Sadar Kaya - Mardigu Bossman Wowiek

Prakata

Hanya sedikit manusia yang memercayai buku ini. Setidaknya. pada awalnya. Berani bertaruh. Buku ini menjawab banyak pertanyaan penting dalam sejarah umat manusia dalam mencari kemakmuran.

Untuk sebagian orang, jawaban tersebut akan sangat menggetarkan. Bahkan, tidak ada mirip-miripnya dengan pengetahuan yang telah ada atau yang biasa Anda dengar sebelumnya. Buku ini akan mengubah pandangan dan pemahaman Anda selama ini tentang materi dan kemakmuran.

Saat ini, banyak dari kita yang sedang mengalami krisis kemakmuran, krisis kepercayaan, dan tertekan masalah ekonomi. Namun, jika dirunut Iebih dalam lagi, semua itu terjadi karena pemahaman akan materialisme yang selama ini dipegang umat manusia, bertolak belakang satu dengan yang lainnya.

Tapi sesungguhnya, bisakah krisis keuangan dan kesulitan ekonomi itu dihentikan? Saya tahu bahwa Anda juga tahu. Jawabannya adalah, bisa. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Anda tahu apa yang sebenarnya Anda inginkan?

Baca buku lebih dari sekali. Saya juga mengajak Anda membacanya dari awal hingga akhir, kemudian mengulangnya per bagian. Buat catatan kecil di beberapa bagian yang kosong.

Ujilah. Kebenaran yang sejati adalah kebenaran yang teruji, bukan?

Baca buku ini dengan santai, kemudian ulangi lagi. Anggap saya ada di samping Anda, sebagai sahabat yang menemani Anda dan membagi rahasia kecil ini kepada Anda. Bacalah buku ini dengan hati. Tapi gunakan Iebih dari satu hati: hati-hati. Banyak informasi dalam kehidupan ini, terutama dalam mencari kemakmuran, menjadi tidak akurat setelah Anda membaca buku ini.

Itulah jawaban mengapa dunia sekarang dalam bahaya yang sangat besar. Karena, kemakmuran seakan tidak bisa didapat oleh semua orang, hanya oleh segelintir orang yang kebetulan "bernasib baik" untuk mendapatkannya. Pilihan ada pada Anda.

Siapkah menulis sejarah baru Anda?

[1] Otak Sama, Nasib Beda?

Ketika berbicara soal kemakmuran, prosperity consciousness atau 'kesadaran kaya' selalu menjadi hal pertama yang saya bahas. Kata-kata ini menekankan bahwa cara otak bekerja adalah pilihan. Jadi, bagaimana Anda bisa memprogram otak Anda untuk menjadi orang kaya, Anda-lah yang menentukan. Artinya, kaya itu pilihan.

Ini sekilas fakta tentang otak. Bangsa mana pun di dunia, ukuran otaknya - baik ukuran panjang syarafnya, jumlah pengantar kimia dalam otaknya, maupun sensornya - semuanya sama. Kecepatan kemampuan berpikir yang oleh sebagian orang disebut IQ, juga tidak berbeda jauh. Intinya, kemampuan menyimpan datanya sama.

Jika manusia diibaratkan sebagai komputer, anggap saja otak itu hardware-nya dan semuanya sama. Lalu, di mana perbedaannya?

Mengapa yang satu Iebih sehat dari yang lain? Mengapa yang satu mudah tertawa, yang lain selalu sengsara? Mengapa yang satu mudah mendapat jodoh, yang lain selalu sendiri? Mengapa yang satu Iebih cepat mendapat uang, yang lain tetap saja miskin?

Ada sebuah fakta. Jika saya menyebutkan 375 nama orang, kemudian hartanya digabungkan semua, itu nilainya sama dengan kekayaan 3 milyar umat manusia. Ya, 375 orang sama dengan 3 milyar manusia!

Di antaranya, sebut saja Bill Gates, Donald Trump, Warren Buffet, Laxmi Mittal, Paul Allen, Mark Cuban, Jeff Bazos, Rupert Murdock, Sam Walton, Anita Roddick, Oprah Winfrey, dan terus berlanjut hingga 375 orang. Orang-orang seperti mereka ini memiliki jumlah kekayaan yang sama dengan gabungan 3 milyar manusia.

Jadi kesimpulannya, otaknya sama, nasibnya beda?

Nasib?

Ini batu sandungan pertama. Ada sebuah sistem pada manusia yang namanya belief system atau 'sistem keyakinan'. Ini ditanam di subconscious atau 'alam bawah sadar' seseorang. Jika sudah ditanam di posisi ini, untuk mengubahnya perlu teknik khusus. Kalau menggunakan cara biasa, tak akan pernah berubah.

Misalnya kebiasaan merokok. Maaf, saya mengambil contoh merokok karena mudah dipahami. Saya tidak merokok. tetapi saya bukan anti orang perokok. Prinsip saya, merokok itu baik, tidak merokok lebih baik. Itu hanya sebuah pemahaman dan pengambilan posisi dalam melihat sesuatu.

Kembali ke merokok sebagai contoh. Dalam iklan di televisi, secara vulgar ditulis, "MEROKOK BISA MENYEBABKAN KANKER, GAGAL JANIN, PENYAKIT PARU-PARU", dan lain sebagainya. Apakah dibaca oleh setiap perokok? Ya. Namun, apakah mereka Iantas berhenti merokok karena takut akan peringatan itu? Tidak juga. Mengapa? Inilah kerja otak.

Otak conscious yang menguasai informasi pengetahuan, hanya menguasai 12% dari sebuah tindakan. Subconscious-nya 88%. Informasi tadi hanya menempel di conscious, tidak menjadi gerak. Karena, dalam database otak, subconscious-nya menyatakan, "Merokok itu nikmat". Jadi, itulah yang terus dilakukan. Subconscious-lah yang berkuasa.

Sekarang kita kembali lagi ke prosperity consciousness — kesadaran kemakmuran, IQ kaya, tulang kaya, balung sugih, atau apa pun itu. Bagi mind master atau sang pemiIik otak. Ini semacam software. Jadi, 375 orang kaya memiliki software ini, sedangkan 3 milyar yang lain hanya memiliki hardware-nya, tetapi tidak memiliki software itu.

Bisa menerima? Masih berat? Masih bertanya di mana nasib?

Ya. Ini pertanyaan kecil dari kelompok besar. Ini pertanyaan saya pula. Saya mengalami jalan kehidupan yang turun naik seperti gelombang Iaut selagi badai. Saya pernah memiliki materi berlimpah, tetapi 3 tahun kemudian tinggal di rumah kontrakan dengan masih menanggung utang besar. Kemudian kembali berlimpah materi, kemudian kembali terpuruk. Kembali lagi naik ke atas, lalu terbalik begitu sampai di puncak. Saya sudah mengalami beragam kisah untuk bisa menjadi diri saya yang sekarang.

Ketika itu, saya banyak mempertanyakan nasib dan urusan jalan hidup. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk belajar dan mencari ke mana pun untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya yang terbesar: nasib itu pemberian Tuhan atau buatan manusia?

Saya tidak kaget jika pertanyaan itu membuat Anda memutuskan berhenti membaca hingga chapter ini. Karena, kedepannya akan ada banyak hal yang menyesakkan dada Anda. Saya tetap akan meIanjutkan menulis buku ini untuk Anda karena saya tahu sekali, fakta bisa mengubah kebenaran. Ya, kebenaran Anda akan ditantang ke batas ujung dengan fakta.

Beranikah Anda meneruskan membaca tulisan ini?

***

[2] Millionaire Mindset

Dulu, kehidupan saya mengalami goncangan yang amat sangat. Itu bukan pertama kali. Melainkan kedua kalinya saya terpuruk. Tapi, yang kedua itu sangat dahsyat. Seluruh harta saya hilang dan utang saya juga bertumpuk.

Ketika itu saya memiliki beragam bisnis, tetapi dalam masa hampir bersamaan, "shit happened" alias kesialan beruntun terjadi di dalam kehidupan saya. Money changer saya kecurian hingga 2 kali dalam 3 bulan. Kapal barge saya yang bertransaksi dalam pengiriman ke Kelian Equatorial Mining di Balikpapan, karam dan asuransi tidak membayarnya.

Pabrik kapur hydrated lime saya yang masih berhutang ke bank, kena gempa di Cileungsi. Gempanya memang kecil, tetapi meretakkan tungku utama dengan harga yang mahal. Traktor di quarry kapur meluncur tak terkendali, menabrak silo di pabrik. Asuransi Juga tidak menggantinya.

Ditambah lagi bank pembiayaan kami PDFCl ditutup BPPN di tengah krisis keuangan berkepanjangan, harga bahan baku naik 200%, yaitu gas. Perusahaan saya pun terpaksa "file for bankruptcy

Semua musibah ini terjadi dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun, yaitu pada 1999-2001. Kerugiannya tak tanggung-tanggung, mobil 4 habis, 1 rumah hilang, sedangkan utang masih 9 digit!

Setiap saat, setiap hari, emosi saya memuncak. Makan keluarga, bayar sewa, uang sekolah anak, membuat panik dan marah. Mau bekerja di mana? Kapan utang terbayar? Bagaimana untuk hidup?

Dikejar debt collector, dikejar hukum, dikejar BPPN, dan juga dikejar teman investor yang marah dan kecewa. Bayangkan betapa kusutnya situasi saya saat itu.

Di tengah keputusasaan, siang itu saya langsung memandang langit dan bicara langsung kepada Allah SWT, Tuhan yang saya percayai 100%. Saya katakan bahwa saya putus asa dan hidup saya sudah di ambang frustasi. Saya marah sekali kepada semuanya. Saya menuduh kehidupan ini tidak adil.

Saya merasa telah meIaksanakan seluruh ajaran agama. Saya teringat betapa tertibnya saya meIaksanakan puasa Senin Kamis selama 5 tahun, tak terputus. Setiap malam, saya selalu bangun untuk bertahajud. Yang wajib-wajib apalagi, sudah pasti saya Iaksanakan.

Hitungan zakat mal dan sedekah lainnya, saya bayarkan Iebih dari 2,5% aturan baku. Saya mendirikan panti asuhan dan mengelola 8 panti lainnya, menampung 400 anak yatim dalam kurun waktu 5 tahun. Itu semua saya Iaksanakan dengan tulus, dengan keindahan munajat.

Namun, ketika kebangkrutan beruntun selama 2 tahun tanpa jeda dan tanpa belas kasihan terjadi kepada saya, saya mempertanyakan, apa bukti ketaatan dengan kenyataan yang saya dapat?

Jujur saja, saya marah kepada Tuhan. Saya protes. Bahkan, sempat muncul keraguan dalam hati saya yang mempertanyakan keadilan Tuhan. Saya bertanya kepada-Nya, mengapa musibah ini menimpa saya?

Apalagi yang kurang dari saya sehingga saya pantas menerima ini semua? Mengapa rasanya hidup ini kejam dan sadis sekali? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam kepala saya.

Akhirnya, saya mulai menjauh dari Tuhan. Jangankan yang sunah, yang wajib pun saya tinggalkan. Saya meragukan semuanya tentang ajaran kebenaran agama saya. Saya diam, saya bertanya tak ada jawaban, saya kesal, saya murka.

Permasalahan ekonomi ini akhirnya berimbas pada rumah tangga dan pernikahan pertama saya yang dulu. Istri saya kembali ke rumah mertua. Kemudian saat itu anak saya yang tertua demam, panas tubuhnya 39 derajat celsius dan sudah tidak bisa bangun. Adiknya pun mengalami hal yang sama. Mereka masih balita, baru berusia 4 dan 2 tahun.

Listrik di rumah sudah dipadamkan PLN, tidak ada makanan, tidak ada uang di tangan, dan setiap saat ada telepon dari penagih utang-utang saya. Saya berutang pada Iebih dari 5 institusi keuangan dan Iebih dari 60 individu. Dari yang utangnya sejumlah 1 juta hingga milyaran.

Puncaknya, suatu hari saya ditelepon oleh seorang pemberi utang yang mungkin sudah muak dengan saya. Dengan kasarnya dia bilang akan mendatangi rumah saya sore itu dan dia akan menagih. Kalau tidak dibayar maka dia akan paksa. Gaya bicaranya sudah seperti preman.

Tumpah darah pun dia siap, katanya.

Saya tidak ada pilihan lain, hanya bisa mengasah pisau. Saya sudah tidak sanggup lagi dan bersiap untuk kemungkinan terburuk. Kalau memang orang itu menantang pertumpahan darah, terpaksa saya melawan. Saat itu rasanya saya siap membantai orang. Saya sudah tidak peduli lagi akan apa yang terjadi. Saya sudah tidak punya apa-apa, bahkan harga diri pun tidak ada. Saya siap mati.

Kedua anak saya yang demam, membujur lemas di lantai beralaskan bedcover. Yang satu minum dari botol air tajin beras, yang satu hanya diam dengan botol air mineral yang tidak diminumnya. Saya hanya menatap kosong. Ke dokter tak bisa, jalan tak bisa.

Karena itulah, begitu ada yang menantang harga diri saya yang sudah tidak punya apa-apa ini, saya siapkan jiwa raga. Dia yang menagih, kalau datang mencari ribut, akan saya bunuh! Ya, pikiran Iaknat itu sempat terlintas di benak saya.

Saat itu saya berpikir, toh dia orang rantau. Keluarganya tak ada di kota ini, temannya pun pasti tak banyak. Kalau saya terpaksa harus membunuh dia, akan saya kubur dia di halaman belakang. Tidak akan ada yang tahu. Rasanya saya benar-benar sudah dirasuki Dajjal.

Saya kumpulkan barang-barang yang sekiranya bisa saya pakai untuk membantai orang. Benda tajam, benda keras, benda panjang, semua senjata serang, saya tahu sekali bagaimana menggunakannya, dan saya tahu sekali di mana letaknya di setiap sudut rumah.

Kriiing, kriiing, kriiing. ...

Telepon rumah yang sudah diblokir dan hanya bisa menerima panggilan itu berdering, sementara saya masih melamun dengan gamang. Hingga dering kesekian, barulah saya tersadar. Mungkin itu si penagih utang lagi, pikir saya. Dengan gusar, saya pun mengangkat telepon.

"Halo!" kata saya dengan kasar.

'Assalamualaikum Mas, " kata suara di seberang dengan Iembut. Saya mengenalinya sebagai suara Pak Aly, pimpinan Yayasan Husnul Khatimah yang kemudian dikenaI sebagai

Rumah Yatim Indonesia, panti asuhan yang saya bangun.

Saya pun terhenyak dan menjawab dengan nada melemah, "Waalaikumsalam, Pak Aly."

"Mas, saya telepon sampai 3 kali kok nggak diangkat? Lagi sibuk, Mas?" tanya Pak Aly dengan logat Lamongan-nya yang khas.

"Maaf, Pak Aly. Saya sedang ada kesibukan. Apa kabar?" sahut saya dengan mengatur nafas yang sedang emosi.

"Mas, dengar-dengar sedang ada masalah, ya? Istri pergi, anak sakit, rumah dan isinya sudah dijual, listrik diputus. Apa benar Mas?" tanyanya dengan serius.

Dengan berat, saya menjawab, "Iya, benar, Pak Aly. "

"Mbok ya kalau ada masalah begini, ceritalah ke saya, Mas," kata Pak Aly.

Saya tertegun mendengar kalimatnya.

Kemudian Ianjutnya, "Mas, walaupun kita miskin, yayasan kita sedang ada pegang uang. Kalau Mas butuh, ada nih 3 juta. Pakai saja dulu, Mas. Mas berhak, kok. Sudah 5 tahun Mas membangun yayasan ini, kalau ada masalah seperti ini, Mas punya hak untuk memakai atau meminjamnya, Mas. Saya ke rumah sekarang ya, biar Mas bisa bawa anak-anak ke dokter. Saya antar."

Nyeeesss. ... Rasanya saat itu bara di hati saya seakan disiram seember es batu. Saya tertegun, terduduk dan menangis tersedu-sedu. Saya tak kuasa menahan getaran di dada, antara haru, malu, senang, kesal semua jadi satu.

Dengkul saya keduanya di lantai, tangan kanan saya masih memegang kelewang—pedang pendek— yang terasah tajam. Sesaat kemudian saya buang jauh. Yang ada hanya diri saya tersungkur bersujud. Saya salah, saya salah, saya salah.., batin saya memohon taubat.

Tak lama kemudian, selagi saya terduduk menatap langit, di bawah pohon kelapa di teras belakang rumah saya, terdengar suara bariton yang mengucap salam.

“Assalamualaikum," sapanya. Saya pikir Pak Aly, rupanya bukan.

Ah, ini dia orang yang tadinya akan menagih utang dengan menantang saya.

Saya pun menjawab, "Waalaikumsalam."

Tanpa basa-basi, dia langsung bertanya, "Begini Pak, utang Bapak yang 10 juta, apa bisa saya ambil sekarang?"

Saya hanya berkata, ”Anak saya sakit. Saya perlu uang untuk biaya anak saya. Sebentar lagi ada uang 3 juta datang. Terserah Mas mau ambil berapa, Mas yang atur." Kalimat itu mengalir tanpa saya rancang. Marah saya sudah hilang, saya pasrah saja.

"Oh..., begitu ya Pak," katanya dengan nada datar. “Anak  Bapak sakit dua-duanya? Yang berbaring di dalam itu?" tanyanya sambil mengedikkan kepala ke ruang tengah.

“Iya." jawab saya singkat.

"Oh, maaf kalau begitu. Saya nggak tahu kalau anak Bapak sakit. Sebaiknya Bapak urus mereka. Uang saya gampang. Saya pamit saja dulu. Besok-besok kabari saya ya Pak,"

katanya tanpa diduga-duga.

Dia pun pamit pergi dan saya masih dalam posisi bingung, lunglai di ujung bangku di bawah pohon. Tubuh saya berkeringat. Saya memaksa diri untuk bangun dan mengikuti dirinya dari belakang sambil memanggilnya "Mas, saya pasti bayar utang saya. Saya hanya butuh waktu.

Maafkan saya ya Mas, kalau saya kasar atau panik," kata saya. Ketika dia berbalik badan, saya julurkan tangan saya yang kemudian dia sambut dengan jabat tangan yang erat dan senyum di bibirnya.

Dia pun berkata, "Iya Pak, saya juga minta maaf."

"Saya salah Mas," kata saya, "saya berutang tapi tidak berkemampuan. Tapi saya janji Mas, saya pasti bayar."

Tak lama setelah dia pergi, datanglah Pak Aly dengan Kijang tua-nya. Tanpa basa-basi, langsung saya peluk erat dia. "Pak Aly, syukron... terima kasih," kata saya.

“Ayo ke dokter, Mas. Aku bawa Fathur, Mas gendong Azka," ajaknya singkat.

Setelah dua tahun dihajar musibah yang merusak keyakinan saya, akhirnya saat itu saya menyadari satu hal. Semua masalah yang saya alami, itu berasal dari diri saya sendiri, hal lain di luar diri saya hanyalah pelengkap.

Saya langsung berdoa, ‘Maafkan saya, ya Allah... ampuni saya. Engkau begitu mulia, dan saya selama ini salah memandang-Mu. Saya sadar bahwa saya sendiri-Iah yang harus bertanggung jawab dan menyelesaikan semua ini. Saya-Iah yang in charge sepenuhnya. Maafkan saya telah meragukan kuasa-Mu, ya Allah.'

Saya memilih untuk berdamai dengan Tuhan, dan saya ingin memulai sesuatu dengan kesadaran penuh untuk mengubah nasib saya, menulis ulang sejarah hidup saya. Saya mendapat semacam pemahaman bahwa cara berpikir saya saat itu tidak bekerja dengan benar. Buktinya saya rugi. Buktinya saya bangkrut. Buktinya semua orang menjauh.

Artinya, saya harus mengubah cara berpikir saya. Harus ke mana dan bagaimana saya bisa mengubahnya? Itulah pertanyaannya.

Tak lama setelah menjual rumah, saya pindah ke rumah kontrakan yang sempit. Suatu sore, tetangga rumah kontrakan saya pulang kantor. Kaca mobilnya terbuka separuh. Dia rupanya ingin membuang sesuatu, mungkin sampah.

Agaknya dia tidak melihat saya berdiri di sisi jalan tersebut. Mungkin karena maghrib yang pencahayaannya mulai samar, mungkin juga dia tidak fokus karena sibuk mengumpulkan barang yang akan dibuangnya.

Bruk... segumpal kertas jatuh tepat di kaki saya. Entah mengapa saya tergerak untuk memungutnya. Mungkin karena saya tertarik dengan tulisannya yang berwarna merah mengkilat. Setelah membuka lipatannya, saya baca kertas itu yang ternyata merupakan brosur Millionaire Mindset Training... di Australia.

Saya merasa aneh dan terkejut. Inikah jawaban dari doa yang saya panjatkan?

Saya berdiri termenung. Rupanya tetangga saya tadi baru sadar bahwa sampah yang dibuangnya jatuh di depan saya. Dia pun menghampiri saya. "Mas, maaf aku nggak lihat,” katanya dengan kikuk.

"Lho, nggak apa-apa. Aku-nya juga lagi ngelamun, nggak ngeh. Aku baru ngeh pas lihat brosur ini," kata saya berbasa-basi sambil menunjukkan Iembaran tersebut.

"Iya tadi saya dapat dari kantor. Tapi sepertinya nggak mungkin saya ke sana. Hehehe... bukannya nggak butuh jadi orang kaya, sih. Tapi harganya itu Iho, buat seminggu saja 30 juta rupiah. Mending juga buat modal dagang," urainya.

Saya hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum sopan. "Saya pamit ya, Pak Syarif, " kata saya.

"Ya, Mas. Maaf ya tadi benar-benar nggak sengaja, Mas," katanya sungguh-sungguh

"Nggak apa-apa BOS, santai aja," kata saya lagi.

Setelah itu saya langsung sibuk berpikir. di mana saya bisa cari uang 30 juta? Belum lagi uang untuk sangu keluarga di rumah sementara saya pergi. Yang jelas, saya sudah bertekad untuk berubah dan saya melihat ini sebagai solusinya. Saya percaya itu.

Singkat cerita, harta terakhir saya yaitu motor Tiger, mesin jahit, dan beberapa barang keluarga, saya jual. Saya nekat terbang ke Negeri Kangguru. Saya menginginkan ilmu tersebut. Saya pun berangkat untuk mengikuti Millionaire Mindset Training di sana dengan harapan bisa menerapkannya untuk memperbaiki kondisi ekonomi saya di sini.

Kira-kira sebulan setelah kembali dari pelatihan selama 7 hari tersebut, ternyata tidak ada perubahan apa-apa dalam perjalanan hidup saya. Saya masih menganggap bahwa apa yang saya pelajari itu agak aneh. Agak nggak kena di logika.

‘Mek ngono tok, opo iyo? Kayak gitu doang, memang bisa?' batin saya.

Memang benar. Saya meragukan dan saya menganalisis, mencoba mengurai maksud dari pelatihan tersebut, tetapi saya lelah. Keadaan saya masih begitu-begitu saja. Saya belum bisa dapat uang lagi. Saya belum bisa meIunasi tunggakan utang. Saya belum bisa mengubah nasib saya.

Apakah saya harus belajar lagi?

Saya mencoba mengingat mundur pengalaman hidup saya. Semua itu terjadi hingga di usia 26 tahun. Benar, saya merasa seakan berjalan di jalan bebas hambatan. Semuanya mudah, semuanya gampang. Pada saat itu, saya bahkan "menggampangi" proses—saat ini, justru "proses" merupakan hal yang paling saya hormati.

Barulah sejak usia 28 tahun, kehidupan saya mengalami pasang surut yang Iuar biasa. Baik dari masalah pribadi yang personal, masalah spiritual ketuhanan, masalah rumah tangga, masalah parenting, hingga keuangan.

Di kala saya berpikir Iaut itu berair tenang, saya memilih mengangkat jangkar dan mengembangkan layar ke sebuah tujuan pasti, yaitu ingin sukses. Dengan tujuan hanya tahu satu arah, yaitu ke depan.

Sebuah kesombongan yang saya bayar sangat mahal. Sangat melelahkan, penuh duka, air mata, dan keringat. Ternyata Iaut di depan tidak semanis gelombang di pantai. Dalam perjalanan, ombak besar, angin kencang, bahan bakar kurang, sumber daya terbatas.

Satu hal yang saya lupa. Saya tidak bawa kompas penunjuk arah.

Dalam artian, saya mengarungi samudra tanpa ilmu, tanpa petunjuk, tanpa pembimbing. Mentang-mentang punya glory from the past, kisah sukses masa Ialu, saya merasa bisa meIakukan apa saja.

Inilah biang masalah saya di masa ke depannya sejak keputusan saya mengarungi samudra. Hingga sampailah saya di titik ketika kapal saya akhirnya karam ke dasar samudra, sementara badan saya terdampar di pulau kecil sendiri dengan kebutuhan dasar seadanya.

Saya hanya bisa diam. Meratap pun tidak bisa. Air mata habis. Tenaga tak punya. Yang ada hanya nafas di badan, itu pun setiap tarikan nafas terasa sesak. Seakan-akan dada ini mau meledak karena terisi oleh rasa kesal, Ielah, marah, dan kecewa.

Karena itu, ketika saya memutuskan untuk berubah. Artinya saya tidak mau meIakukan semuanya dengan cara yang sama seperti masa Ialu. Saya harus meIakukannya dengan cara yang berbeda.

Karena itulah saya memutuskan bahwa saya harus berilmu agar saya memiliki platform atau fondasi baru, terutama untuk cara saya berpikir.

Ibaratnya, saya bukan hanya perlu belajar dan meng-install software baru. Tapi OS atau operating system-nya harus saya reset untuk bisa terhubung dengan software tersebut.

Sederhananya begini, jika otak kita yang kemampuannya maha dahsyat ini adalah hardware pemberian Tuhan, software-nya kita sendiri yang pasang.

Sebut saja software sukses, software sehat, software bahagia, itu semua manusia yang install. Jadi, hardware-nya memang pemberian Tuhan, tetapi software-nya buatan manusia.

Mungkin banyak pembaca yang berkerut ketika saya membawa-bawa hal ini. Tapi coba saya berikan ilustrasi. Seorang anak yang hidupnya dikritik, dimarahi, ditekan, dipaksa, diharuskan, dibatasi, dilarang, dimaki, dan dihina akan membuat dirinya tumbuh sebagai pribadi yang peragu, pemarah dan pendendam.

Bandingkan dengan anak yang didorong, dipuji, disayang, diperhatikan, didukung, dan dikelilingi suasana penuh canda tawa, sang anak akan memiliki "platform" hidup Iebih ringan, fun, banyak senyum, dan vibrasi dirinya disukai orang.

Yang saya maksud di sini adalah, software seseorang di-install oleh orangtua dan lingkungan sekitarnya. Dan, tentu saja, software yang buruk bisa diganti, diubah, bahkan dibuang bila kita mau. Sesuatu yang dipasang, umumnya bisa juga dilepas, bukan? Bukan sesuatu yang permanen. Teman-teman dari bidang psikologi mungkin mengenal ini sebagai sesi "therapeutic" dalam dunia psikologi.

Ketika mencari kompas ilmu dan perubahan pola pikir itulah; baru saya sadar. Selama ini saya menerima hasil sebuah printer yang isinya salah, Ialu saya mati-matian memberi tip X pada tulisan dalam kertas itu. Begitu seterusnya.

Saya tidak sadar bahwa yang harus saya ubah justru dokumen yang akan di-print, bukan yang sudah di-print. Yang salah bukan printer-nya, melainkan data di dalam komputernya. Kalau isi komputernya sudah benar, baik itu software maupun datanya, hasil yang di-print pasti tidak akan salah.

***

[3] Jangan Membatalkan Doa

Setelah mengikuti Millionaire Mindset Training di Australia itu, saya juga melanglang buana ke Kota Gowa di India; Hongkong; Kota Kinabalu, Malaysia; dan Selandia Baru, dengan Sandy MacGregor dan School of Mind, Sydney, Australia. Semuanya saya bayar dengan modal terakhir. Setelah menjual seluruh harta yang tersisa tapi masih kurang, saya pun mencari pinjaman sana-sini.

Kalau ditotal, ini adalah ratusan jam workshop dalam kelas. Semua itu tidak sekaligus. Dalam 1 tahun saya berangkat, rata-rata 7 hari workshop-nya. Tapi bahkan setelah itu pun, ternyata belum ada yang "klik" dalam diri saya. Saya masih sama, masih loser, masih pecundang. Tapi saya tak ingin kecil hati.

Dulu saya pecundang tak berilmu, setidaknya kini saya pecundang dengan sedikit ilmu. Jujur, setelah mengumpulkan semua pelajaran tersebut, saya tak bisa serta-merta mulai mempraktekkannya. Belief system saya tertabrak-tabrak.

Nasib, kata mereka, kita yang menentukan? Sementara saya punya keyakinan, nasib ditentukan Tuhan. Tabrakan pemahaman ini belum bisa saya terima.

Tapi kalau saya tidak terima itu, artinya saya harus menerima kondisi saat itu—berutang dan hidup susah. Dan kalaupun saya kembali memulai sesuatu, akan terbawa putaran sama.

Saya sadar bahwa untuk memulai yang baru, saya harus mengubah belief system saya. Dalam sebuah sesi di Millionaire Mindset, ada pelajaran tentang meng-cancel atau membatalkan doa. Jadi, ada pelajaran tentang berpikir dan berdoa yang tidak boleh di-cancel.

Contohnya, waktu itu saya diperintahkan untuk memohon agar diberikan 1 milyar rupiah pada akhir bulan ini. Saya manut. "Ya Allah, saya minta 1 milyar di rekening saya akhir bulan ini." ucap lidah saya.

Tapi meskipun lidah saya berucap seperti itu, hati kecil saya berkata lain. Apakah mungkin? Dan mana uangnya? Bagaimana caranya? Nah, rupanya keraguan-keraguan batin seperti itu bisa dikatakan seolah meng-cancel doa.

Dalam membuat sebuah permohonan, tidak boleh di-cancel. Kita harus percaya utuh. Untuk setiap keraguan yang timbul di benak kita, artinya doa kita sudah terbatalkan dengan sendirinya. Untuk itu kita perlu panjatkan lagi permohonannya, diulang lagi. Begitu seterusnya.

