pekerjaan yang jelas, siapakah yang akan menjamin uang Anda bila di kemudian hari mereka tidak mampu melunasi utangnya?"

Jangan khawatir saudaraku! Uang Anda pasti kembali dan terjamin. Anda penasaran ingin tahu siapa yang menjaminnya? Yang menjaminnya ialah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Tidak percaya, maka simaklah janji sekaligus jaminan Rasulullah صلى الله عليه وسلم berikut:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

"Barangsiapa yang melapangkan suatu kesusahan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan melonggarkan satu kesusahannya di akhirat. Barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang ditimpa kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi kekurangan (aib) seorang muslim di dunia, niscaya Allah akan menutupi kekurangannya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia juga menolong saudaranya." (Riwayat Muslim)

Pada riwayat lain, beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

"Barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat." (Riwayat Ibnu Majah dan dinyatakan oleh al-Albani sebagai hadits shahih.)

Saudaraku, bila Anda telah mengetahui bahwa saudara Anda yang kesusahan benar-benar serius dan berkomitmen untuk menunaikan tanggung jawabnya (utangnya), pasti Allah akan memudahkannya untuk mengembalikan hak-hak Anda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

"Barangsiapa yang mengambil harta orang lain [berhutang] sedangkan ia berniat untuk menunaikannya, niscaya Allah akan memudahkannya dalam menunaikan harta tersebut. Dan barangsiapa mengambil harta orang lain sedangkan ia berniat untuk merusaknya, niscaya Allah akan membinasakannya." (Riwayat al-Bukhari)

Inilah jaminan yang yang disebut oleh para penganut paham sekuler dengan asuransi. Saudaraku, kisah berikut adalah salah satu bukti nyata bahwa Allah Ta'ala pasti akan menunaikan jaminan-Nya, sehingga hak-hak kreditor terpenuhi seutuhnya.

Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه menuturkan bahwa pada suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم, mengisahkan peri-hal seorang lelaki Bani Israil yang meminta agar saudaranya mengutanginya uang sejumlah seribu dinar (3.750 gram = 3,75 Kg). Pemilik uang berkata kepadanya, "Datangkanlah para saksi agar aku dapat mempersaksikan piutang ini kepada mereka!" Spontan ia menjawab, "Cukuplah Allah sebagai saksi." Pemilik uang kembali berkata, "Bila demikian, datangkanlah penjamin (kafil) utangmu." Ia kembali menjawab, "Cukuplah Allah sebagai penjamin saya." Mendengar jawaban itu, pemilik uang pun menimpalinya dengan berkata, "Engkau telah benar", selanjutnya ia pun memberikan piutang seribu dinar hingga tempo waktu yang disepakati. Selanjutnya lelaki itu (debitor) mengadakan perjalanan di laut hingga ia dapat menuntaskan keperluannya. Tatkala ia hendak kembali, ia mencari perahu yang dapat ia tumpangi agar dapat menunaikan (melunasi) utangnya tepat waktu pada tempo yang telah disepakati, ia tidak mendapatkan sama sekali satu perahu pun yang berlayar. Selanjutnya ia pun mengambil sebatang pokok kayu, dan melubanginya, selanjutnya ia pun memasukkan uang 1.000 dinar beserta secarik surat ke dalam kayu itu. Ia meratakan bagian kayu yang telah ia lubangi hingga rapat, kemudian ia membawanya ke laut. Sesampainya di pantai ia berdo'a, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah berutang kepada si fulan uang sejumlah seribu dinar. Tatkala ia meminta agar aku mendatangkan seorang penjamin, aku menjawabnya 'Cukuplah Allah sebagai penjamin' dan ia pun ridha Engkau sebagai penjamin. Tatkala ia meminta agar aku mendatangkan saksi, aku menjawabnya 'Cukuplah Allah sebagai saksi', dan ia pun ridha Engkau sebagai saksi. Sekarang ini saya berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan perahu yang berlayar guna menitipkan haknya, tetapi aku tidak mendapatkannya. Karena itu, sekarang ini aku titipkan uang ini kepada-Mu. Selanjutnya orang itu (sang debitor) melemparkan kayu tersebut ke laut, hingga tenggelam. Dan tanpa menanti lebih lama, ia bergegas pergi. Seusai melakukan hal ini, ia tidak kunjung hentinya mencari perahu yang berlayar agar dapat pulang ke negerinya. Pada suatu hari, sang pemberi piutang (kreditor) keluar rumah melihat-lihat ke arah pantai, siapa tahu ia mendapatkan perahu yang membawa (dititipi) uang yang telah ia piutangkan. Tiba-tiba ia menemukan sebatang kayu yang di dalamnya tersimpan uangnya. Ia pun segera memungut kayu tersebut guna dijadikan kayu bakar. Setibanya di rumah, ia segera membelah kayu itu. Betapa terkejutnya, ia mendapatkan uangnya beserta secarik surat. Selang tak seberapa lama, sang debitor (pengutang) tiba dari kepergiannya, dan ia segera mendatangi sahabatnya (sang kreditor) dengan membawa uang seribu dinar. Ia dengan penuh rasa sungkan berkata kepada sahabatnya, "Aku telah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan perahu yang berlayar, guna memenuhi janjiku dan menyerahkan uangmu, tetapi aku tidak mendapatkan satu perahu pun selain perahu yang aku tumpangi ini." Sang kreditor pun segera bertanya, "Apakah engkau telah mengirimkan sesuatu kepadaku?" Sang debitor pun—karena merasa khawatir uangnya tidak sampai—menjawab, "Aku katakan bahwa aku tidak mendapatkan perahu selain perahu yang baru saja saya tumpangi ini." Sang kreditor pun berkata kepadanya, "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah menyampaikan uang yang telah engkau sisipkan ke dalam sebatang kayu, maka silakan engkau bawa kembali uang seribu dinar yang engkau bawa ini." (Riwayat al-Bukhari)

Demikianlah bila Allah yang menjadi penjamin suatu piutang, pasti ditepati dan tidak akan terkurangi sedikit pun hak-hak Anda. Bagaimana dengan diri Anda, siapkah Anda menerima Allah sebagai penjamin hak-hak Anda? Wallahu Ta'ala A'lam bish shawab. []

<h1>Petunjuk Rasulullah Bagi yang Berutang</h1>

PETUNJUK RASULULLAH Bagi YANG BERHUTANG

Ustadz Nur Kholis bin Kurdian حفظه الله

  <p><span lang="IN" class="calibre55">Publication: 

1434 H_2013 M

PETUNJUK RASULULLAH صلى الله عليه وسلم BAGI

YANG BERHUTANG
Ustadz Nur Kholis bin Kurdian حفظه الله

Sumber: Majalah as-Sunnah No.08/Thn.XIV_1432H/2010M
Download > 600 eBook Islam di
www.ibnumajjah.com

Muqoddimah

Pada dasarnya, hukum berhutang adalah mubah (boleh). Meskipun demikian, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan kepada kita doa untuk berlindung dari lilitan hutang. Nabi mengajarkan doa berikut ini:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran (terhadap musibah yang akan menimpa), dari rasa sedih (terhadap musibah yang telah menimpa), dari lemah, malas, petit, sifat penakut, dililit hutang dan dari paksaan para laki-laki (yang zhalim) (HR. al-Bukhari no. 6369)

'Aisyah رضي الله عنها pernah berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, alangkah sering engkau beriindung dari berhutang!". Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab:

إِنَّهُ مَنْ غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

Sesungguhnya orang yang dililit hutang jika berkata ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari (HR. an-Nasa'i dan dishahihkan al-Albani)

Hadits di atas memberikan pelajaran kepada kita untuk tidak mudah berhutang, karena jika seseorang mudah berhutang, cepat atau lambat hutang akan melilitnya, dan pada gilirannya nanti akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti berbohong dan mengingkari janji ketika ditagih, atau -yang lebih ditakutkan lagi- ketidakmampuan melunasi hutang tersebuts ampai ajal datang, padahal jiwa seseorang yang meninggal akan digantung nasibnya lantaran hutangnya yang belum terbayar. Nabi صلى الله عليه وسلم:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seseorang digantungkan sebab hutangnya sampai hutang tersebut terbayar. (HR.at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)

Pada riwayat yang lain, beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْ ثَلَاثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنْ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ

Barang siapa yang meninggal dunia dan ia bersih dari tiga perkara, dari kesombongan, khianat dan hutang, maka ia akan masuk surga (HR. Ibnu Majah)1


1. HR. Ibnu Majah no.2412. Lihat ash-Shahihah no. 2785

<h1>Wajibnnya Membayar Utang</h1>
        <p>

Tuntunan Nabi Bagi yang Berutang

Tidak semua orang bisa menghindari berhutang, karenanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun memberikan tuntunan bagi mereka yang berhutang agar mereka selamat di dunia maupun di akherat sebagai berikut:

1. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyatakan bahwa orang yang berhutang berkewajiban mengembalikan uang pinjaman tersebut, karena uang pinjaman termasuk amanat yang harus dikembalikan kepada orang yang menghutangi, dan barang siapa yang tidak mau mengembalikan pinjaman tersebut, maka ia berdosa dan mendapatkan ancaman. Jika ia mati, maka dosa tersebut tidak diampuni oleh Allah عزّوجلّ, meskipun orang tersebut mati syahid, sampai hutang tersebut terbayar atau direlakan oleh si pemberi hutang, sebagaimana tertuang dalam sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ

Orang yang mati syahid, semua dosanya akan diampuni oleh Allah kecuali hutang. (HR.Muslim no. 1886)

Pada riwayat lain, Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga memberikan ancaman bagi orang yang tidak mau membayar hutang, Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

Barang siapa yang mengambil harta-harta manusia (berhutang) dengan tujuan ingin mengembalikan, maka Allah akan memudahkan pembayarannya, dan barang siapa yang mengambilnya, dengan tujuan untuk tidak mengembalikannya, maka Allah akan membinasakannya. (HR. al-Bukhari no.2387)

<h1>Segera Membayar Utang</h1>
        <p>

2. Jika yang berhutang telah mempunyai apa yang akan ia bayarkan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkannya untuk segera melakukan pembayaran, tidak menunda-nundanya. Sebab, menunda-nunda pembayaran, padahal ia mampu membayarnya, hal itu merupakan kezhaliman. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

Penundaan pembayaran hutang oleh orang yang mampu merupakan kezhaliman. (HR. al-Bukhari no.2400)

<h1>Bersikap Baik dalam Melunasi Utang</h1>
        <p>

3. Dalam urusan melunasi hutang, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menganjurkan untuk mengembalikan hutang dengan cara yang baik. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

فَإِنَّ مِنْ خِيَارِ النَّاسِ أَحْسَنَهُمْ قَضَاءً

Sesungguhnya termasuk orang pilihan yaitu orang yang paling baik ketika membayar hutang (HR.al-Bukhari no. 2392)

Dan di antara cara yang baik dalam mengembalikan hutang adalah;

a. Tepat waktu dalam membayar hutang sesuai dengan janji (kesepakatan) yang telah ditentukan. Termasuk ciri orang yang beriman, apabila berjanji menepatinya, dan sebaliknya jika seseorang tidak menepati janjinya serta mengabaikannya begitu saja, ini termasuk karakter orang munafik.

Jika terjadi kesulitan keuangan sehingga menyebabkan terlambat dalam mengembalikan, maka sebelumjatuh tempo pembayaran, hendaknya ia meminta ijin kepada yang menghutangi agar diberi kelonggaran dalam pelunasan hutang.

b. Berterima kasih kepada si pemberi hutang, karena dia telah membantunya. Sikap seperti ini termasuk bentuk syukur kepada Allah عزّوجلّ, sebagaimana sabda nabi صلى الله عليه وسلم:

لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.1

c. Melebihkan pembayaran hutang. Jika orang yang berhutang mampu, maka dianjurkan untuk membayar hutang tersebut dengan melebihkannya sebagai bentuk balas budi kepada si pemberi hutang, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Jabir رضي الله عنه bercerita: "...Waktu itu, aku mempunyai piutang yang harus beliau bayar. Beliau membayar hutang tersebut dan bahkan melebihkannya (pembayarannya). (HR. al-Bukhari no.2394)

Tentunya, hal ini diperbolehkan bila atas inisiatif pihak yang berhutang, bukan atas dasar permintaan pemberi hutang atau kesepakatan sebelumnya, hal ini karena akan menyebabkan terjadinya praktek riba.

d. Mendoakan si pemberi hutang. Jika yang berhutang tidak mampu untuk melebihkan pembayarannya, maka disunnahkan baginya mendoakan si pemberi hutang sebagai bentuk balas budi kepadanya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفًا فَكَافِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا، فَادْعُوْالَهُ، حَتَّى يَعْلَمُ أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوْهُ

Dan siapa saja yang telah berbuat baik kepadamu, maka balaslah dengan hal yang sama, jika kamu tidak mampu, maka do'akanlah dia, sehingga kamu terlihat telah membalas kebaikannya. (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad).2


1. Lihat ash-Shahihah no. 416

2. Lihat ash-Shahihah no.254

<h1>Meminta Keringanan...</h1>
        <p>

4. Orang yang berhutang -jika ia benar-benar tidak mampu- boleh untuk meminta keringanan atau pembebasan hutang dari si pemberi hutang, seperti yang pernah dilakukan Sahabat Jabir رضي الله عنه.

Bapaknya ketika meninggalkan dunia, menyisakan hutang yang banyak dan meninggalkan anak-anakyang masih kecil. Setelah permintaannya untuk dibebaskan dari pelunasan hutangnya ditolak oleh para pemilik piutang, ia pun menghadap Nabi صلى الله عليه وسلم agar berkenan menjadi perantara untuk memintakan pembebasan hutang dari mereka.1 Wallahua'lam.[]


1. Silahkan lihat kisah lengkapnya pada Shahih al-Bukhari no.2405

<h1>Etika Berutang</h1>

ETIKA BERUTANG

Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Badri MA حفظه الله

Publication : 1435 H, 2013 M

ETIKA BERUTANG
Oleh : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA حفظه الله

  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Sumber: Majalah Al-Furqon, No. 139 Ed. 3 Th 
  ke-13_1434/2013 <br class="calibre17"/></span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">e-Book 
  ini didownload dari </span></span></span><span class="calibre127"><span class="calibre56">www.ibnumajjah.com</span></span></p>
<h1>1. Berhutang Bila Merasa Sanggup Melunasinya</h1>
        <p>

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga, dan sahabatnya. Amma Ba’du:

Syari'at Islam telah mengajarkan kepada pihak yang ditolong agar mencerminkan akhlak yang terpuji, sehingga ia tetap dapat menjaga keluhuran martabatnya dan membalas uluran tangan saudaranya dengan cara-cara yang luhur pula.

ADAB PERTAMA:
TIDAK BERUTANG KECUALI BILA MERASA MAMPU MELUNASINYA

Di antara syari'at yang diajarkan kepada umat-nya agar mereka dapat berlaku baik pada utangnya ialah bersikap proporsional (sedang-sedang) dalam kehidupannya. Hidup sederhana, dan tidak berlebih-lebihan, dan senantiasa membelanjakan harta kekayaan dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, kita tidak membelanjakan harta kekayaan kita dalam hal yang kurang berguna atau sia-sia, apalagi diharamkan, sebagaimana kita juga akan terhindar dari sikap "besar pasak daripada tiang".

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (hartanya), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS al-Furqan [25]: 67)

Al-Qurthubi al-Maliki رحمه الله berkata, "Ada tiga pendapat tentang maksud dari larangan berbuat israf (berlebih-lebihan) dalam membelanjakan harta:

Pendapat pertama: Membelanjakan harta dalam hal yang diharamkan; dan ini adalah pendapat Ibnu Abbas رضي الله عنهما.

Pendapat kedua: Tidak membelanjakan dalam jumlah yang banyak; dan ini adalah pendapat Ibrahim an-Nakha'i رحمه الله.

Pendapat ketiga: Mereka tidak larut dalam kenik-matan, bila mereka makan maka mereka makan sekadarnya dan dengan (niat) agar kuat dalam menjalankan ibadah, dan bila mereka berpakaian maka sekadar untuk menutup auratnya, sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم; dan ini adalah pendapat Yazid bin Abi Habib رحمه الله."

Selanjutnya al-Qurthubi menimpali ketiga penafsiran ini dengan berkata, "Ketiga penafsiran ini benar, karena membelanjakan dalam hal kemak-siatan adalah diharamkan Makan dan berpakaian hanya untuk bersenang-senang dibolehkan, tetapi bila dilakukan agar kuat menjalankan ibadah dan menutup aurat maka itu lebih baik. Oleh karena itu, Allah عزّوجلّ memuji orang yang melakukan dengan tujuan yang utama, walaupun selainnya adalah dibolehkan, tetapi bila ia berlebih-lebihan dapat menjadikannya pailit. Pendek kata, menyisihkan sebagian harta itu lebih utama."

Adapun maksud dari "Tidak kikir dalam membelanjakan harta", maka para ulama tafsir memiliki dua penafsiran:

Penafsiran pertama: Tidak enggan untuk menunaikan kewajiban, misalnya zakat dan lainnya.

Penafsiran kedua: Pembelanjaan harta tersebut tidak menjadikannya terhalangi dari menjalankan ketaatan, sebagaimana halnya orang yang hanyut dalam berbelanja di mal, sampai lupa untuk mendirikan shalat. (Ahkamul Qur'an oleh al-Qurthubi 3/452)

Bila Anda telah menempuh hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, juga tidak kikir, niscaya Anda akan terhindar dari lilitan utang yang memberatkan.

Saudaraku, bila Anda amati kebanyakan orang yang terlilit utang dan ia tidak kuasa untuk melunasinya, biasanya akibat dari sikapnya yang tidak proporsional dalam membelanjakan harta benda-nya. Ia membeli berbagai keperluan yang tidak penting dan dengan harga mahal, bahkan tidak jarang ia membelanjakan hartanya dalam hal-hal haram. Bahkan bila merasa keuangannya tidak mencukupi, ia tidak canggung untuk berutang kepada orang lain, tanpa memikirkan bagaimana caranya mengembalikan (melunasi) utangnya tersebut. Tentu pola pembelanjaan harta benda semacam ini tidak dibenarkan dalam Islam. Sikap seperti ini menurut sebagian ulama adalah salah satu bentuk upaya merusak harta orang lain, dan pelakunya diancam dengan kebinasaan.

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

"Barangsiapa yang mengambil harta orang lain, sedangkan ia berniat untuk menunaikannya, niscaya Allah akan memudahkannya dalam menunaikan harta tersebut. Dan barangsiapa mengambil harta orang lain sedangkan ia berniat untuk merusaknya, niscaya Allah akan membinasakannya." (Riwayat al-Bukhari)

Karena itu, hendaknya kita tidaklah berutang kecuali bila benar-benar membutuhkan dan merasa mampu untuk melunasinya. Sebab, utang terasa manis pada saat menerimanya, tetapi pahit dan berat pada saat hendak melunasinya. Dahulu para ulama salaf menyatakan:

مَادَخَلَ هَمُّ الدِّيْنَ قَلْبًا إِلاَّ أَذْهَبَ مِنَ الْعَقْلِ مَا لاَ يَعُوْدُ

"Tidaklah kegundahan karena memikirkan piutang menghampiri hati seseorang, melainkan akan menyir-nakan sebagian dari akal sehatnya dan tidak akan pernah pulih kembali."

Saudaraku, inilah hikmah dari sikap Nabi صلى الله عليه وسلم yang sering sekali berlindung dari lilitan utang:

مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنْ الْمَغْرَمِ؟ فَقَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

"Ya Rasulullah, (mengapa) betapa sering engkau berlindung dari utang yang melilit dan memberatkan?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya seseorang bila telah terlilit oleh utang yang memberatkan, bila berbicara maka ia berdusta dan bila berjanji maka ia ingkar." (Muttafaq 'Alaih)

<h1>2. Bertekad Bulat Melunasi Utang</h1>
        <p>

ADAB KEDUA:
BERTEKAD BULAT UNTUK MELUNASI PIUTANG DENGAN SEPENUHNYA DAN TIDAK MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN.

Syari'at Islam adalah agama yang luhur dan senantiasa mengajarkan setiap hal yang luhur pula. Sebagaimana Islam juga memerangi setiap hal yang dapat merusakkan keluhuran jiwa umatnya.

Di antara hal yang dilarang dalam syari'at Islam karena merupakan cerminan dari jiwa tercela ialah membalas susu dengan air tuba. Bila saudara Anda telah mengulurkan tangannya dengan memiutangkan sejumlah uang kepada Anda, maka tidak layak bagi Anda untuk mengkhianati kepercayaannya dengan mengingkari atau menunda-nunda pe-bayaran haknya, padahal Anda telah mampu untuk menunaikannya.

Mungkin saja Anda beralasan bahwa mumpung ada peluang bisnis yang sangat menguntungkan, sedangkan kreditur belum butuh kepada dana ini, maka lebih baik saya investasikan dahulu, agar lebih banyak mendatangkan keuntungan. Saudaraku, ini adalah bisikan setan, agar Anda semakin bertambah hari semakin terjebak dan merasa berat untuk melunasi utang Anda. Bisikan semacam ini akan terus dibisikkan kepada Anda dan tidak ada hentinya. Setiap hari peluang bisnis pasti ada yang baru dan menggiurkan Anda. Bila bisikan ini Anda turuti maka tidak menutup kemungkinan kesusahan akan kembali menghampiri Anda. Ulah Anda yang kurang terpuji ini mungkin saja menjadi alasan bagi Allah عزّوجلّ untuk menimpakan kembali kesusahan kepada Anda.

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ وَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيءٍ فَلْيَتْبَعْ

"Penunda-nundaan orang yang telah berkecukupan adalah perbuatan zalim, dan bila tagihanmu dipindahkan kepada orang yang berkecukupan maka hendaknya ia pun menurutinya." (Muttafaqun 'Alaih)

Begitu tercelanya perilaku ini sehingga Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikannya sebagai tindak kejahatan yang pelakunya layak untuk dihukumi baik dengan hukuman fisik atau lainnya.

لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عُقُوبَتَهُ وَعِرْضَهُ

"Penundaan orang yang telah berkelapangan adalah tindak kezaliman yang menjadikan pelakunya layak untuk dihukumi (fisiknya) dan dilanggar kehormatannya." (Riwayat al-Bukhari)

Hukuman fisik berupa dipenjarakan hingga didera dengan cambuk, hingga ia menunaikan tanggungan utangnya. Pelanggaran kehormatan dengan cara menyampaikan perilakunya ini kepada pihak yang berwenang atau orang lain yang mampu memberikan tekanan kepadanya sehingga pada akhirnya ia menunaikan tanggungan utang-nya. (Baca Fathul Bari oleh Ibnu Hajar 5/62.)

Bila Anda telah mengetahui bahwa penundaan adalah perbuatan zalim maka waspadalah, jangan sampai kezaliman ini menjadi penyebab kurang lancarnya rezeki Anda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

"Sesungguhnya seseorang dapat saja tercegah dari rezekinya akibat dari dosa yang ia kerjakan." (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim, dll.)

Bahkan bila penundaan pelunasan utang disertai dengan niat tidak baik maka dosa dan hukuman-nya pun semakin berat. Masa depan yang suram di dunia dan akhirat akan menjadi bagiannya.

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

"Barangsiapa yang mengambil harta orang lain, sedangkan ia berniat untuk menunaikannya, niscaya Allah akan memudahkannya dalam menunaikan harta tersebut. Dan barangsiapa mengambil harta orang lain sedangkan ia berniat untuk merusaknya, niscaya Allah akan membinasakannya." (Riwayat al-Bukhari)

Saudaraku, ketahuilah bahwa bila Anda bertekad bulat untuk melunasi piutang Anda kepada yang berhak menerimanya, niscaya Anda mendapat pertolongan dan kemudahan dari Allah, sebagai-mana ditegaskan pada hadits di atas, dan juga pada hadits berikut:

إِنَّ اللَّهُ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِيَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ

"Sesungguhnya Allah senantiasa menyertai orang yang berutang hingga ia melunasi utangnya, selama utangnya itu tidak dibenci Allah." (Riwayat Ibnu Majah, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi, dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh al-Albani)

Masihkah ada alasan untuk menunda-nunda pembayaran utang?

<h1>3. Bersikap Baik dalam Pelunasan Utang</h1>
        <p>

ADAB KETIGA:
BERSIKAP BAIK DALAM PELUNASAN UTANG

Bila Anda telah menyadari bahwa saudara Anda sang kreditur telah memberikan uluran tangannya, maka sudah sepantasnya lah bila Anda berperilaku baik tatkala melunasi piutangnya. Perilaku baik dalam proses pelunasan utang dapat diwujudkan dalam beberapa hal:

· Tepat waktu dan tidak menunda-nunda, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

· Memberikan tambahan baik tambahan yang sejenis dengan piutang atau dalam bentuk lain. Tambahan ini bila tidak dipersyaratkan pada saat akad utang piutang berlangsung, dan atas dasar inisiatif debitur sendiri, maka ini adalah sikap yang terpuji dan tidak termasuk riba.

عَنْ أَبِي رَافِعٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْلَفَ مِنْ رَجُلٍ بَكْرًا فَقَدِمَتْ عَلَيْهِ إِبِلٌ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ فَرَجَعَ إِلَيْهِ أَبُو رَافِعٍ فَقَالَ لَمْ أَجِدْ فِيهَا إِلَّا خِيَارًا رَبَاعِيًا فَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

Abu Rafi' رضي الله عنه mengisahkan bahwa pada suatu saat Rasulullah صلى الله عليه وسلم berutang seekor anak unta dari seseorang, lalu datanglah kepada Nabi صلى الله عليه وسلم unta-unta zakat, maka beliau memerintahkan kepada Abu Rafi' untuk mengganti anak unta yang beliau utang dari orang tersebut. Selang beberapa saat, Abu Rafi' kembali menemui beliau dan berkata, "Saya hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur enam tahun." Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepadanya, "Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi utangnya." (Muttafaqun 'Alaih)

· Melunasi utang sesegera mungkin, walaupun belum jatuh tempo.

· Dan tidak lupa, bila Anda tidak kuasa untuk melakukan ketiga hal di atas maka saya yakin Anda kuasa untuk melakukan hal ini, yaitu mengucapkan terima kasih dan mendo'akan kebaikan untuknya berdasarkan dalil:

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

"Barangsiapa yang telah berbuat kebaikan kepadamu maka balaslah kebaikannya. Bila engkau tidak memiliki sesuatu yang dapat digunakan untuk membalas kebaikannya, maka do'akanlah kebaikan untuknya hingga engkau merasa telah cukup membalas kebaikannya tersebut." (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud, dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh al-Albani)

Mungkinkah Anda merasa susah untuk memanatkan do'a kebaikan bagi orang-orang yang telah berjasa dengan mengulurkan tangannya untuk Anda?

<h1>4. Memohon Pertolongan Kepada Allah</h1>
        <p>

ADAB KEEMPAT:
MOHON PERTOLONGAN KEPADA ALLAH TA'ALA UNTUK DAPAT MELUNASI UTANG

Saudaraku, sebagai bagian dari keimanan Anda kepada Allah Ta'ala ialah meyakini bahwa Allah Maha Kuasa. Tiada daya dan upaya selain apa yang Allah karuniakan kepada Anda. Segala yang Allah kehendaki untuk terjadi pasti terlaksana dan segala yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terlaksana. Demikianlah ikrar yang senantiasa Anda ucapkan melalui bacaan:

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

"Tiada upaya dan tiada daya selain atas karunia Allah."

Keimanan ini sudah sepantasnya untuk menyertai setiap aktivitas kita selama hidup di dunia ini. Betapa tidak, kita hidup dalam kerajaan Allah dan kekuasaan-Nya, sehingga tidak mungkin kita kuasa untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah kehendaki. Oleh karena itu, di antara do'a yang sering diucapkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم ialah:

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

"Ya Allah, tiada kemudahan selain yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau berkuasa untuk menjadikan yang kesusahan menjadi mudah."

Saudaraku, bila keimanan ini telah menyatu dengan denyut nadi kita, maka tentu kita pun senantiasa merasa butuh kepada pertolongan Allah Ta'ala. Kalaulah bukan karena pertolongan dan bantuan Allah عزّوجلّ, niscaya segala urusan kita menjadi susah.

Inilah yang mendasari Nabi صلى الله عليه وسلم untuk mengajarkan kepada umatnya agar memohon pertolongan kepada Allah عزّوجلّ dalam upayanya melunasi tanggungan utangnya:

أَتَى عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنِّي عَجَزْتُ عَنْ مُكَاتَبَتِي فَأَعِنِّي فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ جَبَلِ صِيرٍ دَنَانِيرَ لَأَدَّاهُ اللَّهُ عَنْكَ قُلْتُ بَلَى قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Pada suatu hari seorang budak laki-laki mendatangi Sahabat Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, lalu ia berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya saya merasa keberatan untuk membayar tebusan diri saya, makanya saya mohon bantuan kepada engkau. Mendengar keluhan ini, Sahabat Ali رضي الله عنه, berkata kepadanya, "Sudikah engkau aku ajari bacaan do'a yang pernah diajarkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepadaku, yang dengan do'a ini, andai engkau menanggung utang sebesar Gunung Shir niscaya Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

'Ya Allah, limpahkanlah kecukupan kepada kami dengan rezeki-Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan uluran tangan selain-Mu.'" (Riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi, dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh al-Albani)

Demikianlah etika seorang muslim yang benar-benar mencerminkan keimanan dan ketaqwaannya: bijak dalam membelanjakan hartanya, menghormati hak saudaranya, membalas uluran tangan saudaranya dengan yang serupa atau lebih baik, dan bertawakal serta memohon bantuan kepada Allah Ta'ala.

Inilah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, dan mohon maaf bila ada khilaf dan kesalahan. Wallahu a'lamu bish shawab.[]

<h1>Bahaya Kebiasaan Berhutang</h1>

BAHAYA KEBIASAAN BERHUTANG

Ustadz Sa'id Yai Ardiansyah, Lc, MA حفظه الله

  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77"><br class="calibre17"/>Publication : 1437 H_2015 M </span></span> 
  </span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><strong><span class="calibre78">BAHAYA KEBIASAAN BERHUTANG 
  <br class="calibre17"/></span></strong></span></span><span class="calibre79"><span>

Oleh : Ustadz Sa'id Yai Ardiansyah, Lc, MA حفظه الله

Disalin dari Web:www.muslim.or.id
e-Book ini didownload dari www.ibnumajjah.wordpress.com

<h1>Hukum Berhutang</h1>
        <p>

Islam adalah agama yang mulia. Islam telah mengatur seluruh permasalahan di dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di dalamnya adalah permasalahan hutang-piutang. Islam tidak hanya membolehkan seseorang berhutang kepada orang lain, tetapi Islam juga mengatur adab-adab dan aturan-aturan dalam berhutang.

HUKUM BERHUTANG

Hukum asal dari berhutang adalah boleh (jaa-iz). Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan sebagian adab berhutang di dalam Al-Qur’an. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman! Apabila kalian ber-mu’aamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya.” (QS Al-Baqarah: 282)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berhutang. Di akhir hayat beliau, beliau masih memiliki hutang kepada seorang Yahudi, dan hutang beliau dibayarkan dengan baju besi yang digadaikan kepada orang tersebut.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anhaa, bahwasanya dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ فَرَهَنَهُ دِرْعَهُ

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya” (HR Al-Bukhari no. 2200)

<h1>Kebiasaan Sering Berhutang</h1>
        <p>

KEBIASAAN SERING BERHUTANG

Akan tetapi, banyak kaum muslimin yang menganggap remeh hal ini. Mereka merasa nyaman dengan adanya hutang yang “melilit’ dirinya. Bahkan, sebagian dari mereka di dalam hidupnya tidak pernah sedetik pun ingin lepas dari hutang. Sebelum lunas pinjaman yang pertama, maka dia ingin meminjam lagi untuk yang kedua, ketiga dan seterusnya.

Jika hal ini dibiarkan, maka ini akan berlarut-larut dan akan “menular” kepada orang lain di sekitarnya. Terlebih lagi, dengan banyaknya fasilitas untuk berhutang yang disediakan oleh lembaga-lembaga, badan-badan atau perusahaan-perusahaan yang menganut sistem ribawi. Dan parahnya, tidak hanya orang-orang awam yang terlibat dengan hal-hal seperti ini, orang yang sudah lama mengaji, orang berilmu dan orang-orang kaya pun turut berpartisipasi dalam “meramaikannya”. Na’uudzu billaahi min dzaalika.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat takut berhutang dan sangat takut jika hal tersebut menjadi kebiasaannya. Mengapa demikian?

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, bahwasanya dia mengabarkan, “Dulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di shalatnya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berhutang“

Berkatalah seseorang kepada beliau:

مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟

“Betapa sering engkau berlindung dari hutang?”

Beliau pun menjawab:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ, حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

“Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berhutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya” (HR Al-Bukhaari no. 832 dan Muslim no. 1325/589)

Perlu dipahami bahwa berhutang bukanlah suatu perbuatan dosa sebagaimana telah disebutkan. Tetapi, seseorang yang terbiasa berhutang bisa saja mengantarkannya kepada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Pada hadits di atas disebutkan dua dosa akibat dari kebiasaan berhutang, yaitu: berdusta dan menyelisihi janji. Keduanya adalah dosa besar bukan?

Mungkin kita pernah menemukan orang-orang yang sering berhutang dan dililit oleh hutangnya. Apa yang menjadi kebiasaannya? Bukankan orang tersebut suka berdusta, menipu dan mengingkari janjinya? Allaahumma innaa na’udzu bika min dzaalika.

<h1>Memberi Jaminan Ketika Berhutang</h1>
        <p>

MEMBERI JAMINAN KETIKA BERHUTANG

Mungkin di antara pembaca ada yang mengatakan, “Bukankan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri berhutang?”

Ya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berhutang karena sangat membutuhkan hal tersebut pada saat itu. Coba kita perhatikan dengan seksama hadiits yang telah disebutkan. Bukankan yang dihutangi oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah makanan? Jika benar-benar memiliki kebutuhan, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang tercela.

Tetapi perlu diingat, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan hal yang mulia ketika beliau berhutang. Apakah hal yang mulia tersebut? Beliau menggadaikan baju besinya sebagai jaminan. Apabila beliau tidak mampu membayarnya, maka baju besi itulah yang menjadi pembayarannya.

Begitulah seharusnya yang kita lakukan ketika berhutang. Kita harus memiliki jaminan dalam berhutang. Jaminan-jaminan tersebut bisa berupa:

· Harta yang dimiliki

Misalkan seseorang ingin membeli motor, dia memiliki uang di simpanannya sebanyak Rp 15 juta. Uang tersebut tidak berani dia keluarkan, karena menjadi simpanan usahanya yang harus disisakan di simpanan bisnisnya, untuk berjaga-jaga dalam permodalan atau karena hal-hal lain. Kemudian orang tersebut membeli motor dengan kredit seharga Rp 15 juta kepada seseorang dengan batas waktu yang telah ditentukan.

Hal seperti ini tidak tercela, karena seandainya dia meninggal, maka dia memiliki jaminan harta yang ada di simpanannya.

· Menggadaikan barang (Ar-Rahn)

Hal ini telah dijelaskan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

· Mengalihkan hutang kepada piutang yang dimiliki (Al-Hawaalah/Al-Hiwaalah)

Misalkan si A memiliki piutang (orang lain [si B] berhutang kepadanya) sebesar Rp 5 juta, kemudian orang tersebut ingin berhutang kepada si C sebesar Rp 5 juta. Si A mengatakan kepada si C, “Bagaimana menurutmu jika piutangku pada si B menjadi jaminan hutang ini.” Kemudian si C pun menyetujuinya. Maka hal tersebut juga tidak tercela dan pengalihan seperti ini diperbolehkan di dalam Islam. Seandainya si A meninggal, maka hutang tersebut menjadi tanggung jawab si B untuk membayarkannya kepada si C.

· Mencari penanggung jawab atas hutang yang dimiliki (Al-Kafaalah)

Misalkan seseorang membutuhkan biaya yang sangat besar secara mendadak, seperti: biaya operasi yang diakibatkan oleh kecelakaan. Orang tersebut tidak memiliki uang atau harta sebagai jaminannya. Pihak rumah sakit meminta orang tersebut mencari seorang penanggung jawab (kafil) atas hutangnya tersebut. Seandainya orang tersebut kabur atau meninggal dunia, maka penanggung jawabnyalah yang membayarkan hutangnya kepada rumah sakit. Hal ini diperbolehkan dengan syarat penanggung jawab tersebut mampu untuk membayarkan hutangnya atau mampu mendatangkan orang yang berhutang tersebut apabila dia kabur.

<h1>Keburukan Jika Hutang Tak Sempat Dilunasi</h1>
        <p>

KEBURUKAN JIKA HUTANG TIDAK SEMPAT DILUNASI

Jika tidak memiliki jaminan-jaminan yang telah disebutkan di atas, sebaiknya jangan membiasakan diri untuk berhutang. Karena orang yang meninggal sedangkan dia memiliki tanggungan hutang, maka dia akan mendapatkan banyak keburukan. Setidaknya penulis sebutkan tiga keburukan pada tulisan ini.

Keburukan pertama: Tidak dishalati oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menshalati jenazah yang memiliki hutang.

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا ، فَقَالَ: هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ قَالُوا: لاَ، قَالَ: فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا ؟ قَالُوا: لاَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ:هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ قِيلَ : نَعَمْ ، قَالَ: فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ قَالُوا : ثَلاَثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: هَلْ تَرَك شَيْئًا؟ قَالُوا : لاَ، قَالَ: فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ قَالُوا: ثَلاَثَةُ دَنَانِيرَ، قَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ، قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللهِ، وَعَلَيَّ دَيْنُهُ، فَصَلَّى عَلَيْهِ.

Diriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, “Dulu kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian didatangkanlah seorang jenazah. Orang-orang yang membawa jenazah itu pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau pun menshalatinya. Kemudian didatangkan lagi jenazah yang lain. Orang-orang yang membawanya pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Ya.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Kemudian beliau pun menshalatinya. Kemudian didatangkanlah jenazah yang ketiga. Orang-orang yang membawanya pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Beliau pun berkata, ‘Shalatlah kalian kepada sahabat kalian! Kemudian Abu Qatadah pun berkata, ‘Shalatilah dia! Ya Rasulullah! Hutangnya menjadi tanggung jawabku.’ Kemudian beliau pun menshalatinya.” (HR Al-Bukhaari no. 2289)

Hadits di atas jelas sekali menunjukkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mau menshalati orang yang punya hutang. Hal ini sebagai bentuk pengajaran beliau bahwa membiasakan diri untuk berhutang sedangkan dia tidak memiliki jaminan adalah sesuatu yang buruk. Oleh karena itu, sudah selayaknya orang-orang terpandang, tokoh masyarakat dan agama melakukan hal seperti ini ketika ada orang yang meninggal dan dia memiliki tanggungan hutang.

Keburukan kedua: Dosa-dosanya tidak akan diampuni sampai diselesaikan permasalahannya dengan orang yang menghutanginya

Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallaahu ‘anhu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّى خَطَايَاىَ ؟

“Bagaimana menurutmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan diampuni?”

Beliau pun menjawab:

نَعَمْ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلاَّ الدَّيْنَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ لِى ذَلِكَ

“Ya, dengan syarat engkau sabar, mengharapkan ganjarannya, maju berperang dan tidak melarikan diri, kecuali hutang. Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam baru memberitahuku hal tersebut” (HR Muslim no. 4880/1885)

Hadits di atas menjelaskan bahwa ibadah apapun, bahkan yang paling afdhal sekalipun yang merupakan hak Allah tidak bisa menggugurkan kewajiban untuk memenuhi hak orang lain.

Keburukan ketiga: Ditahan untuk tidak masuk surga, meskipun dia memiliki banyak amalan sampai diselesaikan permasalahannya dengan orang yang menghutanginya

Diriwayatkan dari Tsauban, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ: الْكِبْرِ, وَالْغُلُولِ, وَالدَّيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang mati sedangkan dia berlepas diri dari tiga hal, yaitu: kesombongan, ghuluul (mencuri harta rampasan perang sebelum dibagikan) dan hutang, maka dia akan masuk surga. (HR At-Tirmidzi no. 1572, Ibnu Majah no. 2412 dan yang lainnya. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Shahih” di Shahih Sunan Ibni Majah)

<h1>Nasehat Seputar Hutang</h1>
        <p>

NASEHAT SEPUTAR HUTANG

Oleh karena, sebelum mengakhiri tulisan ini, ada beberapa hal yang ingin penulis nasihatkan untuk diri penulis dan pembaca sekalian:

Janganlah membiasakan diri untuk berhutang. Terutama berhutang yang tidak memiliki jaminan.

Fasilitas untuk berkecimpung di dalam riba sangatlah banyak sekali di zaman ini. Oleh karena itu, janganlah kita biarkan diri kita berkecimpung di dalamnya! Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ آكِلَ الرِّبَا ، وَمُوكِلَهُ ، وَشَاهِدَهُ ، وَكَاتِبَهُ

“Allah melaknat pemakan riba, yang memberi makan, saksi dan juru tulisnya” (HR Ahmad no. 3725. Syaikh Syu’aib mengatakan, “Shahih li ghairih.”)

Apabila ingin berhutang, maka niatkanlah dengan hati yang jujur untuk segera melunasi hutang tersebut pada waktu yang telah dijanjikan. Insya Allah, Allah akan membantu pelunasannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Barang siapa meminjam harta manusia dan dia ingin membayarnya, maka Allah akan membayarkannya. Barang siapa yang meminjamnya dan dia tidak ingin membayarnya, maka Allah akan menghilangkan harta tersebut darinya.” (HR Al-Bukhaari no. 2387)

Apabila telah sampai batas waktu yang telah ditentukan, maka segeralah membayar hutang tersebut dan jangan menunda-nundanya, terkecuali pada saat itu kita tidak memiliki harta untuk membayarnya. Orang yang memiliki harta untuk membayar hutangnya, tetapi dia sengaja memperlambat pembayarannya, maka dianggap sebagai suatu kezoliman/ dosa. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

“Memperlambat pembayaran hutang untuk orang yang mampu membayarnya adalah kezaliman.” (HR Al-Bukhaari no. 2288 dan Muslim no. 4002/1564)

Jika benar-benar tidak mampu membayar hutang pada waktu yang telah ditentukan, maka bersegeralah meminta maaf kepada orang yang menghutangi dan minta tenggang waktu untuk membayarnya.

Demikian tulisan yang singkat ini. Mudahan bermanfaat untuk kita semua dan mohon perkenannya untuk menyampaikan kepada yang lain.

اللَّهُمَّ إِنِّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ...

<h1>Hukum Pegadaian dalam Fiqih Islam</h1>

HUKUM PEGADAIAN dalam Fiqih Islam

Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawas, L.c, MA حفظه الله

  <p><span class="calibre77"><span><span class="calibre115">Publication : 143</span></span><span><span lang="EN-US" class="calibre115">5</span></span><span><span class="calibre115">  H </span></span><span class="calibre112"></span></span></p><strong><span class="calibre77"><span><span lang="EN-US" class="calibre76"><span class="calibre106">
  </span></span></span></span></strong><p><strong><span class="calibre77"><span class="calibre106"><br class="calibre17"/><span class="calibre116">Hukum Pegadaian dalam Fiqih Islam</span> 
  </span></span></strong></p>
  <p><span class="calibre79"><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Oleh 
  : Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawas 
  </span></span></span><span><span dir="rtl" lang="AR-SA" class="calibre117">حفظه الله</span></span><span class="calibre112"></span></span></p>
  <p><span class="calibre77"><span><span class="calibre115"></span></span></span> </p>
  <p><span class="calibre77"><span><span class="calibre115">Sumber: Blog Resmi Penulis di <span class="calibre118">www.abufawas.wordpress.com</span> <br class="calibre17"/></span></span></span><span class="calibre77"><span><span class="calibre115">e-Book ini didownload dari </span></span><span class="calibre120"><span class="calibre56">www.ibnumajjah.com</span></span></span><span class="calibre112"></span></p>

<h1>Defenisi Ar-Rahn</h1>
        <p>

A. Defenisi Ar-Rahn (Gadai)

Ar-Rahn (gadai) secara bahasa artinya adalah ats-tsubût wa ad-dawâm (tetap dan langgeng)1; dan bisa juga berarti al-ihtibas2 wa al-luzum3 (tertahan dan keharusan).

Sedangkan secara syar‘i, ar-rahn (gadai) adalah harta yang dijadikan jaminan utang (pinjaman) agar bisa dibayar dengan harganya oleh pihak yang wajib membayarnya, jika dia gagal (berhalangan) melunasinya.4

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Gadai ialah harta benda yang dijadikan sebagai jaminan (agunan) utang agar dapat dilunasi (semuanya), atau sebagiannya dengan harganya atau dengan sebagian dari nilai barang gadainya itu”.5

Sebagai contoh, bila ada seseorang memiliki hutang kepada anda sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). Lalu dia memberikan suatu barang yang nilainya sekitar Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah) sebagai jaminan utangnya. Maka di dalam gambaran ini, utangnya kelak dapat dilunasi dengan sebagian nilai barang yang digadaikannya itu bila dijual.

Contoh lain, bila ada seseorang yang berhutang kepada anda sebesar RP.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Lalu dia memberikan kepada anda sebuah barang yang nilainya sebesar Rp.500.000,- (Lima ratus ribu rupiah) sebagai jaminan utangnya. Di dalam gambaran kedua ini, sebagian hutang dapat dilunasi dengan nilai barang tersebut.

Dalam dua gambaran di atas, baik nilai barang gadaiannya itu lebih besar maupun lebih kecil dari jumlah utang, hukumnya tetap sama, diperbolehkan.


1. Lihat Taudhih Al-Ahkam, karya Abdullah Al-Bassam IV/519, dan Fiqhus Sunnah, karya As-Sayyid Sabiq III/195.

2. Al-Wajiz Fi Fiqhi As-Sunnah wal Kitab Al-Aziz, karya Abdul Azhim bin Badawi Al-Khalafi, hal.366.

3. Al-Fiqhu Al-Islami wa Adillatuhu, karya Wahbah Az-Zuhaili V/180.

4. Al-Fiqhu Al-Islami wa Adillatuhu, karya Wahbah Az-Zuhaili V/180.

5. Asy-Syarhu Al-Mumti’ ‘Ala Zadi Al-Mustaqni’ karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin IX/118.

<h1>Landasan Disyariatkannya Gadai</h1>
        <p>

B. Landasan Disyariatkannya Gadai

Gadai diperbolehkan dalam agama Islam baik dalam keadaan safar maupun mukim. Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an, Al-Hadits dan Ijma’ (konsensus) para ulama. Di antaranya:

1. Al-Qur’an:

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (QS. Al-Baqarah/2: 283)

Allah Azza wa Jalla menyebutkan “barang” di dalam ayat tersebut, secara eksplisit tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Dalam dunia finansial, barang tanggungan biasa dikenal sebagai jaminan atau obyek pegadaian.

2. Al-Hadits:

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِىٍّ إِلَى أَجَلٍ ، وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ

Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo (kredit) dan beliau menggadaikan kepadanya baju besi.” (HR Bukhari II/729 (no.1962) dalam kitab Al-Buyu’, dan Muslim III/1226 (no. 1603) dalam kitab Al-Musaqat).

عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قال : لَقَدْ رَهَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – دِرْعًا لَهُ بِالْمَدِينَةِ عِنْدَ يَهُودِىٍّ ، وَأَخَذَ مِنْهُ شَعِيرًا لأَهْلِهِ

Anas Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menggadaikan baju besinya di Madinah kepada orang Yahudi, sementara Beliau mengambil gandum dari orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga Beliau.” (HR. Bukhari II/729 (no. 1963) dalam kitab Al-Buyu’).

3. Ijma’ (konsensus) para ulama:

Para ulama telah bersepakat akan diperbolehkannya gadai (ar-rahn), meskipun sebagian mereka bersilang pendapat bila gadai itu dilakukan dalam keadaan mukim.1 Akan tetapi, pendapat yang lebih rajih (kuat) ialah bolehnya melakukan gadai dalam dua keadaan tersebut. Sebab riwayat Aisyah dan Anas radhiyallahu ‘anhuma di atas jelas menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan muamalah gadai di Madinah dan beliau tidak dalam kondisi safar, tetapi sedang mukim.


1. Lihat Fiqhus Sunnah, karya As-Sayyid Sabiq III/195.

<h1>Unsur dan Rukun Gadai</h1>
        <p>

C. Unsur dan Rukun Gadai (Ar-Rahn)

Dalam prakteknya, gadai secara syariah ini memiliki empat unsur, yaitu:

1. Ar-Rahin, Yaitu orang yang menggadaikan barang atau meminjam uang dengan jaminan barang.

2. Al-Murtahin, Yaitu orang yang menerima barang yang digadaikan atau yang meminjamkan uangnya.

3. Al-Marhun/ Ar-Rahn, Yaitu barang yang digadaikan atau dipinjamkan.

4. Al-Marhun bihi, Yaitu uang dipinjamkan lantaran ada barang yang digadaikan.1

Sedangkan rukun gadai (Ar-Rahn) ada tiga, yaitu:

1. Shighat (ijab dan qabul).

2. Al-‘aqidan (dua orang yang melakukan akad ar-rahn), yaitu pihak yang menggadaikan (ar-râhin) dan yang menerima gadai/agunan (al-murtahin)

3. Al-ma’qud ‘alaih (yang menjadi obyek akad), yaitu barang yang digadaikan/diagunkan (al-marhun) dan utang (al-marhun bih). Selain ketiga ketentuan dasar tersebut, ada ketentuan tambahan yang disebut syarat, yaitu harus ada qabdh (serah terima).

Jika semua ketentuan tadi terpenuhi, sesuai dengan ketentuan syariah, dan dilakukan oleh orang yang layak melakukan tasharruf (tindakan), maka akad gadai (ar-rahn) tersebut sah.

Syarat gadai (Ar-Rahn):

Disyaratkan dalam muamalah gadai hal-hal berikut:

Pertama: Syarat yang berhubungan dengan orang yang bertransaksi yaitu orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki kompetensi beraktivitas, yaitu baligh, berakal dan rusyd (kemampuan mengatur).

Kedua: Syarat yang berhubungan dengan Al-Marhun (barang gadai) ada dua:

1. Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi hutangnya, baik barang atau nilainya ketika tidak mampu melunasinya.

2. Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau yang dizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai.

3. Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran, jenis dan sifatnya,2 karena ar-rahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini.

Ketiga: Syarat berhubungan dengan Al-Marhun bihi (hutang) adalah hutang yang wajib atau yang akhirnya menjadi wajib.


1. Al-Fiqhu Al-Islami wa Adillatuhu, karya Wahbah Az-Zuhaili V/183.

2. Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, karya DR. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan II/69.

<h1>Kapan Serah Terima Barang Gadai Sah?</h1>
        <p>

D. Kapan Serah Terima Ar-Rahn (Barang Gadai) Dianggap Sah?

Barang gadai adakalanya berupa barang yang tidak dapat dipindahkan seperti rumah dan tanah, maka disepakati serah terimanya dengan mengosongkannya untuk pemberi utang tanpa ada penghalangnya.

Ada kalanya berupa barang yang dapat dipindahkan. Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati serah terimanya dengan ditakar pada takaran, bila barang timbangan maka disepakati serah terimanya dengan ditimbang pada takaran. Bila barang timbangan, maka serah terimanya dengan ditimbang dan dihitung, bila barangnya dapat dihitung. Serta dilakukan pengukuran, bila barangnya berupa barang yang diukur.

Namun bila barang gadai tersebut berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan, dalam hal ini ada perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya. Ada yang berpendapat dengan cara memindahkannya dari tempat semula, dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak yang menggadaikannya, sedangkan murtahin dapat mengambilnya.

<h1>1. Barang yang Dapat Digadaikan</h1>
        <p>

E. Beberapa Ketentuan Umum Dalam Muamalah Gadai

Ada beberapa ketentuan umum dalam muamalah gadai setelah terjadinya serah terima barang gadai. Di antaranya:

1. Barang yang Dapat Digadaikan

Barang yang dapat digadaikan adalah barang yang memiliki nilai ekonomi, agar dapat menjadi jaminan bagi pemilik uang. Dengan demikian, barang yang tidak dapat diperjual-belikan, dikarenakan tidak ada harganya, atau haram untuk diperjual-belikan, adalah tergolong barang yang tidak dapat digadaikan. Yang demikian itu dikarenakan, tujuan utama disyariatkannya pegadaian tidak dapat dicapai dengan barang yang haram atau tidak dapat diperjual-belikan.

Oleh karena itu, barang yang digadaikan dapat berupa tanah, sawah, rumah, perhiasan, kendaraan, alat-alat elektronik, surat saham, dan lain-lain. Sehingga dengan demikian, bila ada orang yang hendak menggadaikan seekor anjing, maka pegadaian ini tidak sah, karena anjing tidak halal untuk diperjual-belikan.

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِىِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, penghasilan (mahar) pelacur, dan upah perdukunan.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Seseorang tidak dibenarkan untuk menggadaikan sesuatu, yang pada saat akad gadai berlangsung, (barang yang hendak digadaikan tersebut) tidak halal untuk diperjual-belikan.”1


1. Al-Umm karya Imam asy-Syafi’i: III/153.

<h1>2. Barang Gadai Adalah Amanah</h1>
        <p>

2. Barang Gadai Adalah Amanah

Barang gadai bukanlah sesuatu yang harus ada dalam hutang piutang, dia hanya diadakan dengan kesepakatan kedua belah pihak, misalnya jika pemilik uang khawatir uangnya tidak atau sulit untuk dikembalikan. Jadi, barang gadai itu hanya sebagai penegas dan penjamin bahwa peminjam akan mengembalikan uang yang akan dia pinjam. Karenanya jika dia telah membayar utangnya maka barang tersebut kembali ke tangannya.

Status barang gadai selama berada di tangan pemberi utang adalah sebagai amanah yang harus ia jaga sebaik-baiknya. Sebagai salah satu konsekuensi amanah adalah, bila terjadi kerusakan yang tidak disengaja dan tanpa ada kesalahan prosedur dalam perawatan, maka pemilik uang tidak berkewajiban untuk mengganti kerugian. Bahkan, seandainya orang yang menggadaikan barang itu mensyaratkan agar pemberi utang memberi ganti rugi bila terjadi kerusakan walau tanpa disengaja, maka persyaratan ini tidak sah dan tidak wajib dipenuhi.

<h1>3. Barang Gadai Dipegang Pemberi Utang</h1>
        <p>

3. Barang Gadai Dipegang Pemberi Utang

Barang gadai tersebut berada di tangan pemberi utang selama masa perjanjian gadai tersebut, sebagaimana firman Allah: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (QS. Al-Baqarah/2: 283).

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam:

الظَّهْرُ يُرْكَبُ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَلَبَنُ الدَّرِّ يُشْرَبُ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَعَلَى الَّذِى يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ نَفَقَتُهُ

“Hewan yang dikendarai dinaiki apabila digadaikan. Dan susu (dari hewan) diminum apabila hewannya digadaikan. Wajib bagi yang mengendarainya dan yang minum, (untuk) memberi nafkahnya.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari (no.2512), dan At-Tirmidzi (no.1245), dan ini lafazhnya).

<h1>4. Pemanfaatan Barang Gadai</h1>
        <p>

4. Pemanfaatan Barang Gadai

Pihak pemberi utang tidak dibenarkan untuk memanfaatkan barang gadaian. Sebab, sebelum dan setelah digadaikan, barang gadai adalah milik orang yang berutang, sehingga pemanfaatannya menjadi milik pihak orang yang berutang, sepenuhnya. Adapun pemberi utang, maka ia hanya berhak untuk menahan barang tersebut, sebagai jaminan atas uangnya yang dipinjam sebagai utang oleh pemilik barang.

Dengan demikian, pemberi utang tidak dibenarkan untuk memanfaatkan barang gadaian, baik dengan izin pemilik barang atau tanpa seizin darinya. Bila ia memanfaatkan tanpa izin, maka itu nyata-nyata haram, dan bila ia memanfaatkan dengan izin pemilik barang, maka itu adalah riba. Karena setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat maka itu adalah riba.1 Demikianlah hukum asal pegadaian.

Namun di sana ada keadaan tertentu yang membolehkan pemberi utang memanfaatkan barang gadaian, yaitu bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diperah air susunya, maka boleh menggunakan dan memerah air susunya apabila ia memberikan nafkah untuk pemeliharaan barang tersebut. Pemanfaatan barang gadai tesebut, tentunya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda:

“Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan, dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no.3962, Fathul Bari V/143 no. 2512, ‘Aunul Ma’bud IX/439 no.3509, Tirmidzi II/362 no.1272 dan Ibnu Majah II/816 no.2440).

Syaikh Abdullah Al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama sepakat bahwa biaya pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya. Demikian juga pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga menjadi miliknya, kecuali pada dua hal, yaitu kendaraan dan hewan yang memiliki air susu yang diperas oleh yang menerima gadai.2


1. Fiqhus Sunnah, karya As-Sayyid Sabiq III/196.

2. Lihat Taudhih Al-Ahkam 4/520-527.

<h1>5. Biaya Perawatan Barang Gadai</h1>
        <p>

5. Biaya Perawatan Barang Gadai

Jika barang gadai butuh biaya perawatan -misalnya hewan perahan, hewan tunggangan, dan budak (sebagaimana dalam as-sunnah) maka:

a. Jika dia dibiayai oleh pemiliknya maka pemilik uang tetap tidak boleh menggunakan barang gadai tersebut.

b. Jika dibiayai oleh pemilik uang maka dia boleh menggunakan barang tersebut sesuai dengan biaya yang telah dia keluarkan, tidak boleh lebih.

Maksud barang gadai yang butuh pembiayaan, yakni jika dia tidak dirawat maka dia akan rusak atau mati. Misalnya hewan atau budak yang digadaikan, tentunya keduanya butuh makan. Jika keduanya diberi makan oleh pemilik uang maka dia bisa memanfaatkan budak dan hewan tersebut sesuai dengan besarnya biaya yang dia keluarkan. Hal ini berdasarkan hadits Nabi yang telah lalu dalam masalah pemanfaatan barang gadai.

<h1>6.  Pelunasan Hutang Dengan Barang Gadai</h1>
        <p>

6. Pelunasan Hutang Dengan Barang Gadai

Apabila pelunasan utang telah jatuh tempo, maka orang yang berutang berkewajiban melunasi utangnya sesuai denga waktu yang telah disepakatinya dengan pemberi utang. Bila telah lunas maka barang gadaian dikembalikan kepada pemiliknya. Namun, bila orang yang berutang tidak mampu melunasi utangnya, maka pemberi utang berhak menjual barang gadaian itu untuk membayar pelunasan utang tersebut. Apa bila ternyata ada sisanya maka sisa tersebut menjadi hak pemilik barang gadai tersebut. Sebaliknya, bila harga barang tersebut belum dapat melunasi utangnya, maka orang yang menggadaikannya tersebut masih menanggung sisa utangnya.1

Demikianlah penjelasan singkat seputar hukum muamalah gadai dalam fiqih Islam. Dari penjelasan di atas, Nampak jelas bagi kita kesempurnaan, keindahan dan keadilan Islam dalam mengatur segala aspek kehidupan manusia. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.[]


1. Taudhih Al-Ahkaam, karya Abdullah Al-Bassam IV/527.

<h1>Hukum Pegadaian</h1>

HUKUM PEGADAIAN

Soal:

Bagaimana hukum pegadaian dalam Islam? Mohon penjelasan.

(Hamba Alloh, Polman-Sulbar, +628524201xxxx)

Jawab:

Pegadaian disyari'atkan dalam Islam, sebagaimana firman Alloh Ta'ala dalam surat al-Baqoroh ayat 283 dan sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم tatkala beliau menggadaikan baju besi kepada seorang Yahudi. Namun yang menjadi per-masalahan adalah pegadaian yang ada saat ini menerapkan sistem "bunga" dan sistem "hangus" jika sudah lewat tempo, atau mensyaratkan akan memanfaatkan barang gadai tersebut, dan hal ini tidaklah sesuai dengan syari'at.

Berikut Fatwa Syaikh Jibrin tentang tata cara yang dilakukan oleh pihak pegadaian atau orang yang menggadai jika telah lewat masa temponya. Beliau menjawab: "Tidak dilarang menjual barang gadai tersebut karena pegadaian (tempat menggadai) menahan barang tersebut sebagai jaminan piutangnya (uang atau barang yang diambil orang yang menggadai). Jika telah lewat masa temponya dan barang itu masih dipegangnya sedangkan orang yang menggadai belum menebusnya maka boleh baginya untuk menjual barang gadaian tersebut dan mengambil piutangnya saja. Bagi orang yang menggadai bisa menjualnya kepada pihak pegadaian atau yang lainnya dan memberikan hak pihak pegadaian (berupa uang atau barang yang telah ia ambil)." (Fatawa Syaikh Jibrin 7/14)

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa juga menjelaskan: "Barangsiapa memberikan pinjaman maka tidak boleh mensyaratkan kepada orang yang dipinjami suatu kemanfaatan sebagai balasan dari pinjaman tersebut sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم (at-Tirmidzi 2951, Ahmad 1/233). Semua pinjaman atau hutang yang ada kemanfaatannya termasuk riba. Para ulama telah sepakat tentang hal itu. Masuk dalam permasalahan ini adalah sebagaimana yang disebut dalam soal, yaitu orang yang meminjam menggadaikan kepada pihak peminjam sebidang tanah dan dimanfaatkan (dikelola) sampai pinjaman tersebut lunas. Pemilik hutang atau pinjaman (penghutang/peminjam) tidak boleh mengambil hasil dari tanah tersebut? atau mengelolanya dalam rangka menunggu lunasnya hutang itu. Sebab, maksud dari menggadai adalah meminta kepercayaan untuk mendapatkan pinjaman atau hutang, bukan untuk meninggikan harga barang gadai tersebut atau melepaskannya untuk membayar hutang. Wabillahit taufiq.[] (Fatawa Lajnah Da'imah 1/219)

Disalin dari: Majalah Al-Mawaddah Edisi 12 Th. Ke-2 Rojab 1430 H, Rubrik Ulama Berfatwa asuhan Ustadz Abu Bakar al-Atsari خفظه الله, hal.47

Kunjungi blog kami:

  <p><span class="calibre177">Soal &amp; Jawab</span></p>
  <p><span class="calibre177">E-Book Islam</span></p>
  <p><span class="calibre177">Doa &amp; 

Dzikir

Memanfaatkan Agunan

MEMANFAATKAN AGUNAN

Soal:

Assalamu'alaikum. Ustadz, ada seseorang hutang kepada si A dengan jaminan sawah, dengan perjanjian bahwa si A akan memanfaatkan sawah yang digadaikan tersebut lalu sebagian persennya diberikan kepada si penghutang. Semua itu dengan persetujuan si penghutang. Saya mohon jawaban Ustadz, karena ada yang mengatakan sistem tersebut adalah riba, padahal model seperti itu sudah marak di daerah kami. (Abdullah)


Jawab:

Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan saha-batnya. Amin.

Praktik pergadaian sawah sebagaimana yang dijelaskan dalam pertanyaan ini adalah riba. Karena kreditor (pemilik uang) dengan jelas mendapatkan keuntungan dari piutang yang diberikan. Padahal para ulama telah menegaskan bahwa:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا

"Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan/keuntungan, maka itu adalah riba."1

Adapun hadits:

اَلظَّهْرُ يُرْكَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا، وَلَبَنُ اَلدَّرِّ يُشْرَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا، وَعَلَى اَلَّذِي يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ اَلنَّفَقَةُ

"Hewan tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkah (pakan) yang diberikan, yaitu apabila hewan tunggangan itu digadaikan. Air susu hasil perahan juga boleh diminum sebagai imbalan atas nafkah yang diberikan, yaitu apabila hewan tunggangan itu digadaikan. Dan yang menunggangi dan meminum susunya wajib memberikan nafkah/pakan (kepada hewan yang digadaikan). " (Bukhori hadits no. 2512)

Tampak dengan jelas bahwa izin untuk menunggangi dan meminum air susu adalah imbalan dari pakan yang diberikan oleh kreditor kepada hewan yang digadaikan. Dengan demikian, jelaslah bahwa barang gadai yang tidak membutuhkan kepada pakan, semisal ladang atau sawah, tidak boleh dimanfaatkan oleh kreditor. Dan bila kreditor tetap memaksakan kehendak-nya maka ia telah memakan riba.

Adapun alasan bahwa debitor (penghutang) rela dengan praktik semacam ini, maka ketahuilah bahwa kerelaannya itu haram alias tidak ada artinya. Alasan rela dalam kondisi semacam ini sama halnya dengan relanya para pelacur dan para penjual atau pembeli barang-barang haram. Kerelaan mereka tidak ada artinya dalam kasus-kasus yang bertentangan dengan hukum syari'at. Bahkan bila mereka tidak rela, maka yang terjadi ialah pemaksaan kehendak atau perampokan, dan bukan riba. Wallohu Ta'ala A'lam bish showab.[]

Disalin dari Majalah al-Furqon no.113 Ed.10 Thn ke-10 1432H/2011M rubrik Soal Jawab Mu’amalah hal.6-7 asuhan Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Badri, MA حفظه الله.

1. Baca al-Muhadzdzab oleh as-Syairozi asy-Syafi’i: 1/304, al-Mughni oleh Ibnu Qudamah al-Hanabilah: 4/211 dan 213, dan Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah: 29/533.

<h1>Riba Bukan Perniagaan</h1>

RIBA BUKAN PERNIAGAAN

USTADZ AUNUR ROFIQ BIN GHUFRON حفظه الله

  <p><span><span class="calibre115">Publication 
  : 143</span></span><span><span lang="EN-US" class="calibre115">3</span></span><span><span class="calibre115"> 
   H_2012 M </span></span><span class="calibre112"></span></p>
  <p><strong><span class="calibre56"><span class="calibre77"><span><span lang="EN-US" class="calibre76"><span class="calibre126">RIBA</span> BUKAN<span class="calibre106"> PERNIAGAAN</span></span></span></span></span></strong></p>
  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Oleh : 
  Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron </span></span></span><span><span dir="rtl" lang="AR-SA" class="calibre117">حفظه الله</span></span><span class="calibre112"></span></p>
  <p><span><span class="calibre115">Sumber: almanhaj.or.id dari Majalah 
  As-Sunnah Edisi 03/Tahun VII/</span></span><span><span class="calibre115"> 
     1424H_2003 M</span></span><span class="calibre112"></span></p>
  <p><span class="calibre77"><span><span class="calibre115">e-Book 
  ini didownload dari </span></span><span class="calibre120"><span class="calibre56">www.ibnumajjah.wordpress.com</span></span></span><span class="calibre112"></span></p>

MUQODDIMAH

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, keluarga, sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik. Amma Ba’du:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Dan Allah menghalalkan perniagaan dan mengharamkan riba. (QS. Al Baqarah[2]: 275).

Perniagaan model riba pada masa sekarang telah menyebar, merata di seluruh pelosok dunia, di kota dan di desa. Penggemarnya bukan hanya orang kafir, tetapi juga kaum muslimin. Berniaga dengan uang pinjaman dari bank riba yang harus dibayar bunganya setiap bulan itu, bukan hanya penguasaha kecil yang susah mencari pinjaman orang kampung -sehingga didatangi oleh bank keliling yang ingin menelurkan induknya dengan mencekik kaum dhuafa’- akan tetapi pengusaha yang kayapun hobinya senang berhutang di bank riba.

Mereka menganggap riba sama sengan peniagaan, karena dinilai sama-sama mencari keuntungan. Tentunya orang mukmin yang ingin menghidupkan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya tidak akan diam menghadapi kemungkaran ini.

Selanjutnya, mari simak pembahasannya, agar kita selamat dari murka Allah di dunia dan di akhirat. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita. Amin.

<h1>Makna Riba dan Perniagaan</h1>
        <p>

MAKNA RIBA DAN PERNIAGAAN

Riba menurut bahasa artinya tambahan.[1] Sedangkan menurut istilah, ialah tambahan secara khusus.[2] Sedangkan maksud tambahan secara khusus, ialah tambahan yang diharamkan oleh syari’at Islam, baik diperoleh dengan cara penjualan, atau penukaran atau peminjaman yang berkenaan dengan benda riba.

Perniagaan (al bai’ was syira’), ialah memberikan harga dan mengambil yang dihargai.[3] Maksudnya, menyerahkan sesuatu yang berharga, dengan mengambil sesuatu yang lain, bertujuan untuk dimiliki, dengan akad secara lisan atau perbuatan, berdasar suka sama suka. Dalilnya firman Allah عزّوجلّ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ أمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. (QS. An Nisa’[4]: 29].


1. Lihat kamus Mu’jmul Wasith 1/326, Mufradat Al Fadhil Quran, oleh Al Asfahani, hlm. 340.

2. Definisi ini dituturkan oleh Imam Ahmad. Lihat kitab Raddul Muhtar, hlm. 183, kitab Mufradat Al Fadhil Qur’an, oleh Al Asfahani, hlm. 340.

3. Lihat kitab Mufradat Al Fadzil Qur’an, oleh Al Asfahani, hlm. 154

<h1>Hukumnya</h1>
        <p>

HUKUMNYA

Riba hukumnya haram, berdasarkan firmanNya: وَحَرَّمَ الرِّبَا ”dan Allah mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah[2]: 275), dan berdasarkan hadist yang shahih dan ijma’ ulama. Sedangkan perniagaan hukumnya -menurut asal- adalah halal, berdasarkan firmanNya: وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ “dan Allah menghalalkan perniagaan.” (QS. Al Baqarah[2]: 275)

Perniagaan yang asalnya halal ini, suatu saat akan berubah menjadi haram karena ada beberapa sebab, antara lain:

Pertama : Penjualan benda tertentu.

Seperti dilarang menjual anjing, kucing, kera, binatang buas dan semisalnya. Dalilnya ialah, sahabat IbnuUmar رضي الله عنهما berkata:

نَهَى النبي عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ

Nabi صلى الله عليه وسلم melarang menerima hasil dari penjualan anjing. (HR. Bukhari, Kitabul Buyu’).[1]

Kedua : Sifat penjualannya.

Seperti menjual barang yang belum jelas, menjual anak kambing di dalam perut induknya, menjual kacang tanah yang masih di dalam tanah, menjual ikan di dalam air, menjual kambingnya yang hilang, menjual barang yang bukan miliknya dan seterusnya, hal seperti ini dilarang. Mengapa? Karena ada hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم, bersumber dari shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, dia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang menjual barang yang ada unsur penipuan (tidak jelas). (HR. Muslim, Kitabul Buyu’).

Ketiga : Berkenaan dengan waktunya.

Seperti berjualan ketika khatib sedang berkhotbah Jum’ah sampai selesai shalat.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ أمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumسبحانه و تعالىat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jum’ah[62]: 9).

Keempat : Berhubungan dengan tempatnya.

Seperti berjual-beli di masjid. Dalilnya sabda Nabi صلى الله عليه وسلم bersumber dari shahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, beliau bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ

Apabila kamu melihat orang berjualan di masjid atau membelinya, maka katakanlah: semoga Allah tidak memberi laba perniagaanmu. (HR. Tirmidzi dan Darimi. Albani berkata, sanadnya shahih menurut ketetapan Imam Muslim).[2]

Kelima : Berkenaan dengan caranya.

Seperti menjual barang ribawi (mengandung unsur riba). Misalnya: menjual emas dengan emas, dengan melebihkan timbangannya sekalipun beda bentuknya. Atau menjual uang yang sama jenisnya, dengan melebihkan (menjual satu juta rupiah dengan memperoleh satu juta limapuluh ribu rupiah). Menjual beras lima kilogram dengan beras kwalitas lain, dengan tiga kilogram dan seterusnya. Dalilnya hadits Nabi صلى الله عليه وسلم, bersumber dari shahabat Abu Said Al Khudri رضي الله عنه:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَالْوَرِقُ بِالْوَرِقِ مِثْلًا بِمِثْلٍ

Menjual emas dengan emas, hendaknya sama nilainya (timbangannya). Perak dengan perak, hendaknya sama pula timbangannya.” (HR. Bukhari, Kitabul Buyu’)


1. Untuk lebih jelasnya keterangan di atas, silakan membaca kitab Fatawa Al-Lajnatud Daimah 13/36

2. Lihat kitab Al Miskah 1/228 no. 273

<h1>Beda Riba dan Perniagaan</h1>
        <p>

PERBEDAAN ANTARA RIBA DENGAN PERNIAGAAN

Menurut pandangan orang jahiliyah dahulu, perniagaan itu disamakan dengan riba dari segi keuntungan (sebagaimana tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 275). Tetapi dari segi hukum, menurut pandangan Dinul Islam jelas berbeda. Riba hukumnya haram, tidak berubah menjadi halal dengan alasan apapun. Pelakunya diancam dengan tidak memperoleh barakah dari keuntungan yang didapatnya dan di akhirat mendapat siksa. Sedangkan perniagaan asalnya halal, kecuali sebagian bentuk perniagaan yang dilarangan dalam Al Qur’an, Sunnah dan Ijma’ ulama.

Mengingat pembahasan perbedaan antara jual-beli dan riba ini sangat luas jangkaunnya, -dikarenakan banyak dalil yang menjelaskan bentuk perniagaan yang haram (yang mengandung riba), disusul pula perkembangan model perniagaan pada zaman sekarang, yang pada hakikatnya mengarah kepada riba- oleh karenanya dalam pembahasan ini, kami batasi hanya memberikan contoh-contoh sepanjang pengetahuan kami model perniagaan dan riba yang berkembang pada masa kini dengan mengacu kepada dalil dari Al Qur’an, Sunnah dan fatwa para ulama’ yang dapat dipercaya keilmuannya.

Sebelum memasuki pembahasan perbedaan diantara keduanya, perlu kita mengetahui, mengenai benda apa yang apabila ditukar atau dijual dengan melebihkan salah-satunya, berarti dinamakan riba? Maka jawabnya ialah berikut ini:

<h1>Pertama</h1>
        <p>

Pertama:

Ulama ahli fiqih telah sepakat, bahwa enam barang ini, yaitu: emas, perak, gandum, syair (jenis gandum), korma dan garam, tergolong riba, yaitu bila:

1. Dijual atau ditukar sama jenisnya dengan menambah pada salah satunya. Dinamakan riba fadhal.

2. Dijual atau ditukar, tidak diambil sebelum berpisah dari majelis. Dinamakan riba nasiah.

3. Dijual atau ditukar sama jenisnya dengan menambah pada salah satunya, dan diambil kemudian hari. Dinamakan riba fadhal dan nasiah.

Adapun dalilnya, sebagaimana dituturkan Ubadah bin Ash Shamit رضي الله عنه, dia berkata, sesungguhnya kami pernah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ , فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى , الْآخِذُ وَالْمُعْطِي فِيهِ سَوَاءٌ

Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dengan gandum, syair (jenis gandum) dengan syair, korma dengan korma, garam dengan garam, maka harus sama (timbangan atau takarannya) dan harus lewat tangan dengan tangan (diterima sebelum berpisah). Maka barangsiapa yang menambahi atau minta tambah, sungguh ia telah meribakan, yang mengambil atau yang memberi sama. (HR Muslim, Kitabul Masaqat).

<h1>Kedua</h1>
        <p>

Kedua:

Ulama fiqih berbeda pendapat, tentang barang ribawi selain enam macam tersebut. Ada yang berpendapat:

1. Tidak termasuk ribawi. Demikian ini pendapat Zhahiriyah

2. Semua barang yang dijual dengan timbangan atau takaran termasuk ribawi. Demikian pendapat Imam Ahmad رحمه الله dan Abu Hanifah رحمه الله.

3. Mata uang dan makanan, demikian pendapat Imam Syafi’i رحمه الله.

4. Khusus makanan yang dijual dengan timbangan atau takaran, menurut pendapat Imam Ahmad رحمه الله.

5. Makanan pokok bila ditukar sama jenisnya dengan melebihkan, termasuk riba. Demikian pendapat Imam Ahmad رحمه الله dan Imam Malik رحمه الله.

Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: ”Pendapat yang paling kuat, ialah pendapat yang mengatakan, bahwa makanan pokok bila dijual sama jenisnya dengan melebihkan salah satunya atau tidak diambil langsung, termasuk riba.”[1]

Contohnya gula dengan gula, tepung dengan tepung, beras dengan beras dan seterusnya.

Pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul Qoyyim رحمه الله ini, nampaknya diperkuat pula oleh hadits dari Makmar bin Abdullah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ, قَالَ وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيرَ

Makanan ditukar dengan makanan harus sama. Makmar berkata: Makanan kami saat itu ialah gandum. (HR Muslim, Bab Al-Masaqah).


1. Lihat kitab Al Fiqhul Islami Wadillatuhu 4/675. Lihat kitab Taudhihul Ahkam, oleh Ali Bassam 4/21-23.

<h1>Satu</h1>
        <p>

Satu:

Termasuk riba, bila menjual atau menukar uang lain jenis, dengan pembayaran belakangan.

Misalnya, menjual dolar dengan rupiah, salah satunya diambil nanti atau besok dan seterusnya. Penjualan ini haram karena termasuk riba nasi’ah.

Dalilnya, dari Umar bin Khathab رضي الله عنه, dia berkata:

وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالذَّهَبِ أَحَدُهُمَا غَائِبٌ وَالْآخَرُ نَاجِزٌ

Dan janganlah kamu menjual perak dengan emas, salah satunya tidak kelihatan yang lain di hadapannya (tunai). (HR Imam Malik, Kitabul Buyu’, sanadnya shahih).

Termasuk jual beli yang sah, bila menjual uang lain jenis dengan pembayaran tunai, sekalipun tidak sama nilainya.

Misalnya, menjual رضي الله عنه 100 USA dengan Rp 900.000,- diterima di tempat penjualan, maka penjualan ini sah, karena uangnya lain jenis dan diterima di tempat.

Dalilnya, dari Ubadah bin Shamit رضي الله عنه, dia berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

Maka apabila berbeda jenisnya, juallah sesukamu apabila berhadap-hadapan (tunai). (HR Muslim, Kitabul Masaqat).

Lembaga Darul Ifta’ Saudi Arabia menyatakan: Benda ribawi, apabila sama penyebabnya dan berbeda jenisnya, boleh dijual dengan melebihkan salah satunya, tetapi harus tunai.[1]


1. Lihat Fatwa Lajnah Ad Daimah 13/500-501

<h1>Dua</h1>
        <p>

Dua:

Termasuk riba, menjual barang ribawi yang sama jenisnya yang satu kelihatan, sedangkan yang lainnya tersembunyi.

Misalnya: Jual gelang emasmu 10 gr ini dengan kalung emasku di rumah seberat 10 gr. Penjualan seperti ini haram, karena termasuk riba nasi’ah.

Dalilnya, dari Abu Sa’id Al Khudri رضي الله عنه, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

“Janganlah kamu menjual emas dengan emas, melainkan sama timbangannya, jangan engkau melebihkan sebagian atas sebagian, dan janganlah kamu menjual perak dengan perak, melainkan sama timbangannya, jangan engkau melebihkan sebagian atas sebagian, dan jangan engkau menjual yang tidak kelihatan dengan yang nampak.” (HR Bukhari, Kitabul Buyu’).

Lembaga Darul Ifta’ Saudi Arabia menyatakan: Benda ribawi, bila sama illat (penyebab) dan jenisnya, haram dijual dengan lebih (fadhal) atau tertunda (nasi’ah) penerimaannya.[1]

Termasuk jual beli yang sah, bila dia berkata: Jual gelang emasmu 10 gr ini, dengan kalung emasku seberat 10 gr itu. Hukum perniagaanya sah, karena sama ridha dan sama nilainya dan keduanya diterima ditempat.


1. Lihat Fatawa Lajnah Daimah 13/500-501

<h1>Tiga</h1>
        <p>

Tiga:

Termasuk riba, menjual barang ribawi, sama illat dan jenisnya, jika dilebihkan satu sama lain, karena lain bentuk.

Misalnya: Aku jual perakku yang berupa cincin 10 gr ini dengan gelang perakmu 12 gr itu.

Hukum penjualan seperti ini haram, sekalipun sama-sama ridha, sama illat dan jenisnya, diterima ditempat, tetapi berbeda nilainya, yaitu 10 gr dengan 12 gr. Ini termasuk riba fadhal.

Dalilnya, lihat hadits yang dituturkan Ubadah bin Ash Shamit di atas, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Masaqah.

Lembaga Darul Ifta’ Saudi Arabia menyatakan: Dilarang menjual perhiasan dari emas dengan emas, perak dengan perak, lebih dari timbangannya karena berbeda bentuknya.[1]

Termasuk jual beli yang sah, bila:

a. Perak dengan perak tadi dijual sama timbangannya, seperti 10 gr dengan 10 gr sekalipun berbeda modelnya (misal: gelang dengan cincin). Dalilnya sebagaimana hadits diatas.

b. Dijual cincin perak dengan berat 10 gr tadi dengan uang, lalu dibelikan perak berupa gelang 12 gr tadi, walaupun tidak menambah dengan uang.

c. Jual atau tukar tambah sepeda dengan sepeda, motor dengan motor yang sama merknya, rumah dengan rumah, tanah dengan tanah dan semisalnya, sekalipun sama jenisnya dan diterima saat sebelum pisah, tetapi illatnya bukan barang ribawi, yaitu bukan emas dan perak atau uang dan bukan makanan pokok.

d. Menjual makanan yang lazimnya tidak dijual dengan takaran, seperti buah durian dengan buah kelapa, sekalipun jumlahnya berbeda, karena illatnya buah bukan makanan pokok dan tidak harus dijual dengan takaran atau timbangan.


1. Fatawa Lajnah Daimah 13/500-501; Fatawa Manarul Islam, Ibnu Utsaimin 2/448.

<h1>Empat</h1>
        <p>

Empat:

Termasuk riba, menjual barang ribawi, sama illat dan jenisnya, jika dilebihkan satu sama lain, karena lain mutu atau kwalitasnya.

Misalnya: Saya jual berasku 100 kg yang aku peroleh dari tunjangan pemerintah ini dengan berasmu yang baru itu 90 kg, atau gula 5kg warnanya putih sekali ini dijual dengan gula agak kekuning-kuningan 6 kg. Hukum penjualan seperti ini haram, karena termasuk riba fadhal, dan karena illatnya sama. Yaitu makanan pokok dan jenisnya sama (beras dengan beras, gula dengan gula) sekalipun kwalitasnya tidak sama.

Dalilnya Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ فَجَاءَهُ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا قَالَ لَا وَاللَّهِ يَارَسُولَ اللَّهِ , إِنَّا لَنَأْخُذُ الصَّاعَ مِنْ هَذَا بِالصَّاعَيْنِ وَالصَّاعَيْنِ بِالثَّلَاثَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّه لَا تَفْعَلْ بِعِ الْجَمْعَ بِالدَّرَاهِمِ ثُمَّ ابْتَعْ بِالدَّرَاهِمِ جَنِيبًا

“Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengangkat seorang pekerja (Sawad bin Aziyah Al Anshari) di Khaibar, lalu dia datang dengan membawa kurma yang sangat istimewa. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya,”Apakah kurma Khaibar seperti ini semua?” Lalu dia menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah. Demi Allah aku menukar satu sha’ kurma yang istimewa ini dengan korma kami dua sha’, dan dua sha’ dengan tiga sha’. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,”Jangan kamu membeli seperti itu! Jual kormamu yang campuran itu dengan dirham (mata uang), lalu beli korma yang istimewa itu dengan dirham.” (HR Bukhari Muslim, Kitabul Buyu’)

Termasuk jual beli yang sah, bila beras bagian yang jelek mutunya tadi dijual terlebih dahulu, dirupakan dengan uang atau barang lain, lalu dibelikan beras yang baik, demikian juga untuk gula.

Hadits di atas menunjukkan bolehnya merekayasa di dalam jual beli, asal dalam batas syar’i, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم tentang korma yang jelek dijual dengan dirham dulu, kemudian uangnya untuk membeli korma yang baik.

Lembaga Darul Ifta’ Saudi Arabia menyatakan: Benda ribawi bila sama illat dan jenisnya, haram dijual dengan melebihkan salah satunya dan tertunda penerimannya. Misalnya emas dengan emas, perak dengan perak, sekalipun salah satunya bermutu baik, yang lain jelek.[1]


1. Fatawa Lajnah Daimah 13/500

<h1>Lima</h1>
        <p>

Lima:

Termasuk riba, bila menjual atau menukar benda ribawi sama jenisnya, dengan menambah ongkos pembuatan.

Misalnya: Menukar cincin emas senilai 3 gr di toko emas dengan senilai 3gr pula, lalu ditambah ongkos pembuatan. Hukumnya haram , karena termasuk riba fadhal, seharusnya tidak pakai tambah. Adapun dalilnya sebagaimana tercantum di atas.

Lembaga Darul Ifta’ Saudi Arabia menyatakan: Dilarang menjual perhiasan dari emas dan perak, yang sama jenisnya dengan melebihkan pada salah satunya karena ongkos pembuatan.[1]

Termasuk jual beli yang sah.

a. Bilas cincin emas yang bernilai 3 gr tadi dijual dengan uang, lalu diterimanya, lalu dibelikan emas 3 gr pula sama bentunya atau lain, sekalipun nilai jual dan beli berbeda, karena orang menjual ingin cari untung, dan dia menjual dengan lain jenis , yaitu emas dengan uang.

b. Bila mempunyai emas 10 gr, ingin ditukar dengan 17 gr, dengan membayar kekurangannya berupa uang tunai, hukumnya sah.[2]


1. Lihat Fatawa Lajnah Daimah 13/500, Fatawa Manarul Islam, Ibnu ‘Utsaimin 2/449

2. Lihat Fatawa Manarul Islam, Ibnu ‘Utsaimin 2/448.

<h1>Enam</h1>
        <p>

Enam:

Termasuk riba, menjual benda ribawi yang lazimnya dijual dengan takaran atau timbangan, tetapi dijual salah satunya tanpa ditimbang atau ditakar.