Ribuan kali saya coba, ribuan kali pula saya cancel. Belief system saya belum bisa terima. Masak sih? Kok, begitu doang? Memang bisa? Dari mana caranya? Demikian keraguan dalam benak saya.

Dulu saya pernah bekerja untuk menutupi biaya hidup dan sebagian cicilan utang. Posisi saya sebagai direktur business advisor dari sebuah investment banking ternama, PT Refund Financindo (sekarang bernama PT Recapital) di Jakarta. Kompensasi bulanannya cukup besar, tetapi saya hanya kerja kontrak di situ selama 24 bulan, dari tahun 2000-2002.

Suatu hari, di tahun 2001, sembilan bulan sebelum kontrak saya berakhir, saya sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Saya pun meminta Fathur, anak kedua saya yang

Saat itu berusia 4 tahun, untuk mengambilkan sepatu.

"Mas, tolong ambilkan sepatu Ayah yang hitam, " pinta saya.

Fathur hanya terdiam.

Saya ulangi sekali lagi. "Fathur, kamu dengar kan, Ayah suruh apa?"

Dia tetap diam dan bahkan berjalan menjauh.

Saya pun memanggilnya dengan suara dan intonasi yang meninggi, tetapi dia hanya menunduk.

Emosi saya terpancing. Batin saya, ‘Ini anak kok nggak nurut, sih?!’

Saya pun berjalan ke arahnya dengan langkah Iebar. Wajah saya memancarkan amarah. Kemudian matanya menatap saya, tepat di mata saya. Agak ketakutan ekspresinya.

Saya kaget. 'Kok, dia takut?' batin saya.

Langsung saya berlutut mensejajarkan matanya dengan mata saya. Setahu saya ini metode dasar psikologi mendidik anak, yaitu mata yang sejajar menunjukkan kesetaraan dan kesederajatan. Kalau posisi mata anak di bawah, sedangkan posisi mata orang tua di atas, ini menimbulkan sugesti bahwa posisi orang tua menjadi otoritatif dan si anak inferior.

Pada saat itu, saya sadar bahwa posisi saya sedang marah dan posisi Fathur sedang ketakutan. Saya tahu itu tidak sehat. Maka saya pun menyejajarkan wajah saya dengan wajahnya sehingga dia nyaman karena merasa sederajat.

Saya ubah ekspresi saya. Saya datarkan suara saya. “Tolong ambilkan sepatu Ayah, Sayang?" pinta saya lembut.

Tiba-tiba kaki saya dipeluknya. Dari bahasa tubuhnya saat itu, saya menangkap bahwa dia tidak mengizinkan saya berangkat bekerja kembali saya terhenyak. Tadinya mau marah, tetapi sinyal yang diberikannya cukup kuat. Seakan dia berkata, 'Jangan pergi, Yah! Ayah belum memberikan banyak rekening emosi ke Fathur.'

Ya, rekening emosi saya memang kurang kepada Fathur. Lama saya menatap wajahnya. Tiba-tiba saya putuskan, "Oke, Ayah nggak bekerja hari ini. Kamu mau apa, Sayang?"

"Ajarin Mas Fathur naik sepeda roda dua, Yah... terus main layangan. Boleh?" pintanya dengan kepala memiring dan mata memelas. Melihat ekspresinya yang menggemaskan ini, saya pun mengangguk.

Saya telepon Yola, sekretaris saya saat itu. "Tolong bilang ke Pak Rosan, saya nggak masuk hari ini, off dulu," kata saya.

Seharian saya ajari Fathur naik sepeda roda dua. Sorenya kami bermain layangan. Saya rasa itu 7 jam yang sangat padat dan paling berkualitas. Malamnya, dia memijat-mijat sebagian tubuh saya. Nikmat sekali rasa di hati. Tiada tara rasanya.

Ah... enak ya, berkumpul dengan orang yang kita cintai dan meIakukan hal yang kita sukai, mendapatkan uang tak terhingga, kata saya dalam hati.

Saat itu juga, seperti ada bunyi klik di otak saya.

Mendadak saya seperti mendengar suara sendiri. Katanya ingin punya anak saleh, kok ngaji diajari orang lain, belajar sepeda diajari orang lain, belajar baca tulis sama orang lain, bagaimana rekening emosi bisa tumbuh?

Bukannya dulu pernah bilang bahwa kalau bisa, setiap sel dari anak yang tumbuh, saya memiliki andil terbesar agar di kemudian hari tidak ada sesal?

Sementara faktanya, setiap hari sibuk. Pagi berangkat, anak belum bangun. Malam pulang, anak sudah tidur. Ketemu di kala weekend sudah keburu capek pengen istirahat. Tahu-tahu, anak tumbuh membesar dan membesar tanpa ada kontribusi apa pun dari saya. Saya terhenyak.

Lalu saya putuskan seketika itu juga tanpa pikir panjang. Cikar kanan, vaya con dios! Kita bakar kapal! Saya mengambil istilah ini untuk mengandaikan tindakan seorang panglima perang, Jabbal Tariq, sewaktu menaklukkan Gibraltar. Pasukannya kalah jumlah dan nyali ciut mau mundur. Jabbal Tariq memerintahkan bakar kapal sehingga pasukannya tidak ada pilihan kecuali maju berperang.

Keesokan harinya, saya membuat surat resign. Tertuju pada partner saya yang sekaligus owner perusahaan tersebut, Rosan Roslani. Saya mendadak percaya 100% bahwa uang akan datang ke saya tanpa usaha banyak.

Dan, saya tidak pernah meng-cancel doa itu. Saya sepenuhnya memercayakan permohonan itu kepada Tuhan. Entah mengapa yang jelas saya percaya dan semangat sekali.

Hari berlalu tanpa ada yang istimewa. Herannya, orang modern seperti saya tidak banyak tanya-tanya. Enjoy total. Benar-benar seperti orang aneh. Nggak mikir, blass. Sore itu saya menyiram bunga, di luar dari kebiasaan. Sebelum itu saya tidak pernah siram bunga.

Tahu-tahu, sebuah motor menghampiri. Pengemudinya menggunakan helm berkaca gelap. Saya tidak tahu siapa dia.

"Sore, Bapak...," sapanya dengan logat khas timur Tanah Air, lalu ia membuka helm.

Ah... Ray Sahanaya, rupanya. Dia orang Ambon tetangga saya, yang tinggal berjarak tiga rumah di sebelah. Dia mengontrak di sana.

"Eh, eh... Begini Bapak, apa Bapak ada uang 10 juta di tangan?" tanyanya dengan logat Ambon yang kental.

"Maksudmu?" tanya saya. Saya harus memastikan pemahaman saya dulu, tentu saja.

"Begini Bapak, beta mau jual samua barang di rumah beta, Bapak. Beta jual 10 juta, Bapak. Termasuk motor baru ini, Bapak. TV, kulkas, AC, kontrakan rumah, samua Bapak ambil. Bolehkah?" tanyanya.

"Wah, Ray... jujur uangku hanya 6 juta. Ini pun buat bayar utang besok." jawab saya apa adanya.

Dia terdiam, Ialu berkata, "Beta dapat kerja kapal, Bapak. Malam ini kapal so angkat jangkar. Jam sambilan kita so balayar, Bapak. Beta dikontrak 3 tahun, Bapak. Gaji bagus 2.500 doIar sabulan, Bapak. Beta harus cepat-cepat balik pelabuhan, Bapak."

Dia terlihat berpikir sebentar dan kemudian berkata, "Ai Baiklah, Bapak. Beta kasi Bapak samua. Bisa kasih 6 juta sekarangkah?"

“Ada," jawab saya. Saya masuk ke dalam, 1 menit kemudian saya keluar dan memberikan uang 6 juta kepada Ray. Dia senang sekali. Giginya yang putih berkilat tak pernah hilang dari bibirnya.

Ray pun menandatangani tanda terima, serta 3 Iembar kwitansi kosong untuk motor dan kunci kontrakan. Setelah itu dia pergi membawa tas dan berangkat naik ojek.

Saya terdiam. Memegang 2 kunci. 1 kunci rumah kontrakan, 1 kunci motor beserta surat-surat. Kemudian saya ke kontrakannya yang lebih Iuas sedikit dibanding rumah kontrakan saya. Cukup rapi untuk seorang bujangan. Barang-barangnya terawat.

Keesokan harinya, saya jual semuanya kecuali motor yang saya butuhkan untuk mengganti Honda Tiger saya, juga menutupi sebagian ongkos belajar ke beberapa tempat. Total saya memperoleh sisa uang 19 juta! Plus, rumah kontrakan yang masih 1 tahun lagi. Kebetulan saat itu kontrakan saya tinggal tersisa 2 bulan lagi.

Apa ini yang disebut prosperity consciousness?

Dengan uang 19 juta di tangan, rasanya saya ingin mengajak anak-anak main, walaupun hanya ke Ancol. Bukan main senangnya kedua anak itu. Di hari Minggu itu, kami sekeluarga berekreasi ke Taman Impian Jaya Ancol, mulai dari makan pagi di pantai, jalan-jalan ke Pasar Seni, Ialu ke Dufan sebagai puncak acaranya.

Ketika pukul 10 pagi tiba di Pasar Seni, ada hal yang menarik perhatian saya, yaitu sebuah Iukisan. Sebenarnya saya bukan penggemar, apalagi pengoleksi lukisan. Namun, Iukisan bergambar wajah manis gadis mungil duduk di halaman rumah menatap pantai itu, memberikan pemandangan yang menakjubkan, menurut saya.

Saya menatap lama Iukisan tersebut. Bunga di rambut, topi yang dikenakannya, semuanya menarik bagi saya. Sang penjual yang rupanya juga sang seniman pelukisnya pun menghampiri saya.

Saya bertanya, "Piro, Cak?" Saya tahu seniman itu orang Surabaya karena sedari tadi menggunakan bahasa Suroboyo-an ketika bicara dengan sesama seniman di sebelahnya.

"Telungyuto, Cak", jawabnya singkat.

Ah... telung yuto larang, Cak!" Tiga juta mahal, kata saya.

"Sak juta ae," tawar saya sejuta, sekenanya.

"Ngak iso, Cak," katanya, Ialu melengos membalik badan.

Saya pun pergi, jalan keluar untuk ke Dufan bersama anak-anak.

Setelah lelah bermain hingga pukul 5 sore, kami pun menuju kendaraan kami di parkiran. Ketika hendak naik mobil, terdengar suara memanggil dari kejauhan.

"Mas, Cak... Hoiii!"

Saya pun menengok. Rupanya sang seniman tadi yang memanggil, Ialu menghampiri saya dengan membawa gulungan kertas yang ternyata Iukisan tadi.

"Mas, ini. Jadi Mas... sak juta," katanya sambil tersenyum polos.

Karena sudah keburu janji, akhirnya saya setuju. "Lek sak juta tak tuko," kata saya—kalau satu juta saya bayar. Akhirnya saya ke ATM dan menarik uang untuk membayar Iukisan itu.

Esoknya, hari Senin, saya membuatkan bingkai untuk Iukisan itu di sebuah toko pigura di bilangan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Dari sana saya dijanjikan Rabu pukul 9-an selesai, sudah bisa diambil.

Singkat cerita, Iusanya saya ambil pukul 10 dan saya bergegas pulang ke rumah saya di bilangan Bekasi Barat.

Setibanya di depan rumah, ada sebuah mobil terparkir dan saya tahu ini mobil sewaan teman istri saya. Dia pasti sedang mengambil baju pesanannya.

Dia adalah Freeda, seorang mahasiswi S3 dari Swedia, yang sedang mengambil disertasi tentang keragaman Islam di Nusantara Indonesia.

Saya kenal sekali dengan Freeda. Dia berusia 26 tahun, single, cantik, mata biru, rambut pirang seperti artis Hollywood. Kalau di sini bisa dibilang mirip Sophia Latjuba, mungkin. Berbadan mirip peragawati, pintar, santun, dan mengerti tata krama ketimuran.

Kalau dia ke rumah, yang mana istri saya punya usaha baju muslim dan bordiran, pastinya saya ikut nimbrung diskusi. Biasanya baru sebentar saja istri saya sudah sibuk mengusir saya untuk masuk ke kamar. Jangan lama-lama katanya. Tapi ada benarnya juga sih, memang Freeda cantik kok.

Freeda pernah mengeluh, beberapa kali dia ke pesantren tradisional, banyak ulama dan ustadz yang mengajaknya menikah. Dia bingung kenapa. Kalau melihat penampilannya, karena dia dari negara sub-tropis, kemudian datang ke negara tropis yang Iembab seperti lndonesia ini, busana yang dia kenakan memang agak terbuka. Mungkin supaya semilir angin masuk dan tubuhnya adem tidak kegerahan.

Iya, benar. Tubuh dia memang jadi adem. Tapi tubuh cowok seperti saya, ya kepanasan ekstra. Begitu juga para Ielaki yang lain, terlepas dari ilmu agama apa pun yang mereka miliki.

Karena itu, cara paling aman adalah dibuatkan baju longgar berbahan asli cotton (kapas) sehingga menyerap keringat dengan baik. Baju itulah yang dia pesan ke istri saya, Dan, hari itu pastinya dia sedang mengambil pesan tersebut.

Saya masuk ke dalam dan langsung saya pajang lukisan tersebut, tepat di depan pintu masuk. Jadi kaIau pintu terbuka, semua orang pasti melihat lukisan gadis kecil bertopi dan berbunga di rambutnya, menatap indahnya pemandangan dari serambi rumahnya.

Selagi saya memandangi lukisan tersebut, Freeda lewat bersama seorang perempuan yang agak berumur. Rupanya itu ibunya.

"Hi, this is my mom. Mom, this is Wowiek, the house owner." katanya.

Hehe, geer juga saya dibilang pemilik rumah, padahal cuma ngontrak.

Saya memerhatikan ibunya Freeda menatap lama lukisan tersebut dan berbalik bicara ke Freeda dengan bahasa yang tidak saya kenal—sepertinya bahasa Swedia.

Lalu Freeda bertanya, "Well, Wowiek... what is this?"

Saya bingung menjawabnya. Dengan pelan saya berkata, “A… painting?

"Well, I mean my mom asked me, where do you get this painting?" tanyanya lagi.

Saya pun menceritakan singkat kejadian saya di hari Minggu kemaren. Lalu ibunya kembali berdiskusi dengan Freeda hingga akhirnya dia bertanya, “Do you sell this painting?

"No, Ma’am. I love it. I just bought it," jawab saya.

Saya lihat ekspresi kecewa di wajah sang ibu, lalu mereka kembali berdiskusi.

Freeda berkata dengan tegas, “Wowiek, apparently my mom insists… if you sell it, she will pay you for ten thousand dollar.

Saya terhenyak, dan sebelum sempat saya jawab, istri saya menyikut perut saya dan bilang, “Sure, Ma’am, You can buy this painting.

Seketika si ibu langsung tersenyum sumringah. Dia pun mengambil segepok Iembaran uang 100 doIar dari dalam tasnya, Ialu menghitung dan menyerahkannya sambil berkata, "Here’s 10.000 dollar for you. Would you please wrap it and roll it into plastic pipe? I will take it as we come back from Jogja in a couple of days. You can do that, can't you?"

Demi uang sebesar itu, saya pun segera merespons, "Oh yes Ma’am. I will wrap it perfectly." Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa dia ngotot sekali ingin memiliki Iukisan ini. Akhirnya saya pun bertanya, "Anyway Ma’am. I was wondering, why do you like this painting so much?"

Sang ibu tersenyum, Ialu mencari-cari sesuatu dalam tasnya yang besar tersebut. Dari situ dia mengeluarkan sebuah dompet biru, kemudian dia menunjukkan sesuatu, sebuah foto usang dan tua. Begitu saya lihat foto tersebut, saya terkejut bukan main karena mirip sekali dengan gambar di lukisan itu. Ya, 95% mirip!

Saya heran sekali. Dengan tersenyum bangga dia berkata, "This is me, when I was 5 years old, in my old house in Barcelona before I moved to Swedia later on and got married with Freeda’s father."

Rupanya kemiripan Iukisan itu mengingatkan dirinya yang pernah tinggal di Barcelona, di atas beranda rumahnya, menatap pemandangan Iepas. Dengan bunga yang dipetiknya dan disematkan di antara rambut dan topinya.

Apakah ini hanya sebuah kebetulan, atau bukti lain dari prosperity consciousness?

***

[4] Lepaskan Beban yang Tak Perlu

Suatu hari, Yudi—mitra bisnis saya di money changer—menelepon. "Bro, sori nih. Kita bisa ketemuan, nggak?" katanya dengan suaranya bergetar. Saya kenal sekali suara seseorang yang lagi panik.

Saya pun mengiyakan, walaupun itu hari Minggu dan masih suasana libur Lebaran. Singkat kata, Yudi hadir di depan saya dan terlihat bingung. Setelah mengatur napasnya yang terburu-buru, akhirnya dia memberanikan diri untuk mulai bicara.

"Begini Wiek, saya kemarin transaksi doIar di bank sebanyak 100.000, dan ternyata kita ditipu. Duit tersebut dibawa kabur," urainya pelan-pelan. Saya terhenyak kaget mendapatkan berita itu. Namun, saya berusaha tetap tenang dan membiarkan dia melanjutkan ceritanya.

"Kejadiannya bagaimana?" tanya saya meminta penjelasan.

"Begini, ada seseorang menelepon saya meminta 100.000 doIar. Harga di suasana Lebaran kan, nggak jelas. Jadi saya kasih harga tinggi. Dia setuju. Ini untung besar buat kita. Lalu kami janjian di bank, di daerah Pondok Indah. Kebetulan ada 2 bank asing bersebelahan. Dia bilang

rupiahnya ada di bank satunya, dan yang doIar akan dia masukkan di bank sebelahnya.

"Lalu, dia meminta uang doIar yang saya bawa untuk dihitung. Setelah dihitung benar 100.000, dia meminta temannya untuk jalan menemani saya ke bank sebelah untuk mengambil rupiahnya. Entah bagaimana, saya memang bodoh, uang doIar sudah saya berikan ke dia.

Lalu ketika saya hendak mengambil rupiah, tahu-tahu temannya kabur. Saya berusaha mengejar tapi saya teringat bahwa dia nggak pegang apa-apa. Yang pegang dolar, ya

orang di bank satunya," kisahnya sambil menenangkan detak jantungnya yang galau.

Saya tak banyak berpikir, yang saya fokuskan hanya bagaimana uang tersebut bisa kembali. Yang saya minta tentu saja pertanggungjawabannya.

Dia berkata, "Saya bertanggung jawab. Saya akan cari sana sini dan kalau nggak bisa juga, saya pinjam orangtua saya." Kata-kata tersebut cukup membuat saya tenang. Saya tahu ayahnya memiliki kemampuan untuk angka segitu.

Namun, di kepala saya, terbersit kemungkinan yang berat saya Iaksanakan. Masalahnya itu bukan uang saya. Dari perputaran uang tersebut, ada Iebih 60 orang yang memercayai uangnya untuk saya kelola. Jadi saya rasa, kehilangan uang tersebut harus saya laporkan.

Tapi, apakah kira-kira Yudi bisa membayarkannya dengan segera tanpa perlu saya laporkan kejadian ini? Saya optimis, semua bisa selesai dengan cepat. Saya yakin Yudi berkomitmen dengan kata-katanya.

Faktanya, setelah itu Yudi hilang ditelan bumi. Dia pergi tak bertanggung jawab, menghilang. Kata orang, dia ke Palu, SuIawesi Tengah. Tanpa pesan. Tinggallah saya menahan

kemarahan tak terhindarkan. Saya harus menghadapi para pemilik modal dan pastinya saya harus bertanggung jawab mengembalikan uang mereka.

Hal ini membuat hati saya terluka, kesal, kecewa, dan marah. Bukan saya yang berbuat, tetapi saya yang harus menanggungnya. Belum lagi, ini hanyalah satu di antara puluhan peristiwa yang membuat saya jatuh bangkrut pada tahun itu.

Ketika saya teringat Yudi, saya murka dan kecewa. Ke mana mencari orang begini. Dan, kalaupun dia datang tapi nggak mau bayar atau tak bertanggung jawab, saya tidak bisa apa-apa.

Dalam renungan, saya meIewati hari-hari di rumah. Saya teringat kembali Yudi dan saya kembali marah. Namun, ada pelajaran yang saya dapat di salah satu workshop.

Katanya, jika saya masih memendam marah kepada seseorang atau sesuatu, saya akan kena looping memutar di tempat dan tidak akan keluar sampai saya meIepaskan hal tersebut dari dalam pikiran.

Benar, saya harus meIepaskan kernelut dari pikiran. Tapi bagaimana saya melepaskannya, kalau ingat namanya saja saya murka? Pelajaran tentang prosperity consciousness sangat jelas, tidak boleh ada hal yang negatif atau berlawanan dengan kemakmuran karena hal itu membuat conflict of interest di pikiran. Otak manusia hanya bisa memikirkan satu hal, jadi jika ada yang lain, akan mengantre di belakang pikiran yang sedang difokuskan.

Bagaimana uang bisa datang kalau yang di depan adalah kemarahan terhadap Yudi?

Kalau mengikuti materi prosperity consciousness, saya harus memaafkan Yudi. Ya, memaafkan, mencintai, dan mendoakan dirinya sukses selalu. Ini pelajaran gila menurut saya. Saya harus mengasihi sampai benar-benar tulus.

Ego saya mengatakan bahwa saya tidak akan pernah bisa memaafkan pengecut ini. Tapi di sisi lain, batin saya mengatakan, saya ingin hidup damai dan penuh kemudahan.

Untungnya saya bukan orang yang rumit. Untungnya saya bukan orang yang senang susah. Lebih baik saya berdamai dengan diri sendiri. Poinnya begini.

Bayangkan saya di hadapan Anda, Ialu saya minta Anda mengangkat kedua tangan dengan kedua telapak menengadah ke atas.

Di tangan saya, ada 1 buah bolpen dan satu ponsel.

Bolpen saya letakkan di tangan kiri Anda, dan ponsel saya letakkan di tangan kanan Anda. Saya akan bertanya, mana yang Iebih berat?

Anda pasti akan berkata, ponsel di tangan kanan Iebih berat.

Lalu, saya angkat ponsel tersebut dan bolpen masih di telapak tangan kiri Anda. Lalu saya bertanya, bolpen ini Iebih ringan dari ponsel, kan? Pasti Anda jawab, benar.

Lalu saya akan bertanya, bagaimana jika bolpen di tangan kiri itu Anda pegang selama 5 jam ke depan. Apakah bisa?

Tentu Anda akan bilang, BERAT menahan bolpen selama 5 jam di tangan.

Pertanyaan saya adalah, yang berat itu bolpennya atau lama-nya? Anda pasti akan menjawab, LAMANYA. Nah, inilah yang saya maksud dengan masalah saya tadi. Jika saya menggenggam terus kemarahan dengan Yudi maka semakin diulang, semakin memberatkan.

Saat itu juga saya memutuskan untuk menjalankan apa yang saya pelajari, yaitu forgiving others. Saya memutuskan untuk mencintai Yudi, tulus dan utuh. Saya bawa dalam doa, setiap saat saya teringat akan dirinya atau peristiwa itu.

Saya lupa berapa lama saya melakukan itu, yang saya ingat hingga saat ini ternyata saya benar-benar tulus mendoakan dirinya, dan saya sudah mengikhlaskan semuanya.

Suatu hari, ada telepon di ujung jauh. Ternyata Yudi menghubungi saya. Dia meminta saya menyempatkan waktu bertemu ayahnya yang sedang sekarat di rumah sakit di bilangan Cempaka Putih, Jakarta.

Mendengar keseriusan suaranya, saya pun setuju untuk mengunjungi ayahnya yang kala itu di ICU. Saya kenal ayahnya, dan saya heran ayahnya meminta saya datang. Yudi menjemput saya, dan diawali dengan basa-basi singkat, kami pun menuju rumah sakit.

Dalam perjalanan, Yudi cerita bahwa ayahnya bertanya apakah Yudi punya masalah. Yudi pun menceritakan peristiwa tertipunya usaha money changer itu, yang kemudian dia kabur.

Ternyata ayahnya berkata kepada Yudi, "Kalau kamu tidak melunasi kewajiban tersebut, kamu tidak saya anggap anak."

Demikian ayahnya berkata dalam sakitnya di lCU. Oleh karena itu, Yudi memutuskan untuk membawa saya menghadap ayahnya malam itu.

Saya datang di hadapan ayahnya, yang hanya bisa dihadiri orang terbatas. Saya berdiri tepat di samping sang ayah. Saya dengar Yudi berkata lirih, "Pah, saya janji akan meIunasi utang saya kepada Wowiek. Ini Wowiek sudah hadir di samping Papah. Mohon maafin saya, Pah."

Kemudian dia berpaling ke saya, "Maafin saya Wiek, saya janji akan meIunasi semuanya."

Suaranya yang terbata-bata dan perlahan itu ternyata bisa membuat sang ayah terbangun. Wajahnya tersenyum tulus. Dipegangnya kepala Yudi, dan dia mengangguk pelan, "Iya, anakku... Iya...," katanya.

Lalu dia mengangkat wajahnya ke atas dan berkata, 'Allahu akbar," dan menghembuskan nafas terakhirnya di hadapan saya dan Yudi. Saya Iemas, Yudi tersungkur, dan tak lama kemudian seluruh tim medis dan keluarga mengambil alih suasana.

Saya menatap Yudi yang terdiam dan kemudian hanya tertunduk. Inikah kekuatan meIepas, release power?

***

[5] Pertanyakan Keyakinan Anda

Jika keyakinan tidak diuji maka keyakinan-Iah yang akan menguji Anda. Pada sebuah hukum keyakinan, apa pun yang Anda yakini dengan penuh akan menjadi kenyataan. Anda selalu berjalan sesuai dengan keyakinan Anda. Anda selalu berjalan konsisten dengan keyakinan Anda. Tak peduli dengan benar atau salah.

Semua yang Anda "yakini" saat ini adalah hasil sebuah proses pembelajaran selama kehidupan Anda kemarin. Namun, begitu keyakinan tersebut jalan di tempat pada saat ini, Anda wajib memiliki keyakinan baru. Bagaimana membentuk keyakinan baru tersebut? Milikilah keyakinan

yang sejalan dengan kemajuan.

Ingat, keyakinan Anda sangat menentukan kehidupan nyata Anda. Anda bukan memercayai yang Anda LIHAT, tetapi Anda melihat apa yang Anda YAKINl. Dan ketahuilah, keyakinan yang paling berbahaya adalah kepercayaan yang membatasi diri atau self-limiting beliefs. Ini adalah jenis keyakinan terhadap diri Anda, terhadap POTENSl ANDA, yang menghambat diri Anda.

Banyaknya keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang Anda terima tanpa melihat kebenarannya. Hanya kumpuIan pemikiran orang sekitar yang Anda angguki saja. Misalnya ada sebuah situasi, Ialu Anda bilang, "Yah, itu kan hanya untuk orang kaya. Bukan untuk kita-kita!"

Atau, "Ngapain sukses atau kaya kalau nggak bahagia? Hidup kan, yang penting bahagia!"

Atau, "Ini informasi apaan? Paling sama aja, ngajarin ilmu tapi susah dipraktekin."

Perhatikan 3 kalimat tersebut.

Pernyataan pertama membuktikan bahwa dalam berpikir, Anda memilih untuk "berjarak" dengan kekayaan atau kesuksesan. Anda memilih diri Anda tidak Iayak sukses.

Pernyataan kedua, Anda memilih berpikir bahwa kaya atau miskin tidak penting, yang penting bahagia. Anda berpikir bahwa kaya itu merepotkan.

Namun, dalam kondisi tidak kaya, Anda akan sering digoda dengan kenyamanan orang kaya sehingga kekesalan Anda memuncak atas usaha mencari bahagia yang tersandung-sandung.

Pernyataan ketiga, Anda menyatakan lelah atas banyaknya peluang yang mendatangi Anda karena permintaan Anda untuk sukses, tetapi Anda tidak mencapainya. Artinya, Anda menolak untuk sukses. Dalam benak Anda, sukses itu susah, jadi lebih baik stop belajar.

Jika Anda benar yakin bahwa Anda memang tidak mampu dalam bidang mencari kemakmuran, kesuksesan, dan menghasilkan uang banyak, kepercayaan ini menjadi benar dalam kehidupan Anda.

Saya berani jujur mengatakannya karena dulu saya berpikir seperti itu, hingga saya mengubahnya. Dan, setelah saya belajar dan terseok-seok, saya harap saya bisa membagi

pelajaran dari pengalaman saya itu untuk Anda.

***

[6] Magnet Hidup

Dalam dunia fisika, ada hukum daya tarik yang kita kenal dengan istilah magnet hidup. Nah, Anda adalah magnet hidup, dan pikiran Anda adalah motornya. Artinya, Anda akan menarik orang-orang, peluang-peluang, dan keadaan yang serasi dengan pemikiran-pemikiran dominan Anda KE DALAM kehidupan Anda. Intinya, semua yang datang ke Anda adalah yang Anda tarik.

Jika memikirkan pemikiran-pemikiran yang positif, optimis. penuh kasih, dan menyukseskan, Anda akan menciptakan medan magnet yang menarik. Seperti halnya besi terhadap magnet, apa pun yang Anda pikirkan, akan tertarik ke dalam hidup Anda.

Hukum ini menjelaskan mengapa Anda tidak perlu merisaukan dari mana Anda akan memperoleh hal-hal yang baik bagi diri Anda. Jika Anda membuat diri Anda benar-benar terfokus pada apa yang Anda inginkan, dan menghilangkan pemikiran-pemikiran tentang apa yang tidak Anda inginkan, dengan sendirinya Anda akan menarik segala sesuatu yang Anda perlukan untuk mencapai tujuan Anda, tepat ketika Anda sudah siap menerimanya.

Ubahlah cara berpikir maka Anda dapat mengubah hidup. Jadi, sebaiknya Anda memilih dan memilah pikiran-pikiran tersebut. Orang-orang yang berhasil adalah mereka yang berpikir dengan Iebih efektif dibanding mereka yang tidak berhasil.

Mereka menghadapi kehidupan mereka, hubungan-hubungan mereka dengan orang lain, tujuan-tujuan hidup mereka, masalah-masalah mereka, dan pengalaman-pengalaman mereka dengan cara yang berbeda dengan orang lain.

Mereka menaburkan bibit yang Iebih baik dan sebagai akibatnya akan menuai kehidupan yang baik pula. Jika belajar bagaimana cara berpikir dan bertindak layaknya orang-orang sukses, bahagia, dan makmur yang lain, Anda akan dengan segera dapat menikmati kehidupan

serupa dengan kehidupan mereka. Ketika sudah mampu mengubah cara berpikir, Anda akan dapat mengubah kehidupan Anda

***

[7] Ketidakmungkinan yang Disegerakan

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, dalam dunia komputer, kita mengenal ada istilah hardware dan software. Otak kita, tubuh kita, adalah hardware. Sementara cara kita berpikir itu software, yang kemudian terbagi 2 lagi, yaitu OS (Operating Systems) dan aplikasi.

Misalkan, OS-nya Microsoft Windows, aplikasinya Adobe Photoshop. Maka kita bisa menggunakan software tersebut untuk mengubah-ubah foto sesuai keinginan Anda. Nah, di dalam kehidupan, ada software aplikasi juga. Misalnya software bahagia, software sehat, software sukses, software santun, dan sebagainya.

Manusia terlahir tanpa software aplikasi. Perjalanan hidupnya-lah yang membuat berbagai macam software secara perlahan, dengan peristiwa-peristiwa berulang dan berbagai informasi yang mengelilingi.

Yang menjadi masalah biasanya adalah OS atau operating system-nya tidak bisa mengaplikasikan software-nya. Misalkan OS-nya Android, aplikasinya CorelDRAW di ponsel. Itu pasti tidak jalan programnya.

Dalam kehidupan, operating systems adalah sistem keyakinan Anda, belief system Anda. Adapun sukses, bahagia. sehat, senyum, musik, olahraga, bekerja, memasak, ikhIas, ringan tangan, adalah software yang harus di-install, yang harus dipasang dengan sengaja. Dengan pilihan sadar.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, kenalkah Anda dengan operating system Anda? Kenalkah Anda dengan software aplikasi Anda?

Hal ini mungkin akan menjawab banyak pertanyaan pribadi.

"Kok, saya sudah Ikut ESQ tapi nggak berubah apa-apa?"

"Kok, saya sudah senang ikut pengajian dan taklim, ternyata saya juga nggak bisa ikhlas?"

"Kok, saya sudah belajar dari buku The Secret-nya Rhonda Byrne, tetap nggak ada pengaruh apa-apa?

"Kok, saya sudah ikut banyak pelatihan, malah bingung?"

Mari lihat ke dalam diri sebentar. Jangan-jangan bukan aplikasinya yang salah, tetapi operating system kita yang nggak cocok. Persiapkan diri Anda untuk masuk Iebih dalam guna memahami millionaire mindset dan prosperity consciousness.

Apa yang selanjutnya akan Anda Ialui, bukanlah hal yang tidak disengaja. Ini bagi sebagian orang adalah ketidakmungkinan yang disegerakan. Bagi sebagian orang yang lain, ini adalah jawaban.

***

[8] Memahat Itu Butuh Waktu

Suatu hari, sehabis olahraga, istri saya nyeletuk, "Yah, sudah deh, nggak usah ikut pilates sama Bunda, ya?! Nggak konsen deh, kayaknya."

Kebetulan saya memang ingin membentuk perut rata, dan katanya gerakan pilates sangat efektif untuk membuang Iemak di perut.

Yang jadi masalah buat saya—atau buat istri saya, ya? Hehehe—di dalam olahraga bersama tadi, instruktur pilatesnya cuantik dan orang terkenal, yaitu sahabat istri saya, artis senior Nova Eliza.

"Jadi daripada nggak konsen, Iebih baik daftar di fitness club dekat rumah," Ianjutnya.

Ya sudah, saya nurut saja. Aman, hemat waktu, dan pastinya nggak membuat istri deg-degan. Dan, kalau dipikir-pikir, memang membentuk perut rata ini benar-benar suIit. Rasanya sudah seminggu 3 kali melakukan sit up atau do the hundred dengan pilates. Tetap saja Iemak sekitar perut sulit hilang, dan ini sudah tahunan saya Iakukan.

Sculpturing atau memahat diri sebagai motivasi sehat, benar-benar harus sabar. Waktunya bisa tahunan dan harus terus dipertahankan. Olahraga itu persis seperti perkawinan, kita pertahankan terus selamanya. Bukan hanya sesekali.

Bayangkan, membentuk tubuh agar otot terlihat pas menempel pada tulang kita saja sudah "sulit". Padahal, ini bukan membentuk tubuh seperti otot binaragawan semacam Bruce Lee juga, cukup semua Iekukan otot keluar secukupnya—misalnya itu targetnya. Nah, apalagi

membentuk pikiran?

Benar, selain tubuh, ada satu hal yang juga harus dibentuk dengan indah, yaitu pikiran. Untuk membentuknya, bisa Iebih lama daripada memahat tubuh karena wujudnya tak terlihat langsung, tetapi terasa. Bagaimana membentuk pikiran yang selalu indah, selalu positif, selalu riang, selalu mudah?

Tanamkan pikiran dalam benak Anda bahwa Anda adalah sebuah mahakarya.

Anda pasti tahu di Florence, Italia, terdapat sebuah museum istimewa yang sengaja dibangun bagi sebuah patung David yang diciptakan oleh Michelangelo beberapa ratus tahun yang Ialu. Patung itu barangkali termasuk sebuah karya patung yang paling indah di dunia.

Banyak pengunjung yang berkomentar ketika berada secara fisik di dalam ruangan yang sama dengan patung tersebut, bahwa itu sebuah pengalaman yang tidak akan pernah dapat dilupakan.

Cerita tentang pembuatan David sangat menarik dan mengandung pelajaran berharga. Dulu, Michelangelo diminta secara khusus oleh keluarga Medicis untuk menciptakan sebuah patung yang akan diletakkan di alun-alun Kota Florence.

Keluarga Medicis merupakan salah satu keluarga yang kaya raya dan terpandang di Italia pada zaman tersebut. Sebuah pesanan khusus dari keluarga Medicis bukan hanya berarti sebuah kehormatan besar; pesanan seperti ini juga sebuah tugas yang tidak dapat ditolak begitu saja.

Selama dua tahun penuh, Michelangelo mencari sebongkah batu yang dapat dia pergunakan untuk menciptakan sebuah mahakarya bagi keluarga Medicis.

Akhirnya, di pinggir sebuah jalan di Florence, separuh tertutup semak belukar dan tertimbun lumpur, dia menemukan sebongkah besar pualam di atas sebuah titian kayu. Batu tersebut bertahun-tahun sebelumnya telah diangkut dari pegunungan, tetapi tidak pernah dipergunakan orang.

Michelangelo telah melalui jalan itu berkali-kali, tetapi kali ini dia berhenti dan menatap batu tersebut lebih dekat lagi. Ketika dia maju-mundur mengamati bongkahan pualam itu, dengan jelas dia dapat membayangkan patung David dan melihatnya di dalam batu tersebut secara keseluruhan.

Sang seniman pun dengan segera membawa bongkahan pualam itu ke studionya yang cukup jauh dari tempat ditemukannya batu tersebut. Dia kemudian memulai pekerjaannya yang panjang dan berat, memalu dan memahat.

Diperlukan dua tahun penuh baginya untuk bekerja menciptakan gambaran kasar patung tersebut. Dia kemudian menyisihkan palu dan pahatnya, dan menghabiskan dua tahun lagi untuk memoles dan menghaluskan sampai patung itu benar-benar siap.

Pada saat itu, Michelangelo telah menjadi seorang pematung yang terkenal, dan kabar bahwa dia sedang mengerjakan sebuah pesanan khusus dari keluarga Medicis telah menyebar ke seantero Italia.

Ketika waktunya tiba untuk mempertontonkan patung tersebut kepada publik, ribuan orang datang dari seluruh Italia dan berkumpul di alun-alun kota.

Ketika selubung yang menutupi patung dibuka, kerumunan massa yang berada di sana tercengang dengan mulut ternganga. Patung itu luar biasa indah. Orang banyak bersorak-sorai.

Para pengunjung merasa kagum melihat kecantikan Iuar biasa patung hebat itu. Michelangelo dengan segera dikenal sebagai pematung terhebat pada zamannya.

Sesudah itu, ketika Michelangelo ditanya bagaimana dia dapat menciptakan sebuah mahakarya seperti itu, dia menjawab dengan mengatakan bahwa dia telah melihat David dengan Iengkap dan sempurna pada batu pualam yang dia temukan. Yang dia lakukan hanyalah "membuang

apa-apa yang bukan David".

Terdapat beberapa kesamaan antara Anda dan patung David. Anda pun kurang Iebih seperti sebuah mahakarya hebat yang terdapat dalam sebongkah pualam.

Akan tetapi, pualam yang menutupi Anda, seperti juga kebanyakan orang lain, adalah pemikiran

yang sempit dan terbatas serta kekhawatiran yang berlebih terhadap berbagai kemungkinan kerugian dan kegagalan. Bukannya antisipasi penuh semangat menyongsong datangnya kesuksesan dan keberhasilan.

Agar dapat menyadari potensi kita, hal mendesak yang perlu kita Iakukan adalah menjebol "pemikiran terbatas" kita dengan memimpikan impian yang besar dan membayangkan berbagai kemungkinan yang tak terbatas.

Namun, ingatlah, bahkan setelah David dibebaskan dari batu pualamnya, Michelangelo membutuhkan dua tahun penuh untuk memoles dan menghaluskannya demi menjadikannya sebuah mahakarya. Demikian juga kita.

Kita yang harus meneruskannya, memoles dan menghaluskan, belajar dan berlatih, selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun tahun, demi mengembangkan dan mengeluarkan semua bakat dan kebiasaan yang terdapat jauh di dalam diri kita.

Menyambung tulisan di awal, tujuan membentuk perut rata bagi pria seperti saya yang berada di pertengahan usia 40-an, merupakan hal yang sulit. Setidaknya begitulah menurut saya.

Bahkan, untuk memotivasi diri saya, saya selalu mengatakan dan memasang target agar mirip dengan mereka yang seusia saya, tetapi memiliki tubuh yang terjaga—perut rata dengan otot yang mengukir tubuh.

Mereka-mereka ini contohnya Tom Cruise, Brad Pitt, dan Shahrukh Khan. Mereka adalah idola saya. Aneh memang, menurut banyak pendapat teman-teman.

Namun, itu adalah motivasi diri agar rajin olahraga yang tentunya berefek sehat. Dan, untuk memahat tubuh, kita pun harus membuang Iemak dengan olahraga.

Lalu, bagaimana untuk pikiran?

***

[9] Pilih yang Ingin Anda Pikirkan

Layaknya seorang Michelangelo dalam membuat patung David, dia "membuang apa-apa yang bukan David". Ya, artinya kita perlu membuang apa-apa yang buruk buat pikiran.

Celetukan negatif, komentar sinis. bicara kasar, prasangka buruk, itu semua bukan mahakarya. Bukan Anda. Bukan kita. Sebaiknya pikiran-pikiran seperti itu segera dibuang, kemudian setelahnya segera dipoles dan diasah. Jangan pernah dipakai lagi semua hal yang negatif.

Penting untuk diingat, satu-satunya hal di jagat raya ini yang dapat Anda kendalikan secara penuh hanyalah pikiran Anda. Anda dapat memutuskan apa yang ingin Anda pikirkan dalam menghadapi satu situasi tertentu

Pikiran Anda dan cara Anda menginterpretasikan kejadian apa pun itu, akan mendorong terbentuknya perasaan Anda—baik positif maupun negatif. Pikiran dan perasaan Anda akan membawa Anda pada tindakan-tindakan yang kemudian Anda ambil dan menentukan hasil yang nantinya akan Anda peroleh. Semuanya bermula dari pikiran Anda.

Pikiran yang positif menunjang kehidupan. PikIran-pikiran seperti itu akan memberi kekuatan bagi Anda, membuat Anda merasa Iebih tangguh dan percaya diri. Pikiran yang positif bukan hanya sebuah ide yang bersifat memotivasi.

Pikiran seperti ini juga memiliki efek-efek konstruktif yang besarnya dapat diukur terhadap kepribadian, kesehatan, tingkat energi, dan kreativitas Anda. Semakin positif dan

optimistis Anda, semakin bahagia Anda dalam setiap aspek kehidupan.

Pikiran-pikiran yang negatif akan mendatangkan hasil yang sebaliknya. Pikiran-pikiran seperti ini akan menekan dan membuat Anda merasa Iebih Iemah dan kurang percaya diri. Kapan pun Anda berpikir atau mengatakan sesuatu yang negatif, Anda sebenarnya sedang melemahkan

kekuatan Anda.

Anda merasa marah dan defensif. Anda frustasi dan tidak bahagia. Lambat laun, pemikiran yang negatif akan dapat membuat Anda sakit secara fisik, dan bahkan dapat meracuni hubungan-hubungan Anda dengan orang lain.

Berbeda dengan pikiran positif yang akan memberi Anda kesehatan mental dan prestasi puncak, pikiran negatif menimbulkan penyakit mental dan menurunkan efektivitas. Oleh karena itu, jika ingin mendapatkan kehidupan yang indah, Anda harus mengarahkan sasaran-sasaran Anda pada penanaman berbagai emosi positif dalam diri dan membuang jauh-jauh emosi yang negatif.

Penghapusan emosi negatif adalah satu langkah yang sangat penting yang dapat Anda ambil demi mendapatkan kesehatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan pribadi.

Setiap kali Anda memegang kendali penuh atas pikiran dan perasaan Anda, serta mendisiplinkan diri agar tetap memelihara pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang

positif, kualitas hidup Anda. baik mental maupun fisik, akan meningkat.

Ketiadaan emosi negatif akan membuat pikiran Anda secara otomatis terisi oleh emosi-emosi yang positif, yang menghasilkan perasaan bahagia dan puas. Putuskan sekarang bahwa Anda memilih apa yang ingin Anda pikirkan.

Hukum substitusi mengatakan bahwa "OTAK ANDA HANYA MEMPUNYAI CUKUP RUANG BAGI SATU PIKIRAN SETIAP KALINYA, baik itu positif ataupun negatif. Anda dapat MENGGANTI sebuah pikiran negatif dengan sebuah pikiran positif, kapan pun Anda mau."

Anda dapat mengaplikasikan hukum ini dengan berpikir tentang sesuatu yang positif secara sengaja setiap kali Anda ingin menghapuskan sebuah pikiran atau perasaan yang membuat Anda marah atau tidak bahagia.

Hukum kebiasaan mengatakan bahwa, "Pikiran atau tindakan apa saja yang Anda Iakukan secara berulang-ulang pada akhirnya akan menjadi sebuah kebiasaan baru.” Jadi, setiap kali Anda bereaksi dan berespons secara positif, Anda sebenarnya mengendalikan alam pikiran sadar Anda.

Dengan segera, hal ini akan tumbuh menjadi sesuatu kebiasaan yang otomatis akan Anda Iakukan sehingga berpikir dan berlaku dengan cara seperti ini akan menjadi mudah bagi Anda. Dengan tekad yang keras dan pengulangan terus-menerus, Anda akan dapat mengembangkan suatu kebiasaan berotak dan bertindak yang baru.

Dengan menerapkan hukum ini, Anda akan dapat menjadi seseorang yang benar-benar positif, dan Anda dapat mengubah hidup Anda juga dengan membuang apa-apa yang bukan David. Anda pasti sudah siap sekarang.

***

[10] Anda Diciptakan untuk Sukses

Secara keseluruhan, Anda adalah manusia yang terlahir sempurna. Setiap orang pada dasarnya baik, dan diberi hak untuk menjadi lebih baik. Berhak mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Begitu pula dengan Anda.

Anda berhak memperoleh hubungan dengan pasangan yang berbahagia, kesehatan yang sempurna, pekerjaan yang layak, dan kehidupan berkecukupan dengan limpahan finansial. Ini semua hak asasi Anda. Semuanya adalah paket yang Anda miliki.

Anda diciptakan untuk mendapatkan kesuksesan. Anda didesain memiliki self-esteem atau rasa percaya diri. Anda diciptakan memiliki self-respect atau hormat atas diri sendiri; kebanggaan diri. Anda adalah masterpiece, sebuah mahakarya yang tidak ada duanya. Tak ada yang sama persis dengan Anda.

Anda diciptakan sebagai "Co-Creator to God" atau pencipta nomor dua setelah Tuhan! Anda memiliki bakat dan kemampuan terpendam yang menakjubkan. Gali dan pergunakan potensi itu maka Anda akan memperoleh apa yang Anda impikan.

"Becareful of what you wish for." Ya, benar. Hati-hati dengan apa yang Anda inginkan dan ucapkan. Bersama tulisan yang saya persembahkan, saya telah membuktikan. Sekarang giliran Anda.

Ketahuilah, Anda hidup di sebuah zaman yang mengagumkan. Zaman paling hebat dalam sejarah umat manusia. Anda dikelilingi oleh banyak peluang yang dapat Anda manfaatkan untuk meraih impian-impian Anda. Semua alat penunjangnya pun Iengkap.

Satu-satunya BATAS NYATA yang menjadi penghalang Anda untuk mencapainya adalah batasan-batasan yang ada dalam diri Anda. Batasan yang di dalam pikiran Anda. Hasil pikiran Anda sendiri. Padahal, masa depan Anda sesungguhnya terbuka Iebar, nyaris tak terbatas.

Ingatlah bahwa walaupun kita tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat atau kalimat yang indah, Tuhan tetap memahami doa umat-Nya.

***

[11] Pikiran Itu Mencipta

Kita pasti senang mendengar kalimat, "Hati-hati dalam berkata, hati-hati dalam berpikir!" Ya, tetapi perkataan tersebut lebih mudah diucap dan didengar daripada benar-benar dikerjakan. Kita semua pasti tahu bahwa mind is creating atau pikiran itu mencipta. Seperti apa maksud kalimat tersebut?

Ilustrasinya kira-kira begini. Pernahkah Anda suatu hari di tengah perjalanan sedang menyetir mobil atau sedang mengendarai motor, Ialu Anda menyadari bahwa ternyata dompet Anda, SIM Anda, tertinggal di rumah?

Lalu Anda pun panik, dan daian hati mengucap, "Wah, jangan-jangan ketangkap polisi, nih?!"

Selang tak berapa lama, di lampu merah polisi datang mendekati Anda dan menanyakan SIM Anda. Bayangkan, ada ratusan pengendara motor atau mobil di sana, mengapa tahu-tahu dia menanyakan Anda?

Atau, pernahkah suatu hari Anda berkata dalam hati, "Eh, alamat dan nomor telepon teman-teman semua tercatat di handphone. Kalau handphone ini hilang, pasti gawat nih!" Ternyata selang beberapa hari kemudian, handphone Anda benar-benar hilang!

Atau, mungkin suatu hari Anda berkata dalam hati. "Eehmm, kayaknya ini kunci mobil cuma satu, nggak ada cadangannya. Kalau hilang, bisa berabe nih!" Besoknya kunci tersebut ketinggalan di dalam mobil dalam keadaan terkunci!

Dari cerita-cerita tersebut, kesannya ketika kita mengatakan—atau bahkan sekadar memikirkan—sebuah kekhawatiran dan ketakutan, kalimat itu akan memberikan getaran ke alam semesta. Pada contoh pertama, misalnya, kita memberikan sinyal dan menggetarkan dawai di hati polisi, dan benarlah, getaran tersebut direspons.

Atau satu contoh lagi. Apakah Anda pernah memiliki atau sekadar meninabobokan bayi? Getaran dari diri kita terbaca dengan mudah oleh sang bayi. Misalnya dia di suatu malam katakanlah pukul 2 malam terbangun, kaget dan menangis keras. Kita juga ikut terbangun karena suara tangis sang bayi.

Kemudian kita gendong dia, dan kita mencoba menenangkannya. Lalu ketika sang bayi justru menangis dengan Iebih keras, Anda pun panik. Nah, getaran panik tersebut membuat si bayi menangis tambah keras, yang kemudian membuat Anda tambah panik.

Jadi, solusinya bagaimana? Akan Iebih baik jika Anda mencoba menenangkan diri terlebih dulu; beri getaran bahagia pada diri sendiri dulu; dan buat suasana hati damai terlebih dulu.

Kendalikan semuanya. Anda-Iah pengendali sejati jalan hidup Anda. Lalu lihat, apa reaksi sang bayi setelah getaran Anda tenang dan damai? Pasti tangisannya mereda karena dia terinduksi getaran damai tadi, dan tidurlah dia kembali.

Percayakah Anda bahwa getar dawai Anda tadi bisa menarik apa pun yang Anda pikirkan dan inginkan?

***

[12] Pahami Cara Kerja Otak Anda

Memahami cara kerja otak cukup rumit. Ya, rumit karena jalur-jalur peta yang kompleks,

syaraf-syaraf neuron yang jumlahnya jutaan dan panjangnya bisa mencapai ratusan kilometer jika disambung-sambung.

Jaringan pusat nerve system mengendalikan kimia-kimia tubuh yang menentukan banyak hal, seperti tindakan-tindakan yang diambil, perasaan-perasaan yang timbul, hingga bayangan-bayangan dalam pikiran. Demikian unik dan ajaib.

Kemudian, ada yang namanya persepsi atau paradigma, atau bagaimana seorang manusia memandang dunia. Itu semua memengaruhi tindak-tanduk, hasil, dan masa depan seseorang.

Otak manusia terdiri atas ribuan sambungan, tempat berjalannya set-sel listrik di dalam otak. Ketika kita belum mempelajari suatu hal, di antara sambungan itu ada celah yang memisahkan.

Sebuah celah yang tampak kecil akan jadi seperti jurang kalau kita bandingkan dengan kehidupan di muka bumi. Ketika kita mempelajari suatu hal, sel listrik dalam jaringan tersebut, akan mencoba melompati celah tersebut. Melompat menuju jaringan di depannya, butuh tenaga ekstra untuk melompat, apalagi lompatan pertama kali.

Misalnya Anda belajar mengemudikan mobil. Akan butuh waktu untuk menjadi terampil. Butuh waktu, tetapi lama-lama akan semakin mudah mempelajarinya. Mengapa?

Karena, setelah lompatan pertama, sel tadi juga akan membangun jalan perintis bagi sel listrik lain yang akan melompat juga ketika kita kembali mempelajari hal yang sama.

Semakin kita rajin mengulangi hal tersebut, jalan perintis tadi semakin lama semakin baik, dan pada akhirnya menjadi kokoh. Celah tadi pun tertutup, dan terciptalah suatu sambungan baru.

Saat itu, kita telah berhasil menjadi terampil dalam hal yang berulang kali kita pelajari dan kita Iakukan. Mengapa? Karena, sel-sel listrik di otak tak perlu lagi melompat menyeberangi celah. Jembatan telah kokoh berdiri.

Itulah mengapa orang yang awalnya tidak bisa, kemudian belajar dengan keras, akhirnya mulai terbiasa, lama-lama malah menjadi terampil. Apabila Ia terus belajar di bidang yang sama, dia pun akan menjadi ahli di bidang tersebut. Karena, dia telah membangun jembatan yang kokoh, hingga sel-sel listrik di otaknya bisa berjalan dengan mudah.

Celah tersebut dikenal dengan istilah Cynaps Gap atau RAS (Reticular Activating System). Inilah yang menjembatani alam sadar dan bawah sadar. Sesuatu yang di alam bawah sadar-Iah yang menjalani hidup kita dalam wujud tindakan dan pengalaman. Semua terjadi di otak kanan— pengalaman, memori, dan rasa.

Bagaimana kalau informasi? Tulisan atau perkataan, misalnya.

Ini faktanya tentang kerja otak dan pikiran. Kata-kata dan informasi akan selalu masuk ke otak kiri terlebih dulu. Dianalisis, diulang-ulang, kemudian masuk ke kanan, dibuka RAS, Ialu menjadi tindakan.

Ilustrasinya begini. Misalkan Anda membaca koran pagi ini. Diberitakan bahwa minyak bensin premium sekarang menjadi Rp20.000/liter.

Informasi tersebut masuk ke otak kiri. Dianalisis. Kemudian baru mulai kita membandingkan (atau menghakimi), kemudian terbayang dan terimajinasi, "Wah, jangan-jangan sudah gila nih, pemerintah. Sudah dipilih rakyat, sekarang main naikin harga begitu aja." Mungkin begitu batin Anda. Emosi dan imajinasi tersebut ada di otak kanan.

Informasi sudah berpindah. Begitu emosi tercipta, gelombang RAS tersambung dan lompatan neutron otak cepat terbentuk. Tindakan yang dipilih, misalnya, DEMO!

Itu contoh bahwa otak kiri menerima informasi, pindah ke kanan, ditambah imajinasi, terbangun bayangan emosi, bahagia, sedih, suka, atau takjub, misalnya. Maka, RAS terbuka menjadi NILAl baru dalam PIKIRAN. Menjadi landasan atas perbuatan.

Contoh lainnya, bayangkan jika ternyata Anda adalah orang yang memiliki tabungan di bank sebanyak Rp 10 milyar, Ialu Anda membaca informasi bahwa harga premium menjadi

Rp20.000/liter.

Maka, informasi tetap masuk ke otak kiri dan dianalisis. Karena Anda tahu hal itu tidak memengaruhi apa-apa, Anda pun tidak membayangkan apa-apa. Data tidak pindah

ke kanan. Tentu tidak terjadi tindakan apa-apa, bukan?

Kembali ke contoh pertama. Perbedaan data peta otak membedakan tindakan. Jika seorang Ibu rumah tangga menerima informasi bahwa harga premium menjadi Rp 20 ribu/liter, akan berbeda dengan seorang politikus lawan dari pemerintah yang berkuasa dalam hal tindakan.

Atau, seorang pedagang asongan menerima informasi naiknya premium, berbeda dengan buruh pabrik, berbeda dengan guru sekolah dasar, dan berbeda pula dengan para pemuda LSM. Di sini indahnya hidup. Di sini seninya hidup.

Suatu hari, saya mengikuti salah satu workshop. Hari pertama, 110 orang murid hadir dari 10 negara. Ada warga India. Australia, Filipina, Malaysia, Kamboja, Hongkong, Jepang, Amerika, Inggris, dan terakhir dari lran. Saya satu-satunya dari lndonesia.

Hari pertama perkenalan, masing-masing cerita jalan hidup mereka masing-masing, saling berbagi sedetail dan serinci mungkin. Wah..., seperti film drama, ceritanya seram-seram. Menegangkan. Taruhan nyawa hilang dan anggota keluarga yang meninggal terbunuh merupakan hal yang biasa. Parah semua kondisinya.

Ada seorang bapak berusia 55 tahun, selama 40 tahun Ia bekerja hanya untuk membayar utang. Ada juga yang bangkrut berutang dengan geng mafia. Ada yang dikejar-kejar Triad, mafia Hong Kong, dan dibunuh keluarganya.

Ada yang ditipu habis-habisan oleh keluarga sendiri. Wah, sulit dibayangkan cerita jalan hidup mereka. Bahkan, 100 kali saya mendengar cerita masing-masing, 100 kali itu pula saya menangis.

Saya tentu tidak boleh menceritakan rincian cerita mereka karena ini merupakan rahasia di antara kami. Ibaratnya, kami seakan sudah menjadi saudara sependeritaan, common sorrow. Jalan hidup saya, jika dibandingkan cerita mereka, menjadi tak sebanding dan tak ada apa-apanya.

Hari berikutnya, sang instruktur menceritakan jalan hidup mereka. Sama saja awalnya, kusut semua. Mereka berlima dan masih muda—yang paling tua baru 35 tahun. Namun, rekening mereka paling sedikit 6.000.000 AUD. 'Diampuuut...!' ujar saya dalam hati berkali-kali.

Millionaire mindset, diajar oleh millionaire. Oke, ini benar. Ini adil. Kami diperlihatkan dana di rekening mereka. Mereka tidak berdusta. Diperlihatkan keesokan harinya bagaimana uang itu datang ke mereka.

Mata saya mulai meIek. Ide di otak saya mulai melompat-lompat liar. Rasanya ada suara 'Aha!' berkali-kali di benak saya.

Hari berikutnya, pelajaran dimulai. Kami membentuk formasi setengah lingkaran tanpa meja. Pelajaran trespassing namanya. Teritori ego kami akan diterabas, dilanggar, dilewati. Siap-siap marah, siap-siap tertusuk hatinya. Kami peserta diberi pertanyaan, "How is the money come to you?" Atau, 'Bagaimana uang datang kepada Anda?'

Seluruh peserta dapat giliran untuk menjawab, dan kalau disamaratakan, semua menjawab: "DENGAN BEKERJA."

Pertanyaan berikutnya. "Kalau tidak ada uang, apa yang Anda lakukan?"

Semua peserta berbicara bergantian, tetapi kesimpulannya, rata-rata menjawab, "Mencari pekerjaan. Karena dengan bekerja, kita mendapat uang".

Pertanyaan berikutnya, "Kalau Anda bekerja, apa yang Anda peroleh?”

Seluruh peserta menjawab: "UANG!"

Pertanyaan berikutnya, "JADl, BEGITULAH CARA KERJA OTAK ANDA? Untuk mendapat uang, Anda harus bekerja?"

Kita stop sebentar. Ada yang salah dari pernyataan tersebut? Tentu tidak, bukan? Inilah pertanyaan dan pernyataan selanjutnya.

"Bisakah Anda tidak bekerja, tetapi dapat uang?"

Otak saya kram, macet. Kemudian terdengar suara instruktur melanjutkan, "Oke. Jadi Anda berpikir bahwa uang datang kalau bekerja, dan kalau tidak punya uang, Anda perlu mencari pekerjaan. Lalu Anda pikir, Anda akan mendapat uang. Padahal, itu hanya menyambung hidup.

Di akhir bulan, uang Anda habis lagi, dan Anda bekerja Iagi. Begitu roda kehidupan yang Anda putar. BENAR?"

Otak saya berhenti. Rasanya tidak ada yang salah. Bukankah itu pemahaman yang umum? Uang didapat dengan bekerja. Nggak kerja, ya nggak dapat duit.