Misalnya : Ada orang menjual emas tetapi tidak diketahui timbangannya dengan emas milik temannya, berupa gelang emas 10 gr, atau menjual beras di dalam karung yang tidak jelas timbangannya dengan beras 50 kg. Hukumnya haram, termasuk riba fadhal, karena sesuatu yang tidak jelas, maka akan terjadi penambahan pada salah satunya.

Dalilnya, dari Jabir bin Abdullah رضي الله عنه, dia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ عَنْ بَيْعِ الصُّبْرَةِ مِنَ التَّمْرِ لَا يُعْلَمُ مَكِيلَتُهَا بِالْكَيْلِ الْمُسَمَّى مِنَ التَّمْرِ

Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang menjual tumpukan kurma yang belum diketahui takarannya dengan korma yang sudah ditakar. (HR Muslim, Kitabul Buyu’)

Lembaga Darul Ifta’ Saudi Arabia menyatakan: Yang dinamakan al mumatsalah (persamaan) harus terwujud persyaratannya (harus sama jenis dan ukurannya). Maka, apabila meragukan, berarti melebihkan (riba).[1]

Termasuk jual beli yang sah, bila emas yang belum jelas timbangannya, ditimbang dulu, lalu dijual dengan uang atau ditukar dengan emas dengan nilai yang sama dan diterima sebelum berpisah, sebagaimana mafhum (pemahaman) hadits di atas.


1. Fatawa Lajnah Daimah 13/ 501

<h1>Tujuh</h1>
        <p>

Tujuh:

Termasuk riba, bila menjual barang ribawi, tidak dengan ukuran syar’i.

Misalnya: Menjual emas dengan takaran atau bijian. Padahal menurut syari’at Islam harus dijual dengan timbangan. Contoh yang lain, menjual gula dengan cawukan (Jawa, menyiduk secara serampangan). Padahal lazimnya dijual dengan timbangan. Adapun barang yang lazimnya dijual dengan takaran atau timbangan, seperti beras, maka boleh membelinya dengan salah satu ukurannya, asal dengan uang atau benda yang lain. Akan tetapi tidak boleh menjual beras 1 kg dengan beras 1 liter, karena termasuk riba fadhal. Sebab ukurannya tidak sama.

Dalilnya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ , وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ كَيْلاً بِكَيْلٍ , وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ كَيْلاً بِكَيْلٍ

Emas dijual dengan emas, hendaknya sama timbangannya. Dan perak dijual dengan perak, hendaknya sama timbangannya. Gandum dijual dengan gandum, hendaknya sama takarannya. Dan gandum syair dijual dengan syair, hendaknya sama dengan takarannya. (HR. Al-Atsram dan Ath-Thahawi, dishahihkan oleh Al Lajnah Daimah 13/502)

Lembaga Darul Ifta’ Saudi Arabia menyatakan: Dilarang menjual barang ribawi, melainkan dengan ukuran syar’i. Yaitu barang yang lazimnya dijual dengan timbangan, maka harus dijual dengan timbangan; yang dijual dengan takaran, maka harus dijual dengan takaran pula.[1]

Termasuk jual beli yang sah.

a. Bila emas dijual dengan timbangan dan diterima tunai.

b. Bila tanah dengan meteran atau ukuran lain, karena bukan termasuk barang riba.

c. Bila makanan ringan dan buah-buahan dengan bijian atau jumlah, karena bukan makanan pokok.

d. Bila besi dengan timbangan atau bijian, karena bukan benda ribawi.


1. Fatawa Lajnah Daimah 13/ 501

<h1>Delapan</h1>
        <p>

Delapan:

Termasuk riba, bila menjual sama jenisnya, tetapi bercampur dengan jenis lain, sebelum dipisah.

Misalnya: Menjual cincin emas yang bermata, dengan perhiasan emas yang tak bermata, atau dijual dengan uang, maka hukumnya haram. Karena tidak jelas timbangan emasnya dan termasuk riba fadhal.[1]

Lembaga Darul Ifta’ Saudi Arabia menyatakan: Barang ribawi tidak boleh dijual walaupun sama jenisnya, apabila salah satunya atau keduanya bercampur dengan jenis lain. Seperti, satu mud korma ajwah dan satu dirham, ditukar dengan semisalnya. Atau dengan dua mud dan dua dirham. Atau satu dirham dan satu dinar dengan dinar.[2]

Dalilnya, dari Fadhalah bin Ubaid رضي الله عنه, dia berkata:

اشْتَرَيْتُ يَوْمَ خَيْبَرَ قِلَادَةً بِاثْنَيْ عَشَرَ دِينَارًا فِيهَا ذَهَبٌ وَخَرَزٌ فَفَصَّلْتُهَا فَوَجَدْتُ فِيهَا أَكْثَرَ مِنِ اثْنَيْ عَشَرَ دِينَارًا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ فَقَالَ : لَا تُبَاعُ حَتَّى تُفَصَّلَ

Saya membeli kalung pada waktu perang Khaibar dengan harga dua belas dinar. Di dalamya terdapat emas dan permatanya, lalu aku lepas permatanya. Tiba-tiba aku menjumpai beratnya lebih dari dua belas dinar, kemudian aku menuturkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, lalu beliau menjawab, ”Jangan kamu jual, sehingga kamu pisahkan (emas dengan permatanya).” (HR Muslim, Kitabul Masaqat)

Termasuk jual beli yang sah, bila menjual perhiasan emas tadi dengan melepas permatanya sebelum dijual, lalu ditukar dengan emas yang sama timbangannya dan diterima sebelum berpisah, atau dibelinya dengan uang.

Dalilnya dari shahabat Abu Said Al Khudri رضي الله عنه, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَالْوَرِقُ بِالْوَرِقِ مِثْلًا بِمِثْلٍ

Menjual emas dengan emas, hendaknya sama nilai (timbangannya). Perak dengan perak, hendaknya sama pula timbangannya. (HR Bukhari, Kitabul Buyu’).


1. Lihat kitab Taudhihul Ahkam, oleh Ali Bassam 4/30

2. Fatawa Lajnah Daimah, 13/ 501

<h1>Sembilan</h1>
        <p>

Sembilan:

Termasuk riba, bila menjual barang dengan pembayaran taqsith (kredit), dan harus menambah nilainya apabila terlambat pembayarannya. Hal ini termasuk riba jahiliyah (riba nasiah). Untuk lebih jelasnya, silakan membaca kitab Fatawa Lajnah Daimah, 13/154, 156, 161.

Termasuk jual beli yang sah, bila pembelian barang dengan kredit tersebut tidak mengalami penambahan nilai hutang, bila tertunda pembayarannya.

Dalilnya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ أمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuسبحانه و تعالىamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”

Untuk lebih jelasnya, silakan membaca kitab Fatawa Lajnah Daimah, 13/ 155.

<h1>Sepuluh</h1>
        <p>

Sepuluh:

Termasuk riba, bila membelikan barang untuk orang lain dengan pembayaran tempo (tentunya lebih mahal), lalu pembeli menjualnya kepada penjual pertama lebih murah, karena dibayar tunai. Ini temasuk jual beli ‘inah. Untuk lebih jelasnya, silakan membaca Fatawa Lajnah Daimah 13/ 136-138.

Contohnya, Fulan membelikan mobil untuk orang lain dengan harga kredit 100 juta rupiah, diangsur selama dua tahun. Setelah akad pembelian, sebelum dipegangnya, dia menjualnya kepada Fulan lagi dengan tunai lebih murah, hanya 70 juta rupiah umpamanya. Maka, hukumnya haram.

Dalilnya, dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, dia berkata, saya pernah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kamu jual beli dengan cara ‘inah, dan kamu sibuk dengan membajak ladangmu, dan kamu ridha dengan bercocok tanam, dan kamu tinggalkan kewajiban jihad (fardhu’ ain), maka Allah akan membuat kamu hina. Tidaklah Dia mencabut kehinaan itu, melainkan bila kamu kembali ke agamamu. (HR Abu Dawud, Kitabul Buyu’ dan Imam Ahmad: Musnad Muktsirin).

Termasuk jual beli yang sah, bila pembeli di atas menjual kepada penjual pertama, walaupun hanya 70 juta rupiah, bila hutangnya yang berupa kredit tadi telah dibayar lunas. Untuk lebih jelasnya, baca Fatawa Lajnah Daimah 13/ 139.

<h1>Sebelas</h1>
        <p>

Sebelas:

Termasuk riba, bila meminjamkan barang ribawi untuk mendapatkan ganti lebih dari pokoknya.

Misalnya:

a. Meminjamkan uang Rp 1.000.000,00 kembali menjadi Rp 1.050.000,00. Dinamakan riba fadhal, karena sama jenis rupiahnya.

b. Meminjamkan emas 10 gr, kembali setelah 3 bulan menjadi 11gr. Atau 10 gr dan gula 10 kg, atau 10 gr dan Rp 100.000,00. Dinamakan riba fadhal dan nasiah, karena sama jenisnya, yaitu emas.

c. Meminjam beras 1 kwintal di KUD atau orang lain, kembali setelah panen menjadi 1,5 kwintal. Atau harus menjual panennya ke KUD. Dinamakan riba fadhal dan nasiah, karena sama jenisnya, yaitu beras.

d. Meminjam benih anak ayam dari perusahaan tertentu. Hasilnya harus dijual kepadanya dengan harga dari perusahaan. Dinamakan riba fadhal dan nasiah. Karena menjual barang haknya penjual, bukan haknya pembeli.

Dalilnya, firman Allah.

فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka bagimu pokok hartamu;kamu tidak menganiaya (dengan memungut tambahan) dan tidak (pula) dianiaya (dengan dikuranginya). (QS. Al-Baqarah[2]: 279).

Contoh di atas tidak ada hubungannya dengan jual beli. Tetapi berhubungan dengan peminjaman barang riba. Kami masukkan benih telur ke dalam contoh, sekalipun bukan benda riba, karena meminjam sesuatu, harus kembali dengan sesuatu yang sama pula. والله أعلم

Peminjaman di atas sah, apabila:

a. Huruf a, Rp. 1.000.000,00 kembali Rp. 1.000.000,00

b. Huruf b, emas 10 gr kembali emas 10gr.

c. Huruf c, 1 kwintal beras, kembali 1 kwintal beras. Atau 1 kwintal beras dari KUD tersebut dibeli walaupun dengan harga mahal, sedangkan pembayarannya setelah panen.

d. Huruf d, sama dengan c, atau bagi hasil (mudharabah).

e. Boleh meminjamkan mobil, kembali mobil dengan tambahan uang. Hal ini dinamakan menyewakan barang, dan mobil bukan barang ribawi.

f. Boleh menerima pemberian dari orang yang meminjam peralatan rumah umpamanya, sekalipun tidak ada niat untuk menyewakan. Karena barang tersebut bukan benda ribawi.

<h1>Dua Belas</h1>
        <p>

Dua Belas:

Termasuk riba, bila menukar uang sejenis, salah satunya dilebihkan, diambil langsung atau belakangan.

Misalnya: Menukarkan uang ribuan baru sejumlah seratus lembar, kembali seratus lima ribu rupiah. Ini termasuk riba fadhal, sekalipun sama-sama suka.

Dalilnya, hadits Nabi صلى الله عليه وسلم bersumber dari shahabat Abu Said Al Khudri رضي الله عنه.

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَالْوَرِقُ بِالْوَرِقِ مِثْلًا بِمِثْلٍ

Menjual emas dengan emas hendaknya sama nilai (timbangannya), perak dengan perak, hendaknya sama pula timbangannya. (HR Bukhari, Kitabul Buyu’).

<h1>Tiga Belas</h1>
        <p>

Tiga Belas:

Termasuk riba, bila menitipkan uang, lalu diambil dengan mendapat tambahan atau dikurangi.

Misalnya, menitipkan uang di bank. Ketika mengambilnya, dia mengambil bunganya juga. Atau sekolah memerintahkan siswanya agar menabung. Tetapi ketika diambil, tabungan itu dipotong untuk keperluan penitipan. Yang benar, diserahkan semua titipannya, lalu menyampaikan kepentingan kebutuhan sekolah.

Dalilnya, firman Allah عزّوجلّ.

فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya (dengan memungut tambahan) dan tidak (pula) dianiaya (dengan dikuranginya). (QS. Al Baqarah[2]: 279).

Contoh di atas tidak ada hubungannya dengan jual beli, karena titipan. Maka, harus dikembalikan sebagaimana asalnya; lain dengan akad jual beli.

<h1>Empat Belas</h1>
        <p>

Empat Belas:

Termasuk riba, bila menjual dan membeli saham di bank. Karena pada hakikat penjualan saham ini, ialah menjual uang dengan uang yang tidak sama nilainya dan tidak langsung diterima. Dan karena usahanya membungakan uang.[1]

Dalilnya, firman Allah سبحانه و تعالى:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al Maidah[5]: 2).

Termasuk jual beli yang sah, bila saham tersebut telah berada di tangannya, dan bukan bekerja sama dengan bank ribawi. Dan sebaiknya diberitahukan kepada pemilik saham yang lain. Karena kawannya lebih berhak, daripada yang lain. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits.

Demikianlah sebagian contoh perbedaan antara riba dan perniagaan yang dihalalkan menurut pandangan Dinul Islam yang mulia. Tentunya tidak menutup kemungkinan masih banyak lagi mcam jual-beli sistim riba. Utamanya penjualan kertas berharga yang dikeluarkan oleh bank. Hal ini tentunya dapat diketahui oleh pengusaha besar, yang selalu berhubungan dengan bank. Seperti penjualan cek dengan harga lebih murah daripada yang tercamtum di dalamnya, karena pencairannya menunggu setelah satu bulan –umpamanya- dan seterusnya.

والحمد لله رب ا لعالمين


1. Lihat kitab Fatawa Islamiyah 2/399-340

<h1>Riba = Susah Dunia Akhirat</h1>

RIBA = Susah di Dunia dan Akhirat

Ustadz Abdullah Zaen, Lc, M.A حفظه الله

  <p><span class="calibre77"><span><span class="calibre115">Publication 
  : 143</span></span><span><span lang="EN-US" class="calibre115">3</span></span><span><span class="calibre115"> 
  H_2012 M </span></span><span class="calibre112"></span></span></p>
  <p><strong><span class="calibre77"><span><span lang="EN-US" class="calibre76"><span class="calibre106"><br class="calibre17"/><span class="calibre126">RIBA =   
  </span>Susah di Dunia dan Akhirat 
  </span></span></span></span></strong></p>
  <p><span class="calibre79"><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Oleh : Ustadz Abdullah 
  Zaen, Lc, M.A 
  </span></span></span><span><span dir="rtl" lang="AR-SA" class="calibre117">حفظه الله</span></span><span class="calibre112"></span></span></p>
  <p><span class="calibre77"><span><span class="calibre115"></span></span></span> </p>
  <p><span class="calibre77"><span><span class="calibre115"> 
  Sumber: web Penulis di Tunas Ilmu. Com</span></span></span></p>
  <p><span class="calibre77"><span><span class="calibre115">e-Book 
  ini didownload dari </span></span><span class="calibre120"><span class="calibre56">www.ibnumajjah.wordpress.com</span></span></span><span class="calibre112"></span></p>
<h1>Prolog</h1>
        <p>

PROLOG

Andaikan ada berita yang mengabarkan tentang seorang anak yang memperkosa ibu kandungnya sendiri, penulis yakin gelombang kutukan terhadap pelaku perbuatan keji tersebut akan tak kuasa untuk dibendung! Bisa dipastikan tidak ada satupun orang yang berakal sehat mendukung perilaku munkar tersebut!

Namun, bagaimana halnya jika ada iklan bank yang mempromosikan pinjaman dengan bunga lunak? Akankah ada pengingkaran terhadap praktek ribawi tersebut? Ataukah justru hal itu dianggap sebagai berita yang lazim, atau bahkan akan menuai pujian lantaran lunaknya bunga yang ditawarkan? Lalu sebaliknya, ustadz yang memperingatkan umat dari bahaya berhubungan dengan bank dalam model transaksi seperti itu, akan dicap sebagai orang yang kaku, keras, saklek, dan segudang stigma lainnya?

Begitulah kira-kira sekelumit realita ketidaksadaran banyak umat dengan bahaya riba. Padahal menurut kacamata Islam, berzina dengan ibu kandung dan memakan riba dosanya adalah selevel! Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَاباً، أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ

“Riba ada tujuh puluh tiga tingkatan. Yang paling ringan adalah seperti seseorang yang menzinai ibunya”. (HR. Al-Hakim dan dinyatakan sahih oleh beliau dan al-Albany)

<h1>Periodisasi Pengharaman Riba</h1>
        <p>

PERIODISASI PENGHARAMAN RIBA1

Sebagaimana khamar, riba tidak Allah عزّوجلّ haramkan sekaligus, melainkan melalui tahapan yang hampir sama dengan tahapan pengharaman khamar.

Pengetahuan tentang hal ini bukan untuk merubah hukum riba; sebab riba sudah jelas haram berdasarkan al-Qur’an, Sunnah maupun ijma’. Namun untuk mengetahui sejarah turunnya ayat-ayat yang berbicara tentang riba, juga untuk mengenal besarnya hikmah dan kasih sayang Allah yang mempertimbangkan kondisi psikologis para hamba-Nya dan tingkat kesiapan mereka dalam menerima hukum. Tidak kalah pentingnya juga, untuk mempelajari berbagai sisi argumen al-Qur’an dalam mengharamkan riba.

1. At-Tadarruj fî Tahrîm ar-Ribâ dalam www.hablullah.com dan Bahaya Riba makalah Rikza Maulan, Lc., M.Ag sebagaimana dalam www.eramuslim.com, dengan berbagai tambahan dan perubahan.

Tahap Pertama

1. Tahap pertama dengan mematahkan paradigma manusia bahwa riba akan melipatgandakan harta

Pada tahap pertama ini, Allah ta’ala hanya memberitahukan pada mereka, bahwa cara yang mereka gunakan untuk mengembangkan uang melalui riba sesungguhnya sama sekali tidak akan berlipat di mata Allah ta’ala. Bahkan dengan cara seperti itu, secara makro berakibat pada tidak seimbangnya sistem perekonomian yang berujung pada penurunan nilai mata uang melalui inflasi. Dan hal ini justru akan merugikan mereka sendiri.

Pematahan paradigma ini Allah سبحانه و تعالى gambarkan dalam firman-Nya:

وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّباً لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

“Sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”. (QS. Ar-Rum [30]: 39

<h1>Tahap Kedua</h1>
        <p>

2. Tahap kedua: Pemberitahuan bahwa riba diharamkan atas umat terdahulu

Setelah mematahkan paradigma tentang melipat gandakan uang sebagaimana di atas, Allah ta’ala lalu menginformasikan bahwa karena buruknya sistem ribawi ini, maka umat-umat terdahulu juga telah dilarang untuk melakukannya. Bahkan karena mereka tetap bersikeras memakan riba, maka Allah kategorikan mereka sebagai orang-orang kafir dan Allah ancam mereka dengan azab yang pedih. Ayat ini juga mengisyaratkan kemungkinan akan diharamkannya riba atas umat Islam, sebagaimana telah diharamkan atas umat sebelumnya.

Allah ta’ala berfirman,

فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ اللّهِ كَثِيراً. وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُواْ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

“Karena kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan bagi mereka makanan yang baik-baik yang (dahulu) pernah dihalalkan; dan karena mereka sering menghalangi (orang lain) dari jalan Allah. Dan karena mereka menjalankan riba, padahal sungguh mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih”. (QS. An-Nisa’ [4]: 160-161)

<h1>Tahap Ketiga</h1>
        <p>

3. Tahap ketiga: Gambaran bahwa riba akan membuahkan kezaliman yang berlipat ganda.

Pada tahapan yang ketiga, Allah ta’ala menerangkan bahwa riba mengakibat kezaliman yang berlipat ganda. Di antara bentuknya: si pemberi pinjaman akan membebani peminjam dengan bunga sebagai kompensasi dari pertangguhan waktu pembayaran hutang tersebut. Yang itu akan semakin bertambah dengan berjalannya waktu, apalagi manakala tenggat waktu yang telah disepakati tidak bisa dipenuhi oleh peminjam. Sehingga si peminjam akan sangat sengsara karena terbebani dengan hutang yang semakin berlipat ganda.1

Salah satu yang perlu digarisbawahi, sebagaimana dijelaskan antara lain oleh asy-Syaukany dalam Tafsirnya, bahwa ayat ini sama sekali tidak menggambarkan bahwa riba yang dilarang adalah yang berlipat ganda, sedangkan yang tidak berlipat ganda tidak dilarang. Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang keliru dan tidak dimaksudkan dalam ayat ini.2

Allah ta’ala mengingatkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kalian mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran [3]:130)

1. Baca: Ar-Ribâ, Khatharuhu wa Sabîl al-Khalâsh minhu, karya Dr. Hamd al-Hammad (hal. 10).

2. Bahkan penafsiran seperti itu teranggap sebagai penafsiran yang syâdz (ganjil). Lihat: Al-Aqwâl asy-Syâddzah fî at-Tafsîr karya Dr. Abdurrahman ad-Dahsy (hal. 304-306).

<h1>Tahap Keempat</h1>
        <p>

4. Tahap keempat: Pengharaman segala macam dan bentuk riba

Ini merupakan tahapan terakhir dari seluruh rangkaian periodisasi pengharaman riba. Dalam tahap ini, seluruh rangkaian aktivitas dan muamalah yang berkaitan dengan riba, baik langsung maupun tidak langsung, berlipat ganda maupun tidak berlipat ganda, besar maupun kecil, semuanya adalah terlarang dan termasuk dosa besar.

Allah ta’ala menegaskan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ. فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) bila kamu orang yang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Tetapi jika kamu bertaubat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak pula dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah [2]: 278-279)

<h1>Kerugian Duniawi Pelaku Riba</h1>
        <p>

KERUGIAN DUNIAWI PELAKU RIBA

Satu hal yang seharusnya selalu diingat setiap insan, manakala Islam melarang suatu perbuatan, pasti perilaku tersebut memuat kerusakan fatal atau mengakibatkan bahaya besar bagi pelakunya, baik di dunia maupun akhirat. Sekalipun barangkali perbuatan itu mengandung beberapa manfaat. Jika dicermati ulang dengan teliti, ternyata manfaat tadi bila dibandingan dengan keburukan yang ditimbulkannya, jelas tidak ada apa-apanya.

Banyak orang mengira bahwa dengan jual beli sistem riba atau meminjamkan uang yang berbunga akan menguntungkan dirinya, padahal sejatinya tidaklah demikian. Keuntungan yang nampaknya banyak, tidak lain hanyalah fatamorgana belaka. Allah ta’ala berfirman,

يَـمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

“Allah melenyapkan riba dan menyuburkan sedekah”. (QS. Al-Baqarah [2]: 276)

Lenyapnya harta hasil riba, kata Imam Ibn Katsir رحمه الله dalam Tafsirnya, bisa jadi lenyap secara total dari tangan pemiliknya, atau keberkahan harta tersebut hilang, sehingga tidak bisa dipetik manfaatnya.

Di antara indikasi ketidakberkahan suatu harta, manakala dimakan, dia akan menumbuhkan berbagai macam penyakit di tubuh, menjadikan hati tidak tentram, membuat anak-anak nakal dan sulit diatur. Manakala digunakan untuk membangun rumah, maka tidak nyaman untuk ditinggali. Bahkan bisa jadi Allah akan memusnahkannya dalam sekejap, dengan mengirim api untuk membakarnya, atau mengutus air untuk menenggelamkannya, atau musibah lainnya.

Itu sekedar contoh dampak buruk riba yang berskala kecil (baca: pribadi). Adapun dampaknya yang lebih luas, kiranya krisis ekonomi di Amerika belum lama ini merupakan contoh paling mudah dan jelasnya.

Banyak orang merasa heran bagaimana Amerika Serikat yang konon memiliki sistem ekonomi dan keuangan yang kuat, bisa mengalami krisis yang begitu parah, hingga total hutang negeri Paman Sam saat ini mencapai 15 triliun dolar, sebagaimana dilansir blog ekonomi, The Economy Collapse (TEC).

Usut punya usut, biang keladi dari krisis tersebut tidak lain adalah lembaga keuangan di Amerika Serikat, terutama perbankan. Bahwa negara Amerika menjalan sistem ekonomi riba tentu kita semua sudah tahu. Tapi bukan hanya itu masalahnya. Ada tindakan negatif yang dilakukan bank-bank di Amerika untuk meraup keuntungan lebih. Tindakan ini berkaitan dengan pemberian kredit rumah.

Permisalan gampangnya seperti ini. Para nasabah seharusnya membayar cicilan bunga kredit sebesar 200 ribu setiap bulan. Ternyata bank memberikan keringanan semu kepada nasabah dengan menarik cicilan bunga kredit sebesar 100 ribu setiap bulan. Tentu 100 ribu sisanya tidak direlakan begitu saja. Lebih kejamnya sisa cicilan bunga tersebut dimasukkan ke dalam hutang kredit pokok. Secara otomatis, pokok kredit yang bertambah akan menyebabkan nominal bunga pinjaman pun bertambah. Intinya bisa dikatakan, bunga pinjaman kemudian berbunga lagi. Tentu hal ini membuat para nasabah tidak mampu membayar cicilan karena nilainya terus membengkak.

Akibatnya, banyak nasabah yang harus kehilangan rumah kredit tersebut. Lebih lanjut hal ini berdampak pada merosotnya bisnis properti yang ada di Amerika. Bak bola salju, krisis ini terus menggelinding sambil menyeret gumpalan-gumpalan krisis yang lain hingga terus menjalar ke benua Eropa. Sungguh benar firman Allah ta’ala dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 276 tersebut di atas.

Cukup kiranya bagi umat manusia krisis ekonomi di Asia, Amerika, dan Eropa menjadi pelajaran yang berharga. Terutama sekali bagi kita sebagai umat Islam yang diberikan sistem ekonomi terbaik dari sisi Allah. Dan sudah saatnya bagi kita untuk hijrah dari ekonomi kapitalis atau riba kepada ekonomi Islam atau syariah. Ini semua untuk kemaslahatan kita di dunia terutama di akhirat kelak.1

1. antonramdan.wordpress.com

<h1>Kerugian Akhirat Pelaku Riba</h1>
        <p>

KERUGIAN UKHRAWI PELAKU RIBA

Keterangan di atas baru membahas tentang sebagian kecil dampak buruk riba di dunia, yang ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan akibatnya di akhirat.

Sejak awal kebangkitan para pemakan riba dari alam kubur saja, mereka sudah berpenampilan mengenaskan; seperti orang gila yang kesurupan setan!

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Orang-orang yang memakan riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al-Baqarah [2]: 275)

Kelanjutannya, mereka terancam dengan siksaan yang sangat pedih di neraka.

فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Barangsiapa mendapat peringatan dari Rabbnya, lalu ia berhenti (dari memakan riba), maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Namun barang siapa yang kembali (memakan riba), maka bagi mereka adalah azab neraka dan mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah [2]: 275)

Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم mendeskripsikan berbagai jenis siksaan yang disiapkan Allah untuk para pemakan riba.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم menuturkan ‘kunjungannya’ ke neraka,

“Kami mendatangi sungai yang airnya merah seperti darah. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang yang berenang di dalamnya, dan di tepi sungai ada orang yang mengumpulkan batu banyak sekali. Lalu orang yang berenang itu mendatangi orang yang telah mengumpulkan batu, sembari membuka mulutnya dan memakan batu-batu tersebut … Orang tersebut tidak lain adalah pemakan riba”. (HR. Bukhari no. 7047 dari Samurah bin Jundub رضي الله عنه)

Dalam hadits lain diceritakan,

أَتَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى قَوْمٍ بُطُونُهُمْ كَالْبُيُوتِ فِيهَا الْحَيَّاتُ تُرَى مِنْ خَارِجِ بُطُونِهِمْ، فَقُلْتُ: “مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرَائِيلُ؟” قَالَ: “هَؤُلَاءِ أَكَلَةُ الرِّبَا

“Pada malam Isra’ aku mendatangi suatu kaum yang perutnya sebesar rumah, dan dipenuhi dengan ular-ular. Ular tersebut terlihat dari luar. Akupun bertanya, “Siapakah mereka wahai Jibril?”. “Mereka adalah para pemakan riba” jawab beliau”. (HR. Ibn Majah no. 2273 dari Abu Hurairah رضي الله عنه dan dinilai lemah oleh al-Albany)

Semoga tulisan sederhana ini bisa lebih menyadarkan kaum muslimin bahwa riba hanyalah akan membawa kesusahan di dunia dan akhirat, maka ayo bersegeralah untuk meninggalkan riba!.[]

<h1>Bank Konvensional</h1>

ADA APA DENGAN BANK KONVENSIONAL

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi حفظه الله

  <p><span class="calibre77"><span><span class="calibre115">Publication 
  : 143</span></span><span><span lang="EN-US" class="calibre115">3</span></span><span><span class="calibre115"> 
  H_2012 M<br class="calibre17"/><span class="calibre193"> </span></span></span><span class="calibre112"></span></span></p>
  <p><strong><span class="calibre105"><span class="calibre77"><span><span lang="EN-US" class="calibre194"><span class="calibre106">Ada Apa 
  dengan Bank Konvensional</span></span></span></span></span></strong></p>
  <p><span class="calibre79"><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Oleh : Ustadz Abu Ubaidah as-Sidawi 
  </span></span></span><span><span dir="rtl" lang="AR-SA" class="calibre117">حفظه 
  الله</span></span><span class="calibre112"></span></span></p>
  <p><span class="calibre77"><span><span class="calibre115">Sumber 
  AbiUbaidah.Com    diposting 6 
  Oktober</span></span><span><span class="calibre115"> 
   2009 M<br class="calibre17"/></span></span></span><span class="calibre77"><span><span class="calibre115"><br class="calibre17"/>e-Book 
  ini didownload dari </span></span><span class="calibre120">www.ibnumajjah.wordpress.com</span></span><span class="calibre112"></span></p>

MUQODDIMAH

Perekonomian adalah salah satu bidang yang diperhatikan oleh syari’at Islam dan diatur dengan undang-undang yang penuh dengan kebaikan dan bersih dari kedhaliman. Oleh karenanya, Allah mengharamkan riba yang menyimpan berbagai dampak negatif bagi umat manusia dan merusak perekonomian bangsa.

Sejarah dan fakta menjadi saksi nyata bahwa suatu perekonomian yang tidak dibangun di atas undang-undang Islam, maka kesudahannya adalah kesusahan dan kerugian. Bila anda ingin bukti sederhana, maka lihatlah kepada bank-bank konvensional yang ada di sekitar kita, bagaimana ia begitu megah bangunannya, tetapi keberkahan tiada terlihat darinya. Sungguh benar firman Allah:

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. (QS. Al-Baqoroh: 276)

Nah, di sinilah pentingnya bagi kita untuk mengetahui masalah Bank konvensional dan sejauh mana kesesuaiannya dengan hukum Islam karena pada zaman sekarang ini, Bank bagi kehidupan manusia hampir sulit dihindari.

<h1>Defenisi Bank &amp; Sejarahnya</h1>
        <p>

DEFENISI BANK DAN SEJARAHNYA

Bank diambil dari bahasa Italia yang artinya meja. Konon penamaan itu disebabkan karena pekerjanya pada zaman dulu melakukan transaksi jual beli mata uang di tempat umum dengan duduk di atas meja. Kemudian modelnya terus berkembang sehingga berubah menjadi Bank yang sekarang banyak kita jumpai.

Bank didefenisikan sebagai suatu tempat untuk menyimpan harta manusia secara aman dan mengembalikan kepada pemiliknya ketika dibutuhkan. Pokok intinya adalah menerima tabungan dan memberikan pinjaman.

Bank yang pertama kali berdiri adalah di Bunduqiyyah, salah satu kota di Negara Italia pada tahun 1157 M. Kemudian terus mengalami perkembangan hingga perkembangan yang pesat sekali adalah pada abad ke-16, di mana pada tahun 1587 berdirilah di Negara Italia sebuah bank bernama Banco Della Pizza Dirialto dan berdiri juga pada tahun 1609 bank Amsterdam Belanda, kemudian berdiri bank-bank lainnya di Eropa. Sekitar tahun1898, Bank masuk ke Negara-negara Arab, di Mesir berdiri Bank Ahli Mishri dengan modallima ratus ribu Junaih.1

1. Al-Mashorif wa Buyutu Tamwil Islamiyyah karya Ghorib al-Jamaal hlm. 23, Al-Muamalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh karya DR. Muhammad Utsman Syubair hlm. 252-253, Ar-Riba wal Mu’amalat Al-Mashrofiyyah karya Umar Al-Mutrik hlm. 309.

Pekerjaan Bank

PEKERJAAN BANK

Seorang tidak bisa menghukumi sesuatu kecuali setelah mengetahui gambarannya dan pokok permasalahannya. Dari sinilah, penting bagi kita untuk mengetahui hakekat Bank agar kita bisa menimbangnya dengan kaca mata syari’at.

Pekerjaan Bank ada yang boleh dan ada yang haram, hal itu dapat kita gambarkan secara global sebagai berikut:

A. Pekerjaan Bank Yang Boleh

1. Transfer uang dari satu tempat ke tempat lain dengan ongkos pengiriman.

2. Menerbitkan kartu ATM untuk memudahkan pemiliknya ketika bepergian tanpa harus memberatkan diri dengan membawa uang di tas atau dompet.

3. Menyewakan lemari besi bagi orang yang ingin menaruh uang di situ.

4. Mempermudah hubungan dengan Negara-negara lain, di mana Bank banyak membantu para pedagang dalam mewakili penerimaan kwitansi pengiriman barang dan menyerahkan uang pembayarannya kepada penjual barang.

Pekerjaan-pekerjaan di atas dengan adanya ongkos pembayaran hukumnya adalah boleh dalam pandangan syari’at.

B. Pekerjaan Bank Yang Tidak Boleh

1. Menerima tabungan dengan imbalan bunga, lalu uang tabungan tersebut akan digunakan oleh Bank untuk memberikan pinjaman kepada manusia dengan bunga yang berlipat-lipat dari bunga yang diberikan kepada penabung.

2. Memberikan pinjaman uang kepada para pedagang dan selainnya dalam tempo waktu tertentu dengan syarat peminjam harus membayar lebih dari hutangnya dengan peresentase.

3. Membuatsurat kuasa bagi para pedagang untuk meminjam kepada Bank tatkala mereka membutuhkan dengan jumlah uang yang disepakati oleh kedua belah pihak. Tetapi bunga di sini tidak dihitung kecuali setelah menerima pinjaman.1

1. Al-Bunuk Al-Islamiyyah Baina Nadhoriyyah wa Tathbiq hlm. 37-39 karya DR. Abdullah bin Ahmad ath-Thoyyar, Al-Mu’amalat Al-Maaliyah Al-Mu’ashiroh hlm. 253-254 karya Sa’aduddin Muhammad Al-Kibbi, Al-Jami’ fi Fiqhi Nawazil 1/92 karya Shalih bin Abdillah al-Humaid.

Bunga Bank adalah Riba

BUNGA BANK ADALAH RIBA

Dengan gambaran di atas, maka nyatalah bagi kita bahwa kebanyakan pekerjaan Bank dibangun di atas riba yang hukumnya haram berdasarkan Al-Qur’an, hadits dan kesepakatan ulama Islam.

1. Dalil Al-Qur’an

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 275)

Cukuplah bagi seorang muslim untuk membaca akhirsurat Al-Baqoroh ayat 275-281, maka dia akan merinding akan dahsyatnya ancaman Allah kepada pelaku riba. Bacalah dan renungkanlah!!

2. Dalil hadits

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Dari Jabir, ia berkata: “Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, wakilnya, sekretarisnya dan saksinya.” (HR. Muslim 4177)

3. Dalil Ijma’

· Para ulama sepanjang zaman telah bersepakat tentang haramnya riba, barangsiapa membolehkannya maka dia kafir. 1 Bahkan, riba juga diharamkan dalam agama-agama sebelum Islam. Imam al-Mawardi berkata: “Allah tidak pernah membolehkan zina dan riba dalam syari’at manapun”.2

· Kalau ada yang berkata: Kami sepakat dengan anda bahwa riba hukumnya adalah haram, tetapi apakah bunga Bank termasuk riba?! Kami jawab: Wahai saudaraku, janganlah engkau tertipu dengan perubahan nama. Demi Allah, kalau bunga Bank itu tidak dinamakan dengan riba, maka tidak ada riba di dunia ini, karena riba adalah semua tambahan yang disyaratkan atas pokok harta, inilah keadaan bunga bank konvensional itu.

Kami tidak ingin memperpanjang permasalahan ini. Cukuplah sebagai renungan bagi kita bahwa telah digelar berbagai seminar dan diskusi tentang masalah ini, semunya menegaskan kebulatan bahwa bunga Bank konvensional adalah riba yang diharamkan Allah.3 Bahkan dalam muktamar pertama tentang perekonomian Islam yang digelar di Mekkah dan dihadiri oleh tiga ratus peserta yang terdiri dari ulama syari’at dan pakar ekonomi internasional, tidak ada satupun di antara mereka yang menyelisihi tentang haramnya bunga Bank.

Sebagai faedah, kami akan menyebutkan beberapa fatwa dan muktamar besar yang menyimpulkan haramnya bunga Bank:

- Keputusan muktamar kedua Majma’ Buhuts Islamiyyah di Kairo pada bulan Muharram tahun 1385 H/Bulan Mei tahun 1965 M dan dihadiri oleh para peserta dari tiga puluh Negara.

- Keputusan muktamar kedua Majma’ Fiqih Islami di Jeddah pada 10-16 Rabi’ Tsani 1406 H/22-28 Desember 1985 M.

- Keputusan Majma’ Robithoh Alam Islami yang diselenggarakan di Mekkah hari sabtu 12 Rojab 1406 H sampai sabtu 19 Rojab 1406 H.

- Keputusan muktamar kedua tentang ekonomi Islami di Kuwait pada tahun 1403 H/1983 M.

- Keputusan Majma’ Fiqih Islam di India pada bulan Jumadi Ula 1410 H.4

· Setelah menukil ijma’ ulama tentang masalah haramnya bunga bank, DR. Ali bin Ahmad As-Salus mengatakan:

“Dengan demikian, maka masalah bunga bank menjadi masalah haram yang jelas dan bukan lagi perkara yang samar, sehingga tidak ada ruang lagi untukperselisihan dan fatwa-fatwa pribadi”.5

Setelah konsensus ini, maka janganlah kita tertipu dengan berbagai syubhat (kerancuan) sebagian kalangan6 yang berusaha untuk membolehkan riba Bank, apalagi para ulama telah bangkit untuk membedah syubhat-syubhat tersebut.7

1. Lihat Al-Ifshoh Ibnu Hubairah 1/326, Syarh Muslim an-Nawawi 4/93-94, Az-Zawajir Al-Haitsami 1/222, Al-Muqoddimat wal Mumahhidat Ibnu Rusyd 2/503.

2. Al-Hawii Al-Kabir 5/74.

3. Lihat kitab DR. Yusuf Al-Qorodhowi yang berjudul “Fawaidul Bunuk Hiya Riba Al-Harom” (Bunga Bank Adalah Riba Yang Haram), cet kedua 1421 H, Muassasah Ar-Risalah, Bairut.

4. Lihat teks-teks keputusan tersebut dalam Fawaid Bunuk Hiya Riba Muharrom hlm. 106-122 karya Yusuf Al-Qorodhowi dan Fiqih Nawazil oleh al-Jizani 3/136-145.

5. Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh fi Dhoui Syari’ah Islamiyah hlm. 36, dinukil juga oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam risalah Ar-Riba hlm.31-32.

6. Lihat kitab Al-Ashroniyyun hlm. 259-261 oleh Muhammad Hamid an-Nashir dan Manhaj Tasir Al-Mu’ashir hlm. 152-161 oleh Abdullah bin Ibrahim ath-Thowil.

7. Lihat bantahan syubhat-syubhat masalah ini dalam Ar-Riba fil Mu’amalat Al-Mashrofiyyah Al-Mu’ashiroh karya DR. Abdullah bin Muhammad as-Saidi dan Taudhiful Amwal Bainal Masyru’ wal Mamnu’ oleh DR. Abdullah bin Muhammad ath-Thoyyar hlm. 64-75.

Bekerja di Bank

BEKERJA DI BANK

Bila kita ketahui bahwa Bank adalah tempat riba yang diharamkan dalam Islam, maka bekerja di Bank hukumnya adalah haram, karena hal itu berarti membantu mereka dalam keharaman dan dosa, atau minimalnya adalah berarti dia ridho dengan kemunkaran yang dia lihat. Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah [5]: 2)

Ayat ini merupakan kaidah umum tentang larangan tolong menolong di atas dosa dan kemaksiatan. Oleh karenanya, para ahli fiqih berdalil dengan ayat di atas tentang haramnya jual beli senjata pada saat fitnah, jual beli lilin untuk hari raya Nashoro dan sebagainya, karena semua itu termasuk tolong menolong di atas kebathilan.

Lebih jelas lagi, perhatikan bersamaku hadits berikut:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir berkata: “Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, wakilnya, sekretarisnya dan saksinya.” (HR. Muslim 4177)

Imam Nawawi berkata: “Hadits ini jelas menunjukkan haramnya menjadi sekretaris untuk riba dan saksinya. Hadits ini juga menunjukkan haramnya membantu kebathilan”. 1

Para ulama kita sekarang telah menegaskan tentang tidak bolehnya menjadi pegawai Bank, sekalipun hanya sebagai satpam. Kewajiban baginya adalah menghindari dari laknat Allah dan mencari pekerjaan lain yang halal, sesungguhnya Allah Maha luas rizkiNya.2

1. Syarh Shohih Muslim 11/26.

2. Lihat Fatawa Ulama Baladil Haram hlm. 1187-1193 kumpulan DR. Khalid al-Juraisi, Fatawa Al-Ahum wal Bunuk hlm. 53 kumpulan Abdurrahman asy-Syitri, Fatawa Lajnah Daimah 13/344 kumpulan Ahmad ad-Duwaisy.

<h1>Bolehkan Menyimpan di Bank</h1>
        <p>

BOLEHKAH MENYIMPAN UANG DI BANK?

Pada asalnya menyimpan uang di Bank hukumnya tidak boleh karena hal itu termasuk membantu kelancaran perekonomian riba yang jelas hukumnya haram, sebab uang tersebut akan digunakan oleh Bank untuk memberikan pinjaman kepada orang lain dengan riba. Oleh karena itu, maka pada asalnya setiap muslim harus putus hubungan dan thalak tiga dengan Bank. Hanya saja, pada zaman sekarang terkadang seorang tidak bisa menghindari diri dari Bank, sehingga para ulama membolehkannya apabila dalam keadaan dharurat sekali dan tidak ada cara lain untuk menyimpan hartanya.

Dari sini, dapat kita katakan bahwa orang yang menyimpan uang di Bank tidak keluar dari dua keadaan:

Pertama: Orang yang ingin membungakan dan mengembangkan hartanya dengan jalan riba. Tidak ragu lagi bahwa orang ini telah terjatuh dalam keharaman dan terancam dengan peperangan Allah dan rasulNya. Lantas, siapakah yang menang jika berhadapan dengan Allah dan rasulNya?!

فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ

“Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (QS. Al-Baqoroh: 279)

Kedua: Orang yang ingin menyimpan hartanya agar aman. Hal ini terbagi menjadi beberapa keadaan:

1. Apabila ada tempat lain atau bank Islam yang bersih dari riba untuk penyimpanan secara aman, maka tidak boleh dia menyimpan di bank konvensional karena tidak ada kebutuhan mendesak dan ada pengganti lainnya yang boleh.

2. Apabila tidak ada bank Islami yang bersih dari riba atau tempat aman lainnya padahal dia sangat khawatir bila harta tersebut akan dicuri atau lainnya, maka hukumnya adalah boleh karena dharurat. Hal ini berbeda-beda sesuai keadaan manusia. Artinya, tidak semua orang terdesak untuk menyimpan uangnya di Bank. Maka hendaknya seorang bertaqwa dan takut kepada Allah, janganlah dia meremehkan dengan alasan dharurat padahal tidak ada dharurat sama sekali sebagaimana banyak dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin.1

1. Lihat Ar-Riba fil Mu’amalat Al-Mashrofiyyah Al-Mu’ashiroh 2/923-959 oleh DR. Abdullah bin Muhammad as-Sa’idi, Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh hlm. 267 oleh Sa’aduddin Muhammad al-Kibbi, Qodhoya Fiqhiyyah Muashiroh hlm. 16-18 oleh Muhammad Burhanuddin, Mu’amalat Bunuk Al-Haditsah hlm. 49 oleh DR. Ali As-Salus, Fatawa Lajnah Daimah 13/346-351.

Memanfaatkan Bunga Bank

MEMANFAATKAN BUNGA BANK

Kalau kita katakan bahwa boleh menabung di Bank dalam kondisi dharurat, maka tentu saja akan muncul pertanyaan: Apa yang kita perbuat dengan bunga (baca: riba) yang diberikan Bank kepada tabungan kita?!

Kami katakan:Ada beberapa kemungkinan apa yang kita lakukan terhadapnya:

1. Mengambilnya dan memanfaatkannya seperti uang pokok.

2. Membiarkannya untuk Bank agar dimanfaatkan sesuka Bank.

3. Mengambilnya lalu merusaknya.

4. Mengambilnya lalu memberikannya kepada fakir miskin atau untuk keperluan umum bagi kemaslahatan kaum muslimin

5. Mengambilnya dan memberikannya kepada orang yang dizhalimi oleh Bank dengan riba.

Pendapat yang paling mendekati kebenaran -menurut kami- adalah pendapat keempat yaitu mengambilnya dan memberikannya kepada fakir miskin atau keperluan umum bukan dengan niat sedekah tetapi untuk membebaskan diri dari uang yang haram. Inilah pendapat yang dipilih oleh para ulama seperti Lajnah Daimah,1 al-Albani,2 Musthofa az-Zarqo dan lain sebagainya.3

1. Lajnah Daimah adalah lembaga fatwa di Saudi Arabia, diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, anggota: Abdullah al-Ghudayyan, Shalih al-Fauzan, Abdul Aziz Alu Syaikh, Bakr Abu Zaid. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 13/354).

2. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani pernah menulis surat kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz berisi pembahasan tentang uang riba yang disimpan di bank-bank. Beliau berkesimpulan bahwa uang-uang tersebut boleh untuk digunakan dalam kebaikan-kebaikan selain makan, minum dan pakaian. Dan digunakan dalam hal-hal yang akan habis seperti bensin, kayu bakar, memperbaiki WC dan jalan umum serta mencetak kitab…Syaikh Ibnu Baz akhirnya menulis jawaban yang berisi bahwa beliau setuju dengan pendapatnya. (Al-Imam Al-Albani Durusun wa ‘Ibar hlm. 258 karya Syaikh DR. Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan).

3. Lihat Qodhoya Fiqhiyyah Mu’ashiroh hlm. 26-27 oleh Muhammad Burhanuddin, Al-Muamalat Al-Maliyah Al-Mua’shiroh hlm. 276-286 karya Sa’aduddin Muhammad al-Kibbi).

Solusi dan Seruan

SOLUSI DAN SERUAN

· Setelah keterangan singkat di atas maka sudah semestinya bagi kaum muslimin, khususnya kepada para pemimpin1 untuk mengingkari bersama praktek riba yang berkembang di Bank dan berusaha untuk mendirikan Bank-Bank Islam yang bersih dari riba dan sesuai dengan undang-undang syari’at Islam yang mulia, atau memperbaiki bank-bank Islam yang sudah ada karena masih disinyalir oleh banyak kalangan belum bersih dari praktek riba dan belum memadai pelayanannya di semua penjuru kota.

· Sungguh keji keji ucapan seorang bahwa tidak ada Bank kecuali dengan bunga dan tidak ada kekuatan ekonomi Islam kecuali dengan Bank.2 Ini adalah kedustaan nyata, sebab sepanjang sejarah Islam berabad-abad lamanya, perekonomian mereka stabil tanpa Bank Riba.

· Sekali lagi, kami menghimbau kepada para ulama, para pemimpin, para ahli ekonomi, para pedagang besar untuk berkumpul dan mendiskusikan masalah ini dengan harapan agar Bank-Bank Islam yang bersih dari kotoran riba akan banyak bermunculan di Negeri kita tercinta sehingga kita tidak lagi membutuhkan kepada bank-bank riba. Dan kewajiban bagi setiap muslim untuk bahu-membahu mendukung ide tersebut agar mereka selamat dari jeratan riba yang menyebabkan murka Allah.[]

1. Alangkah bagusnya ucapan Imam Al-Mawardi: “Adapun muamalat yang munkar seperti zina dan transaksi jual beli haram yang dilarang syari’at sekalipun kedua belah pihak saling setuju, apabila hal itu telah disepakati keharamannya, maka kewajiban bagi pemimpin untuk mengingkari dan melarangnya serta menghardiknya dengan hukuman yang sesuai dengan keadaan dan pelanggaran”. (Al-Ahkam As-Sulthoniyyah hlm. 406).

2. Ini adalah ucapan penasehat ekonomi, Ibrahim bin Abdillah an-Nashir dalam kitabnya Mauqif Syari’ah Islamiyyah Minal Mashorif hlm. 1. Kitab ini telah diingkari secara keras oleh Majma’ Fiqih Islam dalam Muktamar di Mekkah hari Sabtu Shofar 1408 H, dan dibantah oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majalah Robithoh bulan Syawal 1407 H dan Syaikh Muhammad Rosyid al-Ghufaili dalam kitab Nutaful Ma’arif fir Roddi ‘ala Man Ajaza Riba Al-Mashorif, cet Darul Wathon.

Referensi

DAFTAR REFERENSI

1. Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh fil Fiqih Al-Islami karya DR. Muhammad Utsman Syubair, cet Dar Nafais, Yordania, cet keenam tahun 1427 H.

2. Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh karya Sa’aduddin Muhammad Al-Kibbi, cet Maktab Islami, Bairut, cet pertama 1423 H.

3. Ar-Riba fil Mu’amalat Al-Mashrofiyyah Al-Mu’ashiroh karya DR. Abdullah bin Muhammad As-Saidi, cet Dar Thoibah, KSA, cet kedua 1421.

4. Qodhoya Fiqhiyyah Mu’ashiroh karya Muhammad Burhanuddin, cet Darul Qolam, Bairut, cet pertama 1408 H.

5. Fawaidul Bunuk Hiya Riba Al-Harrom karya DR. Yusuf al-Qorodhawi, cet Muassasah Ar-Risalah, Bairut, cet kedua tahun 1423 H.

6. Dan lain-lain.

<h1>Petaka Bunga Bank</h1>

PETAKA BUNGA BANK

Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA حفظه الله

  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Publication : 1435 H / 2014 
  M </span></span></span> </p>
  <p><span><span class="calibre76"><strong><span class="calibre78"><span class="calibre126">PETAKA <span class="calibre106">BUNGA</span> BANK</span> <br class="calibre17"/></span></strong></span></span><span class="calibre79"><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Oleh : Ustadz Dr. Erwandi 
  Tarmizi, MA </span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre80">حفظه الله<br class="calibre17"/></span></span></span></span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Sumber: 
  Majalah Al-Furqon, No. 146 Ed. 10 Th ke-13_1435/2014 <br class="calibre17"/></span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">e-Book 
  ini didownload dari </span></span></span><span class="calibre76"><span class="calibre56">www.ibnumajjah.com</span></span></p>
<h1>Muqoddimah</h1>
        <p>

MUQODDIMAH

Bunga (interest) yaitu imbalan yang dibayar oleh peminjam atas dana yang diterimanya. Bunga dinyatakan dalam persen.

Bank konvensional (bank yang tidak islami), sebagian besar usahanya bergantung kepada bunga. Bank mengumpulkan modal dari dana masyarakat dalam bentuk tabungan, lalu uang yang terhimpun dari dana masyarakat tersebut dipinjamkan dalam bentuk modal kepada suatu pihak. Bank memberikan bunga kepada para penabung dan menarik bunga dari peminjam. Bunga yang ditarik dari peminjam jauh lebih besar daripada bunga yang diberikan kepada pemilik rekening tabungan. Selisih dari dua bunga: peminjam dan penabung merupakan laba yang diperoleh bank.

<h1>Hukum Bunga Bank</h1>
        <p>

HUKUM BUNGA BANK

Bunga yang ditarik bank dari pihak yang diberi pinjaman modal atau yang diberikan bank kepada nasabah pemilik rekening tabungan hukumnya haram dan termasuk riba. Sebab, hakikat bunga adalah pinjaman yang dibayar berlebih. Bank memberikan pinjaman kepada pengusaha dalam bentuk modal, pinjaman tersebut harus dikembalikan dalam jumlah yang sama ditambah bunga yang dinyatakan dalam persen, atau denda yang ditarik bank dari pihak peminjam jika terlambat membayar pada tempo yang telah ditentukan. Ini jelas-jelas sama dengan riba kaum jahiliah.

Menabung di bank, sekalipun dinamakan simpanan, dalam pandangan fiqih akadnya adalah pinjaman. Karena, pinjaman (qardh) dalam terminologi fiqih berarti menyerahkan uang kepada seseorang untuk dipergunakannya dan dikembalikan dalam bentuk uang senilai pinjaman.

Pengertian qardh ini sama dengan tabungan, di mana uang tabungan yang disimpan di bank digunakan oleh bank, kemudian bank mengembalikannya kapan dibutuhkan oleh penabung dalam bentuk penarikan uang tabungan.

Akad ini tidak dapat dikatakan wadi'ah (simpanan), karena para ulama mengatakan seperti yang dinukil oleh Ibnu Utsaimin رحمه الله, "Para ahli fiqih menjelaskan bahwa bila orang yang menitipkan (uang) memberikan izin kepada yang dititipi untuk menggunakannya maka akad wadi'ah berubah menjadi akad qardh."1

Bila hakikat menabung di bank adalah akad pinjaman (qardh) maka pinjaman tidak boleh dikembalikan berlebih. Bila dikembalikan berlebih dalam bentuk bunga maka bunga ini dinamakan riba.2 Kaidah fiqih menyatakan:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

"Setiap pinjaman yang memberikan keuntungan bagi pemberi pinjaman adalah riba."3

Hukum bahwa bunga bank sama dengan riba merupakan keputusan seluruh lembaga fatwa baik yang bertaraf internasional maupun nasional, sehingga bisa dikatakan ijma' (konsensus). Pada tahun 1965 dalam Muktamar Islam ke-2 di Kairo yang dihadiri oleh 150 ulama dari 35 negara Islam telah diputuskan, "Bunga bank dalam segala bentuknya adalah pinjaman yang bertambah. Hukumnya adalah haram, karena termasuk riba. Tidak ada perbedaan antara pinjaman konsumtif atau produktif. Riba diharamkan, baik persentasenya banyak maupun sedikit. Dan akad pemberian pinjaman yang disertakan dengan bunga juga diharamkan."4

Pada tahun 1976 M, dalam Muktamar Ekonomi Islam Sedunia di Makkah al-Mukarramah yang dihadiri oleh 300 lebih para ulama dan ekonom dari berbagai negara menekankan kembali haramnya bunga bank.

Pada tahun 1983 M, dalam Muktamar Bank Syariah Sedunia di Kuwait juga ditekankan kembali haramnya bunga bank.

Pada tahun 1985 M, Majma' al-Fiqh al-Islami (divisi fiqih OKI) mengadakan muktamar yang dihadiri oleh ulama perwakilan negara-negara anggota OKI memutuskan, "Setiap penambahan dalam pengembalian utang, atau bunga, atau denda karena keterlambatan pelunasan utang, begitu juga bunga yang ditetapkan persennya sejak dari awal transaksi, hal ini adalah riba yang diharamkan syari'at Islam."

Pada tahun 1986 M, al-Majma' al-Fiqhy al-Islami (divisi fiqih Rabithah Alam Islami) memfatwakan, "Segala bentuk bunga hasil pinjaman adalah riba dan harta haram."5


1. Asy-Syarh al-Mumti', jilid 10, hlm. 286.

2. Dr. Abdullah al-Umrani, al-Manftfatu fil Qardh, hlm. 423.

3. Al-Mawardi, al-Hawi, jilid 5, hlm. 356; Sihnun, al-Mudawwanah al-Kubra, 4/133.

4. Dr. Sulaiman al-Asyqar, Qadhaya Fiqhiyyah Mu'ashirah, jilid 2, hlm. 607.

5. Lihat fatwa-fatwa lembaga fiqih internasional ini di buku Prof. Dr. Abdul Wahhab Abu Sulaiman, Fiqh Muamalat Haditsah, hlm. 572-573.

<h1>Menjawab Syubhat</h1>
        <p>

Fatwa haramnya bunga bank sangatlah jelas. Akan tetapi, ada saja orang-orang yang berusaha menghalalkannya dan terkadang ia menggunakan dalil agama. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah:

a. Bahwa riba yang diharamkan hanyalah riba yang berlipat ganda, berbeda dengan bunga bank yang hanya sekian persen. Allah عزّوجلّ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda. (QS Ali Imran [3]: 130)

Tanggapan: Ayat ini turun menjelaskan larangan riba, di antara bentuk riba jahiliah yaitu bila jatuh tempo pelunasan utang 100 dinar, misalnya, dan peminjam belum mampu melunasi, maka utang dijadwalkan baru dan dibayar tahun depan sebanyak 200 dinar; dan begitu seterusnya hingga peminjam melunasinya.

Dalam ayat di atas tidak ada penjelasan bahwa riba hanyalah yang berlipat ganda. Bahkan sebaliknya, di ayat yang lain Allah menjelaskan bahwa bila seseorang bertaubat dari riba, ia hanya boleh menarik jumlah uang yang ia pinjamkan dan tidak boleh lebih dari itu. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS al-Baqarah [2]: 279)

Dalam beberapa hadits juga dijelaskan bahwa seberapa pun keuntungan dari pemberian pinjaman adalah riba.

b. Orang yang berusaha menghalalkan bunga bank berdalih bahwa riba diharamkan dalam akad pinjaman karena ditarik dari orang miskin yang membutuhkan pinjaman untuk menutupi kebutuhannya. Adapun bunga yang ditarik oleh bank adalah bunga yang ditarik dari pengusaha kaya, maka bunga yang dibebankan kepada pengusaha merupakan sebuah keadilan sebagai imbalan dari dana yang digunakannya.

Tanggapan: Hal ini tidak benar. Akan tetapi, riba tetap diharamkan kepada para pengusaha (orang kaya), karena sejak zaman para sahabat sudah dikenal memberikan pinjaman kepada orang kaya untuk dijadikan tambahan modal usaha perniagaannya.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari1 bahwa orang-orang menitipkan uangnya kepada Zubair ibn al-Awwam رضي الله عنه, Lalu Zubair mengubah akad titipan menjadi akad pinjaman agar dapat digunakannya sebagai tambahan modal dan di sisi lain penitip merasa aman uangnya tidak akan hilang, berbeda dengan titipan murni (wadi'ah), karena penerima titipan (wadi'ah) tidak menjamin jika uang yang dititip hilang di luar kesengajaan. la berkata:

لَا وَلَكِنَّهُ سَلَفً، فَإِنِّي أَخْشَى عَلَيْهِ الضَّيْعَةَ

"Saya tidak mau. Jadikan akadnya qardh, karena aku khawatir uang kalian hilang."

Dengan demikian, sekalipun pinjaman diberikan kepada orang kaya, tetap haram menarik bunga. Inilah sebuah keadilan.

Dan tidak mungkin bunga (riba) merupakan sebuah keadilan karena jika dibenarkan menarik bunga dari peminjam maka saat pengusaha tersebut rugi dalam usahanya, pihak penarik bunga tetap menarik utangnya ditambah bunga; dan saat dia (pengusaha/peminjam) untung, ia (pemberi pinjaman) juga menarik utang ditambah bunga. Jadi, yang tetap untung hanya pemberi pinjaman, sekalipun penerima pinjaman merugi. Ini adalah sebuah kezaliman bukan keadilan. Dengan demikian, maka transaksi simpan pinjam di bank konvensional murni transaksi riba karena akadnya adalah qardh dan peminjam disyaratkan melunasi utangnya melebihi nominal pinjaman.


1. Shahih al-Bukhari, jilid 2, hlm. 962, kitab al-Jihad, bab "Barakat al-Ghazi fi Malihi".

<h1>Hukum Menabung di Bank Konvensional</h1>
        <p>

HUKUM MENABUNG DI BANK KONVENSIONAL

Setelah mengetahui bahwa transaksi simpan pinjam di bank konvensional adalah transaksi riba, bagaimana hukumnya menabung di bank konvensional?

Jawabannya: Hukum menabung di bank konvensional adalah haram karena transaksi ini adalah riba. Dan riba telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Jabir رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

"Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengutuk orang yang makan harta riba, yang memberikan riba, penulis transaksi riba, dan dua orang saksi akad riba. Mereka semuanya sama." (HR Muslim)

Jika seseorang sangat butuh membuka rekening di bank konvensional karena gajinya ditransfer oleh perusahaan ke rekening di bank konvensional maka hukumnya diberi keringanan dengan syarat, setelah uang masuk ke rekening hendaknya sesegera mungkin menariknya; dan jika diberi bunga oleh bank, bunga tersebut adalah riba yang wajib ia bebaskan dari hartanya dengan cara menyalurkannya untuk kepentingan sosial.

Hal tersebut adalah sebagaimana difatwakan oleh lembaga fatwa kerajaan Arab Saudi, no. 16501, ketika ditanya tentang hukum penerimaan gaji para pegawai melalui rekening di bank ribawi, yang berbunyi, "Gaji yang diterima melalui rekening di bank (riba) boleh agar Anda mendapatkan upah hasil kerja dengan syarat jangan ditinggalkan di bank setelah masuk ke rekening agar tidak digunakan oleh bank untuk investasi riba."

<h1>Hukum Menerima Hadiah Undian dari Bank</h1>
        <p>

HUKUM MENERIMA HADIAH DARI BANK HASIL UNDIAN

Sebagian bank memberikan hadiah kepada pemilik rekening tabungan secara acak melalui undian. Bagaimana hukum menerimanya?

Jawabannya: Telah dijelaskan di atas bahwa membuka rekening di bank hukumnya haram, namun dibolehkan dalam kondisi sangat butuh seperti contoh sebelumnya. Dan bagaimana jika secara kebetulan pemilik rekening ini mendapatkan hadiah undian dari bank, halalkah hadiah tersebut?

Sebelum menjelaskan pendapat ulama dalam hal ini, perlu diingat bahwa akad menabung di bank dalam tinjauan fiqih adalah akad pinjaman, yang hakikatnya pemilik rekening adalah sebagai pemberi pinjaman dan bank sebagai penerima pinjaman. Dengan demikian, bolehkah menerima hadiah dari orang yang diberi pinjaman?

Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini.

Pendapat pertama: Sebagian ulama membolehkan menerima hadiah dari orang yang menerima pinjaman. Pendapat ini merupakan mazhab Syafi'i.

Dalil pendapat ini, hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang menyatakan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم; menerima hadiah. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا

"Rasulullah صلى الله عليه وسلم selalu menerima hadiah dan beliau juga selalu membalas orang yang memberikan hadiah." (HR al-Bukhari)

Tanggapan: Berhujjah dengan dalil ini tidak kuat karena terdapat larangan dari Nabi صلى الله عليه وسلم untuk menerima hadiah dari seseorang yang diberikan pinjaman. Maka maksud hadits di atas bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم menerima hadiah, kecuali hadiah dari orang yang menerima pinjaman darinya.

Pendapat kedua: Pemberi pinjaman uang tidak boleh menerima hadiah dari peminjam karena merupakan celah untuk menghalalkan riba. Pendapat ini merupakan mazhab Maliki dan Hanbali.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلَا يَرْكَبْهَا وَلَا يَقْبَلْهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ جَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ

"Apabila seseorang di antaramu memberikan pinjaman, lalu yang menerima pinjaman memberikan hadiah kepadamu atau memintamu untuk menaiki kendaraannya, maka janganlah engkau menaikinya dan jangan terima hadiahnya. Kecuali (pemberian hadiah tersebut) telah ber-langsung antaramu dengannya sebelum engkau berikan dia pinjaman." (HR Ibnu Majah. Derajat hadits ini dinyatakan hasan oleh al-Imam as-Suyuthi.)

Juga beberapa atsar dari para sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم yang melarang menerima hadiah dari orang yang diberinya pinjaman, di antaranya:

Seseorang bertanya kepada Ibnu Umar رضي الله عنهما, "Saya memberikan pinjaman uang kepada seseorang, lalu ia memberi saya hadiah." Ibnu Umar رضي الله عنهما, menjawab, "Kembalikan hadiahnya atau beri dia uang senilai hadiah tersebut (potong utangnya senilai hadiah)." (HR Abdurrazzaq)

Abdullah ibn Salam رضي الله عنه berkata kepada temannya yang berada di Kufah, "Engkau berada di negeri tempat praktik riba banyak dilakukan. Jika engkau memberikan pinjaman kepada seseorang maka jangan terima hadiah darinya, sekalipun sekadar rumput makanan ternak. Sesungguhnva hal itu adalah riba." (HR al-Bukhari)

Dari hadits dan atsar di atas jelaslah bahwa haram hukumnya menerima hadiah dari pihak yang menerima pinjaman. Dan ini merupakan pendapat terkuat, Wallahu Alam.

Maka pemilik rekening tabungan di bank konvensional yang hakikatnya adalah pemberi pinjaman kepada bank tidak boleh menerima hadiah dari pihak bank. Dan hadiah tersebut termasuk riba karena utang akan dikembalikan bank ditambah dengan hadiah, sedangkan utang yang bertambah adalah riba.1[]


1. Dr. Abdullah al-Umrani, al-Manfa'atu fil Qardh, hlm. 462.

<h1>Hukum Mata Uang Kertas</h1>

Hukum Syari’at Tentang MATA UANG KERTAS


Keputusan ke-enam al-Majma' al-Fiqhi al-Islami pada daurahnya yang kelima di kota Makkah Mukarramah dari tanggal 8 sampai 16 Rabi'ul awal 1402 H *

Segala puji bagi Allah saja dan semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi terakhir yang tidak ada nabi setelannya Sayyid kita dan Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta sahabatnya.

Amma Ba'du:

Sungguh Majlis al-Majma' al-Fiqhi al-Islami telah meneliti sebuah riset yang diajukan terkait masalah mata uang kertas dan hukum-hukum syar'i nya. Setelah didikusikan diantara anggota majlis maka diputuskan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, berpijak pada:

* Bahan awal alat pembayaran (an-naqd) adalah emas dan perak

* Illat (sebab hukum-pent) berlakunya hukum riba pada emas dan perak adalah tsamaniyah (standar alat pembayaran) menurut pendapat yang paling shahih di kalangan para pakar ilmu fikih

* Kriteria tsamaniyah ini menurut fuqaha tidak hanya terbatas pada emas dan perak sekalipun asal mata uang adalah emas dan perak

* Mata uang kertas telah menjadi sebuah alat pembayaran yang memiliki harga dan berperan layaknya emas dan perak dalam penggunaannya. Uang kertas telah menjadi standar ukuran nilai barang-barang di zaman ini, karena penggunaan emas dan perak (sebagai alat tukar) tidak lagi tampak dalam interaksi dan jiwa masyarakat merasa tenang dengan menganggapnya sebagai alat tukar (Tamawwul) dan menyimpannya. Penunaian pembayaran yang sah terwujud dengannya dalam skala umum. Sekalipun nilainya bukan pada dzatnya, akan tetapi karena faktor luar, yaitu terwujudnya kepercayaan masyarakat terhadapnya sebagai sarana pembayaran dan pertukaran. Inilah titik pertimbangan kuat bagi sisi tsamaniyah padanya

* Kesimpulan tentang illat berlakunya hukum riba pada emas dan perak adalah tsamaniyah dan illat ini juga terwujud pada uang kertas.

Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, Majlis al-Majma' al-Fiqhi al-Islami menetapkan bahwa mata uang kertas merupakan alat pembayaran yang berdiri sendiri dan mengambil hukum emas dan perak, sehingga zakat menjadi wajib padanya dan dua jenis riba, fadhl dan nasi'ah, berlaku pada uang kertas ini, sebagaimana hal itu berlaku pada mata uang emas dan perak secara sempurna dengan mempertimbangkan kriteria tsamaniyah pada mata uang kertas, sehingga ia diqiyaskan kepada emas dan perak. Dengan demikian, mata uang kertas memiliki kesamaan hukum uang emas dan perak (Nuquud) dalam segala konsekwensi yang telah ditetapkan syariat.

Kedua, uang kertas dianggap sebagai alat bayar independen sebagaimana fungsi emas, perak dan benda-benda berharga lainnya. Demikian juga, uang kertas diklasifikasikan sebagai jenis-jenis yang berbeda-beda dan beraneka-ragam sesuai dengan pihak penerbitnya di negara-negara yang berbeda-beda pula. Artinya uang kertas Saudi Arabia adalah satu jenis dan uang kertas Amerika adalah satu jenis. Begitulah setiap uang kertas adalah satu jenis independen secara dzatnya. Dengan demikian, hukum riba dengan kedua macamnya, riba fadhl dan riba nasi’ah berlaku padanya, sebagaimana kedua riba ini berlaku pada emas dan perak serta barang berharga lainnya.

Semua ini berkonsekuensi sebagai berikut:

A. Tidak boleh menjual mata uang sebagian dengan sebagian yang lain atau dengan mata uang yang berbeda dari jenis-jenis alat pembayaran lainnya berupa emas atau perak atau selain keduanya secara nasi’ah (tunda) secara mutlak, tidak boleh misalnya menjual sepuluh riyal Saudi dengan mata uang lain dengan selisih harga secara tempo (hutang).

B. Tidak boleh menjual satu jenis mata uang dengan jenisnya sendiri di mana salah satunya lebih banyak dari yang lain, baik hal itu dilakukan secara kontan maupun tunda. Tidak boleh -sebagai contoh- menjual sepuluh riyal Saudi kertas dengan sebelas riyal Saudi kertas secara kontan maupun tempo.

C. Boleh menjual satu jenis mata uang dengan jenis lain yang berbeda bila hal itu dilakukan secara kontan. Diperbolehkan menjual Lira Suriah atau Lebanon dengan riyal Saudi, baik berupa uang kertas atau perak dalam jumlah yang sama atau lebih murah atau lebih tinggi. Juga diperbolehkan menjual dolar Amerika dengan tiga riyal Saudi atau lebih rendah dari itu atau lebih tinggi bila hal itu terjadi secara kontan. Seperti ini juga pembolehan menjual riyal Saudi perak dengan tiga riyal Saudi kertas atau kurang atau lebih tinggi dari itu, bila hal itu dilakukan secara kontan. Karena dalam kasus ini dianggap menjual satu jenis mata uang dengan jenis yang lain, sekedar kesamaan nama tidak berpengaruh karena hakekat keduanya tidak sama.

Ketiga, kewajiban zakat pada uang kertas bila nilainya sudah mencapai nishab terendah dari nishab emas atau perak atau nishabnya terwujud dengan menggabungkannya dengan harta berharga lainnya dan harga barang yang disiapkan untuk diperdagangkan.

Keempat, boleh menjadikan mata uang kertas sebagai modal dalam jual beli salam dan serikat kerja sama. Wallahu a’lam dan taufik hanya dari-Nya. Shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para Sahabatnya. []


Sumber: Majalah as-Sunnah, No. 12 Thn.XV_1433H

________________

* Qararat al Majma'il al-Fiqhil Islami li Rabithatil 'Alamil Islami, hlm 96-98

Jual-Beli Mata Uang

JUAL-BELI MATA UANG

Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Badri MA حفظه الله

RePublication : 1436 H, 2014 M

  <p><span><span class="calibre76"><strong><span class="calibre78">JUAL-BELI MATA UANG<br class="calibre17"/></span></strong></span></span><span class="calibre79"><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Oleh : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA 
  </span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre80">حفظه الله</span></span></span></span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Sumber: Majalah Al-Furqon, No. 104 Ed. 12 
  Th ke-9_1431H/2010M <br class="calibre17"/></span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">e-Book 
  ini didownload dari </span></span></span><span class="calibre127"><span class="calibre56">www.ibnumajjah.com</span></span></p>
<h1>Pendahuluan</h1>
        <p>

PENDAHULUAN

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga dan sahabatnya رضي الله عنهم.

Pada zaman ini mata uang tak ubahnya komoditi lainnya, yakni diperdagangkan dengan bebas. Kita masih ingat, sepuluh tahun yang lalu nilai Rupiah kita melemah tak berdaya. Sebagian spekulan rame-rame memborong Dolar US dengan menjual Rupiah, Dolar US pun melambung. Akibatnya, seperti yang kita rasakan bersama, sebagian besar harga kebutuhan pokok melonjak karena Rupiah kita kurang bernilai.

Sebagai umat Islam, tidak sepantasnya kita hanyut dalam setiap gelombang perkembangan. Dalam mengarungi kehidupan dunia hendaknya kita selalu ber-cermin kepada syari'at Alloh عزّوجلّ. Dengan demikian, keridhoan Alloh عزّوجلّ dan keuntungan dunia hingga akhirat dapat dicapai.

<h1>Mengenal Hakikat Uang Kertas</h1>
        <p>

MENGENAL HAKIKAT UANG KERTAS

Kita semua tahu bahwa uang kertas yang kita gunakan untuk bertransaksi sehari-hari telah melalui berbagai fase dan perkembangan. Karena itu jangan heran bila para ulama pun sekilas nampak berbeda pendapat dalam menghukuminya. Perbedaan pendapat ini sejatinya akibat langsung dari perkembangan uang kertas dan penggunaannya. Masing-masing ulama berpendapat selaras perkembangan uang kertas yang ada di zamannya.

Pendapat pertama: Uang kertas adalah surat piutang yang dikeluarkan oleh suatu negara atau instansi yang ditunjuk.

Di antara ulama yang berpendapat demikian ialah Syaikh Muhammad Amin as-Syinqithi رحمه الله, Ahmad Husaini dan penulis kitab al-Fiqhu 'ala al Madzahib al-Arba'ah.1

Namun pendapat ini lemah atau kurang kuat, dikarenakan beberapa hal di antaranya:

1. Menyelisihi kenyataan.

Karena kita pasti tahu bahwa tidak ada satu negara pun saat ini yang sudi membayarkan nilai uang kertasnya dalam bentuk uang emas atau perak. Anggapan uang kertas sebagai surat piutang hanya relevan dengan uang kertas pada awal sejarah kelahirannya.

2. Diantara konsekuensi pendapat ini adalah kita tidak dibenarkan memesan suatu barang dengan pembayaran tunai atau yang sering disebut dengan akad salam. Berdasarkan pendapat ini, membayar dengan uang kertas adalah pembayaran tidak tunai. Dan para ulama telah sepakat bahwa akad pemesanan hanya boleh dilakukan dengan pembayaran tunai.

3. Sebagai konsekuensi langsung pendapat ini, maka kewajiban zakat dan juga berbagai hukum riba perlu ditinjau ulang. Karena para ulama berselisih pendapat tentang hukum zakat atas harta yang terutang.

Pendapat Kedua: Uang kertas adalah salah satu bentuk barang dagangan.

Pendapat ini dianut oleh banyak ulama madzhab Maliki sebagaimana ditegaskan dalam kitab al Hawi 'ala ash Showy.2 Di antara yang menguatkan pendapat ini ialah Syaikh Abdurrohman as-Sa'di رحمه الله.3 Pendapat ini memiliki berbagai sisi kelemahan, di antaranya:

1. Membuka lebar-lebar berbagai praktek riba.

2. Zakat menjadi gugur dari kebanyakan umat Islam, karena kertas bukan termasuk harta yang wajib dizakati selama tidak diperdagangkan.

Pendapat Ketiga: Uang kertas disamakan dengan fulus.4

Sekilas pendapat ini nampak kuat, akan tetapi fakta dan fungsi uang kertas yang ada saat ini menjadikan pendapat ini tidak nyata. Sebab fulus pada zaman dahulu hanya digunakan untuk membeli barang-barang yang sepele. Berbeda halnya dengan uang kertas yang berlaku pada zaman sekarang, terlebih uang kertas telah menjadi kekayaan utama umat manusia pada zaman ini. Dengan demikian pendapat ini tidak sesuai dengan fakta uang kertas yang kita gunakan saat ini.

Pendapat Keempat: Uang kertas merupakan pengganti uang emas dan perak.

Artinya uang kertas yang beredar di dunia sekarang hanya terbagi menjadi dua jenis, yaitu uang kertas pengganti emas atau perak. Pendapat ini menyelisihi kenyataan. Walaupun dahulu uang kertas sebagai pengganti sementara uang emas dan perak yang berlaku kala itu, akan tetapi sekarang tidak lagi demikian.

Saat ini, manusia tidak menggunakan uang emas atau perak sehingga uang kertas yang ada sekarang ini tidaklah menggantikan uang emas dan perak. Bahkan saat ini setiap negara dapat menerbitkan uang kertasnya tanpa perlu menyisihkan jaminan penggantinya dalam wujud emas atau perak. Uang kertas yang berlaku hanya semata-mata diberlakukan oleh pemerintah setempat, bukan karena memiliki jaminan berupa emas, perak atau lainnya.

Aplikasi pendapat ini begitu sulit untuk diterapkan, terutama pada saat kita hendak tukar menukar mata uang. Sebagai konsekuensi pendapat ini, kita terlebih dahulu harus menyelidiki sejarah mata uang yang hendak kita tukarkan. Bila dahulunya berfungsi sama sebagai pengganti uang perak, maka kita tidak dibenarkan untuk melebihkan nilai tukar salah satunya di atas yang lain. Tidak diragukan, ini sangat merepotkan dan mungkin kebanyakan masyarakat tidak dapat melakukannya.

Pendapat Kelima: Uang kertas adalah mata uang tersendiri sebagaimana halnya uang emas dan perak, dan bukan pengganti keduanya. Dengan demikian, uang kertas yang beredar di dunia sekarang ini berbeda-beda jenisnya selaras dengan perbedaan negara yang mengeluarkannya.

Pendapat inilah yang terbukti selaras dengan fakta dan mungkin untuk diterapkan pada kehidupan umat manusia sekarang ini.5 Dengan demikian, berbagai hukum yang berlaku pada uang emas dan perak berlaku pula pada uang kertas, di antaranya:

~ Uang kertas adalah harta kekayaan yang wajib dizakati.

~ Berlaku padanya berbagai hukum riba.

~ Boleh dijadikan sebagai modal dalam akad mudhorobah dan alat pembayaran pada akad salam (pemesanan dengan pembayaran tunai di muka).


1. Baca Adwa'ul Bayan oleh asy-Syinqithi 8/500, Bahjatul Musytaaq Fi Hukmi Zakaat al Aurooq, dan al-Fiqhu 'ala al Madzahib al Arba'ah 1/605.

2. Al-Hawi 'ala ash-Showy bi Hasyiyati asy-Syarh ash-Shoghir 4/42-86.

3. Sebagaimana Beliau nyatakan dalam kitab Fatawa as-Sa’diyyah, hlm.319-324.

4. Yaitu alat jual beli yang terbuat dari selain emas dan perak, dan digunakan untuk membeli kebutuhan yang ringan. Biasanya terbuat dari tembaga atau yang serupa. Dan biasanya fulus semacam ini pada masyarakat zaman dahulu, berubah-ubah penggunaannya, kadang-kala berlaku, dan kadang kala tidak.

5. Bagi yang ingin mendapatkan pembahasan lebih panjang lebar tentang permasalahan hukum uang kertas, silahkan membaca kitab: al-Waraq an-Naqdy oleh Syaikh Abdulloh bin Sulaiman al-Mani', Majalah al-Buhuts al-Islamiyyah edisi 1 & 39, dan Zakaat al-Ashum wa al-Waraq an-Naqdy oleh Syaikh Sholeh bin Ghonim as-Sadlaan.

<h1>Hukum Memperdagangkan Mata Uang</h1>
        <p>

HUKUM MEMPERDAGANGKAN MATA UANG

Sejatinya, uang berfungsi sebagai alat transaksi dan standar nilai harta kekayaan. Akan tetapi perniagaan umat manusia yang berkembang begitu pesat telah merubah fungsi ini. Fungsi ini sedikit demi sedikit telah luntur dan tidak menutup kemungkinan suatu saat menjadi sirna.

Ketika sebagian manusia mengaburkan peranan utama uang sebagai nilai tukar menjadi barang yang diperdagangkan maka terjadilah berbagai krisis ekonomi. Saat ini uang telah menjadi salah satu komoditi perniagaan, sehingga banyak pedagang membeli uang dengan uang tanpa ada jasa atau barang yang diperjualbelikan. Manfaat dari transaksi ini hanya dirasakan oleh pelaku transaksi, sedangkan masyarakat luas bersiap-siap menanggung berbagai dampak negatifnya

Tidak diragukan, praktik-praktik semacam ini bila dibiarkan berjalan liar dapat mengancam kehidupan masyarakat dan para pelaku usaha di sektor riil. Terutama ketika terjadi penjualan atau pembelian suatu mata uang dalam jumlah besar-besaran dan dalam waktu yang relatif singkat. Praktek-praktek semacam ini dapat mendongkrak nilai tukar suatu mata uang dan sekaligus juga dapat menjatuhkannya.

Bisa dibayangkan, betapa repotnya masyarakat bila nilai tukar suatu mata uang bergerak bebas naik-turun tidak beraturan. Semua itu terjadi hanya karena ulah segelintir orang yang mengejar keuntungan pribadi dari menjual atau membeli suatu mata uang.

Oleh karena itu Islam membatasi ruang pertukaran mata uang dengan berbagai hukum riba, baik riba nasi'ah (karena penundaan) atau riba fadhal (penambahan karena perbedaan mutu).

Ibnu Rusyd al-Maliki رحمه الله berkata: "Dan pintu pertukaran mata uang adalah pintu keluar dari riba yang paling sempit. Sehingga orang yang profesinya adalah jual beli mata uang, akan kesulitan untuk dapat terbebas dari riba. Kecuali orang-orang yang sangat berhati-hati dan benar-benar menguasai ilmu halal haram dalam ma-salah ini. Dan betapa sedikitnya pedagang mata uang yang demikian itu. Tidak heran bila dahulu al Hasan al-Bashri رحمه الله berkata: "Bila engkau meminta minum, lalu engkau diambilkan air minum dari rumah pedagang mata uang, maka janganlah engkau minum." Dan dahulu al-Ashbagh tidak suka untuk berteduh di bawah rumah pedagang mata uang. Ibnu Habib mengklarifikasi sikap al-Ashbagh ini dengan berkata: "Karena kebanyakan mereka terjerumus dalam praktek riba." Pada suatu hari Imam Malik رحمه الله ditanya: Apakah engkau membenci seseorang untuk berprofesi sebagai pedagang mata uang? Beliau menjawab: Ya, kecuali bila ia benar-benar bertakwa kepada Alloh (al-Muqoddimat al-Mumahhidat 2/14)

Oleh karena itu, demi menjaga stabilitas dan menjaga peranan mata uang, Islam menggariskan dua ketentuan yang harus kita indahkan ketika memperjualbelikannya.

<h1>Dengan Cara Tunai</h1>
        <p>

1. Penjualan Dilakukan Dengan Cara Tunai

Ketentuan ini berlaku pada setiap transaksi jual-beli mata uang. Baik tukar menukar uang yang sejenis (misalnya dinar dengan dinar, rupiah dengan rupiah) atau berbeda jenis, misalnya dinar dengan dirham, atau rupiah dengan dollar.