Kemudian pertanyaan berikutnya agak menohok saya. "Anda bertuhan, Mr. Mardigu? Anda percaya Tuhan?"

"Ya, tentu saja," jawab saya.

"Tuhan Anda bisa apa?" tanyanya lagi.

Duh, kalau ini bukan pelajaran trespassing, pasti saya sudah mengamuk.

"Tuhan saya bisa segalanya. Tak terhingga," jawab saya dengan nada tidak nyaman.

Instruktur bernama Geoff itu mendekat, "Tuhan Anda tak terhingga, bisa melakukan apa saja, bisa semuanya? Kalau begitu, bisakah Anda meminta kepada Tuhan begini… Anda tetap di rumah, duduk dengan orang yang Anda cintai dan mencintai Anda, mengerjakan sesuatu yang

menjadi kesukaan Anda, kemudian memiliki UANG TAK TERH!NGGA. Bisakah?!"

Saya gelagapan.

Dia menekan saya lagi. "Bisakah Tuhan Anda mendatangkan uang kepada Anda tanpa bekerja, dengan hanya mengerjakan yang Anda cintai, tetapi bisa DAPAT UANG TAK TERHINGGA, bisakah??!!"

"Bisa!" jawab saya keras.

"Kenapa Anda tidak minta itu? Kenapa Anda tidak minta kepada Tuhan? 'Ya Tuhan, saya mau berkumpul dengan orang yang saya cintai, mengerjakan sesuatu yang saya sukai, menyenangkan banyak orang, santai, sehat, menjadi semakin pintar, membantu alam, dan dapat uang tak terhingga.'

"Mengapa Anda tak meminta seperti itu? Mengapa tidak meletakkan doa itu di benak Anda, tetapi justru milih yang merepotkan, meIelahkan, dan membuat frustasi hanya untuk dapat uang?! Kenapa minta kerja, baru dapat uang?!" tanyanya dengan nada suara meninggi dan mengeras.

Saya tidak menjawab. Ya saya juga bingung. Kenapa saya mau dapat uang harus kerja? Kenapa nggak diam saja atau mengerjakan sesuatu yang enak dan santai saja?

Tapi kenyataannya kan, orang harus kerja juga, apa pun itu? Buktinya banyak orang yang santai-santai malah masuk jurang kemiskinan. Jadi ini maksudnya saya harus apa, ya?

Geoff menekan saya lagi, "Kalau Anda datang ke sini masih mempertahankan dan mempertanyakan hal-hal dasar, Anda harus siap-siap kecewa. Kalau Anda percaya Anda yang menentukan nasib, Anda siap-siap terkejut.

"Kalau Anda percaya nasib bukan di tangan Anda, Anda pasti kecewa. Tapi kalau Anda percaya Tuhan bisa meIakukan apa pun, Anda pasti mendapat sesuatu.

"Kalau Anda percaya garis tangan sudah ditentukan sebelumnya, Anda pasti frustasi. Kalau Anda percaya Anda menulis jalan hidup Anda sendiri, Anda pasti menemukan jalan keluar.

"Kalau Anda banyak berpikir dan mempertanyakan metode pengajaran selama 7 hari ke depan, siap-siap angkat koper karena Anda tidak akan mendapatkan apa-apa. Kalau Anda pasrah dan percaya. Anda sangat diuntungkan karena semua akan mudah.

"Kalau Anda percaya inilah jawaban atas doa Anda, Anda pasti menikmati setiap proses di kelas ini. Kalau Anda masih memegang kukuh belief system Anda yang lama, Anda akan persis akan menjadi seperti diri Anda yang sekarang.

"Kalau Anda meruntuhkan seluruh bangunan Anda dan bersiap membangun fondasi belief baru, siap-siap melihat diri Anda yang Iebih sesuai dengan keinginan Anda," urainya panjang Iebar.

Kemudian nada suaranya melunak dan semakin pelan: "Anda ke sini sudah membuang waktu, membuang tenaga, membuang pikiran, dan membuang uang. Apa yang tersisa dari Anda hanya pola pikiran saja. Kalau Anda mau membuang pola tersebut, kita akan meIanjutkan

pelajarannya.

"Siap-siap akan sakit, sakit hati, karena semua yang Anda pegang selama ini bisa Iepas—bahkan harus dilepas. Bahkan, kebenaran yang Anda pegang akan dipertanyakan,

ditantang ke batas ujung.

"Diri Anda akan didorong ke batas yang membuat Anda merasa, ‘Apakah mungkin? Apakah masuk di akal? Masa sih? Bagaimana bisa?' Pernyataan dan pertanyaan logika belief lama Anda akan ditantang. Kalau ternyata tidak teruji, rubuhkan.

"Ingat, kebenaran yang terbenar adalah kebenaran yang teruji, yang tidak "menohok" atau "menyinggung" siapa pun. Kalau ada yang sakit hati gara-gara kebenaran ini, pelajaran kebenaran ini salah. Dan, semua kita tahu bahwa kebenaran yang paling benar itu membela dirinya sendiri," pungkasnya.

***

[13] Persepsi adalah Biang MasaIah

Percayakah Anda bahwa dalam pelajaran millionaire mindset, persepsi merupakan hal nomor satu yang dirubuhkan? Karena disampaikan di sesi awal, inilah pelajaran yang paling banyak menghasilkan resistensi atau perlawanan dari banyak peserta, termasuk saya.

Contoh persepsi beberapa orang yang berkomentar seperti ini, "Zaman sekarang banyak perempuan matre, lihat lelaki hanya dari ukuran materi."

Dalam millionaire mindset, persepsinya bukan seperti itu, tetapi seperti ini, "Hanya Ielaki kere yang bilang bahwa semua perempuan matre!"

Anda lihat bedanya, kan? Persepsi ini bisa membuat Anda tertohok-tohok, tetapi hati kecil sebenarnya mengiyakan juga.

Atau contoh lainnya persepsi seperti ini, "Belagu banget sih, orang pakai motor Harley Davidson. Suaranya menggelegar berisik, gayanya sombong". Tidak jarang kita mendengar komentar seperti itu, bukan?

Akan tetapi, sebenarnya pernyataan tersebut merupakan antitesis atau lawan dari sisi conscious pikiran yang mengatakan, "Saya tidak mampu membeli motor Harley." Karena itu, sebagai pelampiasan, keluarlah omongan negatif yang mengutarakan persepsi dari sisi buruknya.

Di awal-awal sesi, semua diacak-acak begini. Ya, otak kita rasanya seperti dibolak-balik. Ini merupakan suatu hal yang membuat tidak nyaman, tetapi dalam pikiran di hati kecil, rasanya seperti ada yang menyeletuk, "Iya juga sih."

Karena sudah ada kesepakatan antara sesama peserta dan fasilitator yang mengajar bahwa mereka akan menggunakan bahasa langsung, mau tak mau persepsi tersinggung, harga din, gengsi, atau ilmu apa pun yang dipegang sebagai kebenaran versi diri peserta, harus ditanggalkan.

Pasalnya, membawa persepsi lama akan membuat Anda menjadi seperti apa Anda sekarang ini. Jadi, di dalam kelas, kalimat dan kata-kata yang direct menjadi senjata percepatan pembelajaran. Contohnya ketika saya dijadikan subjek tanya jawab.

Mr. Mardigu, what do you think about Bently or Rolls Royce? Quick answer. No thinking, please?"

Saya jawab, mobil mewah, mobil mahal, mobil orang kaya, mobil buat pamer.

"Good, that is a snap answer very straight forward, and it shows you that you are having a 'poverty consciousness':" katanya. Ya, dia bilang itu membuktikan bahwa saya memiliki kesadaran miskin. Kemudian dia meIanjutkan, "Kamu berjarak dengan kekayaan dan karena itu kamu kerja sekuat tenaga. terapi pola pikir miskinmu membawa kamu kembali ke dunia miskin."

Saya terkejut dengan penjabarannya, tetapi karena sejak awal sudah disepakati untuk tidak boleh tersinggung dan harus siap jika persepsi kita dirubuhkan, kata-kata tersebut pun rasanya nancep langsung ke akar pikiran bawah sadar saya.

"Bruce, how about you?" Si fasilitator Geoff bertanya kepada peserta dari Filipina yang botak, skin head. Dijawab cepat oleh Bruce, "That's my car!' Kontan saja seisi kelas tergelak.

"That’s what you called prosperity consciousness!" tukas Geoff.

Kalimatnya itu membawa saya melamun, teringat kembali pada suatu masa ketika saya berdialog dengan Ketut Masagung—anak ketiga dari Masagung, pendiri Toko Buku

Gunung Agung dan Toko BUKU Walisongo; pemilik Hotel Nikko yang kini menjadi Pullman dan Gedung Wisma Nusantara, dan banyak lagi list bisnis dari ketiga putra Alm. Masagung.

Saya mengenal Ketut Masagung selama Iebih dari 25 tahun. Bahkan, sampai saat ini kami masih sering bertemu seminggu sekali, SMS dan BBM bisa dua hari sekali. Suatu hari, saya bertanya kepada sahabat saya itu.

"Bro, bagaimana awal muasal keluarga Masagung ini bisa membangun kelimpahan bisnis hingga seperti sekarang? Awalnya apa yang Alm. Masagung Iakukan?"

Singkat cerita, Ketut Masagung mengisahkan bahwa bapaknya dulu pegawai bagian sales yang gigih, setiap hari berjualan buku. Namun, di hati kecilnya ia selalu berkata bahwa bekerja seperti itu artinya membangun kerajaan orang lain, dan ini ada batasnya.

Pemikiran itu memenuhi isi kepalanya setiap saat. Dia ingin membuka usahanya sendiri, membangun kerajaannya sendiri.

Kemudian, ada satu rumah di Jalan Kwitang 10, yang setiap hari selalu ia Iewati. Dia selalu menghayal, andaikan dia bisa memiliki rumah itu, kemudian menjadikannya tempat untuk membuka usahanya.

Rumah itu milik sepasang suami istri warga negara Belanda. Dan, suatu hari, mereka sekeluarga harus meninggaIkan lndonesia karena sejak Perjanjian Linggarjati ditandatangani, Belanda harus angkat kaki.

Akhirnya keIuarga pemilik rumah di Jalan Kwitang itu pun memasang iklan di koran dengan harga murah, tetapi tidak ada peminat. Kemudian mereka memasang informasi di depan rumah dengan harga Iebih murah lagi, juga tidak ada peminat.

Sampailah suatu hari sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang sekaIi meninggalkan aset di negara orang seperti ini. Bagaimana kalau kita tawarkan ke orang yang Iewat sini? Saya perhatikan ada seorang anak muda berwajah oriental yang setiap hari lewat. Dan, dari raut mukanya sepertinya dia orang yang berdedikasi, rajin kerja, dan pandai. Siapa tahu dia berminat, Pak?"

Anak muda yang dimaksud sang istri tak lain adalah Masagung. Maka, suatu hari, ketika Masagung Iewat, dipanggillah dia dan ditawarkanlah rumah tersebut. Tentu saja tawaran ini disambut antusias oleh Masagung. Sayangnya, begitu disebut harga, Masagung tidak sanggup.

Padahal, harga tersebut sudah super-super murah dibandingkan penawaran via koran atau bahkan tanda di depan rumah. Tapi apa mau dikata, uang yang Masagung kumpulkan belum sampai segitu.

Akhirnya sang suami menawarkan solusi agar Masagung mencicil selama 5 tahun, Masagung pun menyanggupi. Dia berusaha keras bekerja mencicil kewajibannya dan dikirim langsung ke Belanda. Dan, benar saja, 5 tahun kemudian dia Iunasi rumah tersebut.

Ketut Masagung menyimpulkan ceritanya, "Begini, Wiek. Misalkan dulu Bapak tidak pernah mengatakan berkali-kali bahwa dia akan punya bisnis sendiri. Misalkan dulu Bapak tidak pernah membatin setiap Iewat rumah itu, bahwa dia ingin memulai bisnisnya di sana.

"Misalkan dulu dia tidak mengulang-ulang mantra dalam hatinya, 'Ini rumah saya, ini kantor saya, ini kerajaan bisnis saya.' Pasti rumah itu dibeli orang lain, bukan ditawarkan kepada dia. Ketika dia berkata tidak mampu. pasti si pemilik rumah akan mencari pembeli yang mampu, bukan menawarkan solusi mencicil kepada dia."

Ya, intinya adalah percaya sebelum terjadi, pasti akan terjadi. Dan hal ini rupanya diwariskan kepada ketiga anaknya.

Pada saat sesi tanya jawab dengan Geoff tentang persepsi prosperity consciousness versus poverty consciousness atau kesadaran kemakmuran melawan kesadaran kemiskinan, saya pun nyambung dan saya memperoleh aha experiencepengalaman yang membuat saya berkata

dalam hati, 'Aha! Sekarang saya mengerti!'

***

[14] Melihat ke Dalam Diri

Coba kita merenung sebentar. Coba Anda melakukan hal yang biasa disebut dengan istilah "inward looking" atau 'melihat ke dalam'. Bisakah Anda menceritakan bagaimana selama ini cara uang datang kepada Anda? Bisakah Anda mengenal polanya.

Ada berapa cara? Mungkin agar Iebih cepat, saya bantu dengan pertanyaan. Apakah uang Anda diperoIeh dengan bekerja? Diberi oleh orangtua? Diberi oleh suami atau pasangan? Dari hasil dagang? Dari usaha sendiri? Dari gajian? Atau, dari meminta kepada orang lain.

Sewaktu Anda meIanjutkan membaca tulisan ini, mungkin ada di antara Anda yang sudah Ielah dengan masalah keuangan; sudah capek dengan ketergantungan kepada orang lain; serta sudah tidak bisa lagi mencari cara untuk menutupi semua kewajiban yang terus meningkat setiap bulan dan setiap tahunnya.

Dan, mungkin Anda setuju bahwa Anda memilih untuk menyudahi masalah finansial ini. Anda memilih bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi di depan Anda. Anda memilih untuk menyetop ketergantungan kepada orang lain. Anda memilih menjadi pribadi yang menang. Anda memilih untuk menjadi bagian dari solusi.

Tak ada yang namanya “keunggulan”, yang ada hanyalah pengulangan.

Misalkan ada seorang perempuan cantik berdiri di dekat halte dekat Jembatan Semanggi di Jalan Jendral Sudirman, Jakarta. Waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam. Perempuan cantik dengan tinggi semampai dan berkulit putih tersebut berpakaian rapi, sesekali melihat jam di tangan kanannya.

Ada beberapa orang berdiri bersamanya, tetapi perempuan yang satu ini menarik perhatian karena cantiknya menonjol sekali. Kalau dilihat sekilas, usianya mungkin tak Iebih dari 25 tahun. Make up-nya tipis sehingga kecantikan alaminya terpancar.

Anggaplah Anda sedang mengendarai mobil dan Anda berjalan perlahan di depan halte tersebut. Kira-kira, apa yang terbesit pertama kali dalam pikiran Anda tentang perempuan cantik di sisi kiri jalan yang disorot jelas oleh lampu merkuri dekat halte itu?

Mungkin ada yang menebak, "Ini pasti cewek nakal sedang menjajakan diri."

Atau, ada juga yang mengatakan, "Mungkin perempuan ini pulang kerja shift malam dari hotel di bilangan sini. "

Pokoknya macam-macam, pasti ada yang positif dan ada yang negatif. Keduanya bergantung kepada template kepala Anda masing-masing.

Lantas, bagaimana template di kepala seseorang tercipta? Mengapa manusia satu dengan lainnya berbeda? Karena perbedaan itulah, output atau hasilnya berbeda-beda juga. Ada manusia yang sukses, ada yang biasa saja, ada yang gagal, dan beragam hasil lainnya.

Template jalannya pikiran atau mind map tercipta karena sesuatu berulang-ulang terjadi dalam perjalanan hidupnya. Misalnya, seseorang membaca koran Lampu Merah, POS Koto, atau banyak lagi berita yang isinya hal negatif.

Walaupun benda-benda tersebut merupakan fakta, tetapi kalau setiap hari dijejali dengan berita maksiat dan kriminal, bisa dibayangkan seperti apa template otaknya kira-kira kalau selama 5 tahun dia memperoleh hal-hal seperti itu.

Di sisi lain, apa yang terjadi jika seseorang membaca koran dan majalah bisnis, buku self-improvement selama 5 tahun? Template seperti apa yang dia miliki?

Jika sekiranya kedua orang tersebut berjalan bersama dalam mobil, Ialu meIihat fenomena perempuan cantik tadi, bisakah Anda menebak apa isi pikiran masing-masing kedua orang itu?

Bagaimana? Ingin mengubah dasar pemikiran Anda?

Dalam memutar roda, selalu ada hal yang memberatkan. Sama halnya dalam meIakukan perubahan mindset ini. Maka, selain keyakinan-keyakinan lingkungan yang mempengaruhi, ada juga hal yang harus Anda jaga setelah meIakukan perubahan. Jika ini tidak dijaga, Anda akan kembali lagi menjadi diri Anda yang lama.

Sebagaimana Anda tahu, pandangan dan reaksi Anda terhadap kejadian dalam hidup ditentukan oleh dasar-dasar pemikiran Anda. Dasar pemikiran tersebut merupakan keyakinan-keyakinan, pendapat-pendapat, dan kesimpulan-kesimpulan yang Anda tarik sebagai masukan dari pengalaman yang Anda terima sejak kecil.

Hal-hal tersebut yang membentuk self-concept, seberapa Anda yakin dengan diri sendiri, dan inilah FILOSOFl hidup Anda. Semakin kukuh dasar pemikiran tersebut, semakin yakin Anda dengan "kebenarannya". Pada akhirnya, dasar inilah yang menjadi pengendali apa pun yang Anda Iakukan, kerjakan, dan rasakan.

Jika Anda yakin Anda adalah orang yang penuh dengan talenta dan semangat, ramah, populer, sehat, serta memiIiki kehidupan yang indah, dasar-dasar pemikiran inilah yang akan membawa Anda kepada penetapan sasaran hidup.

Jika Anda belum memiliki template dasar tersebut, Iakukan perubahan dan pasang template dasar tersebut dalam diri Anda. Lakukan sepertI yang pernah dan terus saya lakukan. Ingat, yang penting bukan apa yang terjadi kepada Anda di dalam kehidupan ini, tetapi BAGAIMANA REAKSI ANDA.

Juga bukan dari mana ASAL Anda, tetapi KE MANA tujuan Anda dan bagaimana Anda mencapainya. Sesungguhnya tujuan Anda hanya dibatasi oleh imajinasi Anda.

Padahal, sebenarnya imajinasi itu tak terbatas, jadi tujuan Anda sesungguhnya menjadi tak terbatas. Inilah dasar pemikiran dan keyakinan yang Anda perlukan untuk menunjang potensi Anda

***

[15] Dobrak Mitos

Sayangnya, terdapat berbagai mitos yang kita dengar selama kita turnbuh menjadi dewasa. Mitos ini bisa menjadi PENYABOT harapan-harapan Anda dalam meraih sukses, kebahagiaan, dan kepuasan di kemudian hari.

Misalnya, Anda merasa "sudah tua'; "takdir hidup susah"; atau "kurang pintar". Perasaan seperti ini adalah dasar pemikiran yang menimbulkan rasa rendah diri dan tidak mampu. Anda berasumsi bahwa orang lain Iebih mampu hanya karena Anda merasa saat ini mereka berprestasi Iebih baik dari Anda.

Perasaan rendah diri ini menetap jauh dilubuk "self-concept".

Dari mana ide-ide itu? Tentunya masa Ialu Anda memberi sumbangan terbesar. Bisa didapat dari orangtua yang kurang paham mendidik Anda. Bisa didapat dari lingkungan, misalnya Anda sering diabaikan, kurang mendapat perhatian dan kepercayaan, sehingga Anda mulai membentuk "keyakinan" Anda yang kurang mampu. Itu mitos! Itu tidak benar! Sudahi sekarang juga!!!

Mulailah berbicara hal yang positif tentang Anda dengan hati riang, dan Iakukan berulang-ulang.

Kata-kata yang paling berpengaruh dalam kosakata Anda adalah kata-kata yang biasa Anda katakan kepada diri sendiri, kemudian Anda yakini kebenarannya. Dialog dengan diri sendiri merupakan penentu 95% emosi Anda.

Ingat, ketika Anda berbicara dengan diri sendiri, otak Anda menerima kata-kata itu sebagai perintah. Your wish is a command!

Pikiran tersebut menyebar ke seluruh tubuh, kemudian menyesuaikan dengan perilaku, citra diri, dan tindakan Anda, sesuai dengan kata-kata Anda.

Oleh karena itu, mulai sekarang berbicaralah dengan diri sendiri dan gunakan kata-kata yang sebenarnya Anda inginkan TERJADl kepada diri Anda. Dengan bahasa lain: hindari mengatakan apa pun di dalam diri Anda tentang sesuatu yang TIDAK ANDA HARAPKAN akan terjadi.

Ucapkan hanya kata-kata yang memberi pengaruh positif dalam diri Anda. Ingat, bahkan celetukan tentang hal di luar diri Anda pun kembalinya ke Anda. Jadi, segala celetukan,

komentar, opini, pendapat, serta kata-kata dalam diskusi dan dialog, pilihlah hanya yang akan membuat Anda menjadi lebih baik.

Begitu pun ketika mengeluh, curhat, dan sharing. Hanya ucapkan yang baik-baik.

Kata-kata: "Saya bisa", "Ini mudah", "Ini menyenangkan", "Saya yang terbaik", "Ini milik saya", kata-kata seperti itu merupakan program untuk dasar self-concept Anda. Lakukan mulai sekarang.

***

[16] Anda Patut Mendapat yang Terbaik

Mungkin Anda sering mendengar keluhan, seperti kata-kata "krisis ekonomi", "susah dapat uang", "susah cari kerja", "dunia memang keras", dan lain sebagainya. Atau, mungkin ada semacam kritikan yang Anda terima pada masa lampau. Hai-hal seperti itu menciptakan mitos yang merugikan, yaitu munculnya kepercayaan bahwa Anda tidak berhak atas kesuksesan.

Ini sering terjadi kepada mereka yang hidup dari keluarga yang terbatas pengetahuannya. Lingkungan yang marginal. Kurang pendidikan. Jadi, ada mitos yang dipercaya oleh

lingkungan, seperti bahwa orang miskin penuh hikmah dan nilai-nilai luhur, sementara orang kaya penuh dengan dosa.

Ada pula yang mengatakan banyak harta membuat beban di akhirat nanti. Juga kata-kata, "Sudah, takdir kita memang begini." Atau, kata-kata yang bernada menyalahkan

pemerintah yang kurang mengurus rakyatnya.

Ini cukup aneh. Mengapa hal yang terjadi kepada diri kita, dipersalahkan ke orang lain?

Seorang yang memiliki kesadaran (self-concept) kemakmuran yang tinggi, menunjuk keluar hanya positif, kemudian menunjuk ke dalam Iebih positif lagi.

Misalkan dalam kehidupan Anda dibesarkan dengan keadaan negatif dan hanya ingat hal yang negatif. Tetapi ternyata Anda berhasil mengatasi masalah tersebut. Pikiran Anda harus tetap positif, dan yang lebih penting lagi, perasaan Anda pun harus tetap happy dan positif. Anda pasti sukses.

Saran saya, Anda tetap harus menata template dasar-dasar nilai yang telah terbentuk dalam sindiran, kritikan, atau kesinisan yang pernah Anda alami. Hilangkan dengan menatanya di lapisan bawah.

Benar, Anda bisa tutup dengan citra dan pelajaran di awal, dan Anda sebaiknya meIakukannya secara terus-menerus agar tidak muncul ke permukaan.

Jika Anda sempat menyimak catatan perjalanan hidup saya yang Ialu-Ialu, saya Ielah hidup tersandung-sandung, jalan terantuk-antuk. Di sanalah saya meIakukan perenungan sekali lagi. Saya mendefinisi ulang pikiran saya. Saya mengulangi kata-kata positif lagi terhadap diri maupun ke luar diri, terus-menerus hingga sekarang dan semoga saja juga begitu di masa yang akan datang.

Kini saya ubah nilai-nilai lama saya. Saya ingin mengerjakan yang hal-hal yang saya cintai, bersama orang yang saya cintai, mendapatkan ridho Ilahi, dengan hasil tak terhingga.

Dalam pikiran, tentu data lama masih ada dan tetap ada. Tapi sebaiknya, kita letakkan di dasar paling bawah, sedangkan pikiran dengan data baru yang positif berada di lapisan atas.

Sejujurnya, yang kita tata kali ini masih berkisar tentang materi. Kita masih harus bekerja keras untuk menata tentang kesehatan, hubungan dengan keluarga, mendidik anak, dan lain sebagainya.

Ada sebuah pemahaman baru yang akan masuk ke dalam pikiran Anda di chapter selanjutnya, di mana Anda akan tersentak karena ada sesuatu yang berbeda dengan pemahaman selama ini di dalam pengertian "mencari materi".

Anda tidak perlu menjadi pengusaha untuk kaya raya, tak perlu modal besar untuk sukses. Bahkan, Anda boleh dengan santai dan tetap mengerjakan apa yang Anda suka, yang Anda cintai. Anda tetap berhak untuk kaya raya meskipun tetap dengan profesi Anda, dengan profesi keseharian Anda.

Tak perlu berubah drastis. Kalau Anda ibu rumah tangga, tak perlu menjadi pegawai meninggalkan anak-anak balita di rumah. Yang Anda butuhkan hanya merubuhkan jangkar "segala sesuatu yang membuat Anda miskin", yang selama ini menghalangi Anda dan tujuan mendapatkan kemakmuran.

Dan, tulisan ini juga tidak menjanjikan Anda akan memperoleh "rose garden; bahwa semuanya mudah, semuanya enteng semudah membalik telapak tangan. Tidak sama sekali. Yang harus disadari adalah, semua dimulai dengan keyakinan. Keyakinan baru.

Jadi, sekali lagi saya ulangi, "siapa bilang mau kaya harus berbisnis? Siapa bilang Sukses itu mudah, hanya perlu kerja pintar, tanpa modal, tanpa kerja keras?"

Saya jamin, yang berbicara bahwa untuk sukses Anda harus berbisnis, atau ada yang mengatakan sukses itu mudah, tanpa kerja keras, tanpa modal, kerja pintar, adalah

seorang pembelajar yang baik, tetapi bukan pelaku yang menjalankan roda ekonomi.

Yakinlah, yang berbicara seperti itu pasti seorang yang bertujuan baik. Namun bagi saya, niat baik tersebut bisa misleading, membuat manusia lain salah arah. Jadi, pemahamannya harus diperdalam agar lebih benar, bukan hanya jargon. Saya tahu sekali niatnya memotivasi semua orang, agar orang tidak patah semangat dengan kondisi saat ini.

Saya juga paham sekali bahwa banyak pemutar roda ekonomi saat ini banyak datang dari kalangan yang memiliki sedikit pendidikan sekolah, dengan sedikit modal—bahkan ada yang tanpa modal. Cerita tentang orang-orang seperti ini menjadi semacam pendekatan mirroring. Agar satu rasa.

Kemudian dibandingkanlah dengan kisah-kisah orang sukses di dunia yang juga tak bermodal dan tak berpendidikan tinggi. Tujuannya sama, yaitu agar termotivasi untuk semangat. Dan ini tidak salah, ini benar. Saya setuju sekali.

Akan tetapi, siapa pun yang mengatakan hal tersebut sebaiknya menjelaskan Iebih dalam lagi. Yang disebut, misalnya, berbisnis properti tanpa modal. Sebaiknya diterangkan lagi dengan benar, itu broker properti atau pebisnis properti?

Kalau broker, memang modal duitnya sedikit. Karena memang tanah orang, aset orang, kita hanya menjualkan dan memasarkan. Fee yang didapat merupakan imbalan dan jasa kita. Lain halnya dengan pebisnis properti.

Pebisnis properti, belum mulai berjualan dan berbisnis saja, sudah harus sibuk bayar izin segala macam. mulai dari HO (Hinder Ordonantie) atau surat izin gangguan, ada AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan), ada IMB (Izin Mendirikan Bangunan), dan sebagainya.

Lalu, berbisnis properti tanpa modal itu di mananya?

Jadi, daripada mengusung woro-woro "bisnis properti tanpa modal", menurut saya akan lebih baik jika informasinya diperjelas. Misalnya, "cara menjadi sales properti yang baik". "cara melipatgandakan penjualan properti Anda': dan semacamnya. Menurut saya, itu Iebih jujur dan tidak memberi harapan palsu kepada orang-orang yang haus sukses.

Ada juga yang mengusung jargon "kerja pintar", dan ini biasanya adalah pemain bisnis jaringan. Dan, sekali lagi, ini bukan hal yang salah. Benar, kerja pintar. Karena kerja Anda hanya jualan produk. Anda tidak perlu memikirkan gudang, distribusi, administrasi, atau izin-izin. Anda tidak

perlu susah-payah menciptakan merek dagang, dan lain sebagainya.

Anda hanya perlu membangun sales team, berjualan, dan memotivasi. Titik. Itu memang kerja pintar. Anda hanya mengerjakan 30% dari sisi bisnis. Namun, para leader seperti itu tidak bisa mengatakan bahwa ber-MLM itu berbisnis. Itu hanya strategi salesmanship, dan bagian dari

bisnis itu belum berbasis penuh.

KaIau Anda pemilik bisnis jaringan tersebut, barulah Anda bisa menyebut diri sebagai pebisnis.

Ada juga yang mengatakan. Bill Gates tidak menyelesaikan sekolahnya. Atau, Liem Swie Liong tak sekolah. Dan pengusaha sukses lain yang tIdak bersekolah formal. Ini menimbulkan pemahaman yang keliru bahwa pendidikan itu tidak diperlukan untuk berbisnis.

Hal ini saya juga tidak menentangnya. Bisnis memang open source, semacam pintu terbuka. Mau orang itu tak berpendidikan, tak beragama, tak bermoral, kejam, atau baik hati, atau usaha jenis apa pun, Anda bisa saja sukses. Bisnis sukses tidak bisa dikIaim sebagai hanya tempat

orang tak berpendidikan. Itu tempat semua orang dengan latar ras apa pun, agama apa pun, dengan ilmu apa pun.

Bagi saya—maaf, ini hanya pendapat pribadi—benarlah banyak orang tersebut tidak berpendidikan formal. Akan tetapi, kalau Anda berada di dekat mereka, akan terasa bahwa ilmu mereka tinggi sekali. Ya, mereka memang sangat berilmu, dan dalam menuntut ilmu memang tidak diperlukan sekolah formal. Selama Anda bisa belajar, bisa berilmu, sekolah formal hanya pelengkap.

Seorang Ciputra sejak Iahir sudah melihat timbangan terigu dan telor di matanya tatkala orang tuanya berdagang. Dari bayi, dia sudah mengenal tawar-menawar, berjualan, menentukan harga, dan melayani pelanggan—walau saat itu hanya skala warung. Nah, ini sebuah keilmuan yang dipelajari melalui pengalaman jalan hidup.

Siapa yang bisa melawan keilmuan dagang seperti itu? Mau makan sekolah sampai S3 di perguruan tinggi ternama juga nggak diajari hal itu. Lalu, sewaktu dia berbisnis di usia

20 tahunan, sebenarnya dia sudah memiliki iImu dagang sebagai platform pola dalam pikirannya,

Jadi, berbisnis merupakan sebuah matriks yang rumit, yang seharusnya tidak dipikirkan, tetapi dijalankan. Untuk berbisnis, Anda harus memiliki komitmen dan ide yang terlatih. Bahkan, sahabat saya mengatakan, sekreatif apa pun ide Anda, kalau tidak Iaku dijual maka Anda tidak

kreatif.

Kesimpulannya, Anda harus dipercaya. Kalau kepercayaan orang terhadap Anda sangat tinggi, apa pun yang Anda berikan—bahkan meskipun menurut mereka ide Anda jelek atau produk Anda buruk—pasti akan tetap dibeli.

Lalu, benarkah tak perlu kerja keras? Saya meneliti dalam-dalam hal ini, dan saya percaya semua orang kaya atau orang sukses adalah pekerja keras. Namun, mereka bukan saja pekerja keras, tetapi juga orang yang tahu memanfaatkan waktu. Mereka bekerja keras? Iya. Tapi begitu liburan, mereka benar-benar menikmatinya dengan lepas. Enjoy.

Mereka pandai membagi waktu antara kerja, di rumah, dan bersosialisasi. Kata-kata "work hard play hard" bukan sekadar jargon. Mereka meIakukannya secara harfiah. Perilaku kerja yang pintar membagi waktu tadi ituIah sesungguhnya yang disebut kerja pintar.

Kalau mereka diinfokan hanya main golf atau selalu datang siang ke kantor, sudah ada sistem yang bekerja. Karena, sudah ada para direktur yang mengerjakan. Itu merupakan produk tahunan kerja keras mereka.

Ibaratnya orang menanam mangga, setelah 4 tahun panen dan terus menghasilkan selama 25 tahun. Kalau dilihat di tahun ke-10, ya kita akan melihat seseorang yang santai. Namun, kalau Anda melihat 4 tahun pertamanya, mungkin penilaian Anda berbeda, mungkin Anda memandangnya sebagai seorang workaholic atau penggila kerja.

Satu hal lagi, apakah untuk kaya atau sukses harus berbisnis? Wah, untuk hal yang satu ini saya sedikit berlawanan dengan banyak orang. Saya percaya untuk kaya atau sukses, Anda tidak perlu berbisnis. Dengan kalimat lain, untuk kaya, ada ribuan cara. Berbisnis atau berwirausaha hanya salah satunya saja.

Mau Anda berlatar belakang office boy, pedagang kaki lima, pensiunan olahragawan, TNl, guru, tukang Ias, ibu rumah tangga, atau tukang parkir sekalipun, sukses atau kaya adalah masalah perilaku atau attitude. Kaya atau sukses adalah produk sampingan dari sebuah perilaku kaya.

Menabung contoh perilaku orang sukses, berinvestasi adalah perilaku orang sukses, dipercaya banyak orang adalah perilaku orang sukses, dan banyak lagi perilaku pribadi sukses, dan ini bukan hak prerogatif pebisnis.

Anda menjadi good follower juga termasuk perilaku pribadi sukses. Anda seorang good listener juga termasuk pribadi sukses. Baik Anda seorang pegawai atau seorang yang putus sekolah, Anda perlu memiliki kepribadian seperti itu untuk bisa sukses.

Anda tidak perlu repot-repot membangun perusahaan blue chip. Anda bisa mempelajari dengan seksama di board pasar saham. Lalu, belilah dalam jangka panjang. Otomatis Anda sudah merupakan shareholder perusahaan tersebut, walaupun minoritas. Namun tetap saja, Anda termasuk pemilik sebagian saham perusahaan tersebut.

Misalkan Anda tahu di masa sekarang, bisnis retail akan naik, melihat net income per kapita Indonesia sudah di atas 3.500 USD. Jadi, belilah saham Unilever, Ialu simpan selama 5 tahun. Dijamin, kenaikannya pasti. Itu investasi.

Bahkan, sahabat-sahabat istri saya dan kelompoknya memiliki kebiasaan aneh—setidaknya menurut saya. Setiap bulan arisan. Yah, namanya ibu-ibu. Tapi ada yang aneh di kelompok ini. Setiap arisan, isinya adalah perdebatan data dan informasi saham apa yang akan mereka beli di bulan ini. Lalu siapa pemenangnya yang akan ambil uang itu di tahun depan.

Misalnya masing-masing setor Rp1.000,000 tiap bulan. Ada 12 peserta, jadi setiap buIan ada saham yang dibeIi senilai Rp.12.000.000, yang akan dicairkan 1 tahun setelah diinvestasikan. Misalnya dari hasil kocokan, Ibu A yang dapat bulan ini, dibelikan saham kelapa sawit Astra Argo Lestari. Lalu bulan depan, Rp12,000.000 diinvestasikan ke saham Trada Marine Cargo. Itu diputuskan setelah mereka berdua belas berdebat dan berdiskusi.

Kalau dengar ceritanya, seru juga sih. Saya yang dulu-dulu merasa arisan itu hal yang berbau socialite dan hanya perilaku sosial semata, jadi melihat arisan dari sisi menarik sekarang.

***

[17] Apa Itu Pikiran?

Pada bagian sebelumnya, kita sudah membahas bahwa otak manusia itu ibarat hardware, sedangkan pikiran adalah software-nya. Kali ini, mari kita bahas, apa sebenarnya "pikiran" itu?

Pikiran terbagi tiga, yaitu:

- pikiran sadar (conscious mind);

- pikiran bawah sadar (subconscious mind); dan

- tidak sadar (unconscious).

Pikiran tidak sadar biasanya ada pada saat orang tidur, orang mabuk, atau orang gila. Dan kita tidak membicarakan topik ini. Dalam kontribusi keseharian, pikiran sadar (conscious mind) memberikan 12% kontribusi dan pikiran bawah sadar memberikan 88% kontribusi tindakan manusia. Jadi, apa yang berada di bawah sadar adalah yang memengaruhi kehidupan Anda.

Dalam mengoperasikan pikiran bawah sadar, pikiran manusia harus meletakkan template atau memiliki cetakan fondasi. Misalnya seseorang dalam hidupnya selalu dikritik, dimarahi, dan dimaki-maki, sejak kecil hingga dewasa. Maka, sudah pasti dia memiliki template marah atau software pemarah dalam subconscious mind-nya.

Bisa jadi dia tidak memiliki software bahagia dan santai karena hidup selalu tegang. Jadi, semua yang dijalankan oleh manusia, ditentukan oleh software-nya.

Begini ilustrasinya. Misalkan seseorang ingin olahraga karena merasa badannya gemuk, merasa sakit-sakitan. Maka, dia berusaha olahraga, mendaftar senam, fitnes, mulai ambil raket tenis, beli peralatan futsal.

Namun, jika orang tersebut tidak punya software olahraga, dapat dipastikan sebentar lagi seluruh kegiatan yang niatnya mau sehat dan mau olahraga tersebut dia tinggalkan. Bisa dirinya yang memutuskan, bisa juga keadaan. Hujan Iah, panas Iah, sakit Iah, dan banyak lagi

alasan untuk dirinya tidak olahraga.

Kalau olahraga itu software-nya di dunia komputer kita sebut saja PowerPoint. Dan, Anda tidak punya software PowerPoint. Otomatis program tidak bisa jalan. Jadi, sehat, bahagia, tenteram, santun, masing-masing ada programnya

Begitu juga kemakmuran atau prosperity consciousness, itu ada programnya. Jika Anda tidak memilikinya, Anda berjarak dengan kemakmuran. Namun sebaliknya, jika Anda memiliki software kemakmuran, seberapa pun miskinnya Anda saat ini, seberapa pun terbatasnya sumber materi Anda, dalam waktu singkat Anda akan hidup berkecukupan.

Di sisi lain. jika seseorang memiliki poverty consciousness, seberapa pun kaya dan berlimpahnya materi dia saat ini, pasti ada cara untuk uang dan materi itu pergi meninggalkan orang tersebut.

Begitu pula orang-orang yang jahat, licik, cuIas, pelit, arogan, boros, sombong, koruptor, tetapi mereka memiliki prosperity consciousness, tetap saja uang akan mendatangi mereka. Di sisi lain, orang taat ibadah, rajin, suka menolong, rajin menabung, berderma, dan santun,

Tetapi ia memiliki poverty consciousness, ada saja cara uang menjauh darinya.

***

[18] Hardware Buatan Tuhan, Software Buatan Manusia

Bagaimana software terpasang dalam pikiran manusia? Saya berikan sedikit ilustrasi. Anda

memiliki bayi berusia 6 bulan, atau keponakan Anda, atau adik Anda. Bisakah bayi tersebut berbicara? Belum bisa, bukan?

Maka, dia akan mengekspresikan komunikasinya dengan menangis, tersenyum, dan tertawa. Suatu hari bayi tersebut menangis dengan kerasnya. Orangtua mana pun akan bergegas melihat apa yang terjadi. Dilihat popoknya, dicek suhu tubuhnya, diperiksa badannya, apa pun dilakukan untuk membuat sang anak diam atau tenang dan tidak menangis lagi.

Kalau ternyata masih menangis. setelah diperiksa sana sini tidak ada masalah, berdasarkan survei statistik, 82% Ibu di Indonesia akan menyusui bayinya, memberikan dot, atau

memberinya susu atau makanan.

Kembali kita telaah. Mengapa bayi itu menangis keras? Mungkin karena dia lapar, bosan, sakit, pipis, ingin teman, dan banyak lagi alasannya. Yang jelas, dia menangis karena "ada masalah". Dia ekspresikan dengan menangis.

Kebiasaan orangtua di Indonesia ini dapat dikatakan memasang software kehidupan ke dalam pikiran bawah sadar anak bahwa, "Nak, kalau ada masalah dalam hidupmu, masukkan sesuatu ke mulutmu."

Karena itulah, ketika dewasa, program itu berjalan tanpa disadari, di subconscious pikirannya sudah ada data tersebut. Begitu ada masalah, dia mulai memasukkan sesuatu ke mulutnya, misalnya merokok, makan, mengemil, menggigit kuku, meminum manis, meminum alkohol, dan banyak lagi.

Seperti itulah cara software di-install oleh lingkungan sekitar, salah satunya oleh orangtua, dan banyak lagi software lain yang terpasang di diri Anda, tanpa Anda sadari memengaruhi 80% hidup Anda.

***

[19] Apa Saja Isi Alam Bawah Sadar Seseorang?

Dalam sebuah seminar, saya didaulat menjadi salah seorang narasumber. Seminar yang

diselenggarakan Januari 2010 ini berjudul "Eksis di Tengah Krisis" dan disponsori beberapa perusahaan, seperti bank, maskapai, dan banyak lagi. Narasumber lain adalah orang-orang kompeten di bidangnya. Ada pengusaha, entertainer, serta profesional yang telah membuktikan pengalamannya melewati krisis 1997/1998.

Memang, saat itu semua negara jatuh dalam krisis resesi, negara ASEAN mengalami devaluasi. bahkan rupiah terdevaluasi hingga 500% dari Rp2.500/USD hingga Rp12.500/USD hingga krisis 2009—yang diawali krisis mortgage loan perumahan di Amerika yang merubuhkan Lehman Brothers dan A1G—yang berpengaruh ke seluruh dunia.

Seminar terbuka, umum, dan gratis ini dihadiri berbagai kalangan. Dari mahasiswa, pedagang kaki lima, ibu rumah tangga, pengusaha menengah, bahkan banyak profesional dan pengusaha atas. Topik yang saya bicarakan adalah "Millionaire Mindset".

Berlangsung dari pukul 9 hingga pukul 17, acara ini diisi oleh 6 narasumber. Saya mendapat giliran untuk berbicara tepat setelah makan siang, yaitu sekitar pukul 13. Peserta cukup antusias sehingga semua mengisi ruangan segera. Setelah moderator memperkenalkan nama dan CV ringkas saya, saya pun membuka dengan sapaan rutin.

Belum sempat saya berbicara panjang, seorang di barisan depan mengambil mic dan mengajukan pertanyaan sekaligus pernyataan.

"Pak Mardigu diundang sebagai apa kapasitasnya? Millionaire mindset itu apa hubungannya dengan seminar ini? Kalau tidak ada hubungannya, sebaiknya dilewati saja!" katanya.

Kontan saja saya terkejut. Dan, belum berhenti keterkejutan saya, peserta lain mengajukan pernyataan senada dengan menggunakan mic satu lagi, dia berada di posisi barisan tengah.

“Apa hubungan seorang pengamat teroris dan intelegen dengan seminar ‘Eksis di tengah krisis'? Lalu, membawakan tema 'Millionaire Mindset'. Apakah Bapak seorang miliuner?"

Peserta tersebut memprotes dan mempertanyakan keabsahan keilmuan saya dengan korelasi isi seminar.

Saya agak kebingungan, begitu juga moderator. Sebelum saya bisa mengendalikan suasana, seorang ibu menimpali dengan keras tanpa mic, tetapi suaranya terdengar ke seluruh ruangan. "Ngapain tukang hipnotis teroris ada di sini? Apa hubungannya hipno-hipnoan dengan 'Millionaire Mindset' dan seminar ini?"

Peserta yang pertama bersuara menambahkan, 'Apakah Anda pebisnis? Apa buktinya Anda pebisnis dan miliuner? Jangan sampai Anda mengada-ngada. Apa hubungannya hipno dengan mindset? Seminar ini tentang 'Eksis di Tengah Krisis', apa hubungannya dengan narasumber ini? Tadi dari Kacang Garuda menceritakan pengalamannya dan kami sangat terinspirasi.

"Lalu Pak Liem Siauw Bok dari Triwarsana Dunia Entertainment membuktikan kepakarannya. Terakhir Pak—siapa—itu dari bank, yang dia berusaha dan bawah hingga berhasil—(note: maksudnya Pak Agus Martowardojo yang saat itu menjabat sebagai Menteri Keuangan).

"Anda membawakan 'Millionaire Mindset', sementara kami kenal Anda sebagai seorang pakar teroris, pencuci otak teroris. Apa kami mau dicuci otak atau bagaimana ini?"

Saya tersentak. Panitia gelagapan. Moderator pun menengahi, “Baik Pak, biar Pak Mardigu menjelaskan, ya."

Saya pun menceritakan sedikit hubungan saya dengan kepolisian dan militer, Ialu saya ceritakan sedikit tentang pikiran atau mindset. Namun, ada beberapa peserta yang rupanya tetap tidak puas. Mereka mendesak agar sesi acara saya di-skip, dilewati. Karena, poin yang mereka harapkan adalah pengalaman dan praktik, tidak mau wacana-wacana atau pelajaran teori-teori. Menurut mereka kalau itu tidak aplikatif, buat apa?

Kata mereka, kaIau Mardigu ini seorang business coach, harap dibuktikan perusahaan apa yang dimiliki dan apa prestasinya. Kalo hanya mindset sebagai wacana saja, ya ubah judul sesi ini menjadi "Apa Itu Mindset untuk Bisnis". Itu pun bisa sebagai selingan yang tidak penting.

Rasanya rontok seluruh tulang saya mendengar komentar-komentar tersebut. Saya tidak sempat banyak membela diri atau memberi pertahanan, tetapi buat apa saya bertahan kaIau bombardir pertanyaan dan pernyataan tersebut sepertinya memang bukan mengharapkan solusi.

Sesi pun tetap diIanjutkan, tetapi berdasarkan kesepakatan, akhirnya dibuat ringkas. Saya Iakukan, tetap dengan semangat. Ini bukan kiamat, pikir saya, ini cambuk positif. Ini mungkin batu asahan terkeras yang akan membuat pisau saya Iebih tajam.

Bagi saya, moral story atau hikmah yang saya dapat adalah, tidak semua orang suka dengan saya; tidak semua orang kenal dengan saya; tidak semua orang kenal dengan produk saya; dan tidak semua orang nyaman dengan keberpihakan saya. Tapi itulah hidup, c’est la vie.

Jujur, saya gemetar dan gentar di seminar tersebut. Di balik senyum dan perkataan saya kala itu, saya sedang mengalami masalah keuangan yang cukup besar. Cerita ringkasnya seakan sekelebat Iewat dengan cepat dalam pikiran saya saat mengingat kembali kejadian yang sedang saya alami.

Ayah saya berpulang ke rahmatullah di tahun 2007. Waktu itu kami kurang tahu bahwa ternyata ayah kami menjaminkan rumah satu-satunya tempat ia tinggal ke bank untuk sebuah proyek. Proyek ini dia Iakukan berdua dengan mitra dagangnya, seseorang berwarga kenegaraan

Singapura, namanya Julian Yeoh.

Dan, yang mengagetkan adalah, mitranya itu kabur tak bertanggung jawab, membawa uang investasi tersebut. Awalnya kami tidak terlalu tahu, tetapi ketika petugas bank bolak-balik ke rumah menanyakan kewajiban cicilan yang sudah 9 bulan tidak dibayar, saya sangat terkejut.

Saya pun menghadap kepada bank tersebut dan mereka membuka informasi semuanya. Saya sangat kaget karena kalau dinilai secara keuangan pada saat itu, ibu saya yang tinggal di rumah itu tidak memiliki harta apa pun. Nol, bunga plus pinjamannya senilai rumah.

Mengetahui kondisi tersebut, tentu saja saya tidak mungkin menceritakan hal itu kepada ibu. Belum setahun kehilangan pasangan hidupnya selama 42 tahun, ibu saya akan kehilangan harta satu-satunya, rumah tinggalnya. Pasti dia tidak siap. Dan, saya merasa itu tidak benar karena dia tidak berhak untuk menderita atas perbuatan yang tidak dia perbuat.

Akhirnya informasi ini saya simpan. Biar saya yang tanggung. Pilihan saya yang pertama adalah mencari Julian untuk meminta pertanggungjawabannya. Namun, orang ini hilang ditelan bumi.

Langkah berikutnya adalah negosiasi dengan bank dan mengambil alih tanggung jawab tersebut. Pokoknya, saya harus berusaha keras agar rumah jangan sampai dilelang atau disita bank.

Dengan senbu cara, saya merayu dan meyakinkan bank untuk mendapat "hair cut" dan bunga tersebut. Pokoknya, bank tidak rugi. Dari pokok awal, saya mengatakan sanggup mencicil hingga 10 tahun ke depan agar bisa Iunas.

Alhamdulillah, bank mau. Tinggal saya bekerja keras dan minta pengertian dari istri serta anak-anak. Ternyata istri saya mendukung, walaupun dengan 3 anak—kala itu istri sedang hamil anak terakhir kami. Mengapa saya minta izin mereka? Karena, cicilannya sebesar 2/3 dari pendapatan bulanan kami kala itu.

Kami harus gulung tangan tinggi-tinggi. Setelah semua itu berjalan selama kira-kira 1 tahun, suatu hari ibu kami tercinta mengatakan bahwa ia ingin pindah ke kampung halaman di Jawa Timur. Ia ingin menjual rumah sebagai modal beli lahan untuk berkebun dan sedikit uang untuk hidup. Kata-kata ini bagai petir menggelegar.

Memang, sudah hak ibu saya untuk meIakukan itu, tetapi kalau dijual saat itu, hampir semua uangnya akan diambil bank. Artinya, ibu saya hanya dapat sekitar 10%-nya. Dilema saya waktu itu, apakah ibu saya harus diberi tahu kejadiannya, atau saya telan dan tanggung sendiri?

Saya pun meIakukan hal yang tidak Iazim. Saya memilih tidak memberi informasi apa pun kepada Ibu. Lebih baik saya menjual aset, rumah, tempat usaha, dan mobil untuk menebus bank. Lalu, kami bisa mengambil sertifikat dan memberikannya ke ibu agar ibu bisa menjualnya.

Malam itu juga seperti biasa saya berdoa, mohon kepada Allah SWT agar Dia berkenan atas keputusan saya ini. Lalu saya kumpulkan anak dan istri. Saya ceritakan semuanya dan apa yang akan saya Iakukan.

"Kita akan menjual rumah tempat tinggal kita, ruko di Jatibening, kantor pusat Rumah Yatim Indonesia, dan seluruh kendaraan kita. Kita akan cari rumah kontrakan sebagai pengganti rumah yang kita jual," urai saya.

Saya menunggu jawaban istri dan anak-anak. Ternyata istri saya berkata, 'Ayah, kalau buat bakti Ayah kepada orangtua, kami tidak akan berkomentar apa-apa. Dan pastinya, Yah, apa yang Ayah usahakan ini walau habis-habisan, tetap saja air susu ibu belum terbayar. Selama Ayah ikhIas, aku setuju Yah."

Anak-anak saya juga setuju, "Boleh Yah, jual saja demi Eyang. Perjuangan Ayah pasti berat. Kami percaya, kok."

Saya menunduk meneteskan air mata, kemudian saya pun mengangguk, "Terima kasih, Bunda. terima kasih, anak-anakku. Ayah janji akan membuktikan kepada kalian, Ayah kalian ini terbuat dari apa."

Akhirnya kami pun menjual rumah, ruko, dan 4 mobil. Semua kami lakukan segera agar bisa langsung menebus rumah ke bank. Dalam 1 minggu, sertifikat asli sudah di tangan ibunda tercinta yang menyambut dengan senyum. "Ibu pulang kampung ya, Mas. Ibu mau berkebun. Boleh, ya?" pamitnya.

Kami hanya mengangguk. Melihat Ibu tersenyum, hati kami pun sumringah, enteng, dan lega. Dan, seperti dugaan kami sebelumnya, rumah tersebut cepat terjual dan ibu pun pindah kota dari Jakarta ke Malang, Jawa Timur.

Malam sebelum acara, saya membuka pintu kamar anak-anak di kamar sebelah, di rumah kontrakan yang kecil dan sempit. Ketiga anak kami sedang meringkuk tidur beralaskan bedcover dan selimut. Kami tidak memiliki tempat tidur buat mereka. Tempat tidur hanya satu untuk

dede kecil yang baru Iahir di kamar sebelahnya, di mana kami bertiga berhimpit-himpitan. Saya selimuti ketiga anak kami itu, kemudian saya kecup mereka yang sedang tertidur Ielap.

Kembali ke cerita seminar "Eksis di Tengah Krisis". Banyak peserta yang meminta saya menyejajarkan keilmuan dengan fakta. Sesi 'Millionaire Mindset' tentu harus diisi oleh seorang miliuner, sementara keadaan saya saat itu sedang mengayun turun.

Namun, saya sama sekali tidak kesal dengan mereka yang menyerang. Saya tidak menyesali semua kejadian tersebut, hanya saja semoga semuanya mendapat hikmah tersembunyi karena kehidupan ini penuh teka-teki misteri, menarik, dan indah.

***

[20] Seberapa Laparkah Anda?

Beberapa tahun yang Ialu. saya bertanya kepada Pak Kadek, "Bagaimana cara agar sukses cepat tercapai?" Kemudian dia jawab dengan balik bertanya. "Kamu lapar. Wiek? Seberapa laparkah kamu?" Saat itu kami tengah bercakap santai di sore hari di kantor kami yang tua di bilangan Kebayoran.

Kantor tersebut adalah bangunan tahun '70-an akhir yang hanya kami perbaiki sana-sini selama 25 tahun Iebih kami berkantor di sana. Karena struktur bangunannya yang tua, kami pun mencoba memolesnya agar terlihat sedikit lebih keren.

Kami beri tanaman dan pepohonan, jadi kalau ada tamu yang datang, mereka bisa menikmati keasrian taman daripada terfokus pada tuanya bangunan kami tersebut.

Sore itu, kami berdua duduk di dekat pintu meja kerja Pak Kadek. Kami geser bangku mendekati jendela agar isapan rokok dan asapnya bisa langsung keluar ruangan. Pak

Kadek tahu saya bukan perokok dan dia menghargai itu.

Saya duduk di hadapannya, yang juga bersebelahan dengan jendela, dengan secangkir teh hangat. Kami berdua menyenang-nyenangkan diri dengan kesederhanaan yang kami miliki tersebut. Salah satu kebiasaan aneh kami berdua selain duduk diskusi adalah pada saat memilih makanan, terutama makan siang.

Kalau lagi punya uang, kami makan seadanya di warung, atau pesan pada penjaja makanan di sekitar kantor yang murah meriah. Namun, begitu cash di tangan menipis atau bahkan tidak ada, kami makan di restoran karena bisa gesek kartu kredit. Aneh, bukan? Namun, itu salah satu hal yang sering kami jadikan bahan bercandaan.

Sore itu saya sedang kelelahan. Baik secara mental maupun secara fisik. Membangun usaha, harus menyediakan banyak ekstra semangat dan kepercayaan. Saya harus menggaji karyawan, mencari modal, mempertahankan keuntungan perusahaan. merekrut SDM, serta membangun sistem dan organisasi.

Belum lagi mengurus hal rutin di rumah, keluarga, belanja harian, cicilan bank, biaya pendidikan, menjaga badan dengan pola makan dan olahraga, dan banyak lagi. Semua itu membuat saya saat itu sedang di titik nadir terbawah saya. Saya kecapean.

Pak Kadek berusia di awal 60-an saat itu, dan dia merupakan orang yang saya kenal Iebih dari 70%; waktu hidup saya—dari saya kelas 5 SD hingga saat ini di usia saya yang 40-an.

Memang, tidak setiap saat kami bersama-sama, bahkan selama beberapa tahun kami hanya bertemu 1 hari. Jalan hidup kami sendiri-sendiri hingga 4 tahun yang lalu, ketika saya memutuskan agar kami bergabung dan masuk di dalam payung organisasi bersama.

Diskusi singkat ini terjadi ketika saya belum bergabung penuh, biasanya hanya dalam RUPS atau rapat komisaris. Sisanya, saya membangun sendiri organisasi bisnis saya,

dia dengan organisasinya. Saya hanya pemegang saham kecil dan menjadi komisarisnya.

Hingga terlontarlah pertanyaan saya kepadanya sore itu "Babeh, bagaimana cara agar sukses cepat tercapai?" Ya, saya terkadang memanggilnya "babeh" karena sosoknya saat ini seperti pengganti sosok almarhum ayah saya yang telah tiada.

Pria berkacamata minus dengan rambut memutih yang sedikit dikuncir karena kepanjangan itu menatap saya sambil mengisap rokoknya. Topinya yang dia kenakan terbalik membuat gayanya tampak seperti seniman saja.

Kembali ke pertanyaan Pak Kadek yang bertanya, seberapa lapar saya, saya pun menjawab, "Sangat lapar. Lapar sekali."

"Kalau sudah begitu, kamu tidak perlu bertanya lagi. Stop bertanya, kamu sudah paham. Kalau kamu terus bertanya, hanya akan membuat pikiran kamu berputar pada imajinasi. Maka, hentikan bertanya dalam diri. Kamu sudah cukup lapar. Kamu sudah menemukan 'compelling

reason'-mu. Mulai kerjakan saja," urainya.

"Mengerjakan apa?" tanya saya kepadanya, ingin memastikan saja, tetapi saya tahu itu pertanyaan bodoh yang sudah terjawab.

Pak Kadek menarik napas panjang dengan isapan rokoknya dalam-dalam. "Kalau kamu tidak bisa berenang dan kamu tercebur ke air yang dalam. Maka, yang kamu harus Iakukan adalah gerakkan semua anggota tubuhmu agar kamu tetap mengambang dan kepala kamu muncul

ke permukaan. Sekali kamu berhenti bergerak, kamu akan tenggelam. Itulah yang saya maksud dengan kerjakan dan Iakukan, "jawabnya.

"Kalau kamu lapar dan sangat lapar, gerakkan semua hal yang bisa membuat perut kamu tensi, setidaknya bisa makan. Mungkin tak perlu kenyang, tetapi kamu bisa menyambung hidup. Hingga kamu suatu saat sampai di pinggir, atau kamu tetap di air tapi tidak tenggelam.

"Begitu kamu bisa berenang, itulah kepandaian yang menempel abadi padamu hingga kamu di mana pun bisa buat uang, bisa sukses. Dan, apa pun kebutuhan kamu bisa terpenuhi. Anggap saat ini kamu tidak bisa berenang, anggaplah kamu selalu bodoh. Hal itu yang membuat

kamu haus belajar dan lapar bekerja," Ianjutnya.

Saya merenung cukup lama dengan penuturannya itu. Lapar dan mempertahankan lapar, selalu bodoh dan belajar. Sepertinya sejak saat itulah dalam benak saya seakan ada kalimat yang terus menempel, "Keep being hungry Wowiek, and keep being stupid."

"Jadi, jangan tanya saya lagi, kamu harus apa. Itu hanya menunjukkan bahwa kamu orang peragu." Ianjut Pak Kadek dengan intonasi tegas.

Mendengar kalimat tersebut, saya berhenti berpikir. Orang di hadapan saya adalah seorang perantau yang membangun jalan hidupnya dengan banyak kesalahan dan banyak kegagalan. dari Bali ke Bandung sebagai mahasiswa ala kadarnya, yang tinggal mencari gratisan di sana-sini. Hingga akhirnya menjadi sukses, bangkrut dan gagal, Ialu naik lagi. Rasanya ribuan hal buruk pernah dilaluinya. guratan di wajahnya, menceritakan banyak masalah kehidupan yang telah dia Iewati.