Ibnu Syihab mengisahkan bahwa Malik bin Aus bin al-Hadatsan menceritakan kepadanya bahwa pada suatu hari ia perlu menukarkan uang seratus dinar (emas). Malik berkata: "Mengetahui hal itu, Tholhah bin Ubaidillah memanggilku. Selanjutnya kamipun bernegoisasi dan akhirnya ia menyetujui untuk menukar uangku. Tholhah segera mengambil uangku dan dengan tangannya ia menimbang uang dinarku. Selanjutnya ia berkata: Aku akan berikan uang tukarannya ketika bendaharaku telah datang dari daerah al-Ghobah (suatu tempat di luar Madinah sejauh + 30 KM). Ucapannya itu didengar oleh sahabat Umar bin al-Khoththob, maka spontan ia berkata kepadaku: 'Janganlah engkau meninggalkannya (Tholhah) hingga engkau benar-benar telah menerima pembayaran darinya. Karena Rosululloh صلى الله عليه وسلم telah bersabda: "Emas ditukar dengan emas adalah riba kecuali bila dilakukan secara ini dan ini (tunai). Gandum ditukar dengan gandum adalah riba, kecuali bila dilakukan dengan ini dan ini (tunai). Sya'ir (satu verietas gandum yang mutunya kurang bagus) ditukar dengan sya'ir adalah riba kecuali bila dilakukan dengan ini dan ini (tunai). Dan kurma ditukar dengan kurma adalah riba, kecuali bila dilakukan dengan ini dan ini (tunai)." (HR. Bukhori, kitab: al Buyu' Bab: Bai'us Sya'ir bis-Sya'ir, hadits no: 2065)

Pada riwayat lain Umar bin al Khoththob رضي الله عنه lebih tegas menjelaskan makna tunai yang dimaksudkan pada hadits-hadits di atas:

لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقِ بِالْوَرِقِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالذَّهَبِ أَحَدُهُمَا غَائِبٌ وَالْآخَرُ نَاجِزٌ وَإِنْ اسْتَنْظَرَكَ إِلَى أَنْ يَلِجَ بَيْتَهُ فَلَا تُنْظِرْهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ الرَّمَاءَ وَالرَّمَاءُ هُوَ الرِّبَا

"Janganlah engkau membarterkan emas dengan emas melainkan sama dengan sama, Janganlah engkau me-tlebihkan salah satu dibanding lainnya. Janganlah engkau membarterkan perak dengan perak melainkan sama dengan sama. janganlah engkau melebihkan salah satu dibanding lainnya, janganlah engkau membarterkan perak dengan emas, salah satunya terhutang sedangkan yang lain diserahkan secara tunai. Bila lawan transaksimu meminta agar engkau menantinya sejenak hingga ia masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya sebelum ia menyerah barangnya, maka jangan sudi untuk menantinya. Sesungguhnya aku khawatir kalian melampaui batas kehalalan. Dan yang dimaksud dengan melampaui batas kehalalan ialah terjerumus ke dalam riba." (HR. Imam Malik, Kitabul Buyu', bab: Bai'uz Zahab Bil Fiddhah Tibran wa 'Ainan, no: 1303)

Penjelasan Umar bin al Khoththob رضي الله عنه ini sangat terang meruntuhkan alasan orang-orang yang membolehkan transaksi forex1, walaupun pembayaran tertunda selama dua hari atau lebih. Terlebih pada zaman sekarang pembayaran begitu mudah dilakukan sekalipun pihak yang bertransaksi berjauhan tempat tinggal, yaitu dengan memanfaatkan layanan internet banking.

Tidak heran bila Badan Fiqih Islam di bawah Organisasi Robithoh Alam Islami/Liga Muslim Dunia (Muslim World League) pada rapatnya ke 18, pada tanggal 10-14/3/1427 H di kota Makkah Saudi Arabia, mengharamkan perdagangan dengan sistem margin atau yang lebih dikenal dengan forex.

Pendek kata, tidak ada alasan yang dapat dibenarkan untuk mentolerir pembayaran yang tertunda pada transaksi forex. Belum lagi pada transaksi ini terdapat denda, suku bunga dan kemungkaran lainnya.

Saudaraku, Bagi umat Islam, syari'at Alloh عزّوجلّ pastilah lebih dijunjung tinggi di atas berbagai sistem dan peraturan yang dibuat manusia. Karenanya, bila terjadi pertentangan antara keduanya, maka sistem karya manusialah yang layak dirubah agar selaras dengan syari'at Alloh Bukan sebaliknya, bukankah demikian saudaraku?


1. Forex (Foreign Exchange) atau yang lebih dikenal dengan bursa valas (valuta asing) adalah suatu jenis transaksi perdagangan atau transaksi mata uang asing yang memperdagangkan mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya yang melibatkan pasar-pasar uang utama di dunia dan dilakukan secara berkesinambungan. (Red. Dari: pasarforex.blogspot.com).

<h1>Persamaan Nilai Tukar</h1>
        <p>

2. Persamaan Nilai Tukar

Ketentuan ini hanya berlaku pada transaksi jual-beli antara dua mata uang yang sejenis. Misalnya, anda membutuhkan uang rupiah dalam pecahan sejumlah Rp. 10.000,00 sedangkan uang yang anda miliki adalah pecahan Rp. 100.000,00.

Pada kasus penukaran semacam ini tidak dibenarkan ada penambahan nilai sedikitpun. Karena bila ada penambahan nilai, baik dalam bentuk uang, barang atau jasa, maka pertambahan ini dianggap sebagai riba. Dan tidak diragukan lagi akan keharamannya.

Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوْ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الْآخِذُ وَالْمُعْطِي فِيهِ سَوَاءٌ

"Emas dibarterkan dengan emas, perak dibarterkan dengan perak, gandum dibarterkan dengan gandum, sya'ir (salah satu jenis gandum) dibarterkan dengan sya'ir, kurma dibarterkan dengan korma, dan garam dibarterkan dengan garam, (takaran/ timbangannya) harus sama dan pembayarannya dilakukan dengan cara kontan. Barang siapa yang menambah atau meminta tambahan maka ia telah berbuat riba. Pemberi dan penerima dalam hal ini sama." (HR. Muslim dalam kitab: al-Buyu', Bab: as-Sharfu Wa Bai'uz Zahab Bil Wariq Naqdan, hadits no: 1584)

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbuatan pedagang uang receh di terminal (misalnya), ketika menukarkan uang Rp. 100.000 dengan 49 lembar pecahan Rp. 2.000, adalah terlarang.

<h1>Penutup</h1>
        <p>

PENUTUP

Bila Anda menjualbelikan uang kertas yang sejenis, maka anda harus mengindahkan kedua ketentuan di atas: tunai/cash dan persamaan nilai tukar. Sedangkan bila anda menjualbelikan dua mata uang yang berbeda, maka anda hanya berkewajiban memenuhi persyaratan pertama, yaitu penjualan dilakukan dengan cara tunai, tanpa ada yang terhutang sedikitpun.

Semoga pemaparan singkat ini bermanfaat bagi anda, dan bila ada kesalahan atau kekurangan, maka sepenuhnya itu adalah kekhilafan dari saya. Wallohu a'lam bishshowab. []

<h1>Hukum Saham dalam Fiqih Islam</h1>

HUKUM SAHAM dalam FIQIH ISLAM

Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Badri MA حفظه الله

  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">RePublication : 1436 H, 2014 M </span></span> 
  </span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><strong><span class="calibre78"><span class="calibre26"><span class="calibre214">HUKUM SAHAM</span> <span class="calibre116">dalam</span> 
  </span><span class="calibre126">FIQIH ISLAM</span><br class="calibre17"/></span></strong></span></span><span class="calibre79"><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Oleh : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA 
  </span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre80">حفظه الله</span></span></span></span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Sumber: Majalah Al-Furqon, No. 104 Ed. 12 
  Th ke-9_1431H/2010M <br class="calibre17"/></span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">e-Book 
  ini didownload dari </span></span></span><span class="calibre127"><span class="calibre56">www.ibnumajjah.com</span></span></p>
<h1>Pendahuluan</h1>
        <p>

PENDAHULUAN

Alhamdulillah. Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga dan sahabatnya.

Kajian kita kali ini kita akan mengupas perihal saham. Saham adalah tanda kepemilikan seseorang atau lembaga terhadap suatu perusahaan atau Perseroan Terbatas (PT). Biasanya saham diwujudkan dalam lembaran kertas yang menerangkan bahwa pemilik lembaran saham ini adalah pemilik perusahaan yang mengeluarkan/ menerbitkan surat berharga ini.

Dengan demikian, sebesar penyertaan dana Anda di suatu perusahaan maka sebesar itu pula kadar kepemilikan Anda terhadap perusahaan tersebut. Sebaliknya, dapat dipahami pula bahwa idealnya tanggung jawab Anda atas perusahaan terkaitpun sebesar nilai saham yang Anda miliki.

Istilah saham sementara ini lebih akrab bagi kalangan tertentu. Tetapi tidak menutup kemungkinan, sebuah usaha kecil yang dikelola dengan rapi dan profesional berani membuka diri, menerima para penanam modal. Ketika itu perusahaan perlu menerbitkan lembaran saham.

Seiring dengan perkembangan dunia ekonomi, ternyata ada pihak-pihak yang ingin mencari rezeki dari jalan jual-beli saham. Membeli saham perusahaan yang diperkirakan mendatangkan hasil dan menjual sahamnya atas perusahaan yang kurang menjanjikan.

Bagaimana tinjauan syariat Islam atas hal ini. Mari kita kaji bersama pembahasan singkatnya.

<h1>Saham Biasa</h1>
        <p>

MACAM-MACAM SAHAM DAN HUKUMNYA

Saham dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang. Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, biasanya saham dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis:

1. Saham Biasa (Common Stock)

Saham seperti inilah yang paling banyak diperjualbelikan di pasar modal dan yang paling sering menjadi tema pembahasan di masyarakat. Karakteristik saham biasa adalah:

Tujuan investor atau pemilik saham biasanya ingin mendapatkan pembagian deviden (keuntungan usaha perusahaan) atau memperoleh capital gain (selisih harga beli dan jual) jika terjadi kenaikan harga.

Pemiliknya paling terakhir dalam mendapatkan bagian keuntungan dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut mengalami kerugian atau bangkrut.

Pemiliknya hanya mendapatkan bagian keuntungan bila perusahaan berhasil membukukan keuntungan.

Pemegang saham memiliki hak suara dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).

Pemilik saham berhak mengalihkan kepemilikan sahamnya kepada orang lain dengan cara-cara yang dibenarkan.

Secara hukum dan prinsip syari'at Islam, tidak mengapa seseorang memiliki saham jenis ini tentunya dengan mengindahkan beberapa catatan. Hal ini dikarenakan perserikatan dagang dalam Islam dibangun di atas asas kesamaan hak dan kewajiban. Dan hal ini benar-benar terwujud pada saham jenis ini, oleh karena itu tidak ada keraguan bahwa menerbitkan dan memperjualbelikan saham jenis ini adalah halal. (Suuq al-Aurooq al Maliyah; Dr. Khursyid Asyrof Iqbal 123 & Ahkamut Ta'amul Fil Aswaq al Maliyah; Dr. Mubarok bin Sulaiman al Sulaiman 1/148)

<h1>Saham Istimewa</h1>
        <p>

2. Saham Istimewa/Preferen (Preffered Stock)

Sejatinya, saham istimewa ini adalah gabungan antara karakteristik obligasi1 dan karakteristik saham biasa. Karenanya selain mendapatkan seluruh hak yang didapatkan oleh pemilik saham biasa, pemilik saham jenis ini mendapatkan hak-hak yang biasanya diberikan kepada para kreditur dalam obligasi. Beberapa hak yang membedakan saham preferen dari saham biasa adalah:

~ Mendapatkan deviden dalam jumlah yang terjamin dan tetap dalam persentase (suku bunga).

~ Pemegang saham jenis ini tetap menerima deviden walaupun perusahaan merugi.

~ Mendapatkan prioritas untuk mendapatkan deviden sebelum pemilik saham biasa.

~ Mendapatkan prioritas dalam hak suara dibanding pemilik saham biasa.

Para ulama ahli fiqih zaman sekarang -sebatas yang saya ketahui- sepakat mengharamkan penerbitan dan menjualbelikan saham jenis ini, dengan beberapa alasan berikut:

a. Para pemilik saham preferen tidak memiliki kelebihan yang menyebabkannya mendapatkan perilaku istimewa ini. Padahal keuntungan dalam usaha hanya diberikan kepada pemilik modal dan atau keahlian, sedangkan pemegang saham preferen tidak memiliki kelebihan dalam dua hal itu dibanding pemegang saham biasa.

Ibnu Qudamah رحمه الله berkata: "Seseorang berhak mendapatkan keuntungan dikarenakan ia memiliki andil dengan modal atau keahlian. Dengan demikian tidak ada alasan untuk memberikan persentase keuntungan yang melebihi total modal sekutu pasif. Sehingga persyaratan semacam ini tidak sah." (Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah 7/139)

b. Pada dasarnya keuntungan yang diberikan kepada pemilik saham preferen adalah riba. Karena modal mereka terjamin dan tetap mendapatkan keuntungan walaupun kinerja perusahaan merugi. Tidak diragukan lagi, ini adalah kedzoliman dan salah satu bentuk pengambilan harta orang lain dengan cara-cara yang menyelisihi syari'at. Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

الْـخَرَاجُ بِالضَّمَانِ

"Penghasilan/keuntungan adalah imbalan atas kesiapan menanggung kerugian." (HR. Ahmad, Abu Da-wud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i dan dihasankan Syaikh al-Albani)

Tidak heran bila badan fiqih di bawah organisasi OKI, yaitu International Islamic Fiqih Academy dengan tegas menyatakan:

"Tidak boleh menerbitkan saham preferen yang memiliki konsekuensi memberikan jaminan atas dana investasi yang ditanamkan, atau memberikan keuntungan yang bersifat tetap, atau mendahulukan pemiliknya ketika pengembalian investasi atau pembagian deviden." (Sidang Ke-7, Keputusan no: 63/1/7)


1. Obligasi adalah surat pinjaman dengan bunga tertentu dari pemerintah vang dapat diperjualbelikan. Pengertian lain: surat utang berjangka (waktu) lebih dari satu tahun dan bersuku bunga tertentu, dikeluarkan oleh perusahaan untuk menarik dana dari masyarakat guna menutup pembiayaan perusahaan. (Red. Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia)

<h1>Saham Kosong</h1>
        <p>

3. Saham Kosong

Saham kosong biasanya diberikan atas kesepakatan pemegang saham lainnya kepada pihak-pihak yang dianggap atau diharapkan berjasa pada perusahaan. Para penerima saham kosong ini berhak mendapatkan deviden dari keuntungan bersih perusahaan. Saham ini memiliki berbagai perbedaan dari saham biasa:

a. Saham kosong tidak memiliki nilai nominal yang tertulis pada lembar saham, sehingga haknya hanya sebatas mendapatkan deviden.

b. Pemegang saham kosong tidak berhak menghadiri RUPS dan juga tidak memiliki wewenang untuk campur tangan dalam kebijaksanaan dan arah perusahaan.

c. Saham kosong bisa dihapuskan, baik secara keseluruhan atau sebagian saja.

Karena karakter saham kosong seperti ini, kebanyakan ulama kontemporer melarang penerbitan saham kosong dengan beberapa alasan:

a. Pada-dasarnya saham kosong adalah salah saru bentuk jual beli jasa dimana nominal nilai jualnya harus diketahui, dan tidak dalam hitungan persentase dari keuntungan yang tidak menentu jumlahnya. Dengan demikian saham kosong ini tercakup oleh keumuman hadits riwayat Abu Hurairoh رضي الله عنه berikut:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

"Rosululloh صلى الله عليه وسلم melarang jual beli dengan cara melempar batu dan yang mengandung ghoror (unsur spekulasi)." (HR. Muslim)

b. Saham kosong sering kali menjadi ancaman masa depan perusahaan dan merugikan para pemegang saham.

c. Biasanya saham kosong adalah pintu lebar buat terjadinya praktek manipulasi, suap dan tindakan tercela lainnya.1


1. Suuq al-Aurooq al-Maliyah 320-321, oleh Dr. Khursyid Asyraf Iqbal & al-Ashum wassanadat wa Ahkamua Fil Fiqhil Islami 173-174, Dr. Ahmad bin Muhammad al-Kholil.

<h1>Syarat Pertama dan Kedua</h1>
        <p>

KAPAN ANDA HALAL MENJUAL BELIKAN SAHAM?

Setelah kita mengetahui hukum asal penerbitan dan memperjualbelikan ketiga jenis saham di atas, tidak sepantasnya kita menutup mata dari fakta dan berbagai hal yang erat hubungannya dengan saham.

Para ulama menjelaskan tentang persyaratan jual beli saham adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan penerbit saham adalah perusahaan yang benar-benar telah beroperasi

Saham perusahaan semacam ini boleh diperjualbelikan dengan harga yang disepakati kedua belah pihak. Baik dengan harga jual sama dengan nilai nominal yang tertera pada surat saham atau berbeda.

Adapun saham perusahaan yang sedang dirintis, sehingga kekayaannya masih dalam wujud uang maka sahamnya tidak boleh diperjualbelikan kecuali dengan harga yang sama dengan nilai nominal saham. Kemudian pembayaran hendaknya dilakukan dengan cara kontan.

Hal ini dikarenakan setiap surat saham perusahaan jenis ini seutuhnya masih mewakili sejumlah uang modal yang tersimpan dan tidak mewakili aset perusahaan sehingga bila diperjualbelikan lebih mahal atau lebih murah dari nilai nominal saham maka berarti telah terjadi praktek tukar menukar mata uang dengan cara yang tidak dibenarkan.

2. Perusahaan penerbit saham bergerak dalam usaha yang dihalalkan syari'at

Karena sebagai pemilik saham -seberapa pun besarnya- Anda adalah salah satu pemilik perusahaan tersebut. Dengan demikian, tanggung jawab Anda atas setiap usaha perusahaan. Hal ini berdasarkan firman Alloh سبحانه و تعالي:

وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

"dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran" (QS. al-Maidah [5]:2)

<h1>Syarat Ketiga dan Keempat</h1>
        <p>

3. Perusahaan terkait tidak melakukan praktek riba, baik pada pembiayaan, penyimpanan kekayaan atau lainnya

Bila suaru perusahaan dalam pembiayaan, atau penyimpanan kekayaannya menggunakan konsep riba, maka seseorang tidak dibenarkan membeli saham perusahaan tersebut. Sebagai contoh: Suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi perabot rumah tangga. Untuk membiayai usaha, perusahaannya memungut piutang dari bank ribawi yang tentunya dengan suku bunga tertentu. Anda tidak dibenarkan membeli saham perusahaan semacam ini. Ketentuan ini selaras dengan kaidah dalam ilmu fiqih:

إِذَا اجْتَمَعَ الـحَلَالُ وَالْـحَرَامُ، غُلِّبَ الْـحَرَامُ

"Bila tercampur antara hal yang halal dengan hal yang haram, maka lebih dikuatkan yang haram."1

4. Penjualan dan pembeliannya dilakukan dengan cara yang dibenarkan dalam syari'at.

Dengan demikian berbagai hukum yang berlaku pada jual-beli biasa berlaku pula pada jual-beli saham. Misal, Anda tidak dibenarkan menjual kembali saham yang dibeli sebelum sepenuhnya saham tersebut diserah terimakan kepada Anda. Dengan demikian metode jual-beli saham yang ada di masyarakat dan yang dikenal dengan sebutan "one day trading" atau yang serupa adalah metode yang tidak dibenarkan

Berikut gambaran singkat tentang metode ini:

Misal, pengusaha (B) membeli sejumlah surat saham dari broker2 (A) dengan pembayaran terhutang, sedangkan surat saham yang telah dibeli tersebut tetap berada di tangan (A) sebagai jaminan atas pembayaran yang terhutang sehingga (B) belum sepenuhnya menerima surat saham tersebut. Pada penutupan bursa saham di akhir hari, (B) berkewajiban menjual kembali saham tersebut kepada (A).

Pembayaran antara keduanya pada kedua transaksi tersebut hanya dilakukan dengan membayar selisih harga jual dari harga beli. Transaksi semacam ini termasuk transaksi riba yang diharamkan dalam Islam

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَأَحْسِبُ كُلَّ شَيْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ. قَالَ طَاوُسٍ: قَلْتُ لاِبْنِ عَبَّاسٍ: كَيْفَ ذَاكَ؟ قَالَ ذَاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ

"Dari sahabat Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما ia menuturkan: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: "Barang siapa yang membeli bahan makanan maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya." Ibnu 'Abbas berkata: Dan saya berpendapat bahwa segala sesuatu barang hukumnya seperti hukum bahan makanan. Thowus berkata: "Aku bertanya kepada Ibnu 'Abbas: Bagaimana kok demikian ? Ia menjawab: Itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda (sebatas kedok belaka)" (HR. Muttafaqun 'alaih)

Sebagaimana jual beli ini juga dapat termasuk jual beli 'inah yang diharamkan dalam Islam. Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَئِنْ أَنْتُمُ اتَّبَعْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَ تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ لَيُلْزِ مَنَّكُمُ مَذَلَّهُ فِيْ أَعْنَاقِكُمْ ثُمَّ لاَ تُنْزَعُ مِنْكُمْ حَتَّى تَرْجِعُونَ إِلَي مَاكُنْتُمْ عَلَيهِ وَتَتُوبُونَ إِلَى اللهِ

"Bila kalian telah (sibuk dengan) mengikuti ekor-ekor sapi (beternak), ber jual beli dengan cara 'innah dan meninggalkan jihad, niscaya Alloh akan melekatkan kehinaan di tengkuk- tengkuk kalian, kemudian kehinaan tidak akan dicabut dari kalian hingga kalian kembali kepada keadaan kalian semula dan bertaubat kepada Alloh." (HR. Ahmad, Abu Dawud, al Baihaqi dan dinyatakan shohih oleh al-Albani)

Jual beli 'inah ialah Anda menjual kepada orang lain suatu barang dengan pembayaran terhutang. Setelah jual beli ini selesai, Anda kembali membeli barang tersebut dengan pembayaran kontan dan tentunya dengan harga yang lebih murah.

Pendek kata, saham tak ubahnya barang komoditi lainnya. Dalam proses jual-belinya tetap harus mengindahkan berbagai hukum dan asas yang telah digariskan dalam Islam.


[1] Al-Mantsur Fi al-Qowa'id oleh az-Zarkasyi 1/50, & al-Asybah wa an Nazhoir oleh Jalaluddin as Suyuthi 105.

[2] Broker adalah pedagang perantara yang menghubungkan pedagang satu dengan yang lain dalam hal jual-beli atau antara penjual dan pembeli; makelar; pialang (Radaksi, dari Kamus Besar Bahasa Indonesia)

<h1>Fatwa Badan Fiqih</h1>
        <p>

FATWA BADAN FIQIH

Berikut nukilan fatwa dari Badan Fiqih Islam di bawah Organisasi Robithoh Alam Islami/Liga Muslim Dunia (Muslim World League):

Segala puji hanya milik Alloh سبحانه و تعالي, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang tiada nabi setelahnya, yaitu pemimpin kita sekaligus Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم dan kepada keluarga, dan sahabatnya رضي الله عنهم

Amma ba'du: Sesungguhnya anggota rapat al-Majma' al-Fiqhi di bawah Robithoh Alam Islami pada rapatnya ke-14 yang diadakan di kota Makkah al-Mukaromah dan dimulai dari hari Sabtu tanggal 20 Sya'ban 1415 H yang bertepatan dengan tanggal 21 Januari 1995 M, telah membahas permasalahan ini (jual-beli saham perusahaan-pen) dan kemudian menghasilkan keputusan berikut:

1. Karena hukum dasar dalam perniagaan adalah halal dan mubah, maka mendirikan suatu perusahaan publik yang bertujuan dan bergerak dalam hal yang mubah adalah dibolehkan menurut syari'at.

2. Tidak diperselisihkan akan keharaman ikut serta menanam saham pada perusahaan-perusahaan yang tujuan utamanya diharamkan, misalnya bergerak dalam transaksi riba, atau memproduksi barang-barang haram, atau memperdagangkannya.

3. Seorang muslim tidak boleh membeli saham perusahaan atau badan usaha yang pada sebagian usahanya menjalankan praktek riba, sedangkan pembelinya mengetahui hal itu.

4. Bila ada seseorang yang terlanjur membeli saham suatu perusahaan sedangkan ia tidak mengetahui bahwa perusahaan tersebut menjalankan transaksi riba, lalu di kemudian hari ia mengetahui hal tersebut maka ia wajib untuk keluar dari perusahaan tersebut.

Keharaman membeli saham perusahaan tersebut telah jelas berdasarkan keumuman dalil-dalil al-Qur'an dan as-Sunnah yang mengharamkan riba. Hal ini dikarenakan membeli saham perusahaan yang menjalankan transaksi riba sedangkan pembelinya telah mengetahui akan hal itu, berarti pembeli telah ikut ambil andil dalam transaksi riba.

Yang demikian itu karena saham merupakan bagian dari modal perusahaan sehingga pemiliknya ikut memiliki sebagian dari aset perusahaan. Oleh karenanya, seluruh harta yang dipiutangkan perusahaan dengan mewajibkan bunga atau harta yang diutang oleh perusahaan dengan ketentuan membayar bunga, maka pemilik saham telah memiliki bagian dan andil darinya. Hal ini disebabkan orang-orang (pelaksana perusahaan-pen) yang mengutangkan atau menerima piutang dengan ketentuan membayar bunga, sebenarnya adalah perwakilan dari pemilik saham, dan mewakilkan seseorang untuk melakukan pekerjaan yang diharamkan hukumnya tidak boleh.

Semoga sholawat dan salam yang berlimpah senantiasa dikaruniakan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم keluarga dan sahabatnya. Dan segala puji hanya milik Alloh, Tuhan semesta Alam.1

International Islamic Fiqih Academy, organisasi fiqih international di bawah naungan OKI (Organisasi Konferensi Islam), pada sidangnya ke-7, keputusan no: 63 (1/7) juga memfatwakan hal yang sama.

Mungkin Anda berkata: Bila hukum asal memperjualbelikan saham adalah halal, mengapa para ulama menambahkan beberapa persyaratan lain agar suatu saham boleh diperdagangkan?

Saudaraku! Tidak perlu heran, karena saham tidak berbeda dari berbagai harta kekayaan lainnya semisal padi, emas, hewan ternak dan lainnya. Walaupun berbagai harta ini halal diperjualbelikan, akan tetapi tidak berarti Anda dapat melakukannya sesuka Anda. Beberapa batasan dan ketentuan harus Anda indahkan agar perniagaan Anda selaras dengan syari'at. Karenanya, Anda tidak dibenarkan menukar tambahkan emas dengan emas, apapun alasan Anda.

لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

"Janganlah engkau jual emas ditukar dengan emas melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau lebihkan sebagiannya di atas sebagian lainnya, janganlah engkau jual perak ditukar dengan perak melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau lebihkan sebagiannya di atas sebagian lainnya. Dan janganlah engkau jual sebagiannya yang diserahkan dengan kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan dengan kontan." (HR. Bukhori dan Muslim)

Saudaraku! kemewahan dan kemajuan sarana prasarana di tempat memperdagangkan saham dan berbagai surat berharga lainnya, janganlah menjadikan umat Islam silau sehingga melalaikan berbagai ketentuan syari'at dalam perniagaan. Hukum syari'at Islam senantiasa dikaitkan dengan inti setiap ucapan dan tindakan, bukan dengan penampilan luar dan berbagai hal sekunder lainnya. Wallohu Ta'ala a'lam bi ash-showab.

Semoga sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga dan sahabatnya. Amin.[]


1. Ensiklopedi Keputusan-keputusan al-Majma’ al-Fiqhi al-Islami, yang bermarkas di kota Makkah al Mukarromah, hlm: 297, rapat ke 14, keputusan no: 4.

<h1>Hukum Asuransi Konvensional</h1>

ASURANSI KONVENSIONAL: Tinjauan Kritis dan Solusinya

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

Copyright 1432 H/ 2011 M
Untuk Umat Muslim

WWW.IBNUMAJJAH.WORDPRESS.COM

Sumber: Majalah Al-Furqon No.99 Ed.7 Th Ke-9_1431/2010

<h1>Muqoddimah</h1>
<meta content="text/css" http-equiv="Content-Style-Type"/>
        <p><span class="rvts7"><span class="calibre224">MUQODDIMAH</span></span><span class="calibre225"></span></p>

Asuransi telah menyatu dengan kehidupan sebagian besar orang-orang modern. Apa yang dimiliki, diansuransikan; kendaraannya, rumahnya, usahanya, masa depan anaknya bahkan jiwanya pun diasuransikan.

Perusahaan jasa asuransi pun bermunculan. Berbagai produk dan sistem asuransi ditawarkan; mulai dari asuransi kehilangan, kebakaran, jaminan kesehatan, kematian, kecelakaan, hingga asuransi kemacetan pembayaran.

Sebagai seorang hamba yang berserah diri kepada aturan Robbnya, hendaknya bertanya, apakah perusahaan asuransi kontemporer telah sesuai dengan hukum Islam?! Apakah ada sistem asuransi yang sesuai dengan prinsip Islam?!

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menjadi fokus bahasan kita pada edisi kali ini. Kita berdoa kepada Alloh عزّوجلّ agar diselamatkan dari yang haram dan mencukupkan kita dengan yang halal. Amiin.1

_________________

1. Asuransi Dalam Perspektif Syariah hlm. xviii oleh Dr. Husain Syahatah

<h1>Defenisi Asuransi</h1>
<meta content="text/css" http-equiv="Content-Style-Type"/>
        <p><span class="rvts7"><span class="calibre224">DEFENISI ASURANSI </span></span><span class="calibre225"></span></p>

Beragam definisi mengenai asuransi, namun definisi yang mencakup adalah "Sebuah perjanjian pihak pertama (perusahaan asuransi) kepada pihak kedua (pihak nasabah) untuk memberikan ganti atas uang yang diserahkan, baik nanti diberikan kepada pihak kedua sendiri atau orang yang ditunjuk ketika terjadi risiko kejadian yang telah tertera dalam akad perjanjian. Hal itu sebagai pengganti dari uang yang telah diberikan pihak kedua kepada pihak pertama, baik secara berangsur atau lainnya."1

_____________________

1. at-Ta'min wa Ahkamuhu hlm. 40 oleh Dr. Sulaiman bin Ibrohim bin Tsunayan

<h1>Sejarah Asuransi</h1>
<meta content="text/css" http-equiv="Content-Style-Type"/>
        <p><span class="rvts7"><span class="calibre233">SEJARAH ASURANSI</span></span><span class="calibre234"></span></p>

Jasa asuransi yang pertama kali muncul adalah asuransi transportasi laut di Eropa, tepatnya di Italia Utara pada abad ke-15. Muncul tatkala karena banyaknya risiko dan bencana yang menimpa kapal laut pengangkut barang-barang saat itu. Model asuransinya yaitu pemilik barang membayar uang kepada pemilik kapal dengan perjanjian apabila barangnya rusak atau hilang maka dia akan mendapatkan tambahan uang.

Pemilik usaha asuransi mendapatkan keuntungan yang banyak sementara pemilik barang juga merasa aman terhadap barang-barang mereka. Waktu pun terus berjalan dan asuransi pun menyebar ke berbagai negara seperti Inggris, sehingga di sana didirikan perusahaan asuransi pertama kali. Setelah kejadian kebakaran hebat di London pada tahun 1666 M, maka didirikan perusahaan asuransi kebakaran pertama kali. Setelah itu asuransi menyebar di negara-negara Amerika pada pertengahan abad ke-18 dan pada abad ke-19 asuransi juga masuk ke negara-negara Arab.1

____________________

1. al-Mu'amalat al-Maliyah al-Mu'ahiroh fil Fiaih Islami hlm. 88 oleh Dr. Muhammad Utsman Syubair

<h1>Hukum Asuransi Konvensional</h1>
<meta content="text/css" http-equiv="Content-Style-Type"/>
        <p><span class="rvts7"><span class="calibre233">HUKUM ASURANSI KONVENSIONAL </span></span><span class="calibre234"></span></p>

Majelis Ha'iah Kibar Ulama setelah mempelajari masalah ini secara terperinci memutuskan dalam rapat mereka di Riyadh 4/4/1397 H bahwa Asuransi Konvensional hukumnya haram berdasarkan dalil-dalil berikut:

Pertama, akad "Asuransi Konvensional" bila ditinjau merupakan salah satu bentuk akad tukar-menukar barang yang didasarkan pada asas untung-untungan, sehingga sisi ketidak-jelasannya besar, karena nasabah pada saat akad tidak dapat mengetahui jumlah uang yang harus mereka setorkan dan jumlah klaim yang akan diterima. Bisa jadi ia menyetor sekali atau dua kali setoran, kemudian terjadi kecelakaan, sehingga ia berhak mengajukan klaim yang menjadi komitmen perusahaan asuransi. Dan mungkin juga sama sekali tidak pernah terjadi kecelakaan, sehingga nasabah membayar seluruh setoran, tanpa mendapatkan apa pun. Demikian juga perusahaan asuransi tidak dapat menentukan jumlah klaim yang harus mereka bayarkan dan jumlah setoran yang akan diterima bila dicermati setiap akad secara terpisah. Padahal telah dinyatakan dalam hadits shohih dari Nabi صلي الله عليه وسلم tentang larangan jual beli ghoror (yang tidak jelas).1

Kedua, akad "Asuransi Konvensional" mengandung salah satu bentuk perjudian, dikarenakan padanya terdapat unsur untung-untungan dalam hal tukar-menukar harta benda, dan terdapat kerugian tanpa ada kesalahan atau tindakan apa pun, dan padanya juga terdapat keuntungan tanpa ada timbal baliknya, atau dengan imbal balik yang tidak seimbang. Karena nasabah kadang kala baru membayarkan beberapa setoran atau preminya, kemudian terjadilah kecelakaan, sehingga perusahaan asuransi menanggung seluruh biaya yang menjadi klaimnya. Dan bisa saja tidak terjadi kecelakaan, sehingga saat itu perusahaan berhasil mengeruk seluruh setoran premi nasabah tanpa ada imbalan sedikitpun. Dan bila pada suatu akad unsur ketidakjelasan benar-benar nyata, maka akad itu termasuk perjudian, dan tercakup dalam keumuman larangan perjudian yang disebutkan dalam firman Alloh Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khomr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. al-Maidah [5]: 90)

Ketiga, Akad "Asuransi Konvensional" mengandung unsur riba fadhl (riba perniagaan) dan riba nasiah (penundaan), karena perusahaan asuransi bila membayar kepada nasabahnya atau ke ahli warisnya atau kepada orang yang berhak memanfaatkan suatu klaim lebih besar dari uang setoran (iuran) yang mereka terima, maka itu adalah riba fadhl, sedangkan perusahaan asuransi akan membayar klaim tersebut kepada nasabahnya setelah berlalu tenggang waktu dari saat terjadi akad, maka itu adalah riba nasiah. Dan bila perusahaan membayar klaim nasabah sebesar uang setoran yang pernah ia setorkan ke perusahaan, maka itu adalah riba nasiah saja, dan keduanya diharamkan menurut dalil dan ijma (kesepakatan ulama).

Keempat, akad "Asuransi Konvensional" termasuk pertaruhan yang terlarang, karena pada pertaruhan terdapat unsur ketidakjelasan, untung-untungan, dan mengundi nasib. Padahal syariat tidak membolehkan pertaruhan selain pertaruhan yang padanya terdapat unsur pembelaan terhadap agama Islam, dan penegakan benderannya dengan hujjah, dalil, pedang dan senjata. Dan Nabi صلي الله عليه وسلم telah membatasi rukhshoh (keringanan) pertaruhan dengan tebusan hanya ada tiga hal:

لَا سَبَقَ إِلَّا فِي خُفٍّ أَوْ فِي حَافِرٍ أَوْ نَصْلٍ

"Tiada hadiah taruhan selain pada unta atau kuda atau panah."2

Dan asuransi tidaklah termasuk salah satu darinya, tidak juga serupa dengannya, sehingga diharamkan.

Kelima, akad "Asuransi Konvensional" padanya terdapat praktik pemungutan harta orang lain tanpa imbalan, sedangkan mengambil harta orang lain tanpa ada imbalan dalam transaksi perniagaan adalah haram, dikarenakan tercakup dalam keumuman firman Alloh Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Alloh adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. an-Nisa' [4]: 29)

Keenam, pada akad "Asuransi Konvensional" terdapat pengharusan seusatu yang tidak diwajibkan dalam syariat, karena perusahaan asuransi tidak pernah melakukan sesuatu tindakan yang merugikan, tidak juga menjadi penyebab terjadinya kerugian. Perusahaan asuransi hanyalah melakukan akad bersama nasabah untuk menjamin kerugian bila hal itu terjadi, dengan imbalan iuran yang dibayarkan oleh nasabah kepadanya, sedangkan perusahaan asuransi tidak pernah melakukan pekerjaan apa pun untuk nasabahnya, sehingga akad ini diharamkan.3

Dan keputusan Hai'ah Kibar Ulama Saudi Arabia ini sesuai dengan keputusan Majma' Buhuts Islamiyyah di Mesir pada bulan Muharrom 1385 H, Muktamar Alami Awal lil Iqtishod Islami diMakkah tahun 1396 H yang dihadiri oleh lebih dua ratus ulama dan ahli ekonomi, Majma' Fiqih Islami di Makkah pada 10 Sya'ban 1398 H, Majma' Fiqih Islami di Jeddah pada 10-16 Robi'ul Akhir 1406 H.4 Adapun pendapat yang membolehkan, maka argumen-argumen mereka lemah sekali, telah dijawab oleh para ulama.5

______________________

1. Imam Navvwi berkata dalam Syarh Muslim: 10/396: "Adapun larangan jual beli ghoror (yang tidak jelas), maka ha) itu merupakan pokok yang agung dalam kitab masalah jual beli. Oleh karena itu Imam Muslim mendahulukannya, karena masuk dalam kaidah ini berbagai permasalahan yang sangat banyak sekali". Maka tak aneh, bila Prof. Muhammad adh-Dhorir menulis buku khusus tentang masalah ini dalam kitabnya yang berjudul "al-Ghoror wa Atsaruhu fil Uqud fil Fiqih Islami"

2. Lafadz (سَبّقَ) memiliki dua riwayat: Pertama: Dengan menfathah huruf Ba' yang berarti harta taruhan. Kedua: Dengan mensukun Ba' yang berarti perlombaan. al-Khothobi berkata dalam Maalim Sunan: 3/304: Riwayat yang shohih dalam hadits ini adalah dengan menfathah huruf ba-nya. (Lihat pula al-Hawafiz at-Tijariyyah at-Taswiqiyyah hlm. 127 oleh Syaikhuna Dr. Khalid bin Abdillah Al-Mushlih)

3. Dinukil dari Riba dan Tinjauan Kritis Perbankan Syariah hlm. 81-83 oleh Ust. Muhammad Arifin Badri, MA

4. Lihat Fiqhu Nawazil: 3/266-287 oleh Muhammad bin Husain al-Jizani dan Mausu'ah al-Qodhoya Fiqhiyyah Mu'ashiroh wol Iqtishod Islami hlm. 379-395 oleh Dr. Ali Ahmad as-Salus

5. Lihat secara luas dalam at-Ta'min wa Ahkamuhu hlm. 157-211 oleh Dr. Sulaiman bin Ibrahim Tsunayyan

<h1>Jangan Tertipu Dengan Perubahan Nama</h1>
<meta content="text/css" http-equiv="Content-Style-Type"/>
        <p><span class="rvts7"><span class="calibre233">JANGAN TERTIPU DENGAN PERUBAHAN NAMA</span></span><span class="calibre234"></span></p>

Suatu hal yang telah disepakati oleh semua ahli ilmu bahwa "Perubahan nama tidaklah merubah hakekat hukum."1 Sesuatu yang jelek tidak bisa menjadi bagus kalau kita menamainya dengan nama yang indah (!) Demikian seterusnya.

Tatkala perekonomian dengan basis syariah sedang gencar digalakkan maka perusahaan-perusahaan asuransi pun tidak mau ketinggalan. Mereka ramai-ramai memikat nasabah dengan berbagai produk asuransi syariah. Mereka mengklaim bahwa produk-produk mereka telah selaras dengan prinsip syariah. Secara global mereka menawarkan dua jenis pilihan:

1. Asuransi Umum Syariah

Pada pilihan ini, mereka mengklaim bahwa mereka menerapkan metode bagi hasil/mudhorobah. Yaitu bila telah habis masa kontrak, dan tidak ada klaim, maka perusahaan asuransi akan mengembalikan sebagian dana/premi yang telah disetorkan oleh nasabah, dengan ketentuan 60:40 atau 70:30. Adapun berkaitan dana yang tidak dapat ditarik kembali mereka mengklaimnya sebagai dana tabarru' atau hibah (hadiah).

2. Asuransi Jiwa Syariah

Rincian dari jenis ini ialah bila nasabah hingga jatuh tempo tidak pernah mengajukan klaim, maka premi yang telah disetorkan, akan hangus. Perilaku ini diklaim oleh perusahaan asuransi sebagai hibah dari nasabah kepada perusahaan."2

Subhanalloh, bila kita pikirkan dengan saksama, kedua jenis produk asuransi syariat di atas, niscaya kita akan dapatkan bahwa yang terjadi hanyalah manipulasi istilah.3 Adapun prinsip-prinsip perekonomian syariat, di antaranya yang berkaitan dengan mudhorobah dan hibah, sama sekali tidak terwujud, yang demikian itu dikarenakan:

· Pada transaksi mudhorobah, yang dibagi adalah hasil/keuntungan, sedangkan pada asuransi umum syariah di atas, yang dibagi adalah modal atau jumlah premi yang telah disetorkan.

· Pada akad mudhorobah, pelaku usaha (perusahaan asuransi) mengembangkan usaha riil dengan dana nasabah guna mendatangkan keuntungan. Sedangkan pada asuransi umum syariat, perusahaan asuransi sama sekali tidak mengembangkan usaha guna mengelola dana nasabah.

· Pada kedua jenis asuransi syarih di atas, perusahaan asuransi telah memaksa nasabah untuk menghibahkan seluruh atau sebagian preminya. Disebut pemaksaan, karena perusahaan asuransi sama sekali tidak tidak akan pernah siap bila ada nasabah yang ingin menarik seluruh dananya, tanpa menyisakan sedikitpun. Padahal Rosululloh صلى الله عليه وسلم telah bersabda:

لاَ يَحِلُّ مَالَ امْرِئٍ إِلاَّ بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

"Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali dengan dasar kerelaan jiwa darinya." 4

____________________

1. Lihat Ilamul Muwaqqi'in: 4/532 karya Imam Ibnul Qoyyim, tahqiq Masyhur bin Hasan

2. Majalah MODAL, edisi 36, 2006. hlm.16

3. Semoga Alloh merahmati Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah tatkala mengatakan: "Merubah nama perkara haram padahal hakekatnya masih tetap adalah menambah kerusakan sesuatu yang haram tersebut karena hal itu mengandung tipuan kepada Alloh dan rosul-Nya serta menisbatkan penipuan dan kedustaan kepada agama dan syariat-Nya, seakan-akan Alloh melarang dari suatu kerusakan tetapi membolehkan yang lebih parah darinya. Oleh karenanya Ayyub as-Sihtiyani mengatakan: "Mereka menipu Allah seperti menipu anak kecil, seandainya mereka melakukan keharaman apa adanya, tentu malah lebih ringan dosanya." (lghotsatul Lahfan: 1/604-605, Tahqiq Ali bin Hasan)

4. Riba dan Tinjauan Kritis Perbankan Syariah hlm. 90-92 oleh Ustadz Muhammad Arifin bin Badri, MA

<h1>Asuransi Ta'awun Sebagai Solusi</h1>
<meta content="text/css" http-equiv="Content-Style-Type"/>
        <p><span class="rvts7"><span class="calibre233">ASURANSI TA'AWUN SEBAGAI SOLUSI</span></span><span class="calibre234"></span></p>

Islam tidak membutuhkan sistem-sistem perekonomian yang dibangun di atas keharaman, tetapi perekonomiannya dibangun atas dasar saling membantu dan sosial seperti zakat, wakaf dan lain sebagainya."1

Oleh karenanya, sebagai gantinya para ulama syariah dan ahli ekonomi Islam mengusulkan agar asuransi dibangun atas dasar ta'awun (saling membantu) sebagaimana usulan Ha'iah Kibar Ulama dalam rapat mereka di Riyadh bulan Robi'ul Awal 1397 H,2 mereka membolehkan asuransi ta'awun yaitu bergeraknya sejumlah orang yang masing-masing sepakat untuk mengganti kerugian yang menimpa salah seorang dari mereka sebagai akibat risiko bahaya tertentu, yang itu diambil dari uang iuran yang telah disepakati pembayarannya. Hal ini bisa diperluas menjadi sebuah lembaga atau yayasan yang memiliki pegawai dan pengelola khusus.

Ini adalah akad tabarru' yang bertujuan saling membantu, bukan tujuan bisnis dan cari keuntungan, sebagaimana juga akad ini tidak mengandung riba, perjudian, spekulasi dan lain sebagainya yang ada dalam asuransi konvensional.3

Solusi ini sangat penting untuk diterima sebagai pengganti asuransi konvensional karena beberapa alasan berikut:

1. Banyaknya kekhawatiran dalam perekonomian manusia pada zaman sekarang.

2. Masyarakat islam tidak seperti masyarakat dahulu yang saling bahu-membahu.

3. Negara tidak menerapkan zakat sebagaimana mestinya.

4. Tidak ada larangan dalam Islam untuk membentuk sistem muamalat baru yang mengandung kemaslahatan kaum muslimin selama tidak melanggar aturan Islam. 4

_____________________

1. Lihat secara luas dalam an-Nidhom Al-Mali wal Iqtishodi fil Islam oleh Dr. Mushlih Abdul Hayyi

2. Lihat Fatawa Ulama Baladil Haromain hlm. 1211-1214, kumpulan Dr. Kholid al-Juraisi

3. Lihat makalah al-Ustadz Al-fadful Khalid Samhudi -jaza-hulloh khoiron- dalam Majalah As-Sunnah edisi 8/Th. XI/1428 H dengan judul "Perbedaan Antara Asuransi Ta'awun Dan Asuransi Konvensional"

4. At-Ta'min waa Ahkamuhu hlm. 287-298 oleh Dr. Sulaiman bin Ibrohim bin Tsunayan

<h1>Bila Terdesak Harus Asuransi</h1>
<meta content="text/css" http-equiv="Content-Style-Type"/>
        <p><span class="rvts7"><span class="calibre233">BILA TERDESAK HARUS ASURANSI </span></span><span class="calibre234"></span></p>

Dalam sebagian negara, terkadang seorang muslim terdesak harus ikut asuransi, bila tidak maka tertahan dari kemaslahatannya, seperti ketika beli mobil misalnya, terkadang dia diharuskan untuk mengansuransikannya, bila tidak maka tertahan.

Bagaimana solusinya padahal kita tahu asuransi jenis ini adalah haram?! Kita katakan:

1. lnsya Alloh tidak ada dosa bagi kita, yang dosa adalah yang memaksa, karena kondisi kita terpaksa dan terdholimi sedangkan kaidah fiqih mengatakan:

الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ الْـمَحْظُوْرَاتِ

"Keadaan dhorurot itu membolehkan sesuatu yang terlarang."

Hanya saja, harus diterapkan kaidah lainnya juga:

الضَّرُوْرَاتُ تُقَدَّرُ بِقَدْرِهَا

"Dhorurot itu sekadarnya saja." 1

2. Bila ditakdirkan terjadi kecelakaan maka ambillah secukupnya uang yang kita bayarkan pada perusahaan asuransi, adapun selebihnya maka jangan mengambilnya karena kita tidak berhak mendapatkannya dan kita yakin bahwa akad tersebut haram dan bathil. Dan bila perusahaan tetap memaksa untuk mengambilnya, maka ambil dan sedekahkan dengan niat melepaskan diri dari perkara haram. Demikianlah solusinya.2

Demikianlah pembahasan ringkas dan sederhana tentang Asuransi. Semoga bermanfaat. []

____________________

1. Lihat al-Fatawa al-Kuwaitiyyah wal Fatawa Australiyyah hlm. 119-120 oleh Syaikh al-Albani, ta'liq Syaikh Amr bin Abdul Mun'im. Dan lihat penjelasan secara bagus tentang dua kaidah di atas dalam kitab Haqiqoh Dhorurot Syar'iyyah oleh Dr. Muhammad Husain al-Jizani, cet. Dar al-Minhaj

2. Syarh Mumti': 10/327 oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, cet. Dar Ibnil Jauzi

<h1>Daftar Referensi</h1>
<meta content="text/css" http-equiv="Content-Style-Type"/>
        <p><span class="rvts7"><span class="calibre224">DAFTAR REFERENSI</span></span><span class="calibre225"></span></p>

1. At-Ta'min wa Ahkamuhu, Dr. Sulaiman bin Ibrahim bin Tsunayan, Dar Ibnu Hazm, Bairut, cet. pertama 1424 H.

2. Mausu'ah Al-Qodhoya Fiqhiyyah Mu'ashiroh wal Iqtishod Islami, Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus, Dar Tsaqofah, Bairut, cet. ketujuh 1426 H.

3. Al-Mu'amalat al-Maliyah al-Mu'ahiroh fil Fiqih Islami, Dr. Muhammad Utsman Syubair, Dar Nafais, Bairut, cet. keenam 1427 H.

4. Asuransi Dalam Persepektif Syariah, Dr. Husain Syahatah, penerbit Amzah, Jakarta, cet. pertama 2006 M.

5. Riba dan Tinjauan Kritis Perbankan Syariah, Ust. Muhammad Arifin Badri, MA, Pustaka Darul Ilmi, Bogor, cet. pertama 1430 H.

<h1>Asuransi Ta'awun VS Konvensional</h1>

PERBEDAAN ASURANSI TA'AWUN DAN ASURANSI KONVENSIONAL

Ustadz Kholid Syamhudi حفظه الله

Copyright 1432 H/ 2011 M
Untuk Umat Muslim

WWW.IBNUMAJJAH.WORDPRESS.COM

Sumber: almanhaj.or.id yang menyalinya dari Majalah As-Sunnah Ed.8 Th. XI_1428/2006

<h1>Asuransi Secara Umum</h1>
        <p><span><span class="calibre247">Asuransi Secara Umum</span></span><span class="calibre134"></span></p>

Kata asuransi, dalam bahasa Inggris disebut insurance, dan dalam bahasa Perancis disebut assurance. Adapun dalam bahasa Arab, disebut at-Ta'min.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata asuransi dijelaskan dengan pertanggungan. Yaitu perjanjian antara dua pihak, pihak yang satu berkewajiban membayar iuran dan pihak yang lain berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran apabila terjadi sesuatu yang menimpa pihak pertama atau barang milikinya, sesuai dengan perjanjian yang dibuat.

1

Penjelasan ini, sepadan juga dengan yang telah didefinisikan dalam Perundang-Undangan Negara Indonesia, sebagai perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.2

Sedangkan sebagian ulama syariat dan ahli fikih memberikan definisi beragam. di antaranya sebagai berikut.

1.

Asuransi, ialah perjanjian jaminan dari pihak pemberi jaminan (yaitu perusahaan asuransi) untuk memberi sejumlah harta atau upah secara rutin atau ganti barang yang lain, kepada pihak yang diberi jaminan (yaitu nasabah asuransi) pada waktu terjadi musibah atau kepastian bahaya, yang dijelaskan dengan perjanjian, hal itu sebagai ganti angsuran atau pembayaran yang diberikan oleh nasabah kepada perusahaan.3

2. Asuransi, ialah perjanjian yang mengikat diri penanggung sesuai tuntutan perjanjian untuk membayar kepada pihak tertanggung atau nasabah yang memberikan syarat tanggungan untuk kemaslahatannya sejumlah uang atau upah rutin atau ganti harta lainnya pada waktu terjadinya musibah atau terwujudnya resiko yang telah dijelaskan dalam perjanjian. Hal itu diberikan sebagai ganti angsuran atau pembayaran yang diberikan tertanggung kepada penanggung (perusahaan asuransi).4

3. Asuransi, ialah pengikatan diri pihak pertama kepada pihak kedua dengan memberikan ganti berupa uang yang diserahkan kepada pihak kedua atau orang yang ditunjuknya ketika terjadi resiko kerugian yang telah dijelaskan dalam akad. Itu sebagai imbalan dari yang diserahkan pihak kedua berupa sejumlah uang tertentu dalam bentuk angsuran atau yang lainnya.5

Dari ragam definisi di atas, maka dalam asuransi dapat disimpulkan adanya kata sepakat beberapa hal berikut ini.

1.

Adanya ijab dan qabul dari pihak penanggung (al-Muammin</i>) dan tertanggung (<i class="calibre11">al-Muammin lahu).

2.

Obyek yang dituju oleh asuransi.

3.

Tertanggung menyerahkan kepada penanggung (perusahaan asuransi) sejumlah uang, baik secara cash maupun dengan angsuran sesuai kesepakatan kedua belah pihak, yang dinamakan premi.

4.

Penanggung memberikan ganti kerugian kepada tertanggung apabila terjadi kerusakan seluruhnya atau sebagiannya.

Demikian asuransi yang umumnya berlaku, dan dikenal dengan asuransi konvensional (at-Ta'min at-Tijaari) yang dilarang mayoritas ulama dan peneliti masalah kontemporer dewasa ini. Larangan ini juga menjadi ketetapan Majlis Hai`ah Kibar 'Ulama (Majlis Ulama Besar, Saudi Arabia) no. 55, tanggal 4/4/1397 H, dan ketetapan no. 9 Majlis Majma' al-Fiqh dibawah Munazhamah al-Mu'tamar al-Islami (OKI).

6 Juga diharamkan dalam keputusan al-Mu'tamar al-'Alami al-Awal lil-Iqtishad al-Islami di Makkah tahun 1396 H.7 Kemudian, para ulama memberikan solusi dalam masalah asuranis ini. Yaitu dengan merumuskan satu jenis asuransi syariat yang didasarkan kepada akad tabarru'at,8 yang dinamakan at-Ta'min at-Ta'awuni (asuransi ta'awun) atau at-Ta'mien at-Tabaaduli.

_______________________

1. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional, Cetakan Balai Pustaka, 2005, hlm. 73. Lihat juga Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan W.J.S. Purwodarminto, Balai Pustaka, Cetakan ke-8, Tahun 1984, hlm. 63.

2. Lihat Undang-Undang No. 2, Tahun 1992, tentang usaha perasuransian.

3. Lihat tulisan Ustadz Muslim, dalam Rubrik Mabhats, Asuransi dan Hukumnya, edisi ini, halaman …

4. Abhats Hai'at Kibar Ulama, al-Lajnatid-Dâimati lil-Buhûtsil-‘Ilmiyati wal-Iftâ` (4/36).

5. At-Ta'mîn wa Ahkamuhu, oleh al-Tsanayân (hlm. 40). Dinukil dari kitab al-'Uqûd al-Mâliyah al-Murakkabah, Dirasat Fiqhiyah Ta'shiliyah wa Tathbiqiyat, Dr. 'Abdullah bin Muhammad bin 'Abdillah al-'Imrâni, hlm. 288.

6. Al-Fiqhul-Muyassarah, Qismul-Mu'amalat, hlm. 255

7. Fiqhun-Nawâzil, Dirasah Ta'shiliyah Tathbiqiyat (3/267)

8. Akad tabarru` , adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan mencari keuntungan (profit). Lihat Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, No. 21/DSN-MUI/X/2001, tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

<h1>Pengertian Asuransi Ta'awun atau at-Ta'mien at-Ta'awuni</h1>
        <span class="calibre134">

Pengertian Asuransi Ta'awun atau at-Ta'mien at-Ta'awuni

  </span>

Para ulama kontemporer mendefinisikan at-Ta'mien at-Ta'awuni sebagai berikut.

1. Asuransi ta'awun, ialah berkumpulnya sejumlah orang yang memiliki resiko bahaya tertentu. Mereka mengumpulkan sejumlah uang secara berserikat. Sejumlah uang ini dikhususkan untuk mengganti kerugian yang sepantasnya kepada orang yang tertimpa kerugian di antara mereka.

Apabila premi yang terkumpul tidak mencukupi untuk biaya pertanggungan, maka anggota diminta mengumpulkan tambahan untuk menutupi kekurangan tersebut. Sebaliknya, apabila terdapat kelebihan dari yang dikeluarkan untuk pertanggungan, maka setiap anggota berhak meminta kembali kelebihan tersebut. Setiap anggota asuransi ini sebagai penanggung dan tertanggung sekaligus. Asuransi ini dikelola oleh sebagian anggotanya.

Gambaran secara jelas jenis asuransi ini, yaitu seperti halnya bentuk usaha kerjasama dan solidaritas yang tidak bertujuan mencari keuntungan, akan tetapi hanya untuk mengganti kerugian yang menimpa sebagian anggotanya di antara mereka. Mereka membaginya sesuai tata cara yang telah dijelaskan dan disepakati.1

2. Asuransi ta'awun, ialah kerjasama sejumlah orang yang memiliki kesamaan resiko bahaya tertentu untuk mengganti kerugian yang menimpa salah seorang dari anggotanya dengan cara mengumpulkan sejumlah uang, untuk kemudian menunaikan ganti rugi (pertanggungan) ketika terjadi resiko bahaya, sebagaimana yang sudah ditetapkan.2

3. Asuransi ta'awun, ialah berkumpulnya sejumlah orang membuat shunduq (tempat mengumpulkan dana), yang mereka danai dengan angsuran tertentu yang dibayarkan dari setiap anggotanya. Masing-masing anggota mengambil dari shunduq tersebut bagian tertentu (sebagai gantinya, pertanggungan) apabila tertimpa kerugian (bahaya, resiko) tertentu.

4. Asuransi ta'awun, ialah berkumpulnya sejumlah orang yang menanggung resiko bahaya serupa, dan masing-masing memiliki bagian tertentu yang dikhususkan untuk menunaikan ganti rugi yang pantas bagi yang terkena bahaya (resiko).

Apabila bagian yang terkumpul (secara syarikat) tersebut melebihi yang harus dikeluarkan sebagai ganti rugi (pertanggungan), maka anggota memiliki hak untuk meminta kembali. Dan apabila terjadi kekurangan, maka para anggota diminta untuk membayar iuran tambahan untuk menutupi kekurangannya atau ganti rugi yang seharusnya dikurangi sesuai ketidakmampuan tersebut.

Anggota asuransi ta'awun ini tidak bertujuan untuk menggali keuntungan, namun hanya berusaha mengurangi kerugian yang dihadapi sebagian anggotanya, sehingga mereka melakukan akad transaksi untuk saling membantu menanggung musibah yang menimpa sebagian anggotanya.3

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa asuransi ta'awun adalah bergeraknya sejumlah orang yang masing-masing sepakat untuk mengganti kerugian yang menimpa salah seorang dari mereka sebagai akibat resiko bahaya tertentu, dan itu diambil dari iuran, yang setiap dari mereka telah bersepakat membayarnya. Ini adalah akad tabarru' yang bertujuan saling membantu, dan bukan bertujuan untuk perniagaan ataupun mencari keuntungan. Sebagaimana juga bahwa akad ini tidak mengandung riba, tidak bersifat spekulasi, gharar dan perjudian.

Gambaran secara mudah, misalnya ada satu keluarga atau sejumlah orang membuat shunduq, lalu mereka menyerahkan sejumlah uang, yang nantinya, dari sejumlah uang yang terkumpul itu digunakan untuk ganti rugi (sebagai pertanggungan) kepada anggotanya yang mendapatkan musibah (bahaya, resiko).

Apabila uang yang terkumpul tersebut tidak menutupinya, maka menambahkan iuran menutupi kekurangannya. Apabila berlebih setelah ditunaikan ganti rugi (pertanggungan) tersebut, maka dikembalikan lagi kepada masing-masing anggotanya, atau dijadikan modal untuk masa yang akan datang.

Hal ini, mungkin dapat diperluas menjadi sebuah lembaga atau yayasan dengan memiliki petugas yang khusus mengelolanya untuk mendapatkan dan menyimpan uang-uang tersebut, serta mengeluarkannya. Lembaga ini, juga boleh memiliki pengelola yang membuat rencana kerja dan pengaturannya. Semua pekerja, petugas, dan berikut pengelolanya mendapatkan gaji tertentu, atau mereka melakukannya dengan sukarela. Namun semua harus berdasarkan bukan untuk mencari keuntungan (bisnis), dan seluruh sisinya bertujuan untuk ta'awun (saling tolong-menolong).4

Dari sini dapat dijelaskan karekteristik asuransi ta'awun sebagai berikut:

1. Tujuan asuransi ta'awun, ialah murni takaful dan ta'awun (saling tolong-menolong) dalam menutup kerugian yang timbul dari bahaya dan musibah.

2. Akad asuransi ta'awun adalah akad tabarru'. Sebagaimana nampak dalam hubungan antara nasabah (anggotanya), jika dana yang tersedia kurang, maka mereka menambah. Dan bila lebih, mereka pun memiliki hak untuk meminta kembali sisanya.

3. Landasan pemikiran asuransi ta'awun, ialah berdasarkan pada pembagian kerugian bahaya tertentu atas sejumlah orang. Setiap orang memberikan saham dalam membantu menutupi kerugian tersebut di antara mereka. Sehingga seseorang yang ikut serta dalam asuransi ini saling bertukar dalam menanggung resiko bahaya di antara mereka.

4. Pada umumnya, asuransi ta'awun berkembang pada kelompok yang mempunyai ikatan khusus dan telah lama, seperti kekerabatan atau satu pekerjaan (profesi).

5. Pemberian ganti rugi (pertanggungan) atas resiko bahaya yang diambil dari shunduq (simpanan) asuransi yang ada, jika tidak mencukupi maka adakalanya meminta tambahan dari anggota, atau mencukupkan dengan menutupi sebagian kerugian saja.5

1. Abhats Hai'at Kibar Ulama, oleh al-Lajnatid-Dâimati lil-Buhûtsil-‘Ilmiyati wal-Iftâ`. Saudi Arabiya, 4/38

2. Nidzam at-Ta'mîn, Musthafa al-Zarqa`, hlm. 42. Dinukil dari al-'Uqûd al-Mâliyah al-Murakkabah, Dirasat Fiqhiyah Ta'shiliyah wa Tathbiqiyat, hlm. 289

3. Al-Gharar wa Atsaruhu fil-'Uqûd, Dr. Adh-Dharîr, Mathbu'ât Majmu'ah Dalah al-Barakah, Cetakan Kedua, hlm. 638. Dinukil dari makalah Dr. Khalid bin Ibrahim ad-Du'aijî berjudul Ru'yat Syar'iyah fî Syarikat at-Ta'mîn at-Ta'âwuniyah, hlm. 2. Lihat aldoijy@awalnet.net.sa atau www.saaid.net

4. Lihat pembahasannya dalam al-'Uqûd al-Mâliyah al-Murakkabah, Dirasat Fiqhiyah Ta'shiliyah wa Tathbiqiyat, hlm. 291-311

5. Kelima karekteristik ini dapat dilihat dalam kitab al-'Uqûd al-Mâliyah al-Murakkabah, Dirasat Fiqhiyah Ta'shiliyah wa Tathbiqiyat, hlm. 290-291

<h1>Perbedaan Antara Asuransi Ta'awun dan Asuransi Konvensional</h1>
        <span class="calibre134">

Perbedaan Antara Asuransi Ta'awun dan Asuransi Konvensional

Dari karekteristik diatas dan definisi yang disampaikan para ulama kontemporer tentang asuransi ta'awun dapat dijelaskan perbedaan antara asuransi ini dengan yang konvensional.1 Diantaranya:

1. Asuransi ta'awun termasuk akad tabarru yang tujuannya murni takaful dan ta'awun (saling tolong-menolong) dalam menutup kerugian yang timbul dari bahaya dan musibah. Sehingga premi dari anggotanya bersifat hibah (tabarru).

Ini berbeda dengan asuransi konvensional yang memiliki maksud mencari keuntungan berdasarkan akad al-mu'awwadhah al-ihtimaliyah (bisnis oriented dan bersifat spekulatif).

2. Pemberian ganti rugi atas (pertanggungan) resiko bahaya dalam asuransi ta'awun, diambil dari jumlah premi yang ada di dalam shunduq (simpanan) asuransi. Apabila tidak mencukupi, maka adakalanya meminta tambahan dari anggotanya, atau mencukupkan hanya dengan menutupi sebagian kerugian saja. Sehingga tidak ada keharusan menutupi seluruh kerugian yang ada bila anggota tidak sepakat menutupi seluruhnya.

Adapun dalam asuransi konvensional yang mengikat diri untuk menutupi seluruh kerugian yang ada (sesuai kesepakatan) sebagai ganti premi asuransi yang dibayar tertanggung. Hal ini menyebabkan perusahaan asuransi mengikat diri untuk menanggung semua resiko sendiri tanpa adanya bantuan dari nasabah lainnya. Oleh karena itu, tujuan akadnya ialah mencari keuntungan, namun keuntungannya tidak bisa untuk kedua belah pihak. Bahkan apabila perusahaan asuransi tersebut memperoleh keuntungan, maka nasabah (tertanggung) merugi. Begitu pula sebaliknya, bila nasabah (tertanggung) memperoleh keuntungan, maka perusahaan (pihak penanggung) itulah yang merugi. Yang demikian ini termasuk dalam kategori memakan harta dengan cara batil, karena keuntungan yang diperoleh oleh salah satu pihak berada di atas kerugian pihak lainnya.

3. Dalam asuransi ta'awun, seluruh nasabah tolong-menolong menunaikan ganti rugi yang harus dikeluarkan, dan pembayaran ganti rugi sesuai dengan dana yang tersedia, dan juga dari peran para anggotanya.

Adapun menurut asuransi konvensional, bisa jadi perusahaan asuransi tidak mampu membayar ganti rugi (pertanggungan) kepada nasabahnya apabila melewati batas ukuran (jumlah) yang telah ditetapkan perusahaan untuk dirinya.

4. Asuransi ta'awun tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan dari selisih premi yang dibayar dari ganti rugi yang dikeluarkan. Bahkan bila ada selisih (sisa) dari pembayaran klaim, maka dikembalikan kepada anggota (tertanggung). Sedangkan dalam perusahaan asuransi konvensional, sisa tersebut menjadi milik perusahaan asuransi (penanggung).

5. Penanggung (al-Mu`ammin) dalam asuransi ta'awun adalah tertanggung (al-Mu`ammin lahu) sendiri. Sedangkan dalam asuransi konvensional, penanggung (al-Mu`ammin) adalah pihak luar.

6. Dalam asuransi ta'awun, premi yang dibayarkan tertanggung digunakan untuk kebaikan mereka seluruhnya. Karena tujuan asuransi ta'awun bukan untuk mencari keuntungan, namun dimaksudkan untuk menutupi ganti kerugian dan biaya operasinol perusahaan asuransi saja.

Sedangkan dalam asuransi konvensional, premi tersebut digunakan untuk kemaslahatan perusahaan dan mendapatkan keuntungan. Karena tujuan dari usaha asuransi ini untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari pembayaran premi para nasabahnya.

7. Asuransi ta'awun terbebas dari riba, spekulasi, dan perjudian serta gharar yang terlarang. Adapun asuransi konvensional, usaha yang dilakukannya tidak lepas dari hal-hal tersebut.

8. Dalam asuransi ta'awun, hubungan antara nasabah dengan perusahaan asuransi ta'awun memiliki asas-asas berikut.

a. Pengelola perusahaan asuransi ta'awun melaksanakan managemen operasional asuransi, berupa menyiapkan surat tanda keanggotaan (watsiqah), mengumpulkan premi, mengeluarkan klaim (ganti rugi) dan selainnya. Dari pengelolaannya itu, ia mendapatkan gaji tertentu secara jelas. Karena, mereka menjadi pengelola operasional asuransi dan ditulis secara jelas jumlah gajinya tersebut.

b. Pengelola perusahaan diijinkan untuk membentuk perusahaan, dan juga memiliki kewenangan mengembangkan harta asuransi yang diserahkan para nasabahnya. Dengan ketentuan, mereka berhak mendapatkan bagian keuntungan dari pengembangan harta asuransi itu sebagai mudhârib (pengelola pengembangan modal dengan mudhârabah).

c. Perusahaan memiliki dua hitungan yang terpisah. Pertama, dalam hal pengembangan modal perusahaan asuransi. Kedua, perhitungan harta asuransi dan sisa harta asuransi yang murni menjadi milik nasabah (pembayar premi).

d. Pengelola perusahaan bertanggung jawab sebagai mudhârib dalam pengelolaan yang berhubungan dengan pengembangan modal sebagai imbalan bagian keuntungan mudharabah, sebagaimana juga bertanggung jawab pada semua pengeluaran kantor asuransi sebagai imbalan gaji pengelolaan yang menjadi haknya.2

Adapun menurut asuransi konvesional, hubungan antara nasabah dengan perusahan asuransi dalam hal pengelolaan harta nasabah, bahwa semua premi yang dibayar nasabah (tertanggung) menjadi harta milik perusahaan yang dicampur dengan modal perusahaan sebagai imbalan pembayaran klaim asuransi. Sehingga tidak ada dua hitungan yang terpisah.

9. Nasabah dalam perusahaan asuransi ta'awun dianggap sebagai anggota syarikat yang memiliki hak terhadap keuntungan dari usaha pengembangan modal mereka.

Sedangkan dalam asuransi konvensional, para nasabah tidak dianggap sebagai syarikat, sehingga sama sekali tidak berhak memperoleh keuntungan pengembangan modal mereka, dan perusahan sendirilah yang mengambil seluruh keuntungan yang ada.

10. Perusahaan asuransi ta'awun tidak mengembangkan hartanya pada hal-hal yang diharamkan.

Sedangkan asuransi konvensional tidak memperdulikan halal dan haram dalam pengembangan hartanya.

Demikianlah beberapa perbedaan yang ada. Mudah-mudahan semakin memperjelas permasalahan asuransi ta'awun ini. Wabillahit-taufiq.


1. Lihat makalah Dr. Khalid bin Ibrahim ad-Du'aijî berjudul Ru'yat Syar'iyah fî Syarikat at-Ta'mîn at-Ta'âwuniyah (hlm 2-3), al-'Uqûd al-Mâliyah al-Murakkabah, Dirasat Fiqhiyah Ta'shiliyah wa Tathbiqiyat (hlm. 290-291), dan al-Fiqhul-Muyassarah, Qismul-Mu'amalat (hlm. 255-256)

2. Keputusan Nadwah al-Barkah ke-12 dalam sebuah forum simposium untuk ekonomi Islam. Lihat Qararat wa Taushiyat Nadwah al-Barkah lil-Iqtishad al-Islami, Tahun 1422H, hlm. 212

<h1>Maraji' (Sumber Rujukan)</h1>
        <p><span class="calibre134"><span><span class="calibre135">

Maraji' (Sumber Rujukan)

1. Abhats Hai'ah Kibar Ulama, disusun oleh al-Lajnatid-Dâimati lil-Buhûtsil-‘Ilmiyati wal-Iftâ`, KSA.

2. Al-Fiqhul-Muyassarah, Qismul-Mu'amalat, Prof. Dr. 'Abdullah bin Muhammad ath-Thayâr, Prof. Dr. 'Abdullah bin Muhammad al-Muthliq, dan Dr. Muhammad bin Ibrahim Alumusa, Madar al-Wathani lin-Nasyr, Riyadh, KSA, Cetakan Pertama, Tahun 1425H.

3. Al-'Uqûd al-Mâliyah al-Murakkabah, Dirasat Fiqhiyah Ta'shiliyah wa Tathbiqiyat, Dr. 'Abdullah bin Muhammad bin 'Abdillah al-'Imrâni, Dar Kunûz Isybiliyâ, KSA, Cetakan Pertama, Tahun 2006M.

4. Fiqhun-Nawâzil, Dirasah Ta'shiliyah Tathbiqiyat, Dr. Muhammad bin Husain al-Jizâni, Dar Ibnul-Juazi, Cetakan Pertama, Tahun 1426H.

5. Ru'yat Syar'iyah fî Syarikat at-Ta'mîn at-Ta'âwuniyah, makalah Dr. Khalid bin Ibrahim al-Du'aijî. Lihat aldoijy@awalnet.net.sa atau www.saaid.net

Fatwa-fatwa Seputar Asuransi

<h1>Diantara Hukum Asuransi</h1>
  <p><span class="calibre258"><span class="calibre9"><strong><em> </em> <img alt="" height="72" hspace="155" src="image-3.gif" width="455" class="calibre12"/> 
  </strong> </span></span></p>

Pusat Download eBook Islam

DIANTARA HUKUM ASURANSI Lajnah Daimah

Pertanyaan:
Akhir-akhir ini banyak bermunculan perusahaan-perusahaan asuransi dan masing-masing mengklaim memiliki fatwa yang mem-bolehkan asuransi. Sebagian perusahaan itu mengungkapkan, bahwa uang yang anda bayarkan untuk asuransi mobil anda akan dikembalikan kepada anda hanya dengan menjualnya. Bagaimana hukum praktek itu? Semoga Allah memberi anda kebaikan.

Jawaban:

Asuransi ada dua macam. Majlis Hai'ah Kibaril Ulama telah mengkajinya sejak beberapa tahun yang lalu dan telah mengeluarkan keputusan. Tapi sebagian orang hanya melirik bagian yang dibolehkannya saja tanpa memperhatikan yang haramnya, atau menggunakan lisensi boleh untuk praktek yang haram sehingga masalahnya menjadi tidak jelas bagi sebagian orang.

Asuransi kerjasama (jaminan sosial) yang dibolehkan, seperti; sekelompok orang membayarkan uang sejumlah tertentu untuk shadaqah atau membangun masjid atau membantu kaum fakir. Banyak orang yang mengambil istilah ini dan menjadikannya alasan untuk asuransi komersil. Ini kesalahan mereka dan pengelabuan terhadap manusia.

Contoh asuransi komersil; seseorang mengasuransikan mobilnya atau barang lainnya yang merupakan barang import dengan biaya sekian dan sekian. Kadang tidak terjadi apa-apa sehingga uang yang telah dibayarkan itu diambil perusahaan asuransi begitu saja. Ini termasuk judi yang tercakup dalam firman Allah سبحانه و تعالى,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


"Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan." (Al-Ma'idah: 90).

Kesimpulannya, bahwa asuransi kerjasama (jaminan bersama atau jaminan sosial) adalah sejumlah uang tertentu yang dikumpulkan dan disumbangkan oleh sekelompok orang untuk kepentingan syari'i, seperti; membantu kaum fakir, anak-anak yatim, pembangunan masjid dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Berikut ini kami cantumkan untuk para pembaca naskah fatwa al-Lajnah ad-Da'imah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta (Komite tetap untuk riset ilmiah dan fatwa) tentang asuransi kerjasama (jaminan bersama):

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, para keluarga dan sahabatnya, amma ba'du.

Telah dikeluarkan keputusan dari Hai'ah Kibaril Ulama tentang haramnya asuransi komersil dengan semua jenisnya karena mengandung mudharat dan bahaya yang besar serta merupakan tindak memakan harta orang lain dengan cara perolehan yang batil, yang mana hal tersebut telah diharamkan oleh syariat yang suci dan dilarang keras. Lain dari itu, Hai'ah Kibaril Ulama juga telah mengeluarkan keputusan tentang bolehnya jaminan kerjasama (asuran kerjasama) yaitu yang terdiri dari sumbangan-sumbangan donatur dengan mak-sud membantu orang-orang yang membutuhkan dan tidak kembali kepada anggota (para donatur tersebut), tidak modal pokok dan tidak pula labanya, karena yang diharapkan anggota adalah pahala Allahسبحانه و تعالى dengan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan, dan tidak mengharapkan timbal balik duniawi. Hal ini termasuk dalam cakupan firman Allah سبحانه و تعالى,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُحِلُّواْ شَعَآئِرَ اللّهِ وَلاَ الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلاَ الْهَدْيَ وَلاَ الْقَلآئِدَ وَلا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُواْ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُواْ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (Al-Ma'idah: 2).

Dan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم,

وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا دَامَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ

"Dan Allah akan menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya." (HR. Muslim, kitab adz-Dzikr wad Du'a wat Taubah (2699).

Ini sudah cukup jelas dan tidak ada yang samar.

Tapi akhir-akhir ini sebagian perusahaan menyamarkan kepada orang-orang dan memutar balikkan hakekat, yang mana mereka menamakan asuransi komersil yang haram dengan sebutan jaminan sosial yang dinisbatkan kepada fatwa yang membolehkannya dari Hai'ah Kibaril Ulama. Hal ini untuk memperdayai orang lain dan memajukan perusahaan mereka. padahal Hai'ah Kibaril Ulama sama sekali terlepas dari praktek tersebut, karena keputusannya jelas-jelas membedakan antara asuransi komersil dan asuransi sosial (bantuan). Pengubahan nama itu sendiri tidak merubah hakekatnya.

Keterangan ini dikeluarkan dalam rangka memberikan penjelasan bagi orang-orang dan membongkar penyamaran serta mengungkap kebohongan dan kepura-puraan. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم , kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya.

Rujukan:
Bayan min Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta haula at-Ta'min at-Tijari wat Ta'min at-Ta'awuni.

Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.

Kategori: Mahasiswa - Pekerja
Sumber: http://fatwa-ulama.com



Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com


Hukum Asuransi Konvensional

Hukum Asuransi Konvensional

Soal:

Bagaimanakah hukum syariat tentang asuransi konvensional, terutama asuransi kendaraan?

Jawab:

Syaikh Abdur-Rahman al-Jibrin menjawab:

Hukum ta'min tijari (asuransi konvensional yang berorientasi profit) tidak diperbolehkan berdasarkan hukum syariat. Dasarnya, yaitu firman Allah عزّوجلّ dalam Al-Qur'an surat al-Baqarah/2 ayat 188. Sebab, pihak syarikah (perusahaan) asuransi telah memakan harta masyarakat (kaum Mukminin) tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Demikian ini lantaran seorang nasabah menyetor sejumlah tertentu untuk membayar premi setiap bulannya. Mungkin saja, total pengumpulan yang telah ia bayarkan mencapai puluhan ribu riyal (puluhan juta rupiah, Red.). Sementara itu, ia sama sekaii tidak membutuhkan perbaikan apapun (bagi kendaraannya) selama bertahun-tahun, tanpa ada wujud pengembalian dari uangnya.

Sebaliknya, orang lain hanya membayar sejumlah premi yang tidak banyak. Kemudian ia mengalami kecelakaan. Oleh sebab itu, pihak perusahaan asuransi menanggung biaya yang berlipat lipat dari apa yang dibayarkan si nasabah tersebut. Dengan ini, ia telah memakan (menikmati) keuangan perusahaan tanpa alasan yang dibenarkan.

Ditambah lagi, orang-orang yang membayar premi asuransi ke sebuah perusahaan asuransi (para nasabah), mereka telah berbuat sembrono, menantang bahaya, dan mengarahkan diri mereka pada ancaman kecelakaan, kencang dalam berkendara, dengan dalih "perusahaan asuransinya sangat kuat, akan membayar ganti rugi akibat kecelakaan bila terjadi".

Anggapan semacam ini mengandung bahaya bagi para penduduk lainnya, dalam bentuk tingginya tingkat kecelakaan lalu-lintas dan korban jiwa. Wallahu a'lam.

Fatawa al-Lu'lu-il Makin min Fatawa Ibni Jibrin,

dari Fatawa Ulama al Baladil-Haram,

Penyusun: Dr. Khalid bin 'Abdir-Rahman al-Juraisi,

Cetakan I, Tahun 1420H-1999M, hlm. 190-191.

Disalin Majalah as-Sunnah Ed. 08 Thn. XI_1428H/2007M, hal.35-36

<h1>Hukum Asuransi Jiwa dan Barang</h1>
        <p>

Hukum Asuransi Jiwa dan Barang

Soal:

Bagaimana hukumnya asuransi jiwa dan barang-barang pribadi?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Hukum asuransi jiwa tidak boleh. Sebab, orang yang mengasuransikan jiwanya, saat maut datang, ia tidak bisa mengalihkannya kepada perusahaan asuransi. Ini merupakan wujud kesalahan, kebodohan dan kekeliruan berpikir. Juga mengandung ketergantungan kepada pihak perusahaan asuransi, tidak kepada Allah عزّوجلّ. Dengan asuransinya, ia mempunyai keyakinan untuk bergantung diri. Jika ia meninggal, maka pihak asuransi akan menanggung kebutuhan pangan dan biaya hidup bagi keluarganya. (Demikian) ini merupakan bentuk ketergantungan kepada selain Allah عزّوجلّ.

Perkara ini, pada dasarnya berasal dari praktek perjudian (al-maisir). Bahkan sebenarnya, asuransi itu merupakan perjudian. Allah عزّوجلّ menyatukan al-maisir dengan syirik, dan mengundi nasib dengan anak panah dan minuman keras.

Dalam pengelolaan asuransi, jika seorang nasabah membayar premi, bisa jadi ia melakukannya dalam jangka waktu tahunan, sehingga ia menjadi pihak yang merugi. Bila meninggal setelah tidak berapa lama membayar, maka pihak perusahaan asuransi yang merugi (karena membayar klaim nasabah). Dan setiap akad perjanjian yang berputar antara untung dan rugi, merupakan praktek perjudian.[]

Majmu Durus Fatawa al-Haramil-Makki,

dari Fatawa Ulama al Baladil-Haram,

Penyusun: Dr. Khalid bin 'Abdir-Rahman al-Juraisi,

Cetakan I, Tahun 1420 H-1999 M, hlm. 660, 192.

Disalin Majalah as-Sunnah Ed. 08 Thn. XI_1428H/2007M, hal.36-37

<h1>Hukum Asuransi Barang Hak Milik</h1>
        <p>

Hukum Asuransi Barang Hak Milik

Soal:

Saya pernah mendengar dari sejumlah orang bahwa seseorang bisa mengansuransikan barang-barang yang ia miliki. Pada waktu terjadi kerusakan barang-barang yang diasuransikan itu, pihak perusahaan asuransi akan membayar ganti rugi bagi barang-barang yang mengalami kerusakan. Saya mohon Syaikh bersedia menjelaskan hukum asuransi. Apakah ada asuransi yang diperbolehkan oleh agama, dan adakah yang terlarang?

Jawab:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab:

Asuransi, artinya seseorang membayar premi pada setiap bulannya kepada perusahaan asuransi, yang ditujukan untuk mendapatkan jaminan dari perusahaan asuransi tersebutjika terjadi kecelakaan pada barang yang diasuransikan. Teiah diketahui bersama, bahwa nasabah asuransi selalu merugi dalam kondsi apapun. Adapun perusahaan asuransi, terkadang dapat meraih keuntungan, tetapi juga mungkin mengalami kerugian. Maksudnya, jika kerusakan yang terjadi besar, melebihi premi yang dibayarkan nasabah, maka perusahaan menjadi pihak yang merugi. Jika kerusakaan hanya kecil saja, sehingga biaya perbaikan lebih kecil dari nominal yang dibayarkan nasabah, atau sama sekali tidak terjadi kecelakaan, maka pihak perusahaan meraup keuntungan, sedangkan nasabah tak mendapatkan apapun.

Jenis transaksi semacam ini -maksud saya- yang menempatkan seseorang sebagai spekulan, bisa menjadi pihak yang memperoleh keuntungan dan bisa juga mengalami kerugian, termasuk dalam kategori al-maisir (perjudian) yang diharamkan oleh Allah is dalam Kitab-Nya. Allah m telah menyandingkannya dengan pengharaman khamr dan menyembah berhala.

Bertolak dari keterangan ini, maka jenis asuransi tersebut hukumnya haram. Saya belum mengetahui jenis asuransi yang berlandaskan tipu daya yang hukumnya diperbolehkan. Bahkan semua jenis asuransi hukumnya haram berdasarkan hadits Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang jual beli yang mengandung unsur tipu daya.1[]

Dikutip dari Fatawa Ulama al Baladil-Haram,

Penyusun: Dr. Khalid bin 'Abdir-Rahman al-Juraisi,

Cetakan I, Tahun 1420 H - 1999 M, hlm. 661.

Disalin Majalah as-Sunnah Ed. 08 Thn. XI_1428H/2007M, hal.37-38


1. HR. Muslim kitabul buyuu' 1513

<h1>MLM Bolehkah?!</h1>

MULTI LEVEL MARKETING BOLEHKAH?

Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA حفظه الله

Publication : 1435 H / 2014 M

MLM BOLEHKAH?
Oleh : Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA حفظه الله
Dinukil dari buku Harta Haram Muamaat Kontemporer, cet. ke-5, hal 299-308.

  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Sumber: Majalah Al-Furqon, No. 142 Ed. 6 Th 
  ke-13_1435/2013 <br class="calibre17"/></span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">e-Book 
  ini didownload dari </span></span></span><span class="calibre76"><span class="calibre56">www.ibnumajjah.com</span></span></p>
<h1>Muqoddimah</h1>
        <p>

MUQODDIMAH

Multi Level Marketing yang lebih dikenal dengan MLM adalah: Sebuah sistem penjualan langsung, di mana barang dipasarkan oleh para konsumen langsung dari produsen. Para konsumen yang sekaligus memasarkan barang mendapat imbalan bonus. Bonus tersebut diambil dari keuntungan setiap pembeli yang dikenalkan oleh pembeli pertama berdasarkan ketentuan yang diatur.1

Karena dipercaya dapat memberikan keuntungan yang cukup besar kepada perusahaan, dewasa ini, berbagai jenis barang marak dipasarkan dengan menggunakan marketing (pemasaran) pola MLM: perhiasan, program komputer, minuman suplemen, kosmetik, kaset-kaset islami, dan lain-lain.

Semenjak pemasaran barang pola MLM masuk ke negeri-negeri Islam para ulama telah berbeda pendapat tentang hukumnya.


1. Al-Taswiq al-Tijari wa Ahkamuhu fi al-Fiqh al-Islami karya Dr. Husain Syahrani hlm. 502.

<h1>Pendapat Pertama</h1>
        <p>

Pendapat Pertama:
MLM HUKUMNYA MUBAH (BOLEH)

Ini merupakan pendapat Lembaga Fatwa al-Azhar, Mesir. Alasannya, karena dianggap sama dengan samsarah (perantara antara penjual dan pembeli/calo).

Berikut teks soal-jawab tentang perusahaan "BIZNAS", salah satu perusahaan program komputer di Timur Tengah yang berdiri pada tahun 2001, berpusat di Kesultanan Oman, yang menggunakan sistem MLM dalam memasarkan produknya. Pada tahun 2008, perusahaan ini telah memiliki 110.000 anggota yang tersebar di 50 negara.

Soal: Sebuah perusahaan yang berpusat di Oman baru membuka cabang di Mesir, bernama "BIZNAS". Perusahaan ini menjual program panduan belajar komputer, mencakup program panduan menggunakan komputer, internet, panduan servis komputer, dan program-program pembelajaran lainnya, selalu dimutakhirkan (update) melalui situs resmi perusahaan, dijual seharga $90.