Berbicara dengannya seakan-akan berbicara dengan kitab kehidupan karena semua diceritakan dengan pengalamannya. Pembandingnya adalah dirinya. Dan ketika ditanya "bagaimana”, dia jarang menceritakan atau menjawab pertanyaan tersebut. Contohnya seperti pertanyaan saya tentang bagaimana cara cepat sukses tadi.

Contoh lain, misalkan ada yang bertanya, bagaimana caranya agar kredit bank cepat disetujui. Pasti banyak orang di luar sana, selain Pak Kadek, yang akan menjawabnya dengan detail. Contohnya, "Kamu harus menyiapkan FS, memberi appraisal tanah jaminan, menyiapkan RAB,” dan seterusnya.

Itu contoh orang yang menjawab pertanyaan dengan “bagaimana"-nya.

Akan tetapi, lain halnya dengan Pak Kadek. Kalau ia ditanya seperti itu, dia tidak akan menjawabnya, melainkan akan bertanya balik, "mengapa" pinjam? Dia tidak akan menceritakan bagaimana-nya atau how, tetapi why.

Ketika seseorang ditanya dengan why, entah mengapa orang itu akan keluar "self defense mechanical'; atau sistem pertahanan dirinya.

Dia tahu sekali bagaimana melakukan "reverse psychology" atau psikologi terbalik agar pertanyaan kembali ke si penanya yang membuat siapa pun itu menjawab pertanyaannya sendiri dan menyelesaikan persoaIannya sendiri.

Dan, karena tahu kebiasaannya tersebut, saya harus menyiapkan pertahanan diri saya ketika ditanya olehnya pada kalimat selanjutnya di sore itu. "Wiek, kenapa kamu lapar? Kenapa kamu harus sukses?"

Yang saya Iakukan adalah, saya rebahkan badan saya di sandaran kursi. Saya siIangkan kaki kanan saya ke kaki kiri. Saya ambil teh hangat yang sudah mulai dingin.

Saya seruput sedikit, Ialu saya kembalikan cangkir tersebut ke dekat jendela. Lalu saya Ianjutkan dengan menarik bibir saya setinggi mungkin di wajah saya, tersenyum. Yang dijawab dengan uluran tangannya, "Welcome aboard, welcome to the Jungle."

***

[21] Harga Sebuah Kesuksesan

Dalam sebuah kunjungan kerja di negara tetangga, Singapura, saya mendapatkan sebuah tiket

menonton balet. Bagi saya, menyaksikan sebuah pertunjukan kesenian seperti opera maupun balet bukan merupakan kenikmatan ataupun kebanggaan. Saya bukan orang yang terlalu menyukai seni dan mengerti kesenian.

Namun, saya suka keindahan, kerapian, dan kebersihan. Dan, bagi banyak sahabat, ketiga hal itu merupakan bagian dari kesenian. Begitulah para filsuf yang selalu pandai mengolah kata menjadi pemahaman baru, padahal menurut saya beda juga maknanya.

Apakah saya akan menonton pertunjukan balet klasik Swan Lake itu? Di tengah padatnya jadwal pertemuan dan di tengah diskusi panjang bisnis, sebenarnya hampir tidak

ada waktu untuk menikmati pertunjukan balet tersebut. Di sisi lain, undangan itu datang dari mitra bisnis dan kami sedang dalam proses membahas bisnis jangka panjang tersebut.

Undangan itu datang pimpinan tertinggi sebuah perusahaan minyak yang sangat dihormati di dunia. Kalau dalam catatan billionaire index di Forbes, perusahaan tersebut masuk 100 besar dunia.

Posisi itu membuat saya mengharuskan diri mengikuti acara balet tersebut, yang sejujurnya saya tidak paham sama sekali.

Saya ingat, saya memerlukan hampir 1 jam merenungi pentingnya untuk hadir dibanding persiapan meeting pagi. Saya baru kembali ke kamar hotel pukul 17, Ialu segera ke

Esplanade Singapura pukul 19 untuk menyaksikan acara yang dimulai pukul 19:30, dengan mengenakan dress code Iengkap, jas hitam dan dasi kupu-kupu.

Waduh, urusan dasi kupu-kupu ini memang ribet. Beda banget pakai dasi kupu-kupu clip on yang sudah jadi dengan dasi yang masih Iembaran dan harus menyimpul kupu-kupu sendiri.

Bisa habis 15 menit hanya untuk membuat dasi tersebut tampak seimbang dan pas dilihatnya. Pasalnya ya itu tadi, saya tidak terbiasa dan tidak suka.

Satu hal dalam perenungan untuk menghormati undangan tersebut adalah, menyetel hati. Nggak paham, nggak nyaman, tetapi saya harus menyaksikan penampilan balet yang diawali gala dinner pertunjukan akbar tersebut. Saya tahu, harga tiketnya mahal, dan lagi posisi duduk saya di balkon nomor dua dari balkon utama.

Ada 6 balkon utama di Esplanade. Yang satu terisi BOD (Board of Director) mitra bisnis kami dan gosipnya yang 5 lagi terisi dengan PM Singapura waktu itu, Goh Chok Tong. serta keluarga mantan PM Singapura pertama yang tentu semua orang tahu, Lee Kuan Yew.

Namun, yang namanya nggak nyaman, saya tetap perlu berusaha untuk menyemangati diri sendiri. Pikiran saya pun melompat ke masa kuliah dulu. Dari 144 SKS—atau unit kalau di Amerika—ada 24 unit yang di luar bidang utama kita.

Misalnya begini, ada seorang mahasiswa teknik jurusan mesin. Untuk Iulus sebagai bachelor of mechanical engineering, dia perlu 120 unit dari mata kuliah wajib dan 24 unit dari mata kuliah GE (general education) atau pelajaran yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan teknik. Mereka harus mengambil kelas badminton, sejarah, astronomi, antropologi, dan semua kelas dasar atau basic 101. Dan itu bebas, tidak ada pakemnya.

Saya terheran-heran di awalnya dengan keharusan ini, tetapi dekan saya mengatakan, "Tujuan Anda mempelajari ilmu, selain ilmu wajib tadi, adalah untuk keseimbangan hati. Agar menjadi balance.

"Karena, sebagai engineer yang analitis, teknis, dan kaku, Anda bisa memahami sosiologi daerah tertentu atau sejarah sebuah negara, misalnya. Ini membuat Anda bisa melihat dunia dan sisi lainnya, the other side of the coin, sehingga Anda akan lebih bijaksana dengan kemampuan melihat sisi pandang orang lain."

Karena saran tersebut, saya pun mengambil kelas classic jazz 3 unit, sejarah dunia, arkeologi yang berurusan dengan dinosaurus, serta kelas gastronomi atau ilmu tentang makanan.

Itu semua jauh dan dasar keilmuan saya di sekolah sebagai master criminal mind and forensic investigator. Benar-benar tidak nyambung. Namun, saat itu saya jadi bisa melihat dunia meskipun hanya dari kelas kecil saya. Saya bisa melihat the otherside of the coin.

Berdasarkan ingatan tersebut, saya pun memutuskan, saya akan melihat sisi lain kehidupan. Saya akan menonton pertunjukan balet tersebut. Saya kuatkan hati. Saya bulatkan tekad. Saya pun tiba di Esplanade tepat waktu.

Sebagaimana kebiasaan pertunjukan red carpet seperti ini, acara diawali dengan makanan mewah berlimpah dan ramah tamah sesama penonton yang merupakan high society di Singapura dan banyak ekspatriat.

Saya mengambil sisi menyendiri sambil membaca buku isi jalannya pertunjukan dan membaca nama-nama balerina yang akan manggung.

Perilaku saya yang mengambil posisi aman sebagai pengamat di ujung adalah perilaku dari para kaum introvert, yang kalau tidak nyaman, ya memilih untuk mojok sendiri.

Ada dua nama yang menarik perhatian saya. Pertama, nama penyanyi opera tenar Lea Salonga sebagai bintang tamu. Kebetulan dia termasuk idola saya sehingga saya pun merasa excited dan sedikit Iebih nyaman. Kedua, nama seorang balerina Indonesia di daftar penari utama.

Saya tidak tahu apakah ini orang yang sama, tetapi 20 yang Ialu saya pernah punya teman dengan nama itu. Dia ke New York untuk mengambil sekolah tari dan saya tidak pernah bertemu lagi sejak itu.

Saya masih ingat sosoknya yang dulu cantik, tinggi, dan anggun. Itu 20 tahun yang Ialu. Tapi saat ini, saya nggak ada bayangan sama sekali.

Kemudian terdengarlah pengumuman bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Kami semua menuju tempat masing-masing. Saya sudah memotivasi diri saya sehingga isi kepala saya hanya prasangka baik dan saya akan enjoy the moment, enjoy the present.

Singkat cerita, pertunjukan 2 jam tersebut mendapatkan standing ovation, Iuar biasa. Saya yang kurang paham saja dapat mengikuti jalannya pertunjukan indah tersebut, dan melongo kagum, apalagi mereka yang paham dan mencintai pertunjukan balet klasik.

Saya lihat banyak penonton sampai menitikkan air mata haru. Tepuk tangan meriah dan wajah sumringah penonton jelas terlihat ketika lampu panggung menyala terang menutup acara.

Mata saya tertuju ke balerina Indonesia tadi, dan benar saja, dia teman saya. Di penghujung acara, seluruh penari berbaris membungkuk menghormati penonton yang memberikan penghormatan balik dengan bertepuk tangan sambil berdiri.

Sebuah kesantunan yang indah bagi saya. Saya terus menatap teman saya itu, yang masih cantik dan anggun. Beberapa gerakannya di pertunjukan tadi mengundang decak kagum banyak penonton, indah sekali.

Saya bertanya-tanya dalam pikiran saya, apakah dia masih kenal saya? Entah mengapa saya memilih untuk mencari tahu.

Ketika semua penonton berbalik arah keluar, saya menuju ke panggung yang gordennya mulai tertutup. Tepat dekat panggung, ketika tirai hampir tertutup, teman saya yang berada di barisan agak samping itu berbalik badan.

Saya rasa mata kami sudah saling bertatapan. Saya baru saja hendak menyapa dan melambaikan tangan, tetapi dia terus berjalan sambil berjinjit, seperti kebiasaan para

Balerina.

Tak disangka, beberapa saat kemudian dia membalikkan badan dan kembali menatap saya yang berdiri tepat di sisi panggung. Pupilnya kontan membesar. Artinya dia ngeh dan masih mengenal saya. Saya pun tersenyum sambil melambaikan tangan. Dia membalas dengan melambaikan kedua tangannya ke depan.

"Mas Wowiek, ya?" tanyanya. Aslinya saya tidak mendengar suaranya, tetapi gerakan bibirnya membuat saya mengangguk. Saya pun mengedikkan kepala ke kiri, memberi syarat agar dia menemui saya di sebelah kiri panggung. Akhirnya dia berpisah dari para penari lainnya

dan menemui saya.

Di sisi belakang panggung, dua kenalan lama bertemu kembali. Pelukan persahabatan 20 tahun tidak bertemu mengawali perjumpaan singkat tersebut. Saya pun tidak bisa menghentikan lidah saya untuk tidak memuji dirinya.

"Pertunjukan tadi luar biasa, dan kamu masih seperti dulu, masih seperti 19 tahun, " kata saya, yang dijawab dengan rona merah di pipi dan tonjokan kecil ke tangan saya. Itu respons seseorang yang geer, tentunya.

Saya dimintanya duduk di tempat tumpukan properti panggung. Mulutnya mencerocos bertanya tentang apa yang terjadi selama 20 tahun ini. Saya pun menceritakan singkat jalan hidup saya dan dia menceritakan sekilas kehidupannya sambil melepas sepatu baletnya.

Mata saya pun menatap tajam telapak kakinya. Saya sangat terkejut melihat bilur Iebam kakinya. Dia seorang penari balet yang hebat, cantik, anggun, dan indah gerakannya. Namun, kakinya penuh dengan banyak bekas Iuka, yang tidak terlihat saat dia menari dengan indahnya.

Dia pun menatap saya dan bertanya, "Kenapa Mas?"

"Kaki kamu. ..?" tanya saya menggantung.

"Inilah harga sebuah keindahan, Mas. Bukannya kehidupan pun begitu?" katanya sambil tersenyum

Kalimat tadi menghentikan jalan pikiran saya, membuat saya membayangkan bahwa ternyata setiap penari, pelukis, pemimpin, orang sukses, usahawan, inovator, bintang film hebat, olahragawan top, semuanya pasti memiliki kesakitan, kesedihan, kepedihan, dan bekas Iuka

yang hebat. Itu semua tidak terlihat saat kita hanya melihat suksesnya saja. Padahal, semua kesuksesan memiliki harga yang harus dibayar.

***

[22] Pentingnya Meraih Kepercayaan Seseorang

Memori atau kenangan biasanya muncul kembali dalam pikiran kita, jika tanpa disadari kita berada di tempat yang mirip dengan peristiwanya. Misalnya, Anda pernah menyatakan cinta di bawah pohon selagi cinta pertama di masa SMA dulu, yang ternyata ditolak.

Begitu suatu hari, 20 tahun kemudian, Anda melihat atau merasakan suasana yang mirip dengan suasana itu, memori Anda tahu-tahu mengeluarkan data yang membuat Anda terkenang dengan cinta pertama dan toIakan pertama tersebut.

Hebatnya lagi, memori tersebut ketika muncul justru sering kali membawa kebahagiaan. Percayalah, walaupun Anda mengingat patah hati pertama 20 tahun yang Ialu, Anda tetap saja menertawakan atau tersenyum-senyum sendiri mengenal peristiwa tersebut.

Kisah lain, mungkin suatu hari Anda sedang berjalan dengan pasangan Anda di kendaraan, misaInya di mobil. Tiba-tiba ada lagu di radio favorit Anda, yang mengingatkan Anda akan sebuah peristiwa menyakitkan. Mungkin Anda pernah diputusin mantan dan lagu itu menjadi latar ketika peristiwa itu terjadi.

Percayalah, walaupun saat itu Anda sedang membicarakan topik lain dengan pasangan Anda. otak Anda tanpa komando akan dengan cepat bisa membuat memori tersebut keluar. Tanpa diperintah, tangan Anda membesarkan volume suara lagu tersebut sambil berkata, "Lagu bagus nih, aku suka."

Namun, kita semua tahu bahwa memori Anda sedang berada di masa lalu, yang mungkin tragis, tetapi indah dikenang. Lalu di hati kecil Anda mulai nakal, bertanya-tanya apa kabar ya, si "dia". Lalu Anda senyum-senyum sendiri.

Coba, apa yang terjadi kalau ternyata pasangan Anda menangkap perubahan wajah Anda dari sudut matanya. Ehhmm... sisa cerita ini Anda sendiri yang meIanjutkan ya, karena pasti beda-beda reaksi pasangan Anda.

Saya pun saat ini sedang masuk ke zona memori tersebut. Saya teringat ketika dulu masih tinggal di Balikpapan, sewaktu SMP, ada seseorang mendekati saya di kelas. Dia memberi saya sebuah prakarya sekolahan yang menurut saya bagus sekali, yaitu logo pendidikan Indonesia, Tut Wuri Handayani dari triplek yang digergaji.

Mungkin Anda tahu, gergaji triplek berbentuk U yang seperti celurit dan ada mata gergaji tipis menyambungkan kedua ujung U tadi. Cara menggunakannya gergaji itu dengan tangan, dan sisi ujung U yang lain ada di ketiak Anda. Sulit sekali melakukan pekerjaan dengan gergaji U

tersebut karena bisa putus mata gergajinya yang seperti kawat tipis.

Jadi, ketika mendapat hadiah pekerjaan tangan tersebut, saya benar-benar terkesan. Seorang anak SMP meIakukan pekerjaan itu mungkin bisa memakan waktu bulanan karena triplek Tut Wuri Handayani ini ukurannya besar, hampir 1 meter. Semua huruf, semua Iekuk gambar sayap, semua digergaji dengan bagus.

Sewaktu menerima hadiah tersebut, saya ucapkan terima kasih kepada yang memberi. Dia adalah Benhur Panjaitan. Saya sebenarnya tidak terlalu kenal dia. Namun, kalau pulang sekolah, kami sering satu jalan dan dia tiba di rumahnya terlebih dulu. Dari jalan raya, masih masuk gang ke dalam. Mobil tidak bisa masuk, hanya motor. Kami beda kampung, dia lebih dekat ke sekolah.

Ketika 10 tahun berlalu, saya sedang mengunjungi sebuah lokasi di Desa Colo, Kudus. Ada sekolah yang mirip dengan bentuk sekolahan SMP Negeri 1 Balikpapan, sekolah saya dulu. Tiba-tiba memori tentang Benhur terbersit di kepala saya. Yang kepikiran adalah, apa ya maksud Benhur kasih hadiah tersebut ke saya? Apa spesialnya saya? Kenalan juga nggak terlalu dekat.

Sebelum dia memberi hadiah itu dan setelahnya, kami juga tidak terlalu dekat. Namun, 10 tahun kemudian, saya jadi teringat Benhur gara-gara hadiah tersebut. Di mana kampung dia sekarang? Apa kabarnya?

Saya jadi ingin bertemu dengan Benhur, dan kalau bertemu, saya ingin tanya mengapa dia memberi hadiah itu. Karena waktu itu saya tidak sedang berulang tahun dan tidak ada

suatu peristiwa istimewa saat Benhur memberi hadiah itu.

Sepuluh tahun sejak memori tersebut muncul, alias 20 tahun berlalu sejak meninggalkan Balikpapan, ada hal yang memancing memori tersebut muncul kembali. Saat itu saya bekerja di PT Refund, cikal bakal Rekapital, yang pemilik dan CEO-nya adalah Rosan Roeslani. Dulunya,

Rosan adalah pegawai saya, tetapi 8 tahun kemudian selama 2 tahun, saya adalah pegawai Rosan.

Itulah hidup, berputar terputar terus. Dan yang pasti, hanya rezeki yang tidak pernah tertukar. Kalau sudah jatah Si A, ya pasti dapat. Dia memerlukan saya, dan pastinya saya memerlukan income yang cukup besar untuk membayar utang-utang saya.

Rosan memerlukan saya karena saya cukup galak dan tegas dalam memimpin organisasi. Bahkan, banyak yang bilang bahwa saya ini a**hole. Keras, disiplin, dan nggak ada belas kasihan. Saya sangat bertoleransi pada hasil Pengejar prestasi.

Kala itu, saya sedang meIakukan inspeksi ke divisi sales. Saya cukup bertanya, apa yang mereka Iakukan. Mereka pun jawab, habis ketemu Pak A, Pak B, dan sebagainya.

Maka saya bilang, coba telepon mereka lagi, bilang saya ingin bicara. Mereka yang bohong dan tidak meIakukan prospecting, pasti panik. Beberapa orang tertangkap tangan berbohong.

Begitu saya berbicara dengan Pak A dan Pak B, ternyata mereka tidak pernah bertemu atau berkomunikasi dan bahkan tidak mengerti produk perusahaan kami.

Tanpa pandang bulu, saya pun langsung bilang ke sales yang berbohong, "Sebaiknya kamu mengajukan surat resign sekarang, daripada saya pecat, kondite kamu jelek di luaran." Saya tahu itu kejam sekali. Tapi begitulah saya yang dulu.

Kemudian sampailah saya ke sebuah meja, Ialu saya tanya seorang sales bernama Andar. "Mana kartu nama orang-orang yang pernah kamu prospek?"

Andar dengan perlahan menyerahkan setumpuk kartu nama ke saya. "Ini, Pak. Saya cek satu per satu, " katanya.

Lalu mata saya menemukan nama yang sangat familier: Benhur Panjaitan. Masih dengan gaya mempertahankan wibawa, saya bertanya, "Siapa Pak Benhur ini?"

"Oh, dia pengusaha sukses di bidang IT, Pak. Sulit bertemu dengan dia. Dia kontraktor lT utama di Pemda Jakarta dan lembaga pemerintah, Pak. Wah, Iuar biasa Pak, orangnya. Baik sekali, santun, dan dipercaya banyak Iembaga," jawab Andar.

Saya tersenyum dalam hati. Ah, pasti ini teman yang saya cari. Tapi mendengar cerita Andar, saya menjadi kecut, apakah Benhur masih kenal saya? Atau, ini Benhur yang lain, bukan teman SMP saya?

LaIu saya tanya ke Andar, "Apa dulu Pak Benhur pernah tinggal di Balikpapan?"

"Wah, saya kurang tahu Pak. Saya coba hubungi lagi ya Pak," kata Andar. Saya Iihat dia menelepon di depan saya. Seperti biasa, sulit sekali terhubung. Dan resepsionis, hanya terhenti di sekretaris pribadi Pak Benhur. Muka Andar pucat, dia takut sekali ekspresinya.

Dia pasti berpikir saya akan marah dan akan memecatnya. Lalu di tengah menunggu, saya ambil telepon itu dan berbicara dengan sekretaris Pak Benhur, "Maaf Bu, bisa tolong sampaikan ke Pak Benhur? Saya tahu, pasti dia sedang sibuk, tetapi tolong sampaikan ada orang bernama Wowiek ingin berbicara."

Ya sudah, Iebih baik saya yang memulai. Saya adalah orang yang bisa menerima kegagalan, tetapi saya tidak bisa menerima ketika saya tidak mencobanya. Jadi. saya yang mengawali. Mudah-mudahan dia ingat dan mau menerima saya, kalau ini Benhur yang sama.

Sesaat kemudian, terdengar bunyi "klik", suara telepon yang tadinya nada tunggu menjadi hening. Ada orang di sebrang sana, bukan mesin lagi. Kemudian terdengar suara, "Bapak Wowiek??? Hei, apa kabar kamu?! Hahaha...."

Saya menarik napas lega. Ya, ini Benhur yang saya kenal. Lalu tanpa basa-basi, saya langsung bertanya kapan dia ada waktu untuk bertemu. Dia jawab, hari itu juga jam makan siang.

Ketika tiba di kantornya di bilangan Jakarta Selatan, ratusan monitor komputer IT berjajar dengan pegawai yang padat. Rasanya bisa dikatakan bahwa dia ini salah satu raja IT Indonesia. Bahkan, tahun 2003 Ialu, organisasinya mengurus cyber security dan cyber defense di lembaga pemerintahan. Perusahaannya sudah kelas dunia secara teknis.

Begitu bertemu, untuk menuntaskan rasa penasaran saya, saya pun bertanya mengapa dia memberi hadiah itu kepada saya.

Lalu dia jawab, "Wiek, gue lihat lo orangnya lain. Nggak banyak omong, mata lo menunjukkan orang kreatif, dan gue tahu lo bakal sukses besar. Jadi, kalau gue nggak punya

apa-apa di kemudian hari, pasti gue butuh lo. Akhirnya saat itu gue memutuskan bahwa gue harus ambil hati lo," katanya.

Lalu dia melanjutkan, "Walaupun mungkin kita dulu orang biasa-biasa saja, gue sudah bisa bayangkan jalan hidup lo ke depan. Dan lo tahu, Wiek... puluhan orang gue invest

seperti lo di masa kecil dulu.

"Dan, investasi gue nggak ada yang salah. Semua benar, semua pada sukses. Termasuk semua pekerjaan yang gue dapat sekarang, gue panen dari tebakan gue membaca masa depan para sahabat dulu."

Mendengar kalimat itu, saya hanya terdiam. Seorang yang santun dan pandai ambil hati ini, memang benar apa yang dikatakan dan dilakukannya. Berinvestasilah untuk mendapatkan trust seseorang. Well, you got me, Benhur.

***

[23] Kompetensi Bawah Sadar

Beberapa tahun yang Ialu, tepatnya 2007-2009, saya mendedikasikan hari Rabu untuk terapi kejiwaan. Suatu hari, seseorang berbagi ceritanya, "Saya insomnia, Pak. Tidak bisa tidur kalau belum dengar ayam berkokok atau azan subuh. Sudah 5 tahun saya merasakan seperti ini. Yang jadi masalah, tak lama setelah saya bisa tidur lelap, eh.... anak-anak bangun karena hendak ke sekolah dan suami juga harus pergi ke kantor. Jadi saya terbangun lagi."

Sejujurnya, saya termasuk orang yang sangat sensitif dan agak jengah ketika mendengar cerita-cerita yang dirasakan orang lain. Tapi dalam assessment, mau tak mau hal itu saya Iakukan. Itulah mengapa saya hanya di tahun 2007-2009 saja mengambil sesi terapi kejiwaan. Padahal, bisa dikatakan saya memiliki sedikit kemampuan yang bisa dimanfaatkan di bidang itu.

Begini, pada dasarnya, passion saya adalah bisnis. Namun, keilmuan saya bisa menangani masalah kejiwaan. Jadi pastinya, dalam diri saya bukan seorang terapis karena saya tidak terlalu suka dan tidak terlalu menjiwai—maaf kalau salah. Beberapa sobat menganggap hal ini adalah membantu orang lain dan statusnya wajib. Tapi kalau bukan passion, bagaimana?

Di tahun 2006, saya bicara kepada mitra saya—Mas Kirdi, Mas Boy, dan Mbak Emma. "0k, saya masuk sebentar saja ya. Karena, bisnis properti lagi di kurva bawah, sedang ambil momentum naik. Jadi kira-kira di tahun 2010 ke atas, saya masuk lagi di bisnis properti karena sudah upper swing dan peak. Ya. kira-kira sampai tahun 2013-2014 Iah. Nanti kontraksi lagi ke bawah, lalu nge-gas lagi di 2016-2017."

Asumsi saya ini bukan hasil masukan dari buku ataupun analisis dari pakar. Tapi ini sudah semacam "kompetensi bawah sadar" saya, mungkin ya. Terutama di bidang properti. Mungkin banyak di antara Anda yang sudah memahami istiIah "kompetensi bawah sadar" atau "unconscious competence". Tapi ada baiknya saya urai sedikit agar kita satu bahasa.

Misalnya Anda adalah orang yang tidak tahu dan tidak pernah kenal dunia olahraga, kondisi pikiran Anda dinamakan "unconscious incompetence". Anda tidak tahu dan tidak berkemampuan. Level satu: pemikiran dan tindakan.

Kemudian suatu hari Anda mendapatkan pencerahan dengan adanya sebuah pelajaran tentang apa itu olahraga, manfaat olahraga, dan bagaimana meIakukan olahraga yang baik serta efek positifnya. Maka, kondisi pikiran Anda saat itu dalam kondisi "conscious incompetence". Anda tahu, tetapi masih tidak berkemampuan. Level dua: pemikiran dan tindakan.

Lalu, Anda mulai joging, olahraga, diet, dan mulai mengubah semuanya yang bertujuan agar sehat. Kondisi saat itu, pikiran Anda masuk dalam "conscious competence". Anda tahu, sadar, dan memiliki kompetensi atau berkemampuan. Inilah level tiga: pemikiran dan pembelajaran. Di sini, semua hal masuk dalam logika, analisis sadar, tahu, mengerti, tetapi meIakukan keahliannya masih dalam tahap pembiasaan.

Di sinilah tantangan terbesar karena Anda masih di level 3. Level terberat. Di sini Anda sebenarnya belum ahli. Masih bisa balik turun ke level dua, "conscious incompetence".

Jadi, di level tiga, kita harus terus meIakukan hal yang sama, diulang-ulang.

Minimum dengan standar "the law of ten thousand hours" atau Iebih dari 10,000 jam meIakukan hal tersebut, baru akan masuk di level keempat yang terakhir. Yaitu "unconscious competence". Anda sudah tidak sadar bahwa Anda memiliki kemampuan atau keahlian itu. Anda sudah jadi biasa saja, semua serba-alami.

Kalau bicara soal bisnis properti, saya memasuki bisnis ini sejak 1996. Pahit, manis, asam, garam, ekonomi naik-turun, bunga rendah sampai bunga 50% per tahun. Pembeli kabur, kontraktor kabur, izin tidak keluar, tanah kasus, dan ratusan masalah lainnya sudah saya Iewati.

Dari untung kecil, sampai untung ratusan kali lipat, semua pernah. Membangun rusun, tipe murah, cluster mewah, apartemen, hotel, mix-used building, apa yang belum ya? Rasanya semua pernah dilakukan. Semuanya saya sudah tahu pahit manisnya.

Jadi, di tahun 2006 saya melihat apa yang akan terjadi di 2007-2009 pada pasar properti di Indonesia, yaitu slow down karena sedikit overheated. Tapi, sehabis itu ngegas lagi kencang. Kalau modal melimpah maka di tahun 2009 adalah awal yang sangat tepat. Dan, sesuai prediksi tersebut, tren properti naik tinggi sekali.

Dalam melihat fenomena seperti itu atau menganalisis properti, saya benar-benar seperti nggak mikir, semacam mengandalkan intuisi saja, main feeling. Jadi, terkadang sulit menjelaskan kepada orang lain. Karena itulah saya bisa membagi sedikit waktu di dua tahun tersebut untuk

bidang kejiwaan ini.

Sekarang mari kita kembali ke cerita si ibu yang insomnia. Saya pun bertanya kepada sang Ibu, kira-kira bagaimana asal-muasalnya. Lalu dia menceritakan bahwa kira-kira 6 tahun yang Ialu, suaminya dapat shift dinas malam di pabrik.

Tiap malam pulang pukul 12, sampai rumah pukul 1-an. Tiap malam, dia pun selalu menunggu sang suami. Nah, karena kebiasaan tersebut, dia sekarang nggak bisa tidur hingga harus Iewat larut malam atau menjelang pagi.

Di sinilah kemampuan saya untuk melihat masalah diuji. Benarkah kesimpulan sang Ibu, atau itu asumsi? Saya perhatikan benar perubahan setiap minor muscle di wajah sang Ibu. Maka saya berkesimpulan, ini asumsi.

Saya harus menggali lebih dalam lagi. Kali ini saya yang harus memimpin pertanyaan. Tidak bisa pertanyaan terbuka, harus mulai tertutup dan menjurus.

"Ibu orang Jawa, ya? Seberapa lbu mengerti istilah ngrowot, Iaku, prihatin, kumkum, dan nyajen?" tanya saya.

Dia terdiam sebentar, Ialu menjawab, "Saya dan keluarga kami masih ada kejawennya, Pak. Kami paham sekali hal-hal itu."

Lalu saya bertanya, "Menurut pini sepuh Ibu, benarkah kalau tidur di bawah pukul 12 malam akan mudah kena santet?"

"Oh, iya banget, Pak. Jadi dulu sembari menunggu suami juga saya ngaji-ngaji, zikir-zikir, buat meIewati waktu tersebut. Jadi memang di keluarga kami sering tidur di atas pukul 12, untuk Iaku keluarga, Pak," jawabnya.

Terjawab sudah bahwa yang membuatnya insomnia bukan karena menunggu suami. Dalam database di pikiran bawah sadarnya, ada belief yang mengatakan tidur di atas pukul 12 Iebih aman, Iebih baik.

Seperti menganalisis properti tadi, menggali masalah insomnia ini pun sudah seperti kompetensi bawah sadar bagi saya. Dan, saya percaya bahwa siapa pun bisa memiliki kompetensi bawah sadar untuk mempermudah langkah masing-masing menuju sukses. Yang diperlukan hanya Iatihan.

***

[24] Cari 20 Cara Meningkatkan Pendapatan

Seorang pemuda datang terburu-buru kepada Anda, dan Anda tidak kenal orang tersebut. Lalu dia bertanya, "Maaf Pak/Bu, apakah punya uang Rp. 100 juta saat ini yang bisa saya pakai atau pinjam?"

Maka, otak Anda akan berpikir sangat cepat dan mungkin 99.9% dari Anda akan mengatakan tidak. Faktor menolaknya banyak. Anda tidak mengenal dia. Anda tidak percaya dia. Radar defense mechanism Anda menyala. "Mau nipu, ini orang?" "Siapa lo?" dan lain sebagainya.

Orang tersebut melanjutkan kalimatnya, "Eehh, begini Pak/Bu. Saya butuh uang tunai buat setoran haji, tutup pukul 3 siang ini. Sekarang sudah pukul 11. Saya takut terlambat. Saya ada mobil lnnova tahun 2012, Ini BPKB-nya, ini STNKnya, ini KTP saya. Nama di BPKB dan STNK, itu nama saya Pak/Bu.

"Harga pasaran sekarang Rp.200-an juta. Itu mobilnya, boleh dicek, masih mulus. Saya perlu sekarang juga uang seratus juta. Kalau Bapak/Ibu punya uang Rp.100 juta, silakan ambil mobil ini beserta surat-suratnya, dan akan saya tanda tangan 3 kali di kwitansi kosong."

Kalimat tersebut mungkin akan membuat Anda berpikir lain. Kata-kata tidak kenal, tidak percaya, mendadak ada lawannya: dia ada BPKB, STNK, KTP yang mendukung bahwa dia bisa dipercaya.

Pertahanan Anda mulai terbuka dan mulai melihat cahaya di ujung terowongan. Bahkan, Anda melihat peluang selisih Rp.100 juta di mata Anda, saat itu juga. Dari "tidak percaya" bahkan melompat menjadi "harapan".

Dalam teknik komunikasi, ini termasuk teknik yang pertama, yaitu fascinate atau terpesona. Kalau Anda oportunis maka otak "criminal streak" Anda mulai jalan liar. "Ada peluang nih, Rp.100 juta!"

Percayakah Anda? Dalam sebuah studi yang dilakukan di jurusan psikologi NYU (New York University), 90% orang akan mengambil peluang itu.

Dan, 60% orang yang dihadapkan dalam posisi ini, walaupun dia tidak memegang atau memiliki uang 100 juta di tangan, mereka bisa mendapatkan uang tersebut dari mana saja sumbernya, tepat sebelum waktu habis. Mereka bisa dapatkan modal atau uang 100 juta yang akan

dibelikan kendaraan setengah harga tersebut.

Ada sebuah cerita lain lagi. Seorang penjahat terkenal yang hampir selalu membunuh korbannya, meIarikan diri dari penjara. Lalu dia masuk ke rumah seseorang. Kalau boleh ambil contoh ekstrem, amit-amit ya, ternyata orang tersebut masuk ke rumah Anda.

Dia menodong orang yang Anda cintai, misalnya ibu Anda. Kemudian dia mengancam, kalau Anda tidak menyerahkan uang 1 milyar dalam waktu 24 jam, orang yang Anda cintai itu akan dibunuhnya.

Studi ini dilakukan oleh sahabat saya, Profesor Jhon Barg dari NYU-tapi dalam studinya, dia menggunakan angka 1 juta USD. Ternyata, 100% responden yang berada dalam posisi ini akan bergerak, dan 90%-nya menyatakan bisa mencari uang 1 milyar dalam waktu 24 jam. Dari kepala mereka saja mereka tahu ke mana mencarinya.

Jhon Barg menggunakan beberapa relawan ibu-ibu, yang sebelumnya diminta menunjukkan foto anak kesayangan mereka. Lalu, mereka dimasukkan dalam ruang simulasi dan diberi kacamata Google 3D.

Dalam simulasi tersebut, dibuatkan video bahwa dari kejauhan dalam jarak 20 meter, dia melihat anak kesayangannya itu berdiri di pinggir jalanan hendak menyebrang. Dari sisi lain, ada sebuah truk meIaju dengan kencang dan anak itu tidak melihat.

Data yang sangat mengejutkan adalah, kesemua ibu-ibu tersebut dapat berlari dengan kecepatan Iuar biasa menyambar dan menyelamatkan anak kesayangan tersebut. Kalau rekor dunia 100m Iari sprinter mencapai 9,7 detik, kesemua ibu-ibu itu menempuh jarak 20 meter

menempuhnya dalam waktu 2 detik! Artinya, sama dengan kecepatan world class sprinter. Tanpa Iatihan tahunan, instan, dan intuitif!

Walau itu semua hanya dalam video simulasi, tetapi gerakan lari 20 meter tersebut dilakukan dengan sebenarnya. Para ibu itu berlari kencang menghampiri objek yang berupa boneka beruang besar, yang dalam simulasi tersebut digambarkan sebagai anak mereka.

Apa yang sahabat dapat ambil hikmah dari cerita ketiganya? Apa moral of story yang Anda dapatkan sehubungan dengan pencapaian kemakmuran Anda. Sampai di sini, Anda boleh berhenti membaca tulisan ini dan merenung. Baik, saya tidak membahasnya terlebih dulu, tetapi saya ingin Anda meIakukan hal ini sekarang. Ambil kertas, dan tulislah kalimat ini di awalnya:

"Bagaimana caranya agar saya dalam satu tahun ke depan memiliki pendapatan 4 kali dari tahun Ialu?"

Misalnya, gaji Anda 5 juta sebulan, Anda kalikan 13 kali, Ialu ditambah lain-lainnya. Misalnya Anda tahun lalu memperoleh uang sejumlah Rp.100 juta rupiah dalam 1 tahun. Lain pertanyaannya, bagaimana Anda dalam 1 tahun ke depan bisa mendapatkan uang sejumlah Rp.400 juta?

Sekarang saya ulangi lagi pertanyaannya, dan ditambah dengan, TULISKAN 10 cara agar saya mendapatkan pendapatan 4 kali lipat tahun Ialu atau Rp.400 juta rupiah dalam satu tahun ke depan.

Mulailah Anda menulis 10 cara tersebut dalam selembar kertas. Lakukan sekarang.

Kalau 10 hal tersebut sudah selesai, tambahkan lagi 10 cara lagi yang lain, jadi 20 cara agar Anda memiliki pendapatan 4 kali dari tahun Ialu. Selamat mengerjakan.

Saya yakin sekali, baru menulis 5 saja sudah terhenti. Ada juga yang berhenti di bilangan 11. Ada juga yang berhenti di bilangan 17. Anda tak perlu gundah kalau Anda tidak bisa mencapai angka 20.

Tapi sekali lagi, Anda harus mendapatkan 20 cara itu. Paksa diri Anda untuk mendapatkannya. Tulislah yang akan dan mampu Anda Iakukan.

Jika Anda telah memiliki 20 cara untuk mendapatkan pendapatan 4 kali lipat, tulisan saya yang berikutnya akan menjadi pelajaran yang bermanfaat. Jika tidak, hanya wacana. Sayang sekali, Iho. Sebaiknya dilaksanakan, Anda pasti diuntungkan.

Setelah Anda mendata 20 cara untuk membuat pendapatan naik 4 kali lipat, pertanyaan saya yang berikutnya adalah, sulitkah mencari 20 cara tersebut? Apakah Anda bahkan hanya bisa Iancar dalam menuliskannya hingga langkah-langkah awal, tetapi setelah itu menjadi lambat dan sangat lambat, bahkan tidak keluar apa pun caranya?

Tidak apa-apa. Karena, itulah hal yang sebenarnya dan seharusnya terjadi.

Logikanya begini. Dalam teknik interogasi, ada sebuah pertanyaan pengulangan yang terpola. Misalnya, ke mana Anda Minggu malam pukul 10? Ke mana Anda malam Senin? Ke mana Anda biasanya kalau keluar malam di atas pukul 9? Apakah Anda biasa keluar di Minggu malam?

Kalau seseorang itu merekayasa jawaban, jawabannya menjadi tidak konsisten alias mengarang bebas. Namun, kalau memang kejadiannya benar, ditanya dari berbagai sudut pun maka tetap bentuk jawabannya sama.

Kembali ke pertanyaan saya tadi yang meminta Anda mencari 20 cara untuk mencari kemakmuran 4 kali lipat di tahun depan. Ketika membuat jawaban di awal, itu adalah

jawaban cepat sekenanya, sekeluarnya isi pikiran, dan itu tidak salah. Sekali lagi, itu memang yang seharusnya dan itu benar.

Begitu pertanyaan 7 ke atas, otak pikiran sadar mulai mandek kehabisan data. Lalu, Anda mulai menggali ke sisi dalam Anda, inward looking. Inilah sisi menarik karena perjalanan ke dalam diri sebenarnya menuju ketidakterhinggaan. Perjalanan pikiran menuju hati adalah perjalanan transendental.

Sekali lagi, ini bukan pembicaraan di permukaan dengan logika Anda. 'Memasuki ruang hati menjadi lain karena tentang jawabnya di luar logika. Coba saya buat sederhana. Hati manusia memiliki radar yang dikenal dengan medan "morphogenetic field". Ini adalah dawai hati. Senar hati. Dawai ini akan berdenting jika hati manusia di titik gelombang yang sama.

Dawai ini nyambung dengan kitab kehidupan yang mahapintar sebagai inti semesta. Dengan inward looking, Anda mencari dan berdialog ke dalam, berulang-ulang. Dijamin, Anda akan menemukan keajaiban.

Jawaban yang di luar logika dan superkreatif, keluar dari kepala Anda. Ada yang menyebutnya ilham, ada yang menyebutnya ide, ada yang menyebutnya wahyu, ada yang menyebutnya masterpiece. Monggo, itu hanya terminologi.

Namun, yang ingin saya angkat di sini adalah, melakukan "inward looking" terhadap 20 cara mencapai kemakmuran 4 kali lipat di tahun depan. Jika Anda dengan berat belum menemukan 20 cara, sekarang Iakukan, pikiran atas sadar Anda sebagai interogator, kepada pikiran bawah sadar Anda.

Apa cara lain lagi? Apa cara lain lagi? Selagi pikiran sadar meIakukan inward looking, terus tekan dia dengan pertanyaan itu dan terus ulangi. Cara menekan ini membantu pikiran bawah sadar Anda untuk "marah, "tertekan”; dan "memaksa data keluar dari kotak", sehingga pikiran bawah sadar tersebut pun "lapar" dan "ngamuk".

Bagi sahabat yang sudah mengerjakan 20 cara sebelum membaca tulisan ini, mohon melihat kembali pertanyaan dan baca jawaban Anda. Apakah sudah meIakukan perenungan inward looking atau hanya sekadar spontanitas? Kalau ternyata database Anda Iuas, 20 cara tersebut keluar secara alami dengan cepat.

Itu bagus, sangat bagus. Artinya, database pikiran Anda sangat Iuas. Namun, izinkan saya mengajukan satu pertanyaan lagi. Bisakah Anda menulis 10 cara tambahan lagi agar menjadi 30 cara mencapai kemakmuran 4 kali lipat tahun depan ini?

Mungkin ada di antara Anda yang masih bertanya-tanya, apa itu pikiran sadar dan bawah sadar. Begini kira-kira. Bayangkan Anda sekarang sedang duduk di mana pun-di kafe, di rumah, di kantor, atau di bus.

Lalu, di sebelah Anda tergeletak 2 buah handphone baru, masih ada bungkusnya. Anda tahu sekali handphone baru itu. Yang satu iphone 6s, yang satu Samsung Galaxy Note 5!

Lalu Anda bertanya-tanya dalam hati, 'Ini hape siapa ya? Rasanya tadi nggak ada orang kemari? Tadi waktu duduk, nggak lihat apa-apa? Apa tadi pas baca, ada yang Iewat? Ambil nggak ya?'

Percayakah Anda, ada puluhan bahkan ratusan pertanyaan keluar dari pikiran Anda, dan Iuar biasanya Anda merasa ada yang menjawab! 'Ambil, deh.' Atau, 'Laporin satpam, kali ya.’ Atau, 'Apa simpan dulu aja, ya?'

Apa pun itu, ada DIALOG, bukan? Seperti ada dua orang dalam satu badan, bahkan bisa jadi yang satu positif dan satu lagi negatif, berlawanan 180 derajat.

Dalam dunia psikologi, yang para sahabat semua mungkin sudah tahu, itulah pikiran sadar (conscious) dan bawah sadar (subconscious) yang sedang bicara. Dalam conscious ada ego dan value, sedangkan dalam subconscious, netral.

Jadi, untuk memancing pikiran terdalam atau superconscious keluar dari sarangnya, Anda harus dengan sukareIa membongkarnya dengan pengulangan.

Sekarang perhatikan 20 cara—ini minimum Iho, atau ada yang dapat 30 cara?—membuat penghasilan 4 kali lipat dalam tulisan Anda. Perhatikan, mana menurut Anda yang paling possible, paling mungkin Anda kerjakan.

Dan ingat, Anda harus memilih. Itu keluar dari dawai pusat semesta. Percayalah, inilah istikhoroh itu. Inilah perenungan terdalam itu. Sudah hadir di hadapan Anda.

Anda tinggal memilih mana yang paling nyaman Anda kerjakan sekarang, yang paling feasible dan workable Anda Iakukan sekarang. Percayalah, dan jalankan sekarang. Ingat, Anda sekarang adalah apa yang Anda kerjakan kemarin. Anda nanti adalah apa yang Anda kerjakan sekarang.

***

[25] Menggenggam Impian

Pekan lalu saya memang mengajukan sebuah pertanyaan yang bertujuan untuk membuat level

kehidupan bisnis saya naik, setidaknya secara keilmuan. Saya merasa gagal, saya merasa Ielah. Saya merasa apa yang saya jalankan dipandang stakeholder sebagai sesuatu yang salah dan bisa menyebabkan kerugian.

Sementara, saya merasa mereka tidak paham maksud saya. Namun, begitu banyak orang mengatakan hal yang saya Iakukan tidak benar. Maka, saya yang harus berkaca, melihat ke diri sendiri.

Akhirnya saya setuju, saya salah.

Saya terima kesalahan saya, sayangnya saya tidak tahu harus meIakukan apa lagi, hingga saya hampir menyerah. Saya kelelahan berjuang, saya memerlukan arah. Dan, inilah kalimat Pak Kadek, seorang yang telah makan asam garam kehidupan.

"Jika kamu berpikir akan menyerah atas segala usaha yang kamu perbuat, ambil waktu sebentar untuk menengok ke belakang. Coba kamu lihat, berapa jauh dan panjangnya perjalanan yang kamu telah lakukan," katanya. Dia berhenti sebentar, meminta asbak untuk rokoknya yang sudah mulai memanjang ujung sisa tembakau terbakarnya.

Lalu Ianjutnya, "Jika kehidupan memukulmu keras, pukul kembali lebih keras. Jika kamu jatuh tapi mantulmu Iebih tinggi dari jatuhmu, itu namanya peningkatan.”

"Di kala semua orang bermimpi untuk sukses, seorang pemenang akan bangun dan kerja keras untuk meraihnya. Jika kamu ingin mencapai impian yang tak terhingga, kamu harus bekerja keras dengan benar dari awalnya.”

"Kamu harus bekerja 'like never before', tidak sama dengan apa yang pernah kamu Iakukan. Lebih keras, Iebih benar. Sebuah kegagaIan adalah peluang untuk memulai kembali dengan benar, Iebih bijak." Dia berhenti sejenak untuk memindahkan posisi duduknya. Matanya menerawang ke halaman depan kamar kerjanya yang banyak pepohonan.

"Kamu pasti tidak pernah gagal dalam skala ukuran saya. Di kala dalam perjalanan kehidupan ada hal yang tidak terelakkan terjadi. Tidak mungkin menjalani kehidupan tanpa kegagalan. Kecuali kamu hidup dengan sangat hati-hati. Yang artinya, bisa saja kamu tidak hidup sama sekali dan dalam hal ini kamu sudah gagal dari awalnya. Kamu tidak hidup.

"Hidup pasti ada gagalnya, bahkan hidup adalah tumpukan kegagalan. Jadi kenapa mesti takut, takut gagal. Toh, itu salah satu arti hidup. Sangat mudah terjebak dalam kegagalan, bahkan banyak kegagalan tepat di ujung kesuksesan. Hal itu terjadi karena dua hal, kamu takut untuk gagal lagi atau kamu tidak memantaskan dirimu untuk mendapatkan yang Iebih baik."

Kemudian dia menatap saya tajam, dan berujar, "Saya mengenal kamu, bahan dasar kamu baik. Kedua orangtua kamu saya kenal. Bahan baku mereka juga baik. Kalau bibitnya baik, buahnya pasti baik.”

"Tinggal seberapa kamu kuat bertahan dan menjaga api semangatmu. Kamu harus menjalani hidup kamu dengan seluruh potensi yang Tuhan sudah berikan. Kamu harus memberi fondasi yang kuat untuk impianmu. Ingat, buat fondasi impian kamu!"

Pak Kadek berpaling dan mengubah posisi duduk menatap ke arah jendela. Menyeruput kopi yang sudah mulai dingin, dan meIanjutkan ceritanya yang dibuka dengan pertanyaan. "Kamu tahu apa yang ada dalam pikiran Lee Kuan Yew di kala melihat Singapura tahun '60-an? Di awal dirinya memegang tampuk pemerintahan di Singapura?"

Saya menggelengkan kepala.

"Persoalannya Iebih pelik dan Iebih parah dibandingkan apa yang sedang kamu hadapi. Negara yang tidak memiliki kekayaan apa pun, tidak punya sumber daya alam, perilaku bangsanya malas, jorok, dan pola pikirnya sempit.

"Setiap minggu, tidak heran ada mayat terbujur penuh luka di selokan. Penyakit di mana-mana dan tidak ada sumber mata pencaharian bagi penduduk Singapura kala itu.

"Tahu apa yang Lee Kuan Yew Iakukan? Dia berpikir, masyarakat Singapura harus memiliki visi yang jelas. Memiliki semangat yang sama, memajukan bangsa. Lagu kebangsaan Singapura mencerminkan semangat tersebut, 'Majulah Singapura'.

"Tidak ada hal terbaik yang bisa dilakukan kecuali memberikan sesuatu di pikiran setiap penduduk Singapura di kala itu. Dia meletakkan ‘impian'. Dia membuat banyak foto berukuran postcard atau kartu ucapan.

"Foto itu berisi gambar-gambar yang indah di negeri Eropa yang maju, sejahtera, dan indah. gambar anak yang bermain ayunan tertawa bahagia, keluarga yang riang sedang tamasya, gambar rumah sakit yang bersih, gambar lingkungan yang tertata rapi, gambar anak bersekolah dengan senyum ceria, bangunan megah dan indah, serta kota gemerlap penuh keceriaan di Eropa.

"Lee Kuan Yew membawa gambar itu ke seluruh negeri. Ditunjukkannya ke semua penduduk di pelosok sekalipun. Dia perlihatkan, inilah Singapura nantinya. Inilah gambaran Singapura ke depan.

"Dia jadikan gambar itu sebagai visi bersama, impian bersama. Dengan syarat, ke depannya bangsa Singapura harus percaya pada impian tersebut. Jangan pernah menyerah, selalu semangat, terus pegang visi tersebut erat-erat. Percaya visi itu akan terjadi.

"Puncaknya, 35 tahun kemudian, 5 tahun setelah Lee tidak lagi menjadi perdana menteri, ada sebuah pesta bersama yang diselenggarakan besar-besaran di malam tahun baru di seluruh Singapura.

.

"Sebuah karnaval keceriaan yang dipuncaki dengan teriakan menggema di seluruh antero Singapura bersama-sama. Mereka mengatakan, 'Yes, we've arrived!' Ya, mereka tiba di tempat yang sama dengan gambaran yang mereka lihat 35 tahun yang Ialu.

"Waktu itu saya di sana, Wiek. Bergetar seluruh tubuh ini, berlinang air di pipi karena haru, semangat itu benar-benar nyata. Benar, kita bukan bagian dari mereka, tetapi semangat juang seperti yang mereka lakukan di mana pun buat siapa pun, dampak positifnya sangat terasa dan hal itu membanggakan. Ketika impian bersama itu digenggam bersama, siapa saja yang memiliki hati di tempat itu akan merasakan dahsyatnya arti kata, 'Yes, we've arrived!'

"Selama sekian tahun, mereka terus berpegang pada mimpi bersama itu. Dan kamu...," katanya sedikit mengambil jeda, "punyakah impian sebesar itu? Percayakah kamu pada impian kamu? Apakah orang di sekelilingmu memiliki impian bersama tersebut? Ingat, Wiek. Impian bisa mengubah fakta, selama kamu percaya dan tidak menyerah."

Sebentar lagi, Anda akan menyelesaikan buku ini. Coba Anda melihat kembali tulisan dari awal. Tidak banyak tulisan tersebut. Semua kisah berdasar cerita nyata keseharian yang ditulis untuk memberikan pikiran Anda gambaran, apa yang akan dilakukan.

Bukan peristiwanya. Karena Anda akan menulis kisah kehidupan Anda sendiri. Namun, benang merahnya. Apa itu prosperity consciousness, kesadaran kemakmuran, dan millionaire mindset.

***

[26] Percaya Dulu, Baru Anda Akan Melihat

“Believe first, then you will see.”

Kalimat ini membalik pemahaman banyak orang. Biasanya Anda melihat dulu baru percaya. Namun, dalam prosperity consciousness, Anda harus percaya dulu, pasti Anda akan melihatnya.

Sama seperti keimanan terhadap hari akhir. Anda tidak perlu melihat dulu surga neraka, baru Anda berbuat baik. Namun, berbuat baiklah dan percayai hal itu, pasti Anda akan ke surga. Surga adalah wujud kepercayaan manusia kepada keimanan di akhirat. Maka, dalam prosperity consciousness juga sama, percaya itu pun di depan letaknya. Percaya sukses Anda, percaya kemakmuran Anda sekarang.

"Give and take. Give first then you will get."

Beri dahulu, Anda pasti dapat. Main hati, kasih hati. Main materi, beri materi. Ini sebuah fakta hukum alam. Kalau banyak dari sahabat yang jomblo maka untuk mengubah status Anda, beri dahulu kasih atau cinta kepada semesta.

Saya tidak perlu mengajarkan lagi. Anda pasti tahu bagaimana.

Salah satu sekretaris yang sudah ikut saya selama 10 tahun memiliki pengalaman yang bisa saya ceritakan tentang give first ini. Mba E, saya memanggilnya.

Setelah 5 tahun menikah, dia belum juga dikaruniai anak. Dan, karena tuntutan dan tekanan keluarga, akhirnya dia terpaksa mengakhiri pernikahannya selama 5 tahun karena dianggap tidak berhasil memberikan momongan.

Suatu hari dia bertanya kepada saya, bisakah dia memiliki anak? Jawaban saya kala itu cukup Iugas dan direct. "Iya bisa, asal Mba E mengubah gelombang otak Mba," kata saya. Dia bertanya heran, "Gelombang yang mana?"

Saya bilang, setelah hati memilih, pikiran bekerja, semesta di luar kita akan menerima getaran vibrasi-nya. Selama ini, vibrasi Mba E mungkin “tidak keibuan", citra dirinya bukan motherly. Saya berkata dengan Iugas dan itu adalah ciri saya bicara kepada orang yang saya anggap dekat.

Karena itu, semesta belum memberikan kepantasan untuk Mba E mendapat momongan. Atas nama fertilitas atau apa pun itu, hanya bentuk reaksi. Jadi, ubah vibrasinya dengan menjadi ibu, keibuan, motherly.

Orang dulu memberikan istilah "mancing" anak dengan mengasuh anak saudara, atau ambil anak angkat. Itu bukan hanya teori, itu benar. Hanya, orang dulu sering hanya manut saja, berprasangka baik.

Namun, manusia modern seperti Mba E memerlukan pemahaman di logikanya. Itulah cara membuat Mba E menjadi keibuan kalau Mba E memelihara anak. Atau, kalau mengadopsi anak dirasa terlalu berat, setidaknya dia bisa memiliki anak asuh yang benar-benar dipelihara layaknya Ibu menjaga anaknya. Tulus memberi. Ibu itu punya “pemberian" Iuar biasa kepada anaknya.

Percayakah Anda? Mba E memerlukan waktu 3 tahun untuk memelihara, mengasuh, dan mendidik anak kakaknya. Sampailah akhirnya dia menikah lagi dan dalam waktu 3 bulan setelah menikah, langsung hamil. Kini, dia memiliki putra yang ganteng.

Beri dulu, rawat dulu, pelihara dulu. Give first, then you will get.

***

[27] Kekuatan untuk Melepaskan

Apa pun yang Anda sudah tuliskan, gambarkan, visualkan, impikan,  Iepaskan dari genggaman Anda. Biarkan semesta yang berjalan di belakang Anda. Anda hanya melakukan keseimbangan dan kepantasan.

Anda Iakukan apa yang harus Anda lakukan. Tetap bekerja dengan semangat, tetap berusaha. Dan, bersiaplah terus karena apapun bisa datang kepada Anda.

Karena, Anda sudah melepaskan heat seeking misiIe. Anda sudah memasang target tersebut. Kehidupan Anda tanpa Anda sadari bergeser pelan-pelan ke arah yang Anda inginkan.

***

[28] Tentukan Tujuan yang Jelas

AIasan yang kuat, tujuan, dan arah adalah hal paling dasar setelah Anda mengatakan, "Saya ingin menjadi sesuatu yang baru." Visi misi Anda harus jelas dan terang. Visi adalah "big picture" Anda. Misi adalah cacahan mencapainya.

Bayangkan, Anda naik ojek atau taksi. Maka, yang pertama Anda Iakukan adalah memberitahu sopir, "ke mana" Anda ingin pergi. Semakin jelas alamat yang Anda tuju diberikan kepadanya, semakin mudah dia meIaksanakan tugasnya.

Di tengah jalan, Anda bisa mengulang tujuan tersebut dengan gambaran Iebih rinci lagi. Misalnya patokannya dekat pompa bensin, dekat pasar, pagar hijau, seberang hotel, dan banyak lagi informasi "tujuan" Anda.

Semakin detail Anda mengucapkan tujuan Anda, semakin mudah semesta mengabulkannya karena Anda benar-benar ingin selancar mungkin mencapai tujuan tersebut.

Ada ilustrasi lain lagi. Sahabat Anda seorang lelaki yang tiba-tiba bercerita kepada Anda, "Tadi ada cewek, cantiknya bukan main. Wah, kayaknya gue jatuh cinta nih. Jatuh cinta pada pandangan pertama.”

Lalu Anda tanya, "Siapa namanya?"

Dia jawab, "Eh, belum kenalan sih. Nggak tahu."

Anda lanjut bertanya, “Anak mana? Tinggal di mana?"

"Eh, nggak tahu juga," jawabnya.

Anda tanya lagi, "Sekolah? Kuliah? Kerja? Sudah punya cowok, belum?"

Sabahat Anda berkata, "Wah, belum tahu. Gue baru sekali itu ketemu.”

"Sekarang di mana cewek itu?" tanya Anda lagi, yang lagi-lagi dijawab tidak tahu.

Bisa Anda bayangkan, ini orang naksir atau jatuh cinta beneran nggak sih?

Lain cerita jika semua pertanyaan Anda di awal dia jawab dengan jelas. Misalnya, "Iya, baru ketemu sekali, dijalan. Langsung gue ajak kenalan. Namanya Intan, masih kuliah di Ul. lni gue udah dapat nomor hapenya.

"Tapi, setelah itu gue lihat dia jalan sama teman lelakinya. Gue nggak tahu pacar apa bukan. Tapi gue akan cari tahu dan gue tetap akan berusaha. Kan, orang bilang cinta itu kata kerja. Jadi, gue akan bekerja untuk cinta."

Nah, dari jawaban seperti ini, Anda bisa langsung tahu kedalaman hatinya dan seberapa sukses dia ke depan. Kans dia besar untuk mendapatkan belahan jiwa impiannya.

Begitu juga dalam prosperity consciousness. Bawah sadar Anda mencatat dalam-dalam dan melihat fokus Anda, melihat kebenaran dan kesungguhan dari keinginan Anda. Kehidupan hanya menjalankan "fokus" Anda. Compelling reason Anda.

***

[29] Pengulangan Merupakan Keunggulan

Semakin sering Anda mengulang keinginan Anda—baik itu di hadapan orang lain, di hadapan diri sendiri, atau bahkan hanya dalam hati—itu akan menjadikan kompas penunjuk arah yang solid.

Saya memiliki sahabat yang menurut saya kisah hidupnya sangat inspiratif. Berkali-kali saya meminta izin untuk mengungkap namanya dan jalan cerita hidupnya, tetapi dia tidak mengizinkannya. Hingga akhirnya dia memperbolehkan saya untuk menulis ceritanya, asalkan tidak menulis namanya.

Dia adalah contoh nyata pengulangan prosperity consciousness dalam pikiran.

Dia bisa dikatakan lahir di dunia ini, tidak terlalu diharapkan oleh kedua orangtuanya. Ibunya penjaga warung di wilayah Kenjeran, Surabaya. Peranakan Cina. Ayahnya pelaut Thailand yang sering lempar jangkar di Tanjung Perak. Singkat cerita, mereka pacaran, hamil, dan Iahirlah anak ini dari bapak yang langsung meninggalkan mereka berdua tanpa pesan.