Pada saat pembelian produk, pembeli memperoleh program atau dapat menjualnya kembali. Selain itu, dia mendapat kesempatan untuk bergabung dalam jaringan untuk meraih keuntungan dengan cara memasarkan barang kepada orang-orang terdekat. Karena dia telah berusaha meyakinkan pihak lain untuk membeli produk dan juga telah membeli produk dan juga dia melatih orang-orang yang membeli produk melaluinya untuk menggunakan produk dan memasarkan ke pihak lain. Pada saat ia mendapatkan 9 orang pembeli produk baik langsung maupun tidak, dengan syarat 2 orang pembeli produk langsung melaluinya maka perusahaan akan memberikan bonus sebagai motivasi agar terus memasarkan produk dan dia akan terus menerima bonus selama orang membeli produk melalui jaringannya.

Pertanyaan saya, apakah boleh menerima bonus sebagai imbalan atas usaha memasarkan barang serta melatih para pembeli baru?

Jawab: Setelah menelaah pertanyaan yang disampaikan maka dewan memutuskan, "Usaha yang dilakukan yaitu: sebagai perantara antara produsen dan konsumen untuk memasarkan barang. Usaha ini termasuk samsarah. Dan samsarah sebagaimana dijelaskan oleh para ahli fikih: bahwa apabila tidak terdapat penipuan, kezaliman, atau menjelaskan barang tidak sesuai dengan hakikatnya pada saat memasarkan barang/jasa maka uang hasil usaha sebagai perantara halal dan sama sekali tidak ada keraguan."

<h1>Tanggapan</h1>
        <p>

Fatwa ini ditanggapi oleh banyak para peneliti ekonomi Islam.

Menurut Dr. Husain Syahrani dalam disertasinya yang diajukan ke Fakultas Syariah, Universitas Islam al-Imam Saud, Riyad, Arab Saudi yang berjudul "al-Taswiq al-Tijari wa Ahkamuhufi al-Fiqh al-Islami" bahwa fatwa ini tidak berarti membolehkan sistem MLM secara mutlak, disebabkan beberapa hal:

a. Fatwa tersebut berdasarkan deskripsi yang disampaikan penanya tanpa mengkaji ulang secara langsung sistem yang digunakan perusahaan yang bersangkutan, sebagaimana dijelaskan pada pembukaan fatwa.

Padahal, kalau penanya menjelaskan hal-hal yang dapat memengaruhi hukum MLM kemungkinan fatwanya berbunyi lain, seperti bahwa pembelian produk merupakan syarat untuk dapat memasarkan barang dan meraih bonus, lalu tujuan utama orang membeli produk untuk ikut MLM adalah meraih bonus yang dijanjikan, perbandingan bonus yang dijanjikan sangat jauh dibandingkan dengan harga produk dan usahanya memasarkan barang.

Misalnya, BIZNAS menjanjikan bonus sebanyak lima puluh ribu Dolar ($50.000) Amerika di akhir tahun, padahal harga produk tidak lebih dari $99,- dengan perbandingan 0,3% harga produk dan bonus 99,7% ini pasti membuat setiap orang yang membeli produk serta ikut jaringan bertujuan mendapatkan bonus dan bukan menginginkan produk, karena ternyata program-program yang dijual oleh BIZNAS dapat diperoleh dari beberapa situs di internet secara gratis, serta usahanya untuk meraih bonus hanya cukup memasarkan produk kepada dua orang di bawah tingkatan, kemudian dua orang di bawah mencari dua orang lagi dan seterusnya.

Juga tidak dijelaskan dalam pertanyaan bahwa untuk mendapatkan bonus disyaratkan bahwa 9 penjualan harus berasal dari downline jalur kiri-kanan seimbang, 5 penjualan dari downline kanan dan 4 dari kiri atau 6-3, jika seluruh penjualan hanya dari satu jalur saja maka bonus gagal diperoleh sekalipun ribuan penjualan.

b. Fatwa ini tidak membolehkan secara mutlak akan tetapi berkait, yaitu tidak terdapat penipuan, kecurangan, dan kezaliman dalam memasarkan produk.

Persyaratan ini tidak terpenuhi dalam praktik MLM. Sebab, kenyataannya, pada saat memasarkan produk dan sekaligus merekrut downline selalu dipenuhi kecurangan, penipuan, dan kezaliman, di mana upline menjanjikan bonus yang sangat besar kepada calon pembeli, padahal yang mendapatkan bonus itu hanya 6% saja dari seluruh anggota. Ini namanya spekulasi tingkat tinggi (judi), dengan janji itu pembeli bersedia membeli produk yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan harga sebenarnya, bahkan produk BIZNAS dapat diperoleh secara gratis, ini adalah kezaliman dan kecurangan dalam penjualan produk.

c. Fatwa yang menganggap MLM sama dengan samsarah (calo) tidaklah tepat, karena terdapat perbedaan yang mendasar antara MLM dan samsarah:1 (lihat tabel)

  <p><b class="calibre10"><span lang="IN" class="calibre50">Samsarah 
  (calo/makelar)</span></b></p>
  <p><b class="calibre10"><span lang="IN" class="calibre50">MLM</span></b></p>
  <p><span lang="IN" class="calibre50">Untuk 
  menjadi perantara tidak disyaratkan harus membeli produk terlebih 
  dahulu.</span></p>
  <p><span lang="IN" class="calibre50">Untuk 
  menjadi anggora MLM diharuskan membeli produk. Ini termasuk dalam larangan 
  Nabi </span><span dir="rtl" lang="AR-SA" class="calibre51">صلى الله عليه وسلم</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span lang="IN" class="calibre50"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>, dua jual beli dalam satu jual beli, 
  yaitu: untuk bisa memasarkan barang dia harus melakukan (1 akad ijarah) 
  dan dia harus membeli barang (1 akad bai').</span></p>
  <p><span lang="IN" class="calibre50">Perantara 
  (agen) mendapat imbalan dari setiap barang yang dijualnya kepada siapa 
  pun.</span></p>
  <p><span lang="IN" class="calibre50">Dalam 
  MLM, seseorang mendapat bonus jika menjual barang kepada dua orang 
  kemudian dua orang itu menjual barang lagi kepada dua orang, dan begitu 
  seterusnya. Jika persyaratan ini tidak terpenuhi maka bonus tidak akan 
  didapat.</span></p>
  <p><span lang="IN" class="calibre50">Upah 
  yang diterima oleh perantara jelas jumlahnya baik dengan cara persentase 
  harga barang ataupun dengan cara penetapan.</span></p>
  <p><span lang="IN" class="calibre50">Upah 
  (bonus) yang akan diterima oleh penjual produk MLM tidak jelas dan ini 
  termasuk gharar (spekulasi).</span></p>


Tabel 1. Perbedaan mendasar antara MLM dan samsarah

1. Ibid. hlm. 525-528.

<h1>Pendapat Kedua</h1>
        <p>

Pendapat Kedua:
MLM HUKUMNYA TIDAK BOLEH (HARAM)

Ini merupakan pendapat mayoritas para ulama kontemporer, juga fatwa Dewan Ulama Kerajaan Arab Saudi, keputusan Lembaga Fikih Islam di Sudan, dan fatwa Pusat Kajian dan Penelitian al-Imam al-Albani Yordania.

Menurut Dr. Sami al-Suwailim (Direktur Pengembangan Keuangan Islam di Islamic Development Bank, Jeddah dan mantan anggota Dewan Syariah Bank Al-Rajhi, Riyad) dalam sebuah penelitiannya mengatakan bahwa MLM adalah perpanjangan dari Pyramid Scheme/ Letter Chain (pengiriman uang secara berantai) yang berasal dari Amerika.

Tatkala pemerintah setempat [Amerika] melarang praktik ini karena dianggap sebagai penipuan maka sistem ini dikembangkan dengan memasukkan unsur barang/ produk agar mendapat legalitas dari pemerintah.

Sangat ironis, jika saja negara yang menganut sistem liberal dalam ekonominya—menghalalkan riba dan judi—telah melarang praktik ini, kenapa juga ulama Islam masih ragu-ragu menjatuhkan hukum praktik ini.

<h1>Ide Asas Kerja MLM</h1>
        <p>

Ide asas kerja MLM adalah sebagai berikut:

A menyerahkan uang sebanyak $100 kepada sebuah perusahaan dengan harapan mendapatkan bonus yang jauh lebih besar dari nominal uang yang dibayar ke perusahaan tersebut. Agar A mendapat bonus, dia harus mencari dua orang yang mau menyerahkan uang $100 kepada sebuah perusahaan itu untuk menutupi uang A $100 dan agar dapat bonus serta sisanya merupakan laba bagi perusahaan pengelola.

Kemudian B dan C yang telah membayar masing-masing $100 ke perusahaan melalui perantara A agar uangnya kembali dan mendapat bonus masing-masing harus mencari dua orang yang mau menyerahkan uang $100.

Maka jumlah orang pada level ini empat orang, begitulah seterusnya hingga skema piramida ini membesar, di mana jumlah peserta di tingkat bawah lebih banyak daripada jumlah tingkat atas.

Yang pasti, semakin lama berjalan maka semakin susah untuk merekrut orang baru yang mau menyerahkan uangnya kepada perusahaan pengelola dan pada suatu saat sampai pada kondisi stagnan, tidak bergerak. Maka dapat dipastikan orang-orang yang berada pada tingkat akhir mengalami kerugian dan jumlah anggota pada tingkat ini adalah peserta terbanyak.

Ini adalah sebuah penipuan, yaitu: memberikan keuntungan untuk sedikit orang dan merugikan orang banyak. Dalam hitungan matematika, persentase anggota yang mengalami kerugian mencapai 94% sedangkan anggota level atas yang meraih keuntungan hanyalah 6% saja. Ini sangat jelas merupakan penipuan.

Oleh karena itu, pemerintah Amerika telah melarang praktik Pyramid Scheme. Namun, agar sistem ini dapat diakui oleh pemerintah maka pihak pengelola memasukkan produk sebagai kedok. Dan namanya di ubah menjadi Multi Level Marketing, Direct Selling, dan lain-lain.1

Hukum Pyramid Scheme jelas haram karena mengandung unsur riba ba'i, yaitu: menukar uang sejenis dengan cara tidak tunai dan tidak sama nominalnya, juga mengandung unsur gharar, yaitu: saat seseorang bergabung dengan sebuah jaringan Pyramid Scheme dia tidak tahu apakah uang yang telah dibayarkannya akan kembali ditambah bonus karena dia berada di tingkat atas, atau uang dan bonusnya hilang karena statusnya berada pada tingkat bawah.

Bila hukum ini telah disepakati maka selanjutnya yang perlu dikaji, apakah penyertaan sebuah barang/ produk ke dalam sistem ini dapat mengubah hukum MLM menjadi halal atau tidak?


1. Dr. Sami al-Suwailim dalam konsultasi syariah di http://www.islamtoday.com

<h1>Tujuan Bergabung dengan MLM</h1>
        <p>

Seseorang yang bergabung dengan MLM ada tiga macam:

a. Seseorang yang murni bertujuan untuk menjadi perantara antara produsen dan konsumen (agen) dengan sistem MLM.

Perantara ini tidak dapat menjualkan produk sebagaimana layaknya perantara dalam sistem marketing biasa, yaitu barang diambil terlebih dahulu berdasarkan kepercayaan kemudian ia mendapat upah sekian persen dari hasil penjualan. Akan tetapi, ia diharuskan terlebih dahulu membeli salah satu produk tersebut.

Proses ini jelas dilarang dalam Islam karena terdapat dua akad dalam satu akad.

Dan tujuan di balik persyaratan perantara harus membeli salah satu produk terlebih dahulu perlu dicermati karena persyaratan ini merupakan indikasi kuat bahwa produk hanya sebatas kedok untuk melegalkan Pyramid Scheme. Sebab, bila ia hanya sebatas perantara tanpa membeli produk maka mata rantai Pyramid Scheme akan terputus. Dengan demikian, pengelola jaringan akan mengalami kerugian karena bonus yang diberikan jauh lebih besar daripada hasil penjualan barang.

b. Seseorang yang bertujuan membeli produk saja tanpa ambil peduli dengan bonus yang dijanjikan perusahaan MLM karena ia merasa cocok dengan produknya.

Maka konsumen ini sesungguhnya telah tertipu karena harga jual yang telah ditetapkan oleh perusahaan lebih dari 60% dianggarkan untuk pemberian bonus. Hal ini disepakati oleh seluruh perusahaan MLM. Maka pembeli yang hanya membeli barang saja dia telah tertipu karena harus membayar 60% dari harga barang untuk bonus orang-orang dalam jaringan, pa-dahal ia membeli produk langsung dari tangan per-tama.

Berbeda dengan harga barang yang sampai ke tangannya melalui sistem marketing biasa sekalipun termasuk biaya agen dan iklan, jika ia memotong jalur perantara maka dia dapat memperoleh potongan harga. Persentase lebih dari 60 untuk bonus dan kurang dari 40 untuk biaya produksi barang jelas bahwa status barang hanyalah sebagai kedok untuk melegalkan Pyramid Scheme, di mana yang diinginkan adalah uang dan bukan barang.

c. Seseorang yang ikut bergabung dalam MLM dengan tujuan bonus. Karena, bonus yang dijanjikan untuk tahun pertama saja sangat besar dan jauh dibanding harga barang yang dipasarkan kepada kedua orang yang sekaligus merupakan downline-nya.

Dan tujuan ini merupakan tujuan utama mayoritas orang-orang yang bergabung dalam MLM, yaitu memperoleh bonus puluhan juta rupiah. Dan mereka sama sekali tidak menghiraukan produk yang dijual dan di-belinya. Dalam kasus ini jelas bahwa barang hanyalah sebagai kedok untuk melegalkan Pyramid Scheme.

<h1>Fatwa Lajnah Daimah</h1>
        <p>

Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa sistem MLM tidak berbeda hukumnya dengan Pyramid Scheme, sekalipun disertakan barang/produk karena status barang hanyalah sebagai kedok.

Hal ini dicermati oleh Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi, dengan fatwa no. 22935, tanggal: 14-3-1425 H, yang berbunyi:

Soal: Banyak pertanyaan masuk ke dewan fatwa tentang hukum MLM seperti "BIZNAS" dan "Hibatuljazirah"1, inti sistem pemasarannya: setiap anggota berusaha meyakinkan 2 orang untuk membeli produk, kemudian setiap pembeli tadi berusaha meyakinkan 2 orang lagi untuk membeli. Semakin tinggi tingkatan peserta semakin besar bonus yang didapatkan. Mencapai ribuan riyal.

Jawab: Sistem ini (MLM) termasuk muamalat yang diharamkan karena tujuan orang yang bergabung adalah bonus bukan barang. Terkadang bonus mencapai ribuan riyal, sedangkan harga barang hanyalah ra-tusan riyal. Setiap orang yang berakal bila ditawarkan pilihan barang dan bonus pasti akan memilih bonus. Oleh karena itu, yang menjadi jargon perusahaan MLM menarik orang untuk membeli produknya adalah be-sarnya bonus yang dijanjikan, sebagai imbalan harga barang yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan bonus yang akan diperoleh.

Berdasarkan penjelasan hakikat sistem pemasaran ini maka hukumnya adalah haram sesuai dengan dalil-dalil berikut:

1. Sistem MLM mengandung unsur riba fadl dan nasi'ah.

Setiap anggota menyerahkan uang dalam jumlah kecil untuk mendapatkan uang dalam jumlah yang lebih besar. Ini berarti uang ditukar dengan uang dengan nominal yang tidak sama dan tidak tunai. Inilah riba yang diharamkan berdasarkan teks Al-Quran dan Hadits, beserta Ijma’.

Sementara itu, status barang/produk yang dijual perusahaan kepada konsumen hanyalah sebatas kedok, karena barang bukanlah tujuan orang yang ikut dalam jaringan tersebut. Dengan demikian, keberadaan barang tidak memengaruhi hukum (menjadi halal).

2. Sistem MLM mengandung unsur gharar (spekulasi) yang diharamkan syariat. Karena, setiap orang yang ikut dalam jaringan ini, ia tidak tahu apakah akan berhasil merekrut anggota (downline) dalam jumlah yang diinginkan atau tidak.

Sementara itu, jaringan ini sekalipun terus beroperasi, pada suatu saat pasti akan terhenti; maka pada saat ia bergabung ke dalam jaringan ia tidak tahu, apakah dia berada pada tingkat atas sehingga dia akan beruntung ataukah dia akan berada pada tingkat bawah sehingga dia akan rugi.

Dan kenyataannya, sebagian besar anggota jaringan menderita kerugian dan hanya sebagian kecil saja yang meraih keuntungan.

Dengan demikian, persentase terbesar adalah rugi, inilah hakikat gharar. Yaitu, keberadaannya antara unhang dan rugi, dengan rasio rugi lebih besar. Nabi صلى الله عليه وسلم telah melarang gharar, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya.

3. Sistem MLM mengandung unsur memakan harta manusia dengan cara yang batil.

Karena, yang mendapat keuntungan dari sistem ini hanyalah perusahaan MLM dan sejumlah kecil anggota dalam rangka mengelabui orang-orang untuk ikut bergabung.

Dalam hal ini teks Al-Quran sangat jelas meng-haramkan praktik ini. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. (QS al-Nisa’ [4]: 29)

4. Sistem MLM mengandung unsur penipuan, menyembunyikan cacat dan pembohongan publik.

Dari sisi penyertaan barang/produk dalam jaringan, seolah-olah ini adalah penjualan produk, padahal sesungguhnya yang terjadi bukanlah demikian. Dan dari sisi menjanjikan bonus yang sangat besar, namun jarang diperoleh setiap anggota. Ini adalah penipuan yang diharamkan syariat. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

"Tidak termasuk golonganku orang yang menipu." (HR Muslim)

Nabi صلى الله عليه وسلم juga bersabda:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Penjual dan pembeli dibenarkan melakukan khiyar selagi mereka berada dalam satu majelis dan belum berpisah. Jika keduanya jujur dan saling terbuka maka niscaya akad mereka diberkahi. Dan jika keduanya berdusta dan saling menutupi cacat (barang) maka niscaya dicabut keberkahan dari akad yang mereka lakukan." (HR al-Bukhari dan Muslim)


1. Perusahaan ini berdiri pada tahun 2003 M, berpusat di Riyad. Produknya CD yang berisi program buku-buku Islam dalam bentuk elektronik. Dipasarkan dengan sistem MLM. 1 keping CD dijual dengan harga 500 riyal (mata uang Arab Saudi).

Jika 1 riyal sama dengan Rp. 2.500 maka 1 keping CD tersebut berharga 1.250.000. Ibnu Majjah

<h1>Kesimpulan</h1>
        <p>

KESIMPULAN

Dari dua pendapat di atas, jelaslah bahwa pendapat yang terkuat adalah MLM hukumnya haram. Adapun fatwa yang membolehkan, sebetulnya bukanlah membolehkan secara mutlak, melainkan membolehkan berkait, yakni bila persyaratan-persyaratan yang ditentukan syariat terpenuhi; padahal, kenyataannya, semua persyaratan tersebut dilanggar oleh sistem MLM.

Oleh karena itu, Dr. Husain Syahrani dalam disertasi doktoral-nya yang berjudul "al-Taswiq al-Tijari wa Ahkamuhu fi al-Fiqh al-Islami" (Marketing Dalam Tinjauan Fikih) yang dibimbing oleh Dr. Abdurrahman al-Athram (Sekjen International Islamic Bureau For Economics & Finance, Anggota Dewan pakar AAOIFI, dan mantan Sekjen Dewan Syariah Bank Al Rajhi, Riyad) sampai pada kesimpulan bahwa tidak seorang pun ulama dari dunia Islam yang menghalalkan sistem MLM. la berkata, "Setelah mencari, meneliti, mendiskusikan, serta mengkaji maka saya tidak menemukan seorang ulama pun yang berpendapat bahwa sistem MLM hukumnya mubah (boleh) secara mutlak."1

Kemudian perlu juga diingat bahwa MLM diharam-kan bukan karena produknya, melainkan karena sistem pemasarannya. Maka apa pun jenis produk yang dipasarkan dengan sistem MLM, sekalipun produknya adalah barang-barang yang Islami, seperti CD literatur Islam yang dijual oleh perusahaan "Hibatuljazirah" Riyadh, atau kaset-kaset dan CD yang berisi ceramah serta kajian keislaman yang dijual oleh perusahaan "Madaar An Nuur" Mesir dengan sistem MLM hukumnya juga haram.2[]


1. Hlm. 516.

2. Haramnya perusahaan "Hibatuljazirah" telah difatwakan oleh dewan fatwa Kerajaan Arab Saudi dan haramnya perusahaan "Madaar An Nuur" Mesir, difatwakan oleh Dr. Sami al-Suwailim. Lihat konsultasi syariah di http://www.islamtoday.com tertanggal 16-1-1424 H.

<h1>Pembiayaan Multi Jasa</h1>

PEMBIAYAN MULTI JASA

Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA حفظه الله

  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Publication : 1435 H / 2014 
  M </span></span></span> </p>
  <p><span><span class="calibre76"><strong><span class="calibre78"><span class="calibre126">PEMBIAYAAN MULTI 
  JASA</span><br class="calibre17"/></span></strong></span></span><span class="calibre79"><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Oleh : 
  Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA 
  </span></span></span>

حفظه الله
Didownload file PDF dari web penulis www.erwanditarmizi.wordpress.com

Telah dimuat di buku
Harta Haram Muamaat Kontemporer, cet. ke-6.

e-Book ini didownload dari www.ibnumajjah.com

Pengantar

Pembiayaan Multi Jasa

Produk pembiayaan Murabahah diciptakan untuk memenuhi kebutuhan nasabah akan barang. Adapun untuk memenuhi kebutuhan nasabah akan jasa, seperti; pendidikan, pelayanan kesehatan dan ibadah umrah maka Lembaga Keuangan Syariah [LKS] memiliki produk yang dinamakan dengan Pembiayaan Multijasa.

Pembiayaan Multijasa adalah penyediaan dana atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berupa transaksi multijasa dengan menggunakan akad ijarah berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan nasabah pembiayaan yang mewajibkan nasabah pembiayaan untuk melunasi hutang/kewajibannya sesuai dengan akad.

Fitur dan mekanisme Pembiayaan Multijasa atas dasar akad Ijarah adalah ;

· Bank bertindak sebagai penyedia dana dalam kegiatan transaksi Ijarah dengan nasabah;

· Bank wajib menyediakan dana untuk merealisasikan penyediaan objek sewa yang dipesan nasabah;

· Pengembalian atas penyediaan dana bank dengan cara cicilan.

Untuk lebih jelasnya, 2 ilustrasi berikut ini dapat membantu untuk memahami akad yang terjadi dalam pembiayaan Multijasa:

· A terkena penyakit dan datang ke rumah sakit untuk berobat. Setelah diberi resep, A mengambil obat kemudian membayarnya, beserta semua biaya jasa lain dari rumah sakit itu. Karena biayanya besar dan A tidak memiliki uang tunai maka A meminjam uang B. Lalu kwitansi pembayaran itu ia simpan. Esoknya A datang ke bank syariah dan meminta pembiayaan untuk mengganti pinjaman B, sedangkan A sendiri akan membayar kepada bank secara cicilan sampai lunas. Karena pembiayaan itu dari bank, tentu saja bank tidak bisa memberikannya tanpa ada pertambahan. Maka fee pun dihitung dan ditambahkan kepada nilai nominal pembayaran jasa itu.

· AB mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negri. Karena AB tidak memiliki dana yang cukup untuk melunasi biaya, ia mengajukan pembiayaan Multijasa ke salah satu Lembaga Keuangan Syariah. Setelah menyetujui pembiayaan LKS mewakilkan kepada AB untuk menyewa jasa pendidikan atas nama dan untuk LKS. Kemudian LKS menyewakan jasa pendidikan tersebut kepada AB dengan pembayaran tidak tunai (angsuran) dengan ditambah fee.

Landasan hukum produk ini adalah fatwa DSN [Dewan Syariah Nasional] No.44 /DSN-MUI/VIII/2004 Tentang PEMBIAYAAN MULTIJASA. Yang berbunyi:

Ketentuan Umum

· Pembiayaan Multijasa hukumnya boleh (jaiz) dengan menggunakan akad Ijarah atau Kafalah.

· Dalam hal LKS menggunakan akad ijarah, maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Ijarah.

· Dalam kedua pembiayaan multijasa tersebut, LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee.

<h1>Tinjauan Fikih</h1>
        <p>

Tinjauan Fikih Terhadap Pembiayaan Multijasa

Akad yang terjadi dalam pembiayaan multijasa adalah Ijarah al Musta'jir (Penyewa menyewakan kembali jasa yang telah ia sewa). Dimana LKS bertindak sebagai penyewa pertama dari pemilik barang/jasa kemudian LKS menyewakan jasa kepada penyewa kedua (nasabah). Dan LKS mendapat keuntungan dari selisih upah sewa nasabah yang lebih tinggi dari upah sewa LKS kepada pemilik barang/jasa, karena nasabah membayarnya dengan cara angsuran.

Dalam hal ini ada 3 pembahasan fikih yang akan dirincikan untuk mengetahui tentang hakikat akad produk ini. Pembahasan ini termasuk yang diperselisihkan ulama, yaitu; tentang hukum Ijarah al Musta'jir bolehkan atau tidak? Bolehkah penyewa menyewakan dengan upah sewa yang lebih tinggi? Bolehkah penyewa menyewakan barang/jasa sebelum diterima? Apakah praktik Ijarah al Musta'jir di Lembaga Keuangan Syariah telah sesuai dengan konsep fikih yang dijelaskan oleh para ulama?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini akan penulis bahas dalam setiap pembahasan.

<h1>Hukum Ijarah al Musta'jir</h1>
        <p>

Hukum Ijarah al Musta'jir

Berbeda halnya dengan jualbeli yang sepakat para ulama tentang hukum boleh pembeli menjual barang yang dibelinya kepada pihak lain bila terpenuhi persyaratan jualbeli. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum Ijarah al Musta'jir (penyewa menyewakan kembali manfaat yang telah dimilikinya kepada pihak lain).

Pendapat pertama: penyewa tidak boleh menyewakan kembali barang yang telah disewanya, ini merupakan salah satu riwayat dalam mazhab Imam Ahmad.1

Dalil pendapat ini hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ تَضْمَنْ

"Tidak halal keuntungan barang yang tidak dalam jaminanmu". (HR. Abu Daud. Menurut Al-Albani derajat hadis ini hasan shahih).

Dalam akad ijarah al Musta'jir penyewa tidak menanggung risiko sama sekali, karena risiko ditanggung oleh pemilik barang. Maka ini termasuk meraih keuntungan tanpa menanggung risiko. Maka tidak dibolehkan. Berdasarkan hadis di atas.

Tanggapan: dalil ini tidak kuat karena penyewa yang menyewakan kembali tetap ada risiko, yaitu apabila barang yang disewakan ternyata tidak layak untuk disewakan atau barang tidak berfungsi maka dia bertanggung jawab kepada penyewa kedua.

Pendapat kedua: penyewa boleh menyewakan kembali jasa yang telah dikuasainya dengan diterimanya barang. Pendapat ini merupakan pendapat seluruh para ulama mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali.

Dalil pendapat ini adalah qiyas, bahwa menjual barang yang telah dibeli dengan akad dan telah diterima hukumnya dibolehkan syariat maka menyewakan kembali manfaat barang yang telah disewa dengan akad dan telah diterima barangnya hukumnya boleh, karena akad sewa menyewa merupakan bentuk lain dari jualbeli. Yaitu jualbeli jasa/manfaat.

Wallahu a'lam, pendapat yang membolehkan menyewakan kembali barang yang telah disewa hukumnya boleh, karena kuatnya dalil pendapat tersebut. Namun apakah boleh dia menyewakan dengan harga yang lebih mahal dari harga yang dia sewa?


1. Ibnu Qudamah, Al Mughni, jilid. V, hal. 354.

<h1>Hukum Laba dari Meyewakan Kembali</h1>
        <p>

Hukum Laba dari Menyewakan Kembali
Barang yang Disewa

Apabila penyewa menyewakan kembali barang yang telah disewanya dengan uang tunai kepada pemilik barang dengan cara tidak tunai yang harganya lebih mahal maka ini termasuk 'Inah yang diharamkan.

Hal ini dinyatakan keharamannya oleh AAOIFI [Accounting and Auditing Standards for Islamic Financial Institutions] dalam mikyar Ijarah pasal 3.4, yang berbunyi,

"Penyewa boleh menyewakan barang yang telah disewanya kepada pemilik barang dengan harga lebih murah atau dengan harga yang sama atau lebih mahal apabila kedua akad sewa-menyewa tersebut berlangsung tunai. Tidak boleh hal tersebut apabila mengakibatkan akad jual beli 'Inah : karena berubahnya harga sewa atau sewa-menyewa dengan pembayaran tunda. Contoh: sewa-menyewa pertama dengan harga 100 dinar tunai kemudian penyewa menyewakan kembali kepada pemilik barang dengan harga 110 dinar dengan tidak tunai, atau sewa-menyewa pertama dengan 110 dinar dengan tidak tunai kemudian sewa-menyewa kedua dengan 100 dinar tunai, atau kedua akad sewa-menyewa tersebut dengan harga yang sama akan tetapi akad sewa-menyewa yang pertama dengan pembayaran penundaan 1 bulan dan pada yang kedua dengan penundaan dalam masa 2 bulan".1

Apabila penyewa kedua bukan pemilik barang dalam hal ini para ulama juga berbeda pendapat:

Pendapat pertama: tidak boleh penyewa menyewakan kembali barang yang telah disewanya kepada pihak ketiga dengan harga yang lebih tinggi, pendapat ini merupakan mazhab Hanafi. Bila itu telah terjadi dia wajib mensedekahkan keuntungannya tersebut.2

Dalil pendapat ini bahwa penyewa pertama mendapat keuntungan dari barang yang risiko ditanggung oleh pemilik barang. Dan ini termasuk dalam larangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengambil keuntungan dari barang yang risiko bukan ditangannya.

Tanggapan: dalil ini tidak kuat, karena penyewa pertama tetap menanggung risiko kepada penyewa kedua.

Pendapat kedua: penyewa boleh menyewakan kembali barang yang telah disewanya kepada pihak ketiga dengan harga yang lebih mahal. Ini merupakan pendapat seluruh ulama mazhab Maliki, Syafii dan Hanbali dan disetujui oleh AAOIFI dalam mikyar Ijarah pasal 3.3, yang berbunyi,

"Orang yang menyewa suatu barang boleh menyewakannya kepada orang lain (bukan sipemilik barang) dengan harga yang sama atau lebih murah atau lebih mahal baik dengan cara tunai ataupun tidak, (ini yang dinamakan dengan التاجير من الباطن) dengan syarat pemilik barang tidak melarang untuk disewakan kepada orang lain atau harus atas kesepakatan pemilik barang".3

Dalil dari pendapat ini bahwa barang yang telah dibeli dengan akad dan telah diterima boleh dijualkan kembali, demikian juga halnya dengan menyewakan kembali jasa yang telah disewa dengan akad dan telah dikuasai manfaatnya.4

Wallahu a'lam, pendapat yang terkuat dalam hal ini boleh penyewa mendapat laba dari menyewakan kembali jasa/manfaat yang telah dikuasainya. Karena pada dasarnya muamalat dibolehkan selagi tidak ada larangan dari syariat.


1. Al Ma'ayir as Syar'iyyah, hal. 113.

2. Lihat Al Mabsuth, jilid. XV, hal. 130.

3. Al Ma'ayir as Syar'iyyah, hal. 113.

4. Lihat Ibnu Qudamah, Al Mughni, jilid. V, hal. 355

<h1>Menyewakan Kembali Barang Sebelum Dikuasai</h1>
        <p>

Hukum Menyewakan Kembali
Barang Sebelum Dikuasai

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama bahwa haram hukumnya menyewakan barang yang belum menjadi miliknya atau menyewakan jasa yang belum dikuasainya, karena akad sewa sama dengan akad jual-beli, sebagaimana tidak boleh menjual barang yang bukan miliknya begitu juga tidak boleh menyewakan barang/jasa yang bukan miliknya.

Hal ini yang ditegaskan oleh AAOIFI, dalam mikyar ijarah, pasal 3.1. yang berbunyi,

"Disyaratkan untuk keabsahan akad sewa menyewa atas suatu barang tertentu bahwa barang tersebut atau manfaatnya sudah dimiliki oleh pihak yang menyewakan. Maka apabila barang tersebut atau manfaatnya sudah menjadi hak milik Lembaga Keuangan Syariah maka baru lah boleh dilangsungkan akad sewa-menyewa ketika kedua belah pihak telah sepakat. Adapun apabila barang tersebut baru akan dimiliki oleh Lembaga Keuangan Syariah dengan cara membeli … Maka sewa-menyewa tidak boleh dilangsungkan akadnya kecuali setelah Lembaga Keuangan Syariah memiliki barang tersebut … Dasar larangan menyewakan barang tertentu yang belum dimiliki oleh pihak yang menyewakan adalah larangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam terhadap seseorang menjual barang yang belum menjadi miliknya"1

Namun, apabila barang/atau jasa sudah dilakukan akad dan belum diserahterimakan apakah boleh bagi pembeli/penyewa untuk menyewakan kembali barang/jasa tersebut?

Dalam hal ini sebagian para ulama mazhab Hanafi menukil kesepakatan para ulama bahwa hal tersebut hukumnya tidak boleh (haram).

Mula Khasru (wafat: 885H) berkata, "Menyewakan barang sebelum diterima hukumnya tidak boleh. Tidak ada perbedaan pendapat para ulama dalam hal ini".2

As Syilby (wafat 1021H) juga berkata, "Jika seseorang menyewa suatu barang kemudian dia menyewakan kembali barang tersebut sebelum diterimanya hukumnya tidak boleh. Tidak ada perbedaan pendapat para ulama dalam hal ini".3

Namun, setelah diteliti ternyata ulama mazhab Maliki dan sebagian ulama mazhab Syafii membolehkannya.

Zakariya Al Anshary (wafat: 926H) berkata, "Apabila seseorang menyewa rumah, dia boleh menyewakan kembali rumah itu ke pihak lain sebelum rumah diterimanya, karena objek akad ijarah (sewa) adalah manfaat dan manfaat tidak dapat diserahterimakan"4

Akan tetapi, pendapat ini lemah, karena Imam Syafii sendiri menyatakan bahwa akad sewa sama dengan akad jualbeli. Sebagaimana jualbeli tidak boleh sebelum barang diterima pembeli pertama, begitu juga halnya dengan penyewa tidak boleh menyewakan barang/jasa yang disewanya sebelum diterima.5

Pendapat yang melarang menyewakan kembali barang/jasa sebelum diterima merupakan pendapat mayoritas para ulama dari berbagai mazhab berdasarkan hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan dari Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَشْتَرِي بُيُوعًا فَمَا يَحِلُّ لِي مِنْهَا وَمَا يُحَرَّمُ عَلَيَّ؟ قَالَ: فَإِذَا اشْتَرَيْتَ بَيْعًا فَلَا تَبِعْهُ حَتَّى تَقْبِضَهُ

"Wahai Rasulullah, saya sering melakukan jual-beli, apa jual-beli yang halal dan yang haram? Nabi bersabda, "Wahai anak saudaraku! Bila engkau membeli sebuah barang janganlah engkau jual sebelum barang tersebut engkau terima". (HR. Ahmad. Imam Nawawi menyatakan derajat hadis ini hasan).


1. Al Ma'ayir as Syar'iyyah, hal. 112.

2. Durar Al-Hukkam, jilid. II, hal. 183.

3. Tabyiin al Haqaiq, jilid. V, hal. 121.

4. Asna al Mathalib, jilid. II, hal. 82.

5. Lihat Al Umm, jilid. IV, hal. 26.

<h1>Kesimpulan</h1>
        <p>

Kesimpulan

Setelah menjelaskan beberapa permasalahan fikih dalam akad Ijarah Mustajir, maka hukum produk Pembiayaan Multijasa yang diluncurkan oleh LKS nasional melalui 2 ilustrasi yang disebutkan sebelumnya bahwa:

Bentuk yang pertama dimana nasabah mengajukan pembiayaan setelah mendapat pelayanan kesehatan dan setelah dia membayar upah jasanya, lalu membawa kwitansi ke LKS dan disetujui, ini bukanlah akad Ijarah Mustajir. Karena tidak terpenuhi syarat yang terpenting dalam hal ini, yaitu pihak yang menyewakan (LKS) tidak memiliki jasa yang disewakannya kepada nasabah.

Hakikat dari akad ini adalah qardh (pinjaman) oleh LKS kepada nasabah. Dan karena yang dibayar kembali oleh nasabah ke LKS dengan cara cicilan adalah nominal yang lebih besar dari nominal yang dipinjamnya, maka hukum akad ini sejatinya qardh jarra manfa'atan wa huwa riba (pinjaman yang mendatangkan manfaat bagi pemberi pinjaman dan hukumnya adalah riba).

Bentuk yang kedua dimana nasabah mengajukan pembiayaan sebelum melakukan akad ijarah jasa pendidikan dengan salah satu perguruan tinggi dan LKS menyetujuinya. Lalu pihak LKS mewakilkan kepada nasabah untuk melakukan akad ijarah atas nama dan untuk LKS dan membawa kwitansinya kepada LKS, namun akad Pembiayaan Multijasa ditandatangani oleh kedua belah pihak sebelum akad ijarah antara nasabah dengan perguruan tinggi dilaksanakan maka ini termasuk menyewakan jasa yang belum dimiliki LKS dan sebelum diterimanya juga.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma ketika ditanya kenapa Nabi melarang menjual barang sebelum diterima, dia menjawab,

ذَاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ

"Karena dirham ditukar dengan dirham sedangkan bahan makanan ditangguhkan (riba)". (HR. Bukhari).

Karena yang terjadi sesungguhnya dalam skema ini LKS memberikan sejumlah uang kemudian nasabah mengembalikan dengan nominal berlebih dan tidak tunai (riba).

<h1>Himbauan</h1>
        <p>

Himbauan

Dalam kesempatan ini, penulis menghimbau setiap penggiat perbankan syariah mulai dari DSN hingga para praktisi untuk membuat solusi yang halal dan bukan sekedar pengelabuan riba. Untuk produk Multijasa dengan sangat mudah LKS membeli atau menyewa dahulu jasa/barang yang akan disewakannya dan setelah dikuasai, lalu LKS dapat melakukan akad Ijarah Musta'jir (menyewakan kembali barang/jasa yang telah disewa dan diterima) dengan harga yang lebih mahal dan dengan pelunasan secara angsuran.

Sebagaimana skema produk Pembiayaan Multijasa yang diputuskan oleh AAOIFI, mikyar ijarah, pasal 3.7. yang berbunyi,

"Lembaga Keuangan Syariah boleh mewakilkan kepada nasabah atas biaya dan tanggung jawab Lembaga Keuangan Syariah untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan oleh nasabah seperti peralatan kerja dan yang semisalnya dari barang-barang yang bisa ditentukan sifat-sifat dan harganya. Dengan syarat lembaga keuangan baru boleh menyewakan barang-barang tersebut kepada nasabah setelah memilikinya dan menerimanya baik secara hakikat maupun hukmi. Namun, jika memungkinkan sebaiknya wakil untuk membeli barang tersebut bukanlah nasabah … Hal ini untuk menghindari bahwa ini hanya sekedar pengelabuan akad riba dan agar jelas peran Lembaga Keuangan Syariah dalam transaksi tersebut".1


1. Al Ma'ayir as Syar'iyyah, hal. 113.

<h1>Jual Beli Sistem Dropshipping</h1>

DROPSHIPPING

Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Badri MA حفظه الله

  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77"> Publication : 1436 H_2015 M </span></span> 
  </span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><strong><span class="calibre78">JUAL-BELI SISTEM <span class="calibre292">DROPSHIPPING</span>  <br class="calibre17"/></span></strong></span></span><span class="calibre79">

Oleh : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA حفظه الله

Sumber: Majalah Al-Furqon, No. 156 Ed. 9 Th ke-14_1436H/2015M
e-Book ini didownload dari www.ibnumajjah.com

<h1>Pendahuluan</h1>
        <p>

PENDAHULUAN

Hadirnya sistem pemasaran dropshipping bak embusan angin sejuk bagi banyak orang. Betapa tidak, dengan sistem dropshipping, Anda dapat menjual berbagai produk tanpa modal. Yang dibutuhkan hanyalah foto-foto produk yang berasal dari supplier/toko. Anda dapat menjalankannya walau tanpa membeli barang terlebih dahulu. Dan ajaibnya, dropshipper dapat menjualnya ke konsumen dengan harga yang dia tentukan sendiri.

Dalam sistem dropshipping, konsumen terlebih dahulu membayar secara tunai atau transfer ke rekening dropshipper. Selanjutnya, dropshipper membayar ke supplier sesuai dengan harga beli dropshipper disertai ongkos kirim barang ke alamat konsumen. Dropshipper berkewajiban menyerahkan data konsumen, yakni berupa nama, alamat, dan nomor telepon kepada supplier. Bila semua prosedur tersebut dipenuhi, supplier kemudian mengirimkan barang ke konsumen. Namun, perlu dicatat, walaupun supplier yang mengirimkan barang, nama dropshipper-lah yang dicantumkan sebagai pengirim barang. Pada transaksi ini, dropshipper nyaris tidak memegang barang yang dia jual. Dengan demikian, konsumen tidak mengetahui bahwa sejatinya ia membeli barang dari supplier bukan dari dropshipper.

<h1>Keuntungan Sistem Dropshipping</h1>
        <p>

KEUNTUNGAN SISTEM DROPSHIPPING

Beberapa keuntungan sistem dropshipping:

1. Dropshipper mendapat unhung atau fee (upah) atas jasanya memasarkan barang milik supplier.

2. Tidak membutuhkan modal besar untuk menjalankan sistem ini.

3. Sebagai dropshipper, Anda tidak perlu menyediakan kantor dan gudang barang.

4. Walau tanpa berbekal pendidikan tinggi, asalkan cakap berselancar di dunia maya, Anda dapat menjalankan sistem ini.

5. Anda terbebas dari beban pengemasan dan distribusi produk.

6. Sistem ini tidak kenal batas waktu atau ruang, alias Anda dapat menjalankan usaha ini kapan pun dan di mana pun Anda berada.

Hukum Sistem Dropshipping

        <p>

HUKUM SISTEM DROPSHIPPING

Jangan hanya sebatas memikirkan kemudahan atau besarnya keuntungan. Status halal dan haram setiap jenis usaha yang Anda jalankan harusnya menempati urutan pertama dari semua pertimbangan. Sikap ini selaras dengan do'a Anda kepada Allah Azza wa Jalla:

اللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِـحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku tidak membutuhkan kepada hal-hal yang Engkau haramkan. Dan jadikanlah aku merasa puas dengan kemurahan-Mu sehingga aku tidak mengharapkan kemurahan selain kemurahan-Mu."