Ibunya sudah cukup kesulitan menghidupi dirinya sendiri, apalagi ditambah bayi mungil ini. Akhirnya dia kerja serabutan. Tapi anaknya ini tumbuh dengan 2 hal yang di atas rata-rata orang banyak, yaitu otaknya encer dan tubuhnya atletis.

Dia bahkan menguasai ilmu bela diri jalanan karena wajah orientalnya membuat dia sering di-bully sehingga ia harus survive dengan caranya.

Lalu, ketika memasuki jenjang perguruan tinggi, dia memperoleh beasiswa. Di sinilah 20 tahun yang lalu saya bertemu dan berkenalan dengannya. Dia mahasiswa yang pendiam, tetapi banyak tanya. Dia tinggal di asrama kampus. Itu saja yang saya tahu.

Setelah lama tak bertemu, 5 tahun yang Ialu kami tidak sengaja bertemu di Singapura. Saya sedang makan siang di hawker center favorit saya, Lau Pa Sat Festival Market.

Saya terkejut dengan penampilannya yang rapi dan terlihat sukses. Anda pasti paham maksud saya, bahwa orang terlihat sukses mungkin belum tentu sukses.

Tapi yang jelas, saya lihat kulitnya bersih, bajunya rapi, dan wajahnya berseri—pastinya hasil perawatan jangka panjang. Penampilannya bisa saja santai, tetapi siapa pun bisa Iihat bahwa pilihan busananya menunjukkan bahwa dia melek fashion dan lifestyle.

Di sana kami bercerita panjang dan berdiskusi sampai sore. Hingga akhirnya saya diantar ke hotel dengan mobil mewah dua pintu. Sejak saat itu, kami selalu bertemu dan sempat beberapa kali bisnis bersama, walau ada yang harus tutup.

Suatu hari, saya menyempatkan bertanya hal yang pribadi dengan bahasa dan kalimat langsung, "Mas, bagaimana Anda bisa sesukses ini?"

Dia meneguk minuman favoritnya, es tebu, lalu menjawab, "Mas, kami orang miskin. Ibu saya bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Dia kerja dari pukul 5 pagi hingga pukul 11 malam. Setiap hari sewaktu di asrama, diam-diam saya suka menyelinapkan dia di kamar. Lalu dia tidur di tempat tidur dan saya tidur beralas tikar. Pukul 4 subuh, dia menyeIinap keluar.

"Suatu hari, kami ketahuan dan kami diusir dari asrama. Kami merantau ke Singapura hingga saat ini. Dan Mas tahu? Setiap malam, sejak di asrama itu, saya hanya bilang dalam pikiran saya, 'saya harus kaya’,'saya harus sukses', 'saya harus bisa kasih kenyamanan untuk ibu saya yang makin renta dan sakit-sakitan’.

"Di kepala saya tidak ada lagi yang lain, hanya kaya, kaya, kaya, itu saja saya ulang-ulang. Saya tidak pacaran. Saya main, saya baca, saya kerja sambilan, saya belajar silat, semua di kepala hanya cara kaya dan kaya.

"Inilah yang membuat apa pun yang datang ke saya, saya anggap sebagai peluang hingga datang MMA (Mix Martial Art) dalam kehidupan saya. Sebuah show businesss yang membuat saya dapat ide membuat dojo, sasana, kompetisi dan acara TV yang sukses di Asia. Sebuah pasar bisnis hiburan yang bernilai 2 miliar USD per tahunnya.

"Saya mungkin minoritas, tetapi saya founder. Penderitaan masa Ialu tersebut membuat saya hanya berpikir kaya dan uang. Baru sekarang, setelah saya berdikari, saya buat yayasan amal buat anak-anak yang punya perjalanan hidup keras seperti saya.

"Saya berikan shelter dan masa depan buat mereka. Pesan saya ke semua anak cuma satu: fokus pada impian dan terus ulangi," pungkasnya.

***

[30] Lakukan Sekarang Juga

Dalam pemrograman pikiran bawah sadar, ada satu kunci yang harus dipahami dalam cara otak bekerja. Software pikiran itu hanya mengenal kalimat "sekarang" atau "present tense". Otak kecil manusia yang di belahan dalam, amigdala yang membuat pemrograman, tidak mengenal kata "akan", “seandainya”, "mudah-mudahan", "nanti”; dan sejenisnya.

Yang mereka kenal adalah kekinian. Jadi. kerjakan apa pun sekarang, seakan Anda sudah memiliki. Saya ulangi lagi. Apa pun yang Anda percayai dan inginkan dalam pikiran, Anda ulangi berkali-kali bahwa Anda sudah di sana dan sudah memilikinya.

Pilihan kaya cepat dengan kaya perlahan memiliki cara memulai yang berbeda. Cara memulai menentukan kemakmuran Anda. Kemakmuran merupakan skill yang harus dipraktikkan dengan pengalaman. Dikumpulkan jam terbangnya.

Seperti keterampilan berenang. Belajar tahap awalnya adalah dengan menceburkan diri ke air. Lalu belajar mengambang. Itu dulu, kepala di atas air.

Gerakannya? Sembarang. Pokoknya kepala di atas air. Dan, untuk masuk ke air, Anda hanya membutuhkan 1 modal: berani!

Dalam bisnis, modal pertama juga berani, bukan uang. Jadi. kalau Anda mengatakan saya tidak ada uang buat modal. Anda memiliki poverty consciousness! Kesadaran miskin! Sepertinya akan banyak yang tidak terima dengan kalimat saya ini, tetapi itu adalah fakta.

Sekali lagi saya ulangi, kesadaran miskin akan mengatakan, "Saya tidak punya uang sebagai modal". Kata-kata "tidak punya uang" adalah kesadaran miskin, dan ini fakta. Anda bungkus dengan "belum punya uang" juga sama. Anda menunda hingga waktu yang tidak pernah tiba.

Dan, saya punya pengalaman untuk itu.

Sebagaimana sahabat ketahui, saya memiliki banyak sahabat yang secara finansial masuk ke komunitas manusia 1%. Mereka adalah kalangan "the have". Mereka berada di puncak mata rantai makanan.

Bayangkan, di antara semua isi bumi beserta makhluknya, umat manusia berada di jajaran puncak. Nah, orang-orang ini artinya berada di puncaknya puncak.

Mereka memiliki kekayaan pribadi dan networth kekayaan jaringan yang sangat besar, triliunan. Dan, pertemanan saya dengan mereka sudah lebih dari 15-20 tahun. Sebagai catatan, kenalan dan teman nongkrong dua hal berbeda, ya.

Saya mungkin punya ribuan kenalan, tetapi teman nongkrong sangat sedikit. Mungkin karena pada dasarnya saya introvert, saya harus mengizinkan diri saya dulu untuk menerima mereka menjadi sahabat dan teman nongkrong.

Saya jelaskan lagi, teman-teman saya yang miliuner ini adalah teman nongkrong. Lebih dari sekadar kenalan. Selama 5 tahun ini kami seIalu bertemu di daerah Kuningan, memanfaatkan corner of the house, sudut hotel bintang lima tempat kami berkumpul. Sebulan sekali setidaknya saya bertemu mereka.

Dari mulut mereka, kita bisa mendengar deal awal membeli klub sepak bola papan atas Liga Eropa; transaksi terbesar perusahaan batubara di lndonesia; perdebatan melawan

pebisnis Yahudi berbasis London-Rothschild-yang akan masuk ke Indonesia; pembelian participant interest beberapa daerah untuk membantu perusda (perusahaan daerah); megaproyek copper dan nickel smelter; transaksi kepemilikan world chain hotel W; dan banyak lagi transaksi kelas dunia terjadi di depan mata.

Termasuk hal-hal yang bersifat pribadi, seperti mengganti private jet ke Bombardier, dari 2 engine ke 4 engine, yang tujuannya kalau Jakarta—Beijing, Jakarta—Dubai, Hongkong—Hawaii, tidak perlu isi bahan bakar di tengahnya. Ada juga yang mengganti Azimuth Yacht dari 89 yard ke 150 yard. Ini percakapan biasa, seperti kita membeli lndomie di Alfamart.

Yang saya mau ceritakan adalah, hubungan pertemuan saya dengan mereka sempat terputus sejak 2003 hingga 2010. Saya tidak sempat ada waktu bertemu dengan mereka dan entah bagaimana, mereka juga seperti ada cara untuk tidak bertemu saya.

Bukan dengan sengaja, ya. Maksudnya seperti ada yang mengatur saja, semuanya sibuk. Saya tidak bertemu, tetapi mereka tetap saja bertemu satu sama lain dan berbisnis. Saya tidak keduanya.

Hingga suatu hari di tahun 2010, saya kena serangan asam urat yang membuat saya tidak bisa berjalan selama beberapa hari. Selama 1 bulan, saya menjalani penyembuhan agar masalah tersebut tuntas dan tidak kembali lagi. Karena income saya datang meIalui active income, praktis selama bulan itu saya tidak punya penghasilan.

Perusahaan yang saya bangun, semua sedang dalam masa tanam, belum ada yang bisa dipanen. Lalu, saya ingat istri saya berkata, "Ayah, kenapa nggak nongkrong lagi sama teman-teman lama?"

Lalu dia sebutlah beberapa nama pebisnis sahabat saya—yang namanya sering ditulis di media—dan beberapa nama yang Iebih muda dan Iebih sukses, tetapi tidak pernah diekspos media.

Saya langsung setuju, Saya ingat sekali kala itu Juli 2010. Saya kena asam urat di April 2010. Akhirnya saya bertemu mereka, dan langsung dihujani berbagai komentar.

"Ke mane aje, BOS?"

"Sudah banyak cuan ya, banyak fulus? Lupa teman, nih?

Dan macam-macam gurauan lain yang intinya mengingatkan saya, jangan Iakukan itu lagi, tidak silaturahmi.

Selama ngobrol ngalor-ngidul, saya ada merasa janggal. Kok, saya merasa nggak pas di situ. Setelah 2 jam di sana dan saya masih merasa nggak "masuk" juga, saya pun pamit.

Kali berikutnya saya hadir lagi, juga merasa nggak nyaman. Bulan berikutnya saya Iakukan lagi, hadir di pertemuan itu, masih saja saya merasa asing.

Akhirnya saya mundur setelah 4 kali datang dalam 2 bulan terasa nggak sreg. Saya tidak hadir lagi selama 2 bulan berikutnya. Di sinilah istri saya ngeh. “Ayah, kok nggak ke Four Seasons lagi, sih?" tanyanya.

Saya jawab, "Males ah, ternyata aku di sana nggak cocok lagi, kayaknya. Beberapa kali ke sana itu kayak orang asing, nggak nyaman."

Entah kesambet apa, istri saya tahu-tahu ceramah, "Ayah, dengar ya. Ini pendapat aku, Iho. Ayah itu mengajari banyak orang dan yang paling banyak adalah mengajari mindset. Ayah tahu nggak, kenapa Ayah nggak cocok bergabung dengan mereka?

"Itu karena mindset Ayah miskin. Vibrasi Ayah jadi miskin. Getaran mereka kaya semua, vibrasi mereka makmur. Jelas saja Ayah nggak cocok di sana. Gimana, sih?! Kan, Ayah sendiri yang ngajarin untuk membuat mindset kaya. Ubah dong Yah, vibrasinya."

Saya mendengar kata-kata itu seperti kesetrum. Benar juga ya, kata saya dalam hati. Rekening mereka itu bukan saja 12 digit atau triliun, bahkan ada yang 13 digit. Itu personal wealth atau kekayaan pribadi.

Kalau mereka hanya memiliki 40% dan sebuah perusahaan, artinya perusahaan-perusahaan mereka kapitalisasinya bisa 13-14 digit.

Perkataan istri saya kena sekali di saya. Kesadaran saya masih miskin, apalagi dibandingkan mereka itu. Saya akui. Saya terima. Dan, saya buktikan lagi dengan datang lagi ke sana. Benar saja, saya merasa nggak nyaman.

Pembicaraan mereka tentang mobil, tentang materi, membuat saya nggak nyaman. Tapi, saya terus melihat kembali bahwa saya datang dengan tingkat awareness berbeda. Saya mengecek, di mana tidak nyamannya saya.

Bicara hal-hal materi, saya merasa risih, seakan mereka sedang pamer, menyombongkan keduniawian, dan saya tidak suka. Namun, saya perhatikan terus perasaan saya sewaktu mereka bicara banyak hal. Ternyata mereka bicara tidak ada kesan sombong atau vibrasi pamer. Lalu kenapa saya nggak nyaman, ya?

Ya mereka membeli barang 10 miliar hanya merupakan nol koma sekian persen dari kekayaan mereka. Sementara, banyak orang membelanjakan 1 juta rupiah saja sudah 30% dari pendapatan mereka.

Pulang dari pertemuan yang masih membuat saya tidak nyaman tersebut, saya mendapatkan satu hal: saya punya kesadaran masih miskin. Titik, nggak usah dibungkus basa basi. Saya putuskan sejak malam itu, saya mulai mengubah platform saya berpikir dan bertindak. Saya Iakukan setiap hari, setiap saat, saya tanam program baru, sangat ekstrem saya menanamnya.

Bahkan, saya sampai nggak percaya atau seram sama fondasi yang saya buat itu di awalnya. Namun, saya bertekad bulat. Saya letakkan software baru tentang kemakmuran—ini ilmu praktik, bukan ilmu teori, jadi saya tidak bisa menuliskan caranya untuk Anda.

Sampai 2 bulan saya Iakukan, saya sampai hafal karena masuk ke subsistem saya yang paling bawah. Akhimya saya percaya diri, yakin seyakin-yakinnya, bahwa saya adalah mereka. Lalu, saya kontak beberapa sahabat, bertanya kapan ngumpul, yang ternyata dijawab, “Ada nih,

malam ini."

Saya melihat jadwal saya, ternyata sampai pukul 18 masih ada tamu, sementara jam segitu biasanya sudah kumpul. Saya baru datang sekitar pukul 19.

Malam itu lain dan biasanya. Biasanya 7-15an orang, tetapi malam itu mencapai 30-an, seakan semua hadir. Kehadiran saya yang paling akhir membuat posisi duduk tidak ada pilihan. Di ujung.

Bayangkan begini, dalam wine cigar lounge, ada meja tinggi dan bangku tinggi. Kursi bar. Sehingga, kalau tidak duduk, kita dapat berdiri menyandarkan tangan dengan nyaman di meja bar. Tapi, dalam wine table, meja tersebut berhadapan, baik duduk atau pun berdiri.

Akhirnya ketika semua sudah berhadapan, tinggal posisi saya di ujung yang sendirian. Semua mata menyapa, melihat saya hadir dan duduk di ujung meja. Saya seperti under the spotlight posisinya.

Jeruk hangat diletakkan oleh waitress di kanan meja saya, dan mulai saya bicara. Saya nggak tahu kenapa, mungkin malam itu saya kesambet dewa ketawa, kali ya.

Saya seperti seorang stand up comedian yang lagi ditanggap oleh mereka. Selama 3 jam kami tertawa terbahak-bahak dan terkekeh-kekeh. Asli lucu dan kami saling menimpali joke.

Pulang ke rumah pukul 11 malam, wajah saya sumringah. Orang rumah bertanya, ada apa, Ialu saya ceritakan rinci kejadian malam tadi. Sejak saat itu, hape tidak pernah berhenti berdering, hingga saat ini. Untuk beberapa eksekusi bisnis, kalau saya nggak ikut, mereka nggak jalan.

Semua mendadak berubah akrab. Saya nggak pusing lagi urusan Bombardier. Monalisa Project, Azimuth Yacht, Caesar Palace, atau apalah nama yang saya nggak kenal, nggak pengaruh lagi.

***

[31] Kata-kata adalah Doa

Terima atau tidak terima, saat ini adalah zaman keemasan bangsa Indonesia. Ada 24 billionaire di tahun 2015, yaitu mereka yang memiliki kekayaan bersih di atas 1 miliar doIar atau Iebih dari Rp13 triliun.

Selain itu, ada 137.000 miliarder atau mereka yang memiliki kekayaan di atas 1 juta dolar (setidaknya Rp13 miliar). Ada 10.000 triliun rupiah uang beredar setiap tahun dengan

pertumbuhan 5-8 % per tahun. Pertumbuhan miliarder di Indonesia 22% per tahun.

Dengan kata lain, dalam 10 tahun ke depan akan ada 100 orang Iebih di Indonesia yang akan menjadi billionaire atau naik 5 kali lipat dari hari ini.

Ada hal menarik di dunia psikologi modern yang ditanyakan oleh salah satu mahasiswa sewaktu zaman di kampus saya dulu. Dan, hal itu dulu belum terjawab. Rupanya hingga saat ini belum terjawab juga.

Para siswa menanyakan korelasi atau hubungannya antara bahasa dengan realita. Bahasa adalah susunan kata-kata. Cara merangkai kata-kata, namanya bicara.

Gabungan bicara verbal, intonasi, pemilihan kata-kata, gerak tubuh (body language), mikroekspresi wajah. Dan pergerakan mata, namanya komunikasi.

Sebelum menjawab pertanyaan siswa, mohon sahabat pembaca tulisan ini memahami dulu sedikit keilmuan dalam dunia kehidupan sosial manusia selama kurang Iebih 10.000 tahun, kata-kata adalah bentuk yang selalu Iahir belakangan. Science atau ilmu pengetahuan terjadi

terlebih dulu. Peristiwanya terjadi dulu, baru kata-kata Iahir.

Contohnya, kata selfie. Kata-kata ini baru ada di dunia tahun 2013. Kemudian tahun 2015, ada kata baru seperti wefie untuk foto sendiri bersama.

Untuk bahasa Indonesia, walau belum masuk kamus bahasa lndonesia, dalam kamus gaul sudah tercipta istilah-istilah seperti "Iebay","alay", "jayus", dan banyak lagi.

Kata-kata ini muncul setelah ada peristiwa atau ada ilmunya. Penemuan baru menciptakan kata-kata vocabulary baru. Jadi, kalau Anda dibawa ke mesin waktu masuk ke zaman Budi Utomo pada 1908, orang-orang zaman itu akan menganggap Anda orang asing.

Padahal, Anda asli penduduk kampung Senen di bilangan Salemba sana, misalnya. Anda mengerti mereka bicara apa, tetapi belum tentu mereka mengerti Anda sedang bicara apa.

Kembali ke pertanyaan siswa tentang korelasi kata-kata dengan fakta. Jadi begini, mengapa dua bangsa besar Amerika dan Cina punya banyak orang kaya?

Jawabnya, ternyata dua bangsa ini memiliki nama atas orang kaya itu. Atau, memiliki istilah dan kosakata untuk mendeskripsikan orang-orang ultra-kaya itu.

Misalnya dalam bahasa Indonesia kita mengenal orang sejahtera, yaitu mereka yang bisa menghidupi dirinya sendiri. Lalu orang sentosa atau yang mampu menghidupi dirinya plus keluarganya.

Lalu orang makmur, yaitu sentosa ditambah sudah memiliki tambahan aset produktif. Lalu orang kaya yang memiliki banyak aset. Setelah itu, berhenti kata-katanya, alias

habis tidak ada lagi.

Inilah penyebab pikiran manusia Indonesia kebanyakan berhenti di kaya. Atau meminjam istilah asing, seperti konglomerat sebagai orang superkaya. Namun, itu bahasa adopsi. Karena, arti "konglomerat" sebenarnya bukan ‘aji dana','seseorang yang banyak duit', atau 'kaya raya'. Tapi,

konglomerat adalah jaringan bisnis.

Sementara, orang superkaya belum tentu harus memiliki jaringan bisnis.

Dalam bahasa Cina kita kenal kata taipan untuk manusia superkaya. Dalam bahasa Inggris Amerika kita kenal istilah "sugar baron" atau 'raja gula'. Ada juga "property mogul" untuk raja properti, "tycoon", "billionaire", "big whaler" (gambler), "big boy" (market mover valas), dan banyak istilah lagi yang memberikan arti spesifik akan simbol kekayaan.

CEO top mereka beristilah sebagai "The Titans", "Board room”, "chamber of commerce”, "kamar dagang”, "bisnis kartel”, dan banyak istilah bisnis, ekonomi yang mengartikan kekuatan pasar dan pelakunya. Hal ini tidak ada dalam kamus bahasa Indonesia. Kita baru bisa mengadopsi karena belum ada fenomenanya.

Namun, dalam 10 tahun ke depan, kata-kata baru akan masuk dalam tatanan bahasa Indonesia yang mengartikan ultrakaya, super-rich person, pengusaha dengan aset multimiliaran.

Kalau perlu, Anda para sahabat juga bisa mengusulkan nama. Mengusulkan kata-kata yang akan dipakai sebagai pemahaman baku arti kata tersebut.

Dalam keilmuan psikologi, nyambungnya begini. Misalkan kata-kata itu ada dan dipahami oleh akal sehat semua instrumen bangsa Indonesia, contohnya "superkaya" kita beri nama "taipan", meniru 2 miliar manusia di dunia ini.

Percayalah, dalam waktu 10 tahun ke depan, para taipan ini akan jauh Iebih cepat hadir di bangsa Indonesia karena banyak yang paham dan masuk di pikirannya.

Inilah yang membuat saya berpikir tentang apa yang terjadi di lndonesia saat ini. Yaitu, sehubungan dengan lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya. Lagu itu diciptakan WR Supratman dengan 3 stanza. Bagi saya, yang beliau gubah merupakan sebuah nurbuah, Iuar biasa. Saat ini kita selalu menyanyikan stanza 1. Perhatikan syairnya di halaman berikut

Indonesia Raya

(Stanza 1—versi resmi Pemerintah, ditetapkan dengan PP44/1958)

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku

Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku

Marilah kita berseru Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku

Bangsaku, rakyatku, semuanya

Bangunlah jiwariya, bangunlah badannya

Untuk lndonesia raya

Indonesia raya, merdeka, merdeka

Tanahku, negeriku, yang kucinta

Indonesia raya, merdeka, merdeka

Hiduplah Indonesia raya

Di sini terdapat kata-kata: Indonesia, tanah tumpah darahku. Jadi sampai sekarang, bangsa Indonesia masih tumpah darah, cekcok di mana-mana.

Lalu ada kata-kata: marilah kita berseru, Indonesia bersatu. Ini kesannya atau bisa diartikan Indonesia belum bersatu, masih terpisah-pisah. Karena itu, fakta saat ini ya begitu, kita nggak pernah kompak, seakan-akan ribut terus.

Stanza 1 ini, cocok untuk zaman perang kemerdekaan hingga tahun '80-an. Seharusnya mulai saat ini, Indonesia sudah menggunakan Stanza 2. Coba sahabat baca dan perhatikan.

Indonesia Raya

(Stanza 2)

Indonesia, tanah yang mulia, tanah kita yang kaya

Di sanalah aku berdiri untuk selama-lamanya

Indonesia tanah pusaka, pusaka kita semuanya

Marilah kita mendoa, Indonesia bahagia

Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya

Bangsanya, rakyatnya, semuanya

Sadarlah hatinya, sadarlah budinya

Untuk lndonesia raya

Indonesia raya, merdeka, merdeka

Tanahku, negeriku, yang kucinta

Indonesia raya, merdeka, merdeka

Hiduplah Indonesia raya

Stanza 2 ini saya rasa Iebih cocok dengan masa sekarang. inilah yang disebut kata-kata bisa mengubah realita. Perhatikan kata-kata berikut ini.

Tanah kita yang kaya

Pusaka kita semua

Mendoa Indonesia bahagia

Suburlah jiwanya

Sadar budinya

Jadi, saya sangat menyarankan kepada pemerintah untuk mengubah Indonesia Raya ke Stanza 2. Dan, suatu masa nanti, Indonesia bisa masuk ke Stanza 3. Waktunya, Anda-Iah yang menentukan. SiIakan baca gubahan WR Supratman ini. Sangat Iuar biasa.

Indonesia Raya

(Stanza 3)

Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti

Di sanalah aku berdiri, menjaga ibu sejati

Indonesia tanah berseri, tanah yang aku sayangi

Marilah kita berjanji; Indonesia abadi

Selamatkan rakyatnya, Selamatkan puteranya

Pulaunya, Iautnya, semuanya

Majulah negerinya, majulah pandunya, untuk lndonesia raya

Indonesia raya, merdeka, merdeka

Tanahku, negeriku, yang kucinta

Indonesia raya, merdeka, merdeka

Hiduplah Indonesia raya

Penutup

Sejauh ini, apa yang Anda dapat dari tulisan-tulisan saya? Apakah Anda merasa cocok dengan tulisan tersebut, atau Anda merasa gamang? Tidak percaya?

Meskipun berat, Anda tentu memiliki keinginan kuat untuk memperoleh seluruh impian tersebut. Kehidupan yang sehat, bahagia, dan sejahtera. Sewaktu Anda membaca tulisan di awal. Mungkin rasa ragu dan takut mulai merasuk. Rasa skeptis pun muncul.

Tenang. Anda tidak sendirian. Pembaca yang lain juga mungkin memikirkan hal tersebut.

Bisakah tercapai?

Itulah pertanyaan mendasar yang saya rasakan bertahun-tahun yang Ialu.

Pada saat itu, saya ingin sekali mencapai kesuksesan besar dalam hidup ini. Saya seorang perantau yang tak memiliki banyak koneksi bagus. Saya hanyalah anak desa yang tidak memiliki keterampilan apa pun.

Saya merasa terperangkap dengan ide-ide besar di satu pihak dan keterbatasan sumber di pihak lain. Saya tidak tahu sama sekali bagaimana memulainya. Berdasarkan pengalaman itulah saya membuat tulisan ini, untuk berbagi dengan Anda.

Kembali ke kenyataan saat itu, kondisi saya sulit dan berat. Lalu saya menemukan sebuah prinsip hidup Iuar biasa yang selama ini telah membuktikan berbagai kesuksesan oleh banyak orang bersama workshop di Sydney tersebut.

Kemudian, kehidupan saya pun berubah, mulai membaik, membaik, dan menjadi terbaik menurut versi saya. Sungguh, saya merasa sangat bersyukur, memuji Tuhan tak pernah berhenti.

Setelah membuktikan kearnpuhan hukum dalam prinsip tersebut dalam diri saya sendiri, mulailah kemudian saya membagikan kepada sahabat-sahabat. Banyak yang telah membuktikan bahwa prinsip ini berhasil. Lalu dengan berjalannya waktu, untuk menghemat waktu dan biaya saudara-saudara lainnya, saya memulai memberikan pelajaran dengan buku ini.

Mengapa Anda membaca tulisan ini pun bukan hal yang tidak sengaja. Pasti ada yang menuntunnya. Percayalah, tidak ada yang tidak sengaja di dunia jin. Pahami setiap tulisan di sini. Biarkan ide-ide di sini mengubah pemikiran lama Anda, dan mengubahnya menjadi lebih baik.

Terakhir, izinkan saya untuk mengucapkan, "Selamat datang, Anda yang baru."

***

Daftar Pustaka

Maltz, Maxwell. 1960. Psycho-Cybernetics, A New Way to Get More Living Out of Life. New Jersey: Prentice Hall

MacGregor, Sandy. 1996. Switch On Your Inner Strength. Lindfield: CALM (Creative Accelerated Learning Methods) Pty. Ltd.

Matthews, Andrew. 1990. Being Happy. Queensland: Seashell Publisher.

Tentang Penulis

Mardigu Wowiek Prasantyo Iahir di pertengahan tahun '60-an, dibesarkan sebagai "anak kolong" dari ayah pensiun Angkatan Udara berpangkat kapten. Perjalanan dinas orangtuanya membawanya tinggal berpindah di banyak kota di Tanah Air—di antaranya Kota Pendopo, Palembang, Sumatera Selatan; Balikpapan, Kalimantan Timur; serta beberapa kota di Jawa dan Bali.

Dia juga pernah merantau kuliah ke Negeri Paman Sam untuk mendapatkan keilmuan ApIikasi Psikologi dari San Francisco State University.

Ada yang mengenalnya sebagai pebisnis oil & gas karena dia salah satu founder dan owner dari sebuah perusahaan swasta berbisnis perminyakan ternama, PT Titis Sampurna.

Ada yang mengenalnya sebagai pemain properti karena dia banyak membangun cluster perumahan, hingga memiliki beberapa hotel.

Ada yang mengenalnya sebagai "Die Hard Entrepreneur" atau pengusaha yang nggak ade matinye. Karena, telah 25 tahun Iebih ia jatuh-bangun mendirikan banyak ragam bisnis. Banyak bangun, banyak jatuh, sedikit yang bertahan. Berbagai bidang usaha dimasukinya, dari bisnis retail, manufaktur, pertambangan, perdagangan, pendidikan, jasa keuangan, hingga jasa hospitality.

Ada yang mengenalnya sebagai seorang filantropis karena dia merupakan pendiri dan dewan pembina Rumah Yatim Indonesia yang memiliki lebih dari 3.000 anak yatim dengan jaringan menyebar di berbagai kota di Indonesia.

Ada pula yang mengenalnya sebagai pakar mikro-ekspresi dan kehadirannya membantu Iembaga negara dalam extraordinary crime, seperti kasus terorisme. Dia juga kerap menjadi narasumber media sebagai pengamat teroris dan intelegen.

Dia bisa dihubungi melalui laman media sosialnya.

[f] Mardigu WP

Kemakmuran adalah sebuah kesadaran. Menjadi makmur, berkelimpahan, sentosa, adalah hak yang sama bagi

SADAR KAYA

Menjadi Kaya tidak mengharuskan Anda menjadi pengusaha. Anda bisa kaya dengan cara apa pun. Dengan segala macam  profesi, tidak ada pengecualian antara ibu rumah tangga, mahasiswa, tentara, guru, pembantu rumah tangga, pejabat, birokrat, pengusaha, pedagang klontong, kaki lima, pemilik warung, apa pun Anda siapa pun Anda, Anda bisa kaya dan berkelimpahan.

Yang Anda butuhkan hanya kesadaran kaya atau prosperity consciousness.

Buku ini menanamkan software kaya dalam pikiran Anda sehingga uang akan lebih mudah menghampiri Anda. Disusun apik dan terprogram berdasarkan keilmuan psikologi terapan, kisah nyata dalam buku ini membuktikan bahwa kesadaran kemakmuran bisa dimiliki setiap orang.