Untuk mengetahui status hukum halal haram pemiagaan, Anda harus melihat tingkat keselarasan sistemnya dengan prinsip-prinsip dasar perniagaan dalam syari'at. Perniagaan yang terbukti menyeleweng dari salah satu—atau lebih—prinsip syari'at, sepantasnya Anda mewaspadainya. Berikut beberapa prinsip syari'at dalam pemiagaan sistem dropshipping yang perlu Anda cermati.

Prinsip pertama: Kejujuran

Untuk mendapat keuntungan dari pemiagaan tidak perlu berdusta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam beberapa kes-empatan, menekankan pentingnya kejujuran dalam perniagaan, di antara melalui sabdanya:

الْبَيِّعَانِ بِالْـخِيَارِ مَالَـمْ يَتَفَرَّقَا أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُـحِقَدْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

"Kedua orang yang terlibat transaksi jual beli, selama belum berpisah, memiliki hak pilih untuk membatalkan atau meneruskan akadnya. Apabila keduanya berlaku jujur dan transparan maka akad jual beli mereka diberkahi. Namun, apabila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya keberkahan penjualannya hapus." (Muttafaqun 'alaihi)

Prinsip kedua: Jangan menjual barang yang tidak Anda miliki

Islam sangat menekankan kepada para pemeluknya, kehormatan harta kekayaan. Karena itu, Islam mengharamkan berbagai bentuk tindakan merampas atau memanfaatkan harta orang lain tanpa izin atau keridhaan pemiliknya. Allah Ta'ala berflrman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. (QS an-Nisa' [4]: 29)

لَا يَـحِلُّ مَالُ امْرِئٍّ إِلَّا بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ

"Tidak halal harta orang muslim, kecuali atas dasar keridhaan jiwa darinya." (HR Ahmad, dan lainnya)

Begitu besar penekanan Islam tentang hal ini, sehingga Islam menutup segala celah yang dapat menjerumuskan umat Islam kepada praktik memakan harta saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan.

Prinsip ketiga: Hindari riba dan berbagai celahnya

Sejarah umat manusia telah membuktikan bahwa praktik riba senantiasa mendatangkan kehancuran tatanan ekonomi masyarakat. Wajar, bila Islam mengharamkan praktik riba dan berbagai praktik niaga yang dapat menjadi celah terjadinya praktik riba. Di antara celah riba yang telah ditutup dalam Islam ialah pada kasus menjual kembali barang yang telah Anda beli namun fisik/barang tersebut belum sepenuhnya Anda terima dari penjual.

"Belum sepenuhnya Anda terima" bisa jadi:

1. Anda masih satu majelis dengan penjual, atau

2. Fisik barang belum Anda terima walaupun Anda telah berpisah tempat dengan penjual.

Pada kedua kondisi tersebut, Anda belum dibenarkan menjual kembali barang yang telah Anda beli. Sebab, pada kedua kondisi tersebut, terdapat celah terjadinya praktik riba. Sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan:

نَهَى أَنْ تُبَاعَ السِّلَعُ حَيْثُ تُبْتَاعُ حَتَّى يَحُوْزَهَا التُّجَّارُ إِلَى رِحَالِـهِم

"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari menjual kembali setiap barang di tempat barang itu dibeli, hingga barang itu dipindahkan oleh para pembeli ke tempat mereka masing-masing." (HR Abu Dawud dan al-Hakim)

Dalam hadis lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلا يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَأَحْسِبُ كُلَّ شَيْءٍ بِـمَنْزِلَةِ الطَعَام

"Barang siapa membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia benar-benar telah menerimanya." Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, "Dan saya berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan." (Muttafaqun 'alaihi)

Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ditanya lebih lanjut tentang alasan larangan tersebut, lalu beliau menerangkan:

ذَاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ

"Yang demikian itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda (sekadar kedok belaka)." (Muttafaqun 'alaihi)

Sistem dropshipping, pada praktiknya, bisa melanggar ketiga—atau salah satu—prinsip tersebut sehingga keluar dari aturan syari'at alias haram. Seorang dropshipper bisa saja mengaku sebagai pemilik barang atau sebagai agen, padahal kenyataannya tidak demikian. Karena kebohongan dropshipper tersebut, konsumen menduga ia mendapatkan barang dengan harga murah dan terbebas dari praktik percaloan. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Andai konsumen menyadari sedang berhadapan dengan seorang agen atau pihak kedua, bisa saja ia mengurungkan pembeliannya.

Pelanggaran bisa juga berupa dropshipper menawarkan lalu menjual barang yang belum ia terima walaupun ia telah membelinya dari supplier. Dengan demikian, dropshipper melanggar larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana tersebut di atas. Atau, bisa jadi dropshipper menentukan keuntungan melebihi yang diizinkan supplier. Kalau begitu, ulah dropshipper jelas merugikan supplier karena barang dagangan miliknya bisa telat laku atau bahkan kehilangan pasar.

<h1>Solusi Sistem Dropshipping</h1>
        <p>

S O L U S I

Agar terhindar dari berbagai pelanggaran-pelanggaran tersebut, Anda dapat melakukan salah dari beberapa alternatif berikut ini.

Alternatif pertama: Sebelum menjalankan sistem dropshipping, terlebih dahulu Anda menjalin kesepakatan kerja sama dengan supplier. Atas kerja sama ini, Anda mendapatkan wewenang untuk turut memasarkan barang dagangan supplier. Atas partisipasi Anda, Anda berhak mendapatkan fee (upah) yang nominalnya telah disepakati bersama. Penentuan upah bisa dihitung berdasarkan waktu kerja sama. Selain itu, bisa juga upah ditentukan berdasarkan jumlah barang yang telah Anda jual. Bila alternatif ini yang Anda pilih, berarti Anda bersama supplier menjalin akad ju'alah (jual jasa). Ini salah satu model akad jual beli jasa yang upahnya ditentukan sesuai dengan hasil kerja bukan waktu kerja.

Alternatif kedua: Anda dapat mengadakan kesepakatan dengan calon konsumen. Atas jasa Anda untuk pengadaan barang, Anda mensyaratkan imbalan dalam nominal tertentu. Dengan demikian, Anda menjalankan model usaha jual beli jasa atau semacam "biro jasa pengadaan barang".

Alternatif ketiga: Anda dapat menggunakan skema akad salam. Dengan demikian, Anda berkewajiban menyebutkan berbagai kriteria barang kepada calon konsumen, baik dilengkapi dengan gambar barang atau tidak. Setelah ada calon konsumen yang berminat terhadap barang yang Anda tawarkan dengan harga yang disepakati, barulah Anda mengadakan barang. Skema salam barangkali yang paling mendekati sistem dropshipping. Namun demikian, ada dua hal penting yang harus diperhatikan dalam mempraktikkan akad salam:

1. Dalam skema akad salam, calon konsumen harus membayar tunai alias lunas pada awal akad.

2. Semua risiko selama pengiriman barang hingga barang tiba di tangan konsumen menjadi tang-gung jawab dropshipper bukan supplier.

Alternatif keempat: Anda menggunakan skema akad murabahah lil 'amiri bisysyira' (pemesanan tidak mengikat). Yaitu ketika ada calon konsumen yang tertarik dengan barang yang Anda pasarkan, segera Anda mengadakan barang tersebut sebelum ada kesepakatan harga dengan calon pembeli. Setelah mendapatkan barang yang diinginkan, segera Anda mengirimkannya ke calon pembeli. Setiba barang di tempat calon pembeli, barulah Anda mengadakan negosiasi penjualan dengannya. Calon pembeli memiliki wewenang penuh untuk membeli atau mengurungkan rencananya.

Mungkin Anda berkata, "Bila alternatif tersebut [keempat] yang saya pilih, betapa besar risiko yang harus saya pikul. Betapa susahnya kerja saya. Terlebih bila calon pembeli berdomisili jauh dari tempat tinggal saya."

Saudaraku, apa yang Anda utarakan benar adanya. Karena itu, mungkin alternatif tersebut yang paling sulit untuk diterapkan. Terutama bila Anda menjalankan bisnis secara online. Walau demikian, bukan berarti risiko besar tidak dapat ditanggulangi. Untuk menanggulanginya, sebagai penjual, Anda dapat mensyaratkan hak khiyar (hak pilih membatal-kan pembelian) kepada supplier dalam batas waktu tertentu. Dengan demikian, bila calon pembeli batal membeli, Anda dapat mengembalikan barang kepada supplier. Sebagaimana Anda juga dapat mensyaratkan kepada calon pembeli bahwa bila batal membeli, ia menanggung seluruh biaya mendatangkan barang dan mengembalikannya kepada supplier.

Semoga dapat menambah khazanah ilmu Anda. Semoga Allah Ta'ala memudahkan dan memberkahi perniagaan Anda. Wallahu Ta'ala a'lamu bishshawab. []

<h1>Bekal Iman Bagi Pengusaha Muslim</h1>

BEKAL-BEKAL KEIMANAN BAGI PENGUSAHA MUSLIM

Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawas, Lc, MA حفظه الله

Publication : 1437 H -2016 M


Bekal-Bekal Keimanan Bagi Pengusaha Muslim

Oleh : Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawas حفظه الله

Sumber: Blog Resmi Penulis di www.abufawas.wordpress.com

Kami Sedikit Mengubah Sedikit Tampilan Artikel
e-Book ini didownload dari www.ibnumajjah.wordpress.com

Pendahuluan

Pendahuluan

Iman dan amal adalah dua perkara prinsip yang saling terikat antara satu dan lainnya sebagaimana ruh dan jasad. Di dalam Al-Qur’an didapatkan lafazh iman yang dikaitkan dengan amal shalih lebih dari 200 kali penyebutan.

Hasan Al-Bashri rahimahullah mendefinisikan iman dengan “Apa yang telah menetap dalam hati manusia, kemudian dibenarkan dengan perbuatan.”

Al-Auza’i rahimahullah berkata: “Dahulu para ulama salaf (maksudnya para sahabat, pent) tidak membedakan (memisahkan) antara iman dan amal.” (Fathul Bari, karya Ibnu Hajar Al-Asqolani I/5).

Dengan demikian, iman merupakan faktor penting yang akan menggerakkan semua bentuk aktivitas manusia. Dari sini nampak adanya urgensi untuk menggabungkan antara iman dan amal shalih bagi para pengusaha muslim. Berikut ini kami akan sebutkan beberapa prinsip keimanan yang semestinya diketahui dan diamalkan oleh setiap pengusaha muslim.

<h1>1. Niat Ikhlas</h1>
        <p>

Pertama:
Menghadirkan Niat yang Baik Dalam Bekerja

Sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa lepas dari bertransaksi dengan manusia lainnya. Baik transaksi itu bersifat untuk tolong-menolong maupun transaksi yang bersifat untuk mencari keuntungan duniawi.

Contoh transaksi untuk tolong-menolong adalah aktiyitas saling membantu, pinjam-meminjam atau hutang piutang. Inilah yang diistilahkan oleh para ulama dengan tabarru'at (akad sosial).

Adapun contoh transaksi untuk mencari keuntungan duniawi, seperti jual beli, sewa-menyewa, dan semisalnya. Inilah yang diistilahkan oleh para ulama dengan mu'awadhat (transaksi komersial).

Jadi, transaksi komersial adalah semua transaksi atau akad yang dilakukan oleh seseorang dengan lainnya yang tujuan pokoknya untuk memenuhi kebutuhan dan mencari keuntungan duniawi. Jika ada tujuan akhirat maka itu bersifat ikut, bukan pokoknya.

<h1>Defenisi dan Dalil Gharar</h1>
        <p>

DEFINISI AL GHARAR

Gharar adalah semua transaksi yang mengandung unsur ketidakjelasan atau pertaruhan atau perjudian; atau semua yang tidak diketahui hasilnya atau tidak diketahui hakikat dan ukurannya.

DALIL PERMASALAHAN

Al-Imam an-Nawawi رحمه الله dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan, "Adapun larangan jual beli gharar, maka ia merupakan pokok penting dari kitab jual beli. Oleh karena itu, al-Imam Muslim mengedepankannya. Dalam hal ini tercakup permasalahan yang sangat banyak, tidak terhitung."

Kaidah ini didasari sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang jual beli al-hashah dan jual beli al-gharar." (HR Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa gharar itu terlarang dengan dua kriteria:

Pertama: Gharar tersebut fahisy (besar atau dominan) bukan kecil

Kedua: Gharar tersebut terdapat dalam transaksi komersial, bukan dalam hal tabarru'at.

<h1>Gharar Fahisy</h1>
        <p>

GHARAR FAHISY

Gharar dalam sebuah transaksi ada dua macam. Ada yang fahisy yang berarti gharar yang berat dan dominan, dan ada gharar yang yasir artinya ringan atau sepele. Dan gharar yang terlarang adalah yang fahisy bukan yang yasir.

Dengan demikian, gharar yang sedikit diperbolehkan dan tidak merusak keabsahan akad. Ini perkara yang telah disepakati para ulama, sebagaimana disampaikan Ibn Rusyd dalam Bidayah al-Mujtahid (2/155) dan al-Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab (9/258).

Para ulama memberikan contoh dengan masuk ke kamar mandi umum untuk mandi dengan membayar. Ini mengandung gharar, karena orang berbeda dalam penggunaan air dan lamanya tinggal di dalam. Demikian juga, persewaan (rental) mobil untuk sehari atau dua hari, karena orang berbeda-beda dalam penggunaannya dan cara pemakaiannya. Ini semua mengandung gharar, namun dimaafkan syari'at karena gharar-nya tidak besar.

Karenanya, jual beli borongan diperbolehkan dalam Islam. Alasannya, meskipun mengandung gharar tapi ringan.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ كُنَّا نَشْتَرِي الطَّعَامَ مِنْ الرُّكْبَانِ جِزَافًا فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ

Dari Abdullah ibn Umar رضي الله عنهما berkata, "Dahulu kami (para Sahabat) membeli makanan secara taksiran, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang kami menjual lagi sampai kami memindahkannya dari tempat belinya." (HR Muslim: 1526)

Makna dari: جِزَافًا adalah jual beli makanan tanpa ditakar, tanpa ditimbang, dan tanpa ukuran tertentu, tetapi menggunakan sistem taksiran. Dan inilah makna jual beli borongan.

Sisi pengambilan hukum dari hadits ini adalah bahwa jual beli sistem borongan itu merupakan salah satu sistem jual beli yang dilakukan oleh para Sahabat pada zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan beliau tidak melarangnya. Hanya, beliau melarang untuk menjualnya kembali sampai memindahkannya dari tempat semula. Dan ini merupakan taqrir (perserujuan) beliau atas bolehnya jual beli sistem tersebut; seandainya terlarang, pasti Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan melarangnya dan tidak hanya menyatakan hal di atas.

Al-Hafizh Ibn Hajar رحمه الله berkata, "Hadits ini menunjukkan bahwa jual beli makanan dengan sistem taksiran hukumnya boleh." (Fath al-Bari: 4351)

Al-Imam Ibn Qudamah رحمه الله berkata, "Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini." (Lihat pula

Niat adalah ruh bagi setiap amal, inti dan pondasinya. Suatu amal akan selalu mengikutinya. Jika niatnya benar, maka amalnya pun benar. Jika rusak niatnya, maka amalnya juga akan rusak. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari I/3 no.1, dan Muslim III/1515 no.1907)

Hadits ini tidak terbatas pada masalah ibadah saja, akan tetapi ia juga mencakup bab muamalah dan lainnya. Semua amalan dapat berubah posisinya karena faktor niat, dianggap sebagai ibadah dan amal shalih yang mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla atau sebaliknya.

Maka jika seorang muslim bekerja dengan niat mencari rezeki di bidang pendidikan, pertanian, peternakan, perdagangan, industri, kesehatan, ketrampilan atau selainnya, maka aktivitasnya itu akan dinilai sebagai ibadah. Begitu pula jika tujuannya adalah untuk menjaga diri dari hal-hal yang haram, mencukupkan diri dengan hal-hal yang halal, dan untuk menafkahi keluarganya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

Sesungguhnya engkau tidaklah memberikan suatu nafkah yang diharapkan dengannya wajah Allah semata melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, sampaipun sesuap makanan yang engkau masukkan ke dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari I/30 no.56, dan Muslim III/1250 no.1628, dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu).

Oleh karena itu, Islam menganjurkan pengusaha muslim agar memiliki orientasi yang sama dalam masalah ibadah dan muamalah. Dan hal itu tidak mungkin bisa dilakukan jika ia tidak mengikhlaskan apa yang ia lakukan karena Allah Azza wa Jalla semata, membebaskan diri dari penghambaan terhadap nafsu syahwat, harta, perhiasan, jabatan serta kenikmatan dunia yang lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

Celaka para hamba dinar. Celaka para hamba dirham dan hamba pakaian. Jika ia diberi, maka ia merasa lega. Dan jika ia tidak diberi, maka ia menggerutu.” (HR. Bukhari III/1057 no.2730, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

<h1>2. Harta Milik Allah, Kita Hanya Diamanahi</h1>
        <p>

Kedua:
Meyakini Bahwa Harta Milik Allah,
Manusia Hanya Diberi Amanah

Seorang pengusaha muslim hendaknya meyakini bahwa harta benda adalah milik Allah Azza wa Jalla, sedangkan manusia hanya diberi amanah. Di samping itu pula, hendaknya ia menyadari betul bahwa harta hanyalah sebagai sarana, bukanlah tujuan. Dan untuk mendapatkan yang baik, maka menjadi keharusan baginya untuk mencarinya dari sumber yang halal, tidak menahan yang bukan haknya, tidak berbangga-bangga dengan kepemilikannya serta mengakui anugerah Allah padanya. Hendaklah harta yang dimilikinya bisa mengantarkannya untuk lebih mengenal akhirat dengan tanpa melupakan kenikmatan dunia.

Seorang pengusaha muslim harus menyadari bahwa harta yang ada di tangannya merupakan titipan dari Allah Azza wa Jalla yang harus ia kelola dengan baik dan benar sesuai ketentuan Sang Pemilik harta sesungguhnya. Dia adalah Allah, satu-satunya Raja dari segala raja, Pemilik dari segala pemilik. Karena semua harta yang ada padanya akan dimintai pertanggung-jawabannya pada hari kiamat kelak, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Pada Hari Kiamat nanti kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser (dari hadapan Allah) sehingga ia dimintai pertanggung-jawaban tentang empat perkara: Usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya darimana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dipergunakan.” (HR. At-Tirmidzi IV/612 no.2417 dari Abu Barzah Al-Aslami. Syaikh Al-Albani berkata: “Shahih”).

<h1>3. Menimani Takdir dan Bersyukur</h1>
        <p>

Ketiga:
Mengimani Takdir Allah Disertai Sikap Selalu Bersyukur.

Beriman kepada takdir Allah, baik ketentuan yang baik atau yang buruk, manis atau pahit merupakan pondasi dasar keimanan. Seorang pengusaha muslim wajib mengimani takdir Allah dengan keimanan yang kokoh, bahwa semua hal yang terjadi tidaklah akan meleset darinya. Dan semua bentuk manfaat dan bahaya telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dikisahkan bahwa suatu ketika dia naik kendaraan di belakang Rasulullah, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu. Jika engkau minta sesuatu, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau minta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jika semua umat berkumpul, kemudian mereka ingin memberimu manfaat, maka tidak akan ada manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah tetapkan Allah untukmu. Dan jika umat semuanya berkumpul untuk mendatangkan bahaya kepadamu, maka tidak akan ada bahaya kecuali apa yang telah digariskan Allah untukmu. Pena (pencatat takdir, pent) telah diangkat dan buku catatan telah dikeringkan.” (HR. At-Titmidzi IV/667 no.2516 dan Ahmad I/307 no.2804)

Dengan demikian jika ada keuntungan dalam hartanya, maka seorang pengusaha muslim akan bersyukur. Ia tidak akan bergembira secara berlebihan. Allah Ta’ala berfirman:

لا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. Al-Qashash/28: 76)

Dan jika ia mengalami nasib sebaliknya, maka ia akan tetap sabar, ridha, dan tenang hatinya. Karena ia meyakini bahwa Allah tidaklah menetapkan sesuatu kecuali di dalamnya ada kemaslahatan. Allah menganugerahkan harta benda pada hamba yang Dia cintai dan hamba yang tidak Dia cintai. Dia juga mempersempit rezeki pada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai.

Dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh sangat menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya ia anggap baik. Dan tidak akan terjadi seperti itu kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, maka ia akan bersyukur. Dan itu yang terbaik baginya. Dan jika ia mengalami musibah, maka ia bersabar. Dan itu yang terbaik baginya.” (HR. Muslim IV/2295 no.2999)

<h1>4. Bekerja dan Bertawakkal</h1>
        <p>

Keempat:
Selalu Berusaha dan Bekerja untuk Mendapatkan Rezeki
Disertai Tawakkal Kepada Allah

Seorang pengusaha muslim dituntut untuk mengambil sebab dalam mencari rezeki dan mengembangkan harta disertai dengan semangat tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Dzat yang member rezeki kepada burung-burung setiap pagi dan sorenya, sudah tentu sangat mampu member rezeki kepada manusia. Dialah yang menundukkan segala sesuatu, yang menjalankan segala sesuatu, yang mendatangkan semua sebab di dunia ini. Inilah yang diisyaratkan oleh Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah haditsnya:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka pasti kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, yang berangkat di pagi hari dalam keadaan perut kosong, kemudian kembali di sore hari dalam keadaan kenyang. (HR. Tirmidzi IV/573 no.2344, Ibnu Majah II/1394 no.4164 dan Ahmad I/30 no.205, 373, dari Umar bin Khathab. Dan syaikh Al-Albani berkata: “Shahih”)

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq/65: 3)

Dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah telah menyinggung tentang anjuran kepada manusia untuk mencari sumber kehidupan dan menggali rezeki, di antaranya adalah firman-Nya:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk/67: 5)

Dan firman-Nya pula:

وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الأرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah.” (QS. Al-Muzzammil/73: 20)

Imam Qurthubi rahimahullah mengatakan berkaitan dengan ayat ini dalam kitab tafsirnya Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, “Dalam ayat ini, Allah telah menyamakan antara derajat orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan orang-orang yang mencari harta yang halal untuk memberi nafkah dirinya dan keluarganya, agar ia mampu berbuat baik kepada sesame, dan mampu bersedekah dengan kelebihan hartanya. Oleh karena itu, Ibnu Umar berkata, “Tidaklah Allah menciptakan kematian yang aku ingin mati sekali lagi, setelah kematian di jalan Allah. Dan kematian itu lebih aku cintai daripada kematian di antara dua bukit bersama kendaraanku, yaitu kematian yang menjemputku saat aku mencari rezeki Allah dengan berjalan di atas bumi ini.”

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan motivasi kepada umatnya agar selalu berusaha dan bekerja untuk mencari rezeki . Diantaranya adalah hadits berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh salah seorang dari kalian mencari kayu bakar lalu memikulnya di atas punggungnya itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, lalu ia memberinya atau menolaknya.” (HR. Bukhari II/730 no.1968)

عَنِ الْمِقْدَامِ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Dari Al-Miqdam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seseorang di antara kalian yang makan makanan apa pun, jauh lebih baik dari makan makanan yang berasal dari hasil keringat sendiri. Dan sesungguhnya nabi Daud alaihissalam memakan makanan dari hasil jerih payahnya sendiri.” (HR. Bukhari II/730 no.1966).

Maka, hendaknya setiap pengusaha muslim berupaya untuk mengambil sebab-sebab nyata yang bisa mendatangkan rezeki yang halal lagi baik. Dan hendaknya hatinya merasa tenang dan yakin bahwa sebab-sebab rezeki itu bukanlah faktor utama munculnya rezeki. Karena pada hakikatnya rezeki itu sendiri sudah dijatah dan nasib setiap orang telah ditentukan. Dan apa yang telah ditentukan oleh Allah pasti akan terwujud.

<h1>5. Allah Melebihkan Sebagian Orang</h1>
        <p>

Kelima:
Meyakini Bahwa Allah Telah Menentukan
Kelebihan Atas Orang Lain

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf/43: 32)

Oleh karena itu, seorang pengusaha muslim hendaknya meyakini prinsip ini. Janganlah terlalu silau dengan orang yang mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Hendaknya dia melihat orang yang rezekinya lebih sedikit darinya, kemudian ia memuji kepada Allah Azza wa Jalla atas anugerah-Nya selama ini. Karena terkadang kelapangan rezeki justru merupakan ujian dari Allah untuk mengetahui apakah orang tersebut termasuk orang yang bersyukur atas nikmat-Nya atau orang yang membanggakan diri.

Demikian pula dengan kesempitan rezeki pada seseorang. Mungkin saja hal itu merupakan cara Allah Subahanahu wa Ta’ala untuk memberikan hikmah kepada manusia yang diwujudkan-Nya dalam bentuk ujian, agar dapat diketahui apakah ia termasuk orang yang sabar dalam cobaan atau justru banyak mengeluh. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl/16: 71)

Allah Azza wa Jalla berfirman pula:

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’/4: 32)

Sesungguhnya dengan cara yang demikian, Islam menginginkan agar setiap pengusaha muslim mampu menjadikan jiwa mereka bersih dari kebencian, kedengkian dan iri, yang merupakan penyakit hati dan perusak amal yang berbahaya. Dengan keadaan seperti ini, dia akan bisa hidup dengan hati yang sehat, tenang dan terbebas dari bisikan kebencian dan kedengkian.

<h1>6. Menjaga Aturan Agama</h1>
        <p>

Keenam:
Selalu Menjaga Aturan-aturan Syari’at dalam Ibadah

Tidak sepantasnya bila seorang pengusaha muslim hanya menyibukkan dirinya mencari sumber penghidupan dunia, dan melalaikan sumber kehidupan akhirat, yang akhirnya akan membuat umurnya sia-sia dan perniagaannya merugi. Dan keuntungan yang seharusnya dia raih di akhirat tidak akan sebanding dengan keuntungan yang dia dapat di dunia. Dan akhirnya, ia seakan-akan menggadaikan akhiratnya untuk membeli dunia. Di dalam Al-Qur’an, Allah Azza wa Jalla telah memuji hamba-hamba-Nya yang mampu memadukan antara mencari rezeki dengan cara perdagangan dan ibadah kepada Allah. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ. رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ. لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ.

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. An-Nuur/24: 36-38)

Mereka tetaplah orang-orang yang melakukan transaksi jual beli atau melakukan aktivitas ekonomi yang lain, tetapi jika telah datang waktu shalat, maka mereka bersegera menunaikan hak Allah Azza wa Jalla atas mereka. Mereka menunaikan zakat, menyucikan harta mereka sehingga Allah menyelimuti harta mereka dengan keberkahan. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah/62: 10)

Perdagangan meskipun dipuji karena termasuk sumber rezeki yang halal, akan tetapi bisa menjadi tercela jika ia didahulukan daripada hal-hal yang mestinya didahulukan. Dari sini kita mendapatkan isyarat yang sangat jelas dari firman Allah Azza wa Jalla:

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik pemberi rezki.” (QS. Al-Jumu’ah/62: 11)

Dan hendaklah memperbanyak semua bentuk amal kebaikan menjadi perilaku khas setiap pengusaha muslim. Dengannya, hati manusia akan tersentuh dan akan melahirkan cinta dan kasih sayang antar sesama. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah/5: 2)

Dalam takwa tersimpan keridhaan Allah, dan dalam al-birr (berbuat baik) tersimpan keridhaan manusia. Barangsiapa yang mampu menggabungkan antara dua keridhaan tersebut, maka dia akan mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan yang sempurna.

Demikian tulisan sederhana tentang beberapa prinsip keimanan bagi pengusaha muslim sebagai bekal dalam menjalankan bisnis. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a’lam bish-showab.[]

<h1>Bertaubat dari HARTA HARAM</h1>

Bertaubat dari HARTA HARAM

Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Badri MA حفظه الله

Publication : 1435 H, 2013 M

  <p><span><span class="calibre76"><strong><span class="calibre78">BERTAUBAT DARI HARTA HARAM<br class="calibre17"/></span></strong></span></span><span class="calibre79"><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Oleh : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA 
  </span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre80">حفظه الله</span></span></span></span></p>
  <p><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">Sumber: Majalah Al-Furqon, No. 142 Ed. 6 Th 
  ke-13_1435 H <br class="calibre17"/></span></span></span><span><span class="calibre76"><span class="calibre77">e-Book 
  ini didownload dari </span></span></span><span class="calibre127"><span class="calibre56">www.ibnumajjah.com</span></span></p>
<h1>Pendahuluan</h1>
        <p>

PENDAHULUAN

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga dan sahabatnya.

Hidup di masyarakat yang heterogen seperti di negeri ini tentunya memiliki dinamika yang berbeda dengan hidup di masyarakat yang homogen. Perbedaan budaya, ideologi, dan tingkat kepatuhan masyarakat terhadap hukum agamanya tampak dengan nyata. Kondisi semacam ini tentunya menuntut kita bersikap bijak. Dengan demikian kita dapat mewujudkan kepentingan kita tanpa harus bergesekan atau berbenturan dengan aturan, peraturan, norma masyarakat apalagi hukum syariat. Terlebih dalam banyak kesempatan Anda tidak memiliki wewenang dan bahkan keberanian untuk sekadar menunjukkan sikap apalagi melakukan satu perubahan.

Coba Anda bayangkan, ketika Anda belanja di supermarket, Anda menyaksikan khamar, daging babi, dan berbagai barang haram lainnya diperjualbelikan. Atau mungkin pula ketika sebagai penjual, Anda mengetahui dengan yakin bahwa mata pencaharian calon pembeli anda menyimpang alias haram secara syariat. Kondisi semacam ini tentu mengusik ketenangan batin Anda, sehingga Anda meragukan status halal keuntungan yang Anda peroleh dari bertransaksi dengan mereka.

<h1>Alasan Suatu Harta Diharamkan</h1>
        <p>

ALASAN SUATU HARTA DIHARAMKAN

Secara tinjauan syariat, suatu harta dapat dinyatakan haram karena dua alasan:

1. Haram karena alasan yang melekat pada harta itu (zat-nya), semisal khamar, daging babi, dan yang semisal.

2. Haram karena adanya kesalahan dalam metode mendapatkannya, semisal harta yang diperoleh dengan cara merampas, menipu, akad riba, dan yang serupa.

Harta haram karena alasan yang melekat padanya, semisal bangkai, babi, khamer dan yang semisal. Allah Ta’ala berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (QS. al-Ma’idah [5]: 3)

Status haram harta jenis ini berlaku bagi semua orang. Tidak ada bedanya antara yang mendapatkannya dengan cara mencuri, menipu, atau dengan cara mem-beli, warisan atau hibah atau akad serupa lainnya.

Sahabat Anas ibn Malik رضي الله عنه mengisahkan bahwa Sahabat Abu Talhah bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم perihal beberapa anak yatim yang menerima warisan berupa khamar. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menanggapi pertanyaan Abu Talhah صلى الله عليه وسلم ini dengan bersabda: "Tumpahkanlah." Mendengar jawaban itu, Sahabat Abu Talhah رضي الله عنه. berkata, "Tidakkah lebih baik bila khamar itu aku proses agar menjadi cuka?" Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab: "Tidak" (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya)

Karena keharaman harta ini bersifat permanen dan berlaku atas semua orang maka haram untuk diperjualbelikan.

Sahabat 'Abdullah ibn Abbas رضي الله عنهما mengisahkan, "Suatu hari datang seorang lelaki membawa hadiah berupa sekantong minuman khamar untuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Maka menanggapi hadiah ini, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: 'Tahukah engkau bahwa Allah telah mengharamkan minuman khamar?' Lelaki itu menjawab, 'Tidak', dan selanjutnya ia berbisik kepada seseorang. Melihat tamunya berbisik-bisik, Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya kepadanya: 'Apa yang engkau bisikkan kepadanya?' Lelaki itu menjawab, 'Saya memintanya untuk menjualkan khamar tersebut.' Menanggapi pengakuan tamunya ini, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ الَّذِي حَرَّمَ شُرْبَهَا حَرَّمَ بَيْعَهَا

Sejatinya Allah Yang mengharamkan minum khamar juga mengharamkan penjualannya. (HR. Muslim)

Keharaman memperjualbelikan harta jenis ini berlaku baik diperjualbelikan secara langsung atau hasil olahannya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمَّا حَرَّمَ عَلَيْهِمْ شُحُومَهَا أَجْمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ

"Semoga Allah membinasakan kaum Yahudi, sejatinya tatkala Allah عزّوجلّ mengharamkan lemak hewan ternak atas mereka, maka mereka melelehkannya hingga menjadi minyak, lalu mereka menjualnya dan menikmati hasil penjualannya." (Muttafaq 'alaihi)

Pembaca yang budiman, keharaman harta jenis ini tiada berubah walaupun di kemudian hari Anda mendapatkan adanya sebagian manfaat atau nilai ekonomis padanya. Karena itu, tidak sepantasnya Anda terkejut apalagi goyah keimanan Anda gara-gara mendengar atau membaca keterangan tentang daging babi yang memiliki manfaat dan nilai ekonomis tinggi.

Percayalah bahwa walaupun daging babi memiliki nilai ekonomis tinggi, namun tetap saja mudarat dampak buruknya berlipat ganda dari manfaatnya. Demikianlah faktanya, setiap yang diharamkan pastilah mudaratnya lebih besar dibanding manfaatnya, karena itu dalam al-Qur'an al-Karim benda-benda haram disebut dengan al-khaba'is (benda-benda kotor). Allah berfirman:

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

Menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (QS. al-A'raf[7]:157)

Berdasarkan ayat ini, sebagian ulama dengan tegas menyatakan. "Segala yang Allah Ta'ala halalkan pastilah baik, bermanfaat bagi kesehatan badan dan keu-tuhan agama umat manusia. Sebaliknya, segala yang Allah Ta'ala haramkan pastilah buruk, dan merusak kesehatan badan dan keutuhan agama umat manusia. (Tafsir Ibn Kasir 3/488)

Adapun harta yang diharamkan karena tata cara memperolehnya terlarang, maka keharamannya hanya berlaku atas sebagian orang saja, yaitu atas orang yang mendapatkannya dengan cara haram. Hasil curian haram atas pencurinya, namun halal bagi pemiliknya. Harta hasil korupsi, maka haram atas koruptarnya, sedangkan bagi rakyat maka harta itu halal hukumnya. Dengan demikian, keharaman harta jenis ini hanya berlaku dari satu arah. Sebagaimana yang dapat kita pahami dari hukum riba yang ditegaskan pada ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. al-Baqarah [2]: 278-279)

Cermatilah bagaimana pada ayat di atas dengan jelas Allah Ta’ala memerintahkan agar para rentenir membatalkan bunga/riba yang telah mereka sepakati dan hanya memungut pokok utangnya saja. Dengan cara ini mereka dapat terbebas dari perbuatan menzalimi atau merugikan orang lain dan juga tidak dizalimi atau dirugikan.

Kesimpulannya, orang yang mendapatkan harta ini dengan cara halal maka halal pula harta tersebut baginya. Sebagai contoh sederhana, seorang pencuri haram untuk menikmati hasil curiannya. Namun, tidak diragukan bahwa harta hasil curian itu halal bagi pemiliknya yang sah. Bahkan andai pemiliknya yang sah memaafkan pencuri tersebut maka harta curian itu yang sebelumnya haram atasnya, sekejap berubah menjadi halal.

Dikisahkan bahwa suatu hari Sahabat Safwan ibn Umayyah رضي الله عنه tidur di Masjid Nabi صلى الله عليه وسلم berbantalkan bajunya. Di saat ini terlelap dalam tidurnya, bajunya dicuri oleh seseorang. Namun, pencuri bajunya itu berhasil ditangkap dan segera dihadapkan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Maka segera Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan agar pencuri itu dipotong tangannya. Mengetahui pencuri bajunya akan segera dipotong tangannya, Sahabat Safwan صلى الله عليه وسلم, merasa iba, sehingga ia berkata kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم: "Wahai Rasulullah صلى الله عليه وسلم, apakah tangannya akan engkau potong karena ia mencuri bajuku? Ketahuilah bahwa aku telah menghalalkan bajuku untuknya." Rasulullah صلى الله عليه وسلم menanggapi ucapan Sahabat Safwan رضي الله عنه dengan bersabda:

فَهَلَّا كَانَ هَذَا قَبْلَ أَنْ تَأْتِيَنِي بِهِ

"Mengapa tidak engkau maafkan sebelum engkau melaporkannya kepadaku?"" (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Baihaqi, dan lainnya)

Ibn Taimiyyah رحمه الله menyatakan, "Dengan penjelasan ini maka jelaslah bahwa orang yang bekerja dengan cara halal, atau menyewakan kendaraan, properti, atau lainnya lalu ia mendapatkan upah, maka upah itu halal dan tidak haram. Baginya, sama saja mengetahui bahwa penyewanya mendapatkan uangnya dengan cara halal atau ia tidak mengetahuinya. Namun, bila ia mengetahui bahwa pembelinya mendapatkannya dengan cara merampas, atau mencuri, atau melalui cara yang tidak halal baginya, maka pada kondisi semacam ini ia terlarang untuk menerimanya sebagai upah atau harga barang dagangannya." (Majmu Fatawa Ibn Taimiyyah 29/330)

Penjelasan al-Imam Ibn Taimiyyah ini selaras dengan praktik Amirul mukrninin 'Umar ibn al-Khattab رضي الله عنه. Suwaid ibn Gafalah mengisahkan bahwa pada suatu hari Sahabat Bilal رضي الله عنه mengadukan kepada Amirul mukminin perihal beberapa pegawainya yang memungut upeti dalam bentuk minuman khamar dan hewan babi. Mendapat laporan ini, segera Amirul mukminin 'Umar ibn al-Khattab رضي الله عنه mengeluarkan perintah:

لاَ تَأْخُذُوْا مِنْهُمْ، وَلَكِنْ وَلَوهم بَيْعَهَا، وَخُذُوْا أَنْتُمْ مِنَ الثَّمَنِ

"Janganlah kalian menerima upeti dalam bentuk khamar dan babi, namun biarkan mereka (orang Yahudi dan Nasrani yang tinggal di negeri Islam) memperjualbelikannya kepada sesama mereka. Dan bila telah terjual, maka kalian boleh menerima uang hasil penjualannya." (Riwayat Abu 'Ubaid dalam kitabnya al-Amwal riwayat no. 115, 'Abdurrazzaq dalam kitabnya al-Musannaf '6/23, dan lainnya)

Al-Imam Abu 'Ubaid رحمه الله mengomentari riwayat ini dengan berkata, "Riwayat ini menjelaskan bahwa kala itu petugas khilafah menerima upeti dan pajak tanah dari orang-orang kafir yang tinggal di negeri Islam dalam bentuk khamar dan babi. Dan selanjutnya petugas yang notabene beragamakan Islam itu menjual khamar dan babi tersebut. Praktik semacam inilah yang diingkari oleh Sahabat Bilal رضي الله عنه dan selanjutnya dilarang oleh Khalifah 'Umar رضي الله عنه. Sebagai solusinya, beliau mengizinkan para petugasnya untuk memungut upeti dan pajak tanah dari hasil penjualan khamar dan babi tersebut, selama yang menjualnya ialah orang-orang kafir tersebut. Alasan beliau membuat keputusan semacam ini karena secara hukum khamar dan babi dianggap sebagai harta kekayaan orang-orang kafir, namun tidak boleh dijadikan sebagai bagian dari harta kekayaan umat Islam."

Penjelasan ini tentang perubahan status hukum suatu harta seperti ini oleh sebagian ulama ahli fikih dituangkan dalam satu kaidah yang berbunyi:

تَبَدُّلُ سَبَبِ الْمِلْكِ قَائِمٌ مَقَامَ تَبَدُّلِ الذَّاتِ

"Pergantian jalur kepemilikan suatu benda, dianggap sebagai pergantian fisik benda tersebut." (al-Qawa'id wa al-Dawabit al-Fiqhiyyah al-Mutadamminah li al-Taisir 1/71)

Inilah kedua alasan diharamkannya suatu harta atas umat Islam, yang masing-masing alasan ini memiliki perincian yang beraneka ragam sebagaimana dijelaskan di atas.

<h1>Cara Tobat dari Harta Haram</h1>
        <p>

CARA BERTOBAT DARI KEDUA JENIS HARTA HARAM

Adapun cara bertobat dari dosa memiliki atau mendapatkan kedua jenis harta haram tersebut di atas maka dengan cara:

1. Menyesal, karena telah memakan atau menggunakan barang yang haram untuk dimakan atau digunakan.

2. Bertekad untuk tidak mengulanginya.

3. Memohon ampunan kepada Allah عزّوجلّ atas dosa memakan atau menggunakan harta yang haram untuk digunakan.

4. Bila harta haram tersebut diharamkan karena alasan cara mendapatkannya yang terlarang, maka wajib untuk mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya atau meminta untuk dimaafkan. Baik pemiliknya adalah perorangan atau instansi pemerintah atau perusahaan atau lainnya. Allah عزّوجلّ menjelaskan tentang tata cara bertobat dari harta riba:

وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. al-Baqarah [2]: 279)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ صَاحِبِهِ لَعِبًا جَادًّا وَإِذَا أَخَذَ أَحَدُكُمْ عَصَا أَخِيهِ فَلْيَرْدُدْهَا عَلَيْهِ

"Janganlah engkau mengambil barang milik temanmu, baik hanya sekadar bermain-main atau sungguh-sungguh. Dan bila engkau mengambil barang milik saudaramu, maka segera kembalikanlah kepadanya." (Ahmad 4/221 dan lainnya)

Pada Hadits lain beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

"Barangsiapa pernah melakukan tindak kezaliman kepada seseorang, baik dalam urusan harga dirinya, atau hal lainnya, maka segeralah ia meminta untuk dimaafkan, sebelum tiba hari yang tiada lagi dinar atau dirham. Bila hari itu telah tiba maka akan diambilkan dari pahala amal salehnya dan diberikan kepada orang yang ia zalimi sebesar tindak kezalimannya. Dan bila ia tidak memiliki pahala kebaikan, maka akan diambilkan dari dosa-dosa orang yang ia zalimi dan akan dipikulkan kepadanya. (al-Bukhari Hadits no. 2317)

Namun, bila Anda tidak dapat mengembalikannya kepada pemiliknya karena suatu alasan yang dibenarkan secara syariat, maka sedekahkanlah harta tersebut atas nama pemiliknya. Dengan cara ini, berarti Anda menyiapkan diri dengan menabungkan pahala sebesar hartanya yang Anda ambil. Dengan demikian, bila kelak ia menuntut haknya di hari Kiamat, maka Anda telah menyiapkan pahala sedekah sebesar hartanya yang Anda ambil dengan cara-cara yang tidak benar, sebagaimana ditegaskan pada Hadits di atas.

Demikian paparan singkat dan sederhana tentang tata cara bertobat dari memiliki atau menggunakan harta haram. Semoga paparan singkat dan sederhana ini bermanfaat bagi Anda. Wallahu Ta’ala a'lamu bi al-sawab.[]

Bekal Ilmu bagi Pengusaha Muslim

Tags